Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Penyakit


A. Definisi
Benigna Prostat Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran jinak
kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua
komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler
yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Purwanto, 2016).
BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara
umum pada pria lebih tua dari 50 tahun ) menyebabkan berbagai derajat
obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius(Purwanto, 2016).
Benigna prostatic hyperplasia merupakan suatu kondisi yang sering
terjadi akibat hasil dari pertumbuhan dan pegendalian hormone prostat
(Nur’arif & Kusuma, 2015).

B. Etiologi
Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belum
diketahui. Namun yang pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada
hormon androgen. Faktor lain yang erat kaitannya dengan BPH adalah
proses penuaan Ada beberapa factor kemungkinan penyebab antara lain:
a. Teori dihidrotestosteron (DHT)
DHT adalah metabolit androgen yang sangat penting pada
pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. Dibentuk dari testosteron di
dalam sel prostat oleh enzim 5alfa-reduktase dengan bantuan
koenzim NADPH. DHT yang telah terbentuk berikatan dengan
reseptor androgen (RA) membentuk kompleks DHT-RA pada inti sel
dan selanjutnya terjadi sintesis protein growht factor yang
menstimulasi pertumbuhan sel prostat (Purnomo, 2011).
b. Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan
epitel dan stroma dari kelenjar prostat mengalami hiperplasi .
c. Perubahan keseimbangan hormon estrogen – testoteron
Pada pria dengan usia yang semakin tua, kadar estrogen dalam serum
relatif meningkat dibandingkan kadar testosteron. Pasien dengan
BPH cenderung memiliki kadar estradiol yang lebih tinggi dalam
sirkulasi perifer. Dalam the Olmsted County cohort, tingkat estradiol
serum berkorelasi positif dengan volum prostat. Estrogen di dalam
prostat berperan pada proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara
meningkatkan sensitifitas sel-sel prostat terhadap rangsangan
hormon androgen, meningkatkan jumlah reseptor androgen, dan
menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat (apoptosis) (Roehborn
et al., 2007).
d. Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen
dan penurunan testosteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma.
e. Interaksi stroma – epitel
Interaksi stroma-epitel berperan penting dalam regulasi hormonal,
seluler, dan molekuler pada perkembangan prostat normal dan
neoplastik. Proses peningkatan usia menyebabkan akumulasi
bertahap dari massa prostat. Sebuah studi yang dilakukan oleh
Cunha et al. menunjukkan bahwa sel stroma memiliki kemampuan
untuk memodulasi diferensiasi sel epitel prostat normal. Penelitian
lain juga telah menunjukkan bahwa faktor pertumbuhan yang
dihasilkan oleh sel epitel dan stroma dapat meregulasi sel-sel prostat
baru. Penyimpangan dari faktor pertumbuhan peptida atau
reseptornya dapat langsung memberikan kontribusi terhadap
pertumbuhan prostat yang tidak terkendali yang menyebabkan BPH
(Jie, et al., 2009).
f. Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast growth factor
dan penurunan transforming growth factor beta menyebabkan
hiperplasi stroma dan epitel.
g. Berkurangnya sel yang mati.
Homeostasis pada kelenjar yang normal terjadi karena adanya
keseimbangan antara inhibitor pertumbuhan dan mitogens, yang
masing-masing menghambat atau menginduksi proliferasi sel tetapi
juga mencegah atau memodulasi kematian sel (apoptosis). Pada
pasien BPH, terjadi pertumbuhan abnormal (hiperplasia) pada
prostat yang mungkin disebabkan oleh faktor pertumbuhan lokal
atau reseptor faktor pertumbuhan yang abnormal, yang
menyebabkan meningkatnya proliferasi atau menurunnya kematian
sel (apoptosis) (Roehborn et al., 2007).
h. Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup
stroma dan epitel dari kelenjar prostat.
i. Teori sel stem
Ukuran prostat dapat menggambarkan adanya jumlah absolut sel
stem pada kelenjar prostat. Lonjakan hormon androgen postnatal
akan membentuk jaringan prostat sehingga menginduksi
pertumbuhan prostat berikutnya. Sama seperti regulasi hormon
jaringan prostat pada dewasa, hormon seks steroid dapat
memberikan efek pembentukan jaringan prostat secara langsung atau
tidak langsung melalui serangkaian jalur yang kompleks (Roehborn
et al., 2007). Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel
transit .

