Anda di halaman 1dari 21

JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.

1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

HOSPITAL ENVIRONMENTAL PERFORMANCE


COMPARISON IN WASTE MANAGEMENT IN JAKARTA

Soegeng Basoeki1, I Made Putrawan1, Susi Setyawati1


1
Universitas Negeri Jakarta
Email: soegeng.basoeki@gmail.com, putrawan.imade@unj.ac.id,
susi.setyawati@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini merupakan survei terhadap kinerja lingkungan rumah sakit di bidang pengelolaan limbah. Survei
dilakukan di RS. Cipto Mangunkusumo, RS. Persahabatan dan RSPI Sulianti Saroso. Kinerja lingkungan Rumah
Sakit akan baik jika 1) memiliki sumber daya manusia yang cukup, manajemen anggaran dan memiliki fasilitas
yang baik dan teknologi lingkungan yang memadai 2) Peraturan lingkungan dipatuhi untuk menerapkan standar
kualitas. Anggaran untuk pemeliharaan fasilitas pengelolaan limbah dan perekrutan sumber daya manusia
outsourcing perlu ditingkatkan. Upaya untuk meningkatkan motivasi lingkungan sumber daya manusia juga perlu
dilakukan untuk mencapai target kinerja yang telah ditentukan.

Kata kunci: Kinerja lingkungan, standar kualitas, pengelolaan limbah

Abstract

This study is a survey of the performance of the hospital environment in the field of waste management. Survey was
conducted in RS. Cipto Mangunkusumo, RS. Persahabatan and RSPI Sulianti Saroso. Environmental performance
of the Hospital would be good if 1) has sufficient human resources, budget management and have good facilities
and adequate environmental technologies 2) Environmental regulations adhered to apply quality standards. The
budget for the maintenance of waste management facilities and the recruitment of human resources outsourcing
needs to be improved. Efforts to increase the motivation of the human resources environment also needs to be done
in order to achieve predetermined performance targets

Keywords: Enviromental performance, quality standards, waste management

70
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

PENDAHULUAN Laporan Hasil Penilaian Program


Rumah Sakit adalah institusi Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup
pelayanan kesehatan perorangan secara (PROPER) Tahun 2010 - 2011 yang telah
paripurna yang menyediakan pelayanan rawat dibuat oleh Kementerian Lingkungan Hidup
inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah menyebutkan bahwa rumah sakit yang
Sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan, diawasi melalui PROPER berjumlah 42,
tempat berkumpulnya orang sakit maupun hanya 33 % berperingkat Biru, sedangkan 64
orang sehat dapat menjadi tempat penularan % berperingkat Merah dan sisanya 3%
penyakit serta memungkinkan terjadinya berperingkat Hitam.
pencemaran lingkungan dan gangguan Menurut U.S. EPA (2005), banyak
kesehatan karena menghasilkan limbah. Rumah Sakit secara sukarela melakukan
Berdasarkan jenis pelayanan dan inisiatif di bidang lingkungan, tetapi usaha
pengelolaannya, Rumah Sakit dapat mereka sering gagal karena kurangnya sistem
dibedakan menjadi Rumah Sakit umum dan manajemen lingkungan yang baik dan
Rumah Sakit Khusus. Rumah Sakit Umum berkelanjutan dengan mengintegrasikan
memberikan pelayanan kesehatan pada masalah lingkungan ke dalam kegiatan
semua bidang dan jenis penyakit, sedangkan organisasi, produk dan jasa. Sistem
Rumah Sakit Khusus memberikan pelayanan manajemen lingkungan merupakan
utama pada satu bidang atau satu jenis pendekatan baru dan sistematis untuk kinerja
penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, lingkungan yang efektif melalui pendekatan
golongan umur, organ, jenis penyakit, atau akuntabilitas, keterlibatan karyawan,
kekhususan lainnya. Di Propinsi DKI Jakarta, komitmen pimpinan, dan pelatihan SDM.
Rumah Sakit milik pemerintah pusat yang Lingkungan kerja dalam
termasuk dalam kriteria Rumah Sakit umum meningkatkan kualitas sumber daya manusia
adalah RS. Persahabatan, RS. Cipto salah satunya yaitu memperhatikan kualitas
Mangunkusumo, dan RS. Fatmawati. proses manajemen tergantung pada seberapa
Selanjutnya yang termasuk kriteria Rumah baik organisasi diarahkan dan dikelola. Hal
Sakit khusus, yaitu: RS. Penyakit Infeksi tersebut dapt berupa kebijakan yang
Sulianti Saroso, RS.Kanker Dharmais, RS. dihasilkan dari gaya kepemimpinan serta self
Pusat Otak Nasional, RS. Jantung Harapan efficacy dari sumber daya manusia itu
Kita sendiri. (Putrawan, 2017).

