Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH PATIENT SAFETY

APLIKASI PATIENT SAFETY DALAM DUNIA KEFARMASIAN

DISUSUN OLEH:

Annisa Intan Ramadhani 165070501111030

Dian Nugra Nuzulul Fitri 155070507111001

Fabyoke Arasy Fortunata 165070501111036

Imroatul Hasanah 165070500111010

I’id Wahidatul Karomiyah 165070501111018

Linda Wandini Putri 165070500111002

Malyda Savira 165070500111022

Rory Anggi Okta Senora 165070501111004

Sofy Indah Pratiwi 165070507111012

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
TA 2018/2019
A. LATAR BELAKANG

Keselamatan pasien merupakan salah satu bukti nyata dari pelayanan kesehatan.
Kesalamatan pasien merupakan salah satu topik penting yang seringkali diperbincangkan
dalam dunia medis. Baik di negara maju maupun negara berkembang, penerapan keselamatan
pasien tidaklah mudah. Hal ini dipengaruhi oleh 3 faktor utama yakni sumber daya manusia
dalam lingkungan rumah sakit maupun klinik, perilaku tenaga medis serta fasilitas yang ada
pada klinik atau rumah sakit itu sendiri. Namun, di era JKN ini, pencapaian pelayanan yang
bermutu tinggi dengan mengedepankan keselamatan pasien menjadi prioritas utama demi
menegakkan kendali mutu kendali biaya di pelayanan kesehatan.

Keselamatan pasien dipengaruhi oleh penegakan diagnosa, tindakan kesehatan dan


perawatan. Dokter, apoteker, perawat dan semua orang yang bekerja di sistem kesehatan
berkomitmen untuk merawat, membantu, menghibur dan merawat pasien dan memiliki
keunggulan dalam penyediaan layanan kesehatan untuk semua orang yang membutuhkannya.
Telah ada investigasi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir dalam peningkatan
layanan, peningkatan kapasitas sistem, perekrutan profesional yang sangat terlatih dan
penyediaan teknologi dan perawatan baru. Namun sistem kesehatan di seluruh dunia,
menghadapi tantangan dalam menangani praktik yang tidak aman, profesional layanan
kesehatan yang tidak kompeten, tata pemerintahan yang buruk dalam pemberian layanan
kesehatan, kesalahan dalam diagnosis dan perawatan dan ketidakpatuhan terhadap standar
(Australian Commision on Safety and Quality in Health Care, 2010).

Australia telah menjadi salah satu pelopor pelaporan kejadian dalam praktik umum, dan
studi oleh Badan Ancaman terhadap Keselamatan Pasien Australia (Threats to Australian
Patient Safety / TAPS) adalah salah satu analisis insiden keselamatan pasien yang paling
komprehensif di dunia internasional. Contoh insiden yang disebabkan oleh Apoteker
dilaporkan pada studi TAPS diantaranya instruksi dosis tidak tepat yang salah pada resep
Actonel mengakibatkan pasien mengkonsumsi obat mingguan setiap hari sebab tidak dikoreksi
oleh apoteker dan juga kasus obat Antimalaria yang diresepkan untuk pasien dengan
pengobatan antiepilepsi yang bisa mengakibatkan interaksi serius jika pasien tidak mendapat
pendapat kedua (Australian Commision on Safety and Quality in Health Care, 2010).
Sebagai salah satu bentuk usaha perlindungan terhadap pasien serta untuk
meningkatkan mutu pelayanan fasilitas kesehatan, telah dikeluarkan Kepmen nomor
496/Menkes/SK/IV/2005 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit, yang tujuan
utamanya yakni tercapainya pelayanan medis prima di rumah sakit yang jauh dari medical
error dan memberikan keselamatan bagi pasien. Perkembangan ini diikuti oleh Perhimpunan
Rumah Sakit Seluruh Indonesia(PERSI) yang berinisiatif melakukan pertemuan dan mengajak
semua stakeholder rumah sakit untuk lebih memperhatian keselamatan pasien di rumah sakit.
Mempertimbangkan betapa pentingnya misi rumah sakit untuk mampu memberikan pelayanan
kesehatan yang terbaik terhadap pasien mengharuskan rumah sakit untuk berusaha mengurangi
medical error sebagai bagian dari penghargaannya terhadap kemanusiaan, maka
dikembangkan sistem Keselamatan Pasien yang dirancang mampu menjawab permasalahan
yang ada.

