Anda di halaman 1dari 35

BAB 1.

TES SONDIR

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pondasi merupakan bagian bangunan yang menyalurkan beban langsung ke dalam lapisan
tanah. Jika kondisi tanah di bawah struktur cukup kuat dan mampu mendukung beban yang
ada berarti pondasi plat setempat dapat digunakan untuk menyalurkan beban. Dilain pihak,
seandainya kondisi tanah permukaan adalah lunak berarti tiang atau pier dapat digunakan
untuk menyalurkan beban lebih dalam pada kondisi tanah yang paling sesuai. Pada tulisan ini
pembahasan dibatasi hanya pada pondasi dangkal. Dalam dunia konstruksi yang menentukan
daya dukung ijin pondasi dangkal biasanya adalah insinyur geoteknik. Berdasarkan
pengalaman dan didukung oleh teori-teori, insinyur geoteknik menginterprestasikan
informasi hasil soil investigation untuk mendapatkan prediksi performansi pondasi.
Penyelidikan tanah untuk pondasi dangkal di Indonesia umumnya menggunakan metode
Conus Penetration Test (CPT) atau sounding/sondir. Dan hasil prediksi tersebut berakhir pada
laporan rekomendasi yang dibuat oleh insinyur geoteknik. Ada berbagai cara untuk
menentukan daya dukung tanah, salah satu diantaranya adalah melakukan pengetesan dengan
alat sondir. Alat ini mempunyai standar luas penampang sebesar 10 cm2, sudut puncak 60°,
dan luas selimut 150 cm2 (di Indonesia 100 cm2). Kecepatan penetrasi 2 cm/detik (standar
ASTM D411-75T).

Arsitek dan insinyur struktur mungkin sangat familiar dengan pernyataan seperti
“Rekomendasi daya dukung ijin pondasi plat setempat pada lokasi site yaitu 2 kg/cm2”.
Tetapi bagaimana cara mendapatkannya dan menentukannya sehingga rekomendasi tersebut
muncul ? Pengetahuan ini berguna bagi arsitek untuk keperluan preliminary design pondasi
atau disain pondasi bangunan sederhana, yang paling ideal jika didapatkan dari hasil
penyelidikan tanah seperti CPT atau sondir yang biasa digunakan di Indonesia dalam
mendisain pondasi dangkal tetapi jika belum ada dapat dimanfaatkan hasil sondir-sondir
terdahulu dengan mengasumsikan jika lokasi rencana bangunan dekat dengan lokasi sondir
terdahulu, dianggap daya dukung tanahnya diasumsikan sama walaupun asumsi tersebut tidak
sepenuhnya benar tetapi paling tidak dapat memberikan gambaran kondisi tanah pada
wilayah rencana.
1.2 Perumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan tes sondir ?

2. Apa saja keuntungan dan kerugian uji sondir ?

3. Bagaimana teori uji sondir itu ?

4. Apa saja alat dan bahan pengujian sondir ?

5. Bagaimana langkah kerja pengujian sondir ?

1.3 Tujuan Penulisan

Makalah ini disusun dengan tujuan untuk:

1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan tes sondir

2. Mengetahui apa saja keuntungan dan kerugian uji sondir

3. Mengetahui teori uji sondir

4. Mengetahui alat dan bahan pengujian sondir

5. Mengetahui langkah kerja uji sondir


BAB I.2

PEMBAHASAN

 Pengertian Tes Sondir

Tes sondir merupakan salah satu tes dalam bidang teknik sipil yang berfungsi untuk
mengetahui letak kedalaman tanah keras, yang nantinya dapat diperkirakan seberapa kuat
tanah tersebut dalam menahan beban yang didirikan di atasnya. Tes ini biasa dilakukan
sebelum membangun pondasi tiang pancang, atau pondasi-pondasi dalam lainnya. Data yang
didapatkan dari tes ini nantinya berupa besaran gaya perlawanan dari tanah terhadap konus,
serta hambatan pelekat dari tanah yang dimaksud. Hambatan pelekat adalah perlawanan geser
dari tanah tersebut yang bekerja pada selubung bikonus alat sondir dalam gaya per satuan
panjang.

Hasil dari tes sondir ini dipakai untuk:

 Menentukan tipe atau jenis pondasi apa yang mau dipakai

 Menghitung daya dukung tanah asli

 Menentukan seberapa dalam pondasi harus diletakkan nantinya

 Metode Sondir

Metoda sounding/sondir terdiri dari penekanan suatu tiang pancang untuk meneliti penetrasi
atau tahanan gesernya. Alat pancang dapat berupa suatu tiang bulat atau pipa bulat tertutup
dengan ujung yang berbentuk kerucut dan atau suatu tabung pengambil contoh tanah,
sehingga dapat diperkirakan (diestimasi) sifat-sifat fisis pada strata dan lokasi dengan variasi
tahanan pada waktu pemancangan alat pancang itu. Metoda ini berfungsi untuk eksplorasi
dan pengujian di lapangan. Uji ini dilakukan untuk mengetahui elevasi lapisan “keras” (Hard
Layer) dan homogenitas tanah dalam arah lateral. Hasil Cone Penetration Test disajikan
dalam bentuk diagram sondir yang mencatat nilai tahanan konus dan friksi selubung,
kemudian digunakan untuk menghitung daya dukung pondasi yang diletakkan pada tanah
tersebut.
Di Indonesia alat sondir sebagai alat tes di lapangan yang sangat terkenal karena di negara ini
banyak dijumpai tanah lembek (misalnya lempung) hingga kedalaman yang cukup besar
sehingga mudah ditembus dengan alat sondir. Di dunia penggunaan Sondir ini semakin
populer terutama dalam menggantikan SPT untuk test yang dilakukan pada jenis tanah liat
yang lunak dan untuk tanah pasir halus sampai tanah pasir sedang/kasar. Pemeriksaan ini
dimaksudkan untuk mengetahui perlawanan penetrasi konus (qc), hambatan lekat (fs) tanah
dan friction ratio (rf) untuk memperkirakan jenis tanah yang diselidiki.

 Keuntungan dan Kerugian Alat Sondir

 Keuntungan:

1. Cukup ekonomis.

2. Apabila contoh tanah pada boring tidak bisa diambil (tanah lunak / pasir).

3. Dapat digunakan manentukan daya dukung tanah dengan baik.

4. Adanya korelasi empirik semakin handal.

5. Dapat membantu menentukan posisi atau kedalaman pada pemboran.

6. Dalam prakteknya uji sondir sangat dianjurkan didampingi dengan uji lainnya baik uji
lapangan maupun uji laboratorium, sehingga hasil uji sondir bisa diverifikasi atau
dibandingkan dengan uji lainnya.

7. Dapat dengan cepat menentukan lekat lapisan tanah keras.

8. Dapat diperkirakan perbedaan lapisan

9. Dapat digunakan pada lapisan berbutir halus

1. Baik digunakan untuk menentukan letak muka air tanah.

 Kerugian:

1. Jika terdapat batuan lepas biasa memberikan indikasi lapisan keras yang salah.

2. Jika alat tidak lurus dan tidak bekerja dengan baik maka hasil yang diperoleh

diperoleh bisa merugikan.


3. Tidak dapat diketahui tanah secara langsung

 Teori Sondir

Sondir merupakan salah satu pengujian tanah untuk mengetahui karakteristik tanah yang
dilakukan di lapangan atau pada lokasi yang akan dilakukan pembangunan konstruksi. Sondir
ada dua macam, yang pertama adalah sondir ringan dengan kapasitas 0-250 kg/cm² dan yang
kedua adalah sondir berat dengan kapasitas 0-600 kg/cm². Jenis tanah yang cocok disondir
dengan alat ini adalah tanah yang tidak banyak mengandung batu.

PERHITUNGAN:

– Hambatan Lekat (HL)

HL = (JP-PK) x A/B

Dimana :

JP = Jumlah Perlawanan Konus dan Hambatan Lekat (px2)

PK = Perlawanan Penetrasi Konus (px1)

A = Interval Pembacaan 20 cm

B = Faktor Alat = L Konus/L torak= 10 cm


– Jumlah Hambatan Lekat

JHLi = Z HL

Dimana :

i = Kedalaman Lapisan Yang Ditinjau

Z= Zigma

 Alat dan Bahan

Alat:

1. Mesin sondir

2. Satu set batang sondir lengkap dengan stang dalam yang panjangnya 1 meter

3. Manometer 2 buah

– Kapasitas 0-50 kg/cm²

– Kapasitas 0-250 kg/cm²

4. Satu buah Bikonus dan satu buah paten konus.

5. Pelat persegi 2 batang

6. Satu set (2) buah angker

Bahan :

1. Minyak Hidrlolik

2. Tanah
 LANGKAH KERJA

1. Menentukan lokasi yang permukaannya datar

2. Memasang empat buah angker ke dalam tanah dengan memutarnya menggunkan


kunci pemutar angker (kunci T). kemudian memasang 2 pelat persegi yng memanjang di
saming angker. Jarak antar angker dan jarak kedua pelat disesuaikan dengan ukuran mesin
sondir.

3. Memasang mesin sondir tegak lurus dan perlengkapannya pada lokasi pengujian,
yang diperkuat dengan pelat besi pendek untuk menjepit mesin dan diperkuat dengan mor
pengunci angker yang dipasang ke dalam tanah.

4. Memasang Traker,tekan stang dalam. Pada penekanan pertama ujung konus akan
bergerak ke bawah sedalam 4 cm, kemudian manometer dibaca yang menyatakan perlawanan
ujung. Pada penekanan berikutnya konus dan mantelnya bergerak

4cm. Nilai pada manometer yang terbaca adalah nilai tekanan ujung dan perlawanan lekat.

5. Menekan stang luar sampai kedalaman baru, penekanan stang dilakukan sampai setiap
kedalaman tambahan sebanyak 20 cm.

6. Melakukan hal yang sama dengan langkah kerja di atas sampai pembacaan
manometer tiga kali berturut-turut menunjukkan nilai ≥150 kg/cm2 dan jika penekanan mesin
sondir sudah mencapai maksimalnya atau dirasa telah mencapai tanah keras, maka pengujian
ini dapat dihentikan

GAMBAR: ALAT SONDIR DAN KERJA SONDIR


Kesimpulan

Sondir merupakan salah satu pengujian tanah untuk mengetahuikarakteristik tanah yang
dilakukan di lapangan atau pada lokasi yang akandilakukan pembangunan konstruksi. Dari
cara kerja dan dilakukannya tes makaakan didapatkan nilai perlawanan konus pada
kedalaman-kedalaman tertentu, Pemeriksaan Kekuatan tanah Dengan Sondir, menentukan
tipe atau jenis pondasiapa yang mau dipakai, menghitung daya dukung tanah asli, dan
menentukan seberapa dalam pondasi harus diletakkan nantinya.
 Daftar Pustaka

http://tanya-konstruksi.blogspot.com/2013/02/apa-itu-tes-sondir.html

http://tukangsondir.blogspot.com/2013/02/cara-kerja.html

eprints.unsri.ac.id/1771/1/pondasi_dangkal01.doc

http://rickyhamzah.blogspot.com/2011/04/sondir.html

http://labmektansipilusu.blogspot.com/2011/02/pemeriksaan-kekuatan-tanah-dengan.html

www.ilmusipil.com/wp-content/uploads/2010/01/alat-tes-sondir1.jpg

https://tekniksipil006.files.wordpress.com/2014/10/27c78-caratekniskerjaujisondir1.jpg
BAB II

TES BORING

II.1 UMUM
Pemboran disini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengambil contoh pada kedalaman
tetentu untuk percobaan laboratorium.
Untuk menentukan dan mengklasifikasikan tanah, diperlukan pengamatan yang cermat di
lapangan. Tapi cara demikian kemungkinan besar akan terjadi kesalahan yang disebabkan
pengamatan perseorangan. Untuk mendapatkan hasil yang obyektif maka tanah dibagi
menjadi atau tanah berbutir halus dan kasar, selanjutnya untuk berbutir halus diadakan
percobaan konsentrasi.

II.2 MAKSUD DAN TUJUAN


1. Untuk mengetahui lapisan tanah di bawah yang akan menjadi pondasi.
2. Menetapkan kedalaman untuk pengambilan contoh tanah.
3. Mengumpulkan data/informasi untuk menggambarkan profil tanah.
4. Pengambilan contoh tanah asli dan tidak asli untuk keperluan penyelidikan lebih lanjut di
labolatorium

II.3 ALAT - ALAT YANG DIGUNAKAN


1. Bor tangan yang terdiri dari :
- Post hole auger (Iwan Type, tanpa casing).
- Batang bor ( Stick Apparatus ).
- Gastrong.
2. Tabung contoh, kepala stang
3. Parafin, kantong sample dll

II.4 PERSIAPAN PERCOBAAN


1. Tentukan titik bor.
2. Bersihkan lokasi pengeboran (boring site) dari rumput, akar-akar dll.
3. Drut-drut pada batang bor harus bersih dari kotoran dan usahakan diberi oli agar
memudahkan pemasangan.
II.5 PROSEDUR PERCOBAAN

1. Tentukan titik pengeboran terlebih dahulu.


2. Pasang mata bor pada batang pertama, kemudian pasang tangkai pemutar.
3. Buat lubang dengan memutar searah jarum jam dan sambil ditekan sampai pada kedalaman
yang dikehendaki atau berdasarkan prosedur dalam percobaan yang telah ditentukan.
4. Khusus pada kedalaman 1,50-2,00 m mata bor diganti dengan tabung contoh untuk
mengambil contoh pada kedalaman yang dimaksud dengan jalan ditekan.
5. Setelah tabung masuk 40 cm berarti tabung sudah penuh dengan contoh, kemudian keluarkan
dengan cara memutar-mutar bor searah jarum jam sambil diangkat dengan bantuan gestong ,
setelah diangkat lepas tabung contoh dan ambil contoh tanah pada ujung tabung contoh,
kemudian tutup tabung contoh dengan parafin agar kelembababan tidak berubah.
6. Beri label pada tabung contoh , lokasi pengeboran, dan nama kelompok serta kedalaman
contoh dll.
7. Disamping contoh untuk kedalaman tersebut diatas, juga diambil contoh tanah di sekitar
lokasi boring yang dimasukkan ke dalam mould.
8. Kedua contoh tanah itu dibawa ke laboratorium untuk percobaan atau pemeriksaan lebih
lanjut.

II.6 GAMBAR ALAT DAN CARA KERJA


II.7 KESIMPULAN

1. Dari hasil pengeboran dapat diketahui lapisan dan jenis tanah secara visual.
2. Sebagai kelanjutan dari pemeriksaan ini, maka contoh yang berhubungan dengan jenis dan
sifat tanah tersebut, penyidikan atau pemeriksaan lebih lanjut akan dilaksanakan di
laboratorium.
3. Pada pemeriksaan / pengeboran sample diambil.
4. Secara keseluruhan data deskripsi tanah secara visual, maka dapat disimpulkan bahwa :
- Jenis tanah
- Sifat
- Warna

 DAFTAR PUSTAKA

http://lingkarlingkungan.blogspot.com/2013/08/mekanika-tanah-boring-sampling.html

http://teorikuliah.blogspot.com/2009/08/penyelidikan-tanah-di-lapangan.html

http://mekanikatanah1.blogspot.com/

http://kentangsmada.blogspot.com/2014/11/laporan-mekanika-tanah-i.html

BAB III
SPT

Salah satu persyaratan yang harus diketahui sebelum membangun sebuah bangunan adalah
mengetahui jenis tanah di lokasi dimana akan didirikan bangunan.Dengan mengetahui jenis
tanah tersebut, dapat dilakukan analisis stabilitas dan perhitungan desain fondasi dan dapat
diketahui respon seismic lokasi, untuk merancang bangunan tahan gempa.

Salah satu cara untuk mengetahui jenis tanah lokasi adalah dengan test penetrasi tanah (SPT:
Standard Penetration Test).
Standard tentang ‘Cara uji penetrasi lapangan dengan SPT’ di Indonesia adalah SNI 4153-
2008, yang merupakan revisi dari SNI 03-4153-1996), yang mengacu pada ASTM D 1586-84
“Standard penetration test and split barrel sampling of soils”
Uji SPT terdiri atas uji pemukulan tabung belah dinding tebal ke dalam tanah, disertai
pengukuran jumlah pukulan untuk memasukkan tabung belah sedalam 300 mm vertikal.
Dalam sistem beban jatuh ini digunakan palu dengan berat 63,5 kg, yang dijatuhkan secara
berulang dengan tinggi jatuh 0,76 m. Pelaksanaan pengujian dibagi dalam tiga tahap, yaitu
berturut-turut setebal 150 mm untuk masing-masing tahap. Tahap pertama dicatat sebagai
dudukan, sementara jumlah pukulan untuk memasukkan tahap ke-dua dan ke-tiga
dijumlahkan untuk memperoleh nilai pukulan N atau perlawanan SPT (dinyatakan dalam
pukulan/0,3 m).

Nilai N rata-rata akan menentukan jenis tanah, sbb:

Nilai N rata-rata ditentukan dengan rumus:


Contoh Perhitungan SPT, dimana data uji SPT berupa Kedalaman (m) dan Ni (nilai SPT per
lapisan) adalah sbb:
BAB IV

GEOLISTRIK

Survei geolistrik adalah suatu metoda untuk mengetahui kondisi lapisan batuan di bawah
permukaan tanah dengan cara menginjeksikan arus listrik pada lapisan-lapisan tersebut
dengan tujuan dapat diketahuinya lapisan manakah yang merupakan lapisan pembawa air
(akuifer)
Survei hidrogeologi digunakan untuk mengkolerasi data geolistik tersebut dengan keadaan
hidrogeologi setempat, yang mana pada daerah-daerah tertentu dibutuhkan perlakuan khusus
untuk mendapatkan air baku, seperti di daerah yang terkena intrusi air laut.
BAB V

CBR (California Bearing Ratio)

Pendahuluan

Metoda ini awalnya diciptakan oleh O.J poter kemudian di kembangkan oleh California State
Highway Departement, kemudian dikembangkan dan dimodifikasi oleh Corps insinyur-
isinyur tentara Amerika Serikat (U.S Army Corps of Engineers). Metode ini
menkombinasikan percobaan pembebanan penetrasi di Laboratorium atau di Lapangan
dengan rencana Empiris untuk menentukan tebal lapisan perkerasan. Hal ini digunakan
sebagai metode perencanaan perkerasan lentur (flexible pavement) suatu jalan. Tebal suatu
bagian perkerasan ditentukan oleh nilai CBR.
Defenisi
CBR merupakan suatu perbandingan antara beban percobaan (test load) dengan beban
Standar (Standard Load) dan dinyatakan dalam persentase. Dinyatakan dengan rumus :

PT
CBR = x 100%
PS

Keterangan :
PT = beban percobaan (test load)
PS = beban standar (standar load)

Harga CBR adalah nilai yang menyatakan kualitas tanah dasar dibandingkan dengan bahan
standar berupa batu pecah yang mempunyai nilai CBR sebesar 100% dalam memikul beban

Percobaan -Percobaan CBR


Percobaan-percobaan ini dapat dilakukan :

1. Percobaan di Laboratorium
standar yang berlaku :
Bina Marga : PB – 0113 – 76
ASTM : D – 1883 – 73
AASHTO : T - 193 – 81
 Tujuan : Untuk menentukan nilai daya dukung tanah dalam kepadatan maksimum
 Alat-alat yang digunakan :
Alat yang digunakan sama dengan alat-alat percobaan pemadatan standar maupun dengan
modifikasi dengan spesifikasi seperti table berikut :
From mining engineering
From mining engineering

 Cara melakukan percobaan :

Percobaan C.B.R biasanya menggunakan contoh tanah dalam kadar air optimum.
Metode yang digunakan dalam metoda 2 atau standar ASTM D – 70 atau D – 1557 – 70.
diameter tabung = 6 inci = 15 cm dan tinggi = 5 sampai 7 inci = 12,50 cm sampai 17,50 cm.
Dengan menggunakan dongkrak mekanis sebuah piston penetrasi ditekan supaya masuk ke
dalam tanah dengan kecepatan tetap = 1,25 mm/menit dengan beban awal = 0,05 kN.
Pembebanan pada pluyer diamati pada penetrasi berturut-turut : 0.625 ; 1,250 ; 1,875 ; 2,500 ;
3,750 ; 5,000 ; 6,250 dan 7,500 mm.
hasil perhitungan ini di plot dalam kertas kurva.

2. percobaan di Lapangan

 Tujuan untuk melakukan nilali C.B.R asli di Lapangan sesuai dengan kondisi tanah saat
iut. Biasanya digunaka untuk perencanaan tebal lapisan perkerasan yang perkerasan lapisan
tanah dasarnya tidak akan dipadatkan lagi.pemeriksaan dilakukan dengan kondisi kadar air
tanah tinggi.

 Alat-alat yang digunakan:

a. Truk dengan pembebanan


b. Piston penetrasi dari logam
c. Timbangan
d. Dongkrak hidrolisis atau mekanik
e. Arloji beban atau arloji cincin penguji lengkap dengan cincin pengujinya (proving ring)
f. Perlengkapan lainnya : rol meter, kunici dan lain-lain.

 Cara melakukan percobaan :

1) Di Lapangan

a. Tanah digali di lokasi yang telah ditentukan dan kemudian dibuat deskripsi secara visual
b. Tabung diletakkan dipermukaan tanah dan kemudian diberi beban melalui truk dengan
dibantu dongkrak sebagai alat penekan
c. Cotoh tanah diambil sebanya k 2 tabung
d. Contoh tanah dibersihkan dan tutup rapat dan dibawa ke Laboratorium
e. Satu contoh langsung diuji dan yang lain direndam selama 4 x 24 jam.

2) Di Laboratorium

a. Beban statis diletakkan pada bagian atas tabung untuk mencegah pengembangan tanah
dalam tabung
b. Arloji penunjuk beban dan arloji penetrasi dipasang dan angka dinolkan
c. Pembebanan dimulai dengan beraturan sesuai dengan urutan waktu maupun kedalaman
yang ada pada forulir data.
d. Catat angka yang dibaca pada arloji pengukur pada formulir.
Jenis - Jenis CBR :
Berdasakan cara mendapatkan contoh tanahnya, CBR dapat dibagi menjadi :
1) CBR Lapangan (CBR inplace atau field Inplace)
• Digunakan untuk memperoleh nilai CBR asli di Lapangan sesuai dengan kondisi tanah pada
saat itu. Umum digunakan untuk perencanaan tebal perkerasan yang lapisan tanah dasarnya
tidak akan dipadatkan lagi. Pemeriksaan ini dilakukan dala kondisi kadar air tanah tinggi
(musim penghujan), atau dalam kondisi terbuuk yang mungkin terjadi. Juga digunakan
apakah kepadatan yang diperoleh dengan sesuai dengan yang kita inginkan
2) CBR lapangan rendaman (undisturbed soaked CBR)
• Digunakan untuk mendapatkan besarnya nilai CBR asli di Lapangan pada keadaan jenuh air
dan tanah mengalami pengembangan (swell) yang maksimum
• Hal ini sering digunakan untuk menentukan daya dukung tanah di daerah yang lapisan tanah
dasarnya tidak akan dipadatkan lagi, terletak pada daerah yang badan jalannya sering
terendam air pada musim penghujan dan kering pada musim kemarau. Sedangkan
pemeriksaan dilakukan di musim kemarau.
• Pemeriksaan dilakukan dengan menambil contoh tanah dalm tabung (mould) yang ditekan
masuk kedalam tanah mencapai kedalaman yang diinginkan. Tabung berisi contoh tanah
dikeluarkan dan direndam dalam air selama beberapa hari sambil diukur pengembangannya.
Setelah pengembangan tidak terjadi lagi, barulah dilakukan pemeriksaan besarnya CBR.
3) CBR Laboratorium
• Tanah dasar (Subgrade) pada konstuksi jalan baru dapat berupa tanah asli, tanah timbunan
atau tanah galian yang telah dipadatkan sampai menncapai kepadatan 95% kepadatan
maksimum. Dengan demikian daya dukung tanah dasar tersebut merupakan nilai kemampuan
lapisan tanah memikul beban setelah tanah tersebut dipadatkan. CBR ini disebut CBR
laboratoium , karena disiapkan di Laboratorium. CBR Laboratorium dibedakan atas 2
macam, yaitu CBR Laboratorium rendaman dan BR Laboratorium tanpa rendaman

2) UKURAN BUTIR
Pembagian dari butir-butir tanah tergantung pada ukuran di dalam tanah Untuk bahan yang
berbutir kasar. Pembagian ini dapat ditentukan dengan menyaring, dan untuk butir-butir yang
halus digunakan suatu metoda pengukuran kecepatan penurunan dalam air. Penentuan
pembagian ukuran butir dengan metoda-metoda tersebut dikenal sebagai analisis mekanis.
Ada sejumlah sistem-sistem klasifikasi ukuran butir yang dipakai, akan tetapi ”British
Standard Institution” telah menerapkan sistem yang dikembangkan oleh ”Massachusetts
Institute of Technology”, berhubung batas- batas pembagian utama yang dipakai kira-kira
bersangkutan dengan perubahan-perubahan penting di dalam sifat-sifat teknis tanah.
From mining engineering

Analisis Kasar
Untuk analisis kasar, baik basah mapun kering dapat digunakan saringan. Dalam kedua
keadaan suatu contoh tanah yang dikeringkan dalam tungku ditimbang dan dilewatkan
melalui suatu kelompok saringan
Berat tanah kering yang tertahan diatas setiap saringan di catat dan dihitung persentase dari
contoh total yang melewati setiap saringan.
Analisis Halus
Teori analisis halus adalah berdasarkan kepada hukum Stike mengenai penurunan
(settlement), yaitu bola-bola kecil di dalam suatu cairan aka turun pada kecepatan-kecepatan
yang berbeda, bergantung kepada ukuran bola tersebut.
DAFTAR PUSATAKA

http://karpetilmusipil.blogspot.com/2010/01/cbr-california-bearing-ratio.html

http://blog-alatuji.blogspot.com/2015/01/hallo-sobat-engineer.html

http://solusibetonreadymix.com/jasa-test-cbr-tanah/

https://lauwtjunnji.weebly.com/cbr-lapangan.html
BAB VI

TES SAND CONE

Pengujian Kepadatan Lapangan Dengan Sand Cone


Cara Pengujian dan Permasalahannya [SNI 03-2828-1992]

Satu hal yang penting untuk diperhatikan dalam pekerjaan tanah adalah kepadatan
lapangan ( = berat isi kering)

Karena walaupun nilai CBR telah memenuhi standar, namun jika kepadatan lapisannya
masih belum baik, maka deformasi akibat konsolidasi masih dapat terjadi dan penyebaran
beban ke lapis tanah di bawahnya akan menjadi kurang baik, serta berpotensi terjadi
konsentrasi tegangan pada bagian tertentu dalam lapisan tanah tersebut yang dapat
mengakibatkan kegagalan lapis tanah dasar pondasi secara keseluruhan.
Standar SNI untuk
pengujian kepadatan
tanah dengan sand cone
adalah :

 SNI 03-2828-
1992 (Metoda
Pengujian Kepadatan
Lapangan dengan Alat
Konus Pasir)

Standar AASHTO untuk


pengujian sand cone
adalah :

 AASHTO T-191
(Density of Soil In-Place
by the Sand-Cone
Method)

Standar ASTM untuk


pengujian sand cone :

 ASTM D-1556
(Standard Test Method
for Density and Unit
Weight of Soil in Place
by
the
Sand-Cone Method)

Persyaratan alat, bahan dan lokasi :

Pasir yang digunakan harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :

 bersih, keras, kering dan bisa mengalir bebas, tidak


mengandung bahan pengikat
 gradasi 0,075 mm sampai 2 mm;
Penentuan lokasi titik uji harus memenuhi :

 pengujian kepadatan tidak boleh dilakukan pada saat titik


uji tergenang;
 pengujian kepadatan dilakukan paling sedikit dua kali
untuk setiap titik dengan jarak 50 cm;
 pada saat pengujian, dihindari adanya getaran;
 hasil pengukuran yang berupa nilai kepadatan dihitung
rata-rata dengan dua angka dibelakang koma
Lapisan tanah atau lapis pondasi bawah berupa sirtu dan batu
pecah yang akan diuji yang mengandung butir berukuran tidak
lebih dari 5 cm, harus dipersiapkan terlebih dahulu dengan
membuat lubang berdiameter sama dengan diameter corong dan
plat dudukan corong, dengan kedalaman 10 cm sampai 15 cm.

Peralatan yang dipergunakan :


 botol transparan untuk tempat pasir dengan isi lebih kurang
4 liter
 takaran yang telah diketahui isinya (± 2.019 ml) dengan
diameter lubang 16,51 cm
 corong kalibrasi pasir dengan diameter 16,51 cm dan pelat
corong
 plat untuk dudukan corong pasir ukuran 30,48 cm x 30,48
cm dengan lubang berdiameter 16,51 cm
 peralatan kecil : mistar perata dari baja, meteran 2 m, palu,
sendok, kuas,pahat
 peralatan untuk menentukan kadar air
 timbangan dengan kapasitas minimum 10 kg dengan
ketelitian sampai 1,0 gram
 timbangan, kapasitas minimum 500 gr dengan ketelitian
sampai 0,1 gram.

Alur langkah pengujian dan


perhitungan, secara umum adalah
sebagai berikut :

 penentuan volume/isi botol yang


digunakan
 penentuan berat isi pasir yang
digunakan
 penentuan berat isi tanah
Penentuan volume/isi botol yang
digunakan :

Yang dimanfaatkan adalah air, yang


sudah diketahui massa jenisnya adalah 1
kg/lt atau 1 kg/dm³ atau 1 g/cm³ atau 1
ton/m³

Untuk keperluan praktis dianggap berat


isi air = massa jenis air, dengan
mengabaikan faktor percepatan gravitasi
yang berbeda antar lokasi.

Untuk mendapatkan volume/isi botol


yang digunakan, timbang berat :
 botol + corong (kosong)
 botol + corong + air
lalu hitung volume/isi botol dengan
rumus :

Penentuan berat isi pasir yang digunakan :


Untuk menentukan berat isi pasir,
isilah botol dengan pasir, lalu
ditimbang beratnya dan dihitung
dengan rumus di samping.

Cara pengisian botol dengan pasir


harus dengan hati-hati :

 tutup kran, isi corong


dengan pasir sampai penuh
 buka kran dan dijaga supaya
pasir pada corong minimal setengah
corong
 isi sampai botol penuh dan
tutup kran kembali
 bersihkan kelebihan pasir di
atas kran

Penentuan berat pasir dalam corong : Untuk menentukan berat


pasir dalam corong saja :

 isi pasir secukupnya


pada botol
 tutup kran dan
bersihkan sisa pasir di atas
kran
 timbang botol +
corong + pasir
 balikkan botol dan
corong pada alas yang rata
 buka kran sampai
pasir berhenti mengalir
(memenuhi corong)
 tutup kran kembali,
timbang kembali botol +
corong + sisa pasir
Hitung berat pasir dalam
corong dengan rumus di
samping

Pengambilan tanah/lapis dasar pondasi yang diuji :

Pelaksanaan pengambilan tanah/lapis dasar pondasi yang diuji adalah sebagai berikut :

 ratakan permukaan tanah atau lapis dasar pondasi yang diuji


 tempatkan plat untuk dudukan corong pasir ukuran 30,48 cm x 30,48 cm dengan
lubang berdiameter 16,51 cm pada permukaan tanah
 kokohkan kedudukan plat dudukan corong dengan pasak atau paku pada keempat
sisinya
 gali lubang dengan kedalaman 10 cm - 15 cm pada lubang plat corong
 pastikan seluruh partikel lepas hasil penggalian tidak ada yang tertinggal dalam
lubang
 masukkan semua tanah atau bahan lapis dasar pondasi yang digali dalam
wadah/kaleng tertutup yang sudah diketahui beratnya, lalu ditimbang

Ambil contoh tanah atau material lapis dasar pondasi untuk dihitung kadar airnya
Pengukuran dengan pasir uji :

Pelaksanaan pengukuran dengan pasir uji yang sudah


diketahui parameternya pada lubang yang telah
disiapkan di titik uji seperti di atas, adalah sebagai
berikut :

 isi botol dengan pasir (boleh sampai penuh atau


secukupnya melebihi isi lubang dan corong)
 timbang botol dengan corong dan pasir
 tempatkan pada plat dudukan corong dengan
lubang tepat pada corong menghadap ke bawah dan
botol di atas
 buka kran dan biarkan pasir mengalir mengisi
lubang dan corong sampai penuh
 setelah pasir berhenti mengalir, tutup kran dan
timbang kembali botol + corong + sisa pasir

Perhitungan volume lubang :

Perhitungan berat isi kering (kepadatan lapangan) tanah/lapis dasar pondasi

Hasil pengujian dengan sand cone adalah :


berat isi kering tanah atau material lapis dasar pondasi, yang merupakan kepadatan
lapangan tanah atau lapis dasar pondasi yang diperiksa

Untuk memenuhi persyaratan spesifikasi teknis, pada umumnya harus dilakukan pengujian
kepadatan laboratorium untuk material tanah atau lapis dasar pondasi yang digunakan dan
kepadatan lapangan harus memenuhi persentase tertentu (misal 95% atau 98% atau 100%)
dari kepadatan laboratorium yang disyaratkan dalam spesifikasi yang berlaku pada proyek
yang bersangkutan

Permasalahan dalam pengujian Sand Cone :

Permasalahan yang mungkin timbul dalam pengujian sand cone sehingga mengakibatkan
pengukuran kepadatan lapangan yang tidak akurat atau salah, disebabkan antara lain oleh :

 bahan pasir yang tidak bagus (tidak memenuhi syarat gradasi, kurang kering sehingga
sulit mengalir melalui corong, tercampur dengan material yang mempunyai daya lekat [mis :
lempung, lumpur, dsb])
 berat isi pasir yang digunakan untuk pengujian tidak terkalibrasi dengan baik (selalu
lakukan kalibrasi berat isi pasir setiap akan melakukan pengujian, hitung rata-rata dari
minimal 3 kali kalibrasi berat isi pasir)
 volume pasir dalam botol kurang untuk mengisi penuh lubang dan corong (gunakan
botol yang lebih besar jika volume botol kurang)
 adanya getaran yang mempengaruhi pemadatan pasir yang diisikan ke dalam lubang
uji
 lubang uji yang terlalu kecil ukurannya
 sample tanah atau material lapis dasar pondasi yang tidak dimasukkan dalam wadah
tertutup atau terkena suhu panas sehingga kehilangan kelembaban yang mengakibatkan
pemeriksaan kadar air tidak akurat
 permukaan tanah atau lapis dasar pondasi yang diuji tidak rata (jika perlu, pastikan
dengan mistar waterpass untuk kerataan permukaan)
 pengujian pada lebih dari 1 jenis lapisan (untuk menguji lapis yang sudah tertutup
lapis lainnya, pastikan bahwa lapis di atasnya sudah dikupas habis seluruhnya dan permukaan
uji merupakan permukaan lapisan yang diinginkan untuk diuji -- jangan menggali pada
perbatasan antar lapisan tanah atau perbatasan antar lapis material dasar pondasi)
 ukuran lubang plat dudukan corong dan diameter corong tidak sama, sehingga ada
sisa pasir pada plat dudukan corong yang tidak terhitung pada waktu menghitung isi corong
(usahakan diameter lubang plat dudukan corong sama dengan diameter corong)
 penggalian menghasilkan lubang yang lebih besar dari diameter lubang plat dudukan
corong sehingga ada celah di bawah plat dudukan yang tidak terisi pasir uji

DAFTAR PUSTAKA

https://lauwtjunnji.weebly.com/pengujian--sand-cone.html

http://www.ilmusipil.com/cara-tes-sand-cone-tanah
BAB VII

TES KEPADATAN TANAH (COMPACTION TEST)

Compaction tes Tanah ini dilakukan untuk menentukan hubungan antara kadar air dan
kepadatan tanah dengan memadatkandi dalam cetakan silinder berukuran tertentu dengan
mengunakan alat penumbuk 2,5 kg (5,5 lbs) dan tinggi jatuh 30 cm ( 12” )

Pemeriksaan kepadatan standar dalpat dilakukan dengan 4 (empat) cara sebagai berikut :

Cara A : cetakan diameter 102 mm (4”) beban lewat saringan 4,75 mm (no.4)

Cara B : cetakan diameter 152 mm (6”) beban lewat saringan 4,75 mm (no.4)

Cara C : cetakan diameter 102 mm (4”) beban lewat saringan 19 mm (3/4”)

Cara D : cetakan diameter 102 mm (4”) beban lewat saringan 19 mm (3/4”)

PERALATAN UNTUK COMPACTION TEST ADALAH


 Cetakan diameter 102 mm (4”) kapasitas 0,000943 atau kurang lebih 0,00003 m3
dengan diameter dalam 101,6 mm, tinggi 116,43 kurang lebih 0,1270 mm.
 Cetakan diameter 152 mm, kapasitas 0,00124 kurang lebih 0,000021 m3, dengan
diameter dalam 152,4 kurang lebih 0,660 mm, tinggi 116,43 kurang lebih 0,1270 mm.
cetakan harus dari logam yang mempunyai dinding teguh dan dibuat sesuai dengan
ukuran di atas. Cetakan harus dilengkapi dengan leher sambung dibuat dari bahan yang
sama, dengan tingi ± 60 mm. yang dipasang kuat tetapi bisa dilepaskan .
 Catakan cetakan yang sudah dipergunakan beberapa lama sehingga tidak memnuhi
syarat toleransi di atas masih dapat di pergunakan bila toleransi tersebut tidak
melampaui lebih dari 50%.
 Alat tumbuk tangan dari logam yang mempunyai permukaan tumbuk rata diameter
50,8 ± 0,127 mm (2,00” ± 0,005”) berat selubung yang bisa mengatur tinggi jatuh secara
bebas setinggi 304,8 ± 1,524 mm (12,00” ± 0,06”).

Selubung harus sedikitnya mempunyai 2 @ 4 buah lubang udara yang berdiameter tidak lebih
kecil dari 9,5 mm (3/8”) dengan poros tegak lurus satu sama lain berjarak 19mm dari kedua
ujung. Selubung harus cukup longgar sehingga batang penumbuk dapat jatuh bebas tidak
terganggu.

 Dapat juga dipergunakan alat tumbuk mekanis, dari logam yang dilengkapi alat
pengontrol tinggi jatuh bebas 304,8 ± 1,524 mm (12,00” ± 0,06”). Dan dapat membagi
bagi tumbukan secara merata di atas permukaan.

Alat penumbuk harus mempunyai permukaan tumbuk yang rata berdiameter 50,8 ± 0,127
mm (2,00” ± 0,005”) dan berat 2,495 ± 0,009 kg (5,50 ± 0,02 lb).

 Alat untuk mengeluarkan contoh.


Timbangna kapasitas 11,5 dengan ketelitian 5 gram.

Oven yang dilengkapi pengatur suhu (110)

 Alat perata dari besi strength edge panjang 2,5 cm salah satu sisi memanjang harus
tajam dan sisi lain datar (0,01 % dari panjang)
 Saringan 5mm (2”), 19mm (3/4”), 4,75mm (no.4)
 Talam, alat pengaduk, dan sendok.

BENDA UJI UNTUK COMPACTION TEST

Bila contoh tanah yang diterima dari lapangan masih dalam keadaan lembab (damp),
keringkan contoh tersebut hingga menjadi gembur. Pengeringan dapat dilakukan di udara atau
dengan alat pengering lain dengan suhu tidak lebih dari 60. Kemudian gumpalan gumpalan
tanah tersebut ditumbuk tetepi butir aslinya tidak pecah.

Tanah yang gembur disaring dengan saringan 4,75 mm (no.4) untuk cara A dan B, serta
saringan19 mm (3/4”) untuk cara C dan D.

Jumlah contoh yang sesuai untuk masing masing cara pemeriksaan adalah sebagai berikut :

Cara A sebanyak 15 kg

Cara B sebanyak 45 kg

Cara C sebanyak 30 kg
Cara D sebanyak 65 kg

Benda uji dibagi menjadi 6 bagian dan tiap tiap bagian dicampur dengan air yang ditentukan
dan diaduk sampai merata.

Pemambahan air diatur sehingga didapat benda uji sebagai berikut :

 Tiga contoh dengan kadar air kira kira di bawah optimum


 Tiga contoh dengan kadar air kira kira di atas optimum

Perbedaan kadar air dari benda uji masing masing antara 1 s/d 3 %

Masing masing benda uji dimasukkan ke dalam kantong plastic dan disimpan selama 12 jam
atau sampai kadar airnya merata.

CARACOMPACTION TEST PADA TANAH ADALAH


COMPACTION TEST Cara A :
i. Timbang cetakan diameter 102 mm (4”) dan keeping alas dengan ketelitian 5 gram
(B1) gram.
ii. Cetakan leher dan keeping alas dipasang menjadi satu dan ditempatkan pada
landasan yang kokoh.
iii. Ambil salah satu dari keenam contoh diaduk dan dipadatkan dalam cetakan dengan
cara sebagai berikut :
Jumlah seluruh tanah yang dipergunakan harus tepat sehingga kelebihan tanah yang diratakan
setelah leher lepas tidak lebih dari 0,5 cm.
Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk standar 2,5 kg (5,5 poud) dengan tinggi jatuh
30,5 cm (12”) tanah dipadatkan dalam tiga lapisan dan tiap tiap lapisan dipadatkan dengan 25
tumbukan.
iv. Potong kelebihan tanah dari bagian keliling leher , dengan pisau dan lepaskan leher
sambung.
v. Pergunakan alat perat untuk meratakan kelebihan tanah sehingga betul betul rata
dengan permukaan cetakan.
vi. Timbang cetakan berisi benda uji beserta keping alas dengan ketelitian 5 gram (B2)
gram.
vii. Keluarkan benda uji tersebut dari cetakan dengan mempergunakan alat pengeluar
benda uji (extruder) dan potong sebagian kecil dari benda uji pada keseluruan tingginya
untuk pemeriksaan kadar air dari benda uji sesuai dengan PB -0210 – 76.

.
COMPACTION TEST Cara B :
i. Timbang cetakan 152 mm (6”) dan keeping alas dengan ketelitian 5 gram (B1) gram.
ii. Cetakan, leher dan keeping alas dipasang menjadi satu dan tempatkan pada
landasan yang kokoh.
iii. Ambil salah satu dari keenam contoh, diaduk dan dipadatkan dalam cetakan dengan
cara sebagai berikut :
Jumlah seluruh tanah yang dipergunakan harus tepat sehingga kelebihan tanah yang diratakan
setelah leher lepas tidak lebih dari 0,5 cm.
Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk standar 2,5 kg (5,5 poud) dengan tinggi jatuh
30,5 cm (12”) tanah dipadatkan dalam tiga lapisan dan tiap tiap lapisan dipadatkan dengan 56
tumbukan.
iv. Potong kelebihan tanah dari bagian keliling leher , dengan pisau dan lepaskan leher
sambung.
v. Pergunakan alat perat untuk meratakan kelebihan tanah sehingga betul betul rata
dengan permukaan cetakan.
vi. Timbang cetakan berisi benda uji beserta keping alas dengan ketelitian 5 gram (B2)
gram.
vii. Keluarkan benda uji tersebut dari cetakan dengan mempergunakan alat pengeluar
benda uji (extruder) dan potong sebagian kecil dari benda uji pada keseluruan tingginya
untuk pemeriksaan kadar air dari benda uji sesuai dengan PB -0210 – 76.

COMPACTION TEST Cara C :


i. Timbang cetakan diameter 102 mm (4”) dan keeping alas dengan ketelitian 5 gram
(B1) gram.
ii. Cetakan leher dan keeping alas dipasang menjadi satu dan ditempatkan pada
landasan yang kokoh.
iii. Ambil salah satu dari keenam contoh diaduk dan dipadatkan dalam cetakan dengan
cara sebagai berikut :
Jumlah seluruh tanah yang dipergunakan harus tepat sehingga kelebihan tanah yang diratakan
setelah leher lepas tidak lebih dari 0,5 cm.
Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk standar 2,5 kg (5,5 poud) dengan tinggi jatuh
30,5 cm (12”) tanah dipadatkan dalam tiga lapisan dan tiap tiap lapisan dipadatkan dengan 25
tumbukan.
iv. Potong kelebihan tanah dari bagian keliling leher , dengan pisau dan lepaskan leher
sambung.
v. Pergunakan alat perat untuk meratakan kelebihan tanah sehingga betul betul rata
dengan permukaan cetakan.
vi. Timbang cetakan berisi benda uji beserta keping alas dengan ketelitian 5 gram (B2)
gram.
vii. Keluarkan benda uji tersebut dari cetakan dengan mempergunakan alat pengeluar
benda uji (extruder) dan potong sebagian kecil dari benda uji pada keseluruan tingginya
untuk pemeriksaan kadar air dari benda uji sesuai dengan PB -0210 – 76.

COMPACTION TEST Cara D :


i. Timbang cetakan diameter 102 mm (4”) dan keeping alas dengan ketelitian 5 gram
(B1) gram.
ii. Cetakan leher dan keeping alas dipasang menjadi satu dan ditempatkan pada
landasan yang kokoh.
iii. Ambil salah satu dari keenam contoh diaduk dan dipadatkan dalam cetakan dengan
cara sebagai berikut :
Jumlah seluruh tanah yang dipergunakan harus tepat sehingga kelebihan tanah yang diratakan
setelah leher lepas tidak lebih dari 0,5 cm.
Pemadatan dilakukan dengan alat penumbuk standar 2,5 kg (5,5 poud) dengan tinggi jatuh
30,5 cm (12”) tanah dipadatkan dalam tiga lapisan dan tiap tiap lapisan dipadatkan dengan 56
tumbukan.
iv. Potong kelebihan tanah dari bagian keliling leher , dengan pisau dan lepaskan leher
sambung.
v. Pergunakan alat perat untuk meratakan kelebihan tanah sehingga betul betul rata
dengan permukaan cetakan.
vi. Timbang cetakan berisi benda uji beserta keping alas dengan ketelitian 5 gram (B2)
gram.
vii. Keluarkan benda uji tersebut dari cetakan dengan mempergunakan alat pengeluar
benda uji (extruder) dan potong sebagian kecil dari benda uji pada keseluruan tingginya
untuk pemeriksaan kadar air dari benda uji sesuai dengan PB -0210 – 76.

RUMUS PERHITUNGAN COMPACTION TEST


1. Hitung berat isi tanah dengan mempergunakan rumus berikut :
1. Berat isi kering tanah dengan mempergunakan rumus berikut :
DAFTAR PUSTAKA
http://www.ilmusipil.com/category/mekanika/mekanika-tanah/
https://sanggapramana.wordpress.com/2010/07/22/cara-tes-kepadatan-standar-tanah-
compaction-test/