Anda di halaman 1dari 16

A.

Sistem Pencernaan Manusia


Sistem pencernaan berfungsi untuk mengubah makanan dan menyerap
sari makanan yang berupa nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh yang
kemudian akan digunakan sebagai energi, pertumbuhan dan pergantian sel
tubuh
Proses makanan dicerna ada empat
tahap utama yaitu injesti, pencernaan,
penyerapan dan eliminasi (Champbell,
2005). Injesti (ingestion) adalah proses
memasukkan makanan dalam mulut.
Pencernaan (digestion) adalah proses
pemecahan makanan menjadi molekul
yang lebih sederhana, pencernaan dibagi
menjadi dua jenis yaitu pencernaan
mekanik dan pencernaan kimiawi.
Penyerapan (absorbtion) adalah proses
Gambar 1. penyerapan sari makanan oleh sel-sel
Saluran Pencernaan Manusia tubuh. Dan tahap yang terakhir adalah
(Sumber: Chambell, 2005: 883)
eliminasi (elimination) adalah proses
penyingkiran atau pembuangan material makanan yang tidak dicerna.
Pada manusia, proses pencernaan makanan ini akan melewati 4 (empat)
proses diatas dengan menggunakan organ-organ tubuh dalam saluran
pencernaan seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.

B. Organ-organ Pencernaan Manusia


1. Mulut
Mulut merupakan jalan
masuk menuju sistem
pencernaan dan berisi organ
aksesori yang bersifat dalam
proses awal pencernaan.
Terdiri atas dua bagian.
Bagian luar yang sempit, atau
Gambar 2. Penampang samping mulut vestibuka, yaitu ruang di
manusia antara gusi serta gigi dengan
(sumber: Gleonceo Biology, 2008: 1020) bibir dan pipi, dan bagian
dalam, yaitu rongga mulut
yang dibatasi di sisi-sisinya oleh tulang maxilaris dan semua gigi, dan di
sebelah belakang bersambung dengan awal farinx (Pearce, 1979).
Rongga mulut (pipi) dibatasi oleh epitel gepeng berlapis tanpa
tanduk. Atap mulut tersusun atas palatum keras (durum) dan lunak
(molle), keduanya diliputi oleh epitel gepeng berlapis. Uvula palatina

1
merupakan tonjolan konis yang menuju ke bawah dari batas tengah
palatum lunak.
Adapun bagian-bagian mulut yang berperan penting bagi pencernaan
manusia adalah sebagai berikut:
a. Gigi
Gambar 3 (a) gigi
manusia tampak
depan, (b) penampang
lapisan gigi
(sumber: Raven, 2001:
1021)

Gigi berfungsi mengunyah makanan sehingga makanan menjadi


halus (proses pencernaan mekanik). Sebuah gigi mempunyai mahkota,
leher, dan akar. Mahkota gigi menjulang di atas gusi, lehernya
dikelilingi gusi dan akarnya berada di bawahnya.
Setiap gigi memiliki bentuk mahkota gigi yang berbeda-beda.
Gigi seri berbentuk seperti pahat runcing, dan gigi geraham berbentuk
agak silindris dengan permukaan lebar dan datar berlekuk-lekuk dan
gigi taring yang berbentuk seperti pahat runcing. Lapisan-lapisan gigi
adalah sebagai berikut:
 Email : Email adalah lapisan/jaringan keras yang melapisi bagian
mahkota gigi yang mengandung kalsium. Fungsi Email gigi adalah
untuk melindungi tulang gigi di bagian luar gigi manusia.
 Dentin : Tulang dentin adalah lapisan/jaringan yang dibentuk oleh
zat kapur berwarna kekuningan yang terdapat setelah lapisan
Email.
 Pulpa (Rongga gigi) : Pulpa adalah lapisan yang terdapat
pembuluh darah untuk memelihara seluruh gigi, dan serabut-
serabut saraf yang mendeteksi, tekanan, panas, dingin, dan sakit.
Pembuluh darah dan saraf menjulur ke akar gigi.
 Semen : Semen adalah lapisan keras yang memiliki konstruksi
yang kuat melapisi akar gigi. Semen/sementrum merupakan lapisan
pada akar gigi yang berdamping/bertasan langsung denan tulang
rahang dimana daerah tersebut tempat tumbuhnya gigi manusia.

