Anda di halaman 1dari 14

Diare Akut pada Anak

Pendahuluan

Diare merupakan penyakit yang lazim ditemukan pada bayi maupun pada anak-
anak.Menurut WHO diare merupakan buang air besar dalam bentuk cairan lebih dari 3 kali
dalam1 hari, dan biasanya berlangsung selama 2 hari atau lebih. Penyakit diare hingga kini
masihmerupakan salah satu penyakit utama pada bayi ataupun anak di Indonesia.
Diperkirakanangka kesakitan berkisar diantara 150-430/1000 penduduk setahunnya. Dengan
upaya yangsekarang telah dilaksanakan, angka kematian di rumah sakit dapat ditekan kurang
dari 3%.Penggunaan istilah diare sebenarnya lebih tepat daripada gastroenteritis karena
istilah yangdisebut terakhir ini memberikan kesan seolah-olah penyakit ini hanya disebabkan
olehinfeksi, dan walaupun disebabkan oleh infeksi, lambung jarang mengalami
peradangan. Neonatus dinyatakan diare bila frekuensi air besar sudah lebih dari 4 kali,
sedangkan untuk bayi berumur lebih dari satu bulan dan anak bila frekuensi lebih dari 3 kali.
Penyebab daridiare ini dapat dibagi dalam beberapa factor, yaitu : factor infeksi, factor
malabsorpsikarbohidrat, factor makanan, factor psikologis, yang ditandai dengan gejala klinis
mula-mula bayi atau anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan
berkurang atautidak ada kemudian timbul diare. Pemeriksaan bisa dilakukan dengan
pemeriksaan tinja, pemeriksaan darah, pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin, pemeriksaan
eletkrolit terutamakalium, natrium, dan fosfor, serta pemeriksaan intubasi duodenum.
Pengobatan diare padaanak dapat dilakukan dengan pemberian cairan, dietik, dan obat-obatan

A. Anamnesis
Anamnesis merupakan wawancara medis yang merupakan tahap awal dari rangkaian
pemeriksaan pasien, baik secara langsung pada pasien atau secara tidak langsung. Tujuan dari
anamnesis adalah mendapatkan informasi menyeluruh dari pasien yang bersangkutan.
Informasi yang dimaksud adalah data medis organobiologis, psikososial, dan lingkungan
pasien, selain itu tujuan yang tidak kalah penting adalah membina hubungan dokter pasien
yang profesional dan optimal.

Data anamnesis terdiri atas beberapa kelompok data penting:

1
1. Identitas pasien
2. Riwayat penyakit sekarang
3. Riwayat penyakit dahulu
4. Riwayat kesehatan keluarga
5. Riwayat pribadi, sosial-ekonomi-budaya
6.
Data ini sangat penting karena data tersebut sering berkaitan dengan masalah klinik
maupungangguan sistem organ tertentu.
Berdasarkan diagnosa kasus maka anamnesisnya yaitu menanyakan sejak kapan timbul
diarenya?frekuensi diarenya, konsistensinya, apakah ada darah, lendir, perubahan warna?
Apakah ada gejala lain seperti mual, muntah, dan demam? Apa faktor penyebabnya, apakah
dari makanannya? Sudah diobati belum sebelumnya?

B. Pemeriksaan
Pemeriksaan yang dapat dilakukan dapat dibagi dua, yaitu pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.

a. Pemeriksaan fisik
Secara umum pemeriksaan umum pada diare yang pertama adalah tanda vital yaitu
tekanan darah, suhu, denyut nadi dan lainnya. Di dukung dengan pemeriksaan umum
berupainspeksi,palpasi di daerah abdomen, perkusi dan auskultasi guna mendengar bising
usus. Pada anak yang terkena dehidrasi, perlu dilakukan juga beberapa pemeriksaan untuk
menentukan derajat dehidrasinya yaitu seperti mengecek turgor kulit, mulut dan lidah, mata
dan air mata, ubun-ubun yang cekung, tangan/kaki dingin, basah, nadi cepat atau lemah, serta
napas cepat, dalam yang dikarenakan asidosis metabolik.

