Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan
persepsi.Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau
mendengung, tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun
dalam bentuk kalimat yang agak sempurna. Biasanya kalimat tadi
membicarakan mengenai keadaan pasien sedih atau yang dialamatkan
pada pasien itu. Akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengan suara
halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap dalam mendengar
atau bicara keras-keras seperti bila ia menjawab pertanyaan seseorang atau
bibirnya bergerak-gerak. Kadang-kadang pasien menganggap halusinasi
datang dari setiap tubuh atau diluar tubuhnya. Halusinasi ini kadang-
kadang menyenangkan misalnya bersifat tiduran, ancaman dan lain-lain.
Menurut May Durant Thomas (1991) halusinasi secara umum
dapat ditemukan pada pasien gangguan jiwa seperti : Skizoprenia, Depresi,
Delirium dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alcohol dan
substansi lingkungan. Berdasarkan hasil pengkajian pada pasien dirumah
sakit jiwa Medan ditemukan85% pasien dengan kasus halusinasi.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep halusinasi pada pasien dengan gangguan jiwa
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien gangguan jiwa dengan
halusinasi

1
C. Tujuan Pembuatan Makalah
1. Tujuan Umum :
Penulis menyusun makalah ini untuk mendukung kegiatan belajar
mengajar jurusan keperawatan khususnya di mata kuliah keperawatan Jiwa
dengan bahan ajar asuhan keperawatan pada klien Halusinasi.
2. Tujuan Khusus :
Untuk mengetahui konsep dasar dari Halusinasi seperti :
a. Definisi
b. Jenis halusinasi
c. Etiologi
d. Manifestasi klinis
e. Tahap tahap halusinasi
f. Komplikasi
g. Penatalaksanaan
h. Masalah keperawatan
i. Asuhan keperawatan

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Halusinasi adalah gangguan persepsi sensori dari suatu objek tanpa
adanya rangsangan dari luar, gangguan persepsi sensorik ini meliputi
seluruh panca indra. Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan
jiwa yang pasien mengalami perubahan sensori persepsi, serta merasakan
sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan, atau
penciuman. Pasien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada.
Halusinasi adalah penginderaan tanpa rangsangan eksternal yang
berhubungan dengan salah satu jenis indera tertentu yang khas. (Kaplan
dan Saddock, 1998). Halusinasi adalah gangguan penyerapan (persepsi)
panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua
sistem panca indera di mana terjadi pada saat kesadaran individu itu
penuh/baik.

B. JENIS HALUSINASI
1. Halusinasi non patologis
Menurut NAMI (National Alliance for Mentally Ill). Halusinasi dapat
terjadi pada seseorang yang bukan penderita gangguan jiwa, pada
umumnya terjadi pada klien yang mengalami stress yang berlebihan
atau kelelahan bisa juga karena pengaruh obat-obatan (halosinogenik)
halusinasi ini antara lain:
Halusinasi hipnogonik : persepsi sensori yang palsu yang terjadi sesaat
sebelum seseorang jatuh tertidur.
Halusinasi hipnopomik : persepsi sensori yang palsu yang terjadi
pada saat seseorang terjatuh bangun.
2. Halusinasi patologis
a. Halusinasi pendengaran (Auditory)
Klien mendengar suara dan bunyi yang tidak berbeda dengan
stimulus nyata dan orang lain tidak mendengarnya.

3
b. Halusinasi penglihatan (Visual)
Klien melihat gambar yang jelas atau samar-samar tanpa stimulus
yang nyata dan orang lain tidak melihatnya.
c. Halusinasi penciuman (Olfactory)
Klien mencium bau yang muncul dari sumber tertentu tanpa
stimulus yang nyata dan orang lain tidak menciumnya.
d. Halusinasi pengecap (Gustatory)
Klien merasa makan sesuatu yang tidak nyata, biasanya merasakan
makanan yang tidak enak.
e. Halusinasi peradaban (Taktil)
Klien merasakan sesuatu pada kulitnya tanpa stimulus yang nyata.

