Anda di halaman 1dari 3

Tugas Manajemen Bisnis Syariah

Muh. Agus Syam (186020300111031)


Muhammad Ichsan (186020300111033)
M. Dhanutirto F. Tuwow (186020300111042)

Analisis singkat berdasarkan perspektif syariah mengenai kasus lingkungan dan konflik
sosial pada perusahaan pertambangan non batubara

Bagian 1: data finansial komparatif

1. Rio Tinto & Newmont (dalam jutaan US$)


Rio Tinto Newmont
2017 2016 2015 2017 2016 2015
Revenue 40.030 33.781 34.829 7.348 6.711 6.085
EBITDA 12.816 6.343 3.615 2.582 1.279 1.694
Profit margin (%) 32% 19% 10% 35% 19% 28%
Total asset 95.726 89.623 91.5654 20.563 21.031 25.130

2. Vale (dalam ribuan US$)


2017 2016 2015
Revenue 629.334 584.143 789.745
EBITDA -23.020 5.165 69.828
Profit margin (%) -4% 1% 9%
Total asset 2.184.559 2.225.492 2.289.161

3. Antam (dalam ribuan Rp)


2017 2016 2015
Revenue 12.653.619.205 9.106.260.754 10.531.504.802
EBITDA 454.396.524 237.291.595 (1.668.773.924)
Profitmargin (%) 4% 3% -16%
Total asset 30.014.273.452 29.981.535.812 30.356.850.890

Bagian 2: pengungkapan tata kelola dan tanggung jawab lingkungan


Tata kelola
Dalam laporan tata kelola keempat perusahaan mengklaim telah mewujudkan
komitmen yang tinggi terhadap kepatuhan pada standar-standar tata kelola yang berlaku,
termasuk pembaruan-pembaruannya. Misalnya Rio Tinto, dalam annual report nya telah
mengacu pada tiga standar pelaporan tata kelola yaitu UK Corporate Governance Code (versi
2016) atau (the Code), the ASX Corporate Governance Council’s Corporate Governance
Principles and Recommendations (edisi ketiga) (the ASX Principles), dan New York Stock
Exchange Corporate Governance Standards (the NYSE Standards). Dalam pemenuhan
terhadap standar-standar tersebut, seluruh perusahaan telah mengungkapkan hal-hal
mandatory meliputi deskripsi dewan direksi, komite eksekutif, kepemimpinan, efektivitas,
akuntabilitas, hubungan dengan stakeholders, serta laporan remunerasi.
Sedangkan Antam, sejak tahun 2003 asesmen GCG ini dilakukan setiap tahun
sebagai akibat peningkatan status listing ANTAM di Australian Securities Excahnge (ASX).
Berbagai asesor telah melakukan asesmen implementasi GCG di ANTAM, mulai dari Ernst
& Young, Standar & Poor, RSM-AAJ, SDP Crowe Horwarth, SDP-BOD. Selain itu sejak tahun
2004, ANTAM telah menggunakan lebih dari empat perusahaan asesor independen yang
berbeda, namun berkesimpulan yang sama bahwa ANTAM merupakan perusahaan yang
menerapkan implementasi GCG secara konsisten dengan hasil tingkat penerapan sangat
baik.

