Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIKA KOMPUTASI II

METODE BEDA HINGGA - I

NAMA : ADFAN AGUS PRATAMA


NIM : 08021281621058
HARI / TANGGAL : JUM‟AT, 14 SEPTEMBER 2018
ASISTEN : 1. Febriyanto
2. Ghina Salsabila
3. Utin Faula

LABORATORIUM FISIKA KOMPUTASI


JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

I. Nomor Percobaan : I (Satu)


II. Nama Percobaan : Metode Beda Hingga - I
III. Tujuan Percobaan : Membuat program komputer (script Matlab(TM)) untuk
aplikasi metode beda hingga pada kasus fisika yang
melibatkan persamaan diferensial parsial

Fakultas MIPA – JurusanFisika


UniversitasSriwijaya
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

IV. Dasar Teori


Pengertian Persamaan Diferensial
Persamaan diferensial adalah persamaan matematika untuk fungsi satu variabel
atau lebih, yang menghubungkan nilai fungsi itu sendiri dan turunannya dalam berbagai
orde. Persamaan diferensial muncul dalam berbagai bidang sains dan teknologi,
bilamana hubungan deterministik yang melibatkan besaran yang berubah secara kontinu
dimodelkan oleh fungsi matematika dan laju perubahannya dinyatakan sebagai turunan
diketahui atau dipostulatkan.
Salah satu aplikasi turunan dalam kehidupan sehari-hari adalah untuk
mengkonstruksi model matematika dari fenomena perubahan dalam kehidupan sehari-
hari yang melibatkan laju perubahan sesaat atau laju perubahan rata-rata. Persamaan
diferensial merupakan dasar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Contohnya peluruhan zat radioaktif, pertumbuhan dan penyusutan populasi, pemanasan
dan pendinginan, penguapan, perilaku arus listrik dalam suatu rangkaian listrik, gerak
dalam medan gravitasi, dinamika harga pasar, pertumbuhan keuangan dan dinamika
harga saham, pengaturan dosis obat, pembelahan sel dan sebagainya (Nuraeni, 2017).
Persamaan diferensial muncul sebagai model matematika dari berbagai bidang
ilmu antara lain: fisika, kimia, biologi, rekayasa, ekonomi dan lain sebagainya. Secara
umum persamaan diferensial digolongkan menjadi dua jenis yaitu:
1. Jika suatu persamaan diferensial hanya mengandung turunan biasa, maka ia
disebut Persamaan Diferensial Biasa (PDB).
2. Jika mengandung turunan parsial ia disebut Persamaan Diferensial Parsial
(PDP) ( Monado dkk., 2018 ).
Pengertian Persamaan Diferensial Parsial
Persamaan Diferensial Parsial (PDP) adalah sebuah persamaan yang
memfokuskan pada hubungan antara sebuah fungsi yang belum diketahui u(x1, x2, · · ·
, xn) berdimensi n ≥ 2, dan turunan parsial fungsi terhadap variabel-variabel bebasnya.
PDP biasanya memiliki variabel bebas untuk ruang dan/atau waktu. Variabel bebas
untuk ruang biasanya dinotasikan sebagai (x, y, z) atau dengan tambahan variabel waktu
menjadi (x, y, z, t) (Gunawan, 2016).
Pengertian Metoda Beda Hingga (Finite Difference Method, FDM)
FDM merupakan sebuah metode numerik untuk menyelesaikan persamaan diferensial.

Fakultas MIPA – JurusanFisika


UniversitasSriwijaya
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

Metode ini menggunakan aproksimasi persamaan beda (difference equations), dalam hal
ini turunan („persoalan‟) diaproksimasi FDM adalah dengan sebuah metode diskretisasi.

