Anda di halaman 1dari 20

1.

Pengertian

Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan sensori persepsi yang dialami
oleh pasien gangguan jiwa. Pasien merasakan sensasi berupa suara,
penglihatan, pengecapan, perabaan, atau penghiduan tanpa stimulus yang nyata
Keliat, (2011) dalam Zelika, (2015).
Halusinasi adalah persepsi sensori yang salah atau pengalaman persepsi
yang tidak sesuai dengan kenyataan Sheila L Vidheak,( 2001) dalam Darmaja
(2014).
Menurut Surya, (2011) dalam Pambayung (2015) halusinasi adalah
hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal
(pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Halusinasi adalah persepsi atau
tanggapan dari pancaindera tanpa adanya rangsangan (stimulus) eksternal
(Stuart & Laraia, 2001).Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana
pasien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, yang dimaksud dengan halusinasi
adalah gangguan persepsi sensori dimana klien mempersepsikan sesuatu
melalui panca indera tanpa ada stimulus eksternal. Halusinasi berbeda dengan
ilusi, dimana klien mengalami persepsi yang salah terhadap stimulus, salah
persepsi pada halusinasi terjadi tanpa adanya stimulus eksternal yang terjadi,
stimulus internal dipersepsikan sebagai sesuatu yang nyata ada oleh klien.
2. Rentang Respon

● Pikiran logis ● Pikiran terkadang menyimpang ● Kelainan pikiran


● Persepsi akurat ● Ilusi ● Halusinasi
● Emosi konsisten ● Emosional berlebihan/ dengan ● Tidak mampu
pengalaman kurang mengatur emosi
● Perilaku social ● Perilaku ganjil ● Ketidakteraturan
● Hubungan social ● Menarik diri ● Isolasi social
Keterangan gambar :

a. Respon adaptif adalah respon yang dapat


diterima oleh norma- norma sosial budaya yang berlaku. Dengan kata lain
individu tersebut dalam batas normal jika menghadapi suatu masalah akan
dapat memecahkan masalah tersebut. Respon adaptif meliputi :
1) Pikiran Logis adalah pandangan yang
mengarah pada kenyataan.
2) Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat
pada kenyataan.
3) Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu
perasaan yang timbul dari pengalaman ahli.
4) Perilaku sosial adalah sikap dan tingkah laku
yang masih dalam batas kewajaran.
5) Hubungan sosial adalah proses suatu
interaksi dengan orang lain dan lingkungan.

b. Respon psikososial meliputi :


1) Prosep pikir terganggu adalah proses pikir
yang menimbulkan gangguan.
2) Ilusi adalah miss interpretasi atau penilaian yang salah
tentang penerapan yang benar-benar terjadi (objek nyata) karena
rangsangan panca indera.
3) Emosi berlebihan atau berkurang.
4) Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah
laku yang melebihi batas kewajaran.
5) Menarik diri yaitu percobaan untuk
menghindar interaksi dengan orang lain.
c. Respon Maladaptif adalah respon individu
dalam menyelesaikan masalah yang menyimpang dari norma-norma
social budaya dan lingkungan, adapun respon maladaptif ini meliputi :
1) Kelainan pikiran adalah keyakinan yang
secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain
dan bertentangan dengan kenyataan sosial.
2) Halusinasi merupakan persepsi sensori yang
salah atau persepsi eksternal yang tidak realita atau tidak ada.
3) Kerusakan proses emosi adalah perubahan
sesuatu yang timbul dari hati.
4) Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu
perilaku yang tidak teratur.
5) Isolasi sosial adalah kondisi kesendirian yang
dialami yang dialami oleh individu dan diterima sebagai ketentuan
oleh orang lain dan sebagai suatu kecelakaan yang negatif
mengancam.