Tanggung jawab lingkungan


Sementara itu komitmen menjaga kelestarian lingkungan dan perkembangan
kualitas kemanusiaan, empat perusahaan ini juga menerapkan konsep dan prinsip
sustainabilitas dalam aktivitas operasiny. Rio Tinto, pada Sustainability Development Report
2017, contohnya menyatakan komitmennya dalam meminimalisir dampak negatif operasi
perusahaan dan turut membagi kesejatheraan serta benefit yang telah diperoleh kepada
masyarakat terdampak. Melalui peningkatan produktivitas, pengurangan biaya, dan
pertumbuhan yang prudent, perusahaan mengklaim mampu memastikan keamanan
aktivitasnya sehingga mereka mampu juga memberikan shared-value yang lebih besar dan
jangka panjang bagi stakeholder. Dalam laporan tahunannya, Rio Tinto telah menyertakan
pengungkapan umum sesuai index GRI (Global Reporting Initiative). Rio Tinto juga
mengklaim telah memberikan bentuk nyata CSR yang dapat kita lihat pada table nilai
kontribusinya kepada masyarakat dalam laporan Sustainability Development, yang
disalurkan melalui program seperti kesehatan, lingkungan, pendidikan, dan lain-lain.
Sedangkan ANTAM secara rutin melaporkan kegiatan CSR dalam Laporan
Keberlanjutan yang memuat secara lengkap informasi kegiatan CSR yang dilaksanakan oleh
perusahaan sesuai dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Laporan keberlanjutan
dibuat dengan mengikuti standar internasional yang dikeluarkan oleh Global Reporting
Initiative (GRI) (GRI Standar), merupakan laporan tersendiri tetapi menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari Laporan Tahunan ini.

Bagian 3: isu lingkungan dan konflik sosial:


Terdapat berbagai kritik atas aktivitas operasi perusahaan, baik mengenai lingkungan,
operasi, kesehatan, lingkungan, tenaga kerja dan hak asasi manusia, metode akuntansi,
hingga korupsi. Dalam makalah ini akan dikerucutkan menjadi isu-isu terkait lingkungan
dan konflik sosial saja.
1. Degradasi lingkungan
Keempat perusahaan ini menghadapi banyak tuntutan yang sama terkait itu
lingkungan. Misalnya, Rio Tinto telah lama mendapatkan kecaman dari berbagai
kelompok lingkungan terkait aktivitas pertambangannya. Metode perusahaan
tersebut dianggap menyebabkan degradasi lingkungan, terutama kontribusinya
terhadap pemanasan global yang disebabkan oleh produksi uranium yang dipasok
kepada industry nuklir. Kritik terbesar atas isu ini berasal dari pemerintah Norwegia
yang melakukan divestasi saham mereka di Rio Tinto. Dana ini berjumlah 4,85 milyar
krona (setara US$ 855 juta) guna menghindari kontribusi pengrusakan lingkungan
perusahaan, terutama di Indonesia.
Sedangkan Antam, Catatan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Malut, lebih
2 juta hektar menjadi pertambangan dengan 335 izin. Dari situ, ada tiga perusahaan
tambang memegang kontrak karya. Yakni, PT Aneka Tambang (Antam), PT Weda Bay
dan PT Nusa Halmahera Mineral (NHM). Sisanya, izin usaha pertambangan oleh
daerah. Salah satu yang menjadi ketimpangan yang dibuat Antam dan Pemerintah
yakni proses penerbitan izin, katanya, nampak tidak mempertimbangkan daya
dukung lingkungan. “Laju kerusakan lingkungan mengakibatkan banyak hal. Misal,
di Pulau Ge, Halmahera Timur, dibabat habis Antam, sekarang pulau itu botak dan
berdampak pada ikan teri berkurang. Jadi, nelayan ikan teri banyak parkir.”
2. Kesehatan
Sebagaimana perusahaan pertambangan pada umumnya, Rio Tinto menerapkan
prinsip fly in fly out (FIFO) untuk karyawannya. FIFO berarti menerbangkan
karyawannya ke lokasi kerja terpencil selama periode tertentu, kemudian meliburkan
mereka selama periode tertentu juga. Cara ini dianggap lebih efisien ketimbang
membiayai karyawan dan keluarganya untuk tinggal di dekat lokasi tersebut.
Namun, pada kenyataannya cara ini banyak menyebabkan kesehatan mental
terhadap karyawan berupa kecemasan dan depresi yang berujung pada tindakan
menyakiti diri sendiri bahkan bunuh diri. Kita juga mencatat kasus pencemaran
lingkungan PT. Antam, yang berujung pada kontaminasi merkuri dalam tubuh
penduduk sekitar
3. Tenaga kerja dan hak asasi manusia
Banyak kelompok aktivis menuntut ketidakadilan operasi Rio Tinto terhadap isu hak
asasi yang mereka anggap sebagai penyebab utama munculnya gerakan separatis
Bougainville di Papua Nugini. Pelanggaran hak asasi berat juga menjadi tuntuan
utama salah satu kelompok anti kemiskinan di Inggris, War on Want, atas operasi
perusahaan di Indonesia dan Papua Nugini.
Kemudian, PT Vale yang dulu dikenal dengan nama PT. Inco juga menyalahi aturan
KK, dimana warga menilai penetapan peta konsesi baru PT Vale itu menyerobot tanah
milik masyarakat, termasuk tanah adat, terbitnya Peta Batas COW PT Vale
(Amandemen KK 2014) Sulawesi Selatan tidak pernah disosialisasikan sebelumnya
dan tidak melalui free, prior, and informed cansent (FPIC) kepada masyarakat adat
dan masyarakat local.

Bagian 4: analisa singkat dari perspektif syariah


Dari laporan keuangan yang ditampilkan pada sesi sebelumnya, kita dapat melihat
manfaat materi yang dicapai oleh keempat perusahaan tersebut. Keuntungan tersebut
sebenarnya adalah akumulasi eksploitasi terstruktur dan sistematis yang belangsung sejak
lama pada masing-masing negara tempat perusahaan beroperasi. Walaupun dalam laporan
kinerjanya juga turut menyertakan peran mereka bagi lingkungan, pada kenyataannya
kasus-kasus terkait hal tersebut masih saja terjadi. Indikatornya terlihat selain merebaknya
pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan, ketimpangan antara yang mengeksploitasi dan
yang dieksploitasi nampak jelas begitu besar.
Hampir seluruh perusahaan multinasional pertambangan (non batubara) telah dirintis
berabad-abad lalu. Oleh Max Webber (1902) founding father perusahaan ini memang
mengusung prinsip kapitalisme dimana ada keserakahan didalamnya. Webber menulis
bahwa kapitalisme berevolusi ketika Protestan mulai mempengaruhi orang untuk bekerja
dalam dunia sekuler, yakni mengembangkan perusahaan, turut serta dalam perdagangan
dan penumpukkan kekayaan untuk investasi.
Ini tentu berbeda dengan prinsip kesejahteraan dalam Islam, istishodiyah dengan
turunannya, maqashid syariah, yakni kesejahteraan berkeadilan sosial atau maslahah.
Keadilan sosial ini harus terefleksi secara utuh, pada segala ciptaan Tuhan, sebagai
representasi ketauhidan, pengakuan atas Tuhan Yang Satu. Perwujudan prinsip
kesejahteraan semacam ini akan mempu secara signifikan mengeliminir dampak negatif
bisnis khususnya ketimpangan sosial. Perlu diingat juga bahwa keadilan tidak selalu sama
dengan pemerataan, sebab telah digariskan jugalah jika manusia memiliki takdir rezekinya
sesuai usaha yang ia lakukan. Oleh karena itu logika berpikir prinsip ini sangat berdasar
dan relevan untuk diterapkan.
Tentu saja dalam pelaksanaannya diperlukan teknis yang juga perlu pengawasan yang
memadai. Akan tetapi satu hal yang penting untuk mengawal jalan ke arah tersebut adalah
kesadaran dan kesepemahaman prinsip etika bisnis yang sesuai Islam pula, yakni tauhid,
khilafah, ibadah, tazkiyah, dan ihsan. Dengan memiliki kesadaran ini maka dengan
sendirinya segala tindakan aktivitas operasi bisnis akan mempertimbangkan keseimbangan.
Ini dikarenakan karena hubungan manusia tidak saja dengan Tuhannya melainkan harus
terefleksi pada hubungannya dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan.