Anda di halaman 1dari 29

REFERAT

INTRA UTERINE FETAL DEATH


Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi

Pembimbing
dr. Anggraheni Prima Diana, Sp.OG

Disusun oleh :
Riani Nazila Kustriyono, S.Ked
J510170058

KEPANITERAAN KLINIK ILMU OBSTETRI DAN


GINEKOLOGI
RUMAH SAKIT UMUM IR.SOEKARNO SUKOHARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2018

1
REFERAT
INTRA UTERINE FETAL DEATH

Yang diajukan Oleh :

Riani Nazila Kustriyono, S.Ked


J510170058

Telah disetujui dan disahkan oleh Tim Pembimbing Ilmu Obstetri dan Ginekologi
Program Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Surakarta

Pembimbing
Nama : dr. Anggraheni Prima Diana, Sp.OG (.................................)

Dipresentasikan di hadapan
Nama : dr. Anggraheni Prima Diana, Sp.OG (.................................)

1
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................... 1
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................. 1
DAFTAR ISI ........................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 4
1. Definisi ......................................................................................................... 4
2. Faktor Risiko ................................................................................................ 4
3. Etiologi ......................................................................................................... 5
4. Klasifikasi .................................................................................................. 14
5. Diagnosis .................................................................................................... 15
6. Komplikasi ................................................................................................. 20
7. Penatalaksanaan ......................................................................................... 21
8. Pencegahan ................................................................................................. 25
BAB III KESIMPULAN ....................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 27

2
BAB I
PENDAHULUAN

Intrauterine fetal death (IUFD) menurut ICD 10 – International Statistical


Classification of Disease and Related Health Problems adalah kematian fetal atau
janin pada usia gestasional ≥ 22 minggu.1 WHO dan American College of
Obstetricians and Gynecologist (1995) menyatakan Intra Uterine Fetal Death
(IUFD) ialah janin yang mati dalam rahim dengan berat badan 500 gram atau lebih,
atau kematian janin dalam rahim pada kehamilan 20 minggu atau lebih.2,3

Di Negara berkembang, angka lahir mati ini telah menurun dari 15-16 per
1000 kelahiran total pada tahun 1960-an menjadi 7-8 per 1000 kelahiran pada tahun
1990. Dari data the National Vital Statistics Report tahun 2005 menunjukkan bahwa
rata-rata jumlah kematian janin dalam kandungan terjadi sekitar 6.2 per 1000
kelahiran.2

Untuk mendiagnosa suatu kematian janin atau Intra Uterine Fetal Death
(IUFD) dapat ditegakkan dengan anamnesa, pemeriksaan fisik inspeksi, palpasi dan
auskultasi dengan doppler. Penyebab terbanyak terjadinya IUFD disebabkan oleh
janin yang di kandung oleh ibu yaitu sekitar 20-40%. 3,5

Bila terjadi kematian janin dalam rahim maka pilihan perawatannya adalah
menunggu terjadinya persalinan spontan atau dilakukan tindakan induksi
persalinan. Sekitar 90% perempuan akan melahirkan spontan pada minggu ketiga
setelah janin meninggal dalam kandungan.8

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi
Intrauterine fetal death (IUFD) menurut ICD 10 – International
Statistical Classification of Disease and Related Health Problems adalah
kematian fetal atau janin pada usia gestasional ≥ 22 minggu.1 WHO dan
American College of Obstetricians and Gynecologist (1995) menyatakan Intra
Uterine Fetal Death (IUFD) ialah janin yang mati dalam rahim dengan berat
badan 500 gram atau lebih, atau kematian janin dalam rahim pada kehamilan
20 minggu atau lebih.1,3 The US National Center for Health Statistics
menyatakan bahwa Intrauterine fetal death adalah kematian pada fetus dengan
berat badan 350 gram atau lebih dengan usia kehamilan 20 minggu atau lebih.
2. Faktor Risiko
Beberapa studi yang dilakukan pada akhir-akhir ini melaporkan sejumlah
faktor risiko kematian fetal, khususnya IUFD. Peningkatan usia maternal juga
akan meningkatkan risiko IUFD. Wanita diatas usia 35 tahun memiliki risiko
40-50% lebih tinggi akan terjadinya IUFD dibandingkan dengan wanita pada
usia 20-29 tahun. Risiko terkait usia ini cenderung lebih berat pada pasien
primipara dibanding multipara. Alasan yang mungkin dapat menjelaskan
sebagian risiko terkait usia ini adalah insiden yang lebih tinggi akan terjadinya
kehamilan multiple, diabetes gestasional, hipertensi, preeklampsia dan
malformasi fetal pada wanita yang lebih tua.
Merokok selama kehamilan berhubungan dengan sejumlah risiko
kematian fetal. Sejumlah hubungan kausatif juga telah dideskripsikan.
Merokok meningkatkan risiko retardasi pertumbuhan intrauterine dan solusio
plasenta. Merokok menjadi faktor kausatif utama stillbirth khususnya pada
kehamilan prematur.
Berat maternal pada kunjungan antenatal care juga mempengaruhi risiko
IUFD. Hubungan antara indeks massa tubuh (IMT) dan IUFD telah dilaporkan
oleh Little dan Cnattingius. Stephansson dkk dalam studi kasus kontrol

