Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kulit merupakan lapisan terluar yang terdapat hampir pada semua makluk hidup
termasuk pada sapi. Kulit banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan juga aneka kerajinan.
Kulit yang digunakan biasanya didapat dari hewan-hewan seperti sapi, domba, kambing dan
lain-lain. Berbagai hewan mempunyai kulit yang berbeda sesuai dengan bentuk tubuhnya.
Pada umumnya kulit dibagi menjadi tiga lapisan yaitu mulai dari lapisan terluar yaitu lapisan
epidermis, dermis (corium) dan lapisan subkutis.
Pemanfaatan kulit ternak seperti sapi sendiri banyak dilakukan untuk kepentingan
manusia sesuai dengan perkembangan zaman. Dari keseluruhan produk sampingan hasil
pemotongan ternak seperti sapi , maka kulit merupakan produk yang memiliki nilai ekonomis
yang paling tinggi. Berat kulit sapi, kambing atau kerbau berkisar 7-10 % dari berat tubuh
hewan tersebut. Secara ekonomis pun kulit memiliki harga berkisar 10-15% dari harga ternak
Fungsi kulit pada hewan adalah untuk melindungi jaringan-jaringan dibawahnya, alat
perasa, dan tempat penyimpanan cadangan energi. Namun, ketika hewan itu telah dipotong,
kulit akan kehilangan fungsinya dan kualitasnya menjadi menurun. Oleh karena itu,
diperlukan pengolahan kulit lebih lanjut, yaitu proses penyamakan. Proses penyamakan kulit
pada dasarnya adalah proses pengubahan struktur kulit mentah yang mudah rusak karena
aktifitas mikroorganisme menjadi kulit samak yang tahan lama. Prinsip dalam proses
penyamakan adalah pemasukan bahan-bahan tertentu ke dalam jalinan serat kulit sehingga
terjadi ikatan kimia antara kulit dan bahan penyamak.
Kulit samak merupakan produk dengan nilai jual yang tinggi. Hal ini dikarenakan
hasil kulit samak memiliki sifat yang lebih kuat dan stabil terhadap pengaruh fisik, biologis,
dan kimia, sedangkan kulit mentah yang merupakan bahan dasar kulit samak memiliki sifat
yang mudah rusak dan membusuk. Kulit samak banyak digunakan sebagai bahan baku tas,
sepatu, jaket, dompet, ikat pinggang, dan sebagainya.
Kulit sapi, daging, dan domba merupakan jenis kulit yang paling sering untuk
dilakukan proses penyamakan. Hal ini dikarenakan ketiga jenis hewan ini merupakan hewan
yang dagingnya sering dikonsumsi oleh manusia. Oleh karena itu, penyamakan pada kulit
sapi, domba, dan kambing merupakan proses penyamakan yang sangat baik untuk dilakukan
karena bahan baku kulit mentahnya mudah didapatkan.
Penyamakan kulit terdiri atas banyak proses yang saling berurutan. Sebelum kulit
mentah menjadi kulit samak, kulit mengalami proses penyamakan yang secara umum dapat
digolongkan menjadi tiga tahap, yaitu: pengerjaan rumah basah (beam house operation),
penyamakan (tanning), dan penyelesaian (finishing). Berdasarkan bahan penyamak yang
digunakan, dikenal berbagai jenis cara penyamakan seperti penyamakan nabati, sintetis,
minyak, aldehida, quinon, dan campuran. Selain teknologi proses, makalah ini juga akan
membahas mengenai prospek pemasaran dari produk-produk kulit samak.

B. Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan memahami pengertian
penyamakan, alur proses pada pengolahan kulit, jenis-jenis penyamakan, mengetahui contoh
proses penyamakan dengan menggunakan enzim dan mikroorganisme serta pengolahan kulit
lain yang dimanfaatkan sebagai pangan untuk dikonsumsi (kerupuk kulit).
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengolahan Kulit
Kulit sapi dapat digunakan sebagai bahan industri kerajinan, cindera mata, maupun
kuliner atau makan ringan seperti kerupuk kulit sapi, rambak, dan lain sebagianya. Kulit
segar tersusun dari 64% air, 33% protein, 2% lemak, 0,5% garam mineral dan 0,5% penyusun
lainnya misalnya vitamin dan pigmen. Komponen penyusun kulit terpenting adalah protein
terutama protein kolagen. Protein kulit terdiri dari protein kolagen, keratin, elastin, albumin,
globulin dan musin. Protein albumin, globulin dan musin larut dalam larutan garam
dapur. Protein kolagen, keratin dan elastin tidak larut dalam air dan pelarut organik. Protein
kolagen inilah yang akan direaksikan menjadi bahan penyamak kulit untuk menghasilkan
kulit samak. Protein kolagen sangat menetukan mutu kulit samak.
Menurut Suparno (2012) Penyamakan adalah proses konversi protein kulit mentah
menjadi kulit samak yang stabil, tidak mudah membusuk, dan cocok untuk beragam ke-unaan.
Penyamakan biasanya dilakukan dengan garam basa krom trivalen. Reaksi garam-garam
krom dengan grup karboksilat dari protein kulit (kolagen) menjadikan kulit tersebut memiliki
stabi-litas hidrotermal tinggi, yaitu memiliki suhu penge-rutan (Ts) lebih tinggi daripada
100oC, dan tahan ter-hadap serangan mikroorganisme.

B. Proses Penyamakan
Teknik mengolah kulit mentah menjadi kulit samak disebