Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT TERPADU

POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA 2018


pada Keluarga Ny Rubiyem di Dusun Kronggahan
RT 05/RW 10, Trihanggo, Gamping
Kabupaten Sleman

Oleh:
Tiara Valentina (D4 Kebidanan)

POLTEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN


YOGYAKARTA
2018
ii
iii
ABSTRAK
Landasan hukum untuk pembangunan kesehatan terdapat pada UUD 1945
Pasal 28 H ayat 1 dan UU Nomer 23 Tahun 1992 . Sementara itu UU Nomer 23
Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak, sedangkan UU Nomer 32 tahun 2004
tentang Pemerintah Daerah dan UU Nomer 33 tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Salah satu sasarannya adalah
menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi setinggi-tingginya 20%(termasuk
penurunan prevalensi gizi buruk menjadi 5%) pada tahun 2009. Gizi kurang
adalah suatu istilah teknis yangumumnya dipakai oleh kalangan gizi, kesehatan
dan kedokteran. Gizi kurang adalah proses kurang makan yang terjadi pada balita
ketika kebutuhan normal terhadap satu atau beberapa nutrien tidak terpenuhi atau
hilang dengan jumlah yang lebih beardaripada yang didapat. Anak balita sehat
atau kurang gizi secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkanantara
berat badan menurut umurnya (BB/U), dengan rujukan (standar) yang telah
ditetapkan.

Kata Kunci : Gizi Kurang, Angka Z-Score, Keluarga

iv
v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap manusia pasti mengalami proses pertumbuhan dan


perkembangan dari bayi sampai menjadi tua. Masa tua merupakan masa
hidup manusia yang terakhir, dimana pada masa ini seseorang mengalami
kemunduran fisik, mental dan sosial sedikit demi sedikit sehingga tidak
dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi. Lansia banyak menghadapi
berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan
terintegrasi.

Lansia atau lanjut usia adalah periode dimana manusia telah mencapai
kemasakan dalam ukuran dan fungsi. Selain itu lansia juga masa dimana
seseorang akan mengalami kemunduran dengan sejalannya waktu. Ada
beberapa pendapat mengenai usia seseorang dianggap memasuki masa
lansia, yaitu ada yang menetapkan pada umur 60 tahun, 65 tahun, dan ada
juga yang 70 tahun. Tetapi Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan
bahwa umur 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan seseorang telah
mengalami proses menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang itu
telah disebut lansia.Secara umum orang lanjut usia dalam meniti
kehidupannya dapat dikategorikan dalam dua macam sikap. Pertama, masa
tua akan diterima dengan wajar melalui kesadaran yang mendalam,
sedangkan yang kedua, manusia usia lanjut dalam menyikapi hidupnya
cenderung menolak datangnya masa tua, kelompok ini tidak mau
menerima realitas yang ada (Hurlock, 1996 : 439).

B. Rumusan Masalah

Bagaimana intervensi psikologi pada keluarga Ny sufiah ?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

1
Setelah dilaksanakan penyuluhan kesehatan tentang psikologi lansia
pada lansia dan pemeriksaan fisik pada lansia, diharapkan dapat
meningkatkan derajat kesehatan dan mutu pelayanan usia lanjut
sebagai bagian proses deteksi dini dan peningkatan kesehatan serta
pencegahan penyakit lansia .

2. Tujuan Khusus

a. Mampu menguasai konsep dasar pengertian psikologi lansia.


b. Mampu melakukan pengkajian, menganalisa, menentukan
diagnose masalah psikologi, dan membuat intervensi pada bidang
psikologi.
c. Mampu memberikan tindakan di bidang psikologi yang diharapkan
dapat mengurangi/ mengatasi masalah psikologi pada kasus
psikologi lansia.

2
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Lansia

Penuaan (menjadi tua=aging) adalah suatu proses menghilangnya


secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau
mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya,
sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan
memperbaiki kerusakan yang diderita. Definisi lain menyatakan bahwa
penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari, berjalan
terus-menerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan menyebabkan
perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia pada tubuh, sehingga akan
memengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan (Basuki,
2008).

Lanjut Usia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan


bagian dari proses kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan dialami
oleh setiap individu. Pada tahap ini individu mengalami banyak perubahan
baik secara fisik maupun mental, khususnya kemunduran dalam berbagai
fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya. Perubahan penampilan
fisik sebagian dari proses penuan normal, seperti rambut yang mulai
memutih, kerut-kerut ketuaan di wajah, berkurangnya ketajaman panca
indera, serta kemunduran daya tahan tubuh, merupakan acaman bagi
integritas orang usia lanjut. Belum lagi mereka harus berhadapan dengan
kehilangan-kehilangan peran diri, kedudukan sosial, serta perpisahan
dengan orang-orang yang dicintai. Semua hal tersebut menuntut
kemampuan beradaptasi yang cukup besar untuk dapat menyikapi secara
bijak (Soejono, 2000).

3
B. Ciri – ciri lansia

Menurut Hurlock (Hurlock, 1980, h.380) terdapat beberapa ciri-ciri orang


lanjut usia, yaitu :

1. Kemunduran pada lansia sebagian datang dari faktor fisik dan faktor
psikologis. Kemunduran dapat berdampak pada psikologis lansia. Motivasi
memiliki peran yang penting dalam kemunduran pada lansia. Kemunduran
pada lansia semakin cepat apabila memiliki motivasi yang rendah, sebaliknya
jika memiliki motivasi yang kuat maka kemunduran itu akan lama terjadi.

