Anda di halaman 1dari 23

A.

Judul Percobaan : TITRASI ASAM BASA


B. Tanggal/Hari Percobaan : Rabu, 15 November 2017, Pukul 13.00 WIB
C. Selesai Percobaan : Rabu, 15 November 2017, Pukul 15.00 WIB
D. Tujuan Percobaan :
1. Menentukan konsentrasi larutan NaOHdengan larutan baku asam oksalat
2. Menentukan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH

E. Dasar Teori :
Titrasi adalah suatu metode untuk menentukan konsentrasi zat di
dalam larutan. Titrasi dilakukan dengan mereaksikan larutan tersebut
dengan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya (Brady, 1998). Zat
yang akan ditentukan kadarnya sendiri disebut dengan titrasi(titran) dan
biasanya diletakkan didalam tabung erlenmeyer, sedangkan zat yang telah
diketahui konsentrasinya disebut sebagai titer dan biasanya diletakkan
didalamburet. Baik titran ataupun titer biasanya dalam bentuk larutan
(Brady, 1998).
Untuk mengetahui keadaan ekivalen dalam proses titasi ini,
dipelukan suatu zat yang dinamakan indikator asam basa. Indikator asam
basa adalah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya
berubah. Titrasi asam basa menyangkut reaksi antar asam kuat-basa
kuat,asam kuat- basa lemah, asam lemah-basa kuat, asam lemah-basa lemah.
Terdapat kurva titrasi dari keempat reaksi tersebut. Kurva titrasi yaitu grafik
sebagai fungsi pH dengan jumlah titran yang ditambahkan (Ralph, 2008).
Aasam kuat dan basa kuat Asamkuat dan basa lemah
Asam lemah dan basa kuat Asam lemah dan basa lemah

Dalam titrasi, suatu larutan yang haus dinetralkan dimasukkan ke


dalam wadah atau tabung. Larutan lain yaitu basa, dimasukkan ke dalam
asam, mula-mula cepat, kemudian tetes demi tetes, sampai titiksetara dari
titrasi tersebut tercapai. Titik pada daat titrasi dimana indikator berubah
warna dinamakan titik akhir (end point) dari indikator. Yang diperlukan
adalah memadankan titik akhir indikator yang perubahannya terjadi dalam
selang pH yang meliputi pH sesuai dengan titik setara (Ralph, 2008).
Pada praktikum ini, indikator yang digunakan adalah indikator
unversal dan indikator alami yaitu bunga sepatu. Indikator universal adalah
indikator ph berisi larutan dari bebeapa senyawa yang meunjukkan beberapa
perubahan warna yang halus pada rentang pH antara 1-14 untuk
menunjukkan keasaman atau kebasaan larutan. Suatu indikator unversal
biasanya terdiri dari air, 1-propanol , garam natium fenolftalein, natrium
hidroksda, metil merah, garam mononatrium bromotimol biru, dan garam
mononatrium timol biru. Warna-warna yang menandakan pH larutan ,
setelah ditambahkan indikator universal adalah :
1. Rentang pH kurang dari 3 berwarna merah menunjukkan larutan asam
kuat
2. Rentang pH 3-6 berwarna jingga atau kuning, menunjukkan larutan
asam lemah
3. Rentang pH 7 berwarna hijau, menunjukkan larutan netral
4. Rentang pH 8-11 berwarna biru, menunjukkan larutan basa lemah
5. Rentang pH lebih dari 11, menunjukkan larutan basa kuat dan berwarna
ungu atau violet.
Indikator Asam Basa

Warna
Indikator Skala pH
Asam Basa
Biru timol 1,2-2,8 Merah Kuning
Kuning metil 2,0-3,0 Merah Kuning
Biru bromofenol 3,0-4,6 Kuning Biru
Merah metil 4,2-6,3 Merah Kuning
Biru bromotimol 6,0-7,6 Kuning Biru
Lakmus 6,0-8,0 Merah Biru
Merah kresol 7,2-8,8 Kuning Merah
Fenolftalein 8,3-10,1 Tak Berwarna Merah Muda
Timolftalein 10,0-12,0 Kuning Ungu
Trinitro benzena 12,0-13,0 Tak Berwarna Jingga

Indikator universal adalah kumpulan campuran indikator yang


menunjukkan perubahan warna dalam larutan, yang menginterpretasikan
larutan tersebut asam atau basa. Indikator universal dapat berbentuk kertas
maupun larutan. Indikator universal larutan paling layak digunakan untuk
larutan tak berwarna, sehingga dapat meningkatkan akurasi pengujian.
(Brady, 1998).

