Anda di halaman 1dari 26

PARASENTESIS

RUMAH SAKIT HAJI No. Dokumen No. Revisi Halaman


KAMINO WAY KANAN 445/01/101/THT/2009 0 1/2

Ditetapkan
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit Kepala UPT Rumah Sakit
30 Desember 2009 Kusta Sumberglagah
POLI THT

dr. Nanang Koesnartedjo


NIP. 19560727 199003 1
004
PENGERTIAN : Mengeluarkan cairan (sekret) dari kavum timpani dengan cara
membuat insisi pada membrana timpani

TUJUAN : 1. Umum:
Mempercepat proses penyembuhan pada otitis media akut
(stadium I/II) atau serosa
2. Khusus:
a. Mencegah perforasi spontan bulat yang sukar menutup
kembali
b. Mengurangi keluhan penderita
c. Dengan membuat insisi yang sedikit melengkung seperti
klep pintu supaya pus mudah mengalir sehingga insisi
cepat menutup kembali
d. Mencegah timbulnya komplikasi

KEBIJAKAN : 1. UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;


2. SK Menkes RI Nomor 133/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit;
3. Standar Pelayanan Medis Direktorat Pelayanan Medis
Kesehatan tahun 1996.

PROSEDUR : 1. Persiapan Penderita:


1.1.Penderita diberikan penjelasan tentang prosedur dan
tujuannya
1.2.Persetujuan tindakan medis (Informed Consent)
2. Persiapan Alat:
2.1.Alat Steril
2.1.1.Pisau parasentesis
2.1.2.Pinset telinga
2.1.3.Spekulum telinga

1
PARASENTESIS
RUMAH SAKIT HAJI No. Dokumen No. Revisi Halaman
KAMINO WAYKANAN
445/01/101/THT/ 0 2/2
2009
2.2.Tampon pita kecil
3. Persiapan Obat:
3.1.Xilocain spray 10%
3.2.Betadine 10% atau alkohol 70%
4. Pelaksanaan Tindakan:
4.1.Membersihkan meatus akustikus eksternus dengan
waten drager mulai dari lateral sampai ke membrana timpani
4.2.Melakukan anestesi dengan Xilocain spray10% selama
15 menit
4.3.Melakukan desinfeksi daerah MAE dan membran timpani
dengan alkohol 70%, dengan cara diteteskan
4.4.Dengan bantuan spekulum telinga dilakukan orientasi
tempat insisi. Kemudian dilakukan insisi pada membran
timpani di daerah postero-inferior, dengan pisau parasintesis,
melengkung dari atas ke bawah atau sebaliknya,
4.5.Memperhatikan cairan yang keluar dan keadaan
membran timpani
4.6.Memasang tampon pita kecil
Melakukan kontrol keesokan hari, bila perlu tindakan diulang.

UNIT TERKAIT : Poli THT

2
RUMAH SAKIT IRIGASI SINUS MAKSILARIS
HAJI KAMINO No. Dokumen No. Revisi Halaman
WAYKANAN 445/02/101/THT/2009 0 1/2

Ditetapkan
PROSEDUR Tanggal Terbit Kepala UPT Rumah Sakit
TETAP 30 Desember 2009 Kusta Sumberglagah

POLI THT

dr. Nanang Koesnartedjo


NIP. 19560727 199003 1 004
PENGERTIAN : Tindakan mengeluarkan cairan (pus) dari sinus maksilaris

TUJUAN : 1. Umum:
Menghilangkan keluhan dan mencegah komplikasi
2. Khusus:
2.1.Membuat ostium baru yang lebih rendah pada meatus
inferior
2.2.Menghilangkan rasa nyeri, pipi kemeng
2.3.Mencegah komplikasi

KEBIJAKAN : 1. UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;


2. SK Menkes RI Nomor 133/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit;
3. Standar Pelayanan Medis Direktorat Pelayanan Medis
Kesehatan tahun 1996.
4.
PROSEDUR : 1. Indikasi:
1.1.Sinusitis maksilaris Akut & kronis dengan adanya cairan
di
1.1.1.dalam kavum sinus
1.1.2.Biopsi tumor sinus maksilaris
2. Persiapan Penderita:
2.1.Penderita diberikan penjelasan tentang prosedur dan
tujuannya
2.2.Persetujuan tindakan medis (Informed Consent)
3. Persiapan Alat:
3.1.Alat Steril
3.1.1.Troicard”
3.1.2.Pinset bayonet