Gambar 4.1. Ilustrasi grid line dan mesh point (Monado dkk., 2018).
Garis-garis xi dan yj disebut grid lines”,perpotongan xi dan yj disebut “mesh
points”.Metode ini merancang untuk mempelajari penekanan distruktur - struktur
tampilan dan kemudian menyesuaikan diri dengan sebuah bidang yang lebih luas dari
mekanika, permasalahan keahlian teknik dipecahkan dengan menurunkan persamaan-
persamaan diferensial berkenaan dengan masalah, untuk itu digunakan prinsip-prinsip
persamaan-persamaan diferensial keseimbangan, hukum Newton yang kedua
mengisyaratkan kekekalan massa, kekekalan tenaga, dan banyak lagi yang lain.
Persamaan-persamaan differensial bagaimanapun, adalah sukar untuk dipecahkan
walaupun hanya permasalahan yang sangat sederhana (sebagai contoh segi-empat,
lingkar dll) bisa dipecahkan menggunakan persamaan-persamaan ini.
Sebagai konsekuensi metode beda hingga dari analisis adalah untuk membantu
mengembangkan pemecahan di persamaan-persamaan differensial parsial ini. Metode
beda hingga digunakan untuk memecahkan suatu masalah yang rumit dalam membagi
masalah ke dalam permasalahan yang lebih kecil dan memecahkannya secara terpisah.
Begitu metoda ini meneliti penyusunan model dari kecil dalam keadaan daerah
terhubung pada daerah atau koordinat dari elemen-elemen, gagasan untuk metode beda
hingga adalah suatu “daerah penyelesaian” yaitu, model dapat meneliti atau didekati
dengan menggantikan daerah atau koordinat dengan jumlah elemen terbatas elemen
yang terpisah, elemen-elemen ini kemudian bisa dijadikan tempat penyelesaian yang
berbeda untuk menyusun permasalahan yang kompleks (Supardiyono, 2011).
Bentuk Umum Persamaan Diferensial Parsial
Berikut ini adalah bentuk umum dari persamaan diferensial parsial:

( ) ( ) ( ) ( ) (4.1).

Fakultas MIPA – JurusanFisika


UniversitasSriwijaya
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

Bila kita mempunyai sebuah PDP, misalkan persamaan Poisson atau Laplace, sebagai
berikut:
( ) ( )
( )…………………………… (4.2).

Persamaan di atasadalah PDP Elliptik.Penyelesaiannya berdasarkan pendekatan


metode beda hingga dirumuskan sebagai berikut:

* + ( ) ( ) ( )………(4.3).

Dengan syarat batasnya adalah


( ) ( ) (4.4).
( ) ( ) ……………(4.5).
( Monado dkk., 2018 ).

Fakultas MIPA – JurusanFisika


UniversitasSriwijaya
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

V. Algoritma
Step 1= Mulai
Step 2= Inisialisasi Matriks ordo 9x9

A=

[ ]
n=9, Vektor [ ],
i,j,p,u,v,jj,k,w,x.
Step 3= Proses membersihkan Variabel dan tampilan
Step 4= Kondisi perulangan i=1 sampai i=n lakukan
Step 5= Proses elemen matriks A(i,n+1)= elemen vektor B(i,1) dan kondisi
perulangan step 4 berhenti
Step 6= Kondisi perulangan j=1 sampai j=(n-1) lakukan
Step 7= Kondisi pemilihan jika elemen matriks A(j,j)=0 lakukan
Step 8= Kondisi perulangan p=1 sampai p=n+1 lakukan
Step 9= Proses u= elemen matriks A(j,p)
Step 10= Proses v= elemen matriks A(j+1,p)
Step 11= Proses elemen matriks A(j+1,p)=u
Step 12= Proses elemen matriks A(j,p)=v, kondisi akhir perulangan step 8, kondisi
akhir pemilihan step 7 jika tidak lakukan
Step 13= Proses jj=j+1
Step 14= Kondisi perulangan i=jj sampai i=n lakukan
Step 15= Proses m=A(i,j)/A(j,j)
Step 16= Kondisi perulangan k=1 sampai k=n+1 lakukan
Step 17= Proses ( ) ( ) ( ( )), kondisi akhir perulangan step 16,
kondisi akhir perulangan step 14, kondisi akhir perulangan step 6
Step 18= Proses ( ) ( ) ( )
Step 19= Kondisi perulangan i=n-1 sampai n=1 dengan sistem menurun -1 lakukan
Step 20= Proses S=0

Fakultas MIPA – JurusanFisika


UniversitasSriwijaya
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

Step 21= Kondisi perulangan j=n sampai j=i+1 dengan sistem menurun -1 lakukan
Step 22= Proses ( ) ( ( )), kondisi akhir perulangan step 21
Step 23= Proses ( ) ( ( ) ) ( ), kondisi akhir perulangan step
19
Step 24= Proses w=x
Step 25= Cetak w
Step 26= Selesai

Fakultas MIPA – JurusanFisika


UniversitasSriwijaya
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

VI. Flowchart
Mulai

Inisialisasi Matriks 9x9 A=

[ ]
n=9, Vektor [ ], i,j,p,u,v,jj,k,w,x.

