Anda di halaman 1dari 5

D. Faktor yang membatasi distribusi : antar relasi dengan spesies yang lain.

A. Predasi
Predasi adalah hubungan antar populasi yang salah satunya menjadi
pemangsa atau predator dan populasi yang lain menjadi mangsa (Ramli, 1989).
Menurut Ripple & Beschta (2012), Predasi merupakan bentuk interaksi
antarorganisme di mana satu organisme memakan organisme lainnya.
Organisme yang memakan disebut predator, sedangkan organisme yang
dimakan disebut mangsa. Hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa,
predator tidak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai
pengontrol populasi mangsa. Spesies mangsa biasanya memiliki tingkat
reproduksi yang tinggi dari pada tingkat reproduksi pemangsa (Norrdahl &
Korpimaki, 2009). Akibatnya, tingkat kematian mangsa tinggi yang
menyebabkan sumber makanan menurun bagi pemangsa. Organisme yang
sehat akan mudah beradaptasi dan dapat menghindari pemangsa daripada
organisme yang sakit dan tua, dan bila organisme ini bereproduksi akan
menghasilkan keturunan yang lebih baik untuk beradaptasi (Ramli, 1998).
Begitu pula dengan predator, jika predator bersifat lemah maka tidak dapat
menangkap mangsa dan berimbas kepada kematian (Norrdahl & Korpimaki,
2009).
1) Pembatasan Mangsa oleh Predator

Distribusi suatu spesies akan dipengaruhi oleh predator (Krebs,


1991). Penelitian Fletcher (1998) menjelaskan bahwa, ketika landak
laut Centrostephanus rodgersii dan keempat spesies limpet, alga secara
langsung menjadi spesies yang mendominasi area subtidal. Kedua area
kontrol tersebut mengandung landak laut dan limpet yang menyebabkan
tidak terlihatnya Alga tumbuh. Alga tumbuh secara dominan karena
pemangsa alga yaitu landak laut dan limpet dihilangkan, sehingga alga
dapat tumbuh dan bereproduksi (Krebs, 1991).
Eksperimen seperti ini dapat dipakai sebagai untuk
menunjukkan 4 kriteria yang harus terpenuhi untuk menyimpulkan
bahwa predator membatasi Mangsa :

a) Individu mangsa akan selamat bila dipindahkan ke wilayah


dimana individu mangsa secara normal tidak dapat bertahan
jika mereka terlindungi dari predator.
b) Mangsa dan Predator memiliki hubungan yang berbanding
terbalik.
c) Predator dapat membunuh mangsa di lapangan maupun
laboratorium.
d) Predator dapat terbukti bertanggung jawab atas hancurnya
mangsa didalam eksperimen perpindahan.

2) Pembatasan Predator dengan Mangsa


Mangsa juga bisa berupa tanaman produksi dan predator berupa
hewan hebrivora, begitupun mangsa juga dapat hewan hebrivora dan
predator merupakan hewan karnivora (Krebs, 1991). Tetapi jika mangsa
membatasi jangkauan predator, predator tersebut terspesialisasi dan
memakan hanya satu atau dua spesies saja. Predator seperti itu disebut
predator spesialis atau monophagous predator. Banyak spesies
serangga merupakan spesialis, tetapi predator bertulang belakang tidak
(Krebs, 1991).

B. Penyakit dan Parasit

Parasitisme merupakan hubungan antara organisme parasit yang hidup


pada sel inang (host) untuk mendapatkan makanan (Ramli, 1989). Dalam
interaksi ini, parasit mendapatkan keuntungan dengan menumpang hidup pada
inangnya, dan inang mendapatkan kerugian (Rockwood, 2015).
Pola interaksi host dan parasit yang diamati antara tingkat infeksi dan
usia dicirikan dengan tiga pola hipotesis. Pola pertama, merujuk kepada type I
oleh Hudson dan Dobson (1995), yakni inang mendapatkan parasit langsung
dari lingkungan pada tingkat waktu yang stabil, dan meningkat seiring usia.
Asumsi ini bukan transmisi vertikal maupun reproduksi yang melibatkan inang.
Sebaliknya, pola kedua diakibatkan tingkat parasit dan inang seimbang, tingkat
parasit akan mengikuti tingkat inang (Holling, 1973). Pola ketiga hubungan
antara parasit dan usia inangnya, beban parasit akan menurun seiring dengan
usia inang setelah peningkatan awal (Rockwood, 2015).