C. Manifestasi Klinis
Menurut Yuliana Elin (2011), pasien BPH dapat menunjukkan
berbagai macam tanda dan gejala. Gejala BPH berganti-ganti dari waktu-
kewaktu dan mungkin dapat semakin parah, menjadi stabil, atau semaki
buruk secara spontan.
Gejala klinis yang ditimbulkan oleh Benigne Prostat Hyperplasia
disebut sebagai Syndroma Prostatisme. Syndroma Prostatisme dibagi
menjadi dua yaitu :
1. Gejala Obstruktif yaitu :
a) Hesitansi yaitu memulai kencing yang lama dan seringkali
disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh karena otot
destrussor buli-buli memerlukan waktu beberapa lama
meningkatkan tekanan intravesikal guna mengatasi adanya
tekanan dalam uretra prostatika.
b) Intermitency yaitu terputus-putusnya aliran kencing yang
disebabkan karena ketidakmampuan otot destrussor dalam
pempertahankan tekanan intra vesika sampai berakhirnya miksi.
c) Terminal dribling yaitu menetesnya urine pada akhir kencing.
d) Pancaran lemah : kelemahan kekuatan dan kaliber pancaran
destrussor memerlukan waktu untuk dapat melampaui tekanan di
uretra.
e) Rasa tidak puas setelah berakhirnya buang air kecil dan terasa
belum puas.
2. Gejala Iritasi yaitu :
a) Urgency yaitu perasaan ingin buang air kecil yang sulit ditahan.
b) Frekuensi yaitu penderita miksi lebih sering dari biasanya dapat
terjadi pada malam hari (Nocturia) dan pada siang hari.
c) Disuria yaitu nyeri pada waktu kencing.

D. Klasifikasi
Kategori keparahan BPH berdasarkan gejala dan tanda
Keparahan Penyakit Kekhasan Gejala dan Tanda
Ringan Asimtomatik
Kecepatan urinary puncak<10mL/s
Volume urin residual setelah pengosongan
>25-50 mL
Peningkatan BUN dan kreatinin serum
Sedang Semua tanda diatas ditambah obstruktif
penghilangan gejala dan iritatif
penghilangan gejala 9tanda dari destrusor
yang tidak stabil)
Parah Semua tanda diatas ditambah satu atau dua
lebih komplikasi BPH
Organisasi kesehatan dunia (WHO) menganjurkan klasifikasi
untuk menentukan berat gangguan miksi yang disebut WHO Prostate
Symptom Score (PSS).

a. Derajat ringan: skor 0−7


b. Sedang: skor 8−19
c. Berat: skor 20−35 (Sjamsuhidajat dkk, 2012).
Selain itu, ada juga yang membaginya berdasarkan gambaran klinis
penyakit BPH. Derajat penyakit BPH disajikan pada tabel.
Derajat Colok Dubur Sisa Volume Urin
I Penonjolan prostat, batas atas <50 mL
mudah diraba
II Penonjolan prostat jelas, 50−100 mL
batas atas dapat dicapai
III Batas atas prostat tidak dapat >100 mL
diraba
IV - Retensi urin total

E. Patofisiologi
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra
prostatika dan menghambat aliran urin. Keadaan ini menyebabkan
peningkatan tekanan intravesikal. Untuk dapat mengeluarkan urine, buli-
buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. Kontraksi
yang terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomi buli-buli berupa
hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan
divertikel buli-buli. Perubahan struktur pada buli-buli tersebut, oleh
pasien dirasakan sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau
LUTS yang dahulu dikenal dengan gejala prostatismus (Purnomo, 2012).
Tekanan intravesikal yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian buli-
buli tidak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara
ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urin dari buli-buli ke ureter atau
terjadi refluks vesikoureter. Keadaan ini jika berlangsung terus akan
mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke
dalam gagal ginjal (Purnomo, 2012).
Obstruksi pada leher kandung kemih mengakibatkan berkurangnya
atau tidak adanya aliran kemih, dan ini memerlukan intervensi untuk
membuka jalan keluar urin. Metode yang mungkin adalah prostatektomi
parsial, Transurethral Resection of Prostate (TURP) atau insisi
prostatektomi terbuka, untuk mengangkat jaringan periuretral hiperplasia
insisi transuretral melalui serat otot leher kandung kemih untuk
memperbesar jalan keluar urin, dilatasi balon pada prostat untuk
memperbesar lumen uretra, dan terapi antiandrogen untuk membuat atrofi
kelenjar prostat (Price & Wilson, 2012).
Pada BPH terjadi rasio peningkatan komponen stroma terhadap
kelenjar. Pada prostat normal rasio stroma dibanding dengan kelanjar
adalah 2:1, pada BPH, rasionya meningkat menjadi 4:1, hal ini
menyebabkan pada BPH terjadi peningkatan tonus otot polos prostat
dibandingkan dengan prostat normal. Dalam hal ini massa prostat yang
menyebabkan obstruksi komponen statik sedangkan tonus otot polos yang
merupakan komponen dinamik sebagai penyebab obstruksi prostat
(Purnomo, 2012).
Pathway

F. Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis BPH dilakukan beberapa cara antara lain
a. Anamnesa
Kumpulan gejala pada BPH dikenal dengan LUTS (Lower Urinary
Tract Symptoms) antara lain: hesitansi, pancaran urin lemah,
intermittensi, terminal dribbling, terasa ada sisa setelah miksi disebut
gejala obstruksi dan gejala iritatif dapat berupa urgensi, frekuensi serta
disuria.
b. Pemeriksaan Fisik
1. Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi dan suhu.
Nadi dapat meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin
akut, dehidrasi sampai syok pada retensi urin serta urosepsis
sampai syok - septik.
2. Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual untuk
mengetahui adanya hidronefrosis, dan pyelonefrosis. Pada daerah
supra simfiser pada keadaan retensi akan menonjol. Saat palpasi
terasa adanya ballotemen dan klien akan terasa ingin miksi.
Perkusi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya residual urin.
3. Penis dan uretra untuk mendeteksi kemungkinan stenose meatus,
striktur uretra, batu uretra, karsinoma maupun fimosis.
4. Pemeriksaan skrotum untuk menentukan adanya epididymitis
5. Rectal touch/pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk
menentukan konsistensi sistim persarafan unit vesiko uretra dan
besarnya prostat. Dengan rectal toucher dapat diketahui derajat
dari BPH, yaitu :
a) Derajat I = beratnya ± 20 gram.
b) Derajat II = beratnya antara 20 – 40 gram.
c) Derajat III = beratnya >40 gram.
c. Pemeriksaan Laboratorium
1. Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal, serum elektrolit dan kadar
gula digunakan untuk memperoleh data dasar keadaan umum
klien.
2. Pemeriksaan urin lengkap dan kultur.
3. PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting diperiksa sebagai
kewaspadaan adanya keganasan.
d. Pemeriksaan Uroflowmetri
Salah satu gejala dari BPH adalah melemahnya pancaran urin. Secara
obyektif pancaran urin dapat diperiksa dengan uroflowmeter dengan
penilaian :
1. Flow rate maksimal > 15 ml / dtk = non obstruktif.
2. Flow rate maksimal 10 – 15 ml / dtk = border line.
3. Flow rate maksimal < 10 ml / dtk = obstruktif.
e. Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik
1. BOF (Buik Overzich ) :Untuk melihat adanya batu dan metastase
pada tulang.
2. USG (Ultrasonografi), digunakan untuk memeriksa konsistensi,
volume dan besar prostat juga keadaan buli – buli termasuk
residual urin. Pemeriksaan dapat dilakukan secara transrektal,
transuretral dan supra pubik.
3. IVP (Pyelografi Intravena), Digunakan untuk melihat fungsi
exkresi ginjal dan adanya hidronefrosis.
4. Pemeriksaan Panendoskop, untuk mengetahui keadaan uretra dan
buli – buli.

G. Penatalaksanaan
Menurut Sjamsuhidjat dan de Jong (2010) dalam penatalaksanaan
pasien dengan BPH tergantung pada stadium-stadium dari gambaran
klinis, yaitu :
a. Stadium I
Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah,
diberikan pengobatan konservatif, misalnya menghambat
adrenoresptor alfa seperti alfazosin dan terazosin. Keuntungan obat
ini adalah efek positif segera terhadap keluhan, tetapi tidak
mempengaruhi proses hiperplasi prostat. Sedikitpun kekurangannya
adalah obat ini tidak dianjurkan untuk pemakaian lama.
b. Stadium II
Ada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan
biasanya dianjurkan reseksi endoskopi melalui uretra (trans uretra).
c. Stadium III
Pada stadium III reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila
diperkirakan prostat sudah cukup besar, sehinga reseksi tidak akan
selesai dalam 1 jam. Sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka.
Pembedahan terbuka dapat dilakukan melalui trans vesika, retropubik
dan perineal.
d. Stadium IV
Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan
penderita dari retensi urin total dengan memasang kateter atau
sistotomi. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan lebih lanjut amok
melengkapi diagnosis, kemudian terapi definitive dengan
Transurethral Resection (TUR) atau pembedahan terbuka.
Pada penderita yang keadaan umumnya tidak memungkinkan
dilakukan pembedahan dapat dilakukan pengobatan konservatif dengan
memberikan obat penghambat adrenoreseptor alfa. Pengobatan
konservatif adalah dengan memberikan obat anti androgen yang menekan
produksi LH. Menurut Andra saferi dan yessie mariza, (2013)
penatalaksanaan pada BPH dapat dilakukan dengan:
a. Observasi
Kurangi minum setelah makan malam, hindari obat dekongestan,
kurangi kopi, hindari alkohol, tiap 3 bulan kontrol keluhan, sisa
kencing dan colok dubur.
b. Medikamentosa
Terapi medikamentosa pada penanganan BPH antara lain :
1. Mengharnbat adrenoreseptor alfa
2. Obat anti androgen
3. Penghambat enzim alfa 2 reduktase
4. Fisioterapi
c. Terapi Bedah
Prostatectomy merupakan tindakan pembedahan bagian prostate
(sebagian/seluruh) yang memotong uretra, bertujuan untuk
memeperbaiki aliran urin dan menghilangkan retensi urinaria akut.
Prostatektomy diindikasikan untuk hiperplasia dan kanker prostat.
Prostatektomi mencakup bedah pengangkatan sebagian atau
keseluruhan kelenjar prostat. Pendekatan pembedahan dapat
transuretra (melalui uretra), atau melalui suprapubis (abdomen
bawah dan leher kandung kemih), perineal (anterior rektum), atau
insisi retropubis (abdomen bawah, tidak dilakukan reseksi leher
kandung kemih). (Carpenito, 2010) Menurut Smeltzer dan Bare
(2005) jenis Prosratektomy, yaitu :
1. Trans Uretral Resection Prostatectomy (TURP)
Yaitu pengangkatan sebagian atau keseluruhan kelenjar prostat
melalui sitoskopi atau resektoskop yang dimasukkan melalui
uretra.
2. Prostatektomi Suprapubis (Suprapubic/Open Prostatectomy)
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi yang dibuat
pada kandung kemih.
3. Prostatektomi retropubis (Retropubik Prostatectomy)
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat melalui insisi pada
abdomen bagian bawah melalui fosa prostat anterior tanpa
memasuki kandung kemih.
4. Prostatektomi Peritoneal (Perineal Prostatectomy)
Yaitu pengangkatan kelenjar prostat radikal melalui sebuah
insisi diantara skrotum dan rektum.
d. Terapi Invasif Minimal
Terapi invasif minimal dalam penatalaksanaan Benign Prostatic
Hyperplasia (BPH), antara lain :
1. Trans Uretral Mikrowave Thermotherapy (TUMT)
Yaitu pemasangan prostat dengan gelombang mikro yang
disalurkan ke kelenjar prostat melalui antena yang dipasang
melalui/pada ujung kateter.
2. Trans Uretral Ballon Dilatation (TUBD)
3. High Intensity Focused Ultrasound
4. Ablasi Jarum Transuretra (TUNA)
5. Stent Prostat

H. Komplikasi
Menurut Andra dan Yessie (2013), komplikasi yang dapat terjadi
pada hipertropi prostat adalah :
a. Retensi kronik dapat menyebabkan refluks vesiko-ureter,
hidroureter, hidronefrosis, gagal ginjal.
b. Proses perusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada waktu
miksi.
c. Hernia/hemoroid
d. Hematuria.
e. Sistitis dan Pielonefritis
Kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat dari obstruksi kronik
mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang
menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen yang akan
menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin dalam vesiko urinaria
akan membentuk batu endapan yang menambah keluhan iritasi dan
hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria menjadikan
media pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis
dan bila terjadi refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat &
de Jong, 2005).

2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


A. Fokus Pengkajian
1. Sirkulasi
Pada kasus BPH sering dijumpai adanya penurunan tekanan darah.
Peningkatan nadi sering dijumpai pada kasus postoperasi BPH yang
terjadi karena kekurangan volume cairan.
2. Integritas Ego
Pasien dengan kasus penyakit BPH seringkali terganggu integritas
egonya karena memikirkan bagaimana akan menghadapi pengobatan
yang dapat dilihat dari tanda-tanda seperti kegelisahan, kacau
mental, perubahan perilaku.
3. Eliminasi
Pada kasus post operasi BPH terjadi gangguan eliminasi yang terjadi
karena tindakan invasif serta prosedur pembedahan sehingga perlu
adanya obervasi drainase kateter untuk mengetahui adanya
perdarahan dengan mengevaluasi warna urin. Evaluasi warna urin,
contoh : merah terang dengan bekuan darah, perdarahan dengan
tidak ada bekuan, peningkatan viskositas, warna keruh, gelap dengan
bekuan. Selain terjadi gangguan eliminasi urin, juga ada kemugkinan
terjadinya konstipasi.
4. Makanan dan cairan
Terganggunya sistem pemasukan makan dan cairan yaitu karena
efek penekanan/nyeri pada abomen (pada preoperasi), maupun efek
dari anastesi pada postoperasi BPH, sehingga terjadi gejala:
anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan. Tindakan yang
perlu dikaji adalah awasi masukan dan pengeluaran baik cairan
maupun nutrisinya.
5. Nyeri dan kenyamanan
Menurut hierarki Maslow, kebutuhan rasa nyaman adalah kebutuhan
dasar yang utama. Karena menghindari nyeri merupakan kebutuhan
yang harus dipenuhi. Pada pasien post operasi biasanya ditemukan
adanya nyeri suprapubik, pinggul tajam dan kuat, nyeri punggung
bawah.
6. Keselamatan/ keamanan
Pada kasus operasi terutama pada kasus penyakit BPH faktor
keselamatan tidak luput dari pengkajian perawat karena hal ini
sangat penting untuk menghindari segala jenis tuntutan akibat
kelalaian paramedik, tindakan yang perlu dilakukan adalah kaji
adanya tanda-tanda infeksi saluran perkemihan seperti adanya
demam (pada pre operasi), sedang pada postoperasi perlu adanya
inspeksi balutan dan juga adanya tanda-tanda infeksi baik pada luka
bedah maupun pada saluran perkemihannya.
7. Seksualitas
Pada pasien BPH baik pre operasi maupun post operasi terkadang
mengalami masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan
seksualnya, takut inkontinensia/menetes selama hubungan intim,
penurunan kekuatan kontraksi saat ejakulasi, dan pembesaran atau
nyeri tekan pada prostat.
8. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium diperlukan pada pasien pre operasi
maupun post operasi BPH. Pada pre operasi perlu dikaji, antara lain
urin analisa, kultur urin, urologi urin, BUN/kreatinin, asam fosfat
serum, sel darah putih. Sedangkan pada post operasinya perlu dikaji
kadar hemoglobin dan hematokrit karena imbas dari perdarahan. Dan
kadar leukosit untuk mengetahui ada tidaknya infeksi.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan eliminasi urin b.d sumbatan pengeluaran pada kadung
kemih: Benigna Prostatic Hyperplasia
2. Nyeri akut b.d agen injuri fisik (spasme kandung kemih)
3. Resiko infeksi b.d kerusakan jaringan sebagai efek sekunder dari
prosedur pembedahan
4. Resiko perdarahan b.d trauma efek samping pembedahan
5. Resiko ketidakefektifan perfusi ginjal b.d hidronefrosis
6. Retensi urin b.d penyempintan lumen ureter prostatica
7. Ansietas b.d perasaan takut terhadap tindakan pembedahan