2. Lansia memiliki status kelompok minoritas karena sebagai akibat dari sikap
sosial yang tidak menyenangkan terhadap orang lanjut usia dan diperkuat
oleh pendapat-pendapat klise yang jelek terhadap lansia. Pendapat-pendapat
klise itu seperti : lansia lebih senang mempertahankan pendapatnya daripada
mendengarkan pendapat orang lain.

3. Perubahan peran tersebut dilakukan karena lansia mulai mengalami


kemunduran dalam segala hal. Perubahan peran pada lansia sebaiknya
dilakukan atas dasar keinginan sendiri bukan atas dasar tekanan dari
lingkungan.
Perlakuan yang buruk terhadap orang lanjut usia membuat lansia cenderung
mengembangkan konsep diri yang buruk. Lansia lebih memperlihatkan
bentuk perilaku yang buruk. Karena perlakuan yang buruk itu membuat
penyesuaian diri lansia menjadi buruk.

C. Perkembangan lansia

Usia lanjut merupakan usia yang mendekati akhir siklus kehidupan manusia
di dunia. Usia tahap ini dimulai dari 60 tahunan sampai akhir kehidupan. Usia
lanjut merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Semua orang akan
mengalami proses menjadi tua, dan masa tua merupakan masa hidup manusia
yang terakhir, dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik,

4
mental dan sosial sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat melakukan
tugasnya sehari-hari lagi. Tahap usia lanjut adalah tahap di mana terjadi
penuaan dan penurunan, yang penururnanya lebih jelas dan lebih dapat
diperhatikan dari pada tahap usia baya. Penuaan merupakan perubahan
kumulatif pada makhluk hidup, termasuk tubuh, jaringan dan sel, yang
mengalami penurunan kapasitas fungsional. Pada manusia , penuaan
dihubungkan dengan perubahan degenerative pada kulit, tulang jantung,
pembuluh darah, paru-paru, saraf dan jaringan tubuh lainya. Dengan
kemampuan regeneratife yang terbatas, mereka lebih rentan terhadap berbagai
penyakit, sindroma dan kesakitan dibandingkan dengan orang dewasa lain.
Untuk menjelaskan penurunan pada tahap ini, teradapat berbagai perbedaan
teori, namun para pada umumnya sepakat bahwa proses ini lebih banyak
ditemukan oleh faktor gen. Penelitian telah menemukan bahwa tingkat sel,
umur sel manusia ditentukan oleh DNA yang disebut telomere, yang
beralokasi pada ujung kromosom. Ketentuan dan kematian sel terpicu ketika
telomere berkurang ukuranya pada ujung kritis tertentu.

D. Perubahan yang terjadi pada lansia

Pada lansia terjadi banyak perubahan dalam dirinya, hal ini bisa disebut
perkembangan atau perubahan yang terjadi pada lansia, diantaranya yaitu :

1. Perkembangan jasmani
Penuaan terbagi atas penuaan primer ( primary aging) dan penuaan sekunder
(secondary aging). Pada penuaan primer tubuh mulai melemah dan
mengalami penurunan alamiah. Sedangkan pada proses penuaan sekunder,
terjadi proses penuaan karena faktor-faktor eksteren, seperti lingkungan
ataupun perilaku. Berbagai paparan lingkungan dapat dapat mempengaruhi
proses penuaan, misalnya cahaya ultraviolet serta gas karbindioksida yang
dapat menimbulkan katarak, ataupun suara yang sangat keras seperti pada
stasiun kereta api sehingga dapat menimbulkan berkurangnya kepekaan
pendengaran. Selain hal yang telah disebutkan di atas perilaku yang kurang
sehat juga dapat mempengaruhi cepatnya proses penuaan, seperti merokok
yang dapat mengurangi fungsi organ pernapasan.

5
Penuaan membuat sesorang mengalami perubahan postur tubuh. Kepadatan
tulang dapat berkurang, tulang belakang dapat memadat sehingga membuat
tulang punggung menjadi telihat pendaek atau melengkung. Perubahan ini
dapat mengakibatkan kerapuhan tulang sehingga terjadi osteoporosis, dan
masalah ini merupakan hal yang sering dihadapi oleh para lansia.
Penuaan yang terlihat pada kulit di seluruh tubuh lansia, kulit menjadi
semakin menebal dan kendur atau semakin banyak keriput yang terjadi.
Rambut yang menjadi putih juga merupakan salah satu cirri-ciri yang
menandai proses penuaan. Kulit yang menua menjadi menebal, lebih terlihat
pucat dan kurang bersinar. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam lapisan
konektif ini dapat mengurangi kekuatan dan elasitas kulit, sehingga para
lansia ini menjadi lebih rentan untuk terjadinya pendarahan di bawah kulit
yang mengakibatkan kulit mejadi tampak biru dan memar. Pada penuaan
kelenjar ini mengakibatkan kelenjar kulit mengasilkan minyak yang lebih
sedikit sehingga menyebabkan kulit kehilangan kelembabanya dan mejadikan
kulit kering dan gatal-gatal. Dengan berkurangnya lapisan lemak ini resiko
yang dihadapi oleh lansia menjadi lebih rentan untuk mengalami cedera kulit.
Penuaan juga mengubah sistim saraf. Masa sel saraf berkurang yang
menyebabkan atropy pada otak spinal cord. Jumlah sel berkurang, dan
masing-masing sel memiliki lebih sedikit cabang. Perubahan ini dapat
memperlambat kecepatan transmisi pesan menuju otak. Setelah saraf
membawa pesan, dibutuhkan waktu singkat untuk beristirahat sehingga tiidak
dimungkinkan lagi mentrasmisikan pesan yang lain. Selain itu juga terdapat
penumpukan produksi buangan dari sel saraf yang mengalami atropy pada
lapisan otak yang menyebabkan lapisan plak atau noda.
Orang lanjut usia juga memiliki berbagai resio pada sitem saraf, mislanya
berbagai jenis infeksi yang diderita oleh seorang lansia juga dapat
mempengaruhi proses berfikir ataupun perilaku. Penyebab lain yang
menyebabkan kesulitan sesaat dalam proses berfikir dan perilaku adalah
gangguan regulasi glukosa dan metabolisme lansia yang mengidap diabetes.
Fluktuasi tingkat glukosa dapat menebabkan gangguan berfikr. Perubahan

