Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN TEORI

a. Definisi

CVA (Cerebro Vaskular Accident) merupakan kelainan fungsi otak yang


timbul mendadak yang disebabkan karena terjadinya gangguan peredaran darah
otak dan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja dengan gejala – gejala
berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan cacat berupa
kelumpuhan anggota gerak, gangguan bicara, proses berpikir, daya ingat dan
bentuk – bentuk kecacatan lain hingga menyebabkan kematian (Muttaqin, 2008 :
234).

CVA Infark adalah sindrom klinik yang awal timbulnya mendadak, progresif
cepat, berupa defisit neurologi fokal atau global yang berlangsung 24 jam sekali
terjadi karena trombositosis dan emboli yang menyebabkan penyumbatan yang
bisa terjadi di sepanjang jalur pembulu darah arteri yang menuju otak. Darah ke
otak disuplai oleh dua arteria karotis interna dan dua arteri vertebralis. Arteri –
arteri ini merupakan cabang dari lengkung aorta jantung (arcus aorta) (Suzanne,
2002 : 2131).

b. Etiologi

Ada beberapa penyebab CVA Infark (Muttaqin, 2008 : 235)

1. Trombosis serebri
Terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga
menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan edema dan
kongesti disekitarnya. Trombosis biasanya terjadi pada orang tua yang
sedang tidur atau bangun tidur. Terjadi karena penurunan aktivitas
simpatis dan penurunan tekanan darah. Trombosis serebri ini disebabkan
karena adanya :
a. Aterosklerastis : mengerasnya atau berkurangnya kelenturan atau
elastisitas dinding pembuluh darah.

5
b. Hiperkoagulasi : darah yang bertambah kental yang akan
menyebabkan viskositas atau hematokrit meningkat sehingga dapat
melambatkan aliran darah serebral.
c. Arteritis : radang pada arteri.

2. Emboli
Dapat terjadi karena adanya penyumbatan pada pembuluh darah otak oleh
bekuan darah, lemak, dan udara. Biasanya emboli berasal dari thrombus di
jantung yang terlepas dan menyu,bat sistem arteri serebri. Keadaan –
keadaan yang dapat menimbulkan emboli :
a. Penyakit jantung reumatik
b. Infark miokardium
c. Fibrilasi dan keadaan aritmia : dapat membentuk gumpalan –
gumpalan kecil yang dapat menyebabkan emboli serebri
d. Endokarditis : menyebabkan gangguan pada endokardium.

Faktor resiko terjadinya CVA (Brunner & Suddart, 2000 : 94 – 95) :

a. Hipertensi, faktor resiko utama


b. Penyakit kardiovaskuler
c. Kadar hematokrit tinggi
d. DM (peningkatan anterogenesis)
e. Pemakaian kontrasepsi oral
f. Penurunan tekanan darah berlebihan dalam jangka panjang
g. Obesititas, perokok, alkoholisme
h. Kadar estrogen yang tinggi
i. Usia > 95 tahun
j. Penyalahgunaan obat
k. Gangguan aliran darah otak sepintas
l. Hiperkolesterolemia
m. Infeksi
n. Kelainan pembuluh darah otak (karena genetik dan infeksi)

6
o. Lansia
p. Penyakit paru menahun (asma bronchial)
q. Asam urat

Faktor resiko CVA Infark (Muttaqin, 2008 : 236 :

a. Hipertensi
b. Penyakit kardiovaskuler – embolisme serebri berasal dari jantung :
penyakit arteri koronaria, gagal jantung kongestif, hipertrofi ventrikel kiri,
abnormalitas irama (khususnya fibrilasi atrium)
c. Kolesterol tinggi
d. Obesitas
e. Peningkatan hematokrit
f. Diabetes mellitus
g. Merokok

c. Patofisiologi
Berdasarkan klinik (Arief Mansoer, dkk, 2000) :
a. Stroke Hemoragik (SH) : stroke yang terjadi karena perdarahan sub
arachnoid, mungkin disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada
daerah tertentu, biasanya terjadi saat pasien melakukan aktivitas atau saat
aktif. Namun bisa juga terjadi saat istirahat, kesadaran pasien umumnya
menurun.
b. Stroke Non Hemoragik (SNH) : dapat berupa iskemia, emboli dan
thrombosis serebral, biasanya terjadi setelah lama beristirahat, baru
bangun tidur atau di pagi hari. Tidak terjadi iskemi yang menyebabkan
hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema sekunder, kesadaran pasien
umumnya baik.

Berdasarkan perjalanan penyakit :

a. Tranciet Iskemik Attack (TIA) atau serangan iskemik sepintas merupakan


gangguan neurologis fokal yang timbul mendadak dan hilang dalam

7
beberapa menit (durasi rata – rata 10 menit) sampai beberapa jam (24
jam).
b. Stroke Involution atau Progresif adalah perjalanan penyakit stroke
berlangsung perlahan meskipun akut. Munculnya gejala makin bertambah
buruk, proses progresif beberapa jam sampai beberapa hari.
c. Stroke complete. Gangguan neurologis yang timbul sudah menetap atau
permanen, maksimal sejak awal serangan dan sedikit memperlihatkan
perbaikan dapat didahului dengan TIA (Tranciet Iskemik Attack) yang
berulang.

d. Tanda dan Gejala


Menurut Hudak dan Gello dalam buku keperawatan Kritis (2000 : 258 –
260) yaitu :
a. Lobus frontal
- Defisit kognitif : kehilangan memori, rentang perhatian singkat,
peningkatan distrakbilitas (mudah buyar), penilaian buruk, tidak
mampu menghitung, memberi alasan atau berpikir abstrak.
- Defisit motorik : hemiparese, hemiplagia, distria (kerusakan otot – otot
bicara), disfagia (kerusakan otot – otot menelan).
- Defisit aktivitas dan psikologi antara lain : labilitas emosional,
kehilangan kontrol diri, dan hambatan sosial, penurunan toleransi
terhadap stress, ketakutan, permusuhan frustasi, marah, kekacauan
mental dan keputusasaan, menarik diri, isolasi dan depresi.
b. Lobus parietal
Dominan :
- Defisit sensori antara lain defisit visual (jarak visual terpotong
sebagian besar pada hemisfer serebri), hilangnnya respon terhadap
sensasi superficial (sentuhan, nyeri, tekanan, panas dan dingin)
hilangnya respon terhadap propriopersepsi (pengetahuan tentang posisi
bagian tubuh).
- Defisit bahagia / komunikasi

8
 Afasia ekspresif (kesulitan dalam mengubah suara menjadi pola –
pola bicara yang dapat dipahami)
 Afasia (kerusakan kelengkapan kata yang diucapkan)
 Afasia (tidak mampu berkomunikasi pada setiap tingkat)
 Afasia (ketidakmampuan untuk mengerti kata yang dituliskan)
 Agrafasia (kemampuan untuk mengekspresikan ide – ide dalam
tulisan)

Non dominan

Defisit perceptual (gangguan dalam merasakan dengan tepat dan


menginterpretasi diri / lingkungan) antara lain :

- Gangguan skem / maksud tubuh (amnesia atau menyangkal terhadap


ekstremitas yang mengalami paralise)
- Disorientasi (waktu, tempat dan orang)
- Apraksia (kehilangan kemampuan untuk menggunakan objek – objek
dengan tepat)
- Agnosia (ketidakmampuan untuk mengidentifikasi lingkungan melalui
indra)
- Kelainan dalam menemukan letak objek dalam ruangan
- Kerusakan memori untuk mengingat letak spasial objek atau tempat
- Disorientasi kanan kiri
c. Lobus occipital
Defisit lapang penglihatan, penurunan ketajaman penglihatan, diplobia
(penglihatan ganda), buta.
d. Lobus temporal
Defisit pendengaran, gangguan keseimbangan tubuh.

e. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada pasien CVA Infark :

9
1. Laboratorium
a. Pada pemeriksaan paket stroke : viskositas darah pada pasien CVA ada
peningkatan VD > 5,1 cp, Test Agresi Trombosit (TAT), Asam
Arachnoid (AA), Platelet Activating Factor (PAF), fibrinogen
(Muttaqin, 2008 : 249 – 252).
b. Analisis laboratorium standar mencakup urinalisis, HDL pasien CVA
Infark mengalami penurunan HDL di bawah nilai normal 60 mg/dl,
Laju Endap Darh (LED) pada pasien CVA bertujuan mengukur
kecepatan sel darah merah mengendap dalam tabung darah LED yang
tinggi menunjukkan adanya radang. Namun LED tidak menunjukkan
apakah itu radang jangka lama, misalnya arthritis, panel metabolic
dasar (Natrium 135 – 145 nMol/L), (Kalium 3,6 – 5,0 mMol/L),
Klorida (Prince, dkk 2005 : 1122).