3. Faktor Predisposisi

a. Biologis
Abnormalitas yang menyebabkan respon neurobiologi yang maladaptif
termasuk hal-hal berikut :
Penelitian pencitraan otak yang menunjukan keterlibatan otak
yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia, lesi pada area
frontal, temporal dan limbic.
Beberapa kimia otak dikaitkan dengan skizofrenia seperti
dopamine neurotransmitter yang berlebihan dan masalah pada
respon dopamine.

b. Psikologis
Teori psikodinamika yang menggambarkan bahwa halusinasi terjadi
karena adanya isi alam tidak sadar yang masuk alam sadar sebagai suatu
respon terhadap konflik psikologis dan kebutuhan yang tidak terpenuhi,
sehingga halusinasi merupakan gambaran dan rangsangan keinginan dan
ketakutan yang dialami oleh klien.

c. Sosial Budaya
Stress yang menumpuk dapat menunjang terhadap awitan skizofrenia dan
gangguan psikotik lain tetapi diyakini sebagai penyebab utama gangguan.
Seseorang yang merasa tidak diterima lingkungannya sejak bayi
( unwanted child ) akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya
pada lingkungannya.

d. Perkembangan
Tugas perkembangan klien terganggu, misalnya rendahnya kontrol dan
kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak
kecil, mudah frustasi, hilang percaya diri dan lebih rentan terhadap stress

e. Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya stress
yang berlebihan dialami seseorang maka di dalam tubuh akan dihasilkan
suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia, seperti Buffofenon
dan Dimetytranferase( DMP ). Akibat stress berkepanjangan
menyebabkan teraktivasinya neurotransmitter otak. Misalnya terjadi
ketidakseimbangan acetylcholine dan dopamine.

f. Genetik dan Pola Asuh


Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang diasuh oleh orangtua
skizofernia cenderung mengalami skizofrenia. Hasil studi menunjukkan
bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh
pada penyakit ini

4. Faktor Presipitasi

a. Biologi
Stressor biologi yang berhubungan dengan respon neurobiologi yang
maladaptif, termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang
mengatur proses informasi dan abnormalisasi pada mekanisme pintu
masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidak mampuan untuk selektif
menghadapi rangsangan.

b. Stress Lingkungan
Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stress yang
berinteraksi terhadap stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya
gangguan perilaku.

c. Pemicu Gejala
Pemicu yang biasanya terdapat pada respon neurobiologi yang maladaptif
berhubungan dengan kesehatan (gizi buruk, infeksi), lingkungan rasa
bermusuhan/lingkungan yang penuh kritik, gangguan dalam hubungan
interpersonal , sikap dengan peilaku (keputusasaan, kegagalan).

d. Perilaku
Respons klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakuatan,
perasaan tidak aman, gelisah dan bingung, perilaku merusak diri, kurang
perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat
membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. Menurut Rawlins dan
Heacock, 1993 mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan
atas hakikat keberadaan seorang indivudu sebagai makhluk yang
dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-sosio-spiritual sehingga
halusinasi dapat dilihat dari lima dimensi, yaitu :
1. Dimeni Fisik
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti
kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga
delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu
yang lama.
2. Dimensi Emosional
Perassan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat
diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi
dapat berupa perintah memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup
lagi menentang perintah tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien
berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut.
3. Dimensi Intelektual
Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa indivudu dengan
halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada
awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan
impuls yang menekan, namun merupakan suatu hal yang
menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian
klien dan tak jarang akan mengontrol semua perilaku klien.
4. Dimensi Sosial
Klien mengalami gangguan interaksi sosial dalam fase awal dan
comforting, klien menganggap bahwa hidup bersosialisasi di alam
nyata sangat membahayakan. Klien asyik dengan halusinasinya,
seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan
interaksi sosial, kontrol diri dan harga diri yang tidak didapatkan
dalam dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan sistem kontrol oleh
individu tersebut, sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman,
dirinya atau orang lain individu cenderung untuk itu. Oleh karena itu,
aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan kien
dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan
pengalaman interpersonal yang memuaskan, serta mengusahakan klien
tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan
lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung.
5. Dimensi Spiritual
Secara spiritual klien halusinasi mulai dengan kehampaan hidup,
rutinitas tidak bermakna, hilangnya aktivitas ibadah dan jarang
berupaya secara spiritual untuk menyucikan diri. Irama sirkandiannya
terganggu, karena ia sering tidur larut malam dan bangun sangat siang.
Saat terbangun merasa hampa dan tidak jelas tujuan hidupnya. Ia
sering memaki takdir tetapi lemah dalam upaya menjemput rejeki,
menyalahgunakan lingkungan dan orang lain yang menyebabkan
takdirnya memburuk.
5.Jenis Halusinasi
Menurut Stuart (2007) dalam Yusalia (2015), jenis halusinasi antara lain :
1. Halusinasi pendengaran (auditorik) 70 %
Karakteristik ditandai dengan mendengar suara, teruatama suara – suara
orang, biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan
apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan
sesuatu.
2. Halusinasi penglihatan (visual) 20 %
Karakteristik dengan adanya stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran
cahaya, gambaran geometrik, gambar kartun dan / atau panorama yang luas
dan kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan.
3. Halusinasi penghidu (olfactory)
Karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau yang
menjijikkan seperti: darah, urine atau feses. Kadang – kadang terhidu bau
harum.Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan dementia.
4. Halusinasi peraba (tactile)
Karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa
stimulus yang terlihat. Contoh : merasakan sensasi listrik datang dari tanah,
benda mati atau orang lain.
5. Halusinasi pengecap (gustatory)
Karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis dan
menjijikkan, merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.
6. Halusinasi cenesthetik
Karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir
melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine.
7. Halusinasi kinesthetic
Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.
6.Manifestasi Klinis/Tanda Gejala

Beberapa tanda dan gejala perilaku halusinasi adalah tersenyum atau tertawa
yang tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa suara, bicarasendiri,pergerakan
mata cepat, diam, asyik dengan pengalamansensori,kehilangan kemampuan
membedakan halusinasi dan realitas rentang perhatian yang menyempit hanya
beberapa detik atau menit, kesukaran berhubungan dengan orang lain, tidak
mampu merawat diri,perubahan
Berikut tanda dan gejala menurut jenis halusinasi Stuart & Sudden, (1998)
dalam Yusalia (2015).
Jenis halusinasi Karakteriostik tanda dan gejala
Pendengaran Mendengar suara-suara / kebisingan,
paling sering suara kata yang jelas,
berbicara dengan klien bahkan sampai
percakapan lengkap antara dua orang
yang mengalami halusinasi. Pikiran
yang terdengar jelas dimana klien
mendengar perkataan bahwa pasien
disuruh untuk melakukan sesuatu
kadang-kadang dapat membahayakan.

Penglihatan Stimulus penglihatan dalam kilatan


cahaya, gambar giometris, gambar
karton dan atau panorama yang luas
dan komplek. Penglihatan dapat
berupa sesuatu yang menyenangkan
/sesuatu yang menakutkan seperti
monster.
Penciuman
Membau bau-bau seperti bau darah,
urine, fases umumnya baubau yang
tidak menyenangkan. Halusinasi
penciuman biasanya sering akibat
stroke, tumor, kejang / dernentia.
Pengecapan
Merasa mengecap rasa seperti rasa
darah, urine, fases.
Perabaan
Mengalami nyeri atau
ketidaknyamanan tanpa stimulus yang
jelas rasa tersetrum listrik yang
datang dari tanah, benda mati atau
orang lain.
Sinestetik
Merasakan fungsi tubuh seperti aliran
darah divera (arteri), pencernaan
Kinestetik makanan.

Merasakan pergerakan sementara


berdiri tanpa bergerak

7.Psikodinamika

a. Etiologi
Gangguan otak karena keracunan, obat halusinogenik, gangguan jiwa
seperti emosi tertentu yang dapat mengakibatkan ilusi, psikosisi yang
dapat menimbulkan halusinasi dan pengaruh sosial budaya, social budaya
yang berbeda menimbulkan persepsi berbeda atau orang yang berasal dari
sosial budaya yang berbeda.
b. Proses
Halusinasi terjadi apabila yang bersangkutan mempunyai kesan tertentu
tentang sesuatu, padahal dalam kenyataan tidak terdapat rangsangan
apapun atau tidak terjadi sesuatu apapun atau bentuk kesalahan
pengamatan tanpa objektivitas penginderaan tidak disertai stimulus fisik
yang adekuat.