Bunga sepatu dapat dijadikan indikator karena mempunyai zat


warna yang disebut antosianin dan mampu memberikan perubahan warna
baik pada senyawa asam maupun senyawa basa. Pada keadaan asam, akan
berwarna merah, sedangkan pada keadaan basa akan berwarna hijau.

Flavonoid adalah senyawa yang terdiri dari dari 15 atom karbon


yang umumnya tersebar di dunia tumbuhan. Senyawa flavanoid merupakan
suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di alam.
Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, dan biru serta
sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Pada
tumbuhan tinggi, flavonoid terdapat baik dalam bagian vegetative maupun
dalam bunga. Senyawa ini berperan penting dalam menentukan warna, rasa,
bau, serta kualitas nutrisi makanan. Tumbuhan umumnya hanya
menghasilkan senyawa flavonoid tertentu. Flavanoid mempunyai kerangka
dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon, dimana dua cincin benzene
(C6) terikat pada suatu rantai propane (C3) sehingga membentuk suatu
susunan C6-C3-C6 (Fitria, 2013). Kerangka flavonoid terdiri atas satu
cincin aromatik A, satu cincin aromatik B, dan cincin tengah berupa
heterosiklik yang mengandung oksigen dan bentuk teroksidasi cincin ini
dijadikan dasar pembagian flavonoid ke dalam sub-sub kelompoknya.
Sistem penomoran digunakan untuk membedakan posisi karbon di sekitar
molekulnya (Redha, 2010).

Faktor-faktor yang mempengaruhi titrasi asam basa :


1. Indikator titrasi
2. Titik ekivalen atau titik akhir teoritis
3. Titik akhir titras

Pada saat titik ekivalen maka mol ekivalen asamakan samadengan mol
ekivalen basa, maka halini dapat ditulis sebagai berikut :

a. Ma.Va = b.Mb.Vb

Keterangan :

a = Jumlah valensi ion H+

Ma = Molaritas asam

Va = Volume asam
b = Jumlah valensi ionOH-

Mb = Molaritas basa

Vb = Volume basa

F. Alat dan Bahan :


1. Alat
a) Buret 100 mL 1 Buah
b) Labu Erlenmeyer 250 mL 3 Buah
c) Gelas Kimia 25 mL 2 Buah
d) Klem dan Statif 1 set
e) Corong 1 Buah
f) Pipet tetes 3 Buah
g) Mortar dan Alu 1 Set
2. Bahan
a) C2H2O4 10 mL
b) NaOH 0,1 M secukupnya
c) HCl 10 mL
d) Universal secukupnya
e) Ekstrak tumbuhan (bunga sepatu) secukupnya
f) Etanol secukupnya
G. Alur Percobaan :
1. Penentuan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan baku C2H2O4

Larutan NaOH Larutan C2H2O4 0,5 M

Digunakan untuk membilas buret Dimasukkan kedalam


Erlenmeyer dengan pipet gondok
Dimasukkan dalam buret sampai
10 ml
melebihi skala nol dengan corong
lalu buka kran sampai larutan Ditambahkan 2 tetes indikator
NaOH turun tepat skala nol universal
Dibersihkan sisa larutan dengan Dicatat keadaanya
kertas saring
Diteteskan dari buret kedalam C2H2O4 +Indikator Universal
larutan asam

NaOH + C2H2O4 +Indikator Universal

Akan terjadi perubahan warna

Larutan berwarna hijau kebiruan

Dicatat volume
Diulang 3 kali
Dihitung konsentrasi larutan NaOH

Konsentrasi larutan NaOH

Reaksi yang terjadi :

2NaOH (aq) + C2H2O4 (aq) → Na2C2O4 (aq) + 2H2O(l)

Dari tidak berwarna menjadi Hijau Kebiruan


2. Menentukan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH

Larutan NaOH Larutan HCl

Digunakan untuk membilas buret Dimasukkan kedalam


Erlenmeyer dengan pipet gondok
Dimasukkan dalam buret sampai
10 ml
melebihi skala nol dengan corong
lalu buka kran sampai larutan Ditambahkan 2 tetes indikator
NaOH turun tepat skala nol universal
Dibersihkan sisa larutan dengan Dicatat keadaanya
kertas saring
Diteteskan dari buret kedalam HCl +Indikator Universal
larutan asam

