Anda di halaman 1dari 9

MENGEMBANGKAN POLA PIKIR DAN POLA

TINDAK/PERILAKU PADA KONSEP, PRINSIP DAN


NILAI YANG TERKANDUNG DALAM PANCASILA
(KEHIDUPAN BERBANGSA BERNEGARA)

Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila

Dosen Pembimbing : Sutarno, SH., M.Hum

Nama : Eko Purwoko Sucahyo

NBI : 1431700120

Kelas : TT

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYA


MENGEMBANGKAN POLA PIKIR DAN POLA TINDAK/PERILAKU PADA
KONSEP, PRINSIP DAN NILAI YANG TERKANDUNG DALAM
PANCASILA (KEHIDUPAN BERBANGSA BERNEGARA)

Prinsip adalah gagasan dasar yang mengandung kebenaran,


berupa doktrin atau asumpsi, yang terjabar dalam hukum atau tata
pergaulan, yang dijadikan landasan dalam menentukan sikap dan tingkah
laku. Prinsip dipegang sebagai acuan dalam menentukan pilihan suatu
pemikiran atau tindakan, menentukan pola fikir dan pola tindak, sehingga
akan mewarnai tingkah laku pemegang prinsip dimaksud.

Contoh prinsip yang cukup banyak kita fahami di antaranya: yang


penting adalah tercapainya tujuan, sedang cara tidak bermakna, atau
tujuan menghalalkan segala cara. Dalam bahasa asing sering kita dengar
ungkapan, the end justifies the mean, all is well that ends well. Terdapat
pula prinsip bahwa penyelesaian masalah adalah dengan cara tidak
melawan dengan kekerasan, kalau anda dipukul pipimu kiri, serahkan
pipimu kanan. Ada juga prinsip yang menyatakan bahwa perdamaian
hanya akan terwujud dengan pengorbanan secara total, ibarat sebatang
lilin yang habis terbakar demi menerangi sekitarnya. Namun ada yang
berprinsip keadilan akan terwujud apabila dilakukan tindakan yang
seimbang, kalau seorang membunuh harus dibalas dengan dibunuh.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang tidak berpegang


pada suatu prinsip, tindakannya tidak terduga dan tidak terarah,
tergantung pada angin berembus, orang semacam ini dikatakan sebagai
orang yang tidak berprinsip.

Dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno menyebut


sila-sila dalam Pancasila itulah prinsip-prinsip kehidupan bangsa
Indonesia. Pancasila dalam bahasa Inggris disebutnya sebagaithe five
principles. Dengan demikian maka sila-sila dalam Pancasila itu memberi
corak pada pola fikir dan pola tindak bangsa Indonesia dalam menghadapi
segala permasalahan hidupnya.

Dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, pola pikir, sikap dan
tidak bangsa Indonesia mengacu pada prinsip yang terkandung di
dalamnya. Orang bebas berfikir, bebas berusaha, namun sadar dan yakin
bahwa akhirnya yang menentukan segalanya adalah Tuhan Yang Maha
Esa. Man proposes, but God disposes, sehingga manusia rela dan ikhlas
diatur. Dalam menentukan suatu pilihan tindakan seorang memiliki
kebebasan, namun kebebasan tersebut harus dipertanggungjawabkan,
dan memiliki akibat terhadap pilihan tindakannya. Dalam menentukan
pilihan tindakan, seseorang mengacu pada terwujudnya keselarasan atau
harmoni dan kelestarian alam semesta.

Prinsip Kemanusiaan yang Adil dan Beradab memberikan acuan


bahwa dalam olah fikir, olah rasa, dan olah tindak, manusia selalu
mendudukkan manusia lain sebagai mitra, sesuai dengan harkat dan
martabatnya. Hak dan kewajibannya dihormati secara beradab. Dengan
demikian tidak akan terjadi penindasan atau pemerasan. Segala aktivitas
bersama berlangsung dalam keseimbangan, kesetaraan dan kerelaan.

