Anda di halaman 1dari 14

1.

Pengertian

Harga diri seseorang di peroleh dari diri sendiri dan orang lain. Gangguan
harga diri rendah akan terjadi jika kehilangan kasih sayang, perilaku orang lain yang
mengancam dan hubungan interpersonal yang buruk. Tingkat harga diri seseorang
berada dalam rentang tinggi sampai rendah. Individu yang memiliki harga diri tinggi
menghadapi lingkungan secara aktif dan mampu beradaptasi secara efektif untuk
berubah serta cenderung merasa aman. Individu yang memiliki harga diri rendah
melihat lingkungan dengan cara negatif dan menganggap sebagai ancaman. (Keliat,
2011).
Menurut (Herman, 2011), gangguan jiwa ialah terganggunya kondisi mental
atau psikologi seseorang yang dapat dipengaruhi dari faktor diri sendiri dan
lingkungan. Hal-hal yang dapat mempengangaruhi perilaku manusia ialah keturunan
dan konstitusi, umur, dan sex, keadaan badaniah, keadaan psikologik, keluarga,
adat-istiadat, kebudayaan dan kepercayaan, pekerjaan, pernikahan dan kehamilan,
kehilangan dan kematian orang yang di cintai, rasa permusuhan, hubungan antara
manusia.

Harga diri merupakan evaluasi yang dibuat individu dan kebiasaan memandang
dirinya, terutama sikap menerima, menolak, dan indikasi besarnya kepercayaan
individu terhadap kemampuan, keberartian, kesuksesan dan keberhargaan
(Coopersmith, 2002).
Menurut Peplau dan Sulivan dalam Yosep (2009) mengatakan bahwa harga
diri berkaitan dengan pengalaman interpersonal, dalam tahap perkembangan dari bayi
sampai lanjut usia seperti good me, bad me, not me, anak sering dipersalahkan,
ditekan sehingga perasaan amannya tidak terpenuhi dan merasa ditolak oleh
lingkungan dan apabila koping yang digunakan tidak efektif akan menimbulkan
harga diri rendah.

2. Rentang Respon
Keterangan:

1. Aktualisasi diri adalah pernyataan diri positif tentang latar belakang


pengalaman nyata yang sukses diterima.
2. Konsep diri positif adalah individu mempunyai pengalaman yang positif
dalam beraktualisasi.
3. Harga diri rendah adalah transisi antara respon diri adaptif dengan
konsep diri maladaptif.
4. Kerancuan identitas adalah kegagalan individu dalam kemalangan
aspek psikososial dan kepribadian dewasa yang harmonis.
5. Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistis terhadap diri
sendiri yang berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat
membedakan dirinya dengan orang lain.

3. Faktor Predisposisi
a. Faktor yang mempengaruhi harga diri
Meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua tidak realistis, kegagalan
yang berulang, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan
pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistis.
b. Faktor yang mempengaruhi peran.
Dimasyarakat umunya peran seseorang disesuai dengan jenis kelaminnya.
Misalnya seseorang wanita dianggap kurang mampu, kurang mandiri, kurang
obyektif dan rasional sedangkan pria dianggap kurang sensitive, kurang hangat,
kurang ekspresif dibandingkan wanita. Sesuai dengan standar tersebut, jika
wanita atau pria berperan tidak sesuai lazimnya maka dapat menimbulkan
konflik diri maupun hubungan sosial.
c. Faktor yang mempengaruhi identitas diri.
Meliputi ketidak percayaan, tekanan dari teman sebaya dan perubahan
struktur sosial. Orang tua yang selalu curiga pada anak akan menyebabkan
anak menjadi kurang percaya diri, ragu dalam mengambil keputusan dan
dihantui rasa bersalah ketika akan melakukan sesuatu. Control orang yang
berat pada anak remaja akan menimbulkan perasaan benci kepada orang tua.
Teman sebaya merupakan faktor lain yang berpengaruh pada identitas. Remaja
ingin diterima, dibutuhkan dan diakui oleh kelompoknya,
d. Faktor biologis
Adanya kondisi sakit fisik yang dapat mempengaruhi kerja hormon secara
umum, yang dapat pula berdampak pada keseimbangan neurotransmitter di
otak, contoh kadar serotonin yang menurun dapat mengakibatkan klien
mengalami depresi dan pada pasien depresi kecenderungan harga diri dikuasai
oleh pikiran-pikiran negatif dan tidak berdaya.
4. Faktor Presipitasi
Masalah khusus tentang konsep diri disebabkan oleh setiap situasi yang
dihadapi individu dan ia tidak mampu menyesuaikan. Situasi atas stressor dapat
mempengaruhi komponen.
Stressor yang dapat mempengaruhi gambaran diri adalah hilangnya bagian
tubuuh, tindakan operasi, proses patologi penyakit, perubahan struktur dan fungsi
tubuh, proses tumbuh kembang prosedur tindakan dan pengobatan. Sedangkan
stressor yang dapat mempengaruhi harga diri dan ideal diri adalah penolakan dan
kurang penghargaan diri dari orang tua dan orang yang berarti, pola asuh yang
tidak tepat, misalnya selalu dituntut, dituruti, persaingan dengan saudara, kesalahan
dan kegagalan berulang, cita-cita tidak terpenuhi dan kegagalan bertanggung jawab
sendiri. Stressor pencetus dapat berasal dari internal dan eksternal:
a. Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan
peristiwa yang mengancam kehidupan.
b. Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan
dan individu mengalaminya sebagai frustasi.

Ada tiga jenis transisi peran:

a. Transisi peran perkembangan adalah perubahan normative yang berkaitan


dengan pertumbuhan. Perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam
kehidupan individu atau keluarga dan norma-norma budaya, nilai-nilai serta
tekanan untuk menyesuaikan diri.
b. Transisi peran situasi terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota
keluarga melalui kelahiran atau kematian.
c. Transisi peran sehat-sakit terjadi akibat pergeseran dari sehat ke keadaan
sakit. Transisi ini dapat dicetuskan oleh kehilangan bagian tubuh, perubahan
ukuran, bentuk, penampilan atau fungsi tubuh, perubahan fisik yang berhubungan
dengan tumbuh kembang normal. Perubahan tubuh dapat mempengaruhi semua
komponen konsep diri yaitu gambaran diri, identitas diri, peran dan harga diri.
d. Ketegangan peran
Stress yang berhubungan dengan frustasi yang dialami dalam peran atau posisi
e. Konflik peran
Ketidaksesuaian peran dengan apa yang diinginkan
f. Peran yang tidak jelas
Kurangnya pengetahuan individu tentang peran
g. Peran yang berlebihan
Menampilkan seperangkat peran yang konpleks
5. Manifestasi Klinis/Tanda gejala

Keliat (2009) mengemukakan beberapa tanda dan gejala harga diri rendah
adalah:
a. Mengejek dan mengkritik diri.
b. Merasa bersalah dan khawatir, menghukum atau menolak diri sendiri.
c. Mengalami gejala fisik, misal: tekanan darah tinggi, gangguan penggunaan
zat.
d. Menunda keputusan.
e. Sulit bergaul.
f. Menghindari kesenangan yang dapat memberi rasa puas.
g. Menarik diri dari realitas, cemas, panic, cemburu, curiga dan halusinasi.
h. Merusak diri: harga diri rendah menyokong klieb untuk mengakhiri hidup.
i. Merusak atau melukai orang lain.
j. Perasaan tidak mampu.
k. Pandangan hidup yang pesimitis.
l. Tidak menerima pujian.
m. Penurunan produktivitas.
n. Penolakan tehadap kemampuan diri.
o. Kurang memperhatikan perawatan diri.
p. Berpakaian tidak rapi.
q. Berkurang selera makan.
r. Tidak berani menatap lawan bicara.
s. Lebih banyak menunduk.
t. Bicara lambat dengan nada suara lemah.
6. Psikodinamika
1. Etiologi

Gangguan harga diri yang disebut sebagai harga diri rendah dapat terjadi
secara:

a. Situasional yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi,


kecelakaan, diceraikan suami, putus sekolah, putus hubungan kerja,
perasaan malu karena sesuau terjadi (korban perkosaan, dituduh KKN,
dipenjara tiba-tiba).
1) Pada klien yang dirawat dapat terjadi HDR, karena privacy yang
kurang diperhatikan, misalnya pemeriksaan fisik yang sembarangan,
pemeriksaan alat yang tidak sopan (pencukuran kumis, pemasangan
kateter, pemeriksaan perineal).
2) Harapan akan sturktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai
karena dirawat atau sakit atau penyakit.
3) Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya
berbagai tindakan tanpa persetujuan.
b. Kronik yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu
sebelum sakit atau dirawat, klien ini mempunyai cara berfikir yang
negative. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negative
terhadap dirinya.
2. Proses perjalanan penyakit