NaOH + HCl +Indikator Universal

Akan terjadi perubahan warna

Larutan berwarna hijau

Dicatat volume
Diulang 3 kali
Dihitung konsentrasi larutan NaOH

Konsentrasi larutan HCl

Reaksi yang terjadi :

HCl (aq) + NaOH (aq) →NaCl (aq) + H2O (l)

Dari tidak berwarna menjadi berwarna hijau


3. Menentukan konsentrasi larutan HCl dengan indikator alami ( ekstrak
bunga sepatu )

Larutan NaOH Larutan HCl

Digunakan untuk membilas buret Dimasukkan kedalam


Erlenmeyer dengan pipet gondok
Dimasukkan dalam buret sampai
10 ml
melebihi skala nol dengan corong
lalu buka kran sampai larutan Ditambahkan 2 tetes ekstrak
NaOH turun tepat skala nol bunga sepatu
Dibersihkan sisa larutan dengan Dicatat keadaanya
kertas saring
Diteteskan dari buret kedalam HCl +ekstrak bunga sepatu
larutan asam

NaOH + HCl +ekstrak bunga sepatu

Akan terjadi perubahan warna

Larutan berwarna kuning pudar

Dicatat volume
Diulang 3 kali
Dihitung konsentrasi larutan NaOH

Konsentrasi larutan HCl

Reaksi yang terjadi :

HCl (aq) + NaOH (aq) →NaCl (aq) + H2O (l)

Dari berwarna merah menjadi berwarna kuning pudar


VIII. Hasil Pengamatan

No. Hasil Pengamatan


Prosedur Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan
perc Sebelum Sesudah
1. Penentuan konsentrasi larutan NaOH dengan  Larutan  Larutan Reaksi : 2NaOH (aq)  Molaritas
larutan baku C2H2O4
C2H2O4 C2H2O4 setelah + C2H2O4 (aq) → NaOH yang di
tidak ditetesi Na2C2O4 (aq) + dapati 0,52 M
berwarna indikator 2H2O(l)  Warna larutan
 Larutan universal Dugaan : berubah
NaOH berwarna merah a. Jika dalam menjadi hijau
tidak  Pada percobaan suasana asam kebiruan
berwarna 1 larutan NaOH akan berwarna
 Indikator + C2H2O4 + merah
universal indikator b. Jika dalam
berwarna universal suasana netral
merah berwarna ungu . akan berwarna
pekat  Pada hijau kebiruan
percobaan 2 c. Jika dalam
suasana basa
larutan NaOH + akan berwarna
C2H2O4 + ungu
indikator
universal
berwarna hijau
kebiruan
 Pada percobaan
3 larutan NaOH
+ C2H2O4 +
indikator
universal
berwarna hijau
kebiruan
 Volume NaOH:
1. 20,1 ml
2. 18,7 ml
3. 18,9 ml
2. Menentukan konsentrasi larutan HCl dengan  Larutan  HCl + Indikator Reaksi : HCl (aq) +  Molaritas HCl
larutan NaOH
HCl tidak Universal NaOH (aq) →NaCl yang di dapati
berwarna larutan (aq) + H2O (l) 0,48 M
 Larutan berwarna merah  Warna larutan
NaOH  Pada percobaan Dugaan : berubah
tidak 1 larutan NaOH a) Jika dalam menjadi hijau
berwarna + HCl + suasana asam
 Indikator indikator akan berwarna
universal universal merah
berwarna berwarna ungu b) Jika dalam
merah  Pada percobaan suasana netral
pekat 2 larutan NaOH akan berwarna
+ HCl + hijau
indikator c) Jika dalam
universal suasana basa
berwarna akan berwarna
berwarna hijau ungu
 Pada percobaan
3 larutan NaOH
+ HCl +
indikator
universal
berwarna ungu
 Volume NaOH:
1. 9,3
2. 9,1
3. 9,5
3. Menentukan konsentrasi larutan HCl dengan  Larutan  HCl + ekstrak Reaksi : HCl (aq) +  Molaritas HCl
indikator alami ( ekstrak bunga sepatu ) HCl tidak bunga sepatu NaOH (aq) →NaCl yang di dapati
berwarna berwarna merah (aq) + H2O (l) 0,44 M
 Larutan  Pada percobaan  Warna larutan
NaOH 1 larutan NaOH Dugaan : berubah
tidak + HCl + ekstrak 1. Jika dalam menjadi kuning
berwarna bunga sepatu suasana asam pudar
 Ekstrak berwarna akan berwarna
bunga kuning pudar merah
sepatu  Pada percobaan 2. Jika dalam
berwarna 2 larutan NaOH suasana netral
ungu + HCl + ekstrak akan berwarna
pekat bunga sepatu kuning pudar
berwarna 3. Jika dalam
kuning pudar suasana basa
 Pada percobaan akan berwarna
3 larutan NaOH hjau kebiruan
+ HCl + ekstrak
bunga sepatu
berwarna
kuning pudar
 Volume NaOH:
1. 8,5 ml
2. 8,5 ml
3. 8,5 ml
IX. Pembahasan
Titrasi adalah suatu metode untuk menentukan konsentrasi zat di
dalam larutan. Titrasi terdapat banyak macamnya, salah satunya adalah
titrasi asam basa. Titrasi asam basa adalah titrasi yang berdasarkan reaksi
penetralan. Hal tersebut dapat dilihat dari perubahan warna yang
menandakan keadaan larutan yang netral. Selain itu juga dapat dilihat dari
reaksinya. Pada percobaan ini, indikator yang digunakan adalah indikator
universal dimana indikator universal merupakan indikator asam basa karena
indikator tersebut menyebabkan larutan asam dan basa berubah warna jika
indikator universal diteteskan ke dalamnya. Indikator universal mempunya
dua sifat. Apabila indikator universal menjadi indikator asam, maka
indikator tersebut bersifat basa, sedangkan kebalikannya, apabila indikator
universal menjadi indikator basa, maka indikator universal bersifat asam.
Indikator universal menyebabkan larutan berubah warna menjadi merah jika
dalam keadaan asam, menjadi hijau jika dalam keadaan netral, dan menjadi
ungu jika dalam keadaan basa. Dalam meneteskan indikator universal,
dilakukan satu persatu karena indikator universal mengandung larutan
alkohol. Larutan alkohol digunakan sebagai pelarut indikator universal
sehingga indikator universal bersifat volatil atau mudah menguap. Jika
indikator universal menguap, maka larutan yang telah ditetesi dengan
indikator unversal menjadi tidak ada indikatornya lagi, dan akan
menyebabkan kegagalan dalam melakukan titrasi karena perubahan warna
yang terjadi disebabkan oleh indikator.
Dalam titrasi, terdapat istilah titik ekivalen dan titik akhir titrasi.
Titik ekivalen terjadi ketika mol asam sama dengan mol basa dan ditandai
