Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PRE-OPERATIF ODONTEKTOMI


PADA IMPAKSI GIGI

PRODI DIII KEPERAWATAN SEMARANG


JURUSAN KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2019
A. Definisi

Impaksi gigi merupakan suatu keadaan dimana gigi mengalami kegagalan erupsi

secara normal dalam pertumbuhan akibat terhalang oleh gigi dan tulang sekitarnya sehingga

tidak tersedianya ruangan yang cukup.

Penatalaksanaan medis adalah dengan melakukan operasi yang disebut dengan

odontektomi. Istilah odontektomi digunakan dalam tindakan operasi untuk mengeluarkan

gigi impaksi (terpendam). Odontektomi atau surgical extraction adalah metode

pengambilan gigi dari soketnya setelah pembuatan flap dan mengurangi sebagian tulang yang

mengelilingi gigi tersebut insiden impaksi yang paling sering terjadi adalah gigi molar tiga

(fragiskos , 2007).

B. Patofisiologi

Beberapa peneitian menunjukkan bahwa gangguan impaksi gigi disebabkan oleh karena
factor lokal dan sistemik. Akibat dari adanya pengaruh beberapa faktor menimbulkan gejala-
gejala seperti gangguan saluran cerna, sakit kepala, telinga berdengung, sakit leher, rematik,
kencing manis, gangguan jantung, gangguan pada kulit, badan cepat lelah. Gangguan ini
sering hilang timbul berkepanjangan atau gejala-gejala lain pada tubuh yang tidak bisa diobati
maka gigi ini mulai dicurigai sebagai penyebab. Sementara itu berbagai gejala itu juga sering
dialami oleh penderita alergi.

Bila gangguan itu berkaitan dengan penderita alergi, secara imunopatobiologis kaitan
antara impaksi gigi dan penderita alergi bisa dijelaskan. Secara teori penyebab impaksi gigi
adalah reaksi inflamasi noninfeksi pada jaringan di sekitar gigi. Saat terjadi pembengkakkan
tersebut menekan persarafan di sekitarnya yang menyebabkan rasa ngilu dan nyeri di sekitar
lokasi tersebut. Pada penderita alergi saat terjadi kekambuhan bisa mengakibatkan reaksi di
seluruh organ tubuh termasuk gusi dan jaringan sekitarnya. Pembengkakan tersebut juga
terjadi pada daerah gusi lainnya. Hal inilah yang juga sering dikeluhkan pada penderita gigi
hipersensitif yang sangat mungkin mekanisme terjadi gangguan tidak berbeda. Demikian juga
pada anak di bawah usia 2 tahun sering terjadi pembengkakkan gusi sering dianggap tumbuh
gigi. Tetapi saat gejala alergi lainnya membaik bengkak tersebut berkurang tetapi tidak diikuti
tumbuhnya gigi. Pembengkakkan jaringan pada gigi molar yang tumbuh di dasar gigi dan
tumbuh tidak sempurna mengakibatkan desakan inflamasi atau pembengkakkan tersebut lebih
mengganggu dan menekan persarafan.

C. Tanda dan Gejala


1. Rasa sakit di sekitar gigi dan gusi
2. Pembengkakan di sekitar rahang
3. Pembengkakan dan kemerahan gusi di sekitar gigi yang terimpaksi
4. Nyeri di rahang
5. Bau mulut dan rasa tidak nyaman ketika menguyah
6. Dapat disertai dengan rasa sakit kepala

D. Penatalaksanaan
1. Operasi bedah minor mulut (odontektomi)
a. Indikasinya adalah:
1) Infeksi karena erupsi yang terlambat dan abnormal (perikoronitis).
2) Berkembangnya folikel menjadi keadaan patologis (kista odontogenik dan
neoplasma).
3) Usia muda, sesudah akar gigi terbentuk sepertiga sampai dua pertiga bagian dan
sebelum klien mencapai usia 18 tahun
4) Adanya infeksi
5) Penyimpangan panjang lengkung rahang dan untuk membantu mempertahankan
stabilitas hasil perawatan ortodonsi
6) Prostetik atau restoratif (diperlukan untuk mencapai jalan masuk ke tepi gingiva
distal dari molar dua didekatnya)
7) Apabila molar kedua didekatnya dicabut dan kemungkinan erupsi normal atau
berfungsinya molar ketiga impaksi sangat kecil
8) Sebelum tulang sangat termineralisasi dan padat yaitu sebelum usia 26 tahun
b. Kontraindikasinya adalah:
1) Klien tidak menghendaki giginya dicabut
2) Sebelum panjang akar mencapai sepertiga atau dua pertiga dan apabila tulang yang
menutupinya terlalu banyak (pencabutan prematur)
3) Jika kemungkinan besar akan terjadi kerusakan pada struktur penting disekitarnya
atau kerusakan tulang pendukung yang luas
4) Apabila kemampuan klien untuk menghadapi tindakan pembedahan terganggu oleh
kondisi fisik atau mental tertentu (pedersen, 1996)

E. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan umum harus dilakukan dengan cara yang sama dengan prosedur
pembedahan lainnya. Adanya gangguan sistemik atau penyakit sistemik harus dideteksi
dan kehati-hatian harus diterapkan sebelum pembedahan. Klien juga harus diperiksa
apakah sedang menjalani terapi tertentu, seperti terapi irradiasi, terapi cytostatic, dan
transplantasi organ.

2. Pemeriksaan lokal
a. Status erupsi gigi impaksi.
Status erupsi gigi impaksi harus diperiksa karena status pembentukan
mendeterminasikan waktu pencabutan. Idealnya, gigi dicabut ketika dua pertiga akar
terbentuk. Jika akar telah terbentuk sempurna, 25 maka gigi menjadi sangat kuat, dan
gigi terkadang displitting untuk dapat dicabut.
b. Resorpsi molar kedua.
Karena kurangnya ruang molar ketiga yang impaksi sehingga memungkin terjadi
resorpsi akar pada molar kedua. Setelah pencabutan gigi molar ketiga yang impaksi,
molar kedua harus diperiksa untuk intervensi endodontik atau periodontik tergantung
pada derajat resorpsi dan keterlibatan pulpa.
c. Adanya infeksi lokal seperti periokoronitis
Infeksi ini merupakan sebuah inflamasi jaringan lunak yang menyelimuti mahkota gigi
yang sedang erupsi yang hampir seluruhnya membutuhkan penggunaan antibiotik atau
prosedur yang jarang dilakukan, eksisi pembedahan pada kasus rekuren. Periokoronitis
rekuren terkadang membutuhkan pencabutan gigi impaksi secara dini.
d. Pertimbangan ortodontik.
Karena molar ketiga yang sedang erupsi, memungkinkan terjadi berjejal pada regio
anterior setelah perawatan ortodonti yang berhasil. Oleh karena itu, disarankan untuk
mencabut gigi molar ketiga yang belum erupsi sebelum memulai perawatan ortodontik.
e. Karies atau resorpsi molar ketiga dan gigi tetangga
Akibatnya kurangnya ruang, kemungkinan terdapat impaksi makanan pada area distal
atau mesial gigi impaksi yang menyebabkan karies gigi. Untuk mencegah karies
servikal gigi tetangga, disarankan untuk mencabut gigi impaksi.
f. Status periodontal
Adanya poket sekitar gigi molar ketiga yang impaksi atau molar kedua merupakan
indikasi infeksi. Penggunaan antibiotik 26 disarankan harus dilakukan sebelum
pencabutan gigi molar ketiga impaksi secara bedah untuk mengurangi komplikasi post-
operatif.
g. Orientasi dan hubungan gigi terhadap infeksi saluran akar gigi
Hal ini akan didiskusikan secara detail pada pemeriksaan radiologi.
h. Hubungan oklusal
Hubungan oklusal molar ketiga rahang atas terhadap molar ketiga rahang bawah harus
diperiksa. Ketika gigi molar ketiga rahang bawah yang impaksi berada pada sisi yang
sama diindikasikan untuk ekstraksi, sisi yang satunya juga harus diperiksa.
i. Nodus limfe regional
Pembengkakan dan rasa nyeri pada nodus limfe regional mungkin terindikasi infeksi
molar ketiga.

F. Masalah Keperawatan
1. Deficient knowledge (kurang pengetahuan)
2. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang pembedahan yang akan
dilaksanakan dan hasil akhir pascaoperatif.
3. Kecemasan berhubungan dengan suasana menjelang pembedahan Tujuan: kecemasan klien
teradaptasi
4. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan prognosis pembelahan, ancaman
kehilangan organ atau fungsi tubuh dari prosedur pembedahan, dan ketidakmampuan
menggali koping efektif.