71
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

Menghadapi masalah-masalah limbah Sasaran lingkungan adalah tujuan


Rumah Sakit, banyak terdapat “kesamaan” lingkungan menyeluruh yang timbul dari
dan “perbedaan” yang dapat dianalisa. kebijakan lingkungan yang ditetapkan sendiri
Analisa secara komparatif (comparative oleh organisasi untuk dicapai dan
analysis) dipertimbangkan sebagai satu dikuantifikasikan bila dapat dipraktekkan.
metode penelitian yang tepat (disesuaikan Sedangkan target lingkungan adalah
dengan situasi setempat) dan dapat dilakukan persyaratan kinerja yang rinci,
dengan cepat dan murah. (Ganis, 2011). dikuantifikasikan bila dapat dipraktekkan,
Penelitian ini mengkhususkan pada yang berlaku bagi organisasi atau bagiannya
analisa komparatif tentang kebijakan yang timbul dari sasaran lingkungan dan
manajemen Rumah Sakit dalam yang perlu ditetapkan dan dipenuhi untuk
meningkatkan kinerja lingkungan dalam hal mencapai sasaran itu. Kinerja lingkungan
pengelolaan limbah dan strategi manajemen kuantitatif adalah hasil yang dapat diukur dari
apa yang telah dilakukan. sistem manajemen lingkungan yang terkait
kontrol aspek lingkungan fisiknya.
A. Kinerja Lingkungan (Environmental Sedangkan kinerja lingkungan kualitatif
Performance) adalah hasil yang dapat diukur dari hal-hal
Menurut Kuhre (1997), kinerja terkait dengan ukuran asset non fisik seperti
lingkungan adalah hasil mengelola aspek- prosedur, proses inovasi, motivasi dan
aspek lingkungan organisasi. Sedangkan semangat kerja yang dialami manusia pelaku
menurut Sunu (2001), kinerja lingkungan kegiatan dalam mewujudkan kebijakan
adalah hasil terukur dari Sistem Manajemen lingkungan organisasi, sasaran dan targetnya
Lingkungan yang berkaitan dengan (Arfan Ikhsan, 2009). Indikator kinerja
pengendalian organisasi terhadap lingkungan secara umum terdiri dari 2
lingkungannya, berdasarkan kebijakan, (GEMI, 1998, dalam Purwanto, 2000) yaitu:
sasaran dan target lingkungan2. Kebijakan 1. Indikator lagging yaitu ukuran kinerja
lingkungan adalah pernyataan organisasi end-process, mengukur output hasil
tentang niat dan prinsipnya sehubungan proses seperti jumlah polutan yang
dengan seluruh kinerja lingkungannya yang dihasilkan apakah masih dibawah
memberikan kerangka kerja bagi tindakan baku mutu lingkungan
dan untuk menentukan sasaran dan target 2. Indikator leading yaitu ukuran kinerja
lingkungan. in-process yang mengukur

72
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

implementasi prosedur yang 5. Limbah cair adalah semua air buangan


dilakukan atau mengukur faktor apa termasuk tinja yang berasal dari kegiatan
yang diharapkan membawa pada Rumah Sakit yang kemungkinan
perbaikan kinerja lingkungan. mengandung mikroorganisme, bahan
kimia beracun dan radioaktif yang
B. Pengelolaan Limbah Rumah Sakit berbahaya bagi kesehatan.
Definisi hal-hal yang terkait dengan 6. Limbah gas adalah semua limbah yang
pengelolaan limbah Rumah Sakit adalah berbentuk gas yang berasal dari
sebagai berikut: pembakaran di Rumah Sakit seperti
1. Limbah Rumah Sakit adalah semua incenerator, dapur, perlengkapan
limbah yang dihasilkan dari kegiatan generator, anastesi dan pembuatan obat
Rumah Sakit dalam bentuk padat, cair, sitotoksik.
gas. 7. Limbah infektius adalah limbah yang
2. Limbah padat Rumah Sakit adalah terkontaminasi organisme patogen yang
semua limbah Rumah Sakit yang tidak secara rutin ada di lingkungan dan
berbentuk padat sebagai akibat kegiatan organisme tersebut dalam jumlah dan
Rumah Sakit yang terdiri dari limbah virulensi yang cukup untuk menularkan
medis padat dan non medis. penyakit pada manusia rentan.
3. Limbah medis padat adalah limbah padat 8. Limbah sangat infektius adalah limbah
yang terdiri dari limbah infektius, limbah berasal dari pembiakan dan stock bahan
patologi, limbah benda tajam, limbah sangat infektius, otopsi, organ binatang
farmasi, limbah sitotoksis, limbah percobaan dan bahan lain yang telah
kimiawi, limbah radio aktif, limbah diinokulasi, terinfeksi atau kontak
kontainer bertekanan dan limbah dengan dengan bahan yang sangat infektius.
kandungan logam berat yang tinggi. 9. Limbah sitotoksis adalah limbah dari
4. Limbah padat non medis adalah limbah bahan yang terkontaminasi dari
padat yang dihasilkan dari kegiatan persiapan dan pemberian obat sitotoksik
Rumah Sakit di luar medis yang berasal untuk kemoterapi kanker yang
dari dapur, perkantoran, taman dan mempunyai kemampuan untuk
halaman yang dapat dimanfaatkan membunuh atau menghambat
kembali apabila ada teknologinya. pertumbuhan sel hidup.

73
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

10. Minimilasi limbah adalah upaya yang Penelitian dilaksanakan pada bulan
dilakukan Rumah Sakit untuk September - Nopember 2013.
mengurangi jumlah limbah yang
dihasilkan dengan cara mengurangi METODOLOGI PENELITIAN
bahan (reduce), menggunakan kembali Metode penelitian yang digunakan
limbah (reuse), dan daur ulang limbah adalah penelitian survey dengan
(recycle). menggunakan analisis komparatif yang
menghasilkan deskripsi data secara sistematis
Kinerja Lingkungan Rumah Sakit dan faktual mengenai kinerja lingkungan di
Kinerja lingkungan di Rumah Sakit Rumah Sakit. Rumah Sakit pemerintah pusat
adalah hasil dari capaian indikator di bidang di bawah Kementerian kesehatan yang berada
lingkungan yang telah dilakukan oleh Unit di Propinsi DKI Jakarta ada 7 Rumah Sakit,
Pengelola Lingkungan yang ada di Rumah yaitu: RS. Persahabatan, RS. Cipto
Sakit. Capaian indikator yang dilihat adalah: Mangunkusumo, RS. Fatmawati, RS.
1. Besaran jumlah limbah yang telah Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, RS.Kanker
diminimasi Dharmais, RS. Pusat Otak Nasional, RS.
2. Hasil dari program dan kegiatan Jantung Harapan Kita Dari 7 RS tersebut,
lingkungan yang telah dilakukan diambil 3 Rumah Sakit sebagai subyek
3. Hasil dari menaati peraturan penelitian dengan menggunakan metode
pemerintah di bidang lingkungan purposive sampling method (metode
dengan menggunakan standar mutu sampling untuk tujuan tertentu) yaitu RS.
yang ada. Cipto Mangunkusumo sebagai Rumah Sakit
Besaran sumber daya yang dimiliki rujukan nasional yang berskala internasional
dan strategi yang dilakukan oleh manajemen dengan kapasitas tempat tidur paling banyak
Unit Pengelola Lingkungan di Rumah Sakit diantara Rumah Sakit pemerintah lain (diatas
dalam mencapai target-target lingkungan 900 tempat tidur), RS. Persahabatan sebagai
yang telah ditetapkan menjadi bagian yang Rumah Sakit umum dengan kapasitas tempat
tidak terpisahkan dalam penelitian di bidang tidur berkisar 600 tempat tidur, RSPI.
manajemen lingkungan. Tempat penelitian Sulianti Saroso sebagai Rumah Sakit khusus
adalah di DKI Jakarta dengan lokai penelitian dengan kapasitas tempat tidur berkisar 200
di RS. Persahabatan, RS. Cipto tempat tidur.
Mangunkusumo, RSPI. Sulianti Saroso.

74
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

HASIL DAN PEMBAHASAN dan melayani penelitian dan pelatihan


Rumah Sakit Umum Persahabatan bidang kesehatan lingkungan Rumah
(RSUP) mulai beroperasi pada tanggal 20 Sakit
Nopember 1963, beralamat di Jl. Raya Nilai (value) yang dijadikan budaya
Persahabatan No. 1 Jakarta Timur, kerja di RSUP adalah: profesional,
mempunyai kapasitas 600 tempat tidur berkualitas, inovatif, keamanan dan
dengan rata-rata Bed Occupancy Rate (BOR) keselamatan. Kebijakan di bidang lingkungan
pada periode Januari-Juli 2013 sebesar yang telah diterapkan adalah
68,90%. Produksi rata-rata timbunan sampah 1. Meningkatkan kinerja lingkungan
medis sebesar 0,19 kg/TT/hari dan sampah melalui upaya mencegah,
non medis sebesar 0,011 m3/TT/hari.1 Visi menanggulangi dan mengendalikan
RSUP di bidang lingkungan berbagai sumber pencemaran dan
adalah “Menjadi Percontohan Kesehatan kontaminasi lingkungan dengan
Lingkungan Rumah Sakit Terdepan di menyediakan fasilitas dan teknologi
Indonesia” dengan rangkaian misi sebagai pengolahan limbah
berikut: 2. Melaksanakan sistem manajemen
1. Menyiapkan perangkat teknologi lingkungan yang terpadu secara terus
pencegah dan pengendali pencemaran menerus
lingkungan 3. Berupaya menaati semua peraturan-
2. Menerapkan prinsip-prinsip kesehatan peraturan lingkungan hidup sehingga
lingkungan Rumah Sakit secara cepat menjamin Rumah Sakit sehat, aman
dan tepat serta sistematis melalui dan nyaman
kegiatan pengoperasian dan
pemeliharaan sarana, prasarana dan Data jumlah karyawan yang menangani
peralatan kesehatan lingkungan pengelolaan limbah di RSUP digambarkan
3. Melaksanakan konsultasi masalah oleh tabel berikut:
kesehatan lingkungan Rumah Sakit Tabel 1.1
Jumlah SDM Pengelola Lingkungan RSUP
dengan membangun kualitas SDM
sanitasi yang mampu memenuhi Jumlah
SDM
persyaratan kompetensi yang berlaku Tahun Keterangan
(orang)
4. Menyediakan informasi kesehatan
S2 1 orang, S1 4
lingkungan secara lengkap dan akurat 2011 19 orang,

75
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

b. Membangun satu unit laboratorium


D3 5 orang
IPAL untuk swapantau harian.
S2 1 orang, S1 4
orang, c. Pengelolaan pada unit pre treatment
2012 16
STP dengan memasang bak
D3 4 orang
S2 1 orang, S1 4 penyaringan kasar (barscreen) untuk
orang,
memisahkan sampah dan padatan lain
2013 19
D3 4 orang dari limbah cair inlet dan membangun
Sumber: RSUP
grease trap untuk memisahkan
Bedasarkan isu pokok dampak lemak/minyak dari limbah dapur.
penting dari kegiatan RSUP yang terkait d. Pengelolaan pada unit STP dengan
pengelolaan lingkungan hidup meliputi: membuat kran pengambilan sampel
Penurunan kualitas udara, Pengelolaan STP untuk memudahkan pengambilan
intensitas kebisingan, Pengelolaan limbah sampel dan memasang flow meter
cair, Pengelolaan limbah padat medis dan limbah cair untuk mencatat debit
non medis, Pengelolaan infeksi nosokomial, limbah cair.
Penurunan kualitas air tanah, Pengelolaan Sedangkan pengelolaan limbah oli
penghijauan/flora darat, Pengelolaan dampak genset dilakukan dengan memasukkan
kesempatan kerja dan peluang berusaha. limbah oli dalam drum tertutup dan
Upaya manajemen RSUP dalam hal diletakkan di ruang khusus untuk pelumas
pengelolaan limbah cair yang bersumber dari sebelum diserahkan kepada
limbah cair domestik baik itu black water (air perusahaan/instansi yang telah ditunjuk untuk
buangan kakus) dan grey water (air buangan pengangkutan dan pengelolaannya
bukan dari kakus) serta limbah cair medis berdasarkan ijin dari Kementerian
yang dihasilkan dari ruangan laboratorium, Lingkungan Hidup.
air bekas mencuci alat medis, sisa larutan Upaya manajemen RSUP dalam
kimia hasil penelitian dan lain-lain adalah mengelola limbah padat medis dan non medis
dengan jalan: adalah sebagai berikut:
a. Membangun satu unit STP Fluidized a. Menyediakan tempat sampah tertutup
Bed Biofilm Reactor (FBBR) dengan di setiap lantai dan sudut bangunan
kapasitas 500 m3/jam untuk limbah b. Melakukan pemisahan antara sampah
cair domestik dan medis. padat basah dan kering

76
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

c. Membangun bak penampungan Lingkungan lingkungan Lingkungan


2 Fasilitas Fasilitas
sampah non medis di areal Rumah
penunjang kerja penunjang
Sakit dalam bentuk kontainer ukuran masih kurang kerja masih
kurang
2,5 m x 1,5 m x 1 m dan ruang
Sumber: RSUP
tertutup untuk sampah medis dengan
Sedangkan produksi limbah di RSUP yang
ukuran 2 m x 1,5 m.
harus dikelola adalah sebagai berikut:
d. Pengelolaan sampah non medis
menggunakan kantong plastik warana Tabel 3.
Rata-rata Produksi Limbah RSUP
hitam untuk dikumpulkan dalam TPS,
dikirimkan ke TPA setiap 2 hari Jumlah
Jenis
sekali. No. Limbah Rata-rata Keterangan
e. Pengelolaan sampah medis Pertahun
1 Sampah Padat 50.449 kg Data dari tahun 2009-
menggunakan wadah khusus untuk
Medis 2012
limbah infektius dan obat 2 Sampah Padat 2.001 m3 Data dari tahun 2009-
Non Medis 2012
kadaluwarsa. Selanjutnya akan
194.449
dibakar dalam incenerator. Abu hasil 3 Limbah Cair m3 Data dari tahun 2009-
2012
pembakaran diangkut oleh pihak
Sumber: RSUP
ketiga yang telah ditunjuk.
Fasilitas pengelolaan limbah yang
f. Upaya pengelolaan dengan
dimiliki oleh RSUP adalah sebagai berikut:
memaksimalkan 3 R (reduce, reuse,
recycle) Tabel 4.
Fasilitas Pengelolaan Limbah RSUP
Gambaran masalah dalam
pengelolaan limbah di RSUP adalah sebagai No. Fasilitas Jumlah Kapasitas Keterangan

berikut:
1 IPAL 1 unit 500 m3/jam kondisi baik

Tabel 2.
Permasalahan dalam Pengelolaan Limbah Tahun
2010-2012 2 Incenerator 2 unit 100 kg/jam 1 unit rusak

Tahun Tahun Sumber: RSUP


No. Tahun 2010 2011 2012
Data terkait pengelolaan limbah
1 Kurangnya SDM Kurangnya Kurangnya
dengan memaksimalkan 3R (Reduce, Reuse,
Yang SDM yang SDM yang
berpengalam berpengalama Recycle) adalah sebagai berikut:
berpengalaman di an n
Bidang di bidang di bidang

77
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05
Tabel 5. Pelayanan Sanitasi Lingkungan yang mampu
Rata-rata Produksi Limbah RSUP
mewujudkan lingkungan Rumah Sakit
Jumlah Rata-
Jenis rata Keterangan memenuhi standar universal” dengan
No. Limbah
pertahun (3R) rangkaian misi sebagai berikut:
1 Sampah Padat 50.449 kg - 1. Menyelenggarakan kegiatan pengolahan
Medis
2 Sampah Padat 2.001 m3 2.790 kg
limbah padat dan cair
Non Medis 2. Menyelenggarakan pelayanan

194.449 pemantauan lingkunan


3 Limbah Cair m3 - 3. Menyelenggarakan laboratorium
Sumber: RSUP
lingkungan guna pengendalian
Rumah Sakit Umum Cipto pencemaran
Mangunkusumo 4. Menyelenggarakan kegiatan pengawasan
Rumah Sakit Umum Cipto kesehatan lingkungan Rumah Sakit
Mangunkusumo (RSCM) beralamat di Jl. 5. Menyelenggarakan kegiatan penataan
Pangeran Diponegoro No.71 Jakarta Pusat, taman, penghijauan dan manajemen
mempunyai kapasitas 946 tempat tidur lingkungan yang berkelanjutan
dengan rata-rata Bed Occupancy Rate (BOR) 6. Mewujudkan SDM sanitasi yang
pada periode Januari-Juni 2013 sebesar memiliki keunggulan dalam kompetensi,
71,36%.2 Jumlah pengunjung dan rawat jalan etiak, dan berbudaya kinerja
rata-rata 2.735 orang/hari. 7. Menjadi tempat pendididkan, penelitian
Setelah meraih akreditasi nasional dan pelatihan di bidang kesehatan
dari Komite Akreditasi Rimah Sakit (KARS) lingkungan dan teknologi lingkungan
pada semester 2 tahun 2012, RSCM sebagai Rumah Sakit.
Rumah Sakit pusat rujukan nasional pada Nilai (value) yang dijadikan budaya
bulan April 2013 terakreditasi internasional kerja di RSCM adalah: profesionalisme,
dari Joint Commission International (JCI) integritas, kepedulian, penyempurnaan
Acreditation Standards for Hospitals dengan berkelanjutan, belajar dan mendidik. Data
tetap mempertahankan sertifikasi ISO jumlah karyawan yang menangani
9001:2008 dan ISO 22000:2005 (Food pengelolaan limbah di RSCM digambarkan
Management System). Visi RSCM di bidang oleh tabel berikut:
lingkungan adalah adalah “Menjadi Unit

78
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05
Tabel 6. domestik, kantong plastik ungu untuk sampah
Jumlah SDM Pengelola Lingkungan RSCM
sitotoksik, kantong palstik bening untuk
Jumlah
sampah daur ulang, kantong plastik merah
SDM
Tahun Keterangan untuk sampah radioaktif kantong plastik
(orang)
S2 2 orang, S1 6 orang, coklat untuk sampah B3 dan stiker sampah
2013 21
D3 4 orang
(infektius, non infektius, daur ulang,
Sumber: RSCM radioaktif, sitotoksik dan B3). Jumlah
sampah medis selama Januari-Juni 2013 rata-
Upaya manajemen RSCM dalam hal
rata sebanyak 23.060 kg/bulan atau 774
pengelolaan limbah cair yang bersumber dari
kg/hari yang akan dibakar di incenerator yang
limbah cair domestik serta limbah cair medis
telah berijin. Terjadi peningkatan volume
yang dihasilkan dari ruangan laboratorium,
sampah medis pada semester 1 tahun 2013
air bekas mencuci alat medis, sisa larutan
dibandingkan dengan periode Juli-Desember
kimia hasil penelitian dan lain-lain adalah
tahun 2012 yang rata-rata sebesar 631
dengan jalan mengoptimalkan 2 unit IPAL
kg/hari, penyebabnya antara lain adalah
berkapasitas 500m3/hari dan 800m3/hari
kewaspadaan universal yang tinggi dimana
yang sudah mempunyai Ijin Pengolahan
semakin meningkatnya pemakaian bahan
Limbah Cair (IPLC). Pemeliharaan dan
medis habis pakai yang disposable.
perawatan mesin-mesin, pompa-pompa dan
Untuk sampah non medis rata-rata
peralatan mekanikal elektrikal yang
168.439 kg/bulan atau 5.534 kg/hari. Secara
dilaksanakan secara rutin sesuai jadwal
umum terjadi peningkatan volume sampah
melalui kontrak servis dengan pihak ke-3
non medis pada semester 1 tahun 2013
sedangkan pengoperasiannya dilaksanakan
dibandingkan periode Juli-Desember 2012
oleh operator IPAL dan petugas teknis
yang rata-rata sebesar 4.423 kg/hari
gedung. Pengelolaan limbah padat dilakukan
dikarenakan bertambahnya aktifitas/unit kerja
melalui upaya pemilahan limbah padat
baru di lingkungan RSCM dan meningkatnya
dengan menyediakan fasilitas tempat sampah
jumlah kunjungan rawat.
basah, tempat sampah kering, tempat sampah
Untuk sampah daur ulang atau
infektius, wadah sitotoksik, dan wadah benda
sampah non medis anorganik berupa kardus,
tajam/jarum suntik (safety box), kantong
kertas, plastik rata-rata perbulan sebanyak
plastik kuning untuk sampah infektius,
5.501 kg atau 183 kg perhari menurun
kantong plastik hitam untuk sampah
dibandingkan periode Juli-Desember 2012