2. CT Scan : pemindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema,


posisi hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia dan
posisinya secara pasti. Hasil pemeriksaan biasanya didapatkan hiperdens
fokal, kadang pemadatan terlihat di ventrikel atau menyebar ke permukaan
otak (Muttaqin, 2008 : 140).
3. Pemeriksaan sinar X toraks : dapat mendeteksi pembesaran jantung
(kardiomegali) dan infiltrate paru yang berkaitan dengan gagal jantung
kongestif (Prince, dkk 2005 : 1122).
4. Ultrasonografi (USG) karaois : evaluasi standard untuk mendeteksi
gangguan aliran darah karotis dan kemungkinan memperbaiki kausa stroke
(Prince, dkk 2005 : 1122).
5. Angiografi serebrium : membantu menentukan penyebab dari stroke
secara spesifik seperti lesi ulseratif, stenosis, displosia fibraomuskular,
fistula arteriovena, vaskulitis dan pembentukan thrombus di pembuluh
besar (Prince, dkk 2005 : 1122).

10
6. Pemindaian dengan Postiron Emission Tomography (PET) :
mengidentifikasi seberapa besar suatu daerah di otak menerima dan
memetabolisme glukosa serta luas cedera (Prince, dkk, 2005 : 1122).
7. Ekokardiogram Transesofagus (TEE) : mendeteksi sumber kardioembolus
potensial (Prince, dkk, 2005 : 1123).
8. MRI : menggunakan gelombang magnetik untuk memeriksa posisi dan
besar / luasnya daerah infark (Muttaqin, 2008 : 140).

f. Penatalaksanaan
Ada beberapa penatalaksanaan pada pasien denagn CVA Infark (Muttaqin,
2008 : 14) :
1. Untuk mengobati keadaan akut, berusaha menstabilkan TTV dengan :
a. Mempertahankan saluran nafas yang paten
b. Kontrol tekanan darah
c. Merawat kandung kemih, tidak memakai cateter
d. Posisi yang tepat, posisi diubah setiap 2 jam, latihan gerak pasif
2. Terapi konservatif :
a. Vasodilator untuk meningkatkan aliran serebral.
b. Anti agregasi trombolis : aspirin untuk menghambat reaksi pelepasan
agregasi thrombosis yang terjadi sesudah ulserasi alteroma.
c. Anti koagulan untuk mencegah terjadinya atau memberatnya
trombosisi atau embolisasi dari tempat lain ke sistem kardiovaskuler.
d. Bila terjadi peningkatan TIK, hal yang dilakukan :

3. Hiperventilasi dengan ventilator sehingga Pa CO2 30 – 35 mmHg.


4. Osmoterapi antara lain :
- Infus manitol 20 % 100 ml atau 0,25 – 0,5 g/kg BB/ kali dalam waktu
15 – 30 menit, 4 – 6 x/menit.
- Infus gliserol 10 % 250 ml dalam waktu 1 jam, 4 x/hari.
5. Posisi kepala head up (15 – 30o).
6. Menghindari mengejan pada BAB.

11
7. Hindari batuk.
8. Meminimalkan lingkungan yang panas.

12
g. WOC

13
h. Asuhan Keperawatan secara teori
1. Pengkajian
a. Identitas
Biasanya dialami oleh usia tua, namun tidak menutup kemungkinan juga
dapat dialami oleh usia muda, jenis kelamin, dan ras juga dapat
mempengaruhi.
b. Keluhan utama
Kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, tidak dapat
berkomunikasi dan penurunan kesadaran pasien.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Stroke infark mendadak saat istirahat atau bangun pagi.
d. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat hipertensi, riwayat stroke sebelumnya, diabetes mellitus,
penyakit jantung (terutama aritmia), penggunaan obat – obatan anti
koagulan, aspirin, vasodilator, obesitas. Adanya riwayat merokok,
penggunaan alcohol dan penyalahgunaan obat (kokain).
e. Riwayat penyakit keluarga
Adanya riwayat keluarga yang menderita hipertensi, diabetes mellitus,
atau adanya riwayat stroke pada generasi terdahulu.
f. Riwayat psikososial – spiritual
Biaya untuk pemeriksaan, pengobatan dan perawatan dapat mengacaukan
keuangan keluarga sehingga faktor biaya ini dapat mempengaruhi
stabilitas emosi dan pikiran pasien dan keluarga. Perubahan hubungan dan
peran terjadi karena pasien kesulitan untuk berkomunikasi akibat sulit
berbicara. Rasa cemas dan takut akan terjadinya kecacatan serta gangguan
citra diri.
g. Pola sehari – hari
1. Nutrisi : adanya gejala nafsu makan menurun, mual – muntah pada
fase akut, kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, pipi,
tenggorokan, disfagia ditandai dengan kesulitan menelan, obesitas.
2. Eliminasi : menunjukkan adanya perubahan pola berkemih seperti
inkontinensia urine, anuaria. Adanya distensi abdomen (distensi

14
bladder berlebih), bising usus negatif (ilius paralitik), pola defekasi
biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.
3. Aktivitas : menunjukkan adanya kesukaran untuk beraktivitas karena
kelemahan, kehilangan sensori, atau paralise / hemiplegic, mudah
lelah, gangguan tonus otot, paralitik (hemiplegia).
4. Istirahat : pasien mengalami kesukaran istirahat karena kejang otot /
nyeri otot.
5. Kebiasaan yang berhubungan dengan kesehatan : dalam pengkajian ini
pasien perlu dikaji apakah pasien mengkonsumsi merokok, alcohol
atau pola hidup yang tidka sehat seperti kurang olah raga.
h. Pemeriksaan fisik
1. Sistem respirasi (Breathing) : batuk, peningkatan produksi sputum, sesak
nafas, penggunaan otot bantu nafas, serta perubahan kecepatan dan
kedalaman pernafasan. Adanya ronkhi akibat peningkatan produksi sekret
dan penurunan kemampuan untuk batuk akibat penurunan kesadaran
pasien. Pada pasien yang sadar baik seringkali tidak didapati kelainan pada
pemeriksaan sistem respirasi.
2. Sistem kardiovaskuler (Blood) : dapat terjadi hipotensi atau hipertensi,
denyut jantung irregular, adanya mur – mur.
3. Sistem neurologi
a. Tingkat kesadaran : bisa sadar baik sampai terjadi koma, penilaian GCS
untuk menilai tingkat kesadaran pasien.
b. Refleks patologis : refleks babinski positif menunjukkan adanya
perdarahan di otak / perdarahan intraserebri dan untuk membedakan jenis
stroke yang ada apakah bleeding atau infark.
c. Pemeriksaan saraf cranial :
- Saraf I biasanya pada pasien dengan stroke tidak ada kelainan pada
fungsi penciuman.
- Saraf II disfungsi persepsi visual karena gangguan jarak sensorik
primer diantara sudut mata dan korteks visual. Gangguan hubungan
visual – spasial sering terlihat pada pasien dengan hemiplagia kiri.

15
Pasien mungkin tidak dapat memakai pakaian tanpa bantuan karena
ketidakmampuan untuk mencocokkan pakaian ke bagian tubuh.
- Saraf III, IV dan VI apabila akibat stroke mengakibatkan paralisis seisi
otot – otot okularis didapatkan penurunan kemampuan gerakan
konjungat unilateral di sisi yang sakit.
- Saraf VII persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah asimetris,
otot wajah tertarik ke bagian sisi yang sehat.
- Saraf XII lidah asimetris, terdapat deviasi pada satu sisi dan fasikulasi.
Indra pengecapan normal.
4. Sistem perkemihan (Bladder) : terjadi inkontinensia urine.
5. Sistem gastrointestinal (Bowel) : adanya keluhan sulit menelan, nafsu
makan menurun, mual dan muntah pada fase akut. Mungkin mengalami
inkontinensia alvi atau terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.
Adanya gangguan pada saraf V yaitu pada beberapa keadaan stroke
menyebabkan paralisis saraf trigeminus, didapatkan penurunan
kemampuan koordinasi gerakan mengunyah, penyimpangan rahang bawah
pada posisi ipsilateral dan kelumpuhan seisi otot – otot pterigoideus dan
pada saraf IX dan X yaitu kemampuan menelan kurang baik dan kesukaran
membuka mulut.
6. Sistem musculoskeletal dan integument (Bone) : kehilangan kontrol
volunter gerakan motorik. Terdapat hemiplagia atau hemiparesis atau
hemiparese ekstremitas. Pantau adanya dekubitus akibat imobilisasi fisik.