Konsep diri dipelajari melalui kontak social dan pengalaman pribadi individu
berhubungan dengan orang lain, dan interaksi dengan dunia luar dirinya, konsep
diri berkembang terus mulai dari bayi hingga lanjut usia. Konsep diri belum ada
saat saat bayi dilahirakan, tetapi mulai berkembang secara bertahap saat bayi
mulai mengenal dan membedakan dirinya dengan orang lain dan mempunyai
pengalaman dalam berhubungan dengan orang lain. Perkembangan ini sangat
dipengaruhi oleh kemampuan berbicara individu, pengalaman dalam keluarga
merupakan dasar pembentukan konsep diri karena keluarga dapat memberikan
perasaan mampu dan tidak mampu. Perasaan diterima atau ditolak dan dalam
keluarga individu mempunyai kesempatan untuk mengidentifikasi perilaku orang
lain dan mempunyai penghargaan yang pantas tentang tujuan, perilaku dan nilai.

Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan


menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Pencapaian ideal diri
atau cita-cita / harapan langsung menghasilkan perasaan berharga.

Penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dari menganalisa seberapa jauh
perilaku memenuhi ideal diri. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain.
Individu akan merasa harga dirinya tinggi bila sering mengalami keberhasilan,
sebaliknya individu akan merasa harga dirinya rendah bila sering mengalami
kegagalan, tidak dicintai atau tidak diterima lingkungan. Harga diri dibentuk sejak
kecil dari adanya penerimaan dan perhatian. Harga diri akan meningkat sesuai
meningkatkanya usia dan terancam pada masa pubertas. Coopersmith dalam buku
Stuart dan Sundeen menyatakan ada 4 hal yang dapat meningkatkan harga diri
anak, yaitu:

a. Memberi kesempatan untuk berhasil;


b. Menanamkan idealisme;
c. Mendukung aspirasi atau ide;
d. Membantu membentuk koping.

Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan yang negative


terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.

3. Komplikasi
a. Perilaku kekerasan yang ditujukan pada diri sendiri, orang lain, dan
lingkungan.
b. Isolasi sosial.
c. Waham.
7. Mekanisme koping
Mekanisme koping adalah segala usaha yang diarahkan untuk menanggulangi
stress. Usaha ini dapat berorientasi pada tugas dan meliputi usaha pemecahan
masalah langsung.
1) Pertahanan jangka pendek
a) Aktivitas yang dapat memberikan pelarian sementara dari kritis,
misalnya: kerja keras, nonton, dll.
b) Aktivitas yang dapat memberikan identitas pengganti sementara,
misalnya: ikut kegiatan social, politik, agama, dll.
c) Aktivitas yang sementara dapat menguatkan perasaan diri, misalnya:
kompetisi pencapaian akademik.
d) Aktivitas yang mewakili upaya jarak pendek untuk membuat
masalah identitas menjadi kurang berarti dalam kehidupan,
misalnya: penyalahgunaan obat.
2) Pertahanan jangka panjang
a) Penutupan identitas
Adopsi identitas premature yang diinginkan oleh orang yang penting
bagi individu tanpa memperhatikan keinginan, aspirasi, potensi diri
individu.
b) Identitas negative
Asumsi identitas yang tidak wajar untuk dapat diterima oleh
nilai-nilai harapan masyarakat.
3) Mekanisme pertahanan ego
a) Fantasi;
b) Dissosiasi;
c) Isolasi;
d) Proyeksi;
e) Displacement;
Marah atau amuk pada diri sendiri
8. Sumber koping

Sumber koping adalah suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi
seseorang.

1) Individu;
2) Keluarga;
3) Teman bermain;
4) Masyarakat.
9. Penatalaksanaan umum
a. Penatalaksanaan Medis
Menurut Anna Issacs, (2005) terapi modalitas pengobatan secara medis yaitu
terapi somatic antara lain:
1) Psikofarmakologi
a) Medikasi psikotropik (psikoaktif) mengeluarkan efeknya di dalam
otak, mengubah emosi dan mempengaruhi perilaku.
b) Neurotransmitter adalah pembawa pesan kimiawi yang membawa
penghambat atau penstimulasi dari satu neuron ke neuron lain
melintasi ruang (sinaps) diantara mereka.
c) Terapi elektrokonvulsif (ECT)
2) Antipsikotik (neuroleptik)
Secara teori pelaksanaan medis khusus klien Tn. K dengan harga diri
rendah tidak ada, namun secara medis klien Tn. K yang didiagnosa medis
skizofrenia paranoid diberi terapi sebagai berikut:
1) Chlorpromazine (CPZ)
Indikasi : Untuk syndrome psikosis yaitu berdaya berat dalam
kemampuan menilai realitas, kesadaran diri terganggu, daya nilai
norma sosial dan tilik diri terganggu, berdaya berat dalam
fungsi-fungsi mental: waham, halusinasi, gangguan perasaan, dan
perilaku yang aneh atau tidak terkendali, berdaya berat dalam
kehidupan sehari-hari, tidak mampu kerja, hubungan sosial, dan
melakukan kegiatan rutin.
Kontra indikasi : Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan
jantung, dan ketergantungan obat.
Mekanisme kerja : Memblokade dopamine pada reseptor pasca
sinaps di otak khususnya system ekstra pyramidal.
Efek samping : Sedasi, gangguan otonomik (hipotensi,
antikolinergik/ parasimpatik, mulut kering, mata kabur, kesulitan
dalam buang air kecil, hidung tersumbat, gangguan irama jantung),
metabolic (jaundice).
2) Haloperidol (HR/ Resperidone)
Indikasi : Berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam
fungsi kehidupan sehari-hari.
Kontra indikasi : Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan
jantung, febris, dan ketergantungan obat.
Mekanisme kerja : Obat anti psikosis dalam memblokade dopamine
pada reseptor pasca sinaptik neuron di otak khususnya system ekstra
pyramidal.
Efek samping : Sedasi dan inhibisi psikomotor, gangguan otonomik
(hipotensi, anti kolinergik, mulut kering, kesulitan buang air kecil
dan buang air besar, hidung tersumbat, mata kabur)
3) T rihexyphenidyl (THP)
Indikasi : Segala jenis penyakit Parkinson, termasuk pasca
ansefalitis dan idiopatik, sindrom Parkinson akibat obat, misalnya
reserpina dan fenotiazine.
Kontra indikasi : Hipersensitifitas terhadap trihexyphenidyl, psikosis
berat, hipertropi prostate, dan obstruksi saluran cerna.
Mekanisme kerja : Sinergis dengan kinidine, obat anti depresan
trisiklik dan anti kolinergik lainnya.
Efek samping : Mulut kering, penglihatan kabur, pusing, mual,
muntah, bingung, agitasi, konstipasi, takikardi, retensi urine.
b. Penatalaksanaan Keperawatan
Menurut Ann Isaacs, (2005) terapi modalitas pengobatan secara keperawatan
yaitu terapi aktivitas kelompok dan terapi keluarga. Terapi aktivitas kelompok
meliputi:
1) Dinamika kelompok adalah kekuatan yang bekerja untuk menghasilkan pola
perilaku dalam kelompok.
2) Proses kelompok adalah makna interaksi verbal dan non verbal didalam kelompok
meliputi isi komunikasi, hubungan anatar anggota, pengaturan tempat duduk, pola
atau nada bicara, bahasa dan sikap tubuh serta tema kelompok untuk stimulasi
persepsi: harga diri rendah yaitu identifikasi hal positif pada diri dan melatih
positif pada diri.

Sedangkan untuk terapi keluarga meliputi:


1) Terapi keluarga adalah membantu individu dalam keluarga agar tidak didominasi
oleh reaktivitas emosi dan untuk mencapai tingkat diferensiasi diri yang lebih
tinggi.
2) Terapi structural adalah mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi
keluarga untuk memodifikasi posisi setiap anggota keluarga di dalam kelompok.
3) Terapi interaksional adalah mengidentifikasi hukum yang tidak terlihat dan tidak
terucap yang mengatur hubungan keluarga dan menggunakan teori komunikasi
untuk meningkatkan parbaikan hubungan.
4) Peran perawat pada terapi keluarga adalah mengajarkan pada keluarga tentang
penyakit, sumber daya dan program pengobatan menggunakan teknik komunikasi
terapeutik dan berkolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk meningkatkan fungsi
keluarga.
10. Diagnosa keperawatan
Pohon masalah

Sumber: Yosep (2009).

Diagnosis keperawatan
1. Harga diri rendah
2. Koping individu tidak efektif
3. Gangguan persepsi sensori
11. Fokus Intervensi
A. Harga diri rendah
Sp pasien

Sp 1 Sp 2 Sp 3 Sp 4 Sp 5

1. Identifikasi 1. Evaluasi kegiatan 1. Evaluasi 1. Evaluasi kegiatan 1. Evaluasi kegiatan


kemampuan pertama yang telah kegiatan pertama, kedua, latihan dan berikan
melakukan dilatih dan berikan pertama dan dan ketiga yang pujian.
kegiatan dan pujian kedua yang telah telah dilatih dan 2. Latih kegiatan
aspek positif 2. Bantu pasien dilatih dan berikan pujian dilanjutkan sampai
pasien (buat memilih kegiatan berikan pujian 2. Bantu pasien tak terhingga
daftar kegiatan) kedua yang akan memilih kegiatan 3. Nilai kemampuan
2. Bantu
2. Bantu pasien dilatih keempat yang akan yang telah mandiri
pasien memilih
menilai kegiatan 3. Latih kegiatan dilatih 4. Nilai apakah harga
kegiatan ketiga
yang dapat kedua kedua (alat 3. Latih kegiatan diri pasien meningkat
yang akan dilatih
dilakukan saat ini dan cara) keempat (alat dan
3. Latih kegiatan
(pilih dari daftar 4. Masukkan pada cara)
ketiga (alat dan
kegiatan) : buat jadual kegiatan 4. Masukkan pada
cara)
daftar kegiatan untuk latihan: dua jadual kegiatan
4. Masukkan
yang dapat kegiatan masing2 untuk latihan:
pada jadual
dilakukan saat ini dua kali per hari empat kegiatan
kegiatan untuk
3. Bantu pasien masing-masing dua
latihan: tiga
memilih salah kali per hari
kegiatan,
satu kegiatan
masing-masing
yang dapat
dua kali per hari
dilakukan saat ini
untuk dilatih
4. Latih kegiatan
yang dipilih (alat
dan cara
melakukannya)
5. Masukan pada
jadual kegiatan
untuk latihan
dua kali per hari

Sp keluarga

1. Diskusikan 1. Evaluasi kegiatan 1. Evaluasi 1. Evaluasi kegiatan 1. Evaluasi kegiatan


masalah yg keluarga dalam kegiatan keluarga keluarga dalam keluarga dalam
dirasakan dalam membimbing pasien dalam membimbing pasien membimbing pasien
merawat pasien melaksanakan membimbing melaksanakan melakukan kegiatan
2. Jelaskan kegiatan pertama pasien kegiatan pertama, yang dipilih oleh
pengertian, yang dipilih dan melaksanakan kedua dan ketiga. pasien. Beri pujian
tanda & gejala, dilatih pasien. Beri kegiatan pertama Beri pujian 2. Nilai kemampuan
dan proses pujian dan kedua yang 2. Bersama keluarga mmbimbing
terjadinya harga 2. Bersama keluarga telah dilatih. Beri keluarga melatih pasien
diri rendah melatih pasien pujian pasien melakukan 3. Nilai kemampuan
(gunakan dalam melakukan 2. Bersama kegiatan keempat keluarga melakukan
booklet) kegiatan kedua yang keluarga melatih yang dipilih kontrol ke RSJ/PKM
3. Diskusikan dipilih pasien pasien melakukan 3. Jelaskan follow up
kemampuan 3. Anjurkan kegiatan ketiga ke RSJ/PKM, tanda
atau aspek membantu pasien yang dipilih kambuh, rujukan
positif pasien sesuai jadual dan 3. Anjurkan 4. Anjurkan
yang pernah memberi pujian membantu pasien membantu pasien
dimiliki sebelum sesuai jadual dan sesuai jadual dan
dan setelah sakit berikan pujian memberikan pujian
4. Jelaskan cara
merawat harga
diri rendah
terutama
memberikan
pujian semua hal
yang positif pada
pasien
5. Latih keluarga
memberi
tanggung jawab
kegiatan
pertama yang
dipilih pasien:
bimbing dan beri
pujian
6. Anjurkan
membantu
pasien sesuai
jadual dan
memberikan
pujian
DAFTAR PUSTAKA

Stuart, W. Gail. (2016). Keperawatan Kesehatan Jiwa. Singapore:


Elsevier

Yusuf, Ah, Rizky Fitryasari PK dan Hanik Endang Nihayati. (2015). Buku
Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika

Keliat, Budi Anna. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas:


CMHN(Basic Course). Jakarta: EGC

Elinia, Sury,.2016. Tinjauan Tero dan Konsep Harga Diri Rendah diakses
dari
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/167/jtptunimus-gdl-eliniasury-8333-
2-babii.pdf pada 3 Februari 2019