G. Intervensi Keperawatan
1. Noc: pengetahuan tentang penyakit, setelah diberikan penjelasan selama 2 x klien mengerti
proses penyakitnya dan program perawatan serta therapi yg diberikan dg: Indikator Klien
mampu:
a. Menjelaskan kembali tentang penyakit
b. Mengenal kebutuhan perawatan dan pengobatan tanpa cemas nic: pengetahuan penyakit
Intervensi keperawatan
c. Kaji pengetahuan klien tentang penyakitnya
d. Jelaskan tentang proses penyakit (tanda dan gejala), identifikasi kemungkinan
penyebab. Jelaskan kondisi tentang klien
e. Jelaskan tentang program pengobatan dan alternatif pengobantan
f. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin digunakan untuk mencegah
komplikasi
g. Diskusikan tentang terapi dan pilihannya
h. Eksplorasi kemungkinan sumber yang bisa digunakan/ mendukung
i. Tanyakan kembali pengetahuan klien tentang penyakit, prosedur operasi

Intervensi Rasional

Kaji tingkat pengetahuan dan

sumber informasi yang telah Menjadi data dasar untuk memberikan pendidikan
kesehatan dan mengklarifikasi sumber yang tidak
diterima. jelas.

Klien dan keluarga harus diberikan mengenai


waktu dimulianya pembedahan.

Apabila rumah sakit mempunyai jadwal kamar


Diskusikan perihal jadwal operasi yang padat, maka lebih baik klien dan
keluarga diberitahukan tentang banyaknya jadwal
pembedahan. operasi yang telah ditetapkn sebelum klien.
Kurang bijaksana bila memberitahukan klien dan
keluarganya tenetang lamanya waktu operasi yang
akan dijalani. Penundaan yang tidakantisipasi
dapat terjadi karena berbagai alasan.

Apabila klien tidak kembali pada waktu yang


diharapkan, maka keluarga akan menjadi sangat
cemas.
Diskusikan perihal lamanya
Anggota keluarga harus menunggu di ruang tunggu
pembedahan. bedah untuk mendapat berita yang terbaru dari staf.

Manfaat dasri instruksi praoperatif telah dikenal sejak


lama.

Setiap klien diajarkan sebagai seorang individu,


Lakukan pendidikandengan mempertimbangkan segala keunikan tingkat
kesehatan paroperatif. ansietas, kebutuhan, dan harapan-harapannya.

Jika sisi penyuluhan dilakukan beberapa hari sebelum


Programkan instruksi yangpembedahan, maka klien mungkin tidak ingat tentang
didasarkan pada kebutuhan apa yang telah dikatakan.

individu, direncanakan, dan Jika instruksi diberikan terlalu dekat dengan waktu
pembedahan, maka klien mungkin tidak dapat
diimplementasikan padaberkonsentrasi atau belajar karena ansietas dan
waktu yang tepat. efek darimedikasi praanestesi.
Pembersihan dengan enema atau laksatif mungkin
dilakukan pada malam sebelum operasi dan diulang
jika tidak efektif.

Pembersihan ini dilakukan untuk mencegah defekasi


selama anestesi atau untuk mencegah trauma yang
tidak diinginkan pada intestinal selama pembedahan
abdomen.

Tujuan dari persiapan kulit praoperatif adalah untuk


mengurangi sumber bakteri tanpa mencederai kulit.
Bila ada waktu, seperti pada bedah efektif, klien dapat
diinstruksikan untuk menggunakan sabun yang
mengandung deterjen germisida untuk membersihkan
area kulit selama beberapa hari sebelum
pembedahan.

Hal ini dilakukan untuk mengurangi jumlah


Beritahu persiapan organisme yang ada kulit. Persiapan ini dapat
pembedahan. dilakukan di rumah.

persiapan intestinal. Sebelum pembedahan, klien harus mandi air


hangat, relaksasi, serta menggunakan sabun yang
persiapan kulit. mengandung iodine. Meskipun hal ini sering

dilakukan pada hari pembedahan, tetapi jadwal pembedahan


membuat hal

tersebut dilakukan pada malam sebelumnya.

tujuan menjadwalkan mandi pembersihan sedekat


mungkin dengan

waktu pembedahan adalah untuk mengurangi risiko


kontaminasi kulit

terhadap luka bedah. Mencuci rambut sehari sebelum


pembedahan sangat

disarankan kecuali kondisi klien tidak memungkinkan hal


tersebut.