b. Lidah
Lidah manusia tersusun
atas otot lurik yang
permukaannya dilapisi epitelum
dengan banyak mengandung
kelenjar lendir (makosa). Otot
lidah terbagi atas 2 kelompok,
yaitu otot-otot yang hanya
Gambar 4 Gambar lidah
dari atas (Swartz, 1989)
2
terdapat dalam lidah (otot intrinsik) yang berfungsi untuk melakukan
semua gerakan lidah dan otot ekstrinsik. Otot ekstrinsik ini
mengaitkan lidah pada bagian-bagian sekitarnya serta melakukan
gerakan-gerakan kasar yang sangat menekannya pada langit-langit dan
gigi, kemudian mendorongnya masuk ke faring. (Wibowo, 2005).
Permukaan belakang lidah yang terlihat pada saat seseorang
membuka mulut ditutupi oleh selaput lendir yang mempunyai
tonjolan-tonjolan (papilla).
Terdapat empat jenis papila yaitu:
 papila filiformis (fili=benang); berbentuk seperti benang halus;
 papila sirkumvalata (sirkum=bulat); berbentuk bulat, tersusun
seperti huruf V di belakang lidah;
 papila fungiformis (fungi=jamur); berbentuk seperti jamur.
 Papila foliata, yang berkerumun menjadi dua kelompok
diposisikan pada setiap sisi lidah.
Pada papilla ini terdapat alat pengecap (taste-bud) untuk
mengenal rasa manis, asin, asam (di ujung depan), dan pahit (di
pangkal lidah). Di samping itu, lidah juga mempunyai ujung-ujung
saraf perasa yang dapat menangkap sensasi panas dan dingin.

c. Kelenjar Ludah
Kelenjar ludah
menghasilkan ludah atau air liur
(saliva). Kelenjar ludah dalam
rongga mulut ada 3 pasang, yaitu:
Kelenjar parotis, terletak di bawah
telinga yang menghasilkan ludah
yang berbentuk cair dan mengandung
enzim ptialin/amilase
Kelenjar Submandibularis atau Kelenjar Submaksilaris, terletak di rahang
bawah yang menghasilkan getah yang mengandung air dan lendir
Gambar 5. Kelenjar ludah dalam Kelenjar sublingualis, terletak dibawah lidah yang menghasilkan
mulut
getah yang mengandung air dan lendir.
http://a.files.bbci.co.uk )
Ludah mengandung musin berfungsi untuk melumasi makanan
sehingga memudahkan penelanan makanan. Selain itu ludah juga
berfungsi sebagai penghasil enzim yang membantu proses pencernaan
kimiawi dalam mulut. Di dalam ludah terdapat enzim Amilase. Enzim
amilase berfungsi menghidrolisis pati (polimer glukosa dari
tumbuhan) dan glikogen (polimer glukosa dari hewan) menjadi
polisakarida yang lebih sederhana dan maltosa disakarida. Maltosa
mudah dicerna oleh organ pencernaan selanjutnya. Enzim amilase
bekerja dengan baik pada pH antara 6, 8-7 dan suhu 37oC.
Komponen-komponen tambahan ludah mencakup bufer, yang
membantu mencegah kerusakan gigi dengan menetralisir asam, dan
agen-agen antibakteri, yang berfungsi melindungi dari
mikroorganisme yang memasuki mulut bersama makanan.

3
2. Esofagus/Kerongkongan
Setelah
melalui rongga
mulut, makanan
akan masuk ke
dalam tekak
(faring). Faring
adalah saluran
yang memanjang
dari bagian
belakang rongga
mulut sampai ke
permukaan
kerongkongan
(esofagus). Setelah melalui faring, makanan
menuju esofagus.
Esofagus adalah suatu organ berbentuk tabung lurus, berotot dan berdinding
tebal yang memanjang menuju lambung. Esofagus berdinding empat
lapis. Di sebelah luar terdiri atas lapisan jaringan ikat yang renggang,
sebuah lapisan otot yang terdiri atas dua lapis serabut otot, yang satu
berjalan longitudinal dan yang lain sirkuler, sebuah lapisan submukosa
dan dipaling dalam terdapat selaput lendir (mukosa).
Kerongkongan (esofagus) merupakan saluran penghubung antara
rongga mulut dengan lambung. Kerongkongan berfungsi sebagai jalan
Gambar 6. Esofagus dan
bagi makanan yang telah dikunyah dari mulut menuju lambung. Jadi,
Ilustrasi gerak peristaltik
(sumber: sumber: Raven, pada kerongkongan tidak terjadi proses pencernaan.
2001: 1022) Ketika proses menelan, kelepak kartilago yang disebut dengan
epiglotis miring menutupi glotis, sehingga mencegah makanan masuk ke
trakea. Kemudian otot kerongkongan dapat berkontraksi secara
bergelombang sehingga mendorong makanan masuk ke dalam lambung.
Gerakan kerongkongan ini disebut gerak peristalsis.

3. Lambung
Gambar 7. Bagian-bagian Lambung dan

(sumber: Chambell, 2005: 885)


sekresinya

4
Lambung (stomach) terletak tepat di bawah diafragma di dalam
rongga abdomen atas. Pembatas antara esofagus dan lambung adalah
suatu otot penting yang berbentuk cincin yang disebut lower esophageal
sphincter (LES). Sfingter membuka untuk membiarkan makanan lewat ke
dalam lambung dan menutup untuk mempertahankan ia disana.
Bagian-bagian lambung terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian atas
(kardiak), bagian tengah yang membulat (fundus), dan bagian bawah
(pilorus). Di bagian akhir dari pilorus terdapat sfingter juga, yang disebut
dengan sfingter pilorus.
Dinding lambung terdiri dari otot polos yang tersusun melingkar,
memanjang, dan menyerong. Otot-otot tersebut menyebabkan lambung
berkontraksi, sehingga makanan teraduk dengan baik dan bercampur
merata dengan getah lambung. Hal ini menyebabkan makanan di dalam
lambung berbentuk seperti bubur yang disebut dengan kimus (chyme).
Getah lambung dihasilkan oleh kelenjar lambung, kelenjar lambung
sendiri terdiri dari tiga tipe sel yaitu: sel mukus, sel chief, dan sel parietal
Adapun fungsi lambung secara keseluruhan adalah sebagai berikut :
a. Menghasilkan pepsinogen. Pepsinogen merupakan bentuk yang belum
aktif dari pepsin. Enzim pepsin berfungsi mengubah molekul protein
menjadi potongan-potongan protein (pepton).
b. Dinding lambung menghasilkan asam klorida (HCl) yang berfungsi
untuk membunuh mikroorganisme dalam makanan, menciptakan
suasana asam dalam lambung, dan mengaktifkan pepsinogen menjadi
pepsin.
c. Permukaan lambung mengeluarkan lendir yang berfungsi untuk
melindungi dinding lambung dari HCl.
d. Pada bayi, lambungnya menghasilkan dua enzim, yaitu renin,
berfungsi untuk menggumpalkan protein susu dan kasein dengan
bantuan kalsium dan lipase untuk memecah lemak dalam susu.

4. Pankreas, Hati dan Empedu

5
Selain organ-organ pencernaan utama, ada pula organ lainyang juga
memiliki peranan dalam sistem pencernaan makanan pada manusia,
yaitu:
a. Pankreas
Pankreas memiliki panjang kurang dari 12 cm dan tebal 2,5 cm.
Pankreas terbagi atas tiga bagian, yaitu bagian kepala yang melekat
pada duodenum, bagian badan yang merupakan bagian tengah
pankreas, dan bagian ekor yang merupakan bagian yang memanjang
ke arah ujung kiri atas.
Pankreas terletak di bawah lambung dan mempunyai dua saluran
yaitu saluran (ductus) wirsungi dan saluran (ductus) sastorini yang
berfungsi mengalirkan getah yang disekresikan pankreas ke
duodenum. Pankreas merupakan kelenjar eksokrin dan endokrin. Di
dalam getah pankreas terdapat enzim-enzim pencernaan, yaitu:
1) Tripsinogen, berupa proenzim suatu protease yang belum aktif.
Tripsinogen akan diaktifkan oleh enterokinase yang dihasilkan
usus halus menjadi tripsin. Tripsin berfungsi memecah protein
menjadi Pepton.
2) Kimotripsinogen, merupakan proenzim yang akan diaktifkan oleh
tripsin menjadi kimotripsin yang berfungsi mengubah protein dan
proteosa menjadi pepton, perptida dan asam amino.
3) Lipase Pankreas (steapsin), merupakan enzim yang memecah
emulsi lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
4) Amilopepsin (amylase pankreas), merupakan enzim yang
memecah amilum dan dekstrin menjadi maltose dan glukosa.
5) Ribonuklease dan deoksiribonuklease, merupakan enzim yang
mencerna DNA/RNA menjadi nukleotida.

b. Hati
Organ yang paling besar didalam tubuh kita, warnanya coklat dan
beratnya ±. 1,5 kg. Letaknya; bagian atas dalam rongga abdomen di
sebelah kanan bawah diafragma. Hati terbagi atas lobus kanan dan
lobus kiri. Struktur mikroskopik organ ini terdiri atas lobules-lobulus
berbentuk segi enam yang terdiri atas sel-sel hati.
Adapun fungsi hati, terdiri dari:
1. Mengubah zat makanan yang di absorpsi dari usus dan yang
disimpan di suatu tempat dalam tubuh dikeluarkannya sesuai
dengan pemakaiannya dalam jaringan.
2. Mengubah zat buangan dan bahan racun untuk di ekskresi
dalam empedu dan urin.
3. Menghasilkan enzim glikogenik glukusa menjadi glikogen.

6
4. Sekresi empedu, garam empedu dibuat di hati dibentuk dalam
sistem retikulo endotelium dialirkan ke empedu.
5. Pembentukan ureum, hati menerima asam amino di ubah
menjadi ureum dikeluarkan dari darah oleh ginjal dalam
bentuk urine.
6. Menyiapkan lemak untuk pemecahan terakhir asam karbonat
dan air.
Penyimpanan dan penyebaran bahan termasuk glikogen lemak,
vitamin dan zat besi, vitamin yang larut dalam minyak atau lemak
disimpan di háti. Hati membantu mempertahankan suhu tubuh sebab
luasnya organ ini dan banyaknya kegiatan metabolisme yang
berlangsung mengakibatkan darah banyak mengalir melalui organ ini
sehingga menaikkan suhu tubuh.
Digesti lemak-lemak dan lipid-lipid dimulai di dalam usus halus
dan mengandalkan pada produksi empedu (bile), yaitu suatu
campuran zat-zat yang dibuat didalam hati (liver). Empedu
mengandung garam-garam empedu, yang bekerja sebagai pengemulsi
yang membantu dalam digesti dan absorpsi lipid-lipid. Empedu
disimpan dan dikonsentrasikan dalam menyeimbangkan kantong
empedu.
Hati memiliki banyak fungsi vital selain menghasilkan empedu,
seperti menguraikan toksin-toksin yang memasuki tubuh dan
membantu menyeimbangkan penggunaan nutrien. Produksi empedu
sendiri terintegrasi dengan tugas hati yang lain, yaitu:
1) Penghancuran sel-sel darah merah yang tidak berfungsi secara
penuh.
2) Dalam memproduksi empedu, hati menggabungkan beberapa
pigmen yang merupakan produk-produk sampingan dari
penguraian sel darah merah. Pigmen-pigmen empedu kemudian
dibuang dari tubuh bersama feses.

5. Usus Halus
Sebagian besar hidrolisis enzimatik makromolekul-makromolekul
dari makanan terjadi dalam usus
halus (small intestine) dengan
panjang lebih dari 6 m pada
manusia, usus halus merupakan
kompartemen canal alimentaris
terpanjang. Nama usus ini
mengacu pada diameternya yang
Gambar 8: Bagian-bagian usus kecil, jika dibandingkan dengan
(sumber: http://kliksma.com/).

