Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Gizi dalam daur kehidupan merupakan perhitungan tentang kebutuhan zat gizi tidak dapat
dipisahkan dengan keadaan gizi seseorang, sehingga termasuk dalam penilaian status gizi.
Makalah ini tentang gizi balita yang diulas panjang lebar menggunakan dasar perhitungan
kebutuhan akan energi serta penilaian status gizi pada balita. Dengan membaca makalah ini,
diharapkan dapat mengetahui berbagai faktor fisiologis yang mempengaruhi keadaan gizi
anak balita, masalah perkembangan tubuh pada anak balita, kebutuhan berbagai zat gizi
terhadap perkembangan berbagai organ tubuh anak balita, pengaruh gizi pada kesehatan dan
daya tahan tubuh terhadap infeksi anak balita, faktor di masyarakat yang dapat
mempengaruhi keadaan gizi anak balita, faktor sosioekonomi orangtua pada keadaan gizi
anak balita, faktor pendidikan orangtua pada keadaan gizi anak balita.

Kepada semua yang kelak membaca makalah ini dan menemukan hal-hal yang janggal, atau
bahkan bertentangan dengan yang pembaca ketahui, tolong beritahu kami. Kami akan
menerima kritik dan saran pembaca dengan lapang dada dan pikiran terbuka. Kami harus
mengakui betapa besar sumbang saran dari pembaca yang telah rela meluangkan waktu
mengirim kritik kepada kami. Mudah-mudahan usulan dari semua pembaca, yang menopang
perbaikan makalah ini akan berbuah pahala. Semoga makalah ini bermanfaat bagi semua
pembaca, menjadi ibadah buat kami, dan membuahkan berkah terhadap “anak balita di
Indonesia”.

Akhir kata, pemakalah mengucapkan terima kasih dan kami mengharapkan masukan-
masukan dari para dosen Ilmu Gizi Daur Kehidupan, teman-teman sejawat dalam
kelengkapan makalah berikutnya. Mudah-mudahan penjelasan dalam makalah ini dapat
dipahami dan dimengerti oleh semua kalangan.

Selamat membaca.

Wassalam.

Surabaya, Oktober 2010

Penyusun

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar......................................................................................................................... 1

Daftar Isi................................................................................................................................... 2

BAB I : Pendahuluan................................................................................................................ 3

1. Latar Belakang............................................................................................................. 3
2. Pengertian..................................................................................................................... 4
3. Karakteristik................................................................................................................. 4
4. Info-Info....................................................................................................................... 5

BAB II : Isi............................................................................................................................ 15

1. Kebutuhan Energi dan Zat Gizi................................................................................. 15


2. Pedoman Gizi Seimbang............................................................................................ 16
3. Masalah Gizi.............................................................................................................. 18
4. Karakteristik Menu dan Contoh Menu Sehari Lengkap............................................ 19

BAB III : Penutup.................................................................................................................. 21

1. Kesimpulan................................................................................................................ 21
2. Saran.......................................................................................................................... 22

Daftar Pustaka....................................................................................................................... 23

2
BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Malnutrisi merupakan latar belakang dari penyakit dan kematian anak balita, meskipun sering
luput dari perhatian. Pada tiap tahunnya, kasus malnutrisi tidak berkurang sesuai dengan
angka yang diharapkan. Sebagian besar anak balita di dunia yang menderita malnutrisi
bermukim di wilayah yang juga miskin akan bahan pangan kaya akan zat gizi, terlebih zat
gizi mikro. Meskipun presentase malnutrisi terus berkurang, angka prevalensi di sebagian
wilayah sesungguhnya terus meningkat sebanding dengan laju fertilitas. Kekurangan elemen
kelumit (trace element) yang meliputi defisiensi vitamin dan mineral seperti vitamin A,
kalsium, yodium, besi, dan seng, menjangkit sekitar 2 miliar manusia. Kekurangan vitamin A
masih merupakan penyebab kebutaan di seluruh dunia yang sebenarnya bisa dicegah. Begitu
pula dengan defisiensi yodium serta zat besi.

Sementara itu, gangguan akibat kekurangan yodium, suatu keadaan yang sebetulnya juga
mudah sekali dicegah, tetap saja menjadi masalah kesehatan. Kekurangan vitamin A juga
menggerogoti ratusan ribu anak balita setiap tahun. Balita tersebut menampakkan tanda-tanda
klinis xeroftalmia, ada yang mengalami resiko kematian akibat infeksi berat meningkat, ada
yang mengalami resiko defisiensi vitamin A, ada juga yang berisiko lebih tinggi terjangkit
penyakit infeksi umum. Beberapa negara, termasuk Indonesia, membagikan kapsul vitamin A
kepada anak yang berusia antara 6 bulan hingga 6 tahun, dua kali setahun. Dampaknya cukup
melegakan, kasus xeroftalmia di Indonesia menurun, dan kekurangan vitamin A juga
menipis.

Kemajuan ini tercapai karena kebijakan pemerintah di bidang gizi, peningkatan kesadaran
masyarakat tentang bahan pangan yang kayaakan beta karoten (sebagai program jangka
panjang), fortifikasi (bahan makanan yang kini dipakai sebagai media pembawa vitamin A
adalah garam, terigu, gula, dan penyedap masakan), bahan pangan yang banyak dimakan, dan
pemberian suplementasi vitamin A sebagai program jangka pendek telah terpola denan sangat
baik. Kemiskinan masih merupakan bencana bagi jutaan manusia. Sekelompok (kecil)
penduduk dunia berfikir “hendak makan dimana” sementara kelompok lain berkutat memeras
keringat untuk memperoleh “satu-dua suap nasi”. Jumlah orang miskin, baik di negara
berkembang maupun yang telah maju, terus bertambah.

Banyak kematian dan kesakitan ini yang sesungguhnya bisa dicegah di puskesmas (tanpa
teknologi dan obat canggih), atau bahkan di pustu, dan hanya dengan pembiayaan yang relatif
sangat murah. Pendarahan, sekedar mengambil contoh, yang sebagian besar berkaitan dengan
kekurangan zat besi dan infestasi parasit. Harga pil besi relatif cukup murah dan bahkan
cukup tersedia di puskesmas. Sementara itu, pelenyapan parasit termasuk sumber parasit
eksternal, hanya membutuhkan pembersihan lingkungan serta perorangan. Begitulah
sekelumit latar belakang permasalahan dari gizi pada balita.

3
2. PENGERTIAN
Bawah Lima Tahun atau sering disingkat sebagai Balita merupakan salah satu periode usia
manusia setelah bayi sebelum anak awal. Rentang usia balita dimulai dari dua sampai dengan
lima tahun, atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan. Periode usia ini
disebut juga sebagai usia prasekolah.

Balita adalah istilah umum bagi anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak pra sekolah (3-5 tahun).
Status gizi balita adalah suatu keadaan kesehatan tubuh berkat asupan gizi yang dihubungkan
dengan kebutuhan balita (Anggraini dan Sudomo, 2010:271).

Usia balita dikatakan sebagai periode laten, karena pertumbuhan fisik sudah tidak sedramatis
ketika masih berstatus bayi tetapi aktifitasnya lebih banyak. Karakteristik pertumbuhan dan
perkembangan selama masa kanak-kanak adalah laju pertumbuhan yang menurun drastis
pada usia satu tahun dan berlanjut secara tidak teratur selama masa kanak-kanak.

Berat badan baku pada anak dapat mengacu pada baku BB dan TB dari WHO/NCHS, atau
rumus perkiraan BB anak :

BB anak usia 1-6 tahun = [usia x 2 + 8]

USIA (th) BB (kg)

1 10
2 12
3 14

Masa balita merupakan masa pertumbuhan sehingga memerlukan gizi yang baik. Apabila
gizinya buruk maka akan mengganggu kesehatan, perkembangan otaknyapun kurang dan itu
akan berpengaruh pada kehidupannya di usia prasekolah maupun sekolah. Bahkan ada yang
mengatakan bahwa ”the child is the father of the man”. Sehingga setiap kelainan atau
penyimpangan sekecil apapun apabila tidak terdeteksi apalagi tidak ditangani dengan baik,
akan mengurangi kualitas sumber daya manusia kelak kemudian hari. Namun pada
kenyataannya justru balita merupakan kelompok umur yang paling sering menderita akibat
kekurangan gizi.

Masa balita adalah periode perkembangan fisik dan mental yang pesat. Pada masa ini otak
balita, ibu telah siap menghadapi berbagai stimuli seperti belajar berjalan dan berbicara lebih
lancar.

3. KARAKTERISTIK

Balita disebut juga usia: pra-sekolah


Batasan umur 3–5 tahun
Hal yang perlu diperhatikan:

4
1. Laju pertumbuhan tidak setinggi masa bayi (masa laten)
a. pertambahan BB 0,7–2,3 kg/thn
b. pertambahan TB 0,9–1,2 cm/thn
2. Nafsu makan menurun
3. Aktivitas meningkat
Mampu mengatakan “tidak” terhadap makanan yg ditawarkan
Beberapa penelitian menunjukkan anak hanya mau makan 1 jenis makanan selama
berminggu-minggu (food jag) maka tawarkan jenis makanan lain tiap kali makan
Saat tepat ditanamkan kebiasaan makan yg baik
Waktu makan mulai disesuaikan dengan anggota keluarga yang lain, sehingga dapat
habis porsinya
Waktu makan tidak teratur, sehingga nafsu makan turun

4. INFO-INFO BALITA
Keadaan Gizi Anak Balita

Rumus perkiraan berat badan:

UMUR BERAT BADAN (kg)


Lahir 3,25
5-12 bulan {Usia (bln) + 9} : 2
1-6 tahun {Usia (thn) x 2 + 8}
6-12 tahun {Usia (thn) x 7 – 5} : 2

Rumus perkiraan tinggi badan:

UMUR TINGGI BADAN (cm)


Lahir 50
-1 tahun 75
2-12 tahun {Usia (thn) x 6 + 77}
Penyimpangan dapat terjadi karena:
1. Kurangnya asupan gizi
2. Kejadian infeksi dan investasi cacing

PENILAIAN PERTUMBUHAN FISIK PADA BALITA

UKURAN ANTROPOMETRI
Berat Badan

Merupakan hasil peningkatan atau penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh.
Pemantauan BB balita dapat dilihat pada KMS. BB merupakan yang baik untuk mengetahui
status pada balita.

5
Tinggi Badan

Merupakan ukuran antropometrik kedua yang penting. Kenaikan rata-rata TB anak para
sekolah adalah 6-8 cm/tahun.

Lingkar kepala

Dipakai untuk menafsir volume intracranial, yang dipakai untuk menaksir pertumbuhan otak.
Lingkar kepala bayi baru lahir rata-rata 34 cm. Pada umur 6 bulan rata-rata lingkar kepalanya
adalah 44 cm, umur 1 tahun 47 cm, 2 tahun 49 cm, dan dewasa 54 cm.

Lingkar Lengan Atas (LILA)

LILA mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan otot yang terpengaruh banyak
oleh keadaan cairan tubuh dibandingkan dengan BB. LILA dipakai untuk menilai keadaan
gizi atau tumbuh kembang pada usia prasekolah. Rata-rata LILA BBL 11 cm, dan menjadi 16
cm pada usia 1 tahun. Selanjutnya tidak banyak berubah selama 1-3 tahun.

Lipatan Kulit

Tebalnya lipatan kulit pada daerah trisep dan subskapular merupakan refleksi tumbuh
kembang jaringan lemak di bawah kulit yang mencerminkan kecukupan energi.

Tumbuh Kembang Balita


1. Pertumbuhan

Pertumbuhan adalah bertambahnya jumlah sel dan ukurannya mengakibatkan balita


bertambah besar tubuhnya secara keseluruhan. Untuk pertumbuhan usia 3-5 tahun, setiap
tahun rata-rata tinggi badan anak bertambah seiktar 6 cm dan berat badan bertambah sebesar
2 kg. Berat badan perlu dipantau secara teratur, karena perubahan berat badan menunjukan
adanya gangguan kesehatan (Anggraini dan Sudomo, 2010:5).

2. Perkembangan

Perkembangan adalah meningkatnya kemampuan fungsi tubuh, fungsi intelektual, sosial,


kemandirian dan emosi. Kemampuan fungsi tubuh dimaksudkan adalah kemampuan
pendengaran, penglihatan, bicara gerak (motorik) halus dan kasar (Anggraini dan Sudomo,
2010:7).

KMS Balita
Kartu Menuju Sehat untuk Balita (KMS-Balita) adalah alat yang sederhana dan murah, yang
dapat digunakan untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan anak. Oleh karenanya KMS
harus disimpan oleh ibu balita di rumah, dan harus selalu dibawa setiap kali mengunjungi
posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk bidan dan dokter (Nita, 2008).

6
KMS-Balita menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi ibu dan keluarga untuk memantau
tumbuh kembang anak, agar tidak terjadi kesalahan atau ketidakseimbangan pemberian
makan pada anak. KMS-Balita juga dapat dipakai sebagai bahan penunjang bagi petugas
kesehatan untuk menentukan jenis tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan dan
gizi anak untuk mempertahankan, meningkatkan atau memulihkan kesehatannya (Anggraini
dan Sudomo, 2010).

KMS balita berisi catatan penting tentang pertumbuhan, perkembangan anak, imunisasi,
penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan anak, pemberian ASI
eksklusif dan Makanan Pendamping ASI, pemberian makanan anak dan rujukan ke
Puskesmas/RS. KMS balita juga berisi pesan-pesan penyuluhan kesehatan dan gizi bagi
orang tua balita tentang kesehatan anaknya (Departemen Kesehatan RI, 2008).

Pertumbuhan balita dapat diketahui apabila setiap bulan ditimbang, hasil penimbangan
dicatat di KMS, dan dihubungkan antara titik berat badan pada KMS dari hasil penimbangan
bulan lalu dan hasil penimbangan bulan ini. Rangkaian garis-garis pertumbuhan anak tersebut
membentuk grafik pertumbuhan anak. Pada balita yang sehat, berat badannya akan selalu
naik, mengikuti pita pertumbuhan sesuai dengan umurnya.

Balita naik berat badannya bila (Departemen Kesehatan RI, 2008):

1. Garis pertumbuhan-nya naik mengikuti salah satu pita warna, atau

2. Garis pertumbuhan-nya naik pindah ke pita warna diatasnya.

Balita tidak naik berat badannya bila :

1. Garis pertumbuhan-nya turun, atau

2. Garis pertumbuhan-nya mendatar, atau

3. Garis pertumbuhan-nya naik, tetapi pindah ke pita warna dibawahnya.

Berat badan balita di bawah garis merah artinya pertumbuhan balita menga-lami gangguan
pertumbuhan dan perlu perhatian khusus, sehingga harus langsung dirujuk ke
Puskesmas/Rumah Sakit. Berat badan balita tiga bulan berturut-turut tidak naik (3T), artinya
balita mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga harus langsung dirujuk ke
Puskesmas/Rumah Sakit.

Status Gizi Balita


Menurut ahli gizi Khomsan dalam Nita (2008) standar acuan status gizi balita adalah Berat
Badan menurut Umur (BB/U), Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB), dan Tinggi
Badan menurut Umur (TB/U). Sementara klasifikasinya adalah normal, underweight (kurus),
dan gemuk.

7
Untuk acuan yang menggunakan tinggi badan, bila kondisinya kurang baik disebut stunted
(pendek). Pedoman yang digunakan adalah standar berdasar tabel WHO-NCHS (National
Center for Health Statistics).

Status gizi pada balita dapat diketahui dngan cara mencocokkan umur anak (dalam bulan)
dengan berat badan standar tabel WHO-NCHS, bila berat badannya kurang, maka status
gizinya kurang (Nita, 2008).

Menurut Departemen Kesehatan RI (2008) menentukan balita tumbuh baik dan sehat sebagai
berikut:

1. Balita tumbuh baik : Garis berat badan anak naik setiap bulannya

2. Balita sehat : Berat badannya selalu naik mengikuti salah satu pita warna atau pindah ke
pita warna di atasnya.

Kartu Menuju Sehat (KMS) di posyandu juga bisa digunakan untuk memprediksi status gizi
berdasarkan kurva KMS. Perhatikan dulu umur anak, kemudian plot berat badannya dalam
kurva KMS. Bila masih dalam batas garis hijau maka status gizi baik, bila di bawah garis
merah, maka status gizi buruk.

Ciri Khas Perkembangan Balita


Perkembangan fisik
Pertambahan berat badan menurun, terutama diawal balita. Hal ini terjadi karena balita
menggunakan banyak energi untuk bergerak.
Perkembangan psikologis (Psikomotor)
Terjadi perubahan yang cukup drastis dari kemampuan psikomotor balita yang mulai terampil
dalam pergerakannya (lokomotion). Mulai melatih kemampuan motorik kasar misalnya
berlari, memanjat, melompat, berguling, berjinjit, menggenggam, melempar yang berguna
untuk mengelola keseimbangan tubuh dan mempertahankan rentang atensi.
Pada akhir periode balita kemampuan motorik halus anak juga mulai terlatih seperti meronce,
menulis, menggambar, menggunakan gerakan pincer yaitu memegang benda dengan hanya
menggunakan jari telunjuk dan ibu jari seperti memegang alat tulis atau mencubit serta
memegang sendok dan menyuapkan makanan kemulutnya, mengikat tali sepatu.
Aturan
Pada masa balita adalah saatnya dilakukan latihan mengendalikan diri atau biasa disebut
sebagai toilet training. Freud mengatakan bahwa pada usia ini individu mulai berlatih untuk
mengikuti aturan melalui proses penahanan keinginan untuk membuang kotoran.
Kognitif
Pada periode usia ini pemahaman terhadap obyek telah lebih ajeg. Balita memahami bahwa
obyek yang disembunyikan masih tetap ada, dan akan mengetahui keberadaan obyek tersebut
jika proses penyembunyian terlihat oleh mereka. Akan tetapi jika proses penghilangan obyek
tidak terlihat, balita mengetahui benda tersebut masih ada, namun tidak mengetahui dengan
tepat letak obyek tersebut. Balita akan mencari pada tempat terakhir ia melihat obyek
tersebut. Oleh karena itu pada permainan sulap sederhana, balita masih kesulitan untuk
membuat prediksi tempat persembunyian obyek sulap.
Kemampuan bahasa balita bertumbuh dengan pesat. Pada periode awal balita yaitu usia dua

8
tahun kosa kata rata-rata balita adalah 50 kata, pada usia lima tahun telah menjadi diatas 1000
kosa kata. Pada usia tiga tahun balita mulai berbicara dengan kalimat sederhana berisi tiga
kata dan mulai mempelajari tata bahasa dari bahasa ibunya.
Contoh kalimat:
Usia 24 bulan: "Haus, minum"
Usia 36 bulan: "Aku haus minta minum"
Sosial dan individu
Pada periode usia ini balita mulai belajar berinteraksi dengan lingkungan sosial diluar
keluarga, pada awal masa balita, bermain bersama berarti bersama-sama berada pada suatu
tempat dengan sebaya, namun tidak bersama-sama dalam satu permainan interaktif. Pada
akhir masa balita, bermain bersama berarti melakukan kegiatan bersama-sama dengan
melibatkan aturan permainan dan pembagian peran.
Balita mulai memahami dirinya sebagai individu yang memiliki atribut tertentu seperti nama,
jenis kelamin, mulai merasa berbeda dengan orang lain dilingkungannya. Mekanisme
perkembangan ego yang drastis untuk membedakan dirinya dengan individu lain ditandai
oleh kepemilikan yang tinggi terhadap barang pribadi maupun orang signifikannya sehingga
pada usia ini balita sulit untuk dapat berbagi dengan orang lain.
Proses pembedaan diri dengan orang lain atau individuasi juga menyebabkan anak pada usia
tiga atau empat tahun memasuki periode negativistik sebagai salah satu bentuk latihan untuk
mandiri.
Pendidikan dan pengembangan
Cara belajar yang dilakukan pada usia prasekolah ini melalui bermain serta rangsang dari
lingkungannya, terutama lingkungan rumah. Terdapat pula pendidikan di luar rumah yang
melakukan kegiatan belajar lebih terprogram dan terstruktur, walau tidak selamanya lebih
baik.
Bermain
Permainan peran, melatih kemampuan pemahaman sosial,
contoh: permainan sekolah, dokter-dokteran, rumah-rumahan, dll.
Permainan imajinasi, melatih kemampuan kreativitas anak.
Permainan motorik, melatih kemampuan motorik kasar dan halus.
Motorik kasar,
contoh: spider web, permainan palang, permainan keseimbangan dll.
Motorik halus,
contoh: meronce, mewarnai, menyuap.

5 Hal Tentang Balita yang Perlu Diketahui


Anda bisa saja berpikir anda kenal anak-anak anda. Tetapi, masih banyak hal yang perlu
dipelajari mengenai balita. Berikut adalah 5 hal tentang balita yang perlu diketahui oleh para
orangtua dari pengamatan Amy McCready, pendiri Positive Parenting Solutions:

1. Perhatikan si kecil, bukan hanya saat ia bikin salah

Mungkin terdengar seperti hal kecil, namun, menyisihkan (bukan menyisakan) waktu sekali
atau dua kali sehari untuk berkonsentrasi dan bermain dengan si kecil bisa bantu banyak
dirinya berkembang. Jangan salahkan ia jika banyak hal yang ia lakukan yang ia buat bikin
Anda marah. Ingat mengenai gambar-gambar di dinding yang ia lakukan berulang padahal
sudah diberitahu itu tidak boleh? Atau kebiasaan berulang untuk melompat di atas ranjang?

9
Ya, itu adalah semacam cara barunya untuk menarik perhatian Anda. Sisihkan waktu 15
menit saja per hari untuk menemaninya dengan sungguh-sungguh, tidak setengah hati sambil
main Blackberry. Anggaplah hal ini sebagai sebuah investasi. Waktu rutin yang Anda
sisihkan untuknya akan berbuah sebagai sikap baik dari si kecil, karena ia mendapatkan
atensi positif yang ia butuhkan.

2. Anak-anak butuh untuk menjadi raja atas dirinya

Ya, di usia balita, anak merasa ia sudah cukup besar untuk menjadi orang yang bisa berpikir
sendiri. Ia merasa sudah tahu banyak hal. Jika ia menolak apa pun yang anda tawarkan dan
meminta banyak hal, ia hanya ingin menunjukkan bahwa ia ingin menjadi raja atas dirinya.
Trik yang disarankan McCready adalah untuk menawarkan alternatif. Misal, tawarkan dia
beberapa pilihan mudah, seperti mau sereal atau roti untuk sarapan hari ini? Dengan memilih
apa yang ia mau, ia akan lebih mudah bekerja sama karena merasa sudah bisa memilih
sendiri.

3. Ingin tahu banyak hal

Di usia balita, anak-anak biasanya ingin melakukan banyak hal yang dilakukan oleh orang
dewasa. Ia pun ingin dinilai baik, membuat anda bangga, dan dipuji oleh anda karena bisa
mengerjakan banyak hal yang dilakukan oleh orang dewasa. Tentunya, ia akan butuh anda
untuk mengajarinya. Dengan instruksi sederhana, ia mungkin sudah bisa membantu anda
mencari pasangan dari kaus kaki yang baru selesai dicuci, menaruh alas piring di meja
makan, memberi makan si kucing, dan lainnya. Mengajarkan si kecil mengerjakan pekerjaan
yang lebih bermakna akan memberinya rasa kepercayaan diri dan kemandirian.

4. Tantrum

Jika si anak sudah mendapatkan perhatian yang ia butuhkan, seharusnya ia tak akan
menimbulkan tantrum dan kemarahan untuk menarik perhatian anda. Namun, jika ia masih
saja marah-marah dan melempar tantrum, pastikan ia berada di tempat yang aman serta tidak
mengganggu orang lain, biarkan ia mengeluarkan emosinya agar ia tahu bahwa perbuatannya
itu tak akan mendapatkan perhatian atau kekuasaan karena bisa melakukan hal tersebut.
Bukan hal menyenangkan untuk melempar tantrum saat tak ada penonton.

5. Ia butuh Anda untuk mendengarnya

Anak-anak belum bisa berkomunikasi dengan lancar selayaknya orang dewasa


berkomunikasi. Ada kalanya ia mengalami kesulitan untuk memberitahu apa yang ia rasa,
yang ia pikirkan, atau pun yang ia baru saja lihat. Saat ia berusaha bicara dengan anda,
bersabarlah, tenangkan diri dan pikiran, turunkan badan setingginya, lalu coba berbagai
strategi untuk memahami maksudnya (misal, menunjuk barang). Semakin anda bisa mengerti
caranya untuk berkomunikasi, baik secara verbal maupun bahasa tubuh, ia akan makin
percaya diri, dan makin berkurang pula tantrumnya.

10
Dengan memberinya perhatian dan kekuatan positif, anda tak hanya menghindari banyak
perilaku tak menyenangkan darinya, tetapi juga menyiapkannya untuk mandiri sepanjang
masa kecilnya.

9 Kesalahan dalam Mengasuh Anak Balita


Kadang anak balita sangat lucu dan menggemaskan, tetapi ada saat-saat mereka sangat
menjengkelkan dan anda ingin menghukumnya. Anak balita bukan seperti mainan yang
datang dengan buku manual dan cara pengoperasian. Menjadi orangtua, seperti sering
diucapkan oleh orang bijak, adalah pekerjaan yang tak pernah ada hentinya. Berikut adalah 9
kesalahan yang umum dilakukan orangtua kepada anak balitanya:

1. Tidak konsisten

Pernah menyaksikan program Nanny 911 atau Super Nanny? Terlihat betapa sulitnya si kecil
diajak kerja sama dan sulitnya mereka menurut jika anda tidak konsisten dengan perkataan?
Ya, anak balita harus mulai belajar mengenai konsekuensi sejak awal. Ia harus mengetahui
apa yang akan didapatkan jika tidak pergi mandi atau tidur pada waktu yang seharusnya.
Semakin konsisten dan bisa ditebak apa yang akan ia alami jika peraturan tak dipatuhi,
semakin mudah anak diajak kerja sama.

Maka, buatlah rutinitas yang tetap untuk si anak. Membuat konsistensi untuk orangtua atau
pengasuh anak bisa menjadi tantangan yang amat sulit. Upayakan untuk tidak mencoba
melakukan negosiasi dengan anak. Ragu-ragu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi
anak yang membandel dan tidak menuruti aturan? Duduklah bersama pasangan anda sejak
awal dan bicarakan bagaimana merespons anak yang tak mematuhi peraturan agar si anak
tidak mendapat pesan yang salah dan mengadu domba orangtuanya.

2. Terlalu fokus pada waktu keluarga

Memang, menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga adalah hal baik, tetapi ada
keluarga tertentu yang terlalu mengultuskan hal ini. Padahal, ada kalanya si anak ingin
merayakan waktu pribadi dengan orangtuanya, hanya berduaan atau bertigaan. Waktu
berduaan dan pribadi bisa menjadi hal menyenangkan bagi anak dan orangtuanya karena tak
ada persaingan di antara saudara kandung. Cara yang bisa mengikat hubungan orangtua
adalah bermain bersama.

3. Terlalu sering menawarkan bantuan

Beberapa orangtua menganggap si anak balita masih seperti bayi yang belum mengerti
banyak hal sehingga mereka lebih sering memberikan bantuan untuk segala macam. Sebelum
menawarkan bantuan, pikirkan kemungkinan bahwa si anak akan berpikir bahwa
memberikan bantuan kepada si kecil, itu berarti ia tak bisa melakukannya sendiri. Dengan
kata lain, si kecil tak berkompeten. "Orangtua yang menawarkan terlalu banyak bantuan
kepada anak balitanya bisa menyabotase kemampuan anak untuk percaya akan kemampuan

11
dirinya sendiri," terang Betsy Brown Braun, penulis You're Not the Boss of Me. Kita harus
membuat anak mampu berjuang sendiri. Tentu tak ada salahnya memberikan pujian dan
dorongan, seperti mengatakan, "Kamu pasti bisa melakukan hal ini."

4. Terlalu banyak bicara

Perlu diingat, anak balita bukanlah orang dewasa dalam tubuh kecil. Mereka belum paham
bagaimana cara berpikir dengan logika. Bayangkan, jika anak berusia 2 tahun minta kue, dan
si orangtua menjawab "tidak", lalu si anak merengek, si ibu menjelaskan bahwa sudah
saatnya makan malam, si ibu pun menarik kuenya, lalu mencoba menjelaskan lagi, dan si
anak pun merampas, lalu berulang terus.

Yang seharusnya dilakukan orangtua adalah setelah memberi tahu si anak untuk melakukan
sesuatu, jangan memaksa untuk menjelaskan segalanya atau mencoba melakukan kontak
mata. Jika si anak tak mau mematuhi, berikan peringatan dengan kata-kata sedikit atau hitung
hingga 3. Jika si anak masih melanggar, lakukan time out atau konsekuensi langsung. Tanpa
penjelasan!

5. Hanya menghidangkan makanan khusus anak

Si kecil sulit diberikan makanan orang dewasa? Atau ia hanya mau makan makanan ringan
untuk anak-anak? Hal ini bisa terjadi karena kebiasaan. Cobalah mengajak anak
mengonsumsi apa yang anda makan di meja makan jika ia seharusnya sudah siap makan
makanan berat. Banyak anak sudah mau mencoba makanan baru jika ia melihat ayah dan
ibunya menikmati makanan itu. Jika ia menolaknya, tetap sodorkan kembali. Beberapa anak
balita harus mencoba banyak tipe makanan hingga mereka memutuskan mereka menyukai
makanan itu.

Braun mengatakan, banyak anak suka keributan gara-gara makanan. Asalkan ada makanan
pada piring si anak, jangan khawatir. Jangan biarkan si anak menjadikan anda koki khusus
untuknya yang menyajikan makanan berbeda daripada yang lain, padahal ia sudah bisa
mengonsumsi makanan yang sama dengan orang dewasa.

6. Terlalu dini menyingkirkan tempat tidur bayi

Tempat tidur khusus untuk bayi bukan hanya dibuat untuk menjaga keamanan si bayi saat
tertidur, tetapi juga untuk membuat kebiasaan tidur yang sehat. Saat anak terlalu dini
dipindahkan ke kasur, mereka bisa sulit tidur, kadang di pengujung malam, mereka akan
datang ke kamar orangtuanya, minta ditemani. Saat yang tepat untuk memindahkan anak ke
tempat tidur besar adalah saat ia sudah mulai memanjat ingin keluar dari tempat tidurnya atau
saat ia sudah minta keluar dari tempat tidurnya tersebut. Kebanyakan anak sudah siap pindah
di antara rentang usia 2-3 tahun.

7. Memulai latihan menggunakan toilet terlalu awal

Beberapa orangtua memaksa anaknya menggunakan toilet saat dirasa si anak harusnya sudah
belajar, padahal bisa saja si anak belum mau, dan ini bisa mengakibatkan tarik ulur kekuatan.

12
Anak akan belajar menggunakan toilet saat mereka siap dan prosesnya tidak harus diburu-
buru. Namun, anda bisa siapkan langkah-langkahnya. Tunjukkan toilet kepada anak, beri tahu
fungsinya dan cara penggunaannya. Beri pujian jika si anak mau mencoba menggunakannya.

8. Tidak membatasi jam nonton televisi

Banyak anak balita menghabiskan waktunya untuk menonton televisi. Hal ini bisa
membuatnya sulit belajar. Studi mengatakan bahwa anak di bawah usia 2 tahun sebenarnya
belum paham apa yang ditayangkan di televisi atau monitor komputer. Coba buat si kecil
sibuk dengan kegiatan lain, seperti membaca bersama atau kegiatan kreatif lainnya. Coba
lakukan perbincangan dan mendengarkan agar si kecil bisa belajar berkomunikasi.

9. Mencoba menghentikan rengekan besar

Beberapa orangtua khawatir, jika si anak yang tak bisa diatur akan membuatnya terlihat
seperti orangtua yang tidak efektif. Namun, ada kalanya si anak akan melakukan rengekan
besar. Ketika mereka melakukan hal tersebut, percuma kita meminta mereka berhenti
melakukannya, bahkan jika hal tersebut terjadi di depan orang banyak.

"Saat tantrum terjadi di depan orang banyak, kita akan merasa seperti dihakimi. Kita merasa
ada papan neon di atas kita yang mengatakan bahwa kita adalah orangtua yang tak
kompeten," ungkap Braun. Padahal, para orangtua harusnya ingat, yang lebih penting adalah
apa yang terjadi pada si anak, bukan pendapat orang lain, apalagi orang asing. Jika ini terjadi,
cobalah membawa si anak ke lokasi yang sepi agar si kecil berhenti berteriak dan
mengeluarkan emosinya. Ketika hal ini selesai, Braun menyarankan agar anda menawarkan
pelukan untuk si anak dan jalani lagi hari anda.

Cara Membuat Balita Cerdas


1. Mengajak bicara. Ceritakan tentang apa saja padanya. Yang jelas, anak jadi tahu, dia
merupakan pusat perhatian anda. Hal ini akan mendukungnya di dalam perkembangan
pengetahuan bahasa dan pemikirannya.

2. Pilih buku anak-anak dengan huruf yang besar dan gambar yang jelas. Hal ini akan
menolong anak mengerti apa yang mereka lihat dan juga pelan-pelan belajar membaca kata.

3. Beli kaset/VCD/DVD berbahasa asing. Akan lebih mudah untuk anak balita menangkap
bahasa asing daripada di kemudian hari.

4. Beli software komputer untuk anak balita. Banyak software yang melatih kemahiran
menggunakan keyboard karena sebelum berusia 2,5 tahun anak cenderung sulit menggunakan
mouse.

