Anda di halaman 1dari 14

MINERAL DAN BATUAN

Oleh :
Nama : Muhammad Ilham Naufal
NPM : 10070117098
Kelas :B

FAKULTAS TEKNIK
TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2018 M / 1440 H
Mineral dan Batuan

A. Alumunium
Alumunium merupakan logam putih dengan selingan garis kebiruan yang
pada tabel periodik memiliki simbol Al dengan berat atom yaitu sekitar 26,97.
Aluminium dapat diperoleh dari berbagai jenis bijih terutama bauksit. Aluminium
merupakan unsur yang paling banyak digunakan selain oksigen (O) dan silikon
(Si). Logam aluminium dihasilkan dengan mengekstrak alumina (aluminium oksida
[Al2O3]) dari bijih bauksit dengan menggunakan proses kimia. Alumina kemudian
dimasukan ke dalam larutan elektrolit cair yang mana secara langsung arus listrik
dialirkan kedalamnya yang menyebabkan logam aluminium dapat terlepas dan
terkumpul pada katoda. Aluminium murni dengan kadar 99,99% memiliki berat
jenis 2,70 dan kepadatan sebesar 0,097 lb / in3 (2,685 kg / m3) serta titik leleh
1220°F (jika dikonversikan kedalam Celcius: 660°C). Aluminium memiliki
konduktivitas listrik dan konduktivitas panas sekitar dua pertiga konduktivitas
tembaga. Besar keelastisitas dari logam aluminium sekitar 62.000 MPa. Logam
aluminium tidak memiliki sifat kemagnetan dan dapat memantulkan cahaya
(sangat reflektif). Aluminium sendiri memiliki sistem kristal isometrik dan tergolong
kedalam kelas centeredcubic. Dalam keadaan leburnya, aluminium memiliki
tekstur yang lunak dan getas yang mana aluminium sendiri mudah dingin sehingga
baik untuk digunakan dalam keadaan panas yang berkelanjutan. Salah satu sifat
unik dari aluminium adalah tahan terhadap proses perkaratan (korosi) di berbagai
macam situasi lingkungan. Hal ini dikarenakan adanya lapisan tipis oksida yang
kuat yang dapat melindungi aluminium dari udara dalam artian hal ini dapat
menahan oksigen sehingga tidak melalui proses oksidasi lanjutan. Besi (Fe),
silikon (Si), dan tembaga (Cu) merupakan unsur pengotor utama pada logam
aluminium murni. Dalam aplikasi penggunaannya, aluminium termasuk konduktor
listrik dan konduktor panas, elektroda pada kapasitor, peralatan industri kimia,
sebagai material pembungkus (aluminium foil) serta reflektor yang baik untuk
panas dan cahaya.
Sumber: Chemde
Gambar 1
Logam Aluminium

B. Marmer
Batuan Metamorf ini secara fisik memiliki bentuk yang tumpul di setiap
bagiannya, dengan campuran warna hitam kusam, coklat, Dari segi kenampakan
luarnya, batuan ini memiliki permukaan yang halus padat. Marmer memiliki
komposisi mineral diantaranya kalsit, kalsium, magnesium, dan silikon

Sumber: Geologylearn
Gambar 2
Marble
C. Besi
Besi merupakan salah satu logam yang paling umum dipasaran dan telah
digunakan sejak zaman dahulu sama halnya seperti tembaga. Bijih besi
diantaranya adalah pirit, magnetit, hematit, dan besi karbonat. Untuk
menghasilkan besi, bijih-bijih yang mengandung besi dileburkan untuk membuang
unsur oksigen (O), belerang (S), dan zat pengotor lainnya. Peleburan yang
dilakukan menggunakan tanur tiup yang secara langsung bereaksi dengan bahan
bakar dan dengan batu kapur sebagai pemicu pembakaran. Produk yang
dihasilkan dari proses peleburan ini adalah besi kasar yang membutuhkan
peleburan ulang dan pemurnian yang bertujuan untuk mendapatkan besi murni
yang memiliki nilai komersial. Satu ton bijih besi menghasilkan rata-rata 1.120 lb
(508 kg) besi kasar. Besi dan baja dapat diproduksi dengan metode blast-furnace
dengan menambahkan oksida besi yang dimurnikan dalam pembakaran dengan
suhu hingga 2200 ° F (jika di konvensi kedalam celcius: 1204 ° C), dan rolling hot-
strip. Elverite adalah jenis besi cor arang yang memberikan rasa dingin yang keras
dengan inti besi abu-abu yang lembut. Semua besi komersial kecuali besi ingot
dan besi elektrolitik mengandung jumlah karbon yang jelas, yang dapat
mempengaruhi sifat-sifatnya. Besi yang mengandung lebih dari 0,15% karbon
gabungan secara kimia disebut baja. Ketika karbon meningkat hingga di atas
sekitar 0,40%, logam akan mengeras ketika didinginkan tiba-tiba dari panas
merah. Besi, ketika murni, sangat getas dengan sedikit sulfur. Besi bisa
membentuk karbonat, klorida, oksida, sulfida, dan senyawa lainnya.

Sumber: Wikipedia
Gambar 3
Logam Besi
D. Sabak
Batuan Metamorf ini secara fisik memiliki bentuk yang sedikit menyudut,
dengan campuran warna coklat tua dan selingan warna coklat muda. Dari segi
kenampakan luarnya, memiliki struktur berfoliasi yang mana batuan ini memiliki
permukaan yang halus dengan penyusun yang padat seperti tanah liat padat.
Komposisi mineral dari batuan ini adalah mika dan kuarsa. Batu sabak terbentuk
dengan proses metamorfisme regional (tekanan lebih tinggi dari pada suhu).

Sumber: geophysic
Gambar 4
Sabak

E. Tembaga
Tembaga merupakan salah satu logam yang paling tua di dunia dan telah ada
semenjak zaman prasejarah. Tembaga dapat ditemukan dalam bentuk bijihnya.
Kebanyakan tembaga dapat dipisahkan dari bijihnya dengan mudah dan
merupakan hasil sampingan dari proses pengekstrakan perak dan penambangan
lainnya. Tembaga memiliki struktur kristal isometrik (kubik). Dengan memiliki
warna merah kekuningan, liat dan lunak pada fasa cair padatnya. Dikarenakan
sifat dan susunan kristalnya, permukaan tembaga akan menghasilkan kilau
cemerlang saat dipoles. Tembaga merupakan konduktor listrik terbaik di samping
perak, yaitu sebesar 97% dari perak. Tembaga murni setidaknya mengandung
99,3% dari setiap mineralnya.
Sumber: Wikipedia
Gambar 5
Logam Tembaga

F. Fillit
Batuan Metamorf ini secara fisik memiliki bentuk yang lebar dan tipis,
dengan campuran warna abu tua dan sedikit bercak putih. Dari segi kenampakan
luarnya, batuan ini memiliki permukaan yang berbutir halus dan padat serta
tumpul. Filit memiliki struktur yang berfoliasi. Mineral yang menyusun filit
diantaranya adalah mika dan kuarsa. Filit terbentuk berdasarkan proses
metamorfisme regional.