Proses membersihkan Variabel dan tampilan

Proses elemen matriks A(i,n+1)elemen vektor B(i,1) i=1 → i=n

elemen matriks A(j,j)=0


0
1
j=1 → j=n-1 Proses u=elemen matriks A(j,p)
Proses v=elemen matriks A(j+1,p)
p=1 → p=n+1
Proses elemen matriks A(j+1,p)=u
Proses elemen matriks A(j,p)=v

Proses jj=j+1
i=jj → i=n

Proses m=A(i,j)/A(j,j)
k=1 → k=n+1
Proses ( ) ( ) ( ( ))

Proses ( ) ( ) ( )

Fakultas MIPA – JurusanFisika


UniversitasSriwijaya
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

i=n-1 → i=1 Proses S=0


Menurun
( ) ( ( )) j=n → j=i+1
Proses
Menurun

Proses ( ) ( ( ) ) ( )

Proses w=x

Cetak w

Selesai

Fakultas MIPA – JurusanFisika


UniversitasSriwijaya
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

VII. Listing
% solusi persoalan distribusi panas, FDM Elliptik
clear all
clc
n=9;
A=[ 4 -1 0 -1 0 0 0 0 0; -1 4 -1 0 -1 0 0 0 0;
0 -1 4 0 0 -1 0 0 0; -1 0 0 4 -1 0 -1 0 0;
0 -1 0 -1 4 -1 0 -1 0; 0 0 -1 0 -1 4 0 0 -1;
0 0 0 -1 0 0 4 -1 0; 0 0 0 0 -1 0 -1 4 -1;
0 0 0 0 0 -1 0 -1 4];
b=[25; 50; 150; 0; 0; 50; 0; 0; 25];
%&&&&&& Proses Eliminasi Gauss &&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
%====== Menggabungkan Vektor b kedalam matrik A ======
%====== sehingga terbentuk matrik Augmentasi. ========
for i=1:n
A(i,n+1)=b(i,1);
end
%---------Proses Triangularisasi-----------
for j=1:(n-1)
%----mulai proses pivot---
if (A(j,j)==0)
for p=1:n+1
u=A(j,p);
v=A(j+1,p);
A(j+1,p)=u;
A(j,p)=v;
end
end
%----akhir proses pivot---
jj=j+1;
for i=jj:n
m=A(i,j)/A(j,j);
for k=1:(n+1)

Fakultas MIPA – JurusanFisika


UniversitasSriwijaya
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

A(i,k)=A(i,k)-(m*A(j,k));
end
end
end
%-------------------------------------------
%------Proses Substitusi mundur-------------
x(n,1)=A(n,n+1)/A(n,n);
for i=n-1:-1:1
S=0;
for j=n:-1:i+1
S=S+A(i,j)*x(j,1);
end
x(i,1)=(A(i,n+1)-S)/A(i,i);
end
%===== Menampilkan Vektor w ========
w=x

Fakultas MIPA – JurusanFisika


UniversitasSriwijaya
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

VIII. Tugas Pendahuluan


1. Jelaskan pengertian PDP Elliptik !
2. Jelaskan pengertian syarat batas! Apa bedanya dengan syarat awal ?
Jawab :
1. Persamaan Diferensial Parsial (PDP) Eliptik adalah sebuah persamaan yang
memfokuskan pada hubungan antara sebuah fungsi yang belum diketahui u(x1,
x2, · · · , xn) berdimensi n ≥ 2, dan turunan parsial fungsi terhadap variabel-
variabel bebasnya yang memiliki nilai diskriminan B2-4AC < 0.
2. Syarat Batas adalah Syarat yang diberikan pada titik akhir (atau titik batas) dari
selang , dengan A dan B dua buah konstanta . Sedangkan syarat awal, soal nilai
awal merupakan suatu persamaan diferensial bersama dengan kondisi-kondisi
tambahan terhadap fungsi yang dicari dan turunnya yang semua diberikan pada
nilai variabel independent yang sama.