7
diameter usus besar. Bagian 25 cm pertama atau lebih dari usus halus
membentuk duodenum.
Bagian-bagian usus halus yang lain, disebut jejunum dan ileum, yang
berfungsi mengabsorpsi nutrien-nutrien dan air. Jejunum (usus kosong)
adalah bagian kedua dari usus halus, yang terletak di antara duodenum
(usus dua belas jari) dan ileum (usus penyerapan). Pada manusia
dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah
bagian usus kosong.
Permukaan dalam jejenum berupa membran mukus dan terdapat jonjot
usus (vili), yang memperluas permukaan dari usus. Secara histologis
dapat dibedakan dengan usus dua belas jari, yakni berkurangnya kelenjar
Brunner. Secara hitologis pula dapat dibedakan dengan ileum, yakni
sedikitnya sel goblet dan plak Peyeri. Sedikit sulit untuk membedakan
jejenum dan ileum secara makroskopis.
Ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada sistem
pencernaan manusia, ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan terletak
setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum
memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi
menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.
Pencernaan yang terjadi di dalam usus halus berlangsung secara
kimiawi atau secara enzimatis. Makanan yang berbentuk bubur masuk ke
usus halus bersifat asam karena mengandung HCl. Akibatnya akan
merangsang sel-sel kelenjar usus untuk mengeluarkan getah usus.
Getah usus mengandung hormon dan enzim, yaitu:
a. Hormon
1) hormon sekretin, yang merangsang pankreas untuk mengeluarkan
getah pankereas.
2) hormon kolesistokinin, yang merangsang kantong empedu untuk
mengeluarkan getah empedu. Getah empedu berfungsi
mengemulsikan lemak sehingga mudah dicerna oleh lipase
menjadi asam lemak dan gliserol.
b. Enzim
1) Enterokinase, berfungsi sebagai aktivator tripsinogen menjadi
tripsin dan erepsinogen menjadi erepsin.
2) Erepsinogen, berfungsi memecah peptida menjadi asam amino.
3) Disakarase, berfungsi memecah disakarida menjadi monosakarida.
Ada tiga macam disakarase, yaitu:
a)sukrase: memecah sukrosa menjadi fruktosa dan glukosa
b)maltase: memecah maltosa menjadi 2 molekul glukosa
c)laktase: memecah laktosa menjadi galaktosa dan glukosa
4) Lipase, memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.

6. Usus Besar

8
Usus besar (kolon) terletak
di antara ileum dan anus. Kolon
dihubungkan dengan dinding
perut belakang oleh mesokolon.
Panjang usus besar lebih kurang
1,4 meter dan lebar lebih kurang
6 cm. Lapisan-lapisan usus besar
dari dalam ke luar; 1) Selaput
lendir. 2) Lapisan otot melingkar.
3) Laplsan otot memanjang. 4)
Jaringan ikat.

Gambar 9: Bagian-bagian usus


Usus besar dibagi menjadi beberapa bagian,
besar (sumber: www.academia.edu ). yaitu:
1. Kolon Asendens Panjangnya 13 cm, terletak di
bawah abdomen sebelah kanan membujur ke atas
dan ileum ke bawah hati. Di bawah hati membengkok ke kiri,
lengkungan ini disebut fleksura hepatika, dilanjutkan sebagai kolon
tranaversum.
2. Appendiks (usus buntu). Bagian dari usus besar yang muncul
seperti corong dari akhir seikum mempunyai pintu keluar yang
sempit tapi masih memungkinkan dapat dilewati oleh beberapa isi
usus. Appendiks tergantung menyilang pada linea terminalis masuk
ke dalam rongga pelvis minor terletak horizontal dl belakang
seikum. Sebagai suatu organ pertahanan terhadap infeksi kadang
appendiks bereaksi secara hebat dan hiperaktif yang bisa
menimbulkan perforasi dindingnya ke dalam rongga abdomen.
3. Kolon Transversum. Panjangnya sekitar 38 cm, membujur dan
kolon asendens sampai ke kolon desendens berada di bawah
abdomen, sebelah kanan terdapat fleksura Hepatika dan sebelah kin
terdapat Fleksura Lienalis.
4. Kolon Desendens. Panjangnya ±. 25 cm, terletakdi bawah abdomen
bagian kiri membujur dari atas ke bawah dan Fleksura Lienalis
sampai ke depan ileum kiri, bersambung dengan kolon sigmoid.
5. Kolon Sigmoid. Merupakan lanjutan dari kolon desendens terletak
miring, dalam rongga pelvis sebelah kiri bentuknya menyerupai
huruf S. ujung bawahnya berhubungan dengan rektum.

7. Rektum dan anus


Rektum (Bahasa Latin: regere, "meluruskan, mengatur") adalah
organ terakhir dari usus besar pada beberapa jenis mamalia yang
berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan

9
sementara feses. Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan
material di dalam rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan
keinginan untuk melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering
kali material akan dikembalikan ke usus besar, di mana penyerapan air
akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang
lama, konstipasi dan pengerasan fesesakan terjadi.
Dalam anatomi, anus, dubur, adalah sebuah bukaan dari rektum ke
lingkungan luar tubuh. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot
spingter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air
besar), yang merupakan fungsi utama anus.
Anus manusia terletak di dasar pelvis, dindingnya diperkuat oleh 3
spinter, yaitu:
 Spinter Ani internus, bekerja tidak menurut kehendak.
 Spinter Levator Ani. bekerja juga tidak menurut kehendak.
 Spinter Ani Eksternus. bekerja menurut kehendak.

Ketika rektum penuh akan terjadi peningkatan tekanan di dalamnya


dan memaksa dinding dari saluran anus. Paksaan ini menyebabkan feses
masuk ke saluran anus. Pengeluaran feses diatur oleh otot spingter.
Untuk mencegah penyakit pada anus dan dalam rangka hidup sehat,
manusia selalu membersihkan anus setelah defekasi. Biasanya anus
dibersihkan dengan membilasnya dengan air atau kertas tisu toilet.

C. Mekanisme Pencernaan Manusia


Pencernaan manusia diawali dari proses injesti dan tahap-tahap awal
digesti terjadi dalam mulut. Injesti merupakan proses memasukkan makanan
ke dalam mulut. Kemudian digesti mekanik dimulai saat gigi mulai
memotong, meremukkan, dan menggiling makanan menjadi lebih kecil dan
mudah untuk ditelan. Sementara itu keberadaan makanan juga merangsang
refleks saraf yang menyebabkan kelenjar ludah mengsekresikan ludah
melalui saluran ke dalam rongga mulut. Penambangan ludah ini mengawali
digesti kimiawi.
Selain proses pemecahan makanan menjadi lebih sederhana/kecil,
terdapat juga peran lidah yang dapat membedakan makanan yang perlu
diolah lebih lanjut. Setelah makanan dianggap bisa diterima, pergerakan
lidah memanipulasi makanan membentuk bola yang disebut dengan bolus.
Bolus ini yang akan dilanjutkan pada proses pencernaan berikutnya dengan
cara ditelan. Selama menelan, lidah memberikan bantuan berupa dorongan
ke bagian belakang rongga mulut dan ke dalam faring. Faring membuka ke
dua saluran yaitu esofagus dan trakea. Esofagus menghubungkan faring
dengan lambung, dan trakea mengarah ke paru-paru.

10
Bolus kemudian masuk ke dalam esofagus, dimana terjadi gerakan
peristalsis oleh otot-otot penyusun esofagus menuju ke lambung. Bolus
melewati sfingter kardiak dan masuk ke dalam lambung. Pada saat menelan,
terjadi beberapa tindakan secara serentak sehingga bolus tersebut dapat
masuk ke dalam esopagus/kerongkongan . Diawali dari gerakan lidah yang
mendorong bolus makanan ke bagian belakang rongga mulut. Secara
bersamaan kelepak kartilago yang disebut dengan epiglotis menutupi glotis
sehingga mencegah bolus memasuki trakea. Kemudian spingter esophageal
berelaksasi sehingga bolus makanan dapat memasuki esofagus. Gerakan
kontraksi dan relaksasi dari esofagus ini yang dapat mendorong bolus
makanan menuju lambung. Proses penelanan bola makanan atau bolus dapat
dilihat pada gambar (10) berikut:

Ilustrasi makanan dari mulut hingga lambung


(sumber: Chambell, 2005: 884)
Gambar (10)
Di dalam lambung terjadi gerakan mengaduk. Gerakan mengaduk
dimulai dari kardiak sampai di daerah pilorus. Gerakan ini bertujuan untuk
mencampurkan bolus makanan dengan getah lambung yang telah
disekresikan oleh kelenjar lambung. Pada saat itu terjadi digesti kimiawi
oleh lambung. HCl dalam getah lambung mengaktifkan pensinogen menjadi
pepsin. Tidak seperti sebagian besar enzim lainnya, pepsin bekerja paling
baik dalam suasana asam. Pepsin ini memutuskan ikatan-ikatan peptida,
sehingga mampu memecah protein menjadi polipeptida yang lebih kecil.
Campuran dari bolus makanan dan enzim ini berubah menjadi bubur
kaya-nutrien yang asam, dikenal dengan kimus. Kimus kemudian menuju
sfingter pilorus akan diteruskan ke dalam usus halus dengan jangka waktu 2-
6 jam setelah makan.
Sebagian besar hidrolisis enzimatik makromolekul-makromolekul dari
makanan terjadi dalam usus halus (small intestine, lihat gambar 11) dengan
panjang lebih dari 6 m pada manusia, usus halus merupakan kompartemen
canal alimentaris terpanjang. Nama usus ini mengacu pada diameternya
yang kecil, jika dibandingkan dengan diameter usus besar. Bagian 25 cm