Skala ukuran kekuatan otot :

Kekuatan Ciri – ciri


otot
0 Tak bergerak, tak berkontraksi, 100% pasif, apabila lengan
dan kaki diangkat dan dilepaskan akan jatuh.
1 Ada kontraksi, sedikit bergerak, ada tahanan sedikit saat
ektremitas dijatuhkan.
2 Sedikit dapat menahan daya gravitasi, tetapi tak mampu
menahan dorongan yang ringan dari pemeriksa.

16
3 Mampu menahan gravitasi tetapi tak mampu menahan
dorongan yang ringan dari pemeriksa.
4 Mempunyai kekuatan otot yang kurang disbanding sisi yang
lain. Dapat menahan gravitasi dan tekanan sedang.
5 Kekuatan utuh (normal) dapat menahan gravitasi, bergerak
dengan kekuatan penuh.

Pemeriksaan penunjang

Pada pemeriksaan penunjang tertulis tanggal, jenis pemeriksaan, hasil


pemeriksaan, pemeriksaan penunjang diantaranya pemeriksaan laboratorium, foto
rontgen, rekam kardiogrativ dan lain – lain (Rahman dan Malid, 2009).

Analisa data

Menurut Hidayat, A. Azis (2001 : 8) analisa data merupakan suatu proses dalam
pengkajian dimana data yang menyimpang dikelompokkan kemudian di analisa
dan di interpretasikan sehingga diperoleh masalah – masalah keperawatan yang
pasien perlukan.

Diagnosa keperawatan :

1. Ketidakefektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan aliran darah ke


otal terhambat.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan disfagia sekunder akibat cedera serebrovaskuler.
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan mobilitas
sekunder akibat stroke.
4. Gangguan persepsi sensori yang berhubungan dengan penekanan pada
saraf sensori yang ditandai dengan disorientasi terhadap waktu , tempat,
orang dan perubahan dalam respon terhadap rangsangan.
5. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan efek dari kerusakan
pada area bicara di hemisfer otak yang ditandai dengan kerusakan

17
artikulasi, tidak dapat berbicara,, tidak mampu memahami bahasa tertulis /
ucapan.
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi yang
diterima pasien tentang penyakit yang dialami oleh pasien yang ditandai
dengan keterbatasan kognitif, kesalahan interpretasi informasi dan tidak
mengenal sumber – sumber informasi.
7. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese / hemiplagia,
kerusakan neuromuscular pada ekstremitas yang ditandai dengan
ketidakmampuan bergerak, keterbatasan rentang gerak, penurunan
kekuatan / kontrol otot.

18
2. Diagnosa Keperawatan
a. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese / hemiplagia,
kerusakan neuromuscular pada ekstremitas yang ditandai dengan
ketidakmampuan bergerak, keterbatasan rentang gerak, penurunan
kekuatan/kontrol otot.
Tujuan : pasien mampu meningkatkan aktivitas fisik yang sakit atau lemah
Kriteria hasil :
- Ekstremitas tidak tampak lemah.
- Ekstremitas yang lemah dapat diangkat dan digerakkan secara mandiri.
- Ekstremitas yang lemah dapat menahan posisi tubuh saat miring kanan
dan kiri

