Anda di halaman 1dari 17

Sulit BAK pada Pria Usia Lanjut

Pendahuluan

Kelangsungan hidup dan berfungsinya sel secara normal bergantung pada


pemeliharaan konsentrasi garam, asam dan elektrolit di lingkungan cairan internal.
Kelangsungan hidup juga bergantung pada pengeluaran secara terus menerus zat-zat sisa
metabolisme toksik. Ginjal berperan penting dalam mempertahankan homeostasis dengan
mengatur konsentrasi banyak konsituen plasma, terutama elektrolit dan air. Urine dibentuk di
ginjal, setelah itu urine akan diteruskan ke ureter, vesica urinaria, lalu ke urethra. Dalam
makalah ini akan dijelaskan mengenai sistem urinaria mengenai makro mikro dan fungsi
mekanisme ginjal, ureter, vesica urinaria, urethra, serta mekanisme pembentukan urine.

Alamat Korespondensi :

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Terusan Arjuna No. 6, Jakarta Barat 11510, No telp: (021) 56942061, Fax: (021) 5631731

E-mail: genrico24@rocketmail.com

1. Struktur Makroskopis

1.1. Ginjal

Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang, terletak retroperitoneal, di kedua
sisi kolumna vertebralis daerah lumbal. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dibandingkan
dengan ginjal kiri karena tertekan ke bawah oleh hati. Kutub atasnya terletak setinggi kosta
12, sedangkan kutub atas ginjal kiri terletak setinggi kosta 11. Setiap ginjal terdiri dari
600.000 nefron. Nefron terdiri atas glomerulus dengan sebuah kapiler yang berfungsi sebagai
filter. Penyaringan terjadi di dalam sel-sel epitelial yang menghubungkan setiap glomerulus.
Ginjal terdiri dari dua bagian utama :1

 Korteks Renis

1
Pada korteks banyak glomerulus dan pembuluh darah. Pada bagian korteks banyak
sekali mengandung nefrron. Setiap nefron terdiri atas badan malpihigi dan tubulus
yang panjang.

 Medulla Renis
Medulla terbagi menjadi segitiga-segitiga yang disebut pyramis renis (malphigi).
Diantara pyramis-pyramis terdapat columna renalis. Beberapa calyx minor
membentuk calyx mayor. Beberapa calyx mayor membentuk pelvis renalis.

Ginjal dibungkus oleh :1,2

 Capsula fibrosa
Melekat hanya pada ginjal dan hanya menyelubungi ginjal tidak membungkus anak
ginjal. Untuk mempertahankan letak ginjal
 Capsula adipose
Mengandung banyak lemak dan membungkus glandula suprarenalis.
 Fascia renalis
Terletak diluar capsula fibrosa dan terdiri atas dua lembar yaitu bagian depan fascia
prerenalis dan belakang fascia retrorenalis. Kedua lembar fascia renalis ke arah caudal
tetap terpisah sedagkan ke cranial bersatu.

Ginjal diperdarahi oleh a. renalis cabang dari aorta abdominalis setinggi vertebra L1-2.
Arteri renalis masuk kedalam ginjal melalui hilus renalus dan bercabang-cabang mengurus
bagian depan dan belakang. Pertemuan a. renalis bagian depan dan belakang bertemu di
lateral pada garis Broedel, tempat pertemuannya ± dibelakang garis tengah ginjal. Cabang a.
renalis yang berjalan diantara lobus gnjal yaitu a. interlobaris. A. interlobaris pada perbatasan
cortex dan medulla bercabang menjadi a. arcuata mengelilingi cotex dan medulla sehingga
disebut a. archiformis. A. arcuata berabang menjadi a. interlobularis dan pada tepi gijal
mempercabangkan vasa afferens dan vasa efferens yang membentu anyaman rambut menjadi
tubuli contorti. Pembuluh balik mengikuti arah arteri dan berkumpul sebagai kepiler dalam v.
intelobularis = vv. stellatae (Verheyeni).1,3

2
Gambar 1. Anatomi Ginjal

1.2. Ureter

Ureter merupakan lanjutan dari pelvis renis, panjangnya 20-30 cmberjalan dari hilus
ginjal menuju kandung kemih. Berdasarkan letaknya ureter terbagi menjadi dua bagian yaitu
ureter pars abdominalis dan ureter pars pelvina. Perjalanan ureter parspelvina laki-laki
berbeda dengan perempuan, pada laki-laki ureter menyilang pintu atas panggul di depan a.
illiaca communis menuju dorsocaudal di depan a. illiaca intena sampai di daerah spina
ishciadica membelok ke depan dan medial untuk bermuara ke dalam vesica urinaria pada
sudut lateral atasnya, disini menyilang ductus deferens disebelah lateral. Pada wanita setelah
sampai di spina ishciadica menuju ventromedial dibawah lig. latum uteri dan menyilang a.
uterine di sisi medial menu ventra di sebelah lateral fornix lateralis masuk kedalam vesica
urinaria. Tempat-tempat penyempitan ureter yaitu uteropelvic junction, ureter menyilang
vassa illiaca communis (flexura marginalis), ureter masuk ke dalam vesica urinaria/
persarafan ureter oleh plexus hypogastricus inferor T1-L2.3,4

1.3. Vesica Urinaria

Vesica urinaria yang kosong teletak dalam rongga panggul di belakang symphisis ossis
pubis. Dan vesica urinaria yang terisi terletak di daerah hypogastrica, pada anak-anak
letaknya diatas pintu atas panggul. Vesicaurinaria dapat menampung urin 200-400 cc. bagian-
bagian vesica urinaria yaitu apex, corpus, fundus. Lapisan vesica urinaria terdiri dari tiga otot
yang saling menutupi :

 M. Detrusor

Terdapat pada bagian dalam yang berfungsi mengeluarkan isi vesica urinaria.

3
 M. Trigonal

Terdapat dalam segitiga liutaudi yang ikut membentuk uvula dan ikut membentuk
orificium urethra interna

 M. Sphincter vesica

Dapat menahan urin dalam vesica urinaria.

Pendarahan vesica urinaria oleh Aa. vesicales superior cabang dai a. umbilicalis bagian
proximal yang memperdarah fundus dan beranastomosis dengan a. epigastrica inferior. Aa.
vesicales inferior memperdarahi bagian caudal dan lateral permukaan depan vesica urinaria
dan juga memperdarahi glandula prostat. A. vesicodeferntialis memeprdarahi 1/3 permukaan
posterior vesuca urnaria, glandula vesiculosa, ductus deferentialis, pada wanita memperdarahi
ovarium dan vagina.2,3,4

1.4. Urethra

Mengalirkan urine dari vesika urinaria ke bagian exterior tubuh.1,2

1. Pada laki-laki, uretra membawa cairan semen dan urine, tetapi tidak dalam waktu
yang bersamaan. Uretra laki-laki panjangnya mencapai 20 cm dan melalui kelenjar
prostat dan penis.
i. Uretra pars prostatika, dikelilingi oleh kelenjar prostat. Uretra ini menerima
dua duktus ejakulator yang masing-masing terbentuk dari penyatuan duktus
deferen dan duktus vesical seminalis, serta menjadi tempat bermuaranya
sejumlah duktus dari kelenjar prostat.
ii. Urethra pars membranasea, adalah bagian yang terpendek ( hanya 1-2cm).
bagian ini berdinding tipis dan dikelilingi oleh otot rangka sfingter urethra
externus.
iii. Urethra pars cavernosus, merupakan bagian yang terpanjang. Bagian ini
menerima duktus kelenjar bulbouretra dan merentang sampai orifisium uretra
external pada ujung penis. Tepat sebelum mulut penis , uretra membesar dan
membentuk dilatasi kecil, fossa navicularis. Uretra cavernosus dikelilingi
corpus spongiosum, yaitu kerangka ruang vena besar.
2. Uretra pada perempuan, berukuran pendek (3,75 cm). saluran ini membuka keluar
tubuh melalui orificium uretra external yang terletak di vestibulum diantara klitoris
4
dan mulut vagina. Kelenjar uretra yang homolog dengan kelenjar prostat pada laki-
laki, bermuara ke dalam urethra.

1.5. Genitalia Masculina Interna

a. Ductus deferens

Ductus deferens merupakan saluran berdinding tebal yang di lalui oleh sperma. Mulai dari
angulus ingunalis medialis menuju lateral a. epigastrica inferior turun ke dorsocaudal pada
dinding lateral pelvis, menyilang ureter di sisi medialnya dan menuju media caudal pada
permukaan dorsal vesica urinaria. Bagian yang melebar : ampulla ductus deferens. Ductus
ejakulatorius merupakan pertemuan ductus excretorius vas deferens – ductus excetorius
gl.vesiculosa1,2

b. Vesicula seminalis (gl.vesiculosa)

Bagian Ujung atasnya tertututp peritoneum , panjangnya ± 5 cm terdapat 2 gelembung lobus


kanan dan kiri ,yang berfungsi memproduksi cairan essential untuk memberi makan sperma.
,bagian depan berhubungan dengan permukaan dorsal vesica urinaria, bagian belakang
berhubungan dengan rectum, bagian medial berhubungan dengan vas deferens .2

c. Glandula prostata

Merupakan kelenjar eksokrin fibromuskular. Bentuk limas terbalik dengan puncak di kaudal
dengan panjang ±3 cm,memiliki lapisan dalam selaput fibrotic dan lapisan luar jaringan
ikat(lanjutan fascia pelvis).Glandula prostat di bedakan menjadi : basis dan apex , basis
adalah bagian diatas dan depan , sekitar collum vesica urinaria, apex terletak pada diafragma
urogenitale.1,2

Batas- batas dari glandula prostat ;1

Bagian depan: atas berbatasan dengan vesica urinaria, bawah berbatasan dengan sympissis
pubis. Bagian belakang: berbatasan dengan rectum / pars analis recti. Bagian lateral:
berbatasan dengan m. levator ani.

Glandula prostat terbagi menjadi 4 lobus:

5
1. Lobus anterior: terletak di depan urethtra pars prostatica dan tidak memiliki jaringan
kelenjar.
2. Lobus medius: terlelak antara urethtra – dutc. Ejakulatorius, memliki jaringan kelnjar
yang dapat berubah menjadi adenoma.
3. Lobus posterior; treletak dibelakang urethtra, caudal dari ductus Ejakulatorius,
memiliki jaringan kelenjar dan dapat berubah menjadi kanker primer.
4. Lobus lateralis: terbagi jadi 2 ,kanan dan kiri urethtra pars prostatica, memiliki banyak
jaringan kelenjar dan sering mengalami hipertrofi prostat.

Glandula prostata diperdarahi oleh cabang – cabang a. vesica inferior,a.rectalis media, a.


pudenda interna, sedangkan venanya melalui plexus venosus prostaticus.
Aliran getah bening nya dialirkan melalui Nnll.gl.prostata dan bermuara ke nnll.illiaca
interna. Persarafannya oleh cabang-cabang plexus hypogastricus inferior.

2. Struktur Mikroskopis

2.1. Ginjal

Ginjal adalah organ vital untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Sel-sel ginjal
menghasilkan dua hormon penting, yaitu rennin dan eritropoietin. Renin mengatur tekanan
darah untuk mempertahankan tekanan yang sesuai untuk ginjal. Eritropoietin dipercaya
dihasilkan oleh endotel jaringan kapiler peritubular, meningkatkan pembentukkan eritrosit di
sumsum tulang merah. Pembentukan urine di ginjal mencakup filtrasi, reabsorpsi, dan
sekresi. Kira-kira 99% dari filtrate glomerular yang dihasilkan ginjal akan direabsorpsi ke
dalam sistem di nefron dan hanya sekitar 1% yang dikeluarkan berupa urine.5

Satu ginjal mengandung 1-4 juta nefron yang merupakan unit pembentuk urine. Setiap nefron
memiliki satu komponen vascular (kapilar) dan satu komponen tubular.5,6

 Glomerulus, adalah gulungan kapiler yang dikelilingi kapsul epitel berdining ganda
yang disebut kapsula Bowman. Glomerulus dan kapsul Bowman bersama-sama
membentuk sebuah korpuskel ginjal.

 Lapisan visceral kapsula Bowman adalah lapisan internal epithelium. Sel-sel lapisan
visceral dimodifikasi menjadi padosit (:sel seperti , kaki”), yaitu sel-sel epitel khusus di
sekitar kapiler glomerular.
6
 Lapisan parietal kapsula Bowman membentuk tepi luar korpuskel ginjal.

 Pada kutub vascular korpuskel ginjal, arteriola afferen masuk ke glomerulus


dan arteriola efferent keluar dari glomerulus.

 Pada kutub urinarius korpuskel ginjal, glomerulus memfiltrasi aliran yang


masuk ke dalam tubulus kontortus proksimal.

 Tubulus Kontortus Proksimal, panjangnya mencapai 15mm dan sangat berliku. Pada
permukaan yang menghadap lumen tubulus ini terdapat sel-sel epithelial kuboid yang
kaya akan mikrovilus (brush border) dan mamperluas area permukaan lumen.

 Ansa Henle. Tubulus kontortus proksimal mengarah ke tungkai desenden ansa Henle
yang masuk ke dalam medulla, membentuk lengkungan jepit yang tajam (lekukan), dan
membalik ke atas membentuk tungkai asenden ansa Henle.

 Tubulus kontortus distal juga sangat berliku, panjangnya sekitar 5 mm dan membentuk
segmen terakhir nefron.

 Di sepanjang jalurnya, tubulus ini bersentuhan dengan dinding arteriol aferen.


Bagian tubulus yang bersentuhan dengan arteriol mengandung sel-sel
termodifikasi yang disebut macula densa. Macula densa berfungsi sebagai
suatu kemoreseptor dan distimulasi oleh penurunan ion natrium.

 Dinding arteriol aferen yang bersebelahan dengan macula densa mengandung


sel-sel otot polos termodifikasi yang disebur sel jukstaglomerular. Sel ini
distimulasi melalui penurunan tekanan darah untuk memproduksi renin.

 Macula densa, sel jukstaglomerular, dan sel mesangium saling bekerja sama
untuk membentuk apparatus jukstaglomerular yang penting dalam pengaturan
tekanan darah.

 Tubulus dan ductus pengumpul. Karena setiap tubulus pengumpul berdesenden di


korteks, maka tubulus tersebut akan mengalir ke sejumlah tubulus kontortus distal.
Tubulus pengumpul membentuk ductus pengumpul besar yang lurus. Ductus
pengumpul membentuk tuba yang lebih besar yang mengalirkan urine ke dalam
khaliks minor. Khaliks minor bermuara ke dalam pelvis ginjal melalui khaliks major.
Dari pelvis ginjal, urine dialirkan ke ureter yang mengarah ke vesica urinaria.5,6

7
2.2. Ureter

Ureter adalah saluran tunggal yang mengalirkan urin dari pelvis menuju vesika urinaria

(kantung air seni). Mukosa mempunyai lipatan memanjang dengan epitel transisional. Terdiri

dari tiga macan tunika, yaitu :5

 Tunika propia terdiri dari jaringan ikat dan pembulu-pembulu

 Tunika adventisia terdiri dari jaringan ikat yang mengandung pembulu

darah,pembuluh limfe saraf

 Tunika muskularis,terdiri dari otot polos sangat longgar dan saling dipisahkan oleh

jaringan ikat longgar dan anyaman serabut elastic. Otot membentuk tiga lapisan ,

yaitu stratum longitudinal,stratum internum,stratum sirkuler dan stratum longitudinal

eksternum.

Gambar 2. Mikroskopis Ureter

2.3. Vesica Urinaria

Vesika urinaria ini ditopang dalam rongga pelvis dengan lipatan-lipatan peritoneum dan
kondensasi fasia. Dinding vesica urinaria terdiri dari 4 lapisan:5,6

8
 Serosa, adalah lapisan terluar. Lapisan ini merupakan perpanjangan lapisan
peritoneal rongga abdominopelvis dan hanya ada di bagian atas pelvis.
 Otot detrusor, adalah lapisan tengah . lapisan ini tersusun dari berkas-berkas otot
polos yang satu sama lain saling membentuk sudut. Ini untuk emastikan bahwa
selama urinasim vesika urinaria akan berkontraksi dengan serempak ke segala arah.
 Submukosa, adalah lapisan jaringan ikat yang terletak di bawah mukosa dan
menghubungan dngan muskularis.
 Mukosa adalah lapisan terdalam, lapisan ini merupakan lapisan epitel yang tersusun
dari epithelium transisional. Pada vesika urinaria yang rileks, mukosa membentuk
ruga (lipatan-lipatan), yang akan memipih dan mengembang saat urine
berakumulasi dalam vesika urinaria.

2.4. Urethra

Urethra secara mikroskopik terdiri dari 3 lapisan:5

 Lapisan Mukosa, lapisan ini berisi epitel transisional sampai berlapis gepeng.

 Lapisan Muskularis, merupakan lapisan otot polos yaitu m. sphincter urethra

 Lapisan Adventitia

2.5. Genitalia Masculina Interna

a. Ductus deferens

 Merupakan saluran keluar dari organ epididimis.


 Tubulus contortus jika di perbesar 40x diliputi oleh membrane basalis dalam lamina
propria jaringan ikat interlobularis.
 Di dlam sel kelamin jumlahnya 4-8 lapis yang paling bawah dasar disebut
spermatogonium a dan b.
 Spermatogonium b ( bulat berkembang menjadi spermatosit I yang paling besar
mengadakan miosis I menjadi spermatosit II (umurnya pendek, jadi jarang di temukan
dalam preparat)
 Kemudian menjadi spermatid yang masih menempel pada sertoli yaitu sel besar yang
intinya segitiga , kemudian lepas dari sl sertoli menjadi sperma.

9
 Dalam jaringan intralobularis ada sel yang berkelompok , bentuknya polygonal
warnanya asidofil disebut sel leydig yang dapat menghasilkan hormone testosterone.
 Sitoplasma dilisiskan oleh sel sertoli sampai habis jika sudah habis maka akan
maenjadi spermatozoa dan lepas dari sel sertoli.
 Akromosom pada kepal sperma merupakan enzim hidrolitik fungsinya adalah
memcahkan corona radiate dan melisiskan zona pelucida dari oosit.5,6

b. Kelenjar vesiculosa ,ciri khasnya ada cabang primer dan sekunder yang menghubungkan
primer dengan sekunder lamina propria. Glandula vesiculosa menghasilkan fruktosa ,vit.c
dan globulin.

c. Glandula prostat

 Jaringan prostat mengandung kelenjar prostat yang jumlahnya 30-50


 Dalamnya terdapat uretra pars prostatika
 Pada lamina propria terdapat serabut disebut fibro muscular
 Pada capsula (luar,membungkus) fibrosanya mengandung serat elastin yang disebut
fibro elastin

Dalam jaringan prostat terdapat bangunan yang berwarna merah yaitu konkremen merupakan
cairan prostat yang mengalmi pengapuran.5

3. Mekanisme Pembentukan dan Pengeluaran Urin

1. Filtrasi
Cairan yang difiltrasi dari glomerulus ke dalam kapsula bowman melewati tiga
lapisan yang membentuk membrane glomerulus :7

 Dinding kapiler glomerulus


 Lapisan gelatinosa aseluler yang dikenal sebagai membran basal
 Lapisan dalam kapsul bowman.
Membran basal terdiri dari glikoprotein yang menghambat filtrasi protein plasma kecil
dan kolagen yang terselip di antara glomerulus dan kapsul bowman. Glikoprotein yang
bermuatan sangat negative akan menolak albumin dan protein plasma lain karena juga
bermuatan negatif. Dengan demikian hampir seluruh protein plasma tidak dapat difiltrasi.1,8

10
Untuk melaksanakan filtrasi glomerulus, harus terdapat gaya yang mendorong
sebagian plasma dalam glomerulus. Kapiler glomerulus lebih permeabel dibandingkan
dengan kapiler tempat lain, sehingga tekanan filtrasi yang sama lebih banyak cairan yang
difiltrasi, dan keseimbangan gaya-gaya di kedua sisi membran glomerulus. Terdapat tiga
gaya fisik yang terlibat dalam filtrasi glomerulus:7,8

 Tekanan darah kapiler glomerulus


Tekanan darah kapiler glomerulus adalah tekanan cairan yang ditimbulkan oleh darah
di dalam kapiler glomerulus. Tekanan ini bergantung pada kontraksi jantung (sumber
energi yang menghasilkan filtrasi glomerulus). Tekanan darah kapiler glomerulus
mendorong filtrasi. Tekanan darah kapiler glomerulus, yang diperkirakan bernilai
rata-rata 55mmHg, lebih tinggi daripada tekanan darah kapiler di tempat lain, karena
garis tengah arteriol aferen lebih besar daripada garis tengah arteriol eferen. Karena
darah lebih mudah masuk ke kapiler glomerulus melalui arteriol aferen yang lebih
lebar dan lebih sulit keluar melalui arteriol eferen yang lebih sempit, tekanan darah
kapiler glomerulus meningkat akibat terbendungnya darah di kapiler glomerulus.
Tekanan yang meningkat dan tidak menurun cenderung mendorong cairan keluar dari
glomerulus untuk masuk ke kapsul bowman di keseluruhan panjang kapiler
glomerulus dan merupakan gaya utama yang menghasilkan filtrasi glomerulus.
 Tekanan osmotic koloid plasma
Tekanan osmotic koloid plasma merupakan tekanan yang melawan filtrasi. Tekanan
osmotic koloid plasma ditimbulkan oleh distribusi protein-protein plasma yang tidak
seimbang di kedua sisi membrane glomerulus. Karena tidak dapat difiltrasi protein
plasma terdapat di kapiler glomerulus tetapi tidak ditemukan di kapsula bowman.
Dengan demikian konsentrasi H2O di kapsul bowman lebih tinggi daripada
konsentrasi di kapiler glomerulus. Akibatnya kecenderungan H2O untuk berpindah
secara osmotis mengkuti penurunan gradient konsentrasi dari kapsula bowman ke
kapiler glomerulus melawan filtrasi glomerulus. Tekanan ini lebih tinggi karena H2O
yang difiltrasi ke luar dari darah glomerulus jumlahnya cukup banyak, sehingga
konsentrasi protein plasma lebih tinggi dibandingkan di tempat lain.
 Tekanan hidrostatik kapsul bowman.
Cairan di dalam kapsul bowman menimbulkan tekanan hidrostatik (cairan) yang
diperkirakan besarnya sekitar 15mmHg. Tekanan ini cenderung medorong cairan
keluar dari kapsul bowman.

11
Autoregulasi adalah suatu mekanisme intrinsik yang dicetuskan ginjal saat terjadi
perubahan GFR spontan. Ginjal dapat dalam batas-batas tertentu, mempertahankan aliran
darah kapiler glomerulus konstan dan GFR stabil walaupun terjadi perubahan tekanan arteri.
Terdapat dua mekanisme intrarenal yang berperan dalam autoregulasi;1

 Mekanisme miogenik
Mekanisme miogenik adalah sifat umum otot polos vaskuler. Otot polos vaskuler
arteriol berkontraksi secara inheren sebagai respon terhadap peregangan yang
menyertai peningkatan tekanan di dalam pembuluh. Dengan demikian, arteriol aferen
secara otomatis berkontriksi jika teregang karena tekanan arteri meningkat.
Sebaliknya arteriol aferen yang tidak teregang akan secara inheren melemas,
sehinggja aliran darah ke dalam glomerulus meningkat walaupun terjadi penurunan
tekanan arteri.
 Mekanisme umpan balik tubule-glomerulus,
Mekanisme umpan-balik tubulo-glomerulus melibatkan apparatus
juksataglomerulus. Terdapat macula densa yang merupakan sel-sel tubulus khusus.
Sel-sel makula densa medeteksi perubahan kecepatan aliran cairan di dalam tubulus
yang melewati mereka. Apabila GFR meningkat akibat peningktan tekanan tekanan
arteri, filtrasi lebih banyak dari normal. Sebagai respons, sel-sel makula densa
memicu pengeluaran zat-zat kimia vasoaktif dari apparatus juksaglomerulus yang
menyebabkan kontriksi arteriol aferen dan menurunkan aliran darah glomerulus serta
memulihkan GFR ke normal.

2. Reabsorpsi
Reabsorpsi tubulus adalah suatu proses yang sangat selektif. Bahan hasil filtrasi yang
direabsorpsi adalah air (99%), natrium (99,5%),glukosa (100%), urea (50%), fenol (0%).8

Reabsorpsi Na bersifat unik dan kompleks. Dari semua Na+ yang difiltrasi, dalam
keadaaan normal 99,5% direabsorpsi, dengan rata-rata 67% direabsorpsi di tubulus proximal,
25% di lengkung Henle, dan 8% di tubulus distal dan tubulus pengumpul.

Sistem hormon terpenting adalah sistem rennin-angiostensin-aldosteron, yang


merangsang reabsorpsi Na+ di tubulus distal dan tubulus pengumpul. Sel-sel granuler
apparatus juksataglomerulus mensekresikan hormon renin ke dalam darah sebagai respon

12
terhadap penurunan NaCl/volume CES/ tekanan darah kemudian menyebabkan peningkatan
tekanan arteri ke normal. Renin bekerja sebagai enzim untuk mengaktifkan angiostensinogen
menjadi angiostensin I. Angiostensin I diubah menjadi angiostensin II oleh angiostensin-
converting enzyme (ACE). Angiostensin II merupakan stimulus utama sekresi hormone
aldosteron. Aldosteron mempunyai efek meningkatkan reabsorpsi Na+ oleh tubulus distal dan
pengumpul. Apabila beban Na+, volume CES dan plasma dan tekanan darah di atas normal
maka sekresi renin dihambat. Akibatnya karena tidak terjadi pengaktifan angiostensinogen
menjadi angiostensin I dan II, sekresi aldosteron tidak terangsang. Tanpa aldosteron,
reabsorpsi sejumlah kecil Na+ yang bergantung pada aldosteron tidak terjadi. Bahkan Na+
yang tidak direabsorpsi akan keluar melalui urin. Pengeluaran Na+ yang difiltrasi dapat
mengeluarkan dengan cepat semua kelebihan Na+ dari tubuh.7,8

Reabsorpsi glukosa. Maksimum tubulus (Tm) jumlah maksimum suatu bahan yang
dapat diangkut secara aktif oleh sel-sel tubulus dalam rentang waktu tertentu. Kecuali Na+,
semua bahan dapat diangkut secara aktif memperlihatkan Tm karena aldosteron mendorong
sintersis pembawa Na+-K+ ATPase di sel tubulus distal dan pengumpul sesuai kebutuhan).
Setiap bahan yang difiltrasi jumlahnya melebihi Tm tidak akan direabsorpsi dan akan keluar
tubuh melalui urin. Konsentrasi glukosa normal dalam plasma adalah 100mg glukosa/ 100 ml
plasma. Karena glukosa di filtrasi secara bebas di glomerulus, zat ini akan masuk ke kapsul
bowman dengan konsentrasi yang sama di dalam plasma. Dengan demikian 100mg glukosa
untuk setiap 100 ml plasma yang difiltrasi.1 Tm (maksimum tubulus) untuk glukosa rata-rata
adalah 375 mg/menit; jadi mekanisme pembawa glukosa mampu secara aktif mereabsorpsi
glukosa dengan jumlah samapai 375 mg per menit sebelum kapasitas tranportasi glukosa
maksimum tercapai. Konsentrasi plasma pada saat Tm suatu bahan tertentu tercapai dan
bahan tersebut mulai muncul di urin disebut ambang ginjal (renal threshold). Pada Tm
normal 375 ml/menit dan GFR 125 ml/menit, ambang ginjal untuk glukosa 300 mg/100ml.8

Reabsorpsi fosfat. Ginjal memang secara lansung berperan dalam pengaturan banyak
elektrolit, missal kalsium (Ca++) dan fosfat (PO43-) karena ambang ginjal untuk ion-ion
anorganik ini setara dengan konsentrasi plasma normal mereka. Semakin besar PO43- yang
dimakan melebihi kebutuhan tubuh, semakin banyak yang dieksresikan. Tidak seperti
reabsorpsi nutrient-nurien organik, reabsorpsi PO43- dan Ca++ juga berada di bawah kontrol
hormon. Hormon paratiroid dapat mengubah amabang ginjal untuk PO43- dan Ca ++, sehingga
jumlah kedua elektrolit yang ditahan di dalam tubuh dapat disesuaikan dengan kebutuhan
sesaat tubuh.