3
RUMAH SAKIT IRIGASI SINUS MAKSILARIS
HAJI KAMINO No. Dokumen No. Revisi Halaman
WAY KANAN 445/02/101/THT/ 0 2/2
2009

3.2.Spekulum hidung
3.3.Bak alat dan bak cairan PZ
3.4.Kasa sprootjes, kasa lipatan
3.5.Sarung Tangan
3.6.Semprit injeksi plastik 50 – 100 cc
3.7.Alat Tidak Steril
3.7.1.Bengkok
3.7.2.Skort plastik
4. Persiapan Obat:
4.1.Lidokain–efedrin 2%
4.2.Lidokain 8% atau silokain spray
4.3.Cairan fisiologis
5. Pelaksanaan Tindakan:
5.1.Memberikan anestesi lidokain efedrin 2% di meatus
inferior dan meatus medius (selama 10 menit)
5.2.Menyemprotkan silokain 10% atau lidokain 8% pada
meatus inferior
5.3.Melakukan pungsi di meatus inferior, arah 30 o
5.4.Mencabut bagian tajam, hubungkan sarungnya dengan
selang karet, menghubungkannya dengan spuit 50-100 cc
yang sudah diisi cairan fisiologis
5.5.Melakukan irigasi pelan-pelan, mulut dibuka, tahan nafas,
kepala menunduk, irigasi diulang sampai bersih
5.6.Menyemprotkan udara, supaya sisa cairan habis,
kemudian menyuruh penderita sisi
5.7.Memasang kasa “sprootjes” kering untuk menghentikan
perdarahan
5.8.Memperhatikan cairan yang keluar, kemudian dicatat
5.9.Memperhatikan komplikasi tindakan
5.10.Melakukan kontrol setelah 3 hari, bila perlu terapi
diulang.
6. Komplikasi:
6.1.Perforasi dasar orbita
6.2.Menembus tulang pipi
6.3.Emboli air

UNIT TERKAIT : Poli THT, Kamar Operasi

4
RUMAH SAKIT PUNGSI-ASPIRASI/INSISI OTHEMATOM
HAJI KAMINO No. Dokumen No. Revisi Halaman
WAY KANAN 445/03/101/THT/2009 0 1/2

Ditetapkan
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit Kepala UPT Rumah Sakit
30 Desember 2009 Kusta Sumberglagah
POLI THT

dr. Nanang Koesnartedjo


NIP. 19560727 199003 1 004
PENGERTIAN : Tindakan mengeluarkan cairan di aurikulum dengan cara pungsi/
insisi

TUJUAN : Menghilangkan keluhan dan mencegah komplikasi

KEBIJAKAN : 1. UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;


2. SK Menkes RI Nomor 133/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit;
3. Standar Pelayanan Medis Direktorat Pelayanan Medis
Kesehatan tahun 1996.

PELAKSANA : Kamar Operasi, Staf Medik THT

PROSEDUR : 1. Persiapan Penderita:


1.1.Penderita diberikan penjelasan tentang prosedur dan
tujuannya
1.2.Persetujuan tindakan medis (Informed Consent)
2. Persiapan Alat:
2.1.Alat Steril
2.1.1.Semprit inj. 1 cc dan 2,5 cc
2.1.2.Pisau kecil
2.1.3.Tampon tang
2.1.4.Tang kuret
2.2Alat Tidak Steril
2.2.1.Alat pencetak gips sebesar lingkaran daun telinga
2.2.2.Tampon salep kloramfenikol
2.2.3.Kain kasa, “deppers”, plester
2.2.4.Kasa pembalut
3. Persiapan Obat:
3.1.Desinfektan – betadin atau jodium / alkohol

5
RUMAH SAKIT PUNGSI-ASPIRASI/INSISI OTHEMATOM
HAJI KAMINO No. Dokumen No. Revisi Halaman
WAY KANAN 445/03/101/THT/2009 0 1/2

3.2.Gips putih dan biru


3.3.Kenakort injeksi A (IA/ID)
3.4.Chlor ethyl spray
4. Pelaksanaan Tindakan:
4.1.Membaringkan penderita dengan telinga yang sakit
menghadap ke atas.
4.2.Melakukan desinfeksi daerah yang sakit.
Cara I :
4.2.1.Melakukan pungsi, aspirasi cairan othematom sampai
habis.
4.2.1.Menutup meatus akustikus eksternus dengan tampon
salep khloramfenikol.
4.2.3. Mencetak gips sampai menutup daun telinga.
4.2.4..Melepas tampon MAE.
4.2.5..Membuka gips setelah 1 minggu.
Cara II:
4.2.6.Menyemprot othematom dengan chlor ethyl spray
4.2.7.Melakukan insisi dan keluarkan seluruh cairan dengan
bantuan tang karet
4.2.8.Memasang “deppers” kecil-kecil memenuhi telinga
4.2.9.Memasang bebat tekan kasa melingkar kepala dengan
tekanan optimal
4.2.10.Melepaskan bebat tekan setelah 1 minggu.
Cara III:
4.2.11.Melakukan pengisapan cairan dengan jarum injeksi, ukur
cairan yang keluar.
4.2.12.Memasukkan cairan Kenacort 1/3 jumlah cairan yang
keluar dengan jarum injeksi 1 cc
4.2.13.Mengulangnya 2 hari sekali, sampai sembuh.

UNIT TERKAIT : Sistem Ruang Operasi, Staf Medik THT

6
RUMAH SAKIT INSISI ABSES PERITONSIL
HAJI KAMINO No. Dokumen No. Revisi Halaman
WAY KANAN 445/04/101/THT/2009 0 1/2

Ditetapkan
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit Kepala UPT Rumah Sakit
30 Desember 2009 Kusta Sumberglagah
POLI THT

dr. Nanang Koesnartedjo


NIP. 19560727 199003 1 004
PENGERTIAN : Mengeluarkan pus dari ruang peritonsil dengan cara insisi
TUJUAN : 1. Umum:
Menghilangkan keluhan dan mencegah komplikasi
2. Khusus:
2.1.Drainase pus dari ruang peritonsil
2.2.Menghilangkan spasme/ketegangan agar tidak nyeri

KEBIJAKAN : 1. UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;


2. SK Menkes RI Nomor 133/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit;
3. .Standar Pelayanan Medis Direktorat Pelayanan Medis
Kesehatan tahun 1996.

PELAKSANA : 1. Sistem ruang operasi


2. Staf Medik THT

PROSEDUR : 1. Persiapan Penderita:


1.1.Penderita diberikan penjelasan tentang prosedur dan
tujuannya
1.2.Persetujuan tindakan medis (Informed Consent)
2. Persiapan Alat:
2.1.Alat Steril
2.1.1.Pisau tonsil
2.1.2.Semprit injeksi 10 cc
2.1.3.Jarum injeksi no. 18
2.1.4.Tampon tang
2.1.5.Mond spreider/mouth gag (bila perlu)
2.1.6.Kanul alat penghisap/mesin penghisap (suction)

7
RUMAH SAKIT INSISI ABSES PERITONSIL
HAJI AMINO No. Dokumen No. Revisi Halaman
WAY KANAN 445/04/101/THT/ 0 2/2
2009

2.2.Sarung tangan
3. Pelaksanaan Tindakan:
3.1.Membuka mulut penderita dengan/tanpa mouth gag
3.2.Melakukan pungsi – aspirasi di daerah yang bombans,
dengan jarum punsi besar mengarah lurus ke belakang 2-3
cm
3.3.Melakukan insisi dengan pisau tonsil paralel dengan
arkus anterior, tanpa anestesi, dilakukan di tempat pungsi
3.4.Melebarkan luka insisi dengan tampon tang, ke arah
lateral/ latero-inferior dari tempat insisi
3.5.Hisap pus yang keluar dengan pipa penghisap (suction)
3.6.Meminta penderita kumur-kumur dengan air masak
3.7.Kontrol dan melebarkan luka insisi setiap hari sampai pus
tidak keluar lagi.

UNIT TERKAIT : Sistem ruang operasi, Staf Medik THT

8
RUMAH SAKIT EKSTRAKSI BENDA ASING MAE
HAJI KAMINO No. Dokumen No. Revisi Halaman
WAY KANAN 445/05/101/THT/2009 0 1/2

Ditetapkan
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit Kepala UPT Rumah Sakit
30 Desember 2009 Kusta Sumberglagah
POLI THT

dr. Nanang Koesnartedjo


NIP. 19560727 199003 1 004
PENGERTIAN : Mengeluarkan benda asing dari MAE/liang telinga

TUJUAN : Mengeluarkan benda asing dari liang telinga dan menghilangkan


keluhan

KEBIJAKAN : 1. UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;


2. SK Menkes RI Nomor 133/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit;
3. Standar Pelayanan Medis Direktorat Pelayanan Medis
Kesehatan tahun 1996.

PELAKSANA : Sistem ruang operasi, Staf Medik THT

PROSEDUR : 1. Persiapan Penderita:


Penderita diberikan penjelasan tentang prosedur dan
tujuannya
2. Persiapan Alat (Tidak Steril):
2.1. Semprit 50 cc
2.2. Bengkok
2.3. Air hangat
2.4. Pinset siku
2.5. Hak tajam, bundar
2.6. Kapas lidi
3. Pelaksanaan Tindakan:
3.1. Mematikan binatang hidup dengan menetesi
karbogliserin
3.2. Bila sudah mati diekstraksi dengan pinset/haak
tajam/bundar
3.3. Untuk benda asing yang berupa butir/pasir dilakuka

9
RUMAH SAKIT EKSTRAKSI BENDA ASING MAE
HAJI KAMINO No. Dokumen No. Revisi Halaman
WAY KANAN 445/05/101/THT/2009 0 2/2

penyemprotan air hangat ke arah posterior MAE


berulang-ulang sampai bersih
3.4. Untuk benda bulat atau pipih, diekstraksi dengan pinset
dan atau haak tajam atau bulat
3.5. Mengeringkan MAE dengan lidi kapas.

UNIT TERKAIT : Sistem ruang operasi, Staf Medik THT

10
RUMAH SAKIT IRIGASI SERUMEN OBTURAN
HAJI KAMINO No. Dokumen No. Revisi Halaman
WAY KANAN 445/06/101/THT/2009 0 1/2

Ditetapkan
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit Kepala UPT Rumah Sakit
30 Desember 2009 Kusta Sumberglagah
POLI THT

dr. Nanang Koesnartedjo


NIP. 19560727 199003 1 004
PENGERTIAN : Mengeluarkan serumen dengan cara menyemprotkan air hangat
ke liang telinga

TUJUAN : Mengeluarkan serumen dari liang telinga dan menghilangkan


keluhan

KEBIJAKAN : 1. UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;


2. SK Menkes RI Nomor 133/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit;
3. Standar Pelayanan Medis Direktorat Pelayanan Medis
Kesehatan tahun 1996.

PELAKSANA : Sistem ruang operasi, Staf Medik THT

PROSEDUR : 1. Persiapan Penderita:


Penderita diberikan penjelasan tentang prosedur dan
tujuannya
2. Persiapan Alat (Tidak Steril):
2.1.Semprit 50 cc
2.2.Bengkok
2.3.Air hangat
2.4.Karbogliserin
2.5.Pinset siku
2.6.Hak tajam, bundar
2.7.Kapas lidi
3. Pelaksanaan Tindakan:
3.1.Serumen yang keras ditetesi dengan karbogliserin 10%
3.2.Serumen diekstraksi dengan haak tajam, bundar, atau pinset

11
RUMAH SAKIT IRIGASI SERUMEN OBTURAN
HAJI KAMINO No. Dokumen No. Revisi Halaman
WAY KANAN 445/06/101/THT/2009 0 2/2

3.3.Bila sudah lunak dilakukan irigasi dengan air hangat sampai


bersih
3.4.Mengeringkan MAE dengan lidi kapas.

UNIT TERKAIT : Sistem ruang operasi, Staf Medik THT

12
RUMAH SAKIT INSISI ABSES RETRO AURIKULER & ABSES
HAJI KAMINO KULIT
WAY KANAN No. Dokumen No. Revisi Halaman
445/07/101/THT/2009 0 1/2

Ditetapkan
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit Kepala UPT Rumah Sakit
30 Desember 2009 Kusta Sumberglagah
POLI THT

dr. Nanang Koesnartedjo


NIP. 19560727 199003 1 004
PENGERTIAN : Mengeluarkan pus dari ruang retro aurikuler dengan cara insisi

TUJUAN : 1. Umum:
Menghilangkan keluhan dan mencegah komplikasi
2. Khusus:
Drainase pus dari ruang retro aurikuler Menghilangkan
spasme/ketegangan agar tidak nyeri

KEBIJAKAN : 1. UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;


2. SK Menkes RI Nomor 133/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit;
3. Standar Pelayanan Medis Direktorat Pelayanan Medis
Kesehatan tahun 1996.

