Anda di halaman 1dari 3

Muhammad Ichsan (186020300111033)

Manajemen Bisnis Syariah

RESUME MATERI:
(ILMU) MANAJEMEN BISNIS BERPIHAK PADA (SI)APA ?
(Aji Dedi Mulawarman)

Overview
Materi yang disampaikan pada minggu kedua perkuliahan Manajemen Bisnis Syariah
ini mencoba mengungkap fundamental bisnis konvensional yang berjalan saat ini. Paling tidak
pasca revolusi industri pada pertengahan abad ke 18 hingga revolusi industri 4.0 yang
belakangan digaungkan, dinamika lingkungan bisnis terlihat begitu tinggi. Kemajuan umat
manusia dalam memanfaatkan sains, secara nyata telah banyak mengubah kebiasaan dan pola
hidup, bahkan terhadap cara manusia memandang dunianya. Pelaku dan praktek bisnis pun
demikian. Lebih jauh, sebagai entitas sosial dengan kapasitas membentuk citra dan opini
masyarakat melalui pemasaran, turut membawa perubahan itu ke tingkat yang lebih masif.
Oleh karena itu kemampuan beradaptasi adalah dianggap mutlak dimiliki jika tidak ingin
tergeser.
Perubahan, atau lebih tepatnya pergeseran yang disebutkan di atas, melalui materi ini,
akan dikaji secara fundamental sehingga dapat diketahui nilai inheren yang ada dalam praktik
bisnis konvensional. Dengan demikian kita dapat pula menilai apakah arah pergeseran itu
memang ke sisi positif, atau justru (lebih) terjerumus ke arah yang negatif? Dan apakah Islam
dapat menawarkan konsep alternatif mengenai hal itu?

Tinjauan bisnis saat ini: nilai, pengetahuan, dan konsekuensi praksisnya


Sebuah organisasi umumnya memiliki visi, misi, dan tujuan. Tugas manajemen adalah
menyelaraskan ketiga unsur tersebut melalui aktivitas yang dikenal dengan planning,
organizing, actuating, dan controlling. Dalam bisnis konvensional, tentu saja tujuan akhirnya
adalah maksimasi laba, harta, dan kas dalam rangka sustanibilitas perusahaan.
Karena sifat utilitarian itu maka tidak sulit untuk memahami kondisi bisnis saat ini.
Usaha untuk menjadi yang paling unggul dari masing-masing pelaku mewarnai kompetisi
dengan pasar sebagai acuan hukumnya. Sangat mirip dengan prinsip Darwinisme dimana yang
tidak mampu beradaptasi akan tersingkirkan. Ketidakmampuan ini amat lekat kaitannya

1
dengan pencapaian hal-hal bersifat materi, yang meskipun dalam prosesnya telah melalui
berbagai prosedur yang tidak dapat dikatakan buruk, misalnya audit, pengendalian internal, tata
kelola, pertanggung jawaban sosial, dan bahkan pemanfaatan teknologi.
Perilaku sekuler yang ditampakkan dalam bisnis saat ini tidak lepas dari pengetahuan
yang digunakan untuk menghasilkan segala teori ekonomi dan pasar. Pengetahuan itu tentu
memiliki landasan nilai sebagai premis utamanya. Dipahami bersama bahwa para ekonom
Barat telah lama membuang nilai-nilai non materi dari pustaka keilmuannya. Banyak yang
beranggapan hal ini berawal pasca Galileo Galilei dieksekusi oleh pihak gereja atas temuan
heliosentrisnya. Walaupun akhirnya gereja merehabilitasi nama Galileo sebagai ilmuwan pada
lima abad berikutnya, peristiwa tersebut adalah contoh awal konflik antara otoritas agama
dengan kebebasan berpikir (terutama dalam sains) pada masyarakat Barat.
Dampak pemisahan ini sangat jelas, segala praktik bisnis dilakukan dengan
pertimbangan keuntungan balik yang akan diperoleh. Dengan kata lain, semuanya bersifat
transaksional secara ekonomis. Tidak terkecuali pada hal yang sudah seharusnya memang
menjadi kewajiban suatu organisasi, misalnya tata kelola perusahaan dan pertanggung jawaban
sosial. Hal ini dapat kita lihat pada riset-riset mengenai dua hal tersebut, masih didominasi oleh
sejauh mana pelaksanaannya berpengaruh pada profit organisasi.
Keleluasan (kegoyahan?) kita dalam mengadopsi kebiasaan Barat sayangnya
memudahkan motif itu masuk pada tidak hanya hal-hal bisnis saja. Sehingga layak
dipertanyakan kembali, apakah kita memandang dunia ini dalam kerangka transaksional,
termasuk dalam hubungan kita dengan Tuhan?
Bisa jadi kita senyum-senyum sendiri, bahkan mungkin malu melontarkan jawaban
jujur dan tegas atas pertanyaan di atas. Maka sudah selayaknya dibutuhkan antitesis untuk
memurnikan kembali nilai, khususnya dalam khasanah ilmu ekonomi kita. Premis awal Barat,
melalui teori agensinya, memandang sifat alami manusia adalah memaksimalkan keuntungan
ekonomisnya atau REMM model. Teori ini dibangun dari Game Theory (yang dilandasi pula
oleh Prisoner Theory). Dasar dua teori ini serupa, keserakahan (greed) yang dimiliki manusia
adalah motif yang melandasi tindakannya. Jika ditelisik lebih jauh prinsip ini tidak berbeda
dengan yang terkandung dalam buku The Protestan Ethics and the Spirit of Capitalism yang
di tulis oleh Max Webber (1905). Webber menulis bahwa kapitalisme berevolusi ketika
Protestan mulai mempengaruhi orang untuk bekerja dalam dunia sekuler, yakni
mengembangkan perusahaan, turut serta dalam perdagangan dan penumpukkan kekayaan
untuk investasi.

2
Implikasinya, modernism bergerak kepada tujuan akhir penumpukkan kekayaan bagi
pemodal yang paling berkuasa. Dua kekuatan utama untuk memastikan hal itu tercapai ialah
yang pertama melalui korporasi multi nasional (MNC) dan yang kedua, ilmu pengetahuan.
Pada sisi pertama, pasukannya adalah para komprador yakni pejabat dan politisi ber-mindset
motif ekonomi untuk mengamankan dan mengokohkan posisi MNC tersebut pada negara target
melalui serangkaian regulasi yang menguntungkan satu pihak saja. Sedangkan pada sisi
lainnya, upaya ini dimotori oleh kalangan akademisi dan profesi yang sekuler. Kolaborasi dua
titik ini akhirnya menghasilkan gurita kekuasaan MNC yang begitu masif. Alih-alih keadilan
ekonomi, justru kezaliman ekonomi lah menjadi ujung dari kondisi dan proses ini.

Kesimpulan
Maka, sudah sangat jelas dibutuhkan perubahan atas kondisi yang disebutkan di atas.
Nilai ilahiah yang bersumber dari firman Allah swt dan praktik yang dicontohkan Nabi beserta
para sahabatnya telah memberikan bukti nyata terwujudnya keadilan ekonomi di era kekuasaan
Islam. Fitrah manusia yang suci sangat bertolak belakang dengan manusia berdosa (greed)
dalam pola pikir Barat. Nilai (value) luhur yang menjadi landasan dan bersumber langsung dari
Sang Pencipta ini jika dipatuhi dan dilaksanakan dalam praktik bisnis tentu saja akan membawa
keberkahan ummah atau dalam hal ini adalah keadilan ekonomi.