5. Beli huruf abjad yang terbuat dari plastik dan simpan di kamar mandi. Setiap kali
mandi, perkenalkan huruf baru dan lakukan berulang-ulang hingga anak hafal. Dengan cara
itu, pelan-pelan anak akan mulai belajar adanya hubungan antara berbicara dan menulis di

13
dalam bahasa.

6. Selalu lakukan pengulangan. Banyak orang tua merasa frustrasi jika anaknya berulang-
ulang membaca satu halaman di buku yang sama atau menonton film/VCD yang itu-itu saja.
Jangan sebal dan panik! Ini merupakan suatu bagian penting di mana anak mengenal proses
informasi.

7. Beli huruf-huruf dan angka-angka yang terbuat dari magnet. Hal ini memungkinkan
anak bermain sambil belajar di depan lemari es. Kenalkan kata-kata yang baru setiap minggu.

8. Bacakan satu cerita setiap hari. Baca dengan intonasi dan ekspresi seperti kita sedang
bermain drama.

9. Ingat, pendidikan jasmani berhubungan langsung dengan pendidikan akademis.


Penelitian menunjukkan, perkembangan otak juga berhubungan erat dengan pendidikan
jasmani, seperti merangkak sebelum usia 1 tahun. Jika anda dan si balita sering melakukan
aneka kegiatan olahraga bersama, ini dapat menambah perkembangan fisik serta otak anak.
Entah itu berlari-lari, naik kuda, berenang, dan lainnya.

10. Beli satu set pelajaran dan pendidikan untuk anak balita. Termasuk di dalamnya
buku-buku, video, kaset, dan bagaimana caranya mengajarkannya. Baca dan belajarlah
berdua dengan anak. Membeli ensiklopedia bergambar khusus untuk anak pun tak ada
salahnya.

14
BAB II
ISI
1. KEBUTUHAN ENERGI & ZAT GIZI

Kebutuhan energi:
1. Tidak setinggi masa bayi (per kg BB)
2. Pedoman umum: 1.000 kkal + 100 kkal/tiap tahun umur
Kebutuhan protein:
1. 1 – 1 ½ gr/kg BB
2. Utamakan pada protein hewani
3. Variasikan dengan protein nabati
Kebutuhan mineral:
1. Kebutuhan kalsium cukup tinggi (800 mg/hari), penting untuk cegah osteoporosis,
pertumbuhan tulang dan gigi (susu, keju, yogurt, dll)
2. Perhatikan asupan zat besi (konsumsi daging, ayam, ikan, sereal, sayuran warna
hijau setiap hari)

Kecukupan Gizi Balita


Sebagaimana kelompok usia lain yang lebih tua, pemberian makanan pada balita harus
memenuhi kebutuhan balita itu yang meliputi kebutuhan kalori serta kebutuhan zat-zat gizi
utama yang meliputi 5 komponen dasar, yakni hidrat arang, protein, lemak, vitamin dan
mineral. Kesemua zat gizi ini memiliki fungsi masing-masing, serta harus terdapat bersamaan
pada suatu waktu.

Energi

Zat gizi yang mengandung energi terdiri dari protein, lemak dan karbohidrat. Dianjurkan
supaya jumlah energi yang diperlukan didapatkan dari 50-60% karbohidrat, 25-35% lemak,
selebihnya 10-15% protein.

Protein

Disarankan untuk memberi 2,5-3 gr/kg BB. Protein yang diberikan dianggap adekuat jika
mengandung semua asam amino esensial dalam jumlah yang cukup, mudah dicerna dan
diserap tubuh, serta harus yang berkualitas tinggi seperti protein hewani.

Mineral dan Vitamin

Susu sapi merupakan sumber yang baik bagi beberapa vitamin dan mineral seperti kalsium
dan fosfor. Tiap 500-600 ml susu mengandung kurang lebih 0,7-0,8 gram kalsium dan cukup
fosfor bagi pembentukan tulang dan gigi. Menu yang setiap harinya mengandung susu,
daging, ayam, ikan, telur, sayur, buah dan serealia (nasi, roti, kentang, mi) akan mengandung
cukup vitamin dan mineral.

15
Cairan

Pada umumnya anak sehat memerlukan 1000 – 1500 ml air setiap harinya. Pada keadaan
sakit seperti infeksi dengan suhu tubuh tinggi, diare atau muntah masukan cairan harus
ditingkatkan untuk menghindari kekurangan cairan (dehidrasi).

Kebutuhan Gizi Balita


Kebutuhan zat gizi pada balita disesuaikan dengan kecukupan gizi yang dianjurkan
disesuaikan dengan kelompok umur dan kemampuan anak menerima makanan yang
diberikan. Bila dikelompokkan ada tiga fungsi zat gizi dalam tubuh (Almatsier, 2003 : 8)
yaitu sebagai berikut:

1. Memberi energi

Zat-zat gizi yang dapat memberikan energi adalah karbohidrat, lemak dan protein. Ketiga zat
gizi ini termasuk ikatan organik yang mengandung karbon dapat dibakar, ketiga zat gizi ini
dinamakan zat pembakar.

2. Pertumbuhan pemeliharaan jaringan tubuh

Protein, mineral, dan air adalah bagian dari jaringan tubuh. Dalam fungsi ini ketiga zat gizi
tersebut dinamakan zat pembangun.

3. Mengatur proses tubuh

Protein, mineral, air dan vitamin diperlukan untuk mengatur proses tubuh. Dalam fungsi
mengatur proses tubuh ini. Protein, mineral, air dan vitamin dinamakan zat pengatur.

2.PEDOMAN GIZI SEIMBANG


Kembangkan kebiasaan makan yang baik:
1. Anak sejak dini diperkenalkan dengan makanan beragam
2. Kebiasaan makan orang tua sangat mempengaruhi anak
3. Hindari pengucapan ketidak senangan terhadap makanan di hadapan anak
Kesukaan anak:
1. Hormati kesukaan anak terhadap makanan tertentu sehingga pelan-pelan ubah ke
arah kebiasaan makan yg baik
Kembangkan keahlian makan:
1. Biarkan anak mencoba makan sendiri
2. Penekanan pada kerapian makan sehingga stress dan mengganggu pengembangan
kebiasaan makan yg baik
Minimumkan risiko obesitas:
1. Hindari makanan yang melebihi kebutuhan
2. Jika anak masih terasa lapar dapat diberi buah yang memberi rasa kenyang tapi
kekurangan energi
Promosikan kesehatan gigi:

16
1. Kurangi makanan gula / lengket yang berlebihan dan biasakan gosok gigi
setelahnya
2. Banyak konsumsi buah segar untuk mengurangi caries

Balita memiliki kebutuhan gizi yang berbeda dari orang dewasa. Mereka butuh lebih banyak
lemak dan lebih sedikit serat. Cermati perbedaan ini saat Ibu merencanakan menu makan
balita:

Gula & Garam - lupakan penggunaan gula dan garam pada menu bayi. Kalau pun ia sudah
berusia di atas 1 tahun, batasi penggunaannya. Konsumsi garam untuk balita tidak lebih dari
1/6 jumlah maksimum orang dewasa sehari atau kurang dari 1 gram. Cermati makanan balita
Ibu karena makanan orang dewasa belum tentu cocok untuknya. Kadang makanan Ibu terlalu
banyak garam atau gula, atau bahkan mengandung bahan pengawet atau pewarna buatan.

Porsi Makan - Porsi makan anak juga berbeda dengan orang dewasa. Mereka membutuhkan
makanan sumber energi yang lengkap gizi dalam jumlah lebih kecil namun sering.

Kebutuhan Energi & Nutrisi - Bahan makanan sumber energi seperti karbohidrat, protein,
lemak serta vitamin, mineral dan serat wajib dikonsumsi anak setiap hari. Atur agar semua
sumber gizi tersebut ada dalam menu sehari.

Susu Pertumbuhan – Susu sebagai salah satu sumber kalsium, juga penting dikonsumsi
balita. Sedikitnya balita butuh 350 ml/12 oz per hari. Susu Pertumbuhan dari Nutricia
merupakan susu lengkap gizi yang mampu memenuhi kebutuhan nutrisi anak usia 12 bulan
ke atas dan menjadi pelengkap menu buah hati ibu.

Menu seimbang adalah gabungan dari :

Karbohidrat

Seperti nasi, roti, sereal, kentang, atau mi. Kenalkan beragam karbohidrat secara bergantian.
Selain sebagai menu utama, karbohidrat bisa diolah sebagai makanan selingan atau bekal
sekolah seperti puding roti atau donat kentang yang lezat.

Buah dan sayur

Seperti pisang, pepaya, jeruk, tomat, dan wortel. Jenis sayuran beragam mengandung zat gizi
berbeda. Berikan setiap hari baik dalam bentuk segar atau diolah menjadi jus. Susu dan
produk olahan susu.

Susu pertumbuhan

Produk olahan susu seperti keju dan yoghurt. Pastikan balita Ibu mendapatkan asupan
kalsium yang cukup dari konsumsi susunya.

17
Protein

Seperti ikan, susu, daging, telur, kacang-kacangan. Tunda pemberiannya bila timbul alergi
atau ganti dengan sumber protein lain. Untuk vegetarian, gabungkan konsumsi susu dengan
minuman berkadar vitamin C tinggi untuk membantu penyerapan zat besi.

Lemak dan gula

Seperti yang terdapat dalam minyak, santan, dan mentega, roti, dan kue juga mengandung
omega 3 dan 6 yang penting untuk perkembangan otak. Pastikan balita Ibu mendapatkan
kadar lemak esensial dan gula yang cukup bagi pertumbuhannya. Namun perlu diperhatikan
bahwa lemak dan gula tidak digunakan sebagai pengganti jenis makanan lainnya (seperti
karbohidrat).

Makanan yang Harus Dihindari

Beberapa makanan perlu perhatian extra untuk dihindari, diantaranya:

Makanan yang terlalu berminyak, junk food, dan makanan berpengawet sebaiknya
dihindari. Gunakan bahan makanan segar untuk menu makan keluarga terutama untuk balita.

Penggunaan Garam. Bila memang diperlukan sebaiknya digunakan dalam jumlah sedikit.
Dan pilih garam beryodium yang baik untuk kesehatan. Bila membeli makanan dalam
kemasan, perhatikan juga kandungan garamnya.

Aneka jajanan di pinggir jalan yang tidak terjamin kebersihan dan kandungan gizinya.
Ibu bisa membuat sendiri ‘jajanan’ untuk balita Ibu hingga ia tidak tergiur untuk jajan.

Telur dan kerang. Karena seringkali menimbulkan alergi bahkan keracunan bila Ibu tidak
jeli memilih yang segar dan salah mengolahnya. Biasakan mengolah telur sampai matang
untuk menghindari bakteri yang dapat mengganggu pencernaan.

Kacang-kacangan. Karena bisa jadi juga bisa jadi pencetus alergi. Jangan berikan kacang
bila si balita belum terampil mengunyah karena bisa tersedak.

3. MASALAH GIZI

Berat badan kurang:


1. Masalah serius oleh karena sedang tumbuh dan berkembang
2. Mencerminkan kebiasaan makan yang buruk
3. Penanganannya difokuskan pada penyebab dan alternatif pemecahannya
Berat badan berlebih:
1. Jika tidak cepat diatasi dapat berlanjut sampai dari dewasa
2. Penyebabnya terlalu banyak makan, kurang gerak/olah raga
Karies gigi:

18
1. Terjadi karena terlalu banyak makan cemilan yang lengket dan mengandung gula
(permen, kue+krim, minuman manis, keripik kentang)
2. Makanan yang baik bagi gigi: buah segar, pop corn, yogurt, keju
Alergi makanan:
1. Lebih berisiko dengan keluarga yang mempunyai riwayat alergi
2. Dapat bersifat sementara / menetap
3. Alergi yang dapat reda sendiri: telur, kacang-kacangan, terigu
4. Alergi yang cenderung menetap: ikan, kerang
Anemia defisiensi gizi besi:
1. Terutama pada anak yang banyak mengkonsumsi susu sehingga kurang minat
menyantap makanan lain
2. Kurangi porsi susu, ganti dengan makanan/minuman yang terlalu banyak zat besi
atau membantu penyerapan zat besi
Pica:
1. Mengkonsumsi sesuatu yang bukan makanan (perca, kertas, minyak, dll)
2. Tidak berbahaya bagi kesehatan, kecuali menyantap zat toksik.

4.Karakteristik Menu & Contoh Menu Sehari Lengkap


Tinggi energi, protein, vitamin dan mineral
Dapat diterima oleh bayi dan anak dengan baik
Diproduksi setempat dan menggunakan bahan-bahan setempat
Mudah didapat dalam bentuk kering dengan demikian mudah disimpan dan praktis
penggunaannya
Ringkas tetapi mempunyai nilai gizi maksimum

Bahan makanan

Beberapa jenis bahan makanan dapat langsung dimakan, misalnya buah-buahan, susu.
Namun banyak bahan makanan yang memerlukan pengolahan terlebih dahulu sebelum dapat
dimakan, seperti beras, tepung, minyak, dll.

Hidangan makanan

Hidangan merupakan jenis makanan yang disajikan untuk dimakan. Disini peran orang tua
harus memutuskan apa yang anaknya harus makan, khususnya pada usia 1-3 tahun karena
pada usia ini anak bersifat konsumen pasif dan rentan terhadap penyakit gizi (KKP dan
anemia). Anak harus memutuskan seberapa banyak. Jadi tidak boleh memberlakukan
”habiskan makanan dipiringmu” tetapi ”cobalah sedikit segala makanan”. Sebaliknya pada
usia 4-6 tahun anak bersifat konsumen aktif (dapat memilih sendiri makanannya) sehingga
pada usia ini orang tua mulai dapat memberikan pendidikan gizi. Untuk mencukupi
kebutuhan zat gizi pada anak yang kurang dapat makan banyak saat jam makan, dapat
diberikan kudapan guna memberi tambahan protein, kalori dan nutrisi esensial. Kudapan
sebaiknya diberikan minimal 90 menit sebelum makan untuk menghindari pengaruhnya
terhadap nafsu makan. Sedangkan pada anak sekolah, mereka cenderung lebih aktif memilih
makanan yang ia sukai. Kebutuhan energi-nya-pun lebih besar karena aktifitas fisik lebih

19
banyak dan pertumbuhan lebih cepat terutama penambahan TB. Karena aktifitasnya diluar
rumah banyak ia lupa waktu makan, sehingga sarapan penting untuk mencegah hipoglikemi.

Contoh Menu Balita:


Pagi:
1. Bubur beras / roti dioles mentega
2. Abon sapi
3. Telur dadar siram daging cincang
4. Pisang
5. 1 gelas susu
Selingan:
Perkedel kentang ayam
Siang:
1. Nasi putih
2. Ikan goreng
3. Sayur bayam
4. Pepaya
5. 1 gelas yogurt
Selingan:
Brokoli saus keju
Sore atau malam:
1. Nasi putih
2. Ayam goreng
3. Sop jagung
4. Jeruk
5. Puding roti
6. 1 gelas susu

20
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN

Masalah gizi anak balita secara garis besar merupakan dampak dari ketidakseimbangan
antara asupan dan keluaran zat gizi (nutritional imbalance), yaitu asupan yang melebihi
keluaran atau sebaliknya, di samping kesalahan dalam memilih bahan makanan untuk
disantap. Buah dari ketergangguan ini utamanya berupa penyakit kronis, berat badan lebih
dan kurang, pica, karies dentis, serta alergi.

Penilaian status gizi anak balita, pada prinsipnya serupa dengan penilaian pada periode
kehidupan lain. Pemeriksaan yang perlu diperhatikan tentu saja bergantung pada bentuk
kelainan yang bertalian dengan kejadian penyakit tertentu. Kurang kalori protein, misalkan
lazim menjangkiti anak balita. Oleh karena itu, pemeriksaan terhadap tanda dan gejala ke
arah sana termasuk pula kelainan lain yang menyertainya, perlu dipertajam. Anamnesis
tentang asupan pangan harus mencantumkan pula (selain wawancara asupan pangan)
pertanyaan yang terkait dengan baik status gizi maupun kesehatan gigi: asupan fluor baik
secara sistemik maupun topikal. Sebagian makanan bersifat protektif terhadap enamel
sementara sisanya bertabiat merusak. Substansi yang berkemampuan mengurangi kepekaan
enamel terhadap proses demineralisasi ialah fluor, kokoa, fitat oksalat, dan protein susu.
Jeruk sitrun diyakini merangsang sekresi air ludah; sementara berbagai obat, radioterapi
kanker mulut dipastikan mereduksi pengaliran saliva. Anamnesis juga wajib mencantumkan
pola konsumsi obat karena kemungkinan interaksi antara makanan dan obat. Obat (baik yang
diperoleh dengan resep dokter maupun dibeli sendiri) berpotensi mengganggu pencernaan,
penyerapan, metabolisme, utilisasi, serta ekskresi berbagai zat gizi. Obat bahkan memiliki
kehandalan dalam mengganggu status gizi, sehingga berat badan pengguna beberapa obat
tertentu merosot, disamping terkondisi pula untuk menjadi anoreksia. Dari sini kelemahan
otot, anoreksia, dan gagal jantung kongestif gampang sekali muncul. Sebaliknya, tidak sedikit
zat (status) gizi yang juga berkemampuan mempengaruhi kerja obat dengan jalan mengubah
alur metabolisme dan fungsi obat; di samping zat gizi itu sendiri juga memiliki khasiat
farmakologi pada keadaan tertentu.

Pemeriksaan klinis diarahkan untuk mencari kemungkinan adanya bintik bitot, xerosis
konjungtiva, anemia, pembesaran kelenjar parotis, kheilosis angular, fluorosis, karies,
gondok, serta hepato dan splenomegali. Penilaian antropometris yang penting dilakukan ialah
penimbangan berat dan pengukuran tinggii badan, lingkar lengan, dan lipatan kulit triseps.
Uji biokimiawi yang penting ialah pemeriksaan kadar hemoglobin, serta pemeriksaan apusan
darah untuk malaria. Pemeriksaan tinja cukup hanya pemeriksaan occult blood dan telur
cacing saja.

21
2. SARAN
Pemantauan pertumbuhan anak dapat diamati secara cermat dengan menggunakan “Kartu
Menuju Sehat” (KMS) balita. Kartu menuju sehat berfunghsi sebagai alat bantu pemantauan
gerak pertumbuhan, bukan penilaian status gizi. Untuk mengatasi keaadaan anemia defisiensi
besi, di samping memberikan suplementasi zat besi, jika dianggap perlu, anak harus pula
diberi dan dibiasakan menyantap makanan yang mengandung banyak zat besi. Sementara,
sebagian susu diganti dengan air atau air jeruk. Meski tidak mengandung zat besi, air jeruk
kaya akan vitamin C yang dapat membantu penyerapan besi. Upaya mencegah karies, tentu
sudah jelas, ialah mengosok gigi dengan pasta gigi berfluorida, di samping tidak
mengkonsumsi makanan yang lengket atau bergula. Makanan cemilan yang baik untuk gigi
adalah buah segar, popcorn, kacang, keju, yogurt, kraker berselai kacang, air buah dan
sayuran, sayuran segar, permen tidak bergula, serealia tidak manis, dan asinan. Makanan
yang nonkariogenik lain adalah susu, kalsium, fosfor, magnesium, dan vitamin D yang
terkandung di dalam susu mengkondisi lingkungan protektif terhadap kemungkinan karies.
Disamping itu, susu coklat lebih mudah dibersihkan karena berbentuk cair daripada makanan
padat mengandung glukosa: perannya sebagai penggali lubang gigi amat kecil. Perlambatan
pada berat badan berlebih dapat dicapai dengan cara mengurangi makan sambil
memperbanyak olahraga. Langkah penanganan pada masalah berat badan kurang didasarkan
pada anak balita sering makan dengan makanan yang mengandung kalori atau zat gizi yang
tinggi.

22
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Gizi Indonesia. 1990, 14 (2) : 85-110.
Brown, Judith. E and Richard C Brown (1992). Finding The Cause of Child Malnutrition: a
Community Handbook. Bureau of Study and Research for The Promotion of The Health.
Republic of Zaire.
Dahro, Ance Mardiana. Kestabilan Yodium dalam Garam pada Berbagai Tipe dan Resep
Masakan. Penelitian Gizi dan Maknaan 1998, 19 : 131-138.

23