PELAKSANA : Sistem ruang operasi, Staf Medik THT

PROSEDUR : 1. Persiapan Penderita:


1.1.Penderita diberikan penjelasan tentang prosedur dan
tujuannya
1.2.Persetujuan tindakan medis (Informed Consent)

2. Persiapan Alat:
2.1.Steril
2.1.1.Klem bengkok
2.1.2.Pisau insisi no. 15
2.1.3.Pinset
2.1.4.Tampon tang
2.1.5.Injeksi 5 cc, jarum no. 18
2.1.6.Drain dari karet sarung tangan

13
RUMAH SAKIT INSISI ABSES RETRO AURIKULER & ABSES
HAJI KAMINO KULIT
WAY KANAN No. Dokumen No. Revisi Halaman
445/07/101/THT/2009 0 2/2

2.1.7.Kain kasa, bebat


2.1.8.Kanul alat penghisap

2.2.Tidak steril:
2.2.1.Alat penghisap (suction)
3. Persiapan Obat:
3.1.Betadine/alkohol 70%
3.2.Chlorethyl spray
4. Pelaksanaan Tindakan:
4.1.Melakukan desinfeksi kulit dengan betadine, alkohol 70%
pada daerah yang akan diinsisi
4.2.Melakukan pungsi–aspirasi, bila keluar pus tindakan
dilanjutkan dengan insisi
4.3.Memberikan anestesi dengan chlorethyl spray
4.4.Melakukan insisi, buka luka insisi dengan tampon tang
4.5.Memasang drain
4.6.Menutup tutup luka insisi dengan kain kasa yang dibasahi
dengan betadine
4.7Memasang bebat
4.8.Membuka drain 2 hari kemudian, bila perlu diganti drain baru
UNIT TERKAIT : Sistem ruang operasi, Staf Medik THT

14
RUMAH SAKIT KAUSTIK KONKA INFERIOR
HAJI KAMINO No. Dokumen No. Revisi Halaman
WAY KANAN 445/08/101/THT/2009 0 1/2

Ditetapkan
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit Kepala UPT Rumah Sakit
30 Desember 2009 Kusta Sumberglagah
POLI THT

dr. Nanang Koesnartedjo


NIP. 19560727 199003 1 004
PENGERTIAN : Mengoleskan obat yang membuat nekrosis atau terbakarnya
mukosa konka inferior kavum nasi dengan obat korosifa

TUJUAN : 1. Menghilangkan obstruksi hidung dengan mengecilkan konka


2. Mengurangi produksi sekret hidung dengan mempersempit
permukaan konka

KEBIJAKAN : 1. UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;


2. SK Menkes RI Nomor 133/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit;
3. Standar Pelayanan Medis Direktorat Pelayanan Medis
Kesehatan tahun 1996.

PELAKSANA : Sistem ruang operasi, Staf Medik THT

PROSEDUR : 1. Persiapan Penderita:


1.1.Penderita diberikan penjelasan tentang prosedur dan
tujuannya
1.2.Persetujuan tindakan medis (Informed Consent)
2. Persiapan Alat (Tidak Steril):
2.1.Spekulum hidung
2.2.Pinset siku
2.3.Kapas lidi
3. Persiapan Obat:
3.1.Lidokain efedrin 2%
3.2.Lidokain 8%
3.3.Asam triklor asetat 100% (kristal)
4. Pelaksanaan Tindakan:
4.1.Melakukan anestesi dengan lidokain efedrin 2%, ditambah
lidokain 8% (selama 5 – 10 menit)

15
RUMAH SAKIT KAUSTIK KONKA INFERIOR
HAJI KAMINO No. Dokumen No. Revisi Halaman
WAY KANAN 445/08/101/THT/2009 0 2/2

4.2.Melakukan kaustik pada permukaan medio-inferior konka


inferior, dengan kapas yang dipilin pada waten drager, hingga
padat dan kecil, ujungnya dibasahi dengan Trichlor Acetic Acid
100%. Jangan sampai kena septum, karena bisa menyebabkan
sinekia
4.3.Memperhatikan adanya warna keputihan pada bekas olesan
tersebut
4.4.Melakukan kontrol 1 minggu kemudian untuk melihat hasil
tindakan dan kemungkinan komplikasi yang terjadi.

5. Komplikasi:
Sinekia

16
INSISI ABSES SEPTUM NASI
RUMAH SAKIT No. Dokumen No. Revisi Halaman
HAJI KAMINO 445/09/101/THT/ 0 1/2
WAY KANAN 2009

Ditetapkan
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit Kepala UPT Rumah Sakit
30 Desember 2009 Kusta Sumberglagah
POLI THT

dr. Nanang Koesnartedjo


NIP. 19560727 199003 1 004
PENGERTIAN : Mengeluarkan cairan (pus) dari septum nasi

TUJUAN : Menghilangkan keluhan dan mencegah komplikasi

KEBIJAKAN : 1. UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;


2. SK Menkes RI Nomor 133/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit;
3. Standar Pelayanan Medis Direktorat Pelayanan Medis
Kesehatan tahun 1996.

PELAKSANA : Sistem ruang operasi, Staf Medik THT

PROSEDUR : 1. Persiapan Penderita:


1.1.Penderita diberikan penjelasan tentang prosedur dan
tujuannya
1.2.Persetujuan tindakan medis (Informed Consent)
2. Persiapan Alat:
2.1.Alat Steril
2.1.1.Pisau kecil tajam no. 15
2.1.2.Spuit injeksi 5 cc dengan jarum no. 18
2.1.3.Sarung tangan karet
2.1.4.Kanul alat penghisap steril
2.1.5.Tidak steril
2.1.6.Pinset bayonet
2.1.7.Spekulum hidung
2.1.8.Alat penghisap
2.1.9. Kain kasa
2.1.10Plester

3. Persiapan Obat:

17
INSISI ABSES SEPTUM NASI
RUMAH SAKIT No. Dokumen No. Revisi Halaman
HAJI KAMINO 445/10/101/THT/2009 0 2/2
WAY KANAN

3.1.Lidokain–efedrin 2%
3.2.Tampon pita kloramfenikol salep
4. Pelaksanaan Tindakan:
4.1.Memberikan anestesi dengan lidokain – efedrin 2%
4.2.Melakukan pungsi di daerah yang bombans, apabila keluar
nanah, teruskan dengan insisi, lalu dipasang drain
4.3.Apabila abses bilateral, lakukan pungsi pada sisi kanan dan
kiri tapi jangan satu level
4.5.Melakukan pengisapan nanah sampai bersih dengan alat
penghisap
4.6.Memasang tampon yang tidak terlalu padat
4.7.Melakukan kontrol setiap hari, bila perlu mengulang terapi
sampai tidak dijumpai nanah.

18
PENGHENTIAN EPISTAKSIS
RUMAH SAKIT No. Dokumen No. Revisi Halaman
HAJI KAMINO 445/11/101/THT/2009 0 1/2
WAY KANAN

Ditetapkan
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit Kepala UPT Rumah Sakit
30 Desember 2009 Kusta Sumberglagah
POLI THT

dr. Nanang Koesnartedjo


NIP. 19560727 199003 1 004
PENGERTIAN : Menghentikan perdarahan yang keluar dari hidung

TUJUAN : Menghentikan perdarahan

KEBIJAKAN : 1. UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;


2. SK Menkes RI Nomor 133/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit;
3. Standar Pelayanan Medis Direktorat Pelayanan Medis
Kesehatan tahun 1996.

PELAKSANA : Sistem ruang operasi, Staf Medik THT

PROSEDUR : 1. Persiapan Penderita:


a. Penderita diberikan penjelasan tentang prosedur dan
tujuannya
b. Persetujuan tindakan medis (Informed Consent)
2. Persiapan Alat:
2.1.Alat Steril
Tampon kloramfenikol salep bentuk sprootjes, pita atau
Belloque
2.2.Alat Tak steril
2.2.1.Spekulum hidung
2.2.2.Spatula lidah
2.2.3.Pinset bayonet
2.2.4.Kapas lidi
2.2.5.Alat penghisap
2.2.6.Kapas
2.2.7.Kain kasa
2.2.8.Plester
2.2.9.Bengkok

19
PENGHENTIAN EPISTAKSIS
RUMAH SAKIT No. Dokumen No. Revisi Halaman
HAJI KAMINO 445/11/101/THT/2009 0 2/2
WAY KANAN

2.2.10.Gunting
2.2.11.Tensimeter
2.2.12.Stetoskop
2.2.13.Kateter Nelaton
2.2.14.Alat transfusi
2.2.15.Semprit 5 cc
2.2.16.Kapas alkohol
3. Persiapan Obat:
3.1.Lidokain efedrin 2%
3.2.Xilocain spray 10%
3.3.Asam trikhlor acetat 100% (kristal)
3.4Vitamin K injeksi/Asam traneksamat
3.5.Cairan infus ringer laktat/PZ
3.6.Spongostan (jika ada)
4. Pelaksanaan Tindakan:
4.1.Memberikan kavum nasi dengan menyuruh “sisi”, atau
dengan alat penghisap
4.2.Melakukan anestesi dengan lidokain efedrin 2% (10 menit),
bila sumber perdarahan jelas, lakukan kaustik dengan asam
trikhlor acetat 100%
4.3.Menghentikan perdarahan dengan tampon pita khloramfenikol
/ atau “sprootjes” khloramfenikol salep, diatur sampai memenuhi
seluruh kavum nasi, bila sumber perdarahan tak jelas, bila
diperlukan kavum nasi kontra lateral juga diisi tampon
4.4.Memeriksa perdarahan posterior (faring), bila tidak berhenti
pasang tampon Belloque
4.5.Penderita masuk rumah sakit
4.6.Memperhatikan tensi, nadi, cek Hb, memasang infus,
transfusi darah bila perlu
4.7.Memberikan antibiotika, pada tampon yang dipasang lebih
dari 1 hari
4.8.Mencari penyebab perdarahan
4.9.Melakukan kontrol pada tampon pita/sprotjes 2 hari, tampon
Belloque setiap 5 hari.

UNIT TERKAIT Sistem ruang operasi, Staf Medik THT

20
BIOPSI TUMOR NASOFARING/KAVUM NASI
RUMAH SAKIT No. Dokumen No. Revisi Halaman
HAJI KAMINO 445/12/101/THT/2009 0 1/2
WAY KANAN

Ditetapkan
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit Kepala UPT Rumah Sakit
30 Desember 2009 Kusta Sumberglagah
POLI THT

dr. Nanang Koesnartedjo


NIP. 19560727 199003 1 004
PENGERTIAN : Mengambil sebagian jaringan tumor untuk bahan sampel
pemeriksaan histopatologi

TUJUAN : Menegakkan diagnosis tumor

KEBIJAKAN : 1. UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;


2. SK Menkes RI Nomor 133/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit;
3. Standar Pelayanan Medis Direktorat Pelayanan Medis
Kesehatan tahun 1996.

PELAKSANA : Sistem ruang operasi, Staf Medik THT

PROSEDUR : 1. Persiapan Penderita:


1.1.Penderita ditentukan dalam kondisi prima
1.2.Ukur tensi, bila perlu konsul bagian jantung untuk pasien
Hipertensi
1.3.Penderita diberikan penjelasan tentang prosedur dan
tujuannya
1.4.Persetujuan tindakan medis (Informed Consent)
2. Persiapan Alat:
2.1.Alat Steril
2.1.1.Pinset bayonet
2.1.2.Biopsi tang
2.1.3.Tampon tang
2.1.4.Kapas
2.2.Alat Tak steril
2.2.1.Spekulum hidung
2.2.2.Alat penghisap
2.2.3.Spatula lidah

21
BIOPSI TUMOR NASOFARING/KAVUM NASI
RUMAH SAKIT No. Dokumen No. Revisi Halaman
HAJI KAMINO 445/13/101/THT/2009 0 2/2
WAY KANAN

2.2.4.Tampon sprotjes, pita kloramfenikol salep


2.2.5.Botol formalin berlabel nama penderita
3. Persiapan Obat:
3.1.Obat: lidokain-efedrin 2%
3.2.Xilocain spray 10%
4. Pelaksanaan Tindakan:
4.1.Melakukan anestesi kavum nasi dengan lidokain-efedrin
2% selama 15 menit
4.2.Mengatur posisi penderita dengan memegang kepala
penderita
4.3.Menyemprotkan Xilocain spray pada tempat yang akan
dibiopsi
4.4.Melakukan biopsi tumor nasofaring kanan dan kiri atau
kavum nasi yang ada tumornya
4.5.Memasukkan hasil biopsi ke dalam botol yang sudah
berlabel
4.6.Merawat perdarahan dengan tampon sampai perdarahan
berhenti
4.7.Penderita berkumur dengan air beberapa kali sampai
hingga bersih.