Dengan prinsip Persatuan Indonesia, pola fikir, sikap dan tindak


bangsa Indonesia selalu mengacu bahwa negara Indonesia merupakan
negara kesatuan dari Sabang sampai Merauke. Kita mengaku bahwa
negara kesatuan ini memiliki berbagai keanekaragaman ditinjau dari segi
agama, adat, budaya, ras, dan sebagainya, yang harus didudukkan
secara proporsional dalam negara kesatuan. Dalam hal terjadi konflik
kepentingan, maka kepentingan bangsa diletakkan di atas kepentingan
pribadi, golongan dan daerah.

Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan


dalam Permusyawaratan/Perwakilan, memberikan petunjuk dalam
berfikir, bersikap dan bertingkahlaku bahwa yang berdaulat dalam negara
Republik Indonesia adalah seluruh rakyat, sehingga rakyat harus
didudukkan secara terhormat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara. Aspirasi rakyat dipergunakan sebagai pangkal tolak
penyusunan kesepakatan bersama dengan jalan musyawarah. Apabila
dengan musyawarah tidak dapat tercapai kesepakatan, maka
pemungutan suara tidak dilarang. Setiap kesepakatan bersama mengikat
semua pihak tanpa kecuali, dan wajib untuk merealisasikan kesepakatan
dimaksud. Dalam menentukan kesepakatan bersama dapat juga ditempuh
dengan jalan perwakilan.

Prinsip Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat


Indonesia memberikan acuan bagi olah fikir, olah sikap dan olah tindak
bahwa yang ingin diwujudkan dengan adanya negara Republik Indonesia
adalah kesejahteraan lahir dan batin bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa
kecuali. Pemikiran yang mengarah pada terwujudnya kesejahteraan
sepihak tidak dibenarkan.

Prinsip-prinsip yang lima tersebut merupakan pendukung dan


sekaligus realisasi konsep-konsep yang terkandung dalam Pembukaan
UUD 1945, seperti konsep pluralistik, harmoni atau keselarasan, gotong
royong dan kekeluargaan, integralistik. kerakyatan dan kebangsaan.
c. Nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila

Nilai adalah hal ihwal yang memiliki makna bagi kehidupan


manusia, kelompok masyarakat, bangsa atau dunia. Dengan hadir atau
absennya nilai dalam suatu kehidupan, akan menimbulkan kepuasan diri
manusia, sehingga manusia berusaha untuk merealisasikan atau menolak
kehadirannya. Sebagai akibat maka nilai dijadikan tujuan hidup,
merupakan hal ihwal yang ingin diwujudkan dalam kenyataan. Keadilan,
kejujuran merupakan nilai yang sepanjang abad selalu menjadi kepedulian
manusia, untuk dapat diwujudkan dalam kenyataan. Sebaliknya
kezaliman, kebohongan selalu dihindari.

Dalam mengarungi kehidupan seseorang atau suatu bangsa


memiliki tujuan yang hendak dicapainya. Tujuan tersebut adalah
terwujudnya kepuasan hidup, baik lahiriyah maupun batiniah. Kepuasan
hidup ini akan termanifestasi dalam terpenuhinya kebutuhan hidup, yang
bermuara pada perasaan sejahtera dan bahagia.

Kebutuhan hidup ini bertingkat-tingkat, mulai dari terpenuhinya


kebutuhan pangan, sandang, dan papan, meningkat pada kebutuhan
perolehan pengetahuan, pelayanan kesehatan, mobilitas, pelayanan hari
tua dsb., meningkat lagi pada kebutuhan untuk dihormati dan dihargai
harkat dan martabatnya sehingga kebebasan dan kesetaraan dijunjung
tinggi. Setelah hal-hal tersebut tercapai, kebutuhan manusia meningkat
lagi ke hal-hal yang menimbulkan kesenangan dalam mengisi waktu
senggang (leisure time). Ada pula manusia yang lebih menitik beratkan
terpenuhinya kehidupan spiritual yang akan mengantar pada kebahagiaan
yang abadi. Namun bila kita mencoba untuk mencermati lebih jauh, maka
tujuan yang hendak dicapai manusia dalam hidupnya adalah kedamaian,
yang didukung oleh ketertiban, keteraturan, keamanan, dan terpenuhinya
kebutuhan hidup.

Dalam merealisasikan tujuan hidup, untuk mencapai kedamaian


dan kepuasan diri, manusia dihadapkan pada situasi penuh dengan
permasalahan, di sinilah manusia harus menentukan sikap dalam
menentukan pilihan hidupnya, diperlukan prinsip yang akan membinbing
seorang dalam menentukan langkahnya. Prinsip akan memberikan corak
pola fikir, sikap dan tindakan, sedang nilai memberikan arah terhadap
tindakan yang akan dilakukan.

Dari konsep dan prinsip yang terdapat dalam Pancasila, dapat


ditemukan nilai dasar yang menjadi dambaan bangsa Indonesia, yang
ingin diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Nilai tesebut adalah perdamaian, keimanan, ketaqwaan,
keadilan, kesetaraan, keselarasan atau harmoni, keberadaban, persatuan,
kesatuan, permufakatan, kebijaksanaan dan kesejahteraan.
Damai adalah situasi yang menggambarkan tiadanya konflik,
segala unsur yang terlibat dalam suatu proses berlangsung secara
selaras, serasi dan seimbang, sehingga menimbulkan keteraturan,
ketertiban dan keamanan. Segala kebutuhan yang diperlukan oleh
manusia dapat terpenuhi, sehingga tidak terjadi perebutan akan
kepentingan. Hal ini akan terwujud bila segala unsur yang terlibat dalam
kegiatan bersama mampu mengendalikan diri secara prima dengan
asesanti memayu hayuning bawonoserta leladi sesamining dumadi.

Iman adalah suatu keadaan yang menggambarkan keyakinan akan


adanya kekuatan supranatural yang disebut Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan keimanan namusia yakin bahwa Tuhan menciptakan dan
mengatur alam semesta. Apapun yang terjadi di dunia adalah atas
kehendakNya, dan manusia wajib untuk menerima dengan keikhlasan.

Taqwa adalah suatu sikap berserah diri kepada Tuhan Yang Maha
Esa, sehingga bersedia untuk mematuhi segala perintahNya dan menjauhi
segala laranganNya. Ketaatan dan kepatuhan ini didasari oleh keikhlasan
dan kerelaan.

Adil adalah menempatkan segala perkara pada tempatnya. Segala


unsur yang terlibat dalam suatu kegiatan dihormati dan didudukkan sesuai
dengan harkat dan martabatnya, disesuaikan dengan peran fungsi dan
kedudukkannya. Kewajiban dan hak asasi dihormati dan didudukkan
sesuai dengan prinsip Pancasila.

Setara adalah menempatkan segala perkara tanpa membeda-


bedakan baik dari segi jender, suku, ras, agama, adat dan budaya. Setiap
orang diperlakukan sama dihadapan hukum, memperoleh kesempatan
yang sama dalam pelayanan pendidikan, kesempatan kerja sesuai
dengan potensi, kemampuan dan peran yang dimilikinya.

Selaras atau harmoni adalah keadaan yang menggambarkan


keteraturasn, ketertiban, ketaatan karena masing-masing unsur yang
terlibat melaksanakan peran dan fungsi secara tepat, sehingga timbul rasa
nikmat dalam suasana damai. Ibarat suatu orchestra, masing-masing
pemain berpegang pada partitur yang tersedia, dan masing-masing
pemain instrumen melaksanakan secara taat dan tepat, maka akan terasa
suasana nikmat dan damai.

Beradab akan terwujud apabila komponen yang terlibat dalam


kehidupan bersama berpegang teguh pada adat budaya yang
mencerminkan nilai dasar yang dipegang dalam kehidupan bersama.
Beradab menurut bangsa Indonesia adalah apabila prinsip yang
terkandung dalam Pancasila dipergunakan sebagai acuan pola fikir dan
pola tindak, sedang nilai dasar Pancasila dipegang sebagai tujuan yang
hendak direalisasikan.

Persatuan dan kesatuan menggambarkan bahwa bangsa


Indonesia terdiri atas berbagai komponen yang beraneka ragam, namun
membentuk suatu kesatuan yang utuh. Masing-masing komponen
dihormati dan didudukkan sebagai bagian yang integral dalam kesatuan
negara-bangsa Indonesia.

Mufakat adalah hal ihwal yang mendapatkan kesepakatan


bersama dari hasil musyawarah. Hal ihwal yang telah menjadi suatu
permufakatan dipegang teguh dalam kehidupan bersama, masing-masing
unsur yang terlibat dalam permufakatan wajib mematuhinya.

Bijaksana adalah hal ihwal yang menggambarkan hasil olah fikir


dan olah rasa yang bersendi pada kebenaran, dan keadilan. Bagi bangsa
Indonesia tolok ukur kebijaksanaan tiada lain adalah prinsip dan nilai yang
terkandung dalam Pancasila.

Sejahtera adalah kondisi yang menggambarkan terpenuhinya


tuntutan dan kebutuhan manusia baik kebutuhan lahiriyah maupun
kebutuhan batiniah sehingga terwujud rasa puas diri, yang akhirnya
bermuara pada rasa damai.

Setelah kita faham mengenai konsep, prinsip dan nilai yang


terkandung dalam Pancasila, maka permasalahan berikut adalah
bagaimana konsep, prinsip dan nilai yang terkandung dalam Pancasila ini
dapat diimplementasikan dalam berbagai kehidupan secara nyata.

Pancasila bagi bangsa Indonesia adalah sebagai dasar negara dan


“way of life” bagi kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Hal ini menurut
catatan sejarah Pancasila dulunya adalah suatu ajaran yang sudah ada
sejak jaman Majapahit, hal ini dibukukan dalam kitab Sutasoma karangan
Empu Tantular serta kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca.
Dalam kitab Negarakertagama terdapat ketentuan yang harus dipatuhi
seorang raja, yaitu “Raja menjalankan dengan setia kelima
pantangan begitu pula upacara-upacara ibadat dan penobatan”. Hal
tersebut dijelaskan lebih lanjut pada kitab Sutasoma, adanya istilah
“Pancasila Krama”, yaitu lima dasar tingkah laku atau perintah kesusilaan.
Dalam kitab itu terdapat lima larangan yakni: a). jangan mencabut nyawa
makhluk hidup; b). jangan mengambil barang yang tidak
diberika;.c). jangan berbuat zina; d). jangan berkata bohong; e).
janganlah minum-minuman yang memabukkan.

Jika pada era Majapahit Pancasila adalah merupakan suatu ajaran yang
berkaitan dengan larangan, Pancasila yang dipahami sebagai pedoman
hidup Bangsa Indonesia sekarang maknanya lebih luas, yaitu merupakan
nilai-nilai luhur yang wajib dipahami dan dilaksanakan dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Pancasila yang dikukuhkan dalam sidang I dari
BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945 serta pada sidang BPUPKI telah
menerima secara bulat Pancasila itu sebagai dasar negara Indonesia
merdeka. Dalam keputusan sidang PPKI kemudian pada tanggal 18
Agustus 1945 Pancasila tercantum secara resmi dalam Pembukaan UUD
RI dan Undang-Undang Dasar 1945.

Pancasila sebagai suatu ideologi tidak bersifat tertutup dan kaku, tetapi
bersifat dinamis dan terbuka. Hal ini berarti ideologi Pancasila besifat
aktual, dinamis, antisipatif dan senantiasa mampu menyesuaikan dengan
perkembangan zaman, iptek, serta dinamika perkembangan aspirasi
masyarakat. Keluwesan dan fleksibelitas serta keterbukaan yang dimiliki
oleh ideologi Pancasila menjadikan Pancasila tidak ketinggalan zaman
dalam tatanan sosial, namun sifatnya yang terbuka bukan berarti nilai-nilai
dasar Pancasila dapat dirubah atau diganti dengan nilai dasar yang lain.

Implementasi dari sila-sila yang terdapat dalam Pancasila pasca gerakan


reformasi 1998 hingga sekarang mengalami degradasi yang serius.
Contoh kasus yang baru terjadi adalah masalah calon Gubernur DKI
Jakarta, Ahok yang mengutip ayat Al-Quran (surah Al-Maidah: 51) untuk
kepentingan politik, sehingga menimbulkan permasalahan yang berdapak
pada isu SARA. Serta banyak pihak-pihak yang mengatasnamakan
agama tertentu hanya untuk hasrat pribadi maupun golongan tertentu.
Perilaku tersebut sudah jelas bertentangan dengan beberapa sila yang
tertuang dalam Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Dimana pada
sila kesatu ini semua orang berhak memeluk agama tanpa ada paksaan
dari pihak lain, tidak boleh menistakan agama lain, dan menjunjung tinggi
kerukunan umat beragama. Sila kedua yang dilanggar yaitu Kemanusiaan
yang Adil dan Beradab, dimana semua warga negara Indonesia memiliki
hak yang sama dalam pemenuhan kesejahteraan, kehidupan yang layak,
persamaan hak dalam politik, kesetaraan dalam hukum, dan hal-hal lain
yang diatur dalam undang-undang tanpa melihat suku dan ras.

Kasus terorisme dan tindakan makar yang dilakukan oleh sekelompok


orang yang mengatasnamakan agama, atau kepentingan tertentu dengan
tujuan memisahkan wilayah dari NKRI juga merupakan pelanggaran sila
ketiga yaitu Persatuan Indonesia. Seiring maraknya terorisme, disintegrasi
bangsa dalam lingkup kecil juga terjadi di kota besar, yaitu banyak sekali
kasus tawuran antar pelajar dan pemuda hanya karena kasus yang
sepele. Disintegrasi bangsa juga bisa tersulut dengan kasus bullying
melalui media sosial, adanya saling hujat antara individu yang akhirnya
merambat dalam lingkup kelompok.

Kemudian dalam sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmah


Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan banyak sekali
terdapat kasus yang menunjukkan penurunan nilai sila tersebut. Hal ini
ditunjukkan oleh banyaknya kasus sengketa Pilkada yang harus berakhir
di MK (misalnya Pilkada Manado, Fakfak, Gresik, dan lain sebagainya),
dimana masyarakat disuguhkan oleh mati surinya penghargaan pendapat
orang lain, demokrasi, dan rasa legowo di hati para pihak yang kalah.
Banyaknya sengketa Pilkada sebagai contohnya, menunjukkan bahwa
masyarakat Indonesia mengalami penurunan pendewasaan politik.
Semua sengketa tidak diutamakan diselesaikan dengan musyawarah
untuk mencapai mufakat, tapi masyarakat banyak yang melakukan by
pass dengan demonstrasi, anarkisme dan aroganisme demi terpenuhinya
tuntutan yang kadang dipaksakan.

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, yang merupakan sila


terakhir dalam Pancasila tujuan secara umumnya adalah pemerataan
kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh warga negara Indonesia.
Rakyat Indonesia berhak mendapatkan penghidupan yang layak,
penghormatan terhadap HAM, perlindungan keamanan dan hukum,
lingkungan sosial yang sehat, dan hal lain berkaitan dengan
kesejahteraan seluruh warga negara. Namun hal tersebut salah satunya
dicederai dengan tingginya angka korupsi di Indonesia. Seperti yang
ditunjukkan pada Lembaga Transparency International, peringkat korupsi
di Indonesia pada Tahun 2015 berada di posisi 88 dari total 168 negara
yang dijadikan ukuran. Dari data terbaru Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) menetapkan Wali Kota Madiun, Bambang Irianto sebagai tersangka
kasus dugaan korupsi pembangunan Pasar Besar Kota Madiun pada hari
Senin lalu. Jika kita merunut kasus korupsi yang melibatkan oknum
pejabat politik seringkali tidak terselesaikan dengan baik, seperti Wisma
Atlit yang belum bisa menyeret pemain besarnya,kasus BLBI, kasus Bank
Century, dan kasus lain yang diduga melibatkan oknum pejabat penting di
negara Indonesia.

Kunci dalam pengimplementasian Pancasila dalam kehidupan bernegara


dan berbangsa di Indonesia adalah harus adanya integrasi nilai-nilai yang
ada dalam Pancasila kedalam seluruh aspek kehidupan di masyarakat,
yaitu sistem pendidikan, sistem politik, pertahanan keamanan, sistem
ekonomi, dan kehidupan sosial berbangsa dan bernegara. Dengan
terintegrasinya Pancasila, maka transformasi menuju bangsa yang
makmur, sejahtera, dan ber-Bhineka Tunggal Ika akan lebih cepat
terwujud dalam kesatuan wilayah Indonesia.