Intervensi Rasional
Jelaskan kepada pasien akibat dari Pengkajian yang adekuat membantu
terjadinya imobilitas fisik meningkatkan pengetahuan pasien.
Ubah posisi pasien setiap 2 jam sekali Menurunkan resiko terjadinya iskemia
jaringan akibat sirkulasi darah yang
jelek pada daerah yang tertekan.
Ajarkan pasien untuk melakukan Gerakan aktif memberikan dan
latihan gerak pada ekstremitas yang memperbaiki massa, tonus dan
sakit kekuatan otot serta memperbaiki
fungsi jantung dan pernafasan.
Mencegah otot volunteer kehilangan
Anjurkan pasien melakukan gerak tonus dan kekuatannya bila tidak
pasif pada ekstremitas yang sakit dilatih untuk digerakkan.
Kolaborasi dengan ahli fisioterapi Peningkatan kemampuan dalam
untuk latihan fisik pasien mobilisasi ekstremitas dapat
ditingkatkan dengan latihan fisik dari
tim fisioterapi.
Observasi kemampuan mobilitas Untuk mengetahui sejauh mana
pasien kemampuan gerak pasien setelah
dilakukan dan untuk menentukan

19
intervensi selanjutnya.

b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan disfagia sekunder akibat cedera serebrovaskuler.
Tujuan : pasien tetap menunjukkan pemenuhan nutrisi selama dilakukan
tindakan keperawatan
Kriteria hasil :
- Tidak terjadi penurunan berat badan.
- Hb dan albumin dalam batas normal (Hb : 13,4 – 17,6 dan Albumin :
3,2 – 5,5 g/dl)

Intervensi Rasional
Jelaskan pentingnya nutrisi bagi Nutrisi yang adekuat membantu
pasien meningkatkan kekuatan otot.
Pantau kemampuan pasien dalam Untuk menetapkan jenis makanan
menguyah dan menelan yang akan diberikan oleh pasien.
Letakkan kepala lebih tinggi pada Memudahkan pasien untuk menelan.
waktu selama dan sesudah makan
Kolaborasi dalam pemberian cairan Membantu memberi cairan dan
parenteral atau memberi makanan makanan pengganti jika pasien tidak
melalui NGT mampu memasukkan secara per oral.
Observasi keadaan, keluhan dan Mengetahui keberhasilan tindakan dan
asupan nutrisi untuk menentukan intervensi
selanjutnya.

c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan mobilitas


sekunder akibat stroke.
Tujuan : pasien mampu mempertahankan keutuhan kulit
Kriteria hasil :
- Pasien mau berpartisipasi terhadap pencegahan luka.

20
- Mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka.
- Tidak ada tanda – tanda kemerahan atau luka.

Intervensi Rasional
Anjurkan untuk melakukan latihan Menghindari tekanan dan
mobilisasi meningkatkan aliran darah.
Ubah posisi setiap 2 jam sekali Menghindari tekanan yang berlebihan
pada daerah yang menonjol.
Observasi terhadap eritema, Mempertahankan keutuhan kulit.
kepucatan dan palpasi area sekitar
terhadap kehangatan dan pelunakan
jaringan setiap mengubah posisi.
Jaga kebersihan kulit dan seminimal Menghindari kerusakan – kerusakan
mungkin menghindari trauma dan kapiler.
panas pada kulit

d. Gangguan persepsi sensori yang berhubungan dengan penekanan pada


saraf sensori yang ditandai dengan disorientasi terhadapt waktu, tempat,
orang dan perubahan dalam respon terhadap rangsangan.
Tujuan : meningkatnya persepsi sensorik secara optimal setelah dilakukan
tindakan keperawatan
Kriteria hasil :
- Adanya perubahan kemampuan yang nyata
- Tidak terjadi disorientasi waktu, tempat dan orang

Intervensi Rasional
Tentukan kondisi patologis pasien Untuk mengetahui tipe dan lokasi
yang mengalami gangguan.

21
Pantau gangguan penglihatan terhadap Untuk mempelajari kendala yang
perubahan persepsi berhubungan dengan telaten dan
seksama.
Latih pasien untuk melihat suatu objek Agar pasien tidak kebingungan dan
dengan telaten dan seksama lebih konsentrasi.
Observasi respon perilaku pasien Untuk mengetahui keadaan emosi
seperti menangis, bahagia, pasien.
bermusuhan, halusinasi setiap saat

e. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan efek dari kerusakan


pada aera bicara di hemisfer otak yang ditandai dengan kerusakan
artikulasi, tidak dapat berbicara, tidak mampu memahami bahasa
tertulis/ucapan.
Tujuan : proses komunikasi pasien dapat berfungsi secara optimal
Kriteria hasil :
- Terciptanya suatu komunikasi dimana kebutuhan pasien dapat
terpenuhi.
- Pasien mampu merespon setiap berkomunikasi secara verbal dan
isyarat.