4
terhadap 700 primipara dengan IUFD dan 700 kontrol melaporkan bahwa
primipara yang mengalami kelebihan berat badan (IMT 25-29,9) ternyata
memiliki risiko dua kali lipat akan terjadinya IUFD dibandingkan wanita
dengan IMT ≤ 19,9. Risiko ini akan jauh berlipat pada primipara obesitas (IMT
≥ 30). Kenaikan berat badan yang terjadi selama kehamilan tampaknya tidak
memperngaruhi risiko IUFD. 1
Faktor sosial seperti status sosioekonomi dan edukasi juga
mempengaruhi risiko terjadinya IUFD. Mereka yang berada dalam status
sosioekonomi rendah ternyata memiliki risiko dua kali lipat menderita IUFD.1
3. Etiologi
Pengetahuan akan etiologi stillbirth menjadi penting untuk mencapai
penurunan angka mortalitas perinatal. Pemahaman kausa IUFD yang lebih baik
sangat dibutuhkan untuk perencanaan kesehatan yang adekuat dan penentuan
prioritas dalam kesehatan perinatal.1

Persentase penyebab IUFD. 6

5
Faktor Maternal 3,7
 Kehamilan post-term (≥ 42 minggu).
 Diabetes Mellitus tidak terkontrol
 Systemic lupus erythematosus
 Infeksi
 Hipertensi
 Pre-eklampsia
 Eklampsia
 Hemoglobinopati
 Penyakit rhesus
 Ruptura uteri
 Antiphospholipid sindrom
 Hipotensi akut ibu
 Kematian ibu
 Umur ibu tua
Faktor fetal
 Kehamilan ganda
 Intrauterine growth restriction (Perkembangan Janin Terhambat)
 Kelainan kongenital
 Anomali kromosom
 Infeksi (Parvovirus B-19, CMV, listeria)
Faktor Plasenta
 Cord accident (kelainan tali pusat)
 Abruptio Plasenta (lepasnya plasenta)
 Insufisiensi plasenta
 Ketuban pecah dini
 Vasa previa
 Perdarahan Feto-maternal

6
Sebagian besar informasi kausa yang mendasari terjadinya IUFD
diperoleh dari audit perinatal. Beberapa studi melaporkan kausa spesifik IUFD
sebagai berikut :

a. Intrauterine Growth Restriction (IUGR)

Hubungan berat badan kelahiran rendah dan kematian perinatal


juga telah ditegaskan. Janin IUFD juga rata-rata memiliki berat badan yang
kurang dibanding janin normal pada tingkat usia gestasional yang sama.
Hal ini disebabkan karena proses restriksi pertumbuhan yang mungkin
berbagi kausa yang sama dengan insufisiensi plasenta.1

IUGR adalah penyebab penting IUFD. IUGR diketahui


berhubungan dengan kehamilan multipel, malformasi kongenital, kelainan
kromosom fetal dan preeklampsia. Dalam studi Gardosi dkk, dilaporkan
bahwa 41% kasus IUFD adalah janin yang kecil untuk usia gestasional dan
kelompok ini juga sangat berisiko memicu terjadinya persalinan prematur.
Pada kehamilan postterm, atau usia gestasi lebih dari 41 minggu, risiko
IUFD juga semakin meningkat.1

b. Penyakit Medis Maternal

Diabetes melitus tipe 1 dan 2 dapat meningkatkan risiko IUFD.