8. Mekanisme Koping

Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi diri sendiri dari


pengalaman yang menakutkan berhubungan dengan respon neurobiology
termasuk

a. Regresi, menghindari stress, kecemasan dan menampilkan perilaku


kembali seperti pada perilaku perkembangan anak atau berhubungan
dengan masalah proses informasi dan upaya untuk menanggulangi
ansietas
b. Proyeksi, keinginan yang tidak dapat ditoleransi, mencurahkan emosi
pada orang lain karena kesalahan yang dilakukan diri semdiri (sebagai
upaya untuk menjelaskan kerancuan persepsi)
c. Menarik diri, reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi fisik maupun
psikologis, reaksi fisik yaitu individu pergi atau lari menghindar
sumber stressor, misalnya menjauhi polusi, sumber infeksi,gas
beracun dll, sedangkan reaksi psikologis individu menunjukan
perilaku apatis, mengisolasi diri, tidak berminat, sering disertai rasa
takut dan bermusuhan.
9. Sumber koping
Sumber koping yaitu suatu evaluasi terhadap pilihan cara yang digunakan
dan strategi seseorang untuk menyelesaikan suatu masalah. Individu dapat
mengatasi stres dan ansietas dengan menggunakan sumber koping
dilingkungan. Sumber koping tersebut sebagai modal untuk menyelesaikan
masalah, dukungan sosial dan keyakinan budaya, dapat membantu seseorang
mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi
strategi koping yang berhasil.