dengan perubahan awal warna. Biasanya perubahan ini hanya terjadi
sebentar karena ketika dikocok akan hilang. Pada percobaan menggunakan
indikator universal dan diteteskan dalam larutan asam, setelah beberapa
volume, akan muncul setitik warna ungu, kemudian ketika dikocok akan
hilang atau larutan berubah warna menjadi kuning, pada tahap ini sudah
dapat dikatakan sebagai titik ekivalen. Sedangkan titik akhir titrasi adalah
titik dimana terjadi perubahan warna yang sesuai, dan titrasi dihentikan.
pada percobaan ini, titik akhir titrasi terjadi ketika larutan asam sudah
berwarna hijau. Titik ekivalen terjadi lebih dulu daripada titik akhir titrasi.
Selain menggunakan indikator universal, pada percobaan ini juga
menggunakan indikator alami yang berupa bunga sepatu. Dalam pembuatan
indikator bunga sepatu, setelah ditumbuk kemudian ditetesi dengan etanol.
Etanol berfungsi sebagai pelarut. Baik indikator universal, maupun indikator
alami keduanya sama-sama dilarutkan dengan alkohol karena terdapat
kesamaan struktur unsur-unsur penyusunnya. Flavonoid yang terkandung
didalam bunga sepatu yang berfungsi sebagai indikator mempunyai struktur
C, H, dan O. Begitu pun dengan etanol. Ketika etanol dijadikan pelarut
indikator, maka warnanya akan lebih pekat dibandingkan jika dengan
pelarut air. Indikator bunga sepatu termasuk indikator asam basa, karena
ketika larutan asam ditetesi dengan indikator bunga sepatu akan menjadi
warna merah, sedangkan jika larutan basa ditetesi dengan indikator bunga
sepatu akan menjadi warna hijau. Ketika dalam keadaan netral, indikator
bunga sepatu akan membuat larutan menjadi tak berwarna.
Pada percobaan pertama, yaitu penentuan konsentrasi larutan
NaOH dengan larutan asam oksalat dengan menggunakan indikator
universal, volume NaOH di dalam buret yang diperlukan agar larutan asam
oksalat di dalam erlenmeyer berubah menjadi warna hijau adalah 15 mL
pada pengulangan pertama, 15,2 mL pada pengulangan kedua, dan 15 mL
pada pengulangan ketiga.
Reaksi yang terjadi adalah:
2NaOH(aq) + C2H2O4(aq)→ Na2C2O4(aq)+ 2H2O(l)
Sehingga diperoleh konsentrasi NaOH dari persamaan :
M1 x V1 x n1 = M2 x V2 x n2
• Pengulangan pertama
M1 x V1 x n1 = M2 x V2 x n2
M1 x 15 mL x 1 = 0,1 mol/mL x 10 mL x 2
M1 = 0,133 mol/mL
• Pengulangan kedua
M1 x V1 x n1 = M2 x V2 x n2
M1 x 15,2 mL x 1 = 0,1 mol/mL x 10 mL x 2
M1 = 0,131 mol/mL
• Pengulangan ketiga
M1 x V1 x n1 = M2 x V2 x n2
M1 x 15 mL x 1 = 0,1 mol/mL x 10 mL x 2
M1 = 0,133 mol/mL
Didapatkan Molaritas rata-rata adalah 0,132 mol/mL
Pada percobaan kedua, yaitu penentuan konsentrasi larutan HCl dengan
larutan NaOH menggunakan indikator universal, volume NaOH di dalam
buret yang diperlukan agar larutan HCl di dalam erlenmeyer berubah
menjadi warna hijau adalah 10 mL pada pengulangan pertama, 10,3 mL
pada pengulangan kedua, dan 10,3 mL pada pengulangan ketiga.
Reaksi yang terjadi adalah:
HCl(aq) + NaOH(aq) →NaCl(aq) + H2O(l)
Sehingga diperoleh konsentrasi HCl dari persamaan :
M1 x V1 x n1 = M2 x V2 x n2
• Pengulangan pertama
M1 x V1 x n1 = M2 x V2 x n2
M1 x 10 mL x 1 = 0,132 mol/mL x 10 mL x 1
M1 = 0,132 mol/mL
• Pengulangan kedua
M1 x V1 x n1 = M2 x V2 x n2
M1 x 10 mL x 1 = 0,132 mol/mL x 10,3 mL x 1
M1 = 0,135 mol/mL
• Pengulangan ketiga
M1 x V1 x n1 = M2 x V2 x n2
M1 x 10 mL x 1 = 0,132 mol/mL x 10,3 mL x 1
M1 = 0,135 mol/mL
Didapatkan Molaritas rata-rata adalah 0,134 mol/mL.
Pada percobaan ketiga, yaitu penentuan konsentrasi larutan HCl
dengan larutan NaOH menggunakan indikator bunga sepatu, volume NaOH
di dalam buret yang diperlukan agar larutan HCl di dalam erlenmeyer
berubah menjadi larutan tak berwarna adalah 9,8 mL pada pengulangan
pertama, 9,4 mL pada pengulangan kedua, dan 9,3 mL pada pengulangan
ketiga. Reaksi yang terjadi adalah:
HCl(aq) + NaOH(aq) →NaCl(aq) + H2O(l)
Sehingga diperoleh konsentrasi HCl dari persamaan :
M1 x V1 x n1 = M2 x V2 x n2
Sehingga diperoleh konsentrasi NaOH dari persamaan :
M1 x V1 x n1 = M2 x V2 x n2
• Pengulangan pertama
M1 x V1 x n1 = M2 x V2 x n2
M1 x 10 mL x 1 = 0,132 mol/mL x 9,8 mL x 1
M1 = 0,129 mol/mL
• Pengulangan kedua
M1 x V1 x n1 = M2 x V2 x n2
M1 x 10 mL x 1 = 0,132 mol/mL x 9,4 mL x 1
M1 = 0,124 mol/mL
• Pengulangan ketiga
M1 x V1 x n1 = M2 x V2 x n2
M1 x 10 mL x 1 = 0,132 mol/mL x 9,3 mL x 1
M1 = 0,122 mol/mL
Didapatkan Molaritas rata-rata adalah 0,125 mol/mL.