Risiko IUFD pada wanita diabetes tipe 1 dilaporkan 4-5 kali lebih tinggi
dibandingkan populasi non diabetik. Sebagian besar IUFD terkait diabetes
terjadi akibat kendali glikemi yang tidak baik dan komplikasi makrosomia,
polihidramnion, restriksi pertumbuhan janin intrauterine dan pre-
eklampsia. Faktor maternal (pada ibu) yang berkaitan dengan peningkatan
angka kejadian makrosomia adalah obesitas, hiperglikemia, usia tua, dan
multiparitas (jumlah kehamilan >4). Makrosomia memiliki risiko
kematian janin saat dilahirkan karena ketika melahirkan, bahu janin dapat
nyangkut.1

Penyakit hipertensif (hipertensi gestasional, preeklampsia,


hipertensi kronis dan superimposed pre-eklampsia) merupakan komplikasi

7
medis yang sering dijumpai pada kehamilan dan memicu morbiditas dan
mortalitas yang bermakna.1

Peningkatan IUFD juga dilaporkan pada waniita dengan defisiensi


antitrombin herediter, resistensi protein C teraktivasi dan defisiensi protein
C dan protein S. Sindrom antibodi fosfolipid dengan antibodi fosfolipid
didapat juga berhubungan erat dan IUFD terkait dengan gangguan
implantasi, trombosis dan infark pada plasenta. Sindrom fosfolipid ini
dapat terjadi dalam hubungannya dengan penyakit lain misalnya SLE.

Hipotiroidism dan hipertiroidism juga dilaporkan sebagai faktor


kausatif pada IUFD.

Kolestasis intrahepatik pada kehamilan dengan pruritus dan


peningkatan kadar asam empedu juga berhubungan erat dengan risiko
mortalitas janin. Hingga saat ini, masih diperdebatkan apakah outcome
perinatal dapat ditingkatkan dengan intervensi aktif atau tatalaksana.1

c. Kelainan kromosom dan Kelainan Kongenital Janin

Aberasi kromosom meningkatkan risiko terjadinya IUFD.


Kuleshov dkk melaporkan bahwa sekitar 14% IUFD terjadi akibat
kelainan kariotipe. Sejumlah kelainan yang paling sering dijumpai memicu
IUFD ialah trisomi autosom 21, 18 dan 13 sedangkan kelainan kariotipe
yang paling sering ialah 45x.1

Peningkatan outcome kehamilan yang buruk baik IUFD maupun


restriksi pertumbuhan intra uterine, persalinan prematur ternyata
berhubungan dengan confined placental mosaicism (CPM), yang ditandai
oleh adanya ketidaksesuaian antara kariotipe janin dan plasenta. Trisomi
kromosom spesifik lebih sering dijumpai pada CPM daripada kasus
lainnya dengan trisomi 7,16 dan 18 yang makin banyak terjadi.1

Walaupun aberasi kromosom mendominasi, sejumlah janin dapat


meninggal akibat malformasi atau sindrom dari etiologi lainnya. Sebagian
besar janin dengan malformasi lethal mengalami IUFD akibat defek

8
jantung kongenital, hipoplasia paru, dan penyakit genetik lethal seperti
sindrom Potter, anensefali dan hernia diafragmatika.1

d. Komplikasi Plasenta dan Tali pusat

Penyebab kematian janin terkait dengan adanya abnormalitas pada


plasenta, tali pusat dan membran plasenta.

1) Plasenta ; Pada kehamilan, janin yang normal mendapatkan


sirkulasi dari pembuluh darah umbilikal dengan jumlah 350 – 400
ml/menit.8
2) Tali Pusat ; terdiri dari 2 arteri umbilikalis dan 1 vena umbilikalis
allantois dan mesoderm primer. Panjang tali pusat normal ialah 50
– 60 cm dengan diameter 12 mm. Hal ini berkaitan dengan aktivitas
janin di dalam dua trimeter pertama.
Tali pusat abnormal : Tali pusat panjang : > 100 cm
Tali pusat pendek : < 30 cm.

Sejumlah kelainan plasenta berhubungan dengan IUFD misalnya


inflamasi membran, kompresi tali pusat, lesi akibat insufisiensi vaskular
uteroplasental yang tampak sebagai infark dan arteriopati desidua dan
tanda adanya solusio. Komplikasi tali pusat juga dilaporkan memicu IUFD
secara langsung.1

Kompresi tali pusat dapat menghambat aliran darah dan oksigen ke


janin, sehingga dapat menyebabkan iskemik, hipoksia dan kematian.

9
Kompresi tali pusat.9

Lilitan tali pusat juga pernah dilaporkan sebagai salah satu


penyebab kematian pada janin. Gambar di bawah ini menunjukkan
perubahan warna pada tubuh janin yang berhubungan dengan keadaan
hipoksia janin yaitu kekurangan oksigen akibat tertekannya arteri
umbilikalis. 9

Lilitan tali pusat.9

Perdarahan fetomaternal masif (FMH) juga berhubungan dengan


IUFD dan anomali fetal. Samadi dkk melaporkan angka kejadian IUFD

10
akibat FMH sebesar 4%.1 Trauma terhadap uterus dan solusio plasenta
dapat memicu terjadinya transfusi fetomaternal.