Seperti yang telah diuraikan oleh Nokes (1992), terdapat 3 faktor utama
yang mengatur interaksi antara inang dan parasit: (1) penyebab infeksi pada
inang, (2) mode transmisi antara individual inang, (3) perilaku dan demografi
dari populasi inang.

Penyebab infeksi termasuk periode laten setelah sumber terpapar


infeksi. Selama periode ini, sebagai contoh virus, virus akan meningkat secara
eksponensial. Proses selanjutnya termasuk periode penginfeksian, inang akan
terlihat gejala penyakit. Sementara populasi parasit meningkat, sistem imunitas
tubuh memulai membentuk antibiotik spesifik. Sementara antibiotk spesifik
mulai terbentuk dan meningkat, maka populasi parasit akan menurun dan gejala
sakit akan mereda (Wilson, et al. 2009).

Menurut Rockwood (2015), Mode penularan terbagi menjadi 2 yaitu :


(1) Vertical, yakni penyakit ditularkan oleh induknya kepada anaknya,
melibatkan informasi genetik (seperti : Hepatitis B) dan (2) horizontal, yakni
penyakit ditularkan dari satu organisme ke organisme yang lain. Dalam metode
penularan horizontal, Rockwood (2015) membaginya menjadi 2 yaitu : secara
langsung dan tidak langsung. Metode penularan secara langsung meliputi : (1)
penyakit kontak dekat (demam, influenza), (2) penyakit kontak seksual (HIV,
Hepatitis B, dan Sifilis), (3) penyakit kontak terkontaminasi (Kolera, tetanus,
dan thypoid). Penyakit kontak tidak langsung ternasuk yang melibatkan
penularan dari satu hewan inang ke yang lain (Malaria, Rabies) atau melalui
jarum (HIV, Hepatitis B). Parasit dan penyakit memiliki dampak besar dalam
populasi, komunitas, dan ekosistem (Rockwood, 2015).

C. Alelopati
Alelopati adalah suatu fenomena alam dimana suatu organisme
memproduksi dan mengeluarkan suatu senyawa biomolekul ke lingkungan dan
senyawa tersebut memengaruhi perkembangan dan
pertumbuhan organisme lain di sekitarnya (Kohli et al., 2001). Menurut
Chourcamp et al (2008), indikasi fenomena alelopati dapat terlihat melalui
autotoksisitas, efek residu, dan penghambatan pertumbuhan gulma. Contoh
tanaman alelopati adalah Eucalyptus spp. Hal ini dilakukan untuk
memenangkan kompetisi nutrisi dengan tanaman spesies lain. Organisme,
tumbuhan khususnya, yang mungkin terbatasi distribusinya oleh racun atau
antibiotik, juga disebut allelophatic agents.

D. Kompetisi
Kehadiran suatu spesies mungkin terbatasi oleh distribusi dari beberapa
spesies yang berkompetisi (Krebs, 1991). Persaingan akan saling berpengaruh
terhadap kedua populasi dalam usaha mengambil makanan, zat hara yang
terdapat dalam tanah, tempat hidup, sinar matahari dan lain-lain. Kompetisi
merupakan persaingan dua populasi dalam memperebutkan kebutuhan yang
sama dan jumlahnya terbatas, dan dalam proses ini kedua populasi tersebut
saling mengalahkan satu sama lain. Kompetisi sangat penting dalam
mempengaruhi distribusi dan kelimpahan tanaman dan hewan.
Penelitian tentang kompetisi dilakukan terhadap 2 salamander darat,
yakni P. jordani dan P. glutinosus. Ketika kedua spesies tersebut
memperebutkan sumber makanan, satu spesies akan selalu lebih baik dari pada
yang lain dalam hal mengumpulkan sumber makanan. Dalam jangka waktu
yang lama, satu spesies hilang, kecuali jika spesies tersebut mengevolusi
beberapa adaptasi untuk keluar dari kompetisi. Spesies dapat mengadopsi satu
atau dua startegi umum : (1) menghindari kompetitor utama dengan memilih
bagian yang berbeda dari habitat atau (2) menghindari kompetitor utama
dengan membuat perubahan dalam mengambil makan.