UNIT TERKAIT Sistem ruang operasi, Staf Medik THT

22
TES BISIK
RUMAH SAKIT No. Dokumen No. Revisi Halaman
HAJI KAMINO 445/14/101/THT/2009 0 1/2
WAY KANAN

Ditetapkan
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit Kepala UPT Rumah Sakit
30 Desember 2009 Kusta Sumberglagah
POLI THT

dr. Nanang Koesnartedjo


NIP. 19560727 199003 1 004
PENGERTIAN : Pemeriksaan fungsi pendengaran dengan suara bisik

TUJUAN : Mengetahui berat derajat ketulian

KEBIJAKAN : 1. UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;


2. SK Menkes RI Nomor 133/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit;
3. Standar Pelayanan Medis Direktorat Pelayanan Medis
Kesehatan tahun 1996.

PELAKSANA : Staf Medik THT, Perawat THT divisi audiologi

PROSEDUR : 1. Persiapan Penderita:


Penderita diberikan penjelasan tentang prosedur dan
tujuannya
2. Persiapan Alat:
PB list dalam bahasa Indonesia
3. Pelaksanaan Tindakan:
3.1.Melakukan anamnesis penderita
3.2.Melakukan pemeriksaan di kamar yang sunyi dan ada
jarak 6 meter
3.3.Memberikan informasi pada penderita perihal tata cara
pemeriksaan
3.4.Pemeriksaan dimulai pada telinga yang sehat/lebih
baik/kanan
3.5.Meminta penderita berdiri dengan posisi telinga yang
diperiksa menghadap pemeriksa pada jarak 1 meter
3.6.Melakukan masking telinga yang tidak diperiksa, dengan
menutup mata penderita
3.7.Membisikkan suara mulai dari jarak 1 m, terus mundur

23
TES BISIK
RUMAH SAKIT No. Dokumen No. Revisi Halaman
HAJI KAMINO 445/14/101/THT/2009 0 2/2
WAY KANAN

s.d. didapat jarak tertentu dimana penderita dapat


menirukan dengan benar 80% dari kata-kata yang
dibisikkan
3.8.Hasil pemeriksaan dinyatakan dengan meter.
UNIT TERKAIT Sistem ruang operasi, Staf Medik THT

24
REPOSISI FRAKTUR OS NASAL
RUMAH SAKIT No. Dokumen No. Revisi Halaman
HAJI KAMINO 445/15/101/THT/2009 0 1/2
WAY KANAN

Ditetapkan
PROSEDUR TETAP Tanggal Terbit Kepala UPT Rumah Sakit
30 Desember 2009 Kusta Sumberglagah
POLI THT

dr. Nanang Koesnartedjo


NIP. 19560727 199003 1 004
PENGERTIAN : Operasi mengembalikan tulang hidung yang patah

TUJUAN : Menghilangkan obstruksi dan kosmetik

KEBIJAKAN : 1. UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;


2. SK Menkes RI Nomor 133/Menkes/SK/XII/1999 tentang
Standar Pelayanan Rumah Sakit;
3. Standar Pelayanan Medis Direktorat Pelayanan Medis
Kesehatan tahun 1996.

PELAKSANA : Sistem operasi, Staf Medik THT

PROSEDUR : 1. Persiapan Penderita:


1.1.Penderita diberikan penjelasan tentang prosedur dan
tujuannya
1.2.Persetujuan tindakan medis (Informed Consent)
2. Persiapan Alat:
2.1.Elevator/forcep “Walsham” atau “Ashe”
2.2.Spekulum hidung
2.3.Pinset bayonet
2.4.Tampon tang
2.5.Tampon pita kloramfenikol salep
3. Persiapan Obat:
3.1.Lidokain-efedrin 2%
3.2.Lidokain 8%
3.3.Xilocain spray 10%
3.4.Kapas, kain kasa, plester
4. Pelaksanaan Tindakan:
4.1.Melakukan anestesi lokal dengan lidokain-efedrin 2%
(ditambah dengan Xilocain spray 10%), dimasukkan

25
REPOSISI FRAKTUR OS NASAL
RUMAH SAKIT No. Dokumen No. Revisi Halaman
HAJI KAMINO 445/16/101/THT/2009 0 2/2
WAY KANAN

dalam kavum nasi kanan dan kiri, tunggu 5 – 10 menit


4.2.Melakukan reposisi dengan “elevator” atau “forcep” pada
daerah fraktur sampai posisi tulang kembali normal
4.3.Melakukan imobilisasi bagian dalam dengan tampon pita
khloramfenikol salep
4.4.Bagian luar dengan plester atau gips
4.5.Menutup lubang hidung kain kasa dan diplester
4.6.Melepas tampon setelah 5 hari.

UNIT TERKAIT Sistem ruang operasi, Staf Medik THT

26