Solusio plasenta atau disebut juga abruptio placenta atau ablasio


placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya
di uterus, dilaporkan sebanyak 12 % menyebabkan IUFD.10

Abruptio Plasenta. 9

e. Infeksi

Plasenta dan janin dapat terinfeksi baik melalui transmisi


transplasental (hematogen) maupun melalui ascending infection dari
vagina. Proporsi IUFD terkait infeksi dilaporkan berkisar 6-15 % dari
seluruh kasus IUFD.

Beberapa agen dipertimbangkan berperan penting terhadap


kematian janin. Infeksi virus kongenital oleh parvovirus B19 dan
cytomegalovirus (CMV) juga sering dilaporkan sebagai pemicu kematian
janin. Infeksi beberapa enterovirus juga dilaporkan berhubungan dengan
IUFD walaupun lebih jarang.

11
Rubela maternal pada awal kehamilan juga dapat memicu IUFD.
Pada kasus yang jarang, IUFD juga dapat disebabkan oleh infeksi
intrauterine dari herpes simpleks. Infeksi maternal primer oleh
Toxoplasma gondii juga dapat ditransmisikan menuju janin dan memicu
toksoplasmosis kongenital bahkan kematian janin. Beberapa agen
bakterial yang berhubungan dengan mortalitas perinatal ialah
Streptococcus grup B, Escherichia coli, Listeria monocytogenes, lues,
mycoplasma genital dan Ureaplasma urealyticum. Korioamnionitis akibat
infeksi kandida juga dipertimbangkan dapat memicu IUFD.

Malaria juga terkenal dapat memicu IUFD. Kematian janin


intrauterin dapat terjadi akibat hiperpireksi, anemi berat, penimbunan
parasit di dalam plasenta yang menyebabkan gangguan sirkulasi ataupun
akibat infeksi trans-plasental.

Kematian janin akibat sepsis maternal berat dengan trombosis pada


plasenta dan IUFD juga sering dilaporkan.1 Infeksi dapat memicu

12
pecahnya ketuban sebelum waktunya yang mengakibatkan persalinan pre-
term bahkan dapat berakhir dengan kematian janin.

Penyebaran infeksi pada ketuban pecah dini. 9

f. Kausa lain yang tidak dapat dijelaskan.

Proporsi IUFD yang tidak dapat diidentifikasi kausanya


diperkirakan berkisar 12-50%. Faktor risiko pada kematian yang tidak
dapat dijelaskan ini juga berbeda dibandingkan dengan IUFD dengan
kausa yang spesifik. Menurut Froen dkk, IUFD mendadak ini cenderung
meningkat seiring usia gestasional, usia maternal, pemakaian rokok yang
tinggi, edukasi yang rendah dan obesitas. Asap rokok telah terbukti
menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah, meningkatkan risiko
sindrom kematian bayi mendadak atau sudden infant death syndrome,
serta mengakibatkan bibir sumbing, kelainan jantung dan gangguan
lainnya. Primipara dan riwayat IUFD sebelumnya tidak berhubungan

13
dengan IUFD ini dalam studi tersebut. Huang dkk melaporkan dari 196
studi IUFD dari tahun 1961-1974 dan 1978-1996 bahwa faktor independen
yang terkait dengan IUFD yang tidak dapat dijelaskan meliputi berat pra
kehamilan lebih dari 68 kg, rasio berat kelahiran 0,75 dan 0,85 atau lebih
dari 1,15, kunjungan antenatal yang lebih jarang, primiparitas, paritas lebih
dari tiga, status sosioekonomi rendah dan usia maternal lebih dari 40
tahun.1
4. Klasifikasi
Menurut United States National Center for Health Statistic Kematian
janin dapat dibagi menjadi 4 golongan, yaitu: 3,8
a. Golongan I : kematian sebelum massa kehamilan mencapai 20 minggu
penuh (early fetal death)
b. Golongan II : kematian sesudah ibu hamil 20-28 minggu (intermediate
fetal death)
c. Golongan III : kematian sesudah masa kehamilan >28 minggu (late fetal
death)
d. Golongan IV : kematian yang tidak dapat digolongkan pada ketiga
golongan di atas.

Bila janin mati dalam kehamilan yang telah lanjut terjadilah perubahan -
perubahan sebagai berikut : 3,8
a. Rigor mortis (tegang mati)
Berlangsung 2,5 jam setelah mati, kemudian lemas kembali.
b. Maserasi grade 0 (durasi < 8 jam)
Kulit kemerahan ‘setengah matang’
c. Maserasi grade I (durasi > 8 jam)
Timbul lepuh-lepuh pada kulit, mula-mula terisi cairan jernih tapi
kemudian menjadi merah dan mulai mengelupas.
d. Maserasi grade II (durasi 2-7 hari)
Kulit mengelupas luas, efusi cairan serosa di rongga toraks dan abdomen.
Lepuh-lepuh pecah dan mewarnai air ketuban menjadi merah coklat.

14
.

e. Maserasi grade III (durasi >8 hari)


Hepar kuning kecoklatan, efusi cairan keruh, mungkin terjadi mumifikasi.
Badan janin sangat lemas, hubungan antara tulang-tulang sangat longgar
dan terdapat oedem dibawah kulit.

5. Diagnosis

15
Manifestasi Klinis Dan Diagnosis IUFD3,5
1) Anamnesis :
 Pasien mengaku tidak lagi merasakan gerakan janinnya.
 Perut tidak bertambah besar, bahkan mungkin mengecil
(kehamilan tidak seperti biasanya)
 Perut sering menjadi keras dan merasakan sakit seperti ingin
melahirkan
 Penurunan berat badan
2) Pemeriksaan Fisik :
 Inspeksi
Tinggi fundus uteri berkurang atau lebih rendah dari usia
kehamilannya. Tidak terlihat gerakan-gerakan janin yang
biasanya dapat terlihat pada ibu yang kurus.
 Palpasi
Tonus uterus menurun, uterus teraba flaksid. Tidak teraba
gerakan-gerakan janin.
 Auskultasi
Tidak terdengarnya denyut jantung janin setelah usia kehamilan
10-12 minggu pada pemeriksaan ultrasonic Doppler merupakan
bukti kematian janin yang kuat.
3) Pemeriksaan laboratorium.
Penurunan kadar gonadotropin korionik manusia (Human Chorionis
Gonadotropin/ HCG) mungkin dapat membantu diagnosis dini selama
kehamilan.
4) Pada foto radiologik dapat dilihat adanya :
 Tulang-tulang tengkorak tutup menutupi (tanda Spalding)
yaitu tumpang tindih (overlapping) secara ireguler tulang
tengkorak, yang terjadi akibat likuefaksi massa otak dan
melemahnya struktur ligamentosa yang membentuk tengkorak.
Biasanya tanda ini muncul 7 hari setelah kematian. Namun ciri-

16
ciri yang sama dapat ditemukan pada kehamilan ekstrauterin
dengan janin hidup.

Spalding’s sign. 11

 Tulang punggung janin sangat melengkung (tanda Naujokes)


 Hiperekstensi kepala tulang leher janin (tanda Gerhard)
 Ada gelembung-gelembung gas pada badan janin (tanda Robert)
 Femur length yang tidak sesuai dengan usia kehamilan
Digunakan untuk menentukan usia kehamilan dan adanya
kelainan dari system skelet
Femur Length Chart

17
5) Bila janin yang mati tertahan 5 minggu atau lebih, kemungkinan
hypofibrinogenemia 25%.
6) Untuk diagnosis pasti penyebab kematian sebaiknya dilakukan otopsi
janin, pemeriksaan plasenta serta selaput. Diperlukan evaluasi secara
komprehensif untuk mencari penyebab kematian janin termasuk
hal-hal yang berhubungan dengan penyakit maternal, yaitu perlunya
diperiksa kadar TSH, HbA1c dan TORCH. Sehingga dapat
mengantisipasi pada kehamilan selanjutnya.7
Protokol Pemeriksaan pada janin dengan IUFD menurut Cunningham dan
Hollier (1997)8:

1. Deskripsi bayi
 malformasi
 bercak/ noda
 warna kulit – pucat, pletorik
 derajat maserasi
2. Tali pusat
 prolaps
 pembengkakan - leher, lengan, kaki
 hematoma atau striktur
 jumlah pembuluh darah
 panjang tali pusat
3. Cairan Amnion
 warna – mekoneum, darah
 konsistensi
 volume
4. Plasenta
 berat plasenta
 bekuan darah dan perlengketan
 malformasi struktur – sirkumvalata, lobus aksesorius
 edema – perubahan hidropik

18
5. Membran amnion
 bercak/noda
 ketebalan

Tabel 1. Diagnosis dan Diagnosis Banding IUFD

Gejala dan Tanda


Gejala dan Tanda yang Kemungkinan
yang Kadang-
Selalu Ada Diagnosis
Kadang Ada

Gerakan janin berkurang Syok, uterus Solusio Plasenta


atau hilang, nyeri perut tegang/kaku, gawat
hilang timbul atau janin atau DJJ tidak
menetap, perdarahan terdengar
pervaginam sesudah
hamil 22 minggu

Gerakan janin dan DJJ Syok, perut kembung/ Ruptur Uteri


tidak ada, perdarahan, cairan bebas intra
nyeri perut hebat abdominal, kontur
uterus abnormal,
abdomen nyeri,
bagian-bagian janin
teraba, denyut nadi ibu
cepat
Gerakan janin berkurang Cairan ketuban Gawat Janin
atau hilang, DJJ bercampur mekonium
abnormal
(<100/mnt/>180/mnt)

19
Gerakan janin/DJJ Tanda-tanda kehamilan IUFD
hilang berhenti, TFU
berkurang, pembesaran
uterus berkurang

6. Komplikasi3
Komplikasi yang dapat terjadi ialah trauma psikis ibu ataupun keluarga, apalagi
bila waktu antara kematian janin dan persalinan berlangsung lama. Bila terjadi
ketuban pecah dapat terjadi infeksi. Terjadi koagulopati bila kematian janin
lebih dari 2 minggu.

1. Trauma psikis
Dampak psikologis dapat timbul pada ibu setelah lebih dari 2 minggu
kematian janin yang dikandungnya.
2. Disseminated Intravascular Coagulopathy (DIC)
Janin yang mati  kebocoran tromboplastin dan bahan seperti
tromboplastin yang melintasi plasenta menuju sirkulasi ibu konsumsi
faktor-faktor koagulasi termasuk factor V,VIII, protrombin,dan trombosit
 manifestasi klinis koagulopati intravascular diseminata (DIC)
3. Ensefalomalasia multikistik
Hal ini dapat terjadi pada kehamilan kembar, terutama kehamilan
monozigotik dimana memiliki sirkulasi bersama antara janin kembar yang
masih hidup dengan yang salah satu janinnya meninggal. Dalam hal ini
sering kali mengakibatkan kematian segera janin lainnya. Jika janin kedua
masih dapat bertahan hidup, maka janin tersebut memiliki risiko tinggi
terkena ensefalomalasia multikistik.
Bila salah satu bayi kembar ada yang meninggal dapat terjadi
embolisasi bahan tromboplastik dari janin yang meninggal melalui
komunikasi vaskular plasenta ke janin yang masih hidup dengan atau tanpa
perubahan hemodinamik (hipotensi) pada saat kematian janin seingga
terjadi infark cedera selular pada otak (ensefalomalasia multikistik), usus,
ginjal, dan paru3.

20
4. Perdarahan Post Partum
Hipofibrinogenemia (kadar fibrinogen < 100 mg%), biasa pada 4-5
minggu sesudah IUFD (kadar normal fibrinogen pada wanita hamil adalah
300-700mg%). Akibat kekurangan fibrinogen maka dapat terjadi hemoragik
post partum. Partus biasanya berlangsung 2-3 minggu setelah janin.

7. Penatalaksanaan8,12
Kematian janin dapat terjadi akibat gangguan pertumbuhan janin, gawat
janin atau kelainan bawaan atau akibat infeksi yang tidak terdiagnosis
sebelumnya sehingga tidak diobati.8

1. Jika pemeriksaan Radiologik tersedia, konfirmasi kematian janin setelah


5 hari. Tanda-tandanya berupa overlapping tulang tengkorak, hiperfleksi
columna vertebralis, gelembung udara didalam jantung dan edema scalp.

2. USG merupakan sarana penunjang diagnostik yang baik untuk


memastikan kematian janin dimana gambarannya menunjukkan janin
tanpa tanda kehidupan, tidak ada denyut jantung janin, ukuran kepala
janin dan cairan ketuban berkurang.

3. Dukungan mental emosional perlu diberikan kepada pasien. Sebaiknya


pasien selalu didampingi oleh orang terdekatnya. Yakinkan bahwa
kemungkinan besar dapat lahir pervaginam.

4. Pilihan cara persalinan dapat secara aktif dengan induksi maupun


ekspektatif, perlu dibicarakan dengan pasien dan keluarganya sebelum
keputusan diambil.