B. TUJUAN PATIENT SAFETY

Tujuan Keselamatan Pasien (Tutiany dkk., 2017) :


1) Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit.
2) Meningkatkan akuntanbilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat.
3) Menurunkan kejadian tidak diharapkan (KTD) di rumah sakit.
4) Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi pengulangan kejadian
tidak diharapkan.

C. DEFINISI

Patient Safety didefinisikan sebagai “freedom from accidental injury” yang berfokus
pada pencegahan hasil pelayanan kesehatan yang merugikan pasien atau yang tidak diinginkan.
Khusus di negara berkembang dan negara transisi/konflik, ada kemungkinan bahwa jutaan
pasien seluruh dunia menderita cacat, cedera atau meninggal setiap tahun karena pelayanan
kesehatan yang tidak aman (Kamil, 2011).
Menurut National Health Performance Committee (NHPC, 2001, dikutip dari Australian
Institute Health and Welfare (AIHW, 2009) mendefinisikan keselamatan pasien adalah
menghindari atau mengurangi hingga ketingkat yang dapat diterima dari bahaya aktual atau
risiko dari pelayanan kesehatan atau lingkungan di mana pelayanan kesehatan diberikan. Fokus
dari definisi ini adalah untuk mencegah hasil pelayanan kesehatan yang merugikan pasien atau
yang tidak diinginkan (Kamil, 2011).
Institute of Medicine (2000) mendefinisikan keselamatan pasien adalah “freedom from
accidental injury”. Sedangkan Kelley dan Hurst (2006, dikutip dari AIHW, 2009)
mendefinisikan keselamatan pasien adalah tingkat dimana menghindari, mencegah, dan
memperbaiki hasil atau cedera yang merugikan dari proses pelayanan kesehatan (Kamil,
2011)..
Para ahli bidang keselamatan pasien telah mendefinisikan keselamatan pasien sebagai
berikut "sebuah disiplin di sektor kesehatan yang berlaku metode ilmu keselamatan dengan
tujuan untuk mencapai sistem pelayanan kesehatan yang dapat dipercaya. Keselamatan pasien
juga merupakan atribut dalam sistem pelayanan kesehatan; meminimalkan kejadian dan
dampak buruk bagi pasien, dan memaksimalkan pemulihan dari kecelakaan medis medis”
(Lembaga Kesehatan Budi Kemuliaan, 2015).
Menurut Vincent (2008), keselamatan pasien didefinisikan sebagai penghindaran,
pencegahan dan perbaikan dari hasil tindakan yang buruk atau injuri yang berasal dari proses
perawatan kesehatan (Tutiany dkk, 2017).
Definisi ini membawa beberapa cara untuk membedakan keselamatan pasien dari
kekhawatiran yang lebih umum mengenai kualitas layanan kesehatan, yang disebut oleh
Vincent sebagai "sisi gelap kualitas". Perawatan kesehatan, dalam banyak kasus setidaknya,
sangat berbahaya dan definisi secara implisit mengakui hal ini. Definisi ini juga mengacu pada
perbaikan hasil buruk atau injuri, yang memperluas definisi di luar masalah keselamatan
tradisional terhadap area yang mungkin, di banyak industri, disebut manajemen bencana.
Dalam perawatan kesehatan, perbaikan pertama-tama mengacu pada kebutuhan akan intervensi
medis yang cepat untuk mengatasi krisis segera, tetapi juga untuk kebutuhan merawat pasien
dengan injuri dan untuk mendukung staf yang terlibat (Tutiany dkk, 2017).
Pengertian lain tentang keselamatan pasien yaitu menurut Emanuel (2008), yang
menyatakan bahwa keselamatan pasien adalah disiplin ilmu di sektor perawatan kesehatan
yang menerapkan metode ilmu keselamatan menuju tujuan mencapai sistem penyampaian
layanan kesehatan yang dapat dipercaya. Keselamatan pasien juga merupakan atribut sistem
perawatan kesehatan; Ini meminimalkan kejadian dan dampak, dan memaksimalkan pemulihan
dari efek samping (Tutiany dkk, 2017).
Definisi singkat yang diberikan di atas bagaimanapun, tidak benar-benar menangkap
karakteristik pendefinisian keselamatan pasien dan latar belakang konseptualnya. Badan
Keselamatan Pasien Nasional Amerika Serikat berusaha melakukan ini saat membuat agenda
penelitian untuk keselamatan pasien. Mereka secara khusus menunjuk pada kenyataan
bahwa prakarsa-prakarsa kualitas tradisional belum sepenuhnya mengatasi kesalahan dan
kerugian, keamanan berada di dalam sistem dan juga orang-orang, dan keselamatan itu harus
secara aktif dikejar dan dipromosikan (Emanuel et al, 2008). Cukup berusaha menghindari
kerusakan saja tidak cukup. Sebaliknya seseorang harus mengurangi kesalahan dari semua
jenis dan mengejar keandalan tinggi sebagai komponen penting dari perawatan berkualitas
tinggi (Tutiany dkk, 2017).

D. PERAN FARMASIS
Peran apoteker dalam mewujudkan keselamatan pasien meliputi dua aspek yaitu aspek
manajemen dan aspek klinik. Aspek manajemen meliputi pemilihan perbekalan farmasi,
pengadaan, penerimaan, penyimpanan dan distribusi, alur pelayanan, sistem pengendalian
(misalnya memanfaatkan IT). Sedangkan aspek klinik meliputi skrining permintaan obat (resep
atau bebas), penyiapan obat dan obat khusus, penyerahan dan pemberian informasi obat,
konseling, monitoring dan evaluasi. Kegiatan farmasi klinik sangat diperlukan terutama pada
pasien yang menerima pengobatan dengan risiko tinggi. Keterlibatan apoteker dalam tim
pelayanan kesehatan perlu didukung mengingat keberadaannya melalui kegiatan farmasi klinik
terbukti memiliki konstribusi besar dalam menurunkan insiden/kesalahan (Direktorat Bina
Farmasi Komunitas dan Klinik. 2008).
Apoteker harus berperan di semua tahapan proses manajemen yang meliputi :
1. Pemilihan
Pada tahap pemilihan perbekalan farmasi, risiko insiden/error dapat diturunkan
dengan pengendalian jumlah item obat dan penggunaan obatobat sesuai formularium.
2. Pengadaan
Pengadaan harus menjamin ketersediaan obat yang aman efektif dan sesuai peraturan
yang berlaku (legalitas) dan diperoleh dari distributor resmi.
3. Penyimpanan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan untuk menurunkan kesalahan
pengambilan obat dan menjamin mutu obat:
1. Simpan obat dengan nama, tampilan dan ucapan mirip (look-alike, sound-alike
medication names) secara terpisah.
2. Obat-obat dengan peringatan khusus (high alert drugs) yang dapat menimbulkan
cedera jika terjadi kesalahan pengambilan, simpan di tempat khusus. Misalnya :
o menyimpan cairan elektrolit pekat seperti KCl inj, heparin, warfarin, insulin,
kemoterapi, narkotik opiat, neuromuscular blocking agents, thrombolitik, dan
agonis adrenergik.
o kelompok obat antidiabet jangan disimpan tercampur dengan obat lain secara
alfabetis, tetapi tempatkan secara terpisah
3. Simpan obat sesuai dengan persyaratan penyimpanan.
4. Sisitem distribusi obat
Instalasi farmasi kanada menggunakan bar code untuk proses distribusi obat, pada
dasarnya untuk memeriksa stock obat yang ada di lemari secara otomatis. Lebih luas lagi
variasi teknologi untuk mengatur sistem penggunaan obat (meliputi pengaturan
pengobatan) yang berpotensi untuk meningkatkan ketepatan, meningkatkan efektifitas,
dan meningkatkan keselamatan pada sistem pengobatan (Davies dkk., 2003).
5. Pengendalian
Tekhnologi komputer telah di gunakan oleh farmasis di rumah sakit canada untuk
mendukung pemeriksaan obat, monitoring dan dokumentasi administrasi agar proses
peracikan berjalan lancar. Selain itu teknik komputer untuk memberi informasi tentang
alergi, terapi ganda dan interaksi obat (Davies dkk., 2003).

