Anda di halaman 1dari 8

69

Teori menjelaskan bahwa makin tinggi paritas ibu makin kurang baik

endometrium (dinding uterus). Hal ini diterangkan bahwa setiap kehamilan yang

disusul dengan persalinan akan menyebabkan kelainan pada uterus. Kehamilan

yang berulang-ulang mempengaruhi sirkulasi nutrisi kejanin dimana jumlah

nutrisi akan berkurang dibanding dengn kehamilan sebelumnya. Keadaan ini

menyebabkan gangguan pertumbuhan janin sehingga dilahirkan BBLR.

Pada kasus ibu mengatakan kehamilan ini merupakan hamil ketiga. Hal ini

mendukung dilahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Ini menunjukkan

terdapat persamaan antara teori dan kasus dilihat dari paritas ibu.

Teori menjelaskan pemeriksaan kehamilan minimial 4 kali selama

kehamilan yaitu satu kali di trimester I, satu kali di trimester II dan dua kali di

trimester III. Pemeriksaan antenatal secara teratur oleh ibu hamil akan

memugkinkan untuk melakukan deteksi dini terhadap ibu yang berisiko untuk

melahirkan BBLR sehingga upaya preventif maupun kuratif dapat dilakukan

secara optimal. Istiarti (2000) menyatakan bahwa ibu hamil yang mempunyai

anggapan negatif terhadap pelayanan antenatal seperti penggunaan pelayanan

antenatal dilakukan setelah perut ibu besar atau mendekati persalinan dan pada

kehamilan muda tidak perlu melakukan pemeriksaan. Ibu hamil yang lain akan

beranggapan memeriksakan kehamilannya ke bidan jika ibu hamil ada keluhan

atau kelainan. Anggapan tersebut akan memberikan peluang kejadian BBLR.

Sedangakan pada kasus ibu hanya memeriksakan kehamilannya tiga kali

ke Bidan. Karena pengetahuan ibu tentang pentingnya pemeriksaan antenatal

secara teratur. Hal ini menunjukan terdapat persamaan antara teori dan kasus yang

terdapat dilapangan.
70

Pada teori dijelaskan bahwa gizi ibu hamil menentukan berat bayi yang

dilahirkan, pemantauan gizi ibu hamil sangatlah penting dilakukan. Pengukuran

antropometri merupakan salah satu cara untuk menilai status gizi ibu hamil.

Ukuran antropometri merupaka salah satu cara untuk menilai status gizi

ibu hamil. Ukuran antropometri ibu hamil yang paling sering digunakan adalah

kenaikan berat badan ibu hamil dan ukuran lingkar lengan atas (LLA) selama

kehamilan (Riskesdas, 2007).

Sedangkan pada kasus didapatkan ibu setiap harinya hanya makan

sebanyak satu sampai dua kali saja sehari dengan porsi sedang. Ibu mengatakan

ibu tidak nafsu makan. Hal ini menunjukkan terdapat persamaan antara teori dan

kasus yaitu status gizi ibu menentukan berat badan bayi yang dilahirkan.

Terdapat persamaan antara teori dan kasus yang ditemukan dilapangan

pada keluhan utama. Pada teori dijelaskan bahwa keluhan utama pada bayi dengan

berat badan lahir rendah adalah keluarga mengatakan bayinya sangat kecil atau

kurang dari 2.500 gram bayi menangis, lemas, dan gerakan kurang aktif (Surasmi,

2003).

Sedangkan pada kasus bayi mengalami berat lahir yang kurang yaitu 2.250

gram, bayi terlihat kecil, bayi menangis, lemas dan gerakan kurang aktif.

Dikuatkan dengan teori yang menyebutkan bahwa Berat Bayi Lahir Rendah

(BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500

gram (sampai dengan 2499 gram) (Sarwono : 2010).

Bayi baru lahir dengan berat bayi lahir rendah selalu mengalami tanda-

tanda seperti suara tangisan merintih, gerakan yang lemah, dan keadaan umum

yang lemah. Opini ini dikuatkan oleh teori yang menyebutkan bahwa tanda-tanda
71

bayi dengan berat lahir rendah yaitu tonus otot lemah sehingga bayi kurang aktif

dan pergerakanya lemah, fungsi saraf yang belum atau tidak efektif dan tangisnya

lemah, jaringan kelenjar mammae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan

jaringan lemak masih kurang, dan verniks kaseosa tidak ada atau sedikit bila ada

(Sarwono, 2010).

Berdasarkan teori tanda- tanda bayi BBLR yaitu Berat badan sama dengan

atau kurang dari 2.500 gram, panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm,

lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm, lingkar dada sama dengan

atau kurang dari 30 cm dan umur kehamilan kurang dari 37 minggu. Pada BBLR

reflek hisapnya lemah (Winkjsastro, 2005). Pemeriksaan penunjang meliputi

darah rutin,glukosa darah, foto dada, USG kepala (Proverawati dan Ismawati,

2010).

Berdasarkan pada kasus berat badan lahir By. Ny. S kurang yaitu 2.250

gram, lingkar kepala 26 cm, lingkar dada 24 cm, reflek hisap lemah, dan gerakan

kurang aktif, vital sign nadi 142 x/ menit, pernapasan 56x/ menit, suhu 36,8 0 C.

Pada kasus ini terdapat kesenjangan antara teori dan kasus yang ada yaitu pada

teori pemeriksaan penunjang meliputi darah rutin, glukosa darah, foto dada, USG

kepala. Sedangkan pada kasus ini tidak ada dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Terdapat kesenjangan pada data obyektif untuk pemeriksaan neurologi,

diteori dijelaskan bahwa hasil dari pemeriksaan neurologi semua reflek-refleknya

lemah, sedangkan pada kasus hanya reflek menghisap, menelan saja yang lemah.

Kesenjangan ini dikuatkan oleh teori yang menyebutkan bahwa reflek-reflek

neurologi yang terjadi pada bayi dengan berat lahir rendah mengalami reflek yang
72

lemah dikarenakan organ-organ tubuh bayi masih belum berfungsi secara

sempurna.

Reflek - reflek pada pemeriksaan neurologi dengan kasus berat bayi lahir

rendah tidak semuanya lemah, karena lemah atau tidaknya reflek tergantung dari

keadaan umum dan kesadaran dari bayi tersebut. Dikuatkan dengan teori yang

menyebutkan bahwa ciri-ciri dari bayi dengan berat bayi lahir rendah berat badan

kurang dari 2500 gram, rambut tipis halus, tulang tengkorak lunak, tulang rawan

dan daun telinga imatur, kulit tipis dan transparan, terdapat rambut lanugo

terutama pada dahi, pelipis, telinga, lengan, serta reflek-reflek pada pemeriksaan

neurologis lemah, terutama pada reflek menghisap, menelan, dan reflek tonus

leher lemah.

2. Interpretasi Data

Pada langkah interpretasi data ini dilakukan identifikasi yang benar

terhadap diagnosa kebidanan, masalah, kebutuhan klien (Varney, 2007).

Diagnosa Bayi baru lahir By Ny X dengan berat badan lahir rendah. Masalah yang

umumnya terjadi pada bayi baru lahir dengan berat badan lahir rendah adalah

hipotermi, sindrom gawat nafas, dan reflek yang masih rendah(Surasmi, 2003).

Kebutuhan yang harus diberikan pada bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah

yaitu : mengkaji reflek hisap, mempertahankan kehangatan, member nutrisi sesuai

dengan kebutuhan bayi (Winkjosastro, 2007). Menegakkan diagnosis BBLR

adalah dengan mengukur berat lahir bayi dalam jangka waktu 1 jam setelah lahir,

dapat diketahui dengan dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan

penunjang. Riwayat yang perlu ditanyakan pada ibu dalam anamnesis untuk

menegakkan mencari etiologi dan factor-faktor yang berpengaruh terhadap


73

terjadinya BBLR adalah umur ibu, riwayat hari pertama haid terakhir, riwayat

persalinan sebelumnya, paritas, jarak kelahiran sebelumnya, kenaikan berat badan

selama hamil, aktivitas, penyakit yang diderita selama hamil, obat-obatan yang

diminum selama hamil dan pemeriksaan fisik. Yang dapat dijumpai saat

pemeriksaan fisik pada bayi BBLR adalah berat badan, tanda-tanda prematuritas

(pada bayi kurang bulan), tanda bayi cukup bulan atau lebih bulan (bila bayi kecil

untuk masa kehamilan)

Sedangkan kasus diagnose dari kasus ini adalah bayi Ny. S umur 1 jam

dengan berat badan lahir rendah. Sedangkan kebutuhan pada kasus ini adalah

merangsang reflek hisap dengan cara pemberian nutrisi yang adekuat.

3. Mengidentifikasi Masalah dan Diagonsa Potensial

Diagnosa potensial adalah mengidentifikasi dengan hati-hati dan kritis

pola atau kelompok tanda dan gejala yang memerlukan tindakan kebidanan untuk

membantu pasien mengatasi atau mencegah masalah- masalah spesifik (Varney,

2007). Pada kasus Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) ini potensial terjadi

hipotermi, asfiksia, hipoglikemi, hiperbilirubinemia, aspirasi mekonium (Varney

2007). Pada kasus ini diagnosa potensialnya terjadi hipotermi namun tidak terjadi

karena penanganan yang baik.

Pada kasus ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus yang

ada dilapangan karena adanya penanganan yang baik dari bidan yang ada dirumah

sakit.

4. Mengidentifikasi Kebutuhan yang Membutuhkan Tindakan

Segera, Kolaborasi dan Rujukan.


74

Pada teori kebutuhan yang membutuhkan tindakan segera adalah

pertahanan suhu tubuh bayi sehingga menghindari terjadinya kehilangan panas.

Dan melakukan kolaborasi dengan dokter spesialis anak.( Winkjosastro, 2007)

Pada langkah ini persamaannya terdapat pada pertahanan suhu tubuh bayi

untuk menghindari terjadinya kehilangan panas. Sedangkan kesenjangan pada

langkah ini adalah tidak ada dilakukan kolaborasi dengan dokter spesialis anak.

5. Perencanaan

Adalah suatu tindakan yang tepat utnuk mengatasi masalah atau kebutuhan

pasien. Rencana asuhan pada bayi berat badan lahir rendah menurut Winkjosastro

(2007), antara lain:

1. Lakukan pemantauan terhadap kondisi bayi

2. Lakukan pemantauan terhdap tanda- tanda vital yaitu suhu, pernapasan,

frekuensi jantung

3. Kaji reflek menghisap

4. Pertahankan kehangatan

5. Kolaborasi dengan dokter spesialis anak

6. Berikan hasil kolaborasi

7. Beri nutrisi sesuai kebutuhan bayi

8. Lakukan perawatan tali pusat

9. Lakukan penimbangan secara ketat

10. Berikan informasi pada ibu /keluarga tentang keadaan bayinya.

Sedangkan perencanaan didalam kasus ini meliputi

1. Beri informasi kepada ibu tentang hasil pemeriksaan bayi

2. Jaga suhu tubuh bayi dan suhu ruangan agar tetap hangat
75

3. Fasilitasi ibu dalam menyusui bayinya

4. Injeksi vit K dipaha kanan bayi

5. Ajari ibu perawatan bayi dengan metode kangguru

6. Cegah terjadinya infeksi

7. Lakukan pemeriksaan fisik

8. Lakukan perawatan tali pusat bayi

9. Pantau tanda- tanda bahaya pada bayi

10. Pantau tanda- tanda vital bayi

Pada langkah ini terdapat kesenjangan antara teori dan kasus yang ada

yaitu pada teori kolaborasi dengan dokter spesialis anak dan berikan hasil

kolaborasi. Sedangkan pada kasus ini tidak dilakukan kolaborasi dengan dokter

spesialis anak dan pemberian hasil kolaborasi.

6. Pelaksanaan

Pelaksanaan dilakukan berdasarkan pada perencanaan yang telah disusun

oleh penulis, baik secara mandiri maupun kolaborasi. Pada langkah ini terdapat

kesenjangan antara teori dan kasus yang ada yaitu pada teori melakukan

kolaborasi dengan dokter spesialis anak dan memberikan hasil kolaborasi.

Sedangkan pada kasus ini tidak dilakukan kolaborasi dengan dokter spesialis anak

dan pemberian hasil kolaborasi.

7. Evaluasi

Evaluai adalah sebuah perbandingan antara hasil yang aktual dengan hasil

yang diharapkan. Dilakukan penilaian apakah rencana asuhan yang telah disusun

dapat terlaksana dan terpenuhi kebutuhannya seperti yang telah diidentifikasi

dalam masalah dan diagnose (Varney, 2007)


76

Setelah dilakukan evaluasi maka didapatkan hasil keadaan umum bayi

baik, vital sign : 142 x/ menit, suhu 36,7 0 C, bayi dalam keadaan hagat didalam

box bayi, nutrisi terpenuhi, reflek hisap kuat, tali pusat bersih dan kering, BAB 3

kali sehari konsistensi kuning lembek, dan BAK 5 x sehari konsistensi kuning

jernih, berat bayi mengalami kenaikan menjadi 2430 gram.

Pada langkah ini terdapat kesenjangan antara teori dan kasus yang ada

yaitu pada teori melakukan kolaborasi dengan dokter spesialis anak dan

memberikan hasil kolaborasi. Sedangkan pada kasus tidak dilakukan kolaborasi

dengan dokter spesialis anak dan memberikan hasil kolaborasi.