Sumber: Geophysic
Gambar 6
Batu Filit
G. Perak
Perak merupakan logam yang berwarna putih mengkilap yang pada tabel
periodik memiiki simbol Ag. Sifat fisik perak sangat lentur dan liat saat dalam
bentuk padatan panasnya yang mana perak diklasifikasikan kedalam logam mulia.
Bijih tembaga, timbal, dan seng sering kali mengandung unsur perak yang mana
sekitar 70% dari produksi perak adalah hasil sampingan dari pemurnian logam-
logam ini. Meksiko dan Amerika Serikat merupakan penghasil lebih dari setengah
perak dunia. Kanada, Peru, dan Bolivia juga merupakan produsen penting. Perak
yang dihasilkan rata rata merupakan hasil dari ekstraksi biji tembaga namun,
sebagian besar yang dihasilkan di wilayah lain merupakan hasil sampingan dari
penambangan kuarsa-emas. Perak merupakan logam yang paling putih dari
semua logam yang ada dan membutuhkan proses pemolesan yang tinggi, tetapi
mudah mencemari udara sekitar pemprosesan karena adanya pembentukan
perak sulfida. Perak memiliki tingkat konduktivitas listrik dan panas yang tinggi
diantara logam lainnya. Karena perak adalah logam yang sangat lunak, biasanya
tidak digunakan secara industri dalam keadaan murni, tetapi telah mengalami
pencampuran dan mengeras. Sterling silver adalah nama yang diberikan untuk
paduan bermutu tinggi pada perak yang mengandung setidaknya 92,5% dari
keseluruhan persentase perak yang ada tetapi nama sterling silver hanya
digunakan pada paduan perak-tembaga tertentu. Jenis perak komersial yang ada
adalah perak halus, perak sterling, dan koin perak. Perak murni setidaknya
mengandung 99,9% bagian dan digunakan untuk plating, membuat bahan kimia,
dan untuk digunakan dalam produksi metalurgi serbuk. Koin perak biasanya
merupakan paduan dari 9 bagian perak dan 1 bagian tembaga, tetapi ketika benar-
benar digunakan untuk koin, komposisi dan berat koin akan diatur dan ditetapkan
oleh hukum. Perak dan emas adalah dua logam yang memenuhi semua
persyaratan untuk digunakan dalam pembuatan koin. Koin yang terbuat dari logam
lain bukanlah koin asli.
Sumber: Mastah.org
Gambar 7
Logam Perak

H. Batu Pasir
Batuan sedimen ini secara fisik memiliki bentuk bongkah besar dengan
campuran warna putih kekuningan, cream serta abu-abu. Dari segi kenampakan
luarnya, batuan ini memiliki permukaan yang kasar berbercak putih. Batu pasir
memiliki ukuran butir antara 1/8-1/4 mm yang memiliki bentuk membundar. Batu
pasir memiliki bentuk yang kompak yang mana batu pasir tidak bereaksi terhadap
HCl. Batu pasir terbentuk secara mekanik yang mana berjenis klastik.

Sumber: Tambangunp
Gambar 8
Batu Pasir
I. Nikel
Nikel merupakan sebuah logam yang memiliki warna putih keperakan
seperti halnya perak dan disimbolkan didalam tabel periodik dengan simbol Ni.
Nikel pertama kali dikenalkan pada tahun 1751, namun telah digunakan dalam
bentuk paduan dengan tembaga sejak zaman perunggu. Nikel memiliki berat jenis
sebesar 8.902 dengan densitas sebesar 0,322 lb / in3 (8,913 kg /m3). Nikel memiliki
sifat magnetis sehingga dapat ditarik oleh magnet dengan mudah. Nikel dapat
bertahan pada suhu maksimal hingga 680°F ( jika dikonversikan kedalam celcius:
360°C). Konduktivitas listrik yang dimiliki oleh nikel adalah 25% dari besar total
konduktivitas tembaga. Logam ini sangat tahan terhadap korosi yang diakibatkan
oleh adanya perubahan atmosfer dan tahan terhadap asam (pH < 7), meskipun
diserang oleh asam pengoksidasi, seperti nitrat.
Bijih sulfida dan bijih oksida merupakan sumber utama penghasil nikel.
penggunaan utamanya adalah sebagai elemen paduan pada baja tahan karat,
baja paduan, dan logam non-besi. Nikel-kadmium dan hidrida logam nikel dapat
dijadikan menjadi bahan baterai. Secara tradisional nikel dapat diperoleh dengan
proses peleburan bijih utama. Nikel dapat diperoleh juga dengan melakukan
pencucian tekanan asam. Kekuatan hasil tarik dari lembaran Nikel 200 dalam
temperamen keras, misalnya, adalah 3 hingga 4 kali lebih besar dari lembaran anil.
Annealed Nickel 200 to Nickel 201 mempertahankan dasarnya semua kekuatan
suhu ruangannya hingga suhu setinggi 600 ° F (316 ° C).