Peran apoteker dibidang klinis adalah (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. 2008)
(Joseph dkk, 2013).

1. Skrining resep
Apoteker berperan mencegah medication error.
 Identifikasi pasien minimal 2 identitas. Misalnya nama dan nomor resep.
 Apoteker tidak boleh berasumsi saat interpretasi resep dokter. Jika terjadi
kesalahan dalam penulisan resep, harus mengubungi dokter untuk konfirmasi.
 Perlu menggali informasi mengenai pasien untuk penentuan obat. seperti data
demografi dan data klinis. Hasil pemeriksaan pasien.
 Apoteker harus membuat riwayat atau catatan pengobatan pasien.
 Permintaan obat secara lisan dapat dilayani dalam keadaan emergency dan
harus konfirmasi berulang untuk memastikan kebenaran obat.
2. Dispensing
 Peracikan obat dilakukan dengan SOP.
 Pemberian etiket yang tepat dan jelas. Etiket harus dibaca minimal 3 kali.
 Dilakukan pemeriksaan ulang oleh orang yang berbeda. Pemeriksaan meliputi
kelengkapan permintaan, ketepaan etiket, aturan pakai, kesesuaian resep, obat,
dan etiket.
3. Komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE)
Edukasi dan konseling terkait obat dan pengobatan
 Informasi tentang indikasi penggunaan, cara pakai, harapan setelah
menggunakan obat, lama pengobatan, tanggal kembali cek ke dokter.
 Kontraindikasi, efek samping, interaksi obat.
 Cara penanganan jika terjadi cedera pasien akibat penggunaan obat
 Penyimpanan obat.
4. Penggunaan obat
Apoteker berperan memastikan obat tepat pasien, tepat indikasi, tepat waktu
pemberian, tepat obat, tepat dosis, tepat aturan pakai, dan tepat rute pemberian.
5. Monitoring dan evaluasi
Monitoring dan evaluasi tentang efek terapi, efek samping, memastikan kepatuhan
pasien. Hasil monitoring dan evaluasi didokumentasikan dan ditindaklanjuti dengan
perbaikan dan pencegahan pengulangan kesalahan

E. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Menurut Ardern & Jane (2012), budaya keselamatan pasien dipengaruhi oleh 3 faktor
utama yaitu; 1) Sikap dan perilaku (senior management, middle management, supervisor,
karyawan, keselamatan dan kesehatan yang representatif serta komitmen anggota komite), 2)
lingkungan; (tipe organisasi, finansial, jenis pekerjaan yang dilakukan, desain pekerjaan,
kecepatan kerja, pelatihan yang tersedia, garis komunikasi, 3) sistem; (proses pelaporan
kejadian/insiden yang mengancam keselamatan pasien, proses audit, proses inventigasi,
komunikasi dan sistem umpan balik). Berdasarkan hal tersebut untuk menciptakan budaya
keselamatan pasien maka seluruh lapisan mulai dari komitmen pimpinan sampai karyawan
harus dibenahi. Studi penelitian telah menunjukan bahwa kepemimpinan yang baik
mempunyai hubungan yang signifikan dengan perilaku keamanan kerja yang lebih baik dan
menurunkan angka kecelakaan serta meningkatkan kepatuhan terhadap keselamatan.
F. INSIDEN KESELAMATAN PASIEN (IKP)
Insiden Keselamatan Pasien (IKP) merupakan setiap kejadian atau situasi yang dapat
mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan harm (penyakit, cedera, cacat, kematian dan
lainlain) yang tidak seharusnya terjadi.
Jenis Insiden :
- Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) : Insiden yang mengakibatkan cedera pada pasien
Contoh : Tertusuk jarum, pasien jatuh
- Kejadian Nyaris Cedera (KNC) : Terjadinya insiden belum sampai terpapar ke
pasien
Contoh : Salah identitas pasien namun diketahui sebelum dilakukan tindakan
- Kejadian Tidak Cedera (KTC) : Terjadinya insiden pada pasien namun tidak
cedera
Contoh : Pasien minum parasetamol & tidak ada reaksi apapun tetapi dokter tidak
meresepkan parasetamol
- Kondisi Potensi Cedera (KPC) : Kondisi yang sangat berpotensi menyebabkan
cedera tapi belum terjadi insiden
Contoh : Kerusakan alat ventilator
Pelaporan insiden keselamatan pasien merupakan suatu system untuk
mendokumentasikan / mencatat laporan kejadian insiden keselamatan pasien, analisis serta
solusi. Pelaporan insiden ditujukan untuk menurunkan insiden dan mengoreksi sistem dalam
rangka meningkatkan keselamatan pasien dan tidak untuk menyalahkan orang (non blaming).
Insiden yang dilaporkan adalah kejadian yang sudah terjadi, potensial terjadi ataupun yang
nyaris terjadi. Pelaporan insiden kepada Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit harus dijamin
keamanannya, bersifat rahasia, anonim (tanpa identitas), tidak mudah diakses oleh yang tidak
berhak. (Wara Kuswarhanti dkk,2014)

Alur Pelaporan
1. Apabila terjadi suatu insiden (KNC/KTD/KTC/KPC) di rumah sakit, wajib segera
ditindaklanjuti (dicegah / ditangani) untuk mengurangi dampak / akibat yang tidak
diharapkan.
2. Setelah ditindaklanjuti, segera membuat laporan insidennya dengan mengisi Formulir
Laporan Insiden pada akhir jam
kerja/shiftkepadaAtasanlangsung.(Palinglambat2x24jam); diharapkan jangan menunda
laporan.
3. Setelah selesai mengisi laporan, segera menyerahkan kepada Atasan langsung pelapor.
(Atasan langsung disepakati sesuai keputusan Manajemen : Supervisor/Kepala Bagian/
Instalasi/ Departemen / Unit).
4. Atasan langsung akan memeriksa laporan dan melakukan grading risiko terhadap
insiden yang dilaporkan.
5. Hasil grading akan menentukan bentuk investigasi dan analisa yang akan dilakukan
sebagai berikut : Grade biru : Investigasi sederhana oleh Atasan langsung, waktu
maksimal 1 minggu.
Grade hijau : Investigasi sederhana oleh Atasan langsung, waktu maksimal 2 minggu
Grade kuning : Investigasi komprehensif/Analisis akar masalah/RCA oleh Tim KP di
RS, waktu maksimal 45 hari .
Grade merah : Investigasi komprehensif/Analisis akar masalah / RCA oleh Tim KP di
RS, waktu maksimal 45 hari.
6. Setelah selesai melakukan investigasi sederhana, laporan hasil investigasi dan laporan
insiden dilaporkan ke Tim KP di RS .
7. Tim KP di RS akan menganalisa kembali hasil Investigasi dan Laporan insiden untuk
menentukan apakah perlu dilakukan investigasi lanjutan (RCA) dengan melakukan
Regrading.
8. Untuk grade Kuning / Merah, Tim KP di RS akan melakukan Analisis akar masalah /
Root Cause Analysis (RCA)
9. Setelah melakukan RCA, Tim KP di RS akan membuat laporan dan Rekomendasi
untuk perbaikan serta "Pembelajaran" berupa : Petunjuk / "Safety alert" untuk
mencegah kejadian yang sama terulang kembali.
10. Hasil RCA, rekomendasi dan rencana kerja dilaporkan kepada Direksi
11. Rekomendasi untuk "Perbaikan dan Pembelajaran" diberikan umpan balik kepada unit
kerja terkait serta sosialisasi kepada seluruh unit di Rumah Sakit
12. Unit Kerja membuat analisa kejadian di satuan kerjanya masing – masing
13. Monitoring dan Evaluasi Perbaikan oleh Tim KP di RS. (KKPRS, 2015)
Penilaian Dampak Klinis / Konsekuensi / Severity

Formulir Laporan Insiden

Formulir terdiri dari dua macam :


a. Formulir Laporan Internal Insiden Keselamatan pasien adalah Formulir Laporan yang
dilaporkan ke Tim KP di RS dalam waktu maksimal 2 x 24 jam / akhir jam kerja / shift. Laporan
berisi : data pasien, rincian kejadian, tindakan yang dilakukan saat terjadi insiden, akibat
insiden, pelapor dan penilaian grading.
b. Formulir Laporan Eksternal insiden Keselamatan Pasien Adalah Formulir Laporan yang
dilaporkan ke KKPRS setelah dilakukan analisis dan investigasi.

Contoh Formulir Pelaporan

(KKPRS, 2015)
DAFTAR PUSTAKA
Ardern & Jane. (2012). Creating a safety culture. Government of Western Australia: Department
of Commerce, WorkSafe.
Australian Commission on Safety and Quality in Health. (2010). Promoting effective
communication among healthcare professionals to improve patient safety and quality of
care, (July), 12. Retrieved from http://www.health.vic.gov.au/quality council
Davies, Jan M., Philip Hebert, dkk. 2003. The Canadian Patient Safety Dictionary. Canada :
The Royal College of Physicians and Surgeons of Canada

Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. 2008. Tanggung Jawab Apoteker terhadap
Keselamatan Pasien. Jakarta: Depkes RI.

Joseph Herman, Max., Rini Sasanti Handayani., Selma Arsit Siahaan. 2013. Kajian Praktik
Kefarmasian Apoteker pada Tatanan Rumah Sakit. Analysis of Pharmacy Practice by
Pharmacist in Hospital Setting. Kesmas, Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol.
7, No. 8.
Kamil, Hajjul. 2011. Patient Safety. Idea Nursing Journal, 1(1).
Lembaga Kesehatan Budi Kemuliaan. 2015. Panduan Kurikulum Keselamatan Pasien Edisi
Multi – Profesional. Jakarta : Lembaga Kesehatan Budi Kemuliaan.
Pedoman Pelaporan Insiden Keselatan Pasien (IKP). 2015. (PATIENT SAFETY INCIDENT
REPORT) Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS). Jakarta .
Tutiany., Lindawati., dan Paula Krisanti. 2017. Manajemen Keselamatan Pasien. Jakarta :
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Wara Kusharwanti, Sekar C., Dewi Margarita K. Setiawati. 2014. Pengoptimalan Peran
Apoteker dalam Pemantauan dan Evaluasi Insiden Keselamatan Pasien. Jurnal Farmasi
Klinik Indonesia.Vol.3 No. 3 : 67 - 76