X. Kesimpulan
Berdasarkan percoban yang telah kami lakukan dapat disimpulkan bahwa :
 Pada percobaan pertama diperoleh konsentrasi NaOH rata-rata
sebesar 0,1103 M. Dari seluruh pengulangan terjadi perubahan
warna larutan menjadi merah muda pudar (soft pink).
 Pada percobaan kedua diperoleh konsentrasi HCl rata-rata sebesar
0,0716 M. Dari seluruh pengulangan terjadi perubahan warna larutan
menjadi merah muda pudar(soft pink).
 Pada percobaan ketiga dengan menggunakan indikator ekstraks
tumbuhan (kunyit) diperoleh konsentrasi HCl rata-rata sebesar
0,13566 M. Dari seluruh pengulangan terjadi perubahan warna
larutan menjadi kuning kecoklatan.

XI. Pertaanyaan
1. Mengapa pada titrasi larutan NaOH dengan asam oksalat menggunakan
indikator phenolptalein ?

Jawab : Karena indikator Phenolphthalein atau biasa disingkat sebagai PP adalah


suatu senyawa organik dengan rumus C20H14O4 dan biasa dipakai
sebagai indikator untuk titrasi asam basa. Tidak bewarna dalam larutan
asam dan berwarna fuksia (pink) bila dalam larutan basa.
Phenolphthalein tidak akan berwarna (bening) dalam keadaan zat yang
asam atau netral, namun akan berwarna kemerahan dalam keadaan zat
yang basa. Tepatnya pada titik pH di bawah 8,3 Phenolphthalein tidak
berwarna, namun jika mulai melewati 8,3 maka warna merah muda
yang semakin kemerahan akan muncul. Semakin basa maka warna yang
ditimbulkan akan semakin. Seperti yang kita ketahui bahwa NaOH
merupakan larutan yang bersifat basa, sehingga asam oksalat yang telah
diberi indikator phenolptalein akan berubah warna menjadi kemerahan
ketika ditetesi NaOH. Hal ini menyebabkan indikar PP sangat cocok
digunakan untuk djadkan indicator pada titasi asam basa, karena
perubahannya sangat terlihat dari awalnya tidak berwarna menjadi
merah muda.

Struktur molekul dari


indikator Phenolptalein
2. Apa perbedaan titik ekuivalen dan titik akhir ?
Jawab : Titik ekuivalen merupakan keadaan dimana jumlah
mol asam tepat habis bereaksi dengan jumlah mol basa,atau bisa disebut
saat larutan menjadi netral. Sedangkan titik akhir adalah titik dimana
telah terjadi perubahan warna pada larutan.
3. Pada larutan diatas mana yang berfungsi sebagai larutan baku primer,
larutan baku sekunder, dan larutan baku tersier ?
Jawab : Larutan baku primer = Asam Oksalat (C2H2O4)
Larutan baku sekunder = NaOH
Larutan baku tersier = HCl

XII. Daftar Pustaka


Petrucci, H. Ralph, Suminar. 1989. Kimia Dasar Edisi 4 zjilid 2. Jakarta :
Erlangga.
Fitria, Nursaid. 2013. Flavonoid.
https://www.slideshare.net/fitriasaid/flavonoid-23682576
Brady, J. E. (1998). Kimia Universitas Asas dan Struktur . Jakarta: Bina
Rupa Aksara.
Ralph, P. H. (2008). Kimia Dasar II. Jakarta: Erlangga.
Redha, A. (2010). Flavonoid: Struktur, Sifat Antioksidatif Dan Peranannya
Dalam Sistem Biologis. Jurnal Belian Vol. 9 No. 2 , 196. dalam
http://mobile.repository.polnep.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456
789/144/13-Abdi.pdf?sequence=1
Lampiran:
1.Hasil praktikum Larutan NaOH dengan menggunakan Asam Oksalat
menghasilkan larutan berwarna hijau

2.Hasil Praktikum HCl dengan menggunakan Larutan NaOH menggunakan


indikator universal menghasilkan larutan berwarna hijau

3.Hasil Praktikum HCl dengan menggunakan Larutan NaOH menggunakan


indikator bunga sepatu menghasilkan larutan tidak berwarna