Kulit di sekitar area operatif sangat disarankan untuk


pembersihan area operasi. tidak dicukur.
Selama mencukur, kulit mungkin mengalami cedera oleh silet
dan menjadi
pintu masuknya bakteri. Jaringan yang cedera ini dapat
menjadi tempat
pertumbuhan bakteri. Selain itu, semakin jauh interval antara
bercukur dan
operasi, maka makin tinggi pula angka infeksi luka
paroperatif. Kulit yang
dibersihkan dengan baik tetapi tidak cukur lebih jarang
menyulitkan
dibanding dengan kulit yang
dicukur.

Pencukuran area operasi dilakukan apabila protkol


pencukuran area operasi. lembaga atau ahli
bedah mengharuskan kulit untuk dicukur. Klien
diberitahukan tentang
prosedur mencukur, dibaringkan dalam posisi yang nyaman,
dan tidak
memajan bagian yang tidak perlu.

istirahat merupakan hal yang penting untuk penyembuhan


Informasikan perihal normal.
persiapan Kecemasan tentang pembedahan dapat dengan mudah
pembedahan. mengganggu
kemampuan untuk istirahat atau tidur. Kondisi
persiapan istirahat dan penyakit yang
membutuhkan tindakan pembedahan mungkin akan
tidur. menimbulkan rasa
nyeri yang hebat sehingga mengganggu istirahat.
perawat harus memberikan lingkungan yang tenang dan
nyaman untuk
klien. Dokter sering memberi obat hipnotik-sedatif atau
antiansietas pada
malam hari sebelum pembedahan. Obat-obatan hipnotik-
sedatif seperti
flurazepam (dalmane) dapat menyebabkan dan mempercepat
pasein tidur.
Obat-obatan antianietas, misalnya: alprazolam (xanax) dan
diazepam
(valium), bekerja pada korteks serebral dan sistem limbik
untuk
menghilangkan ansietas.

Untuk menghindari cedera, perawat meminta klien untuk


persiapan rambut dan melepas jepit
rambutnya sebelum masuk ke ruang operasi. Rambut palsu
kosmetik. juga harus di
lepas. Rambut panjang dapat dikepang agar tetap pada
tempatnya. Klien
harus memakai tutup kepala sebelum memasuki ruang
operasi.
Selama dan setelah pembedahan, ahli anestesi dan
perawat mengakaji
kulit dan membran mukosa untuk menentukan status
oksigenasi dan
sirkulasi klien. Oleh karena itu, seluruh riasan muka seperti
lipstik, bedak,
pemerah muka, dan cat kuku harus dihilangkan untuk
memperlihatkan
warna kulit dan kuku yang normal.

pemeriksaan Alat bantu Semua alat bantu dan perhiasan harus dilepas.
(protese) dan
perhiasan.

Klien sudah menyelesaikan administrasi dan mengetahui


persiapan administrasi perihal biaya
d
a
dan informed consent. pembedahan. Klien sudah mendapat penjelasan n
menandatangani informed consent.

salah satu tujuan dari asuhan keperawatan praoperatif


jarkan aktivitas pascaoperasi.adalah untuk
mengajarkan klien cara untuk meningkatkan ventilasi paru
latihan panas diafragma. dan oksigenasi
darah setalah anestesi umum. Hal ini dicapai dengan
memeragakan pada
klien bagaimana melakukan napas dalam, napas lambat
(menahan
inspirasi secara maksimal), dan bagaimana mengembuskan
napas dengan
lambat. Klien diposisikan dalam posisi duduk untuk
memberikan ekspansi
paru yang maksimum.
peranapasan diafragma mengacu pada pendataran rongga
dafragma
selama inspirasi sehingga mengakibatkan pembesaran
abdomen bagian
atas sejalan dengan desakan udara masuk. Selama
ekspirasi, otot-otot
abdomen akan
berkontraksi.

tujuan dari latihan batuk efektif adalah untuk


ajarkan latihan batuk efektif memobilisasi sekret
sehingga dapat dikeluarkan. Napas dalam yang dilkukan
dan gunakan bantal untuk sebelum batuk
akan merangsang refleks batuk. Jika klien tidak dapat batuk
mengurangi respons nyeri. secara efektif,
maka dapat terjadi pneumonia hipostatik atau komplikasi
paru lainnya.
bila akan dilakukan insisi abdomen atau toraks, maka
perawat
memeragakan bagaimana cara menyokong garis insisi
sehingga tekanan
dapat diminimalisasikan dan nyeri dapat di kontrol.

tujuan peningkatan pergerakan tubuh secara hati-hati


jarkan aktivitas pascaoperasi setalah operasi
adalah untuk memperbaiki sirkulasi, mencegah statis vena,
latihan tungkai. dan menunjang
fungsi pernapasan yang optimal.
klien ditunjukkan bagaimana cara untuk berbalik dari satu sisi
ke sisi
lainnya dan mengambil posisi lateral. Posisi ini akan
digunakan setelah
operasi (bahkan sebelum klien sadar) dan dipertahankan
setiap dua jam.
latihan ekstremitas meliputi ekstensi dan fleksi lutut dan
sendi panggul
(sama dengan mengendarai sepeda tapi dengan posisi
berbaring miring).
Telapak kaki diputar seperti membuat lingkaran sebesar
mungkin. Siku
dan bahu juga ditalih rom. Pada awalnya klien akan
dibantu dan
diingatkan untuk melakukan latihan ini, tetapi selanjutnya
dianjurkan
untuk melakukan latihan secara mandiri. Tonus oto
dipertahankan
sehingga ambulasi akan lebih mudah dilakukan.
perawat diingatkan untuk tetap menggunakan pergerakan
tubuh yang
tepat dan mengintruksikan klien untuk melakukan hal yang
sama. Ketika
klien dibringkan dalam posisi apa saja, tubuhnya harus
dipertahankan
dalam kelurusan yang sesuai.

jarkan teknik manajemenImobilisasi yang adekuat dapat mengurangi pergerakan


nyeri fragmen tulang
keperawatan yang menjadi unsur utama kompresi saraf dan nyeri.
atur posisi imobilisasi pada
area
pembedahan.

Lingkungan yang tenang akan menurunkan stimulasi


manajemen lingkungan: nyeri ekskternal.
Pembatasan pengunjung akan membantu meingkatkan
lingkungan tenang, batasi kondisi o2 ruangan
yang akan berkurnga apabila banyak pengunjung yang berada
pengunjungDan istirahatkan di ruangan.
klien. Istirahat akan menurunkan kebutuhan o2jaringan perifer.

tekni Distraksi (pengalihan perhatian) dapat menrunkan


ajarkan k distraksi stimulasi internal
dengan mekanisme peningkatan produksi endorfin dan
untuk mengurangi nyeri. enkefalin yang
dapat memblokir serptor nyeri untuk tidak dikirimkan ke
korteks sereberi,
sehingga menurunkan persepsi nyeri.

Manajemen sentuhan pada saat nyeri berupa bentuk


berikan manajemen dukungan psikologis
yang dapat membantu menurunkan nyeri. Masase
sentuhan. ringan dapat
meningkatkan aliran dan suplai darah serta oksigen ke area
nyeri.

Klien akan mendapat manfaat bila mengetahui kapan


Beritahu klien dan keluarga keluarganya dan
kapan klien bisa dikunjungi. temannya bisa dikunjungi setelah pembedahan.

Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang pembedahan yang akan dilaksanakan
dan hasil akhir pascaoperatif.

Tujuan: dalam waktu 1 x 15 menit tingkat kecemasan klien berkurang atau hilang.

Kriteria hasil:

klien menyatakan kecemasannya berkurang

klien mampu mengenali perasaan ansietasnya

klien dapat mengidentifikasikan penyebab atau faktor yang memengaruhi ansietasnya

klien kooperatif terhadap tindakan

wajah klien tampak rileks


Intervensi Rasional

Mandiri
Bantu klien mengekspresikan perasaan marah, Ansietas berkelanjutan memberikan dampak
kehilangan, dan takut. serangan jantung.