C. ETIOLOGI
 Menurut Rawlin, et all, (1998) etiologi halusinasi dilihat dari 5 (lima)
dimensi yaitu:
1. Dimensi fisik
Halusinasi dapat meliputi kelima indera, tapi yang paling sering
ditemukan adalah halusinasi pendengaran, halusinasi dapat
ditimbulkan dari beberapa kondisi seperti kelelahan yang luar biasa,
penggunaan obat-obatan sehingga terjadi delirium intoksikasi, alkohol
dan kesulitan untuk tidur dalam jangka waktu yang lama.
2. Dimensi intelektual
Halusinasi terjadi sebagai usaha untuk merubah realita yang ada, yang
bertujuan untuk melindungi integritas dirinya dan adanya fungsi ego
untuk mengadakan kontak yang realita.
3. Dimensi emosional
Terjadinya halusinasi karena adanya perasaaan cemas yang berlebihan
yang tidak dapat diatasi dan sebagai hal yang menakutkan sehingga
menyebabkan klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan,
4. Dimensi social
Halusinasi dapat terjadi disebabkan oleh hubungan interpersonal yang
tidak memuaskan sehingga koping yang digunakan untuk menurunkan

4
kecemasan akibat hilangnya control terhadap diri, harga diri maupun
interaksi social dalam dunia nyata, sehingga klien cenderung menarik
diri dan hanya tertuju pada dirinya sendiri.
5. Dimensi spiritual
Klien yang mengalami halusinasi yang merupakan makhluk social,
mengalami ketidak harmonisan berinteraksi, penurunan kemampuan
untuk menghadapi stress dan kecemasan serta menurunnya kualitas
untuk menghadapi keadaan sekitarnya. Akibatnya saat halusinasi
menguasai dirinya, klien akan kehilangan control terhadap
kehidupannya.

 Menurut Stuart dan Sudden, 1998, terjadinya halusinasi dapat


disebabkan sebagai berikut:
1. Teori psikoanalisa
Halusinasi merupakan pertahanan ego untuk melawan rangasangan
dari luar yang mengancam, ditekan untuk muncul dalam alam sadar.
2. Teori biokimia
Halusinasi terjadi karena respon metabolisme terhadap stress yang
mengakibatkan terlepasnya zat halusinogenik neuro kimia cepat
bufatamin dan dimetyl tramsferasia.

D. MANIFESTASI KLINIK

Tahap I
1. Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai
2. Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara
3. Gerakan mata yang cepat
4. Respon verbal yang lambat
5. Diam dan dipenuhi sesuatu yang mengasyikkan

Tahap II
1. Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas misalnya
peningkatan nadi, pernafasan dan tekanan darah

5
2. Penyempitan kemampuan konsenstrasi
3. Dipenuhi dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan
kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dengan realitas.

Tahap III
1. Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya
daripada menolaknya
2. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain
3. Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik
4. Gejala fisik dari ansietas berat seperti berkeringat,
tremor,ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk

Tahap IV
1. Prilaku menyerang teror seperti panic
2. Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain
3. Kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk,
agitasi,menarik diri atau katatonik
4. Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks
5. Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang

E. TAHAP-TAHAP HALUSINASI
Menurut kusumawati, farida , 2011
1. Fase pertama disebut juga fase comforting yaitu fase menyenangkan.
Pada tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik. Karakteristik: klien
mengalami stres, cemas, perasaan perpisaan, rasa bersalah, kesepian
yang memuncak, dan yang tidak dapat diselesaikan. Klien mulai
melamun dan memikirkan hal-hal yang menyenangkan, cara ini hanya
menolong sementara. Perilaku klien : tersenyum atau tertawa yang
tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat,
respon ferbal yang lambat jika sedang asik dengan halusinasinya dan
suka menyendiri.
2. Fase kedua disebut juga dengan fase condemning atau ansietas berat
yaitu halusinasi menjadi menjijikkan. Termasuk kedalam psikotik