b. Pemeriksaan penunjang
1. Darah
Darah perifer lengkap (hemoglobin, hematokrit, leukosit, hitung jenis leukosit). Pasien
dengan diare karena virus, biasanya memiliki jumlah dan hitung jenis leukositnya yang
normal atau limfositosis. Pasien dengan infeksi bakteri terutama pada infeksi bakteri
invasif ke mukosa, memiliki leukositosis dengan kelebihan darah putih. Jumlah leukosit
biasanya tidak meningkat pada diare virus-mediated dan racun-dimediasi. Leukositosis
sering tetapi tidak terus-menerus diamati dengan bakteri enteroinvasif. infeksi
Enteroinvasive dari leukosit menyebabkan usus besar, terutama neutrofil, untuk

2
ditumpahkan ke dalam tinja. Tidak adanya leukosit tinja tidak menghilangkan
kemungkinan organisme enteroinvasive. Namun, keberadaan leukosit feses
menghilangkan pertimbangan enterotoksigenik E. coli, spesies Vibrio, dan virus.
Neutropenia dapat timbul pada salmonellosis.
 Ureum, kreatinin. Ureum dan kreatinin diperiksa untuk memeriksa adanya kekurangan
volume cairan dan mineral tubuh.
 Serum elektrolit :Na+,K+, Cl+.
 Analisa gas darah apabila didapatkan tanda-tanda gangguan keseimbangan asam
basa(pernapasan Kusmaull).
 Immunoassay : toksin bakteri (C.difficile), antigen virus (rotavirus), antigen protozoa
(Giardia, E.histolytica). 1,3

2. Pemeriksaan Tinja
Pemeriksaan tinja selalu penting,mula-mula di perhatikan apakah bentuknya cair,
setengah padat,atau bercampur darah,lendir. Harus segera diperiksa apakah ada amoeba,
cacing/telur, leukosit, dan eritrosit. Adanya gelembung lemak memberi dugaan kearah
malabsorbsi lemak dan penyakit pancreas.Adanya eritrosit menunjukan adanya infeksi,
sedangkan jika ada leukosit kemungkinan ada infeksi dan inflamasi usus. Pemeriksaan pH
tinja perlu di lakukan bila ada dugaan malabsorbsi karbohidrat, dimana pH tinja di bawah
6, disertai tes reduksi positif menunjukan adanya intoleransi glukosa. Pewarnaan gram
perlu di lakukan untuk mengetahui diare oleh karena infeksi bakteri,jamur,dan sebagainya.
Selain itu dapat diperiksa sifat tinja berupa volume baik itu banyak dan berbau busuk
menunjukan adanya infeksi dan bila terdapat kelainan demikian, dapat langsung di
lakukan kultur tinja. Bila terdapat minyak dalam tinja menunjukan insufisiensi pancreas,
tinja pucat(steathore) menandakan kelainan di proximal ileosekal. Diare seperti air bisa
terjadi akibat kelainan pada semua tingkat dari traktus gastrointestinal. Adanya makanan
yang tidak tercerna di saluran cerna adalah manifestasi dari kontak yang terlalu cepat
antara tinja dengan dinding usus. Sedangkan bau asam menunjukan adanya penyerapan
karbohidrat yang tidak sempurna. Perlu di bedakan perdarahan yang disertai diare atau
perdarahan yang menyertai tinja normal. Pada colitis infeksi dan colitis ulcerosa
perdarahan disertai dengan diare,sedangkan yang menyertai tinja normal sperti adanya
keganasan,hemoroid, polip dan lainya. Pemeriksaan fisik tinja normal tidak selalu
menyingkirkan kelainan organik.3,4

3. Uji Serologi

3
Selain itu dapat pula di lakukan uji biokimia karena bakteri penyebab diare ada yang
mempunyai kemampuan untuk meragi gula tertentu.setelah melakukan uji-uji diatas,dapat
dilanjutkan dengan uji serologi yang paling penting,untuk mengetahui ada tidaknya
antibody terhadap antigen penyebab diare tersebut.Salah satu contoh seperti bakteri Vibrio
cholera,yang merupakan salah satu penyebab diare tersering. Bakteri ini dari hasil
identifikasi merupakan bakteri gram negatif ,berbentuk batang bengkok,punya
flagel,meragi glukosa dan tidak ragi laktosa, dan lain lainnya yang juga merupakan ciri
khas yang sangat penting utnuk membedakan dengan kuman lainya.3,4

C. Diagnosis Kerja
Dari setiap keluhan dan usia yang dapat kita amati saya menduga bahwa anak ini terkena
diare karena virus.
a. Diare akut

Diare yang jelas mulainya dan kemudian dapat sembuh kembali dengan normal dalam
waktu yang relatif singkat. Penyebab diare akut dapat berupa infeksi ataupun noninfeksi.
Pada beberapa kasus, keduanya sama-sama berperan. Penyebab noninfeksi dapat berupa obat-
obatan, alergi makanan, penyakit primer gastrointestinal seperti, inflammatory bowel disease,
atau berbagai penyakit sistemik seperti, tirotoksikosis dan sindrom karsinoid. Penyebab
infeksi dapat berupa bakteri, virus, ataupun parasit. Pasien dengan diare akut akibat infeksi
sering mengalami nausea, vomiting, nyeri perut, sampai kejang perut, demam, dan diare.
Terjadi renjatan hipovolemik harus di hindari. Kekurangan cairan menyebabkan pasien akan
merasa haus, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun, dan suara menjadi
serak. Gangguan biokimiawi seperti asidosis metabolic akan menyebabkan frekuensi

D. Diagnosis Banding
1. Dysentri
Sindrom dysentri terdiri dari kumpulan gejala diare dengan darah dan lendir dalam
feses dan adanya tenesmus. Diare berdarah dapat disebabkan oleh kelompok penyebab diare,
seperti oleh infeksi virus, bakteri, parasit, Intoleransi laktosa, alergi protein susu sapi. Tetapi
sebagian besar disentri disebabkan oleh infeksi. Penularannya secara fecal –oral kontak dan
orang ke orang atau kontak orang dengan alat rumah tangga. Penyebab utama disentri adalah
Shigella, Salmonela, compylobacter jejui, Escherichia ( E. Coli) , dan Entamoeba histolytica.

4
Disentri berat ummunya disebabkan oleh shigellia dysentery, kadang-kadang dapat juga
disebabkan oleh shigella flexneri, salmonella dan enteroinvasl v.e.E.coli ( EIEC). . Disentri
dapat menimbulkan dehidrasi dari yang ringan sampai dengan dehidrasi berat, walaupun
kejadiannya lebih jarang jika dibandingkan dengan diare cair akut, komplikasi disentri dapat
terjadi lokal di saluran cerna maupun sistemik.3,4

2. Keracunan makanan
Keracunan makanan atau food poisoning adalah penykait gastroenteritis akut yang hampir
terjadi setiap saat terutama di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh makanan terkontaminasi
oleh bakteri hidup atau oleh toksin yang dihasilkannya atau oleh sebab zat-zat anorganik dan
racun yang berasal dari tanaman dan binatang. Penyebab keracunan makanan secara
sederhana dapat dibagi menjadi 2 jenis:
1. Keracunan makanan akibat bakteri (Bacterial Food Poisoning)
2. Keracunan makanan bukan akibat bakteri (Non-Bacterial Food Poisoning)

- Staphylococcal Food Poisoning


Keracunan makanan yang disebabkan oleh enterotoksin yang dihasikan oleh
Staphylococcus aureus. Rentang waktu antara makan dan timbulnya penyakit cukup pendek,
yaitu sekitar satu sampai enam jam (kadang-kadang lebih singkat) dan ditandai dengan
adanya nyeri perut (dengan kram) yang disertai muntah hebat yang berulang. keracunan
makanan oleh stafilokokus berlangsung sementara, biasanya segera mereda dalam 6 atau 8
jam, jarang sekali sampai melebihi 24 jam.5

- Bacillus cereus Food Poisoning


Bacillus cereus adalah hasil yang berbentuk batang, bersifat aerob (dan anaerob
fakultatif), mampu memberntuk spora, bersifat gram-negatif, dan tersebar luas di alam
(terutama di tanah, air, abu, dan olahan makanan). Masa inkubasi juga tidak sama, yaitu
berkisar antra 2-6 jam setelah menyantap makanan yang mengandung toksin. Gejala
keracunan ini timbul mendadak, mencakup diare berat, nyeri perut, tenesmus rektum, nausea,
dan terkadang muntah.

- Clostridium Botulinum Food Poisoning


Botulisme adalah penyakit yang terjadi karena menyantap makanan yang mengandung
clostridium botulinum (bakteri berbentuk batang, bersifat anaerob, gram-positif, dan dapat
membentuk spora yang dapat menghasilkan toksin) yang menimbulkan gejala-gejala paralisis
otot dan gangguan saluran cerna dan dapat berakhir dengan kematian.

5
Penyakit biasanya bermula antara 12 dan 36 jam (kisaran 2 jam sampai 14 hari) sesudah
menyantap makanan yang mengandung toksin (durasi dapat memanjang sampai 16 minggu).
Gejala pertama adalah gejala gastrointestinal, terutama jenis E, yaitu nausea, muntah, nyeri
perut dan distensi.5

E. Etiologi
Etiologi diare dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu :

1. Faktor infeksi
a. Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab
utama diare pada anak. Infeksi enteral ini meliputi :

- Infeksi bakteri : Vibrio, E.colli, Salmonella, Shigella, Campylobacter,


Yersinia, Aeromonas dan sebagainya.
- Infeksi virus : Enterovirus (Virus ECHO, Coxcakie, Poliomyelitis),
Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus dan lain-lain.
- Infeksi parasit : Cacing (Ascaris, Trichiuris, Oxyuris, Strongyloides),
Protozoa (Entamoeba hystolitica, Giardia lamblia, Trichomonas
hominis), jamur (Candida albicans).
b. Infeksi parenteral yaitu infeksi dibagian tubuh lain di luar alat pencernaan,
seperti Otitis media akut (OMA), Tonsilofaringitis, Brokopneumonia,
Ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak
umur dibawah 2 tahun.

F. Epidemiologi
Anak-anak, terutama bayi lebih rentan menderita dehidrasi disebabkan karena:
- Rasio luas permukaan tubuh dan berat yang lebih besar sehingga insensible water loss
lebih besar
- Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan akan air ketika haus
- Kebutuhan cairan basal yang lebih banyak (100-120 ml/kg/hari, sekitar 10-12% berat
tubuh)
- Memiliki tubulus renalis yang proses reabsorbsinya belum sempurna.1

Namun sekarang, meski telah terjadi kemajuan pengobatan dengan rehidrasi oral, diare
akut yang terjadi akibat agen infeksi tetap bertahan sebagai masalah penting di negara-negara

6
berkembang. Rotavirus jelas merupakan penyebab diare akut yang paling sering diidentifikasi
pada anak dalam komunitas tropis, sebagaimana pula di daerah dengan iklim sedang. Di
negara-negara tropis, usia puncak terkena infeksi adalah usia antara 6-12 bulan walaupun hal
ini juga dapat terjadi pada usia yang lebih muda.5
Puncak insiden yang khas dalam komunitas tropis yang berkaitan dengan suhu udara yang
lebih sejuk tidak diketemukan, dan kadang-kadang memang tidak ada kecenderungan musim
sama sekali. Ini berarti, penyakit ini hadir sepanjang tahun dengan tingkat transmisi rendah,
yang mempertahankan infeksi tersebut dalam komunitas.
Meski telah jelas bahwa rotavirus ditularkan melalui fecal-oral, bertahannya agen ini
dalam komunitas yang sudah maju dengan kondisi sanitasi yang baik dan tingkat pemberian
ASI yang tinggi, memberi petunjuk bahwa penularan bersumberkan udara dan droplet
mungkin juga terjadi.5

G. Patofisiologi
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah :
a. Gangguan osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan
elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang belebihan ini akan merangsang usus
untuk mengeluarkannya sehingga terjadi diare.
b. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misal oleh toksin) peningkatan sekresi air dan elektrolit ke
dalam rongga usus dan selanjutnya terjadi diare timbul karena terdapat peningkatan isi
rongga usus.
c. Gangguan motalitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan bekurangnya kesempatan usus untuk menyerap
makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan
menyebabkan bakteri tumbuh belebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare juga.

Patofisiologi diare akut1


a. Masuknya jasad renik yang masih hidup masuk ke dalam usus halus setelah melewati
rintangan asam lambung.

7
b. Jasad renik tersebut berkembangbiak (multiplikasi) di dalam usus halus.
c. Oleh jasad renik dikeluarkan toksin (toksin diaregenik)
d. Akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi :
a. Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang menyebabkan terjadinya gangguan
keseimbangan asam-basa (asidosis metabolik, hipokalemi dan sebagainya).
b. Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan makanan berkurang, pengeluaran
bertambah).
c. Hipoglikemia.
Gejala hipoglikemi aakan muncul bila glukosa darah menurun sampai 40mg% pada bayi
dan 50mg% pada anak-anak. Gejala hipoglikemia dapat berupa : lemas, apatis, peka
rangsang, tremor, berkeringat, syok, pucat, kejang sampai koma. Terjadinya hipoglikemia
ini perlu dipertimbangkan jika terjadi kejang yang tiba-tiba tanpa adanya panas atau
penyakit lain yang disertai dengan kejang.
d. Gangguan sirkulasi darah.
Sebagai akibat diare dengan/tanpa disertai muntah, dapat terjadi gangguan sirkulasi darah
berupa renjatan (shock) hipovolemik. Akibatnya perfusi jaringanberkurang dan terjadi
hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan dalam otak,
kesadaran menurun (soporokomatosa) dan bila tidak segera ditolong penderita dapat
meninggal.
e. Gangguan keseimbangan asam-basa (metabolik asidosis)1,2
Hal ini dapat terjadi karena:
- Kehilangan Na-bikarbonat bersama tinja
- Adanya ketosis kelaparan. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda keton
tertimbun di dalam tubuh
- Terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoksia jaringan
- Produksi metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan
oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria)
- Pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler ke dalam cairan intraseluler
Secara klinis asidosis dapat diketahui dengan memperhatikan pernafasan. Pernafasan
bersifat cepat, teratur dan dalam yang disebut pernafasan Kuszmaull.

H. Manifestasi Klinis

8
Manifestasi klinis berdasarkan tingkat keparahan diare:3
a. Diare ringan dengan karakteristik sedikit pengeluaran feses yang encer tanpa gejala lain.
b. Diare sedang dengan karakteristik pengeluaran feses cair atau encer beberapa kali,
peningkatan suhu tubuh, muntah dan iritabilitas (kemungkinan), tidak ada tanda-tanda
dehidrasi biasanya, dan kehilangan berat badan atau kegagalan menambah berat badan.
c. Diare berat dengan karakteristik pengeluaran feses yang banyak, gejala dehidarasi sedang
sampai berat, terlihat lemah, menangis lemah, iritasbilitas, gerakan yang tak bertujuan,
respon yang tidak sesuai, dan kemungkinan letargi, sangat lemaah, atau terlihat koma.
d. Gejala-gejala terkait dapat meliputi demam, mual, muntah dan batuk.

I. Komplikasi
Dari segi nutrisi, diare akut berakibat buruk terhadap keadaan gizi melalui 4 mekanisme,
yaitu:8
a. Pemasukan makanan berkurang oleh karena anoreksia, kebiasaan mengurangi/meniadakan
pemberian makanan.
b. Absorpsi makanan berkurang oleh karena kerusakan mukosa usus, vili usus pendek dan
atrofi dan enzim laktase dan disakarida lainnya berkurang.
c. Metabolisme endokrin fungsinya terganggu pada keadaan infeksi sistemik.
d. Kehilangan langsung cairan dan elektrolit, serta kehilangan nitrogen melalui tinja dan
keluarnya plasma protein dan darah karena kerusakan jaringan usus.

J. Dehidrasi
Dehidrasi dapat timbul jika diare berat dan asupan oral terbatas karena nausea dan
muntah, terutama pada anak kecil dan usia lanjut. Dehidrasi bermanifestasi sebagai rasa haus
yang meningkat, berkurangnya buang air kecil dengan warna urin gelap, tidak mampu
berkeringat dan perubahan ortostatik. Pada keadaan berat, dapat mengarah ke gagal ginjal
akut dan perubahan status jiwa seperti kebingungan dan sakit kepala.1,2,4
Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi dehidrasi ringan, sedang
dan berat, sedangkan berdasarkan tonisitas plasma dapat dibagi menjadi dehidrasi hipotonik,
isotonik, dan hipertonik.
 Dehidrasi ringan (hilang cairan 2-5% BB): gambaran klinisnya turgor kurang, suara serak
(vox cholerica). Pasien belum jatuh dalam pre-shock.

9
 Dehidrasi sedang ( hilang cairan 5- 8% BB): turgor buruk, sura serak, pasien jatuh dalam
presyok atau syok, nadi cepat , napas cepat dan dalam.
 Dehidrasi berat ( hilang cairan 8- 10 BB): tanda dehidrasi sedang ditambah dengan
kesadran menurun ( apatis sampai koma), otot- otot kaku sianosis. 2
 Dehidrasi hipotonik (dehidrasi hiponatremia) yaitu bila kadar natrium dalam plasma
kurang dari 130mEq/l
 Dehidrasi isotonik (dehidrasi isonatremia) bila kadar natrium plasma 130-150mEq/l.
 Dehidrasi hipertonik (hipernatremia) bila kadar natrium dalam plasma lebih dari
150mEq/l.1

K. Penatalaksanaan
1. Rehidrasi.
Bila pasien keadaan umum baik tidak dehidrasi, asupan cairan yang adekuat dapat dicapai
dengan minuman ringan, sari buah, sup dan keripik asin. Bila pasien kehilangan cairan
banyak dan dehidrasi, penatalaksanaan yang agresif seoerti cairan intravena atau rehidrasi
oral dengan cairan isotonic mengandung elektrolit dan gula atau starch harus diberikan.
Terapi rehidrasi oral murah, efektif dan lebih praktis daripada cairan intravena. Cairan oral
antara lain: pedialit, oralit, dll. Cairan infus antara lain: Ringer laktat, dll. Cairan diberikan
50-200ml/kgBB/24 jam tergantung kebutuhan atau status hidrasi.
Untuk memberikan rehidrasi pada pasien perlu dinilai dulu derajat dehidrasi. Dehidrasi
terdiri dari dehidrasi ringan, sedang dan berat. Ringan bila pasien mengalami kekurangan
cairan 2-5% dari berat badan. Sedang bila pasien kehilangan cairan 5-8% dai berat badan.
Berat bila pasien kehilangan cairan 8-10% dari berat badan.9
Prinsip menentukan jumlah cairan yang akan diberikan yaitu sesuai dengan jumlah cairan
yang keluar dari tubuh.
Macam-macam pemberian cairan:
a. BJ plasma dengan rumus:
Kebutuhan cairan =BJ plasma – 1,025 x Berat Badan x 4 ml
0,001
b. Metode Pierce berdasarkan klinis:
Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan = 5% x Berat Badan (kg)
Dehidrasi sedang, kebutuhan cairan = 8% x Berat Badan (kg)
Dehidrasi berat, kebutuhan cairan = 10% x Berat Badan (kg)

10
c. Metode Daldiyono berdasarkan skor klinis a.l (Lihat Tabel 1)
Kebutuhan cairan = Skor x 10% x kgBB x 1 liter
15
Tabel 1. Skor Penilaian Klinis Dehidrasi.9
Klinis Skor
Rasa haus/muntah 1
Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg 1
Tekanan darah sistolik < 60 mmHg 2
Frekuensi nadi > 120 kali/menit 1
Kesadaran apati 1
Kesadaran somnolen, sopor atau koma 2
Frekuensi napas > 30 kali/menit 1
Facies cholerica 2
Vox cholerica 2
Turgor kulit menurun 1
Washer woman’s hand 1
Ekstremitas dingin 1
Sianosis 2
Umur 50-60 tahun -1
Umur > 60 tahun -2

Bila skor kurang dari 3 dan tidak ada syok, maka hanya diberikan cairan peroral (sebanyak
mungkin sedikit demi sedikit). Bila skor lebih atau sama 3 disertai syok diberikan cairan per
intravena.
Cairan rehidrasi dapat diberikan melalui oral, enteral, melalui selang nasogastrik atau
intravena.
Bila dehidrasi sedang/berat sebaiknya pasien diberikan cairan melalui infuse pembuluh
darah. Sedangkan dehidrasi ringan/sedang pada pasien masih dapat diberikan cairan per oral
atau selang nasogastrik, kecuali bila ada kontra indikasi atau oral/saluran cerna atas tak dapat
dipakai. Pemberian per oral diberikan larutan oralit yang hipotonik dengan komposisi 29 g
glukosa, 3,5 g NaCl, 2,5 g Natrium Bikarbonat dan 1,5 g KCl setiap liter. Contoh oralit
generik, renalyte, pharolit dll.
Pemberian cairan dehidrasi terbagi atas:
a. Dua jam pertama (tahap rehidrasi inisial): jumlah total kebutuhan cairan menurut rumus
BJ plasma atau skor Daldiyono diberikan langsung dalam 2 jam ini agar tercapai rehidrasi
optimal secepat mungkin.
b. Satu jam berikut/jam ke-3 (tahap kedua) pemberian diberikan berdasarkan kehilangan
cairan selama 2 jam pemberian cairan rehidrasi inisial sebelumnya. Bila tidak ada syok
atau skor Daldiyono kurang dari 3 dapat diganti cairan per oral.

11
c. Jam berikutnya pemberian cairan diberikan berdasarkan kehilangan cairan melalui tinja
dan insensible water loss (IWL).
2. Diet.
Pasien diare tidak dianjurkan puasa, kecuali bila muntah-muntah hebat. Pasien dianjurkan
justru minum minuman sari buah, teh, minuman tidak bergas, makanan mudah dicerna seperti
pisang, nasi, keripik dan sup. Susu sapi harus dihindarkan karena adanya defisiensi lactase
transien yang disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri. Minuman berkafein dan alkohol
harus dihindaari karena dapat meningkatkan motilitas dan sekresi usus.9
3. Obat anti-diare.
Obat-obat ini dapat mengurangi gejala-gejala.
a. Yang paling efektif yaitu derivate opioid missal loperamide, difenoksilat-atropin,
tinktur opium. Loperamide paling disulai karena tidak adiktif dan memiliki efek samping
paling kecil. Bismuth subsalisilat merupakan obat lain yang dapat digunakan tetapi
kontraindikasi pada pasien HIV karena dapat menimbulkan ensefalopati bismuth. Obat
antimotilitas penggunaannya harus hati-hati pada pasien disentri yang panas (termasuk
infeksi Shigella) bila tanpa disertai anti mikroba, karena dapat memperlama pemyembuhan
penyakit.
b. Obat yang mengeraskan tinja: atapulgite 4x2 tab/hari, smectite 3x1 saset diberikan tiap
diare/BAB encer sampai diare berhenti.
c. Obat anti sekretorik atau anti enkephalinase: Hidrasec 3x1 tab/hari
4. Obat antimikroba.
Karena kebanyakan pasien memiliki penyakit yang ringan, self limited disease karena
virus atau bakteri non invasif, pengobtan empiric tidak dianjurkan pada semua pasien.
Pengobatan empirik diindikasikan pada pasien-pasien yang diduga mengalami infeksi bakteri
invasif, diare turis (Traveler’s diarrhea) atau immunosupresif.

L. Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada anak yang menderita diare adalah :
1.Dehidrasi
2.Hipokalemi.
3.Hipokalsemi
4.Cardia cdisrythmias

12
5.Hiponatremi.
6.Syok Hipovolemik
7.Asidosis metabolik.

M. Prognosis
Dengan penggantian cairan yang adekuat, perwatan yang mendukung dan terapi antimikroba
jika diindikasikan hasilnya sangat baik.

N. Pencegahan
- Penyediaan sarana sanitasi
- Program intensif pendidikan maternal terhadap ibu menyusui tentang keunggulan
pemberian PASI bagi bayi.
- Pertahankan tindakan pencegahan infeksi enterik.
- Lakukan tindakan cuci tangan yang benar.
- Ajarkan anak dan keluarga untuk mencuci tangan yang benar.
- Anjurkan orangtua untuk memvaksinasi bayinya dengan vaksin rotavirus.

O. Kesimpulan
Diare akut merupakan masalah yang sering terjai baik di negara berkembang . sebagian
besar bersifat self limiting sehingga yang perlu diperhatikan keseimbangan cairan dan
elektrolit, bila karena infeksi bakteri dapat diberikan terapi antimikroba.

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita selekta


kedokteran. Edisi ke-3. Jakarta: Media Aesculapius FKUI; 1999.h.500-4.
2. Kolopaking MS. Diare. Dalam: Setiati S, Sari DP, Rinaldi I, Ranitya R, Pitoyo CW.
Lima puluh masalah kesehatan di bidang ilmu penyakit dalam. Jakarta: Interna
Publishing; 2008.h.102-8.
3. Mary E, Muscari. Panduan belajar: keperawatan pediatrik. Edisi ke-3. Jakarta:
EGC;2005.h.115.
4. Noerasid H, Suraatmadja S, Asnil PO. Gastroenteritis (diare) akut. Dalam: Suharyono,
Boediarso A, Halimun EM. Gastroenterologi anak praktis. Jakarta: FKUI;1988.h.51-2.
5. Smith, Walker JA. Masalah pediatri di bidang gastroenterologi tropis. Dalam: Cook
GC. Problem gastroenterologi daerah tropis. Jakarta: EGC; 2002.h.133-4.
6. Graber MA, Toth PP, Herting RL. Buku saku dokter keluarga. Edisi ke-3. Jakarta:
EGC; 2006.h.163.
7. Jawetz E, Melnick J, Adelberg E. Mikrobiologi kedokteran. Edisi ke-20. Jakarta:
EGC; 1996.h.489-95.
8. Suandi IKG. Diit pada anak sakit. Jakarta: EGC; 1998.h.61.
9. Kolopaking MS, Daldiyono. Diare akut. Dalam: Sodoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,
Kolopaking MS, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke-5, jilid 1. Jakarta:
Interna Publishing; 2009.h.554-5.

14