10. Penatalaksanaan umum

Menurut Keliat (2011) dalam Pambayun (2015), tindakan keperawatan


untuk membantu klien mengatasi halusinasinya dimulai dengan membina
hubungan saling percaya dengan klien. Hubungan saling percaya sangat
penting dijalin sebelum mengintervensi klien lebih lanjut. Pertama-tama klien
harus difasilitasi untuk merasa nyaman menceritakan pengalaman aneh
halusinasinya agar informasi tentang halusinasi yang dialami oleh klien dapat
diceritakan secara konprehensif. Untuk itu perawat harus memperkenalkan diri,
membuat kontrak asuhan dengan klien bahwa keberadaan perawat adalah betul-
betul untuk membantu klien. Perawat juga harus sabar, memperlihatkan
penerimaan yang tulus, dan aktif mendengar ungkapan klien saat menceritakan
halusinasinya. Hindarkan menyalahkan klien atau menertawakan klien
walaupun pengalaman halusinasi yang diceritakan aneh dan menggelikan bagi
perawat. Perawat harus bisa mengendalikan diri agar tetap terapeutik.
Setelah hubungan saling percaya terjalin, intervensi keperawatan selanjutnya
adalah membantu klien mengenali halusinasinya (tentang isi halusinasi, waktu,
frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan munculnya
halusinasi, dan perasaan klien saat halusinasi muncul). Setelah klien menyadari
bahwa halusinasi yang dialaminya adalah masalah yang harus diatasi, maka
selanjutnya klien perlu dilatih bagaimana cara yang bisa dilakukan dan terbukti
efektif mengatasi halusinasi. Proses ini dimulai dengan mengkaji pengalaman
klien mengatasi halusinasi. Bila ada beberapa usaha yang klien lakukan untuk
mengatasi halusinasi, perawat perlu mendiskusikan efektifitas cara tersebut.
Apabila cara tersebut efektif, bisa diterapkan, sementara jika cara yang
dilakukan tidak efektif perawat dapat membantu dengan cara-cara baru.
Menurut Keliat (2011) dalam Pambayun (2015), ada beberapa cara yang
bisa dilatihkan kepada klien untuk mengontrol halusinasi, meliputi :
1. Menghardik halusinasi.
Halusinasi berasal dari stimulus internal. Untuk mengatasinya, klien
harus berusaha melawan halusinasi yang dialaminya secara internal juga.
Klien dilatih untuk mengatakan, ”tidak mau dengar…, tidak mau lihat”. Ini
dianjurkan untuk dilakukan bila halusinasi muncul setiap saat. Bantu pasien
mengenal halusinasi, jelaskan cara-cara kontrol halusinasi, ajarkan pasien
mengontrol halusinasi dengan cara pertama yaitu menghardik halusinasi:
2. Menggunakan obat.
Salah satu penyebab munculnya halusinasi adalah akibat
ketidakseimbangan neurotransmiter di syaraf (dopamin, serotonin). Untuk
itu, klien perlu diberi penjelasan bagaimana kerja obat dapat mengatasi
halusinasi, serta bagairnana mengkonsumsi obat secara tepat sehingga tujuan
pengobatan tercapai secara optimal. Pendidikan kesehatan dapat dilakukan
dengan materi yang benar dalam pemberian obat agar klien patuh untuk
menjalankan pengobatan secara tuntas dan teratur.
Keluarga klien perlu diberi penjelasan tentang bagaimana penanganan
klien yang mengalami halusinasi sesuai dengan kemampuan keluarga. Hal
ini penting dilakukan dengan dua alasan. Pertama keluarga adalah sistem di
mana klien berasal. Pengaruh sikap keluarga akan sangat menentukan
kesehatan jiwa klien. Klien mungkin sudah mampu mengatasi masalahnya,
tetapi jika tidak didukung secara kuat, klien bisa mengalami kegagalan, dan
halusinasi bisa kambuh lagi. Alasan kedua, halusinasi sebagai salah satu
gejala psikosis bisa berlangsung lama (kronis), sekalipun klien pulang ke
rumah, mungkin masih mengalarni halusinasi. Dengan mendidik keluarga
tentang cara penanganan halusinasi, diharapkan keluarga dapat menjadi
terapis begitu klien kembali ke rumah. Latih pasien menggunakan obat
secara teratur:
Jenis-jenis obat yang biasa digunakan pada pasien halusinasi adalah:
a. Clorpromazine ( CPZ, Largactile ), Warna : Orange
Indikasi:
Untuk mensupresi gejala – gejala psikosa : agitasi, ansietas, ketegangan,
kebingungan, insomnia, halusinasi, waham, dan gejala – gejala lain yang
biasanya terdapat pada penderita skizofrenia, manik depresi, gangguan
personalitas, psikosa involution, psikosa masa kecil.
Cara pemberian:
Untuk kasus psikosa dapat diberikan per oral atau suntikan intramuskuler.
Dosis permulaan adalah 25 – 100 mg dan diikuti peningkatan dosis
hingga mencapai 300 mg perhari. Dosis ini dipertahankan selama satu
minggu. Pemberian dapat dilakukan satu kali pada malam hari atau dapat
diberikan tiga kali sehari. Bila gejala psikosa belum hilang, dosis dapat
dinaikkan secara perlahan – lahan sampai 600 – 900 mg perhari.
Kontra indikasi:
Sebaiknya tidak diberikan kepada klien dengan keadaan koma, keracunan
alkohol, barbiturat, atau narkotika, dan penderita yang hipersensitif
terhadap derifat fenothiazine.
Efek samping:
Yang sering terjadi misalnya lesu dan mengantuk, hipotensi orthostatik,
mulut kering, hidung tersumbat, konstipasi, amenore pada wanita,
hiperpireksia atau hipopireksia, gejala ekstrapiramida. Intoksikasinya
untuk penderita non psikosa dengan dosis yang tinggi menyebabkan
gejala penurunan kesadaran karena depresi susunan syaraf pusat,
hipotensi,ekstrapiramidal, agitasi, konvulsi, dan perubahan gambaran
irama EKG. Pada penderita psikosa jarang sekali menimbulkan
intoksikasi.
b. Haloperidol ( Haldol, Serenace ), Warna : Putih besar
Indikasi:
Yaitu manifestasi dari gangguan psikotik, sindroma gilies de la tourette
pada anak – anak dan dewasa maupun pada gangguan perilaku yang berat
pada anak – anak.
Cara pemberian:
Dosis oral untuk dewasa 1 – 6 mg sehari yang terbagi menjadi 6 – 15 mg
untuk keadaan berat. Dosis parenteral untuk dewasa 2 -5 mg
intramuskuler setiap 1 – 8 jam, tergantung kebutuhan.
Kontra indikasi:
Depresi sistem syaraf pusat atau keadaan koma, penyakit parkinson,
hipersensitif terhadap haloperidol.
Efek samping:
Yang sering adalah mengantuk, kaku, tremor, lesu, letih, gelisah, gejala
ekstrapiramidal atau pseudoparkinson. Efek samping yang jarang adalah
nausea, diare, kostipasi, hipersalivasi, hipotensi, gejala gangguan
otonomik. Efek samping yang sangat jarang yaitu alergi, reaksi
hematologis. Intoksikasinya adalah bila klien memakai dalam dosis
melebihi dosis terapeutik dapat timbul kelemahan otot atau kekakuan,
tremor, hipotensi, sedasi, koma, depresi pernapasan.
c. Trihexiphenidyl ( THP, Artane, Tremin ), Warna: Putih kecil
Indikasi:
Untuk penatalaksanaan manifestasi psikosa khususnya gejala skizofrenia.
Cara pemberian:
Dosis dan cara pemberian untuk dosis awal sebaiknya rendah ( 12,5 mg )
diberikan tiap 2 minggu. Bila efek samping ringan, dosis ditingkatkan 25
mg dan interval pemberian diperpanjang 3 – 6 mg setiap kali suntikan,
tergantung dari respon klien. Bila pemberian melebihi 50 mg sekali
suntikan sebaiknya peningkatan perlahan – lahan.
Kontra indikasi:
Pada depresi susunan syaraf pusat yang hebat, hipersensitif terhadap
fluphenazine atau ada riwayat sensitif terhadap phenotiazine. Intoksikasi
biasanya terjadi gejala – gejala sesuai dengan efek samping yang hebat.
Pengobatan over dosis ; hentikan obat berikan terapi simtomatis dan
suportif, atasi hipotensi dengan levarteronol hindari menggunakan
ephineprine ISO, (2008) dalam Pambayun (2015).
3. Berinteraksi dengan orang lain.
Klien dianjurkan meningkatkan keterampilan hubungan sosialnya. Dengan
meningkatkan intensitas interaksi sosialnya, kilen akan dapat memvalidasi
persepsinya pada orang lain. Klien juga mengalami peningkatan stimulus
eksternal jika berhubungan dengan orang lain. Dua hal ini akan mengurangi
fokus perhatian klien terhadap stimulus internal yang menjadi sumber
halusinasinya. Latih pasien mengontrol halusinasi dengan cara kedua yaitu
bercakap-cakap dengan orang lain:
Beraktivitas secara teratur dengan menyusun kegiatan harian.
Kebanyakan halusinasi muncul akibat banyaknya waktu luang yang tidak
dimanfaatkan dengan baik oleh klien. Klien akhirnya asyik dengan
halusinasinya. Untuk itu, klien perlu dilatih menyusun rencana kegiatan dari
pagi sejak bangun pagi sampai malam menjelang tidur dengan kegiatan yang
bermanfaat. Perawat harus selalu memonitor pelaksanaan kegiatan tersebut
sehingga klien betul-betul tidak ada waktu lagi untuk melamun tak terarah.
Latih pasien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga, yaitu melaksanakan
aktivitas terjadwal

11. Diagnosa keperawatan

Pohon masalah
Resiko menyiderai diri, orang lain dan
Akibat lingkungan

Perubahan persepsi sensori : halusinasi

Core (Masalah Utama)

Isolasi sosial : menarik diri

Penyebab

Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan persepsi sensori : halusinasi
2. Isolasi social : menarik diri
3. Resiko menyiderai diri orang lain dan lingkungan

12. Fokus Intervensi

PERENCANAAN
TG DX
L
TUJUAN KRITERIA INTERVENSI
EVALUASI
1 2 3 4 5
Ganggua Pasien mampu : Setelah …, SP. 1 (Tgl … … … … … )
n Sensori  Mengenali pertemuan pasien  Bantu pasien mengenal
Persepsi halusinasi dapat menyebutkan : halusinasi :
Halusinas yang  Isi, waktu, o Isi
i dialaminya frekuensi, situasi o Waktu terjadinya
 Mengontrol pencetus, o Frekuensi
halusinasinya perasaan o Situasi Pencetus
 Mengikuti  Mampu o Perasaan saat
program memperagakan terjadi halusinasi
pengobatan cara dalam  Latih mengontrol
secara optimal mengontrol halusinasi dengan cara
halusinasi menghardik
Tahapan tindakannya
meliputi :
o Jelaskan cara
menghardik
halusinasi
o Peragakan cara
menghardik
halusinasi
o Minta pasien
memperagakan ulang
o Pantau penerapan
cara ini, beri
penguatan perilaku
pasien
o Masukkan dalam
jadwal kegiatan
pasien.
Setelah …. , SP. 2 (Tgl … … … … …)
Pertemuan pasien  Evaluasi kegiatan yang
mampu : lalu
 Menyebutkan (SP 1)
kegiatan yang  Latih berbicara/ bercakap
sudah dilakukan dengan orang lain saat
 Memperagakan halusinasi muncul
cara bercakap-  Masukkan dalam jadwal
cakap dengan kegiatan pasien
orang lain

