Anda di halaman 1dari 16

Laporan Kasus

VERTIGO
PEMBIMBING
Omar Akbar, dr.
Kolonel Kes. Keman Turnip, dr.

PENYUSUN
Rafika Aninda, dr.

PROGRAM DOKTER INTERNSHIP

RS TNI AU DR M SALAMUN

KOTA BANDUNG

2018
BAB I

PENDAHULUAN

Vertigo merupakan salah satu gangguan yang paling sering dialami dan menjadi
masalah bagi sebagian besar manusia. Vertigo sendiri berasal dari istilah latin, yaitu
vertere yang berarti berputar, dan igo yang berarti kondisi. Vertigo menempati urutan
ketiga tersering yang dikeluhkan pasien Pada tahun 2009 dan 2010 di Indonesia angka
kejadian vertigo sangat tinggi sekitar 50% dari usia 40-50 sampai orang tua yang
berumur 75 tahun dan menurut prevalensi angka kejadian. Vertigo mengenai semua
golongan umur, insidensi 25% pada pasien usia lebih dari 25 tahun, dan 40% pada
pasien usia lebih dari 40 tahun, dan dilaporkan sekitar 30% pada populasi berusia
lebih dari 65 tahun (Kesser dan Gleason, 2011) Umumnya keluhan vertigo menyerang
dalam waktu yang singkat seperti hari ini terjadi, besok hilang, namun ada kalanya
vertigo mengalami kekambuhan setelah beberapa bulan atau beberapa tahun.
Penyebab vertigo umumnya terjadi disebabkan oleh stress, kelelahan, dan makan atau
minuman tertentu. Selain itu, vertigo bisa bersifat fungsional dan tidak ada
hubunganya dengan perubahan - perubahan organ di dalam otak. (Bisdorff A., 2013)

Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) merupakan salah satu penyakit


kelainan perifer dan menjadi penyebab utama dari vertigo. Vertigo jenis ini paling
sering didapati, dimana vertigo dicetuskan oleh keadaan perubahan posisi kepala.
Vertigo berlangsung beberapa detik saja dan paling lama satu menit kemudian reda
kembali. Penyebabnya utama dari BPPV sendiri masih belum di ketahui. Untuk
mengatasi keluhan ini banyak dari pasien melakukan tindakan pencegahan agar
gangguan pada vertigo tidak timbul. Namun hanya sebagian kecil dari mereka, dan
orang – orang disekitarnya yang mengetahui penagganan yang tepat. Ada beberapa
cara untuk menggurangi gejalanya baik secara farmakologis atau non farmakologis.
Seperti pemberian obat-obatan gangguan keseimbangan seperti antihistamin.
BAB II

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN DAN PRIMARY SURVEY


Nama : Ny. W

Umur : 65 tahun 6 bulan

Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

No. RM : 307073

Diperiksa pada tanggal 15 Juni 2018, Pasien BPJS.

Primary Survey

1. Airway
 Pasien tidak menggunakan otot bantu pernafasan
 Tidak ada hambatan jalan nafas
 Pasien tidak terlihat cyanosis
2. Breathing
 Pasien terlihat bernafas dengan kecepatan normal
3. Circulation
 Tekanan darah pasien 100/60 mmHg
 Temperatur pasien 36,2oC
4. Disability
 GCS 15 ( E4 M6 V5)
5. Exposure
 Pasien menggunakan pakaian seminimal mungkin dan tidak
ketat
II. ANAMNESIS UMUM

Keluhan Utama : Pusing Berputar

Seorang perempuan berusia 65 tahun datang ke IGD RS AU Salamun dengan


keluhan pusing berputar sejak 3 hari yang lalu. Keluhan pusing muncul secara tiba
– tiba ketika pasien sedang bangun dari tidur. Pusing yang dirasakan sangat berat
hingga membuat nyaris terjatuh. Pasien merasakan ruangan sekitarnya bergerak dan
pusing dirasakan bertambah bila menggerakkan kepala, ataupun merubah posisi
tidur. Pusing dirasakan sering hilang timbul selama 3 hari terakhir dengan durasi
serangan kurang lebih 1 menit hingga 2 menit. Untuk meringankan pusing pasien
biasanya langsung berbaring terlentang dan menutup mata. Menurut pasien keluhan
yang di rasakan tidak menganggu aktivitas namun semakin hari semakin memberat
dengan adanya mual dan muntah sebanyak 3 kali sekitar setengah aqua gelas setiap
kali muntah dan berisi makanan. Pasien juga mengeluhkan telinga terasa penuh dan
berdengung secara hilang timbul .

Pasien tidak memiliki gangguan pendengaran sebelum serangan dan


penurunan pendengaran. Selain itu, pasien menyangkal mengalami kelemahan di
bagian anggota gerak tubuh dan gangguan penglihatan ganda atau gangguan
pengelihatan lainnya. Nafsu makan pasien menurun tidak ada batuk maupun pilek.

Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi, diabetes, dan penyakit lainnya.


Pasien tidak merokok, mengkonsumsi Alkohol, maupun konsumsi obat – obatan
lainnya. Selama sakit pasien hanya mengkonsumsi obat warung dan tidak mengalami
perbaikan setelahnya.
III. PEMERIKSAAN FISIK

HASIL PEMERIKSAAN PADA TANGGAL 16 JUNI 2018

Tanda-tanda vital:

Tekanan darah : 110/70 mmH Pernafasan : 22x /menit

Nadi : 92x permenit Suhu : 36,8o C

GCS : 15, Compos Mentis

Status Generalis

Kepala : Konjungtiva tidak anemis, skela tidak ikterik , nistagmus +

Leher : KGB tidak membesar, JVP 5+2 H2O

Thoraks : VBS kanan=kiri, wheezing -/-, ronchi -/-

Cor : BJ S1 S2 murni regular

Abdomen : Datar lembut, BU (+) normal

Nyeri tekan (+) epigastrium

Ekstremitas : CRT <2 detik, akral hangat, edema -/-

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS

 Penampilan

- Kepala bentuk dan ukuran simetris

- Collumna vertebra dalam batas normal

 Rangsangan meningen

- Kaku kuduk : -
- Brudzinsky 1 : -

- Brudzinsky 2 : -

- Kernig :-

- La seque :-

 Pemeriksaan Saraf
- NI

o Penciuman dbn

- N II

o Ketajaman penglihatan dbn

o Kampus : tidak menyempit

o Funduskopi tidak dilakukan

- N III/IV/VI

o Ptosis -/-

o Refleks cahaya ODS DI +/+

o Posisi mata sentral

o Gerakan bola mata baik kesegala arah, nistagmus + ke kanan

 NV

- Sensorik

o Oftalmikus dbn

o Maksilaris dbn

o Mandibularis dbn

- Motorik dbn
 N VII

- Angkat alis : normal

- Memejamkan mata : normal

- Plika nasolabialis : simetris

- Gerakan wajah : simetris

- Rasa kecap 2/3 anterior lidah : tidak dilakukan

 N VIII

- Pendengaran : telinga kanan berkurang

- Keseimbangan : Romberg (-), tandem gait (-)

 N IX/X

- suara dbn

- Menelan dbn

- Arkus farinks dbn

- Uvula dbn

- Kontraksi palatum : baik simetris

- Refleks farinks tidak dilakukan

- Rasa kecap 1/3 belakang : tidak dilakukan

 N XI

- Angkat bahu dbn

- Menengok ke kanan dan kiri dbn

 N XII

- Gerakan lidah dbn

- Tremor/fasikulasi -/-
PEMERIKSAAN MOTORIK

Anggota Kekuatan Tonus atrofi fasikulasi


badan
Atas 5/5 n/n -/- -/-
Bawah 5/5 n/n -/- -/-

 Koordinasi

- Cara bicara : dalam batas normal

- Tremor :-

- Tes telunjuk hidung : normal

- Diadokokinesis : normal

- Heel to toe : normal

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN SATUAN

Hemoglobin 15.2 12.00-16.00 g/dl

Leukosit 8.000 4000-10000 ribu/ul

Hematokrit 41 37 – 47 vol %

Trombosit 256.000 150-400 ribu/ul


V. DIAGNOSIS

Vertigo Perifer

VI. TATALAKSANA

Advis dr. Alya, Sp.S

 Infus asering 20 gtt/menit


 BetaBerc tab 24mg 1x1
 Ondansetron 4mg 1x1 ampul i.v
 Lansoprazole 1x1 i.v
 Unalium tab 10 mg 2x1

VII. PROGNOSIS

 Ad vitam : ad bonam
 Ad functionam : ad bonam
 Ad sanationam : ad bonam
BAB III

PEMBAHASAN KASUS

I. PEMBAHASAN DIAGNOSIS

Pada pasien ini diagnosis Vertigo Perifer ditegakkan berdasarkan atas :

Anamnesa :

 Pusing kepala berputar


 Bertambah berat dengan perubahan posisi
 Mual dan Muntah
 Telinga terasa penuh dan berdenging

Pemeriksaa fisik :

 Tekanan darah : 110/70 mmH


 Pernafasan : 22x /menit
 Nadi : 92x permenit
 Suhu : 36,2o C
 Nistagmus + ke kanan
 Nyeri tekan epigastrium

Pemeriksaan penunjang :

 GDP : 250 mg/dl


 GDS : 236 mg/dl
 Asam Urat : 6.6 mg/dl
 Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinik yang ditemui pada pasien dan
didukung oleh pemeriksaan neurologis. Penegakkan diagnosis vertigo dilakukan
dengan pemeriksaan Dix Hallpike dimana di dapatkan nystagmus. Pada pasien
yang tidak menderita vertigo sebenarnya dapat timbul nystagmus namun timbul
hanya sesaat kemudian normal kembali, namun pada vertigo perifer nystagmus
akan positif dan bertahan kurang lebih dari 40 detik

Pemeriksaan Dix-Hallpike

Etiologi

Vertigo merupakan suatu gejala, sederet penyebabnya antara lain akibat


kecelakaan, stres, gangguan pada telinga bagian dalam. Tubuh merasakan posisi
dan mengendalikan keseimbangan melalui organ keseimbangan yang terdapat di
telinga bagian dalam. Organ ini memiliki saraf yang berhubungan dengan area
tertentu di otak. Vertigo bisa disebabkan oleh kelainan di dalam telinga, di dalam
saraf yang menghubungkan telinga dengan otak dan di dalam otaknya sendiri.
(Goetz, 2007)

Keseimbangan dikendalikan oleh otak kecil yang mendapat informasi tentang


posisi tubuh dari organ keseimbangan di telinga tengah dan mata. Penyebab umum
dari vertigo: (Gilman et al., 2010)

1. Keadaan lingkungan : mabuk darat, mabuk laut.


2. Obat-obatan : alkohol, gentamisin.
3. Kelainan telinga : endapan kalsium pada salah satu kanalis semisirkularis
di dalam telinga bagian dalam yang menyebabkan benign paroxysmal
positional
4. Vertigo, infeksi telinga bagian dalam karena bakteri, labirintis, penyakit
maniere,
5. Peradangan saraf vestibuler, herpes zoster.
6. Kelainan Neurologis : Tumor otak, tumor yang menekan saraf vestibularis,
sklerosis multipel, dan patah tulang otak yang disertai cedera pada labirin,
persyarafannya atau keduanya.
7. Kelainan sirkularis : Gangguan fungsi otak sementara karena berkurangnya
aliran darah ke salah satu bagian otak (transient ischemic attack) pada arteri
vertebral dan arteri basiler.

 Perbedaan Vertigo Perifer dan Vertigo Sentral

Vertigo Perifer Vertigo Sentral

Lesi Sistem vestibular (telinga Sistem vertebrobasiler dan


dalam, saraf perifer) gangguan vaskular (otak,
batang otak, serebelum)

Penyebab Vertigo posisional iskemik batang otak,


paroksismal vertebrobasiler

BPPV, penyakit maniere, insufisiensi, neoplasma,


neuronitis vestibuler, migren basiler
labirintis, neuroma akustik,
trauma

Gejala gangguan SSP Tidak ada Diantaranya :diplopia,


parestesi, gangguan
sensibilitas dan fungsi
motorik, disartria, gangguan
serebelar

Masa laten 3-40 detik Tidak ada

Habituasi Ya Tidak

Intensitas vertigo Berat Ringan

Telinga berdenging dan atau Kadang-kadang Tidak ada


tuli

Nistagmus spontan + -

Selain itu kita bisa membedakan vertigo sentral dan perifer berdasarkan
nystagmus. Nystagmus adalah gerakan bola mata yang sifatnya involunter,
bolak balik, ritmis, dengan frekuensi tertentu. Nystagmus merupakan bentuk
reaksi dari refleks vestibulo oculer terhadap aksi tertentu. Nystagmus bisa bersifat
fisiologis atau patologis dan manifes secara spontan atau dengan rangsangan alat
bantu seperti test kalori, tabung berputar, kursi berputar, kedudukan bola mata
posisi netral atau menyimpang atau test posisional atau gerakan kepala.(Simon,
2009)

 Perbedaan vertigo central dan perifer melalui nystagmus


No Nystagmus Vertigo sentral Vertigo perifer

1. Arah Berubah-ubah Horizontal/horizontal


rotatoar

2. Sifat Unilateral/bilateral Bilateral

3. Test posisional

- Latensi Singkat Lebih lama


- Durasi
- Intensitas Lama Singkat
- Sifat Sedang Larut/sedang

Susah ditimbulkan Mudah ditimbulkan

4. Test dengan Dominasi arah Sering ditemukan


rangsang (kursi jarang ditemukan
putar, irigasi
telinga)

II. PEMBAHASAN TATALAKSANA

Pada dasarnya penatalaksanaan vertigo adalah pemberian terapi simptomatik lama


dalam pengobatanpun bervariasi, berikut penatalaksanaan untuk vertigo :

1. Tirah baring, terutama dalam keadaan serangan.


2. Dapat dengan pemberian Antihistamin, namun tidak semua obat antihistamin
mempunyai sifat anti vertigo, Antihitasmin yang dapat meredakan vertigo
seperti obat dimenhidrinat, difenhidramin, meksilin, siklisin. Berikut contoh
pengobatan :
 Betahistin Mesylate (Merislon)
Dengan dosis 6 mg (1 tablet) – 12 mg, 3 kali sehari per oral.

 Betahistin di Hcl (Betaserc)


Dengan dosis 8 mg (1 tablet), 3 kali sehari. Maksimum 6 tablet dibagi
dalam beberapa dosis.

 Dimenhidrinat (Dramamine)
Dapat diberikan dengan dosis 25 mg – 50 mg (1 tablet), 4 kali sehari. Efek
samping ialah mengantuk.

 Difhenhidramin Hcl (Benadryl)


Lama aktivitas obat ini ialah 4 – 6 jam, diberikan dengan dosis 25 mg (1
kapsul) – 50 mg, 4 kali sehari per oral. Efek samping mengantuk.

3. Pemberian obat anti mual dan muntah, seperti Ranitidin, Lanzoprazole,


Ondansetron.
4. Edukasi mengenai penanganan terapi fisik Brand-Darrof

 Ambil posisi duduk.


 Arahkan kepala ke kiri, jatuhkan badan ke posisi kanan, kemudian kembali
ke posisi duduk.
 Arahkan kepala ke kanan lalu jatuhkan badan ke sisi kiri. Masing-
masing gerakan lamanya sekitar satu menit, dan dapat dilakukan berulang.
 Untuk awal cukup 1-2 kali kiri kanan, semakin lama semakin
bertambah.

III. PEMBAHASAN PROGNOSIS

Prognosis penyakit vertigo baik dan akan sembuh. Namun penyakit vertigo
dapat berulang sehingga dapat menganggu aktivitas penderita. Pada vertigo
perifer tidak terjadi gangguan dalam otak, maka dari itu dapat disimpulkan
bahwa penyakit vertigo perifer tidak berbahaya berbeda dengan vertigo sentral.
DAFTAR PUSTAKA

 Bisdorff A., 2013. The Epidemiology of Vertigo, Dizziness, And


unsteadiness and its links to co-mordibities. Frontiers in Neurology. Vol 4
article 2
 Daroff, Robert B, Gerald M. Fenichel, Joseph Jankovic, John C.
Mazziotta. 2012. Bradley’s Neurology in Clinical Practice. Elsevier
Saunders. P 645-667.
 Gilman, Sid, William J Herdman, Hadi Manji, Sean Connolly, Neil
Dorward, Neil Kitchen, et. al. 2010. Oxford Medical Handbook of
Neurology. Oxford University Press.
 Goetz, Christopher. 2007. Textbook of Clinical Neurology Third
Edition. Saunders: Philadhelpia. p 253-258
 Kesser, B. W. & Gleason, A. T., 2011. Dizziness and Vertigo Across the
Lifespan. 2nd Ed Nortth America: Otolaryngologic Clinics.
 Sarny, Hesham M. 2013. Dizzines, Vertigo, and Imbalance.
emedicine.medscape.com/article/2149881-overview diakses pada 1 Juli
2018.
 Simon, Roger P, David A.Greenberg, dan Michael
J.Aminoff. Headaches and facial pain. Clinical Neurology. United states
of Amerika : Lange.2009.69-93