5. Bila pilihan penanganan adalah ekspektatif maka tunggu persalinan


spontan hingga 2 minggu dan yakinkan bahwa 90 % persalinan spontan
akan terjadi tanpa komplikasi

6. Jika trombosit dalam 2 minggu menurun tanpa persalinan spontan,


lakukan penanganan aktif.

7. Jika penanganan aktif akan dilakukan, nilai servik yaitu

21
a. Jika servik matang, lakukan induksi persalinan dengan oksitosin
atau prostaglandin.

b. Jika serviks belum matang, lakukan pematangan serviks dengan


prostaglandin atau kateter foley, dengan catatan jangan lakukan
amniotomi karena berisiko infeksi

c. Persalinan dengan seksio sesarea merupakan alternatif terakhir

8. Jika persalinan spontan tidak terjadi dalam 2 minggu, trombosit menurun


dan serviks belum matang, matangkan serviks dengan misoprostol:

a. Tempatkan misoprostol 25 mcg dipuncak vagina, dapat diulang


sesudah 6 jam

b. Jika tidak ada respon sesudah 2x25 mcg misoprostol, naikkan dosis
menjadi 50mcg setiap 6 jam. Jangan berikan lebih dari 50 mcg setiap
kali dan jangan melebihi 4 dosis.

9. Jika ada tanda infeksi, berikan antibiotika untuk metritis.

10. Jika tes pembekuan sederhana lebih dari 7 menit atau bekuan mudah
pecah, waspada koagulopati

11. Berikan kesempatan kepada ibu dan keluarganya untuk melihat dan
melakukan kegiatan ritual bagi janin yang meninggal tersebut.

12. Pemeriksaan patologi plasenta adalah untuk mengungkapkan adanya


patologi plasenta dan infeksi.

22
SKEMA PENATALAKSANAAN IUFD1

Non-Interferensi

2 minggu

Kasus refrakter atau kasus Partus Spontan

dimana terminasi kehamilan dalam 2 minggu

diindikasikan (80%)

 Psikologis
 Infeksi
 Penurunan kadar fibrinogen
 Retensi janin lebih dari 2 minggu
Rawat di RS, Induksi persalinan

Servik matang Servik belum matang

Infus Oksitosin Prostaglandin gel

Diulang setelah 6-8 jam

Gagal gagal

Oksitosin diulang dengan Ditambah dengan infus Oksitosin

Ditambah Prostaglandin/vaginam

23
METODE-METODE TERMINASI

1. Terminasi harus selalu dilakukan dengan induksi, yaitu :

 Infus Oksitosin
Cara ini sering dilakukan dan efektif pada kasus-kasus dimana
telah terjadi pematangan serviks. Pemberian dimulai dengan 5-10 unit
oksitosin dalam 500 ml larutan Dextrose 5% melalui tetesan infus
intravena. Dua botol infus dapat diberikan dalam waktu yang
bersamaan. Pada kasus yang induksinya gagal, pemberian dilakukan
dengan dosis oksitosin dinaikkan pada hari berikutnya. Infus dimulai
dengan 20 unit oksitosin dalam 500 ml larutan Dextrose 5% dengan
kecepatan 30 tetes per menit.
Bila tidak terjadi kontraksi setelah botol infus pertama, dosis
dinaikkan menjadi 40 unit. Resiko efek antidiuretik pada dosis oksitosin
yang tinggi harus dipikirkan, oleh karena itu tidak boleh diberikan lebih
dari dua botol pada waktu yang sama.
Pemberian larutan ringer laktat dalam volume yang kecil dapat
menurunkan resiko tersebut. Apabila uterus masih refrakter, langkah
yang dapat diulang setelah pemberian prostaglandin per vaginam.
Kemungkinan terdapat kehamilan sekunder harus disingkirkan bila
upaya berulang tetap gagal menginduksi persalinan.
 Prostaglandin
Pemberian gel prostaglandin (PGE2) per vaginam di daerah
forniks posterior sangat efektif untuk induksi pada keadaan dimana
serviks belum matang. Pemberian dapat diulang setelah 6-8 jam.
Langkah induksi ini dapat ditambah dengan pemberian oksitosin.
2. Operasi Sectio Caesaria (SC)

Pada kasus IUFD jarang dilakukan. Operasi ini hanya dilakukan


pada kasus yang dinilai dengan plasenta praevia, bekas SC ( dua atau lebih)
dan letak lintang.

