Anda di halaman 1dari 3

1.

Contoh Sifat Syaja’ah Rasullah


a. Keberanian di Medan Perang
Datang ke medan perang, sudah menunjukkan bagaimana kuatnya mental dan keberanian
seseorang. Banyak kaki yang gemetar, hati-hati yang kokoh sekejap menjadi pudar, karena
batas kehidupan dan kematian begitu dekat. Antara perisai dan sebilah pedang. Terlebih
perang jarak dekat. Bertatap muka dengan musuh. Setiap kayuhan pedang musuh adalah
kesempatan hidup atau jemputan ajal.
Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Kuperhatikan diri kami saat Perang

Badar. Kami berlindung pada Rasulullah ‫ ﷺ‬. Beliau adalah orang yang paling dekat dengan

musuh dan orang yang paling banyak ditimpa kesulitan”. (Riwayat Ahmad 619 dan Ibnu Abi
Syaibah 32614).
Dari Ibnu Ishaq, ada seseorang bertanya kepada al-Bara’ bin Azib radhillahu ‘anhu, “Apakah

kalian lari dari sisi Rasulullah ‫ ﷺ‬di Perang Hunain?” al-Bara’ menjawab, “(Ya) Akan tetapi

Rasulullah ‫ ﷺ‬tidak berlari mundur, walaupun orang-orang Hawazin adalah pemanah handal.

Ketika menghadapi mereka, awalnya kami berhasil memukul mundur mereka. Orang-orang
pun berpaling menuju harta rampasan perang. Ternyata, mereka (suku Hawazin), dengan
tiba-tiba menghujani kami dengan anak panah sehingga orang-orang (para sahabat) kalah.
Aku menyaksikan Rasulullah bersama Abu Sufyan bin Harits yang memegang tali kendali
keledai putih beliau. Beliau meneriakkan,
َّ ‫ي الَ َكذِبْ أَنَا ا ْبنُ َع ْب ِد ْال ُم‬
ْ‫طلِب‬ ُّ ‫أَنَا النَّ ِب‬
“Aku seorang nabi tidak dusta. Aku putra Abdul Muththalib.” (HR. al-Bukhari 2709 dan
Muslim 1776).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya, “Ini adalah puncak keberanian
yang sempurna. Dalam keadaan perang sengit, pasukan tengah terpukul mundur, dan hanya
dengan menunggangi keledai, hewan yang tidak bisa berlari kencang, tidak mampu dipakai
bergerak maju mundur untuk menyerang atau melarikan diri, beliau menerobos musuh sambil
meneriakkan nama beliau. Hal itu, agar orang yang tidak mau mengenal beliau sampai hari
Kiamat sudah tahu tentang beliau…” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/357).
Ya, beliau sebut namanya di tengah keadaan sengit itu, seolah hendak menegaskan ‘akulah
nabi putra Abdul Muthalib yang kalian cari itu’. Sedikit pun beliau tidak gentar.

b. Menantang Tokoh-Tokoh Quraisy


Urwah bin az-Zubair bertanya kepada Abdullah bin Amr bin al-Ash, “Berapa sering engkau

lihat orang-orang Quraisy mengintimidasi Rasulullah ‫ﷺ‬ karena ia menampakkan

permusuhannya?” Abdullah bin Amr berkata, “Aku pernah melihat dalam sebuah majelis
mereka, pada suatu hari pembesar-pembesar mereka berkumpul di Hijir Isma’il. Mereka

memperbincangkan Rasulullah ‫ ﷺ‬.

Mereka berkata, “Kita tidak pernah melihat kesabaran kita dalam menghadapi sesuatu, lebih

besar kecuali terhadap orang ini (Muhammad ‫) ﷺ‬. Ia menganggap bodoh orang-orang pintar

kita, menghina bapak-bapak kita, mencela agama kita, memecah belah persatuan kita, dan
mencela Tuhan-Tuhan kita. Sungguh kita telah sabar kepadanya atas suatu perkara yang
besar,” atau, sebagaimana yang mereka katakan.

“Ketika mereka sedang berbincang-bincang seperti itu, muncullah Rasulullah ‫ ﷺ‬berjalan.

Beliau mengusap rukun Yamani. Sambil mengelilingi Baitullah, beliau melewati mereka.

Ketika mereka melihat Nabi ‫ ﷺ‬, lewat mereka menghinanya dengan kata-kata mereka.”

Abdullah bin Amr melanjutkan, “Aku mengetahui hal itu dari ekspresi wajah beliau.
Kemudian beliau berlalu. Ketika beliau melewati mereka untuk kali kedua, mereka kembali
mencelanya seperti semula. Dan aku bisa mengetahui hal itu dari wajahnya. Beliau tetap
berlalu (tidak memperdulikannya). Lalu beliau melewati mereka untuk kali ketiga, mereka

kembali mencelanya seperti semula. Maka Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda,

ُ ‫ أ َ َما َوالَّذِي نَ ْف‬،‫ت َ ْس َمعُونَ يَا َم ْعش ََر قُ َري ٍْش‬


ِ‫س ُم َح َّم ٍد بِيَ ِد ِه لَقَدْ ِجئْت ُ ُك ْم بِالذَّبْح‬
“Dengarlah wahai orang-orang Quraisy, demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam
genggamannya, sungguh aku datang untuk menyembelih kalian!!”
Maka kata-kata itu menjadikan mereka ngeri. Sehingga, tidak ada seorang pun dari mereka
kecuali seakan-akan di atas kepalanya ada seekor burung yang hinggap”. (HR. Ahmad 6739).
Begitulah saking terdiamnya, burung pun bisa hinggap karena mengira mereka patung.