13
Reabsorpsi klorida. Ion klorida yang bermuatan negative direabsorspi secara pasif
mengikuti penurunan gradien listrik yang diciptakan oleh reabsopsi aktif ion natrium yang
bermuatan positif. Jumlah klorida yang direabsorpsi ditentukan oleh kecepetan reabsorpsi
Na+ dan tidak dikontrol secara langsung oleh ginjal.

Reabsorpsi air. Air secra pasif direabsorpsi melalui osmosis di seluruh panjang
tubulus. Dari H2O yang difiltrasi, 80% direabsorpsi secara obligatorik di tubulus proksimal
dan lengkung henle karena secara osmotis mengikuti reabsorpsi zat terlarut. Sisa 20%
direabsorpsi dalam jumlah bervariasi di bagian distal tubulus; tingkat reabsorpsi ini berada di
bawah kontrol langsung hormon bergantung pada status hidrasi tubuh.1,8

Reabsorpsi urea. Selain Cl- dan H2O, reabsorpsi pasif urea secara tidak langsung
berkaitan dengan reabsorpsi Na+. Urea adalah suatu produk sisa yang berasal penguraian
protein. Konsentrasi urea sewaktu difiltrasi di glomerulus adalah setara dengan
konsentrasinya di dalam plasma yang memasuki kapiler peritubulus. Namun jumlah urea
yang terdapat di dalam 125 ml cairan filtrasi di permulaan tubulus poksimal mengalami
pemekatan hampir tiga kali lipat dalam volume yang hanya 44 ml di akhir tubulus proksimal.
Akibatnya, konsentrasi urea di dalam cairan tubulus menjadi jauh lebih besar daripada
konsentrasi urea dalam plasma di kapiler-kapiler di sekitarnya. Dengan demikian, tercipta
gradient konsentrasi agar urea secara pasif berdifusi dari lumen tubulus ke dalam plasma
kapiler peritubulus.7

Adanya zat terlarut dalam jumlah besar yang tidak direaborpsi dalam tubulus ginjal
akan menyebabkan peningkatan volume urine yang disebut diuresis osmotic. Zat terlarut
yang tidak direabsorpsi di tubulus proksimal akan memberi pengaruh osmotic yang besar
seiring berkurangnya volume cairan dalam tubulus dan meningkatnya kadar zat terlarut
tersebut. Peningkatan zat terlarut akan menahan air dalam tubulus. Pada keadaan normal,
reabsorpsi air di tubulus proksimal mencegah peningkatan gradient konsentrasi Na+ namun
pada diuresis osmotic ini konsentrasi Na+ dicairan tubulus menurun akibat penurunan
reabsorpsi air karena adanya peningkatan jumlah zat terlarut yang tidak di reabsorpsi di
cairan tubulus. Bila gradient konsentrasi telah tercapai maka reabsorpsi Na+ selanjutnya di
tubulus proksimal terhambat, akan lebih banyak Na+ yang tetinggal di tubulus dan air juga
akan tertahan di dalamnya. Akibatnya ansa Henle, mengandung cairan isotonic yang sangat
banyak. Kosentrasi Na+ dalam cairan ini rendah, namun jumlah total Na+ yang mencapai ansa
Henle dalam satuan waktu meningkat. Di ansa Henle, reabsorpsi air dan Na+ berkurang

14
karena hipertonisitas medulla menurun. Penurunan ini terutama disebabkan karena penurunan
reabsorpsi dipars ascendence ansa Henle karena tercapainya gradient konsentrasi pembatas
untuk reabsorpsi Na+. Lebih banyak cairan yang melalui tubulus distal dan karena terjadi
penurunan tingkat gradient osmotic di pyramid medulla, reabsorpsi air di ductus colligent pun
berkurang, sehingga terjadi peningkatan volume urin yang dibentuk beserta peningkatan
eksresi Na+ dan elektrolit lainnya.8

3. Sekresi

Sekresi Ion hidrogen. Sekresi H+ ginjal penting untuk keseimbangan asam-basa


tubuh. Ion hidrogen ditambahkan ke cairan filtrasi melaui proses sekresi di tubulus proksimal,
distal, dan pengumpul. Tingkat sekresi H+ bergantung pada keasaman cairan tubuh,
sebaliknya sekresi H+ berkurang apabila konsentrasi H+ dalam cairan tubuh terlalu rendah.