79
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

yang rata-rata sebesar 216 kg/hari k


Non Medis 137.111
g kg/bulan
dikarenakan pemulung yang berkeliaran di Limbah Laporan debit
lingkungan RS. Pengelolaan limbah B3 yang 3 Cair 304.789 m3 limbah
tahun 2012
dihasilkan RSCM berupa limbah fixer, Sumber: RSCM
developer, oli bekas, batu baterai, sludge Fasilitas pengelolaan limbah yang dimiliki
IPAL, aki bekas, lampu TL dan abu oleh RSCM adalah sebagai berikut:
incenerator. Limbah B3 baik cair maupun Tabel 8.
padat dikelola dengan menyerahkannya ke Fasilitas Pengelolaan Limbah RSCM
No. Fasilitas Jumlah Kapasitas Keterangan
pihak ke-3 yakni perusahaan pengolah 500 m3/hari
dan
limbah B3 yang mempunyai sertifiikat 1 IPAL 2 unit berfungsi
800 m3/hari
perijinan dari instansi yang berwenang.
Untuk limbah radioaktif dengan
2 Incenerator 1 unit 200 kg/jam berfungsi
waktu paruh tahunan, maka pembuangan
limbah bekerja sama denagn BATAN, Sumber: RSCM

sedangkan limbah radioaktif dengan waktu


Rumah Sakit Khusus Penyakit Infeksi
paruh yang kurang dari 10 hari, disimpan
Sulianti Saroso
dulu pada tempat penyimpanan yang aman
Rumah Sakit Khusus Penyakit
dan dapat dibuang ke TPS sampah RSCM
Infeksi Sulianti Saroso (RSPI) beralamat di
apabila unsur radioaktif sudah tidak ada
Jalan Baru Sunter Permai Raya Jakarta Utara
dengan dilakukan pengukuran paparan radiasi
dengan luas area 35.000 m2 dan luas
sebelum limbah dibuang. Produksi limbah di
bangunan seluruhnya 54.034 m2 merupakan
RSCM yang harus dikelola adalah sebagai
Rumah Sakit khusus yang menangani pasien
berikut:
penyakit infeksi dengan tingkat penularannya
Tabel 7. ke manusia berpotensi tinggi. Kapasitas RSPI
Rata-rata Produksi Limbah RSCM
sebanyak 202 tempat tidur dengan Bed
Jumlah
Jenis
Dccupancy Rate (BOR) sebesar 60-70%, dan
No. Limbah Rata-rata Keterangan merupakan Rumah Sakit dengan klasifikasi
pertahun
Sampah Berdasarkan rata-
kelas B. Sampah medis dikelola dengan cara
1 Padat 235.572 kg rata dibakar di incenerator sedangkan sampah
Medis 19.631 kg/bulan
Sampah Berdasarkan rata-
padat domestik dikumpulkan lalu dibawa
2 Padat 1.645.332 rata

80
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

oleh Dinas Kebersihan Jakarta Utara untuk TL/bohlamp bekas, sludge limbah cair dan
dibawa ke TPA. obat kadaluwarsa yang sudah dikumpulkan,
Pengelolaan limbah cair dilakukan pengelolaannya diserahkan kepada pihak
di IPAL yang telah dibuat tahun 1993 yang ketiga/swasta yang sudah berijin dari instansi
terletak di belakang gedung Rumah Sakit yang berewenang. Bagian yang bertanggung
dengan pengolahan air limbah menggunakan jawab dalam kegiatan pengelolaan limbah
sistem lumpur aktif (Activated Sludge adalah Instalasi Kesehatan Lingkungan yang
System) dengan debit maksimum 195 merupakan bagian dari struktur organisai
m3/hari. IPAL terdiri dari: RSPI yang bertanggung jawab dalam bidang
- Bak penampungan awal Pengadaan air bersih, Pengelolaan air limbah,
- Bak pengendapan Pengelolaan sampah Rumah Sakit,
- Bak equalisasi Pengawasan kebersihan, Sterilisasi alat dan
- Bak aerasi linen, Pemantauan kebersihan udara ruangan
- Bak kimia pemberian NaOH, NaOCL rumah sakit, pengawasan kebersihan ruangan,
(klorinasi), dan H2SO4 (netralisasi) pemberantasan serangga, tikus dan vektor
- Bak penampungan akhir lainnya,dekontaminasi ruangan, pengawasan
Juga telah dipasang sand filter dan sterilisasi alat dan bahan, kegiatan sanitasi
penggunaan karbon aktif untuk lainnya
memanfaatkan air limbah lebih lanjut. Upaya Visi Instalasi Kesehatan Lingkungan
pengelolaan limbah padat non medis dengan di RSPI adalah menjadi Rumah Sakit
menyediakan 300 bak dan untuk limbah percontohan pada keberhasilan pelaksanaan
padat medis disediakan 100 bak serta sanitasi Rumah Sakit dalam rangka
pemakaian kantong plastik hitam untuk mendukung pengendalian infeksi nosokomial
limbah padat non medis (domestik), kantong dan konsep green hospital serta program
plastik kuning untuk limbah padat medis. Gerakan Indonesia Berseri Rumah Sakit
Juga tersedia tempat sampah non Bersih, Kementerian Kesehatan RI. Misi
medis/domestik (organik dan anorganik). yang akan dituju adalah:
Untuk pemusnahan limbah padat non 1. Dicapainya efektitas, efisiensi dan kualitas
medis digunakan incenerator dengan sistem 2 optimal pelayanan pemeliharaan
burner. Incenerator juga sudah dillengkapi kebersihan dan kesehatan sarana
dengan after burner scrubber. Untuk limbah lingkungann Rumah Sakit
B3 yang terdiri dari abu incenerator, lampu