6
signifikan dalam ingatan, berfikir atau perilakuan dapat mempengaruhi gaya
hidup seorang lansia. Ketika terjadi degenerasi saraf, alat-alat indra dapat
terpengaruh. Refleks dapat berkurang atau hilang.
Alat-alat indra persebtual juga mengalami penuaan sejalan dengan perjalanan
usia. Alat-alat indra menjadi kuranng tajam, dan orang dapat mengalami
kesulitan dalam membedakan sesuatu yang lebih detail, misalnya ketika
seorang lansia di suruh untuk membaca koran maka orang ini akan
mengalami kesulitan untuk membacanya, sehingga dibutuhkan alat bantu
untuk membaca berupa kacamata. Perubahan alat sensorik memiliki dampak
yang besar pada gaya hidup sesorang. Seseorang dapat mengalami masalah
dengan komunikasi, aktifitas, atau bahkan interaksi sosial.
Pendengaran dan pengelihatan merupakan indra yang paling banyak
mengalami perubahan, sejalan dengan proses penuaan indra pendengaran
mulai memburuk. Gendang telinga menebal sehingga tulang dalam telinga
dan stuktur yang lainya menjadi terpengaruh. Ketajaman pendengaran dapat
berkurang karena terjadi perubhan saraf audiotorik. Kerusakan indara
pendengaran ini juga dapat terjadi karena perubahan pada lilin telinga yang
biasa terjadi seiring bertambahnya usia.
Struktur mata juga berubah karena penuaan. Mata memproduksi lebih sedikit
air mata, sehingga dapat me,buat mata menjadi kering. Kornea menjadi
kurang sensitive. Pada usia 60 tahun, pupil mata berkurang sepertiga dari
ukuran ketika berusia 20 tahun. Pupil dapat bereaksi lebih lambat terhadap
perubahan cahaya gelap ataupun terang. Lensa mata menjadi kuning, kurang
fleksibel, dan apabila memandang menjadi kabur dan kurang jelas. Bantalan
lemak pendukung berkurang, dan mata tenggelam ke kantung belakang. Otot
mata menjadikan mata kurang dapat berputar secara sempurna, cairan di
dalam mata juga dapat berubah. Masalah yang paling yang paling umum
dialami oleh lansia adalah kesulitan untuk mengatur titik focus mata pada
jarak tertentu sehingga pandangan menjdi kurang jelas.
Perubahan fisik pada lansia lebih banyak ditekankan pada alat indera dan
sistem saraf mereka. Sistem pendengaran, penglihatan sangat nyata sekali

7
perubahan penurunan keberfungsian alat indera tersebut. Sedangkan pada
sistem sarafnya adalah mulai menurunnya pemberian respon dari stimulus
yang diberikan oleh lingkungan. Pada lansia juga mengalami perubahan
keberfungsian organ-organ dan alat reproduksi baik pria ataupun wanita. Dari
perubahan-perubahan fisik yang nyata dapat dilihat membuat lansia merasa
minder atau kurang percaya diri jika harus berinteraksi dengan lingkungannya
(J.W.Santrock, 2002 :198). Dari penjelasan di atas dapat di tarik kesimpulan
berkenaan dengan cirri-ciri fisik lansia yaitu sebagi berikut (1) postur tubuh
lansia mulai berubah bengkok (bungkuk),(2) kondisi kulit mulai kering dan
keriput,(3) daya ingat mulai menurun,(4) kondisi mata yang mulai rabun,(5)
pendengaran yang berkurang.

2. Perkembangan Intelektual
Menurut david Wechsler dalam Desmita (2008) kemunduran kemampuan
mental merupakan bagian dari proses penuaan organisme sacara umum,
hampir sebagian besar penelitian menunjukan bahwa setelah mencapai
puncak pada usia antara 45-55 tahun, kebanyakan kemampuan seseorang
secara terus menerus mengalami penurunan, hal ini juga berlaku pada seorang
lansia.
Ketika lansia memperlihatkan kemunduran intelektualiatas yang mulai
menurun, kemunduran tersebut juga cenderung mempengaruhi keterbatasan
memori tertentu. Misalnya seseorang yang memasuki masa pensiun, yang
tidak menghadapi tantangan-tantangan penyesuaian intelektual sehubungan
dengan masalah pekerjaan, dan di mungkinkan lebih sedikit menggunakan
memori atau bahkan kurang termotivasi untuk mengingat beberpa hal, jelas
akan mengalami kemunduran memorinya. Menurut Ratneret.al dalam desmita
(20080 penggunaan bermacam-macam strategi penghafalan bagi orang tua ,
tidak hanya memungkinkan dapat mencegah kemunduran intelektualitas,
melinkan dapat menigkatkan kekuatan memori pada lansia tersebut.
Kemerosotan intelektual lansia ini pada umumnya merupakan sesuatau yang
tidak dapat dihindarkan, disebabkan berbagai faktor, seperti penyakit,

8
kecemasan atau depresi. Tatapi kemampuan intelektual lansia tersebut pada
dasarnya dapat dipertahankan. Salah satu faktor untuk dapat mempertahankan
kondisi tersebut salah satunya adalah dengan menyediakan lingkungan yang
dapat merangsang ataupun melatih ketrampilan intelektual mereka, serta
dapat mengantisipasi terjadinya kepikunan.