6
ringan. Karakteristik : pengalaman sensori menjijikkan dan
menakutkan, kecemasan meningkat, melamun, dan berpikir sendiri jadi
dominan. Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas. Klien tidak
ingin orang lain tahu, dan ia tetap dapat mengiontrolnya. Perilaku klien
: meningkatnya tanda-tanda system saraf otonom seperti peningkatan
denyut jantung dan tekanan darah. Klien asik dengan halusinasinya
dan tidak bisa membedakan realitas.
3. Fase ketiga adalah fase controlling atau ansietas berat yaitu
pengalaman sensori menjadi berkuasa. Termasuk dalam gangguan
psikotik. Karakteristik : bisikan, suara, isi halusinasi, semakin
meninjol, menguasai dan mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan
tidak berdaya terhadap halusinasinya. Perilaku klien : kemauan
dikendalikan halusinasi, rentang perhatian hanya beberapa menit atau
detik. Tanda-tanda fisik berupa klien berkeringat, tremor, dan tidak
mampu mematuhi perintah.
4. Fase ke empat adalah fase conquering atau panic yaitu klien lebur
dengan halusinasinya. Termasuk dalam psikotik berat. Karakteristik:
halusinasinya berubah menjadi mengancam, memerintah, dan
memarahi klien. Klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang control dan
tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di lingkungan.
Perilaku klien : perilaku terror akibat panic, potensi bunuh diri,
perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri atau katatonik, tidak mampu
merespon terhadap perintah kompleks dan tidak mampu berespon lebih
dari satu orang.

F. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien halusinasi resiko menciderai
diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :
1. Menciptakan lingkungan yang terapeutik

7
Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien
akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan
secara individual dan usahakan agar terjadi knntak mata, kalau bisa
pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara
fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati
pasien, bicaralah dengan pasien. Begitu juga bila akan
meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu
tindakan yang akan di lakukan.
2. Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang
perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas,
misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan
permainan.
3. Melaksanakan program terapi dokter
Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan
rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara
persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di
berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.
4. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang
ada
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat
menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya
halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan
data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain
yang dekat dengan pasien.
5. Memberi aktivitas pada pasien
Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik,
misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini
dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan
memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun
jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai.
6. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan

8
Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data
pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses
keperawatan, misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui bila
sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi
bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas.
Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan
menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada.
Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan
petugaslain agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di
berikan tidak bertentangan.

H. MASALAH KEPERAWATAN
1. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan b.d
halusinasi
2. Perubahan persepsi sensor halusinasi b.d menarik diri

I. ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pada tahap ini perawat menggali faktor-faktor yang ada dibawah ini
yaitu :
1. Faktor predisposisi.
Adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber
yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress.
Diperoleh baik dari pasien maupun keluarganya, mengenai factor
perkembangan sosial kultural, biokimia, psikologis dan genetik
yaitu factor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber
yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress.
2. Faktor Perkembangan
Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan
interpersonal terganggu maka individu akan mengalami stress dan
kecemasan.

9
3. Faktor Sosiokultural
Berbagai faktor dimasyarakat dapat menyebabkan seorang merasa
disingkirkan oleh kesepian terhadap lingkungan tempat klien di
besarkan.
4. Faktor Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Dengan
adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka didalam
tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik
neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytranferase (DMP).
5. Faktor Psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis serta adanya peran
ganda yang bertentangan dan sering diterima oleh anak akan
mengakibatkan stress dan kecemasan yang tinggi dan berakhir
dengan gangguan orientasi realitas.
6. Faktor genetik
Gen apa yang berpengaruh dalam skizoprenia belum diketahui,
tetapi hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga
menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit
ini.
7. Faktor Presipitasi
Yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan,
ancaman / tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk koping.
Adanya rangsang lingkungan yang sering yaitu seperti partisipasi
klien dalam kelompok, terlalu lama diajak komunikasi, objek yang
ada dilingkungan juga suasana sepi / isolasi adalah sering sebagai
pencetus terjadinya halusinasi karena hal tersebut dapat
meningkatkan stress dan kecemasan yang merangsang tubuh
mengeluarkan zat halusinogenik.
8. Perilaku
Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan,
perasaan tidak aman, gelisah dan bingung, prilaku merusak diri,
kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak

10
dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata. Menurut
Rawlins dan Heacock, 1993 mencoba memecahkan masalah
halusinasi berlandaskan atas hakekat keberadaan seorang individu
sebagai mahkluk yang dibangun atas dasar unsur-unsur bio-psiko-
sosio-spiritual sehingga halusinasi dapat dilihat dari dimensi yaitu :
 Dimensi Fisik
Manusia dibangun oleh sistem indera untuk menanggapi
rangsang eksternal yang diberikan oleh lingkungannya.
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik
seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan,
demam hingga delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan
untuk tidur dalam waktu yang lama.

 Dimensi Emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak
dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi
dari halusinasi dapat berupa perintah memaksa dan
menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah
tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu
terhadap ketakutan tersebut.

 Dimensi Intelektual
Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu
dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan
fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha dari ego
sendiri untuk melawan impuls yang menekan, namun
merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang
dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan
mengontrol semua prilaku klien.

 Dimensi Sosial
Dimensi sosial pada individu dengan halusinasi menunjukkan
adanya kecenderungan untuk menyendiri. Individu asyik

11
dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk
memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol diri dan
harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi
halusinasi dijadikan sistem control oleh individu tersebut,
sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman, dirinya atau
orang lain individu cenderung untuk itu. Oleh karena itu, aspek
penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan klien
dengan mengupayakan suatu proses interaksi yang
menimbulkan pengalaman interpersonal yang memuaskan,
serta mengusakan klien tidak menyendiri sehingga klien selalu
berinteraksi dengan lingkungannya dan halusinasi tidak
berlangsung.

 Dimensi Spiritual
Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial, sehingga
interaksi dengan manusia lainnya merupakan kebutuhan yang
mendasar. Pada individu tersebut cenderung menyendiri
hingga proses diatas tidak terjadi, individu tidak sadar dengan
keberadaannya dan halusinasi menjadi sistem kontrol dalam
individu tersebut. Saat halusinasi menguasai dirinya individu
kehilangan kontrol kehidupan dirinya.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan b.d
halusinasi
2. Perubahan persepsi sensor halusinasi b.d menarik diri

C. RENCANA INTERVENSI
Tindakan keperawatan untuk pasien
1. Tujuan tindakan untuk pasien meliputihal berikut
a. Pasien mengenali halusinasi yang dialaminya
b. Pasien dapat mengontrol halusinasinya
c. Pasien mengikuti program pengobatan secara optimal

12
2. Tindakan keperawatan
a. Membantu pasien mengenali halusinasi dengan cara berdiskusi
dengan pasien tentang isi halusinasi (apa yang
didengar/dilihat), waktu terjadi halusinasi, frekuensi terjadi
halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul dan
respon pasien saat halusinasi muncul
b. Melatih pasien mengontrol halusinasi. Untuk membantu pasien
agar mampu mengontrol halusinasi, anda dapat melatih pasien
4 cara yang sudah terbukti dapat mengendalikan halusinasi,
yaitu sebagai berikut.
1) Menghardik halusinasi
2) Bercakap cakap dengan orang lain
3) Melakukan aktifitas yang terjadwal
4) Menggunakan obat secara teratur

Tindakan keperawatan untuk keluarga


1. Tujuan
a. Keluarga dapat terlibat dalam perawatan pasien baik
dirumah sakit maupun di rumah.
b. Keluarga dapat menjadi system pendukung yang efektif
untuk pasien.
2. Tindakan keperawatan
a. Diskusi masalah yang di hadaapi keluarga dalam merawat
pasien.
b. Berikan pendidikan kesehatan tentang pengertian
halusinasi,jenis halusinasi yang dialami pasien,tanda dan
gejala halusinasi ,proses terjadinya halusinasi,serta cara
merawat pasien halusinasi.
c. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan
cara merawat pasien halusinasi langsung di hadapan pasien.
d. Buat perencanaan pulang dengan keluarga.

13
D. EVALUASI
Evaluasi keberhasilan tindakan keperawatan yang sudah anda lakukan
untuk pasien halusinasi adalah sebagai berikut.
1. Pasien mempercayai kepada perawat
2. Pasien menyadari bahwa yang dialami nya tidak ada objeknya dan
merupakan masalah yang di atasi
3. Pasien dapat mengontrol halusinasi
4. Keluarga mampu merawat pasien di rumah,ditandai dengan hal
berikut:
a. Keluarga mampu menjelaskan masalah halusinasi yang dialami
oleh pasien.
b. Keluarga mampu menjelaskan cara merawat pasien dirumah.
c. Keluarga mampu memperagakan cara bersikap terhadap
pasien.
d. Keluarga mampu menjelaskan fasilitas kesehatan yang dapat di
gunakan untuk mengatasi masalah pasien.
e. Keluarga melaporkan keberhasilannya merawat pasien.

14
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Halusinasi adalah terganggunya persepsi sensori seseorang dimana tidak
terdapat stimulus. Perhatikan apakah termasuk ke dalam tipe halusinasi
pengelihatan (optik), halusinasi pendengaran (akustik), halusinasi
pengecap (gustatorik), halusinasi peraba (taktil), halusinasi penciuman
(olfaktori), halusinasi gerak (kinestetik), halusinasi histerik, halusinasi
hipnogogik, ataukah halusinasi viseral.
Sedangkan seseorang yang mengalami gangguan persepsi halusinasi akan
mengalami fase-fase berikut:
1. Sleep disorder (fase awal seseorang sebelum muncul halusinasi)
2. Comforting moderate level of anxiety (halusinasi secara umum ia
terima sebagai sesuatu yang alami)
3. Condemning severe level of anxiety (secara umum halusinasi sering
mendatangi klien)
4. Controlling severe level of anxiety (fungsi sensori menjadi tidak
relefan dengan kenyataan)
5. Conquering panic level of anxiety (klien mengalami gangguan dalam
menilai)
Adapun Faktor-faktor penyebab halusinasi:
a. Faktor predisposisi (Faktor perkembangan, Faktor sosiokultural,
Faktor biokimia, Faktor psikologis, serta Faktor genetic dan pola
asuh)
b. Faktor Presipitasi (Dimensi fisik, Dimensi emosional, Dimensi
intelektual, Dimensi sosial, Dimensi spiritual)
Seseorang dapat dikatakan mengalami gangguan presepsi halusinasi
ketika muncul tanda gejala halusinasi seperti : Bicara atau tertawa sendiri,
Marah-marah tanpa sebab, Ketakutan kepada sesuatu yang tidak jelas,
Menghidu seperti sedang membaui bau-bauan tertentu, Sering meludah
atau muntah, Mengaruk-ngaruk permukaan kulit seperti ada serangga di

15
permukaan kulit. Sehingga didapatkan diagnosa sebagai berikut: isolasi
social, resti pk, gangguan persepsi halusinasi, harga diri rendah kronis,
percobaan bunuh diri karena rasa bersalah.

B. SARAN
Diharapkan kepada para pembaca, jika menjumpai seseorang yang
mengalami gangguan persepsi halusinasi agar memberikan perhatian dan
perawatan yang tepat kepada penderita sehingga keberadaannya dapat
diterima oleh masyarakat seperti sediakala.

16
DAFTAR PUSTAKA

http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=8211

 https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3
&cad=rja&uact=8&ved=0CC8QFjAC&url=http%3A%2F%2Flibrary.usu.
ac.id%2Fdownload%2Ffk%2Fkeperawatan
 http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=1249
 http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id/download.php?id=551
 https://www.scribd.com/doc/132059200/Makalah-Tutorial-Jiwa-
Halusinasi

17
18