81
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

2. Melaksanakan kegiatan pengawasan RSPI yang harus dikelola adalah sebagai


penyehatan ruang dan bangunan Rumah berikut:
Sakit, penyehatan makanan/minuman, Tabel 9.
Rata-rata Produksi Limbah RSPI
penyehatan air, pengendalian serangga,
Jumlah Rata-rata
tikus dan binatang pengganggu, No. Jenis Limbah
pertahun
disinfekatsi dan sterilisasi, pengamanan
1 Sampah Padat 11.240 kg
dampak radiasi Medis
3. Melaksanakan upaya promosi kesehatan 2 Sampah Padat 78.290 kg
Non Medis
dari aspek kesehatan lingkungan dengan 3 Limbah Cair 63.875m3
Sumber: RSPI
berpedoman pada standar keselamatan dan
kesehatan kerja Fasilitas pengelolaan limbah yang
Jenis dampak yang terkait dimiliki oleh RSPI adalah sebagai berikut:
pengelolaan limbah dipantau melalui:
Tabel 10.
1. Pemantauan kualitas air limbah dengan Fasilitas Pengelolaan Limbah RSPI
No. Fasilitas Jumlah Kapasitas Keterangan
parameter tingkat BOD, COD, TSS, pH
dan bakteri E.coli yang terkandung dalam 1 IPAL 1 unit 200 m3/hari berfungsi

air limbah di saluran drainase setiap bulan


2. Pemantauan kualitas emisi buangan dari 2 Incenerator 1 unit 100 kg/jam berfungsi

incenerator,genset dan kendaraan dinas Sumber: RSPI


dengan parameter kandungan Nox, Sox dan
Secara umum, dari tiga Rumah Sakit
CO setiap 3 bulan dan 6 bulan.
yang menjadi lokasi penelitian belum ada
3. Pemantauan volume sampah padat
yang mempunyai sertifkat internasional di
dilakukan setiap hari di bak-bak
bidang manajemen lingkungan setara ISO
penampungan sampah dan incenerator.
14000 series. Hanya RSCM yang sudah
Jumlah SDM sebanyak 8 orang yang
terakreditasi internasional dari Joint
terdiri dari 5 orang SDM teknis yang
Commission International (JCI) Acreditation
berpendidikan D3 Kesehatan Lingkungan, 1
Standards for Hospitals dengan tetap
orang staff berbendidikan S1, 2 orang
mempertahankan sertifikasi ISO 9001:2008
honorer berpendidikan setingkat SMA.
untuk Quality Management System dan ISO
Tenaga out sourcing sebanyak 40 orang
22000:2005 untuk Food Management
sebagai Cleaning Service. Produksi limbah di

82
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

System. Hal ini dikarenakan beberapa hal 2. Belum dirasakan perlu karena sistem
sebagai berikut: manajemen lingkungan sudah diterapkan
1. Ketidaksiapan dan kegamangan meskipun tidak bersertifikasi
manajemen dalam memenuhi internasional.
persyaratan yang harus dipenuhi untuk Jumlah limbah Rumah Sakit yang diminimasi
memperoleh sertifikat lingkungan dengan prinsip 3R per tahun adalah sebagai
berstandar internasional berikut:

Tabel 11.
Jumlah Limbah Rumah Sakit yang Diminimasi (3R)
RSUP RSCM RSPI
No. Jenis Limbah
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 Sampah Padat - - - - - -
Medis
2 Sampah Padat 2.790 kg - 66.012 4,1 2.160 kg 3
Non Medis kg
(bahan
anorganik
berupa kardus,
kertas, plastik)
3 Limbah Cair - - - - -
Sumber: Data olahan

Sedangkan perbandingan jumlah SDM dengan jumlah limbah yang harus dikelola adalah sebagai
berikut:
Tabel 12.
Jumlah SDM Pengelola Limbah Rumah Sakit

RSUP RSCM RSPI


No Jenis Limbah
Limbah SDM Limbah SDM Limbah SDM
1 Sampah Padat 50.449 kg 235.572 kg 11.240
Medis kg
2 Sampah Padat 2.001 m3 1.645.332 78.290
19 21 8
Non Medis kg kg
3 Limbah Cair 194.449 304.789 m3 63.875
m3 m3
Sumber: Data Olahan

Perbandingan jumlah anggaran dengan jumlah limbah yang harus dikelola adalah
sebagai berikut:

83
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

Tabel 13
Jumlah Anggaran untuk Mengelola Limbah Unit Sanitasi di Rumah Sakit

RSUP RSCM RSPI

No Jenis Limbah Angga Angga Limbah Angga


Limbah Limbah
ran ran ran
1 Sampah 50.449 235.572 kg 11.240
Padat Medis kg kg
350 Lebih 400
2 Sampah 2.001 m3 1.645.332 78.290
juta – dari juta -
Padat Non kg kg
400 Rp. 2 450
Medis
juta Milyar juta
3 Limbah Cair 194.449 304.789 63.875
m3 m3 m3
Sumber: Data Olahan

Perbandingan sarana dan teknologi pengelolaan limbah di tiga Rumah Sakit adalah sebagai
berikut:
Tabel 14.
Jumlah Sarana Pengelolaan Limbah Rumah Sakit

RSUP RSCM RSPI


Jenis
Jumlah Unit Jumlah Unit Jumlah Unit
Limbah
Limbah Pengelola Limbah Pengelola Limbah Pengelola
Sampah 50.449 1 inc 235.572 1 inc, kap 11.240 1 inc.
Padat kg Kap.100 Kg 200 kg/jam kg Kap. 100
Medis kg/jam kg/jam
Limbah 194.449 1 IPAL 304.789 2 IPAL kap. 63.875 1 IPAL
Cair m3 kap. 500 m3 total1300 m3 kap.500
m3/hari m3/hari m3/hari