Sumber: Wikipedia
Gambar 9
Nikel
J. Amfibolit
Batuan Metamorf ini secara fisik memiliki bentuk yang kompak disertai
mineral yang terlihat di permukaannya, dengan campuran warna abu abu
keputihan. Dari segi kenampakan luarnya, batuan ini memiliki permukaan yang
sedikit menyisakan mineral serta massa dasar abu keputihan sebagai bahan
penyusunnya. Komposisi mineral pada amfibolit diantaranya adalah hornblenda,
plagioklas, dan kuarsa. Amfibolit dapat terbentuk melalui proses metamorfisme
termal.

Sumber: Wikipedia
Gambar 10
Amfibolit

K. Sekis Klorit
Batuan Metamorf ini secara fisik memiliki bentuk seperti batuan beku
dengan beberapa mineral pada permukaannya. Dari segi kenampakan luarnya,
batuan ini memiliki permukaan yang sedikit memantulkan cahaya karena adanya
mineral penyusunnya. Sekis memiliki komposisi mineral diantaranya klorit,
plagioklas, dan epidot. Sekis klorit terbentuk melalui proses metamorfisme dinamo.
Sumber: Geonesia
Gambar 11
Sekis

L. Basalt
Batuan beku ini secara fisik memiliki warna campuran antara hitam dan
sedikit putih. Dari segi kenampakan luarnya, batuan ini memiliki permukaan yang
halus ketika di raba, tanpa meninggalkan bekas debu di tangan. Basalt tergolong
kedalam Afanitik. Batuan ini memiliki komposisi mineral yang dominan yaitu
mineral mafic. Basalt terbentuk secara ekstrusif yang mana tergolong kedalam
batuan basa.

Sumber: Geology.com
Gambar 12
Basalt
M. Tufa
Batuan piroklastik ini secara fisik memiliki warna campuran antara putih
susu dan abu kusam. Dari segi kenampakan luarnya, batuan ini memiliki
permukaan yang halus, dengan meninggalkan bekas debu di tangan. Tufa
memiliki ukuran butir < 2 mm dengan bentuk yang membundar. Secara
kompaksitasi, tufa tergolong batuan yang kompak. Tufa terbentuk melalui proses
fall deposit yang termasuk kedalam jenis batuan piroklastik.

Sumber: Geocaching
Gambar 13
Tufa

N. Lempung
Batuan sedimen ini secara fisik memiliki bentuk memanjang dengan ujung-
ujung yang berbentuk setengah lingkaran, dengan campuran warna hitam kusam
dan abu-abu. Dari segi kenampakan luarnya, batuan ini memiliki permukaan yang
halus padat. Lempung memiliki ukuran <256 mm yang berbentuk membulat. Batu
lempung tergolong kedalam batuan yang kompak karena proses pembentukannya
yang mekanik. Lempung termasuk kedalam jenis batuan klastik.
Sumber: Geology.com
Gambar 14
Lempung

O. Konglomerat
Batuan sedimen ini secara fisik memiliki bentuk membulat, dengan
campuran warna hijau tua dan sedikit campuran abu-abu. Dari segi kenampakan
luarnya, batuan ini memiliki permukaan berfragmen dengan warna yang
bermacam-macam. Konglomerat memiliki ukuran butir krakal (4-64 mm) dengan
bentuk butir yang membundar tanggung. Konglomerat termasuk jenis batuan
klastik yang terbentuk dengan cara mekanik. Batu ini jika direaksikan dengan HCl,
tidak memberikan reaksi. Secara kekompakan batuan, konglomerat merupakan
batuan yang kompak.

Sumber: Wikimedia
Gambar 15
Konglomerat
DAFTAR PUSTAKA

1. George S, Brady, Henry R. Clauser, John A. Vaccari. 2004. Materials


Handbook 15th edition. The McGraw-Hill Companies.

2. Sukandamumidi, Herry, R, Maulana. 2014. Geologi Umum. Yogyakarta:


Gadjah Mada University Press.

3. Perkins, Dexter. 2002. Mineralogy 2nd edition. Prentice Hall, New Jersey,
483 p. Bloss, D.D., 2002