Fakultas MIPA – JurusanFisika


UniversitasSriwijaya
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

IX. Data Hasil Pengamatan

Fakultas MIPA – JurusanFisika


UniversitasSriwijaya
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

X. Analisa
Pada kasus distribusi panas persamaan diferensial parsial eliptik disesaikan
dengan menggunakan metode beda hingga dan eliminasi gauss. Yang mana metode
beda hingga digunakan untuk mendapatkan nilai matriks A dan matriks B, sedangkan
eliminasi gauss digunakan untuk menyelesaikan matriks hingga didapatkan hasil dari w.
Matriks A dan matriks B didapatkan menggunakan metode beda hingga persamaan
diferensial parsial eliptik dengan cara memasukan nilai 1 sampai 3 kedalam persamaan
tersebut. Setelah didapatkan persamaannya yang berjumlah 9 kemudian persamaan
tersebut disusun menjadi matriks agar bisa diselesaikan selanjutnya dengan eliminasi
gauss.
Pada listing program A(i,n+1)=b(i,1) yang mana listing ini mempunyai fungsi
untuk menambah jumlah kolom pada matriks A agar bisa diisi oleh matriks B. Dalam
hal ini matriks A yang berordo 9x9 dan matriks B yang berordo 9x1 yang didapatkan
dari persamaan metode beda hingga persamaan diferensial parsial eliptik ini akan
ditambahkan barisnya pada matriks A menjadi matriks 9x10, kolom terakhir pada
matriks ini akan diisi dengan nilai matriks B agar bisa proses selanjutnya. Kemudian
pada proses selanjutnya terdapat listing m=A(i,j)/A(j,j), fungsi dari listing itu untuk
membuat nol pada matriks lingkup segitiga bawah dari matriks yang telah didapatkan
dari proses sebelumnya.
Selanjutnya terdapat proses sustitusi mundur, yang mana maksud proses ini untuk
mendapatkan nilai x yang didapatkan dari bawah terlebih dahulu. Proses substistusi
mundur ini digunakan karena pada proses sebelumnya digunakan segitiga bawah untuk
mengenolkan, sehinggga prosesnya harus substitusi mundur. Jika menggunakan segitiga
atas maka proses substitusi maju yang digunakan. Akhir dari proses substitusi mundur
ini didapatkan nilai matriks x yang berordo 9x1, yang kemudian nilai matriks x ini
menjadi nilai w atau nilai solusi dari metode beda hingga persamaan diferensial parsial
eliptik karena nilai sesuai dengan listing program nilai x=w.

Fakultas MIPA – JurusanFisika


UniversitasSriwijaya
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

XI. Tugas Akhir


Persamaan Liniernya :

Sehingga bentuk matriksnya :

[ ] [ ] [ ]

Penyelesaian dengan menggunakan metode Eliminasi Gauss :


 Proses me-nolkan Matriks segitiga bawah

[ ] [ ]

[ ]→ [ ]

 Sehingga didapatkan matriks :

[ ] [ ][ ] [ ]

A B C
 Mencari nilai B :

 Mencari nilai C :

 Mencari nilai A :

( ) ( )

Sehingga didapat nilai untuk variable ABC yaitu A = 4, B = 2, C = 4.

Fakultas MIPA – JurusanFisika


UniversitasSriwijaya
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

XII. Kesimpulan
1. Pada kasus distribusi panas PDP eliptik digunakan metode beda hingga dan
eliminasi gauss untuk mendapatkan keluaran w.
2. Nilai matriks didapatkan dengan metode beda hingga PDP eliptik dengan cara
memasukan nilai i dan j dari 1 hingga 3.
3. Pada listing A(i,n+1)=b(i,1) berfungsi untuk menambah jumlah kolom matriks A
untuk diisi oleh matriks B.
4. Pada listing m=A(i,j)/A(j,j) berfungsi untuk membuat nol pada matriks dalam
lingkup segitiga bawah.
5. Proses substitusi mundur digunakan karena penyelesaiannya menggunakan
matriks segitiga bawah.
6. Hasil keluaran akhir berupa w yang berupa matriks 9x1.

Fakultas MIPA – JurusanFisika


UniversitasSriwijaya
LAPORAN PRAKTIKUM
FISIKA KOMPUTASI II

DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, P.H., 2016. Pengantar Diferensial Parsial untuk Sains dan Teknik. Jakarta
Selatan : www.nulisbuku.com.
Monado, F., Koriyanti, E., dan Ariani, M., 2018. Modul Praktikum Fisika Komputasi II.
Indralaya : Universitas Sriwijaya.
Nuraeni, Z., 2017. Aplikasi Persamaan Diferensial Dalam Estimasi Jumlah Populasi.
Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika, 1(5) : 9.
Supardiyono, 2011. Analisis Distribusi Pada Pelat Dua Dimensi Dengan Menggunakan
Metode Beda Hingga. Jurnal Penelitian Fisika dan Aplikasinya (JPFA), 2(1) : 34.

Fakultas MIPA – JurusanFisika


UniversitasSriwijaya