3. Perkembangan Emosional
Memasuki masa tua, sebagian besar lanjut usia kurang siap menghadapi dan
menyikapi masa tua tersebut, sehingga menyebabkan para lanjut usia kurang
dapat menyesuaikan diri dan memecahkan masalah yang dihadapi
(Widyastuti, 2000). Munculnya rasa tersisih, tidak dibutuhkan lagi, ketidak
ikhlasan menerima kenyataan baru seperti penyakit yang tidak kunjung
sembuh, kematian pasangan, merupakan sebagian kecil dari keseluruhan
perasaan yang tidak enak yang harus dihadapi lanjut usia.
Hal – hal tersebut di atas yang dapat menjadi penyebab lanjut usia kesulitan
dalam melakukan penyesuaian diri. Bahkan sering ditemui lanjut usia dengan
penyesuaian diri yang buruk. Sejalan dengan bertambahnya usia, terjadinya
gangguan fungsional, keadaan depresi dan ketakuatan akan mengakibatkan
lanjut usia semakin sulit melakukan penyelesaian suatu masalah. Sehingga
lanjut usia yang masa lalunya sulit dalam menyesuaikan diri cenderung
menjadi semakin sulit penyesuaian diri pada masa-masa selanjutnya.
Yang dimaksud dengan penyesuaian diri pada lanjut usia adalah kemampuan
orang yang berusia lanjut untuk menghadapi tekanan akibat perubahan
perubahan fisik, maupun sosial psikologis yang dialaminya dan kemampuan
untuk mencapai keselarasan antara tuntutan dari dalam diri dengan tuntutan
dari lingkungan, yang disertai dengan kemampuan mengembangkan
mekanisme psikologis yang tepat sehingga dapat memenuhi kebutuhan–
kebutuhan dirinya tanpa menimbulkan masalah baru.
Pada orang – orang dewasa lanjut atau lanjut usia, yang menjalani masa
pensiun dikatakan memiliki penyesuaian diri paling baik merupakan lanjut
usia yang sehat, memiliki pendapatan yang layak, aktif, berpendidikan baik,

9
memiliki relasi sosial yang luas termasuk diantaranya teman – teman dan
keluarga, dan biasanya merasa puas dengan kehidupannya sebelum pensiun
(Palmore, dkk, 1985). Orang – orang dewasa lanjut dengan penghasilan tidak
layak dan kesehatan yang buruk, dan harus menyesuaikan diri dengan stres
lainnya yang terjadi seiring dengan pensiun, seperti kematian pasangannya,
memiliki lebih banyak kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan fase
pensiun (Stull & Hatch, 1984).
Penyesuaian diri lanjut usia pada kondisi psikologisnya berkaitan dengan
dimensi emosionalnya dapat dikatakan bahwa lanjut usia dengan
keterampilan emosi yang berkembang baik berarti kemungkinan besar ia akan
bahagia dan berhasil dalam kehidupan, menguasai kebiasaan pikiran yang
mendorong produktivitas mereka. Orang yang tidak dapat menghimpun
kendali tertentu atas kehidupan emosinya akan mengalami pertarungan batin
yang merampas kemampuan mereka untuk berkonsentrasi ataupun untuk
memiliki pikiran yang jernih.
Ohman & Soares (1998) melakukan penelitian yang menghasilkan
kesimpulan bahwa sistem emosi mempercepat sistem kognitif untuk
mengantisipasi hal buruk yang mungkin akan terjadi. Dorongan yang relevan
dengan rasa takut menimbulkan reaksi bahwa hal buruk akan terjadi. Terlihat
bahwa rasa takut mempersiapkan individu untuk antisipasi datangnya hal
tidak menyenangkan yang mungkin akan terjadi. Secara otomatis individu
akan bersiap menghadapi hal-hal buruk yang mungkin terjadi bila muncul
rasa takut. Ketika individu memasuki fase lanjut usia, gejala umum yang
nampak yang dialami oleh orang lansia adalah “perasaan takut menjadi tua”.
Ketakutan tersebut bersumber dari penurunan kemampuan yang ada dalam
dirinya. Kemunduran mental terkait dengan penurunan fisik sehingga
mempengaruhi kemampuan memori, inteligensi, dan sikap kurang senang
terhadap diri sendiri.
Ditinjau dari aspek yang lain respon-respon emosional mereka lebih spesifik,
kurang bervariasi, dan kurang mengena pada suatu peristiwa daripada orang-
orang muda. Bukan hal yang aneh apabila orang-orang yang berusia lanjut

10
memperlihatkan tanda-tanda kemunduran dalam berperilaku emosional;
seperti sifat-sifat yang negatif, mudah marah, serta sifat-sifat buruk yang
biasa terdapat pada anak-anak.
Orang yang berusia lanjut kurang memiliki kemampuan untuk
mengekspresikan kehangatan dan persaan secara spontan terhadap orang lain.
Mereka menjadi kikir dalam kasih sayang. Mereka takut mengekspresikan
perasaan yang positif kepada orang lain karena melalui pengalaman-
pengalaman masa lalu membuktikan bahwa perasaan positif yang dilontarkan
jarang memperoleh respon yang memadai dari orang-orang yang diberi
perasaan yang positif itu. Akibatnya mereka sering merasa bahwa usaha yang
dilakukan itu akan sia-sia. Semakin orang berusia lanjut menutup diri,
semakin pasif pula perilaku emosional mereka.