Intervensi Rasional
Berikan metode alternatif komunikasi Memenuhi kebutuhan komunikasi
misalnya bahasa isyarat sesuai dengan kemampuan pasien.
Antisipasi setiap kebutuhan pasien Mencegah rasa putus asa dan
saat berkomunikasi ketergantungan pada orang lain.
Bicaralah dengan pasien secara pelan Mengurangi kecemasan dan
dan gunakan pertanyaan yang kebingungan pada saat berkomunikasi.
jawabannya “ya atau tidak”
Anjurkan kepada keluarga untuk tetap Mengurangi rasa isolasi sosial dan
berkomunikasi dengan pasien meningkatkan komunikasi yang
efektif.
Hargai kemampuan pasien dalam Memberi semangat pada pasien agar

22
berkomunikasi lebih sering melakukan komunikasi.
Kolaborasi dengan fisioterapis untuk Melatih pasien berbicara secara
latihan bicara mandiri dengan baik dan benar.

f. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi yang


diterima pasien tentang penyakit dialami oleh pasien yang ditandai dengan
keterbatasan kognitif, kesalahan interpretasi informasi dan tidak mengenal
sumber – sumber informasi.

Tujuan : pasien mengerti tentang penyakit yang diderita

Kriteria hasil :

- Pasien dan keluarga tahu tentang penyakit yang diderita.


- Pasien dan keluarga mau berperan serta dalam tindakan keperawatan.

Intervensi Rasional
Pantau tingkat pengetahuan pasien dan Mengetahui sejauh mana pengetahuan
keluarga yang dimiliki pasien dan keluarga dan
kebenaran informasi yang di dapat.
Beri penjelasan kepada pasien dan Penjelasan tentang kondisi yang
keluarga tentang penyakit yang sedang dialami dapat membantu
diderita menambah wawasan pasien dan
keluarga.
Jelaskan kepada pasien dan keluarga Agar pasien dan keluarga mengetahui
setiap tindakan keperawatan yang akan tujuan dari setiap tindakan
dilakukan keperawatan yang akan dilakukan.

g. Ketidakefektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan aliran darah ke


otak terhambat.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam
diharapkan suplai aliran darah ke otak lancar.

23
Kriteria hasil :
- Tekanan sistolik dan diastolik dalam rentang yang diharapkan.
- Tidak mengalami sakit kepala dan muntah.
- Tidak terjadi tekanan intra kranial.
- Tidak mengalami gangguan reflek saraf dan kognitif.

Intervensi Rasional
Tekanan faktor – faktor yang Mempengaruhi penetapan
berhubungan dengan keadaan atau intervensi, kerusakan atau
penyebab khususnya selama koma atau kemunduran tanda, gejala
penurunan perfusi jaringan serebral dan neurologis atau memperbaikinya
potensial terjadinya peningkatan tekanan setelah fase awal memerlukan
intrakranial tindakan pembedahan.
Pantau dan catat status neurologis Mengetahui kecenderungan tingkat
sesering mungkin dan bandingkan kesadaran dan potensial
dengan keadaan normalnya peningkatan tekanan intracranial
serta mengetahui lokasi, luas dan
kemajuan atau resolusi kerusakan
sistem saraf pusat.
Pantau tanda – tanda vital seperti adanya Variasi hasil tekanan darah
hipertensi atau hipotensi, bandingkan mungkin terjadi oleh karena atau
tekanan darah yang terbaca pada kedua trauma serebral pada daerah
tangan vasomotor otak, hipertensi atau
hipotensi postural dapat menjadi
faktor pencetus.
Konsultasi dengan ahli fisioterapi untuk Menurunkan tekanan arteri dengan
mengoptimalkan bagian kepala (15 – meninggikan drainase dan
30o) dan pantau respon pasien untuk hal menaikkan sirkusi serebral.
tersebut
Kolaborasi pemberian oksigen, sesuai Menurunkan hipoksia yang dapat
indikasi menyebabkan vasodilatasi serebral

24
dan tekanan meningkat atau
terbentuknya edema.
Kolaborasi dalam pemberian obat Membantu mempercepat proses
penyembuhan penyakit.

25