c. Keberanian Yang Menenangkan


Seorang pemimpin hendaknya bersikap tenang dalam situasi mencemaskan bahkan genting
sekalipun. Ketika pemimpin kalut, maka rakyat pun semakin bingung.
Suatu hari, ada suara gaduh menyentak Kota Madinah. Penduduknya pun terkejut, khawatir,
dan bertanya-tanya apa gerangan yang menimpa kota.
‫ع أَ ْه ُل ْال َم ِدينَ ِة ذَاتَ لَ ْي َل ٍة‬ ِ َّ‫اس َو َكانَ أ َ ْش َج َع الن‬
َ ‫اس َولَقَدْ فَ ِز‬ ِ َّ‫اس َو َكانَ أَجْ َودَ الن‬ َ ْ‫سلَّ َم أَح‬
ِ َّ‫سنَ الن‬ َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬
َ ِ‫سو ُل هللا‬ ُ ‫َكانَ َر‬
‫ت َوه َُو َعلَى فَ َر ٍس ِأل َ ِبي‬ ِ ‫ص ْو‬َّ ‫سبَقَ ُه ْم ِإلَى ال‬
َ ْ‫اجعًا َوقَد‬ ِ ‫سلَّ َم َر‬
َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬َ ِ‫سو ُل هللا‬ ُ ‫ت فَتَلَقَّا ُه ْم َر‬ِ ‫ص ْو‬ ٌ ‫طلَقَ ن‬
َّ ‫َاس قِبَ َل ال‬ َ ‫فَا ْن‬
ُ ‫طأ‬
َّ ‫سا يُ َب‬
ً ‫ قَا َل َو َجدْنَاهُ َبحْ ًرا أَ ْو ِإنَّهُ لَ َبحْ ٌر قَا َل َو َكانَ فَ َر‬,‫ْف َوه َُو َيقُو ُل لَ ْم ت ُ َراعُوا لَ ْم ت ُ َراعُوا‬ َّ ‫عنُ ِق ِه ال‬
ُ ‫سي‬ َ ‫ط ْل َحةَ ع ُِر‬
ُ ‫ي ِفي‬ َ

dari Anas binMalik radhiyallahu ‘anhu,ia berkata: Rasulullah ‫ ﷺ‬adalah orang yang paling

berbudi tinggi, dermawan, dan pemberani. Pernah di suatu malam, penduduk Madinah
dikejutkan oleh suara yang sangat dahsyat. Orang-orang kemudian berangkat menuju ke arah

suara tersebut. Rasulullah ‫ ﷺ‬bertemu mereka saat hendak kembali pulang. Ternyata beliau

telah mendahului mereka menuju ke arah suara tersebut. Waktu itu beliau naik kuda milik
Abu Thalhah, di lehernya terkalung sebuah pedang. Beliau bersabda, ‘Kalian tidak perlu
takut, kalian tidak perlu takut’. Anas berkata, ‘Kami mendapatkan kuda tersebut cepat larinya
padahal sebelumnya adalah kuda yang lambat berlari’.” (Shahih Muslim 2307-48).

2. Berikut ini ciri-ciri syaja'ah:


1) Berani membenarkan yang benar dan berani mengingatkan yang salah.
2) Berani membela hak milik, jiwa dan raga, dalam kebenaran.
3) Berani membela kesucian agama dan kehormatan bangsa.

3. Sebutkan manfaat syaja’ah! Sebutkan manfaat membela kebenaran!


a. Mendapatkan pahala yang besar, sebab kita telah melaksanakan salah satu perintah Allah
SWT yang meminta kita untuk senantiasa bersikap Amar ma’ruf nahi munkar.
b. Kedzoliman yang ada baik dari ruang lingkup keluarga hingga negara dapat dikurangi,
dicegah, bahkan dihilangkan.
c. Keadilan akan menyelimuti muka bumi Allah SWT.
d. Menghindarkan bangsa dari disintegrasi bangsa.
e. Kehidupan akan menjadi tentram, tenang, dan sejahtera.
f. Orang yang mati dalam membela kebenaran atau membela di Jalan Allah, maka syahid
hukumnya.

4. Sifat Jujur
Sifat jujur adalah salah satu sifat manusia yang melakukan atau mengatakan sesuatu sesuai
dengan keadaan yang sebenarnya. Sikap jujur penting dimiliki oleh semua orang dalm
pribadinya sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.

Contoh sikap jujur khususnya dalam niat, perkataan, dan perbuatan adalah sebagai berikut :
1. Ketika disuruh mama menjaga warung di rumah, saya jujur untuk berniat tetap berjaga
sampai mama datang, dan juga berniat jujur untuk melaporkan hasil penjualan
2. Ketika tidak membawa PR ke sekolah, saya jujur mengatakan kalau saya lupa
memasukkan PR ke dalam tas, tidak mengarang-ngarang alasan lain yang tidak benar
3. Ketika mengerjakan ulangan, saya berperilaku jujur yaitu mengerjakan sesuai kemampuan,
tidak menyontek pada teman.