E. Perkembangan Spiritual

Sebuah penelitian menyatakan bahwa lansia yang lebih dekat dengan agama
menunjukkan tingkatan yang tinggi dalam hal kepuasan hidup, harga diri dan
optimisme. Kebutuhan spiritual (keagamaan) sangat berperan memberikan
ketenangan batiniah, khususnya bagi para Lansia. Rasulullah bersabda
“semua penyakit ada obatnya kecuali penyakit tua”. Sehingga religiusitas atau
penghayatan keagamaan besar pengaruhnya terhadap taraf kesehatan fisik
maupun kesehatan mental, hal ini ditunjukan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Hawari (1997), bahwa :
1. Lanjut usia yang nonreligius angka kematiannya dua kali lebih besar
daripada orang yang religius.
2. Lanjut usia yang religius penyembuhan penyakitnya lebih cepat
dibandingkan yang non religius.
3. Lanjut usia yang religius lebih kebal dan tenang menghadapi operasi atau
masalah hidup lainnya.
4. Lanjut usia yang religius lebih kuat dan tabah menghadapi stres daripada
yang nonreligius, sehingga gangguan mental emosional jauh lebih kecil.
5. Lanjut usia yang religius tabah dan tenang menghadapi saat-saat terakhir
(kematian) daripada yang nonreligius.
6. Perubahan Sosial

11
Umumnya lansia banyak yang melepaskan partisipasi sosial mereka,
walaupun pelepasan itu dilakukan secara terpaksa. Orang lanjut usia yang
memutuskan hubungan dengan dunia sosialnya akan mengalami kepuasan.
Pernyataan tadi merupakan disaggrement theory. Aktivitas sosial yang
banyak pada lansia juga mempengaruhi baik buruknya kondisi fisik dan
sosial lansia. (J.W.Santrock, 2002, h.239).
7. Perubahan Kehidupan Keluarga
Sebagian besar hubungan lansia dengan anak jauh kurang memuaskan
yang disebabkan oleh berbagai macam hal. Penyebabnya antara lain :
kurangnya rasa memiliki kewajiban terhadap orang tua, jauhnya jarak
tempat tinggal antara anak dan orang tua. Lansia tidak akan merasa
terasing jika antara lansia dengan anak memiliki hubungan yang
memuaskan sampai lansia tersebut berusia 50 sampai 55 tahun.
Orang tua usia lanjut yang perkawinannya bahagia dan tertarik pada
dirinya sendiri maka secara emosional lansia tersebut kurang tergantung
pada anaknya dan sebaliknya. Umumnya ketergantungan lansia pada anak
dalam hal keuangan. Karena lansia sudah tidak memiliki kemampuan
untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Anak-anaknya pun tidak
semua dapat menerima permintaan atau tanggung jawab yang harus
mereka penuhi.

7. Hubungan Sosio-Emosional Lansia


Masa penuaan yang terjadi pada setiap orang memiliki berbagai macam
penyambutan. Ada individu yang memang sudah mempersiapkan
segalanya bagi hidupnya di masa tua, namun ada juga individu yang
merasa terbebani atau merasa cemas ketika mereka beranjak tua. Takut
ditinggalkan oleh keluarga, takut merasa tersisihkan dan takut akan rasa
kesepian yang akan datang.
Keberadaan lingkungan keluarga dan sosial yang menerima lansia juga
akan memberikan kontribusi positif bagi perkembangan sosio-emosional
lansia, namun begitu pula sebaliknya jika lingkungan keluarga dan sosial
menolaknya atau tidak memberikan ruang hidup atau ruang interaksi bagi
mereka maka tentunya memberikan dampak negatif bagi kelangsungan
hidup lansia.

12
F. Masalah yang dihadapi oleh lansia

Lansia mengalami perubahan dalam kehidupannya sehingga menimbulkan


beberapa masalah dalam kehidupannya. Permasalahan tersebut diantaranya
yaitu :

1. Masalah fisik

Permasalahan yang hadapi oleh lansia dengan masalah pekembangan fisik


yang mulai melemah, diantaranya seringnya terjadi radang persendian
ketika melakukan aktivitas yang cukup berat, indra pengelihatan yang
mulai kabur, indra pendengaran yang mulai berkurang berfungsu dengan
baik serta daya tahan tubuh yang menurun, sehingga sering mengalami
sakit (masuk angin, flu)

3. Masalah kognitif ( Intelektual )

Permasalahan yang hadapi oleh lansia yang terkait dengan masalah


pekembangan kognitif, ini dapat disimpulkan bahwa pada lansia mulai
melemahnya daya ingat terhadap sesuatu hal(pikun) dan sulit untuk
bersosialisasi dengan masyarakat di sekitar

3. Masalah emosional

Permasalahan yang hadapi oleh lansia yang terkait dengan masalah


pekembangan emosional, adalah rasa ingin berkumpul dengan keluarga
sangat kuat, sehingga tingkat perhatian beliau menjadi sangat besar. Apabila
melihat rekan kerja kurang aktif dalam melakukan pekerjaanya, maka tingkat
emosi meningkat, terbukti bahwa beliau segera menegur rekan kerjanya
tersebut agar lebih cekatan. Sering marah apabila ada sesuatu yang kurang
sesuai dengan kehendak pribadi dan sering stress akibat masalah ekonomi
yang kurang terpenuhi

G. Perkembangan Spiritual

13
Permasalahan yang hadapi oleh lansia yang terkait dengan masalah
pekembangan spiritual, adalah kesulitan untuk menghafal kitab suci karena
daya ingat yang mulai menurun, merasa kurang tenang ketika mengetahui
anggota keluarganya belum mengerjakan ibadah, dan merasa gelisah ketika
menemui permasalahan yang cukup serius.