24
8. Pencegahan3, 8
Upaya mencegah kematian janin, khususnya yang sudah atau mendekati
aterm adalah bila ibu merasa gerakan janin menurun, tidak bergerak, atau
gerakan janin terlalu keras, perlu dilakukan pemeriksaan ultrasonografi.
Perhatikan adanya solusio plasenta. Pada gemelli dengan T+T (twin to twin
transfusion) percegahan dilakukan dengan koagulasi pembuluh anastomosis.
Resiko kematian janin dapat sepenuhnya dihindari dengan antenatal care
yang baik. Ibu menjauhkan diri dari penyakit infeksi, merokok, minuman
beralkohol atau penggunaan obat-obatan.
Tes-tes antepartum misalnya USG, tes darah alfa-fetoprotein, dan non-
stress test fetal elektronik dapat digunakan untuk mengevaluasi kegawatan
janin sebelum terjadi kematian dan terminasi kehamilan dapat segera dilakukan
bila terjadi gawat janin.

25
BAB III
KESIMPULAN

Beberapa studi yang dilakukan pada akhir-akhir ini terdapat beberapa faktor
risiko kematian fetal, khususnya IUFD. Faktor yang berpengaruh berupa faktor
maternal, Faktor fetal dan Faktor Plasenta.
Diagnosis IUFD dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium didapatkan penurunan
kadar gonadotropin korionik manusia (Human Chorionis Gonadotropin/ HCG) dan
pemeriksaan radiologi didapatkan tanda Spalding, tanda Naujokes, tanda Gerhard,
tanda Robert, dan Femur length yang tidak sesuai dengan usia kehamilan. Apabila
janin telah dinyatakan meninggal pilihan penanganan adalah ekspektatif maka
tunggu persalinan spontan hingga 2 minggu dan yakinkan bahwa 90 % persalinan
spontan akan terjadi tanpa komplikasi atau induksi persalinan dengan oksitosin atau
prostaglandin.
Komplikasi yang dapat terjadi trauma psikis ibu ataupun keluarga, apalagi
bila waktu antara kematian janin dan persalinan berlangsung lama, Disseminated
Intravascular Coagulopathy (DIC), Ensefalomalasia multikistik, Perdarahan Post
Partum.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Petersson K. Diagnostic Evaluation of Fetal Death with Special Reference


to Intrauterine Infection. Thesis dari Departement of Clinical Science,
Divison of Obstetrics and Gynecology, Karolinska Institutet, Huddinge
University Hospital, Stockholm, Sweden 2002.
2. Norwitz,E. Schorge,J. 2007. At a Glance Obstetri & Ginekologi edisi kedua
’Kematian Janin Intra Uterin’. EMS : Jakarta
3. Winknjosastro H. Ilmu Kebidanan Edisi III,cetakan enam. Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Balai Penerbit FK UI. Jakarta. 2008. 732-
35.
4. Patel PK. Profile of Fetal Deaths in Dhahira Region, Oman. Oman Medical
Journal 2008, ;23(1)
5. Mu J, Kanzaki T, Si X, Tomimatsu T, Fukuda H, Shioji M. Apoptosis and
Related Proteins in Placenta of Intrauterine Fetal Death in Prostaglandin F
Receptor Deficient Mice. Biology or Reproduction 2003;68:1968-74
6. Ezechi OC, Kalu Bke, Ndububa VI, Nwokoro CA. Induction of Labour by
Vaginal Misoprostol for Intrauterine Fetal Death. J Obstet Gynecol Ind
2004;54(6):561-3
7. James L Lindsey, MD. Evaluation of Fetal Death. Stanford School of
Medicine, Department of Obstetrics and Gynecology, Santa Clara Valley
Medical Center. 2008
8. Cuningham FG., Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap III LC, Hauth, JC.,
Wenstrom KD. Williams Obstetrics Edisi ke 21. New York : McGraw-Hill
2001
9. Nucleus Medical Art Inc. Kennesaw, Georgia 30144, 1999 – 2009
10. Sarah D. McDonald, MD . Risk of Fetal Death Associated With Maternal
Drug Dependence and Placental Abruption A Population-Based Study.
1Department of Obstetrics and Gynecology, McMaster University,
Hamilton ON. 2007

27
11. Dr. Joe Antony, MD, 265, Girinagar, Cochin- 20, India. 2007. diakses dari
www.ultrasound-images.com
12. Weeks A. Misoprostol in obstetrics and gynecology. International Journal
of Gynecology and Obstetrics 2007 99 : S156–S159
13. Gibbs RS, Roberts DJ. Case 27-2007: A 30-Year-Old Pregnant Woman with
Intrauterine Fetal Death. N Engl J Med 2007;357:918-25.

28