Sekresi ion kalium. Ion kalium merupakan contoh zat yang secara selektif berpindah
dengan arah berlawanan di berbagai bagian tubulus; aktif direabsorpsi di tubulus proksimal
dan secara aktif disekresi di tubulus distal dan pengumpul. Sekersi ion kalium di bagian akhir
tubulus bervariasi dan berada di bawah kontrol. Dalam keadaan normal, jumlah K+ yang
diekresikan dalam urin adalah 10% samapi 15% dari jumlah yang difiltrasi. Beberapa faktor
mampu mengubah kecepatan sekresi K+, yang paling penting adalah hormon aldosteron yang
merangsang sekresi K+ oleh sel-sel tubulus di bagian akhir nefron untuk meningkatkan
reabsorpsi Na+. Peningkatan konsentrasi K+ plasma secara langsung merangsang sekresi
aldosteron oleh korteks adrenal, sedangkan penurunan konsentrasi Na+ plasma merangsang
sekresi aldosteron melalui kompleks renin-angiotensin-aldosteron.7

Sekresi anion dan kation organik. Tubulus proksimal mengandung dua jenis pembawa
sekretorik yang terpisah, satu untuk sekresi anion organic dan suatu sistem terpisah untuk
sekresi kation organic. Terdapat beberapa fungsi penting. Pertama, dengan menambahkan
lebih banyak ion organic ke cairan tubulus yang sudah mengandung bahan yang bersangkutan
melalui proses filtrasi, jalur sekretorik organic ini mempermudah eksresi bahan-bahan
tersebut. Kedua, ion organic secara ektensif tetapi tidak ireversibel terikat ke protein plasma.
Sekresi tubulus mempermudah eliminasi ion-ion organik yang tidak dapat difiltrasi ini
melalui urin. Ketiga, dan yang paling penting adalah kemampuan sistem sekresi ion organic
mengeliminasi banyak senyawa asing dari tubuh. Sistem ion organic dapat mensekresikan
sejumlah besar ion organic berbeda-beda, baik yang diproduksi secara endogen (di dalam
tubuh) maupun ion organic asing yang masuk ke dalam tubuh. Mekanisme nonselektif ini

15
memungkinkan sistem sekresi ion organic tersebut meningkatkan pengeluaran banyak zat
kimia organic asing, termasuk zat-zat tambahan pada makanan, obat, bahan organic non
nutritif lain yang masuk ke dalam tubuh.7,8

Hormon yang mempengaruhi fungsi ginjal ada beberapa macam yaitu ;7,8

 Kelenjar korteks adrenal


Kelenjar ini menghasilkan hormone aldosteron yang berperan pada tubulus distal pada
pertukaran Natrium dan Kalium. Efek aldosteron adalah meningkatkan reabsorpsi Na+ dan
terjadi pertukaran dengan K+ dan H+ dengan akibat terjadi retensi Na+, kehilangan K+ dan H+.
Pengaturan sekresi aldosteron distimulasi oleh renin.

 Kelenjar hipofisis posterior


Kelenjar ini menghasilkan Anti Diuretic Hormone (ADH).

 Peran Hormon antidiuerik (ADH)


ADH meningkatkan permiabilitas dinding tubuli distal, kolekting tubulus sehingga terjadi
reabsorpsi air. Sekresi ADH akan meningkat pada dehidrasi, sehingga reabsorpsi air
meningkat dan volume urin berkurang. Sekresi ADH berkurang pada banyak minum air,
sehingga reabsorpsi air menurun dan volume air bertambah.

Kesimpulan

Jadi sistem kemih dimulai dari ginjal, ureter, vesica urinaria, dan ke uretra. Ginjal secara
garis besar berfungsi membantu mempertahankan stabilitas lingkungan cairan internal.
Bagian-bagian kemih setelah ginjal hanya berfungsi sebagai saluran untuk mengangkut urine
ke luar. Setelah terbentuk di ginjal, urine tidak mengalami perubahan komposisi atau volume
sewaktu mengalir ke hilir melalui sistem kemih sisanya. Pembesaran prostat yang sering
terjadi pada usia pertengahan sampai lanjut, dapat menyumbat uretra secara parsial atau total
lalu menghambat aliran urine (BAK).

16
Daftar Pustaka

1. Snell Richard S. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Edisi ke-6. Jakarta:
EGC; 2006.
2. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Edisi pertama. Jakarta: EGC;
2013.h.319-21.
3. Faiz O, Moffat D. At a glance anatomi. Jakarta: Erlangga. 2004. h. 45.
4. Pearce E. Anatomi dan fisiologi untuk paramedic. Jakarta: Gramedia Pustaka. 2009.
h. 245.
5. Junqueira L.C, Carneiro J. Histologi dasar. Edisi ke-10. Jakarta: EGC; 2007.
6. Gunawijaya FA, Kartawiguna E. Penuntun praktikum kumpulan foto mikroskopik
histologi. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Universitas Trisaksti; 2009.p.130-4.
7. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Ed 6. Jakarta. EGC, 2011.h. 553-
90.
8. Ganong WF. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC. 2008. h.732-45.

17