F. Solusi Permasalahan

Berkaitan dengan masalah yang sering dialami oleh orang yang berusia lanjut
dapat di tempuh melalui hal-hal sebagai berikut :
1. Berhubungan dengan Kesahatan Lansia ( fisik) :

 Orang yang telah lanjut usia identik dengan menurunnya daya tahan
tubuh dan mengalami berbagai macam penyakit. Lansia akan
memerlukan obat yang jumlah atau macamnya tergantung dari
penyakit yang diderita.

 Pemberian nutrisi yang baik dan cukup sangat diperlukan


lansia,misalnya pemberian asupan gizi yang cukup serta mengandung
serat dalam jumlah yang besar yang bersumber pada buah, sayur dan
beraneka pati, yang dikonsumsi dengan jumlah bertahap.

 Minum air putih 1.5 – 2 liter, secara teratur

 Olah raga teratur dan sesuai dengan kapasitas kemampuanya

 Istirahat, tidur yang cukup

 Minum suplemen gizi yang diperlukan

 Memeriksa kesehatan secara teratur

1. Berhubungan dengan masalah intelektual

14
Sulit untuk mengingat atau pikun dapat diatasi pada saat muda dengan
hidup sehat, yaitu dengan cara :

 Jadikan Olahraga sebagai kebutuhan dan rutinitas harian Anda.

 Hendaknya Anda membiasakan diri dengan tidur yang cukup.

 Berhati-hatilah dengan Suplemen penambah daya ingat.

 Kendalikan rasa stress yang menyelimuti pikiran Anda.

 Segera obati depresi Anda.

 Hendaknya Anda selalu mengawasi obat-obatan yang dikonsumsi.

 Cobalah dengan melakukan permainan yang berhubungan dengan


daya ingat.

 Jangan pernah berhenti untuk terus belajar dan mengasah kemampuan


otak

 Hendaknya Anda berusaha meningkatkan konsentrasi dan


memfokuskan pikiran.

2. Berhubungan dengan Emosi :

 Lebih mendekatkan diri kepada ALLAH dan menyerahkan diri


kita sepenuhnya kepadaNya. Hal ini akan menyebabkan jiwa dan
pikiran menjadi tenang.

 Hindari stres, hidup yang penuh tekanan akan merusak kesehatan,


merusak tubuh dan wajahpun menjadi nampak semakin tua. Stres
juga dapat menyebabkan atau memicu berbagai penyakit seperti
stroke, asma, darah tinggi, penyakit jantung dan lain-lain.

15
 Tersenyum dan tertawa sangat baik, karena akan memperbaiki
mental dan fisik secara alami. Penampilan kita juga akan tampak
lebih menarik dan lebih disukai orang lain. Tertawa membantu
memandang hidup dengan positif dan juga terbukti memiliki
kemampuan untuk menyembuhkan. Tertawa juga ampuh untuk
mengendalikan emosi kita yang tinggi dan juga untuk melemaskan
otak kita dari kelelahan.

 Rekreasi untuk menghilangkan kelelahan setelah beraktivitas


selama seminggu maka dilakukan rekreasi. Rekreasi tidak harus
mahal, dapat disesuaikan denga kondisi serta kemampuan.

 Hubungan antar sesama yang sehat, pertahankan hubungan yang


baik dengan keluarga dan teman-teman, karena hidup sehat bukan
hanya sehat jasmani dan rohani tetapi juga harus sehat sosial.
Dengan adanya hubungan yang baik dengan keluarga dan teman-
teman dapat membuat hidup lebih berarti yang selanjutnya akan
mendorong seseorang untuk menjaga, mempertahankan dan
meningkatkan kesehatannya karena ingin lebih lama menikmati
kebersamaan dengan orang-orang yang dicintai dan disayangi.

4. Berhubungan dengan Spiritual

 Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan menyerahkan diri kita


sepenuhnya kepadaNya. Hal ini akan menyebabkan jiwa dan pikiran
menjadi tenang.

 Intropeksi terhadap hal-hal yang telah kita lakukan, serta lebih


banyak beribadah

BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Kerangka Pemecahan Masalah dan Realisasi Pemecahan Masalah

16
1. Mencari masalah kesehatan di Dusun Kronggahan RT 05/ RW 10
Trihanggo Gamping, Sleman
Mengetahui masalah kesehatan di bidang psikologi lansia yang dialami
keluarga Ny Rubiyem Dusun Kronggaan RT 05/ RW 10 Trihanggo
Gamping, Sleman
2. Mendiskusikan masalah yang telah didapatkan di Dusun Kronggahan
RT 05/ RW 10 Trihanggo Gamping, Sleman
3. Realisasi Pemecahan Masalah
Kerja nyata untuk memecahkan permasalahan di Dusun Kronggahan
RT 05/ RW 10 Trihanggo Gamping ini yaitu:
a. Melakukan berbagai kegiatan untuk mendorong peningkatan
kesadaran kesehatan keluarga,
b. Memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana sebagai penunjang
kesehatan.

B. Sasaran
Sasaran dalam pengabdian masyarakat terpadu di Dusun Kronggahan RT
05/ RW 10 Trihanggo Gamping ini adalah salah satu keluarga dengan
anggota keluarga lansia yang sudah tidak produktif di Dusun Kronggahan
RT 05/ RW 10 Trihanggo Gamping Sleman

C. Metode
Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat terpadu di Dusun
Kronggahan RT 05/ RW 10 Trihanggo Gamping pada tahap I ini antara
lain:
1. Melakukan pengkajian dengan Wawancara
Wawancara dilakukan untuk mengetahui masalah kesehatan keluarga
2. Analisa Data
Menentukan analisis untuk menentukan masalah yang dihadapi
keluarga
3. Diagnosa

17
Menentukan masalah yang di alami keluarga
4. Intervensi
Yaitu menentukan planning atau rencana terkait tindakan yang akan
dilakukan
5. Implementasi
Yaitu melakukan penyuluhan kepada keluarga tentang gizi kurang dan
memberikan pendidikan tentan pemilihan makanan yang baik dan
bergizi pada keluarga.

D. Waktu dan Tempat Kegiatan


1. Hari, tanggal : Selasa,04 September 2018
Tempat : Rumah Keluarga Ny Rubiyem
Acara : Kontrak Waktu
2. Hari, tanggal : Rabu, 05 September 2018
Tempat : Rumah Keluarga Ny Rubiyem
Acara : Pengkajian, analisa data, diagnosis, dan intervensi
3. Hari, tanggal : Jumat, 07 September 2018
Tempat : Rumah Keluarga Ny Rubiyem.
Acara : Implementasi
4. Hari, tanggal : Jumat, 15 September 2018
Tempat : Rumah Keluarga Ny Rubiyem.
Acara : Implementasi

E. Sarana dan Alat yang Digunakan


1. Sarana yang digunakan
Sarana dalam pengabdian masyarakat terpadu ini adalah Pemberian
Makanan Tambahan (PMT) pada keluarga.
2. Alat yang digunakan dalam pengabdian masyarakat terpadu ini adalah
: timbangan berat badan,tensimeter dan metline

F. Pihak-Pihak yang Terlibat

18
Pihak-pihak yang terlibat dalam pengabdian masyarakat terpadu di Dusun
Kronggahan RW 10 Trihanggo Gamping ini yaitu kepala dukuh, ketua
RW, ketua RT, kader-kader kesehatan, keluarga binaan, dosen
pembimbing, dan mahasiswa.

G. Kendala yang Dihadapi dan Pemecahannya


1. Kendala yang dihadapi
Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian
masyarakat terpadu ini yaitu:
a. Kesulitan saat kontrak waktu dengan keluarga dan mahasiswa
b. Dana turun di akhir kegiatan
2. Pemecahan kendala
a. Kesulitan saat kontrak waktu : membuat kesepakatan dengan
keluarga walaupun waktu bertemu tidak intens.
b. Dana turun di akhir kegiatan : memakai uang pribadi terlebih
dahulu

H. Kegiatan Penilaian
Kegiatan penilaian yang dijalankan untuk melihat keberhasilan
pengabdian masyarakat terpadu ini yaitu selalu memantau pertambahan
BB.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

19
A. PENGKAJIAN
Dari hasil wawancara kepada keluarga binaan di dapatkan hasil :

FORMAT PENGKAJIAN DATA KESEHATAN KELUARGA


DALAM RANGKA PENGABDIAN MASYARAKAT ANTAR PROFESI
(TERPADU)
========================================
A. PENGUMPULAN DATA KELUARGA:
1. Identitas Keluarga:
Data Kepala Keluarga :
-Nama Kepala Keluarga (KK) : Ny Rubiyem
-Umur : 80 tahun
-Perkerjaan : Ibu rumah tangga
-Pendidikan Terakhir KK SD
-Agama : Islam
-Alamat : Dusun Kronggahan RT 05/
RW 10 Trihanggo, Gamping,
Sleman
Jumlah Anggota Keluarga : 3 (satu)
2. Data Struktur Keluarga: (Beri Tanda Cetang dalam Kolom yang ada).
a. Matrikal
b. Patrikal Ya

c. Nuclear Ya
d. Extended
e. Neolokal

2. Data Sosial Ekonomi/Penghasilan Keluarga: (Beri Tanda Centang dalam


Kolom yang ada).
a. Penghasilan < Ya
Rp500.000,-

20
b. Rp 500.000,- s.d Rp 1
Juta
c. > Rp 2 Juta
d. Jumlah Pengeluaran /
bulan
3.1 Tabungan Keluarga:
Keluarga menabung /
Tidak
Tidak menabung