Setelah …., SP. 3 (Tgl … … … … …)


Pertemuan pasien  Evaluasi kegiatan yang
mampu : lalu
 Menyebutkan (SP 1 & SP 2)
kegiatan yang  Latih kegiatan agar
sudah dilakukan halusinasi tidak muncul
dan, Tahapannya:
 Membuat jadwal o Jelaskan pentingnya
kegiatan sehari- aktivitas yang teratur
hari dan mampu untuk mengatasi
memperagakanny halusinasi.
a o Diskusikan aktivitas
yang biasa dilakukan
oleh pasien
o Latih pasien
melakukan aktivitas
o Susun jadwal aktifitas
sehari-sehri sesuai
dengan aktifitas yang
telah dilatih (dari
bangun pagi sampai
tidur malam)
o Pantau pelaksaan
jadwal kegiatan,
berikan penguatan
terhadap perlaku
pasien yang (+)

Setelah …. SP. 4 (Tgl … … … … …)


Pertemuan pasien  Evaluasi kegiatan yang
mampu : (SP.2 &3)
 Menyebutkan  Tanyakan program
kegiatan yang pengobatan
sudah dilakukan  Jelaskan pentignya
 Menyebutkan penggunannya obat pada
manfaat dari gangguan jiwa.
program  Jelaskan akibat bila tidak
pengobatan. digunakan sesuai
program
 Jelaskan akibat bila putus
obat
 Jelaskan cara
mendapatkan
obat/berobat
 Jelaskan pengobatan (5
B)
 Latih pasien minum obat
 Masukan dalam jadwal
harien pasien.

Keluarga mampu : Setelah ….., SP. 1 (Tgl … … … … …)


Merawat Pasien di pertemuan Keluarga  Identifikasi masalah
rumah dan mampu menjelaskan keluarga dalam merawat
menjadi sistem tentang halusinasi pasien.
pendukung yang  Jelaskan tentang
efektif untuk halusinasi :
pasien. o Pengertian
halusinasi
o Jenis halusinasi
yang dialami
pasien
o Tanda dan gejala
halusinasi
o Cara merawat
pasien halusinasi
( cara
berkomunikasi
pemberian obat
dan pemberian
aktivitas kepada
pasien)
o Sumber-sumber
pelayanan
kesehatan yang
bisa dijangkau
o Bermain peran
cara merawat
o Rencana tindak
lanjut keluarga,
jadwal keluarga
untuk merawat
pasien

Setelah …,Pertemuan SP. 2 (Tgl … … … … … …)


keluarga mamapu :  Evaluasi kemampuan
 Menyelesaikan keluarga (SP. 1)
kegiatan yang  Latih Keluarga merawat
sudah dilakukan pasien
 Memperagakan  RTL keluarga/ jadwal
cara merawat keluarga untuk merawat
pasien pasien

Setelah …, SP. 3 (Tgl … … … … … …)


Pertemuan Keluarga  Evaluasi kemampuan
mampu : keluarga (SP.2)
 Menyebutkan  Latih Keluarga merawat
kegiatan yang  RTL keluarga/ jadwal
sudah dilakukan keluarga untuk merawat
 Memperagakan pasien
cara merawat
pasien serta
mampu membuat
RTL
Setelah …, SP. 4 (Tgl … … … … … …)
Pertemuan Keluarga  Evaluasi kemampuan
mampu : keluarga
 Menyebutkan  Evaluasi kemampua
kegiatan yang pasien
sudah dilakukan  RTL Keluarga :
 Melaksanakan o Follow Up
follow up rujukan o Rujukan
DAFTAR PUSTAKA

Stuart dan Sundeen ( 2014 )Pocket Guide Psychiatric Nursing Second


Edition, Mosby.
Stuart dan Sundeen .2014.Buku Saku Keperawatan Jiwa, ECG Jakarta.
Stuart Gail W and Laraia Michele T ( 1979). Principles and Practice of
Psychiatric Nursing. Ed.7. Copyright by Mosby, Inc. USA (2013).