11
pertama atau lebih dari usus halus membentuk duodenum, persilangan jalur
utama dalam digesti.
Di sinilah kimus dari lambung bercampur dengan getah-getah
pencernaan dari pankreas, hati, dan kandung empedu, serta dari sel-sel
kelenjar dari dinding usus halus itu sendiri. Hormon-hormon yang dilepaskan
oleh lambung dan duodenum mengontrol sekresi-sekresi pencernaan ke
dalam kanal alimentaris (lihat gambar 12).

Gambar 11: hidrolisis enzimatik dalam sistem pencernaan (Sumber, Campbell, 2008)

Pankreas membantu digesti


kimiawi dengan menghasilkan
larutan basa yang kaya bikarbonat
serta sejumlah enzim-enzim.
Bikarbonat menetralisasi keasaman
kimus dan bertindak sebagi bufer.
Dimana enzim-enzim yang
dihasilkan pankreas terdapat tripsin
dan kimotripsin, protease-protease
Gambar 12: kontrol hormon yang disekresikan kedalam
digesti (Sumber, Campbell,
2008)
12
duodenum dalam bentuk inaktif (lihat gambar 11). Dalam reaksi berantai
yang mirip dengan aktivasi pepsin, tripsin dan kimotripsin diaktivasi ketika
keduanya terletak secara aman di dalam ruang ekstraselular dalam
duodenum.
Untuk digesti lemak-lemak dan lipid-lipid dimulai di dalam usus halus
dengan mengandalkan produksi empedu yang diproduksi di hati, empedu
mengandung garam-garam empedu yang berfungsi sebagai pengemulsi yang
dalam digesti dan absorpsi lipid-lipid.
Sementara hidrolisis enzimatik terus berlajut, peristalsis menggerakkan
campuran kimus dan getah-getah pencernaan di sepanjang usus halus.
Sebagian besar digesti diselesaikan didalam duodenum, sedangkan untuk
jejunum dan ilenum memiliki fungsi utama dalam absorpsi nutrient-nutrien
dan air.
Untuk mencapai jaringan tubuh, nutrien-nutrien di dalam lumen
pertama-tama harus melintasi kanal alimentaris, sebagian penyerapan terjadi
pada usus halus. Organ ini memiliki area permukaan yang sangat luas sekitar
300 m2. Lipatan-lipatan besar dalam pelapis usus memiliki penjuluran-
penjuluran serupa jari yang disebut vili (tunggal disebut villus). Setiap sel
epitel memiliki banyak mikrovili, pada permukaan ujungnya yang terpapar
ke lumen usus (lihat gambar 13). Area permukaan mikrovili yang luar akan
meningkatkan absorpsi nutrien.

halus ((Sumber, Campbell,


Gambar 13: struktur usus

2008)

Penyerapan nutrien yang melewati sel-sel epitel melalui dua cara yaitu
secara aktif dan pasif, tergantung dari jenis nutriennya. Contoh penyerapan
secara aktif adalah gula fruktosa. Gula fruktosa bergerak melalui difusi yang
terfasilitasi menuruni gradient kosentrasinya dari lumen usus halus kedalam
sel-sel epitel. Dari situ fruktosa meninggalkan permukaan basal dan diserap
kedalam pembuluh-pembuluh darah kapiler pada bagian tengah masing-
masing vilus. Nutrien yang lain seperti asam amino, peptide kecil, vitamin,
dan sebagian besar glukosa dapat diserap dengan cara yang sama.
Adapun untuk beberapa produk digesti lemak (trigliserida) justru
mengambil jalur yang berbeda dalam penyerapannya. Setelah diserap oleh
sel-sel epitel, asam lemak dan monogliserida direkombinasikan menjadi

13
trigliserida di dalam sel-sel tersebut. Lemak ini kemudian diselubungi oleh
fosfolipid, kolesterol, dan protein, membentuk gobula-gobula yang terlarut
dengan air, yang disebut kilomikron.
Selanjutnya sisa-sisa makanan masuk keusus besar (kolon) Pada kolon
terjadi pengaturan kadar air feses, dan terjadi gerakan peristaltik yang
mendorong sisa makanan menuju rektum atau poros usus. Bila poros usus
sudah penuh, maka akan timbul rangsangan untuk buang air besar (defekasi).
Rangsangan ini disebut gastrokolik. Kemudian sisa-sisa makanan ditampung
pada rektum hingga bisa dibuang. Ketika rektum penuh akan terjadi
peningkatan tekanan di dalamnya dan memaksa dinding dari saluran anus.
Paksaan ini menyebabkan feses masuk ke saluran anus. Pengeluaran feses
diatur oleh otot spingter.
Secara umum terdapat beberapa gerakan yang terjadi pada sistem
pencernaan manusia, terutama gerakan usus halus sangat erat kaitannya
dengan fungsi absorpsi di dalam usus. Gerakan-gerakan usus tersebut adalah:
gerakan segmentasi, gerakan pendulum, gerakan peristaltik, dan gerakan
antiperistaltik dan gerakan ritmik.
Segmentasi ritmik adalah suatu jenis gerakan intestinal yang tidak
menggeserkan ingesta menyusuri saluran, tetapi hanyalah mencampurkannya
saja. Kontraksi intermiten dari serabut-serabut otot sirkuler membagi ingesta
menjadi segmen-segmen yang menyerupai bola. Dalam beberapa detik
kemudian suatu seri kontraksi terjadi di dalam serabut-serabut otot di dekat
pertengahan tiap-tiap segmen, membagi bola itu menjadi dua, dan kemudian
mempersatukan tengahan bola yang berdekatan untuk membentuk segmen
yang baru. Segmentasi ritmik memudahkan terjadinya absorbsi dengan cara
memungkinkan kontak dengan vili dan dengan merangsang arus darah dan
limfa pada dinding usus.
Gerakan segmentasi diduga sebagai gerakan usus yang paling penting
pada usus halus dan berfungsi memotong-motong massa makanan yang
terletak memanjangnya menjadi potongan-potongan lonjong dengan cara
konstraksi pada interval-interval yang teratur sepanjang massa makanan di
dalam usus. Sesaat kemudian masing-masing potongan ini dipotong-potong
lagi, sedangkan potonganpotongan yang berdekatan saling mendekat dan
membentuk potongan baru. Potongan-potongan ini selanjutnya dipotong
potong lagi dan prosesnya berulang kembali.
Gerakan bandul lonceng (pendulum), berperan dalam pencampuran lokal
isi usus dengan getah-getah pencernaan. Pada gerakan ini usus kontraksi
segmental pada interval-interval tertentu sepanjang usus halus. Oleh karena
itu makanan seolah-olah diremas-remas secara bergilir pada tempat-tempat
tertentu.
Pergerakan-pergerakan di atas cenderung untuk mendorong ingesta di
sepanjang usus pada arah menuju ke anus. Arah yang normal dari peristaltis

14
adalah jurusan oral menuju ke aboral, atau dari pilorus menuju ke pertautan
ilosekal. Peristaltis yang bergerak sebaliknya disebut anti peristaltis, bergerak
dari jurusan aboral menuju ke oral, tetapi gerakan ini tidak seberapa hingga
gerakan resultannya seluruhnya ke jurusan aboral.

15
Daftar Pustaka

Anonim. 2013. Your Digestive System and How It Works Juornal Online NIH
Publication No. 13–2681 September 2013. Online (diakses pada
http://www.niddk.nih.gov/health-information/health-topics/Anatomy/your-
digestive-system/Pages/anatomy.aspx Sabtu, 3 Oktober 2015)

Anonim. 2015. Nutrition, disgestion and excretion. Online (diakses pada


http://www.bbc.co.uk/education/guides/zwqycdm/revision Sabtu, 3
Oktober 2015)

Campbell, 2008. Biologi edisi ke 8. Jakarta. Erlangga

Mander, Sylvia. 2007. Essensial of Biology. New York: The McGraw-Hill


Companies

Pearce, Evelyn C. 1979. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta:


Gramedia.

Reece, Jane etc. 2005. Champbell Biology 9th Ed. USA : Benjamin Cummings

Robinson, Jennifer. 2014. Article: Your Digestive System. Online (diakses pada
http://www.webmd.com/heartburn-gerd/your-digestive-system Sabtu, 3
Oktober 2015)

Wibowo, Daniel S. 2005. Anatomi Tubuh Manusia. Jakarta: Gramedia.

16