3.2 Jaminan Kesehatan:


a. BPJS Kesehatan / Askes /KIS Ya

a. BPJS Ketenagakerjaan Tidak

b. Jamkesmas Tidak

c. Jamkesos Tidak

B. Data Lingkungan Fisik:


1. Perumahan
1.1 Kepemilikan Rumah:
a. Milik sendiri Ya

b. Sewa Tidak

a. Menumpang Tidak

1.2 Jenis Rumah:


a. Permanen Ya

b. Semi permanen Tidak

21
c. Tidak Permanen Tidak

1.3 Lantai:
a. Tanah Ya

b. Semen /plester Tidak

c. Tegel Tidak

d. Keramik Ya

1.4 Dinding rumah terbuat dari:


a. Tembok penuh Ya

b. Setengah tembok Tidak

c. Gedhek/ bilik Tidak

d. Papan Kayu Tidak

e. Lainnya Tidak

1.5 Luas Jendela / Lubang Angin:


a. < 10 % luas lantai Ya

b. > 10 % luas lantai Tidak

1.5 Cahaya Matahari:


a. Masuk dalam Rumah Ya

b. Tidak masuk dalam rumah Tidak

1.6 Kebersihan dalam Rumah:


a. Bersih Ya

b. Kotor Tidak

1.7 Ventilasi:
a. Baik Ya

22
b. Kurang Tidak

1.8 Pembuangan Excreta:


a. WC Ya

b. Sungai Tidak

c. Selokan Tidak

1.9 Sumber Air bersih:


a. PDAM Tidak

b. Sumur Pompa Tidak

c. Sumur Gali Ya

d. Sungai Tidak

e. Beli Tidak

f. Mata Air Tidak

1.10 Pembuangan Sampah:


a. Ditimbun Tidak

b. Dibakar Ya

c. Tempat sampah umum Tidak

d. Sembarang tempat Tidak

e. Diangkut petugas Tidak

f. Sungai Tidak

1.11 Kandang Ternak:


a. Pemilik Kandang Tidak

23
b. Kandang didalam rumah/ Tidak
diluar rumah

C. Status Kesehatan
1. Sarana Kesehatan
a. Sarana Kesehatan terdekat:
Rumah Sakit Ya

Puskesmas Ya

Balai Pengobatan

Posyandu Ya

Dokter praktek

Perawat

Bidan Ya

b. Pemanfaatan sarana kesehatan : (Ya)


c. Bila Tidak, alasannya : sulit dijangkau / biaya/ lainnya sebutkan
…………………………............
2. Masalah Kesakitan:
a. Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit (1 tahun
terakhir): Ya
b. Bila YA, berapa orang?: 1 orang
c. Bila Ya, Sebutkan :
Hipertensi
d. Bagaimana upaya keluarga menolong anggota keluarga yang sakit:
(berikan tanda Centang)
Rumah Sakit

Puskesmas Ya

Balai Pengobatan

24
Dokter praktek

Perawat / Bidan
Praktek

Dukun / Tabib

Lainnya, sebutkan
………….

B. ANALISA DATA
Keluarga Ny Rubiyem tinggal sendiri rumah dengan ketiga
cucunya. Pekerjaan sehari-hari Ny Rubiyem yaitu sebagai ibu rumah
tangga . Terkadang Ny Rubiyem sering mengeluhkan pegal-pegal di kaki
dan sering merasa kesepian dan terkadang sering lupa . Tekanan darah
pada saat pemeriksaan yaitu 170/100. Ny Rubiyem mengaku nafsu
makannya menurun dan mengatakan bahwa jarang sekali makan makanan
yang beragam.
DIAGNOSIS
- Permasalahan psikologi pada usia lansia
- Ketidakmampuan menyediakan hidangan makanan yang
beragam.

C. INTERVENSI
1. Untuk anggota keluarga yang mempunyai masalah psikologi
pada lansia
- Akan dilakukan pemeriksaan tekanan darah
Untuk mengetahui tekanan darah Ny Rubiyem.
- Akan dilakukan pemberian informasi perubahan masa
psikologi dan masalah – masalah yang sering dialami pada
masa lansia .
- Akan dilakukan pemberian PMT yang bergizi dan seimbang

25
Dengan pemberian PMT tersebut, diharapkan dapat mengedukasi
keluarga seperti apa saja makanan yang bergizi dan seimbang.
2. Untuk anggota keluarga yang lainnya
- Akan dilakukan penyuluhan tentang cara merawat anggota
keluarga dengan makanan yang beragam dan makanan tinggi
kalsium untuk lansia dan memanfaatkan fasilitas kesehatan
dengan selalu berangkat posyandu rutin
- Akan dilakukan penyuluhan tentang perubahan psikologi
lansia.

D. IMPLEMENTASI
1. Pemberian penyuluhan tentang perubahan psikologi lansia
Waktu : Jumat, 28 Juli 2017 Pk. 16.00 WIB
Tempat : Rumah Ny Rubiyem
Hasil : Pemberian pengetahuan tentang perubahan
psikologi lansia
2. Pemberian PMT
Waktu : Sabtu,18 Agustus 2017 Pk. 16.00 WIB
Tempat : Rumah Ny Rubiyem
Hasil : Pemberian PMT dan hasil ketika Posyandu

26
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari kegiatan pengabdian masyarakat di Dusun Kronggahan yang
Tim Pengabmas lakukan, dapat disimpulkan :
1. Ditemukan masalah pada keluarga binaan yaitu pasangan lansia
yang memiliki psikologi pada lansia, nyeri sendi dan penurunan
nafsu makan.
2. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata anggota keluarga tersebut
memiliki tekanan darah 170/100 mmHg.
3. Hasil pengkajian setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang
gpsikologi lansia pada lansia dan memberikan PMT yang
mengandung kalsium tinggi dan rendah natrium.
4. Terjadi peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan
pendidikan kesehatan tentang psikologi lansia pada lansia serta
kesadaran untuk melakukan pemeriksaan fisik setiap bulan sekali
B. Saran
1. Bagi profesi Bidan

Bagi profesi bidan diharapkan dapat memberikan pelayanan


terutama penyuluhan sesuai kebutuhan masyarakat .

2. Bagi Responden

Bagi responden lebih mengetahui tentang perubahan psikologi pada


lansia, manfaat dari pemeriksaan fisik pada lansia.

27
LAMPIRAN

28
DAFTAR PUSTAKA

Basuki. Purnomo. 2008.patofiologi konsep penyakit klinis.Jakarta.EGC

Darmojo, R. Boedhi.,dkk.1999. Buku Ajar Geriatri. Jakarta : Balai Penerbit


FKUI
Gallo, Joseph.1998. Buku Saku Gerontologi. Jakarta : EGC

Hurlock, E. (1996). Psikologi perkembangan. Alih bahasa: dr. Med.


Metasari T. &
Dra. Muslichah Z. Jakarta: Erlangg

Santrock. J. W. (2002). Adolescence: Perkembangan Remaja.(edisi keenam)


Jakarta: Erlangga.

29