Kaji tanda asietas verbal dan nonverbal. Dampingi Reaksi verbal/nonverbaldapat menunjukkan
klien dan lakukan tindakan bila klien mulai rasa agitasi, marah, dan gelisah.
menunjukkan prilaku merusak.

Klien yang teradapatasi dengan prosedur


Jelaskan tentang prosedur pembedahan sesuai jenis pembedahan yang akan dilaluinya akan
operasi. merasa
lebih nyaman.

Beri dukungan prabedah Hubungan emosional yang baik antara perawat


dan klien akan mememgaruhi peneriamaan
klien
terhadap pembedahan. Aktif mendengar semua
kekhawatiran dan keprihatinan klien adalah
bagain penting dari evaluasi praoperatif.
Keterbukaan mengenai tindakan bedah yang
akan dilakukan, pilihan anestesi, dan
perubahan
atau kejadian pascaoperatif yang diharapkan
akan menghilangkan banyak ketakutan tak
berdasar terhadap
anestesi.
Bagi sebagian besar klien, pembedahan adalah
peristiwa
suatu hidup yang bermakna.
Kemampuan perawat dan dokter untuk
memandangklien dan keluarganya sebagai
manusia yang layak untuk didengarkan dan
diminta pendapat ikut menentukan hasil
pembedahan.
Egbert et al. (1963) dalam gruendemann
(2006)
memperlihatkan bahwa kecemasan klien
yang
dikunjungi dan diminta pendapat sebelum
operasi akan berkurang saat tiba di kamar
operasi dibandingkan mereka yang hanya
sekedar diberi premedikasi dengan
fenobarbital.
Kelompok yang mendapat premedikasi
melaporkan rasa mengantuk, tetapi tetap
cemas.

Konfrontasi dapat meningkatkan rasa


Hindari konfrontasi marah,
menurunkan kerja sama, dan mungkin
memperlambat penyembuhan.

Mengurangi rangsangan eksternal yang


tidak
Beri lingkungan yang tenang dan suasana
penuh istirahat. diperlukan.

Tingkatkan kontrol sensasi klien. Kontrol sensasi klien dalam menurunkan


ketakutan dengan cara memberikan
informasi
tentang keadaan klien, menekankan pada
penghargaan terhadap sumber-sumber
koping
(pertahanan diri) yang positif, membantu
latihan
relaksasi dan teknik-teknik pengalihan, dan
memberikan respons balik yang positif.

Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan Orientasi dapat menurunkan kecemasan.
aktivitas yang diharapkan.

Dapat menghilangkan ketegangan-


ketegangan
Beri kesempatan kepada klien untuk
mengungkapkan ansietasnya. terhadap kehawatiran yang tidak diekpresikan.

Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat. Memberi waktu untuk mengekspresikan
perasaan, menghilangkan rasa cemas, dan
prilaku adaptasi. Kehadiran keluarga dan
teman-
teman yang dipilih klien untuk menemani
aktivitas pengalih (misalnya: membaca akan
menurunkan perasaan
terisolasi).

Kolaborasi
Berikan anticemas sesuai indikasi, contohnya Meningkatkan relaksasi dan menurunkan
diazepam. kecemasan.

Kecemasan berhubungan dengan suasana menjelang pembedahan Tujuan: kecemasan klien


teradaptasi

Kriteria evalusasi: klien kooperatif terhadap intervensi prainduksi anestesi dan klien mendapat
dukungan prainduksi.

Intervensi Rasional

Klien yang merasa diterima oleh petugas


Saat klien masuk ruang sementara, sambut dengan ruang
ramah dan panggil klien dengan namanya. sementara akan mendapatkan dukungan
psikologis yang menurunkan stimulus rasa
cemas.
Pemanggilan nama akan memberikan rasa
aman
pada klien dan menegaskan bahwa dia

merupakan klien yang benar untuk


mendapat
intervensi.

Bantu klien untuk mengganti pakaian rawat


inap Klien dengan pembedahan efektif dari ruangan
dengan pakaian kamar bedah. akan diganti bajunya di ruang prabedah.

Mengurangi rangsangan eksternal yang


Beri lingkungan yang tenang dan jangan berbicara tidak
diperlukan. Suasana tenang akan
tentang pembedahan. meningkatkan
efektifitas pemberian premedikasi.
Perbincangan
yang tidak menyenangkan atau percakapan
harus
dihindari karena dapat diartikan bereda
oleh
klien yang mendapatkan sedatif.

Orientsikan klien terhadap prosedur prainduksi dan Orientsi dapat menurunkan kecemasan.
aktivitas yang diharapkan.

Beri kesempatan kepada klien untuk


mengungkapkan Dapat menghilangkan ketegangan terhadap
ansitesnya. keahwatiran yang tidak diekspresikan.
Koping individu tidak efektif berhubungan dengan prognosis pembelahan, ancaman kehilangan
organ atau fungsi tubuh dari prosedur pembedahan, dan ketidakmampuan menggali koping efektif.

Tujuan: dalam waktu 1 x 10 menit klien mampu mengembangkan koping yang positif.

Kriteria evaluasi:

klien kooperatif pada setiap intervensi keperawatan.

klien mampu menyatakan atau mengomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan
perubahan yang terjadi.

klien mampu menyatakan peneriamaan diri terhadap situasi.

klien mengakui dan menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa
harga diri yang negatif.

Intervensi Rasional

Mandiri
Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan
hubungan Menentukan bantuan individual dalam menyusun
dengan derajat ketidakmampuan. rencana perawatan atau pemilihan intervensi.

Identifikasi arti dari kehilangan atau


disfungsi pada Beberapa klien dapat menerima dan mengatur
klien. perubahan fungsi secara efektif dengan sedikit
penyesuaian diri, sedangkan yang lain mempunyai
kesulitan dalam membandingkan mengenal, dan
mengatur kekurangan.

Anjurkan klien untuk mengekspresikan


perasaan. Menunjukkan penerimaan, membantu klien untuk
mengenal dan mulai menyesuaikan dengan
perasaan tersebut.

Catat ketika klien menyatakan sekarat,


mengingkari, Mendukung penolakan terhadap bagian tubuh atau
dan menyatakan inilah kematian. perasaan negatif terhadap gambaran tubuh dan
kemampuan yang menunjukkan kebutuhan dan
intervensi serta dukungan emosional.
Mengingatkan klien tentang fakta dan realita
bahwa Membantu klien untuk melihat bahwa perawat
klien masih dapat menggunakan sisi yang
sakit dan menerima kedua bagian sebagai bagian dari
belajar mengontrol sisi yang sehat. seluruh tubuh. Mengizinkan klien untuk meraskan
adanya harapan dan mulai menerima situasi baru.

Bantu dan anjurkan perawatan yang baik


dan Membantu meningkatkan perasaan harga diri dan
memperbaiki kebiasaan. mengontrol lebih dari satu area kehidupan.

Anjurkan orang terdekat klien untuk


mengizinkan Menghidupkan kembali perasaan kemandirian dan
klien melakukan hal sebanyak-banyaknya. membantu perkembangan harga diri serta
memengaruhi proses rehabilitasi.

Dukung prilaku atau usaha seperti


peningkatan minat Klien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan

atau partisipasi dalam


aktivitas rehabilitasi. pengertian tentang peran individu masa
mendatang.

Dukung penggunaan alat-alat yang dapat


membuat
klien, tongkat, alat bantu jalan, tas
Meningkatkan kemandirian untuk membantu
panjang untuk
pemenuhan kebutuhan fisik dan menunjukkan
kateter. posisi untuk lebih aktif dalam kegiatan sosial.

Monitor gangguan tidur, kesulitan


berkonsentrasi, Dapat mengindikasikan terjadinya depresi.

letargi, dan meanrik diri. Umumnya memerlukan intervensi dan evaluasi

lebih lanjut.

Dapat memfasilitasi perubbahan peran yang


Kolaborasi Rujuk pada ahli neuropsikologipenting untuk perkembangan
dan konseling bilaada indikasi. perasaan.
DAFTAR PUSTAKA

Fragiskos, Fragiskos D. . Oral Surgery. New York : Springer-Verlag Berlin


Heidelberg, 2007.
Pedersen, Gordon W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta : EGC.
Peterson L.J.,2003.Contemporary Oral Maxillofacial Surgery.4th Ed.St.Louis:
Mosby
Peterson. 2004. Principle of Oral and Maxillofacial Surgery. London : BC Decker
Inc.
Riawan, Lucky. 2007. Materi Kuliah Bedah Dento Alveolar. Universitas
Padjadjaran Bandung.

Anda mungkin juga menyukai