Sampah padat non medis dikelola bekerja sama dengan Suku Dinas Kebersihan
Sumber: Data Olahan

Kebutuhan SDM lingkungan untuk sampah padat medis sebesar 1.405 kg –


menangani masalah lingkungan di Rumah 11.218 kg pertahun atau 3,85 kg – 30,73 kg
Sakit, khususnya masalah pengelolaan perhari; sampah padat non medis sebesar
limbah baik jumlah maupun kompetensinya 9.786 kg – 1.645.332 kg pertahun atau 26,8
merupakan masalah tersendiri bagi manager kg – 4.507,8 kg perhari; limbah cair sebesar
Unit Sanitasi dan Lingkungan di RS. Rata- 7.984 m3 – 14.514 m3 pertahun atau 21,87
rata satu orang SDM lingkungan menangani m3 – 39,76 m3 perhari.

84
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

Tabel 15.
Perbandingan SDM lingkungan dengan jumlah limbah Rumah Sakit

RSUP RSCM RSPI


Jenis
No. 19 21 Limbah 8
Limbah Limbah Limbah
SDM SDM SDM
1 Sampah 50.449 235.572 1:11. 11.240
1:2.65 1:1.40
Padat Medis kg kg 218 kg
5 kg 5 kg
kg
2 Sampah 2.001 1:105 1.645.332 1:78. 78.290 1:9.78
Padat Non m3 m3 kg 349 kg 6 kg
Medis kg
3 Limbah Cair 194.449 1:10.2 304.789 1:14. 63.875 1:7.98
m3 34 m3 m3 514 m3 4 m3
m3
Sumber: Data Olahan

Proporsi jumlah SDM dan beban kerja yang di Unit Sanitasi dan Lingkungan RSUP :
tidak ideal akan menghasilkan kinerja yang RSPI : RSCM adalah 1 : 1,13 : 5 sedangkan
tidak maksimal dalam pengelolaan limbah. perbandingan beban kerjanya adalah 1 : 0,28
Perbandingan jumlah anggaran yang tersedia : 3,12.

Tabel 16.
Perbandingan Anggaran Pengelolaan Limbah dengan Jumlah Limbah Rumah Sakit dengan RSUP sebagai
Pembanding

RSUP RSCM RSPI

No. Jenis Limbah Angga Angga Limbah Angga


Limbah Limbah
ran ran ran
1 Sampah 50.449 350 235.572 11.240 400
Padat Medis kg juta – kg >2 kg juta -
2 Limbah Cair 194.449 400 304.789 milyar 63.875 450
m3 juta m3 m3 juta
Perbandingan 1 1 4,67 5 0,22 1,13
sampah
padat medis
Perbandingan 1 1,57 0,33
limbah cair
Jumlah 2 6,24 0,55
perbandingan
1 3,12 0,28
Sumber: Data Olahan

85
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

Tabel 17.
Perbandingan SDM lingkungan dengan jumlah limbah Rumah Sakit

RSUP RSCM RSPI


Jenis
No. 19 21 Limbah 8
Limbah Limbah Limbah
SDM SDM SDM
1 Sampah 50.449 235.572 1:11. 11.240
1:2.65 1:1.40
Padat Medis kg kg 218 kg
5 kg 5 kg
kg
2 Sampah 2.001 1:105 1.645.332 1:78. 78.290 1:9.78
Padat Non m3 m3 kg 349 kg 6 kg
Medis kg
3 Limbah Cair 194.449 1:10.2 304.789 1:14. 63.875 1:7.98
m3 34 m3 m3 514 m3 4 m3
m3
Sumber: Data Olahan

Proporsi jumlah SDM dan beban anggaran yang tersedia di Unit Sanitasi dan
kerja yang tidak ideal akan menghasilkan Lingkungan RSUP : RSPI : RSCM adalah 1 :
kinerja yang tidak maksimal dalam 1,13 : 5 sedangkan perbandingan beban
pengelolaan limbah. Perbandingan jumlah kerjanya adalah 1 : 0,28 : 3,12.

Tabel 18.
Perbandingan Anggaran Pengelolaan Limbah dengan Jumlah Limbah Rumah Sakit dengan RSUP sebagai
Pembanding

RSUP RSCM RSPI

No. Jenis Limbah Angga Angga Limbah Angga


Limbah Limbah
ran ran ran
1 Sampah 50.449 350 235.572 11.240 400
Padat Medis kg juta – kg >2 kg juta -
2 Limbah Cair 194.449 400 304.789 milyar 63.875 450
m3 juta m3 m3 juta
Perbandingan 1 1 4,67 5 0,22 1,13
sampah
padat medis
Perbandingan 1 1,57 0,33
limbah cair
Jumlah 2 6,24 0,55
perbandingan
1 3,12 0,28
Sumber: Data Olahan

86
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

b. Capaian Indikator Kinerja - Ketaatan terhadap


Lingkungan pelaporan
1. Capaian Indikator Hasil - Ketaatan terhadap
(Lagging Indicator) Pemenuhan ketentuan teknis yang
atas indikator hasil dapat dilihat dipersyaratkan
dari paramater pengukuran yang iii. Pengendalian pencemaran
dibuat oleh Tim PROPER udara:
Kementerian Lingkungan Hidup. - Ketaatan terhadap titik
Parameter yang digunakan oleh penaatan pemantauan
Kementerian Lingkungan Hidup - Ketaatan terhadap
merupakan hasil pengukuran on pelaporan
the spot atas titik-titik penaatan - Ketaatan terhadap
yang telah ditentukan termasuk: paramater Baku Mutu
i. Pemenuhan terhadap Emisi
dokumen lingkungan/ijin - Ketaatan terhadap
lingkungan: ketentuan teknis yang
- Memilliki dokumen dipersyaratkan
lingkungan/ijin iv. Pemantauan pengelolaan
lingkungan limbah B3
- Melaksanakan - Perijinan pengelolaan
ketentuan dalam limbah B3
dokumen/ijin - Sumber limbah B3
lingkungan - Neraca limbah B3 per
- Melaporkan periode
pelaksanaan dokumen - Temuan dan Rekomendasi
lingkungan/ijin - Ketaatan terhadap
lingkungan ketentuan teknis yang
ii. Pengendalian pencemaran air: dipersyaratkan
- Ketaatan terhadap ijin Hasil dari PROPER Kementerian
- Ketaatan terhadap Lingkungan Hidup tahun 2010-2012 adalah
paramater baku mutu sebagai berikut:

87
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

Tabel 19.
Capaian PROPER Rumah Sakit

Rumah
No Sakit 2010-2011 2011-2012
1 RSUP Merah Hitam
2 RSCM Merah Merah
3 RSPI Biru Biru
Sumber: Kementerian KLH
Keterangan: dengan ketentuan dan/atau peraturan
a. Emas, diberikan kepada penanggung perundang-undangan;
jawab usaha dan/atau kegiatan yang d. Merah, diberikan kepada penanggung
telah secara konsisten menunjukkan jawab usaha dan/atau kegiatan yang
keunggulan lingkungan (environmental upaya pengelolaan lingkungan hidup
excellency) dalam proses produksi dilakukannya tidak sesuai dengan
dan/atau jasa, melaksanakan bisnis yang persyaratan sebagaimana diatur dalam
beretika dan bertanggung jawab terhadap peraturan perundang-undangan; dan
masyarakat; e. Hitam, diberikan kepada penanggung
b. Hijau, diberikan kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang
jawab usaha dan/atau kegiatan yang telah sengaja melakukan perbuatan atau
melakukan pengelolaan lingkungan lebih melakukan kelalaian yang
dari yang dipersyaratkan dalam peraturan mengakibatkan pencemaran dan/atau
(beyond compliance) melalui kerusakan lingkungan serta pelanggaran
pelaksanaan sistem pengelolaan terhadap peraturan perundang-undangan
lingkungan, pemanfaatan sumberdaya atau tidak melaksanakan sanksi
secara efisien melalui upaya 4R (Reduce, administrasi.
Reuse, Recycle dan Recovery), dan 2. Capaian Indikator Proses (Leading
melakukan upaya tanggung jawab sosial Indicator) Indikator proses merupakan
(CSR) dengan baik; pengukuran atas implementasi prosedur
c. Biru, diberikan kepada penanggung yang dilakukan atau mengukur faktor
jawab usaha dan/atau kegiatan yang telah apa yang diharapkan memperbaiki
melakukan upaya pengelolaan kinerja lingkungan. Lebih banyak
lingkungan yang dipersyaratkan sesuai bersifat kualitatif daripada kuantitatif

88
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

karena lebih menilai fungsi manajemen - Pembagian peran, tanggung jawab


dan implementasi prosedur yang dan kewenangn yang jelas
dilakukan berdasarkan penilaian - Pelatihan SDM lingkungan untuk
semantik, pandangan, persepsi meningkatkan kompetensinya
berdasarkan pengamatan dan - Prosedur penyampaian informasi
penilaiannya terhadap sesuatu. Banyak terkait masalah lingkungan yang
hal yang dapat diukur dari indikator dihadapi
proses, termasuk diantaranya adalah - Record dan pengendalian
motivasi kerja karyawan, persepsi dokumen
karyawan dan kepuasan pelanggan. - Pengendalian operasional
Berdasarkan data yang didapatkan di - Prosedur antisipasi kecelakaan
lokasi penelitian, sistem manajemen dan kedaruratan
lingkungan sudah dipraktekkan oleh Unit - Pemantauan dan pengukuran
Pengelola Lingkungan di ketiga Rumah secara berkala
Sakit, yang dapat dilihat dengan adanya: - Evaluasi secara periodik terhadap
- Kebijakan di bidang lingkungan pencapaian sasaran dan target di
yang merupakan komitmen bidang lingkungan
Rumah Sakit Manajemen review atas sistem yang sudah
- Visi dan misi yang jelas dan dilaksanakan secara umum.
terukur di unit organisasi
lingkungan KESIMPULAN
- Prosedur standar dalam Berdasarkan analisis yang telah
mengidentifikasi masalah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa
lingkungan yang melibatkan kinerja lingkungan Rumah Sakit akan baik
manajer kelas menengah di apabila Unit Pengelola Lingkungan di Rumah
Rumah Sakit (termasuk manajer Sakit mempunyai SDM lingkungan yang
lingkungan) cukup, ketersediaan anggaran dan
- Perencanaan kegiatan mempunyai sarana dan teknologi lingkungan
- Penentuan sasaran, target dan yang memadai Peraturan di bidang
program lingkungan baik jangka lingkungan ditaati dengan menerapkan
pendek maupun jangka panjang standar mutu.

89
JGG- Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan Vol.7 No.1 Juni 2018
p-ISSN: 2303-2332; e-ISSN: 2597-8020 DOI : doi.org/10.21009/jgg.071.05

DAFTAR PUSTAKA Lingkungan Hidup (PROPER) Tahun


2010 – 2011

Arfan Ikhsan, Akuntansi Manajemen Putrawan, I Made. 2017. Leadership and


Lingkungan (Graha Ilmu, 2009) h.309 Self-Efficacy: Its Effect on Employees
Motivation. Advanced Science Letters
Ganis, A. Analisa Komparatif Tentang 23 (1), 173-176.
Pengelolaan Limbah Medis di
Indonesia, Thailand dan Jepang (Tesis, Rumah Sakit Persahabatan, Pelaksanaan
Universitas Negeri Jakarta, 2011) h.22 Program Kerja Insatansi Sanitasi dan
Pertamanan, 2012
Kuhre, W. Lee. ISO 14031 Environmental
Performance Evaluation, 1997, h.22 Sunu, P. 2001. Melindungi Lingkungan
dengan Menerapkan ISO 14001,
Laporan Implementasi RKL dan RPL RSCM Grasindo.
Sem.1 Tahun 2013
U.S. EPA, 2005, Health Care Guide to
Program Penilaian Peringkat Kinerja Pollution Prevention Implementation
Perusahaan dalam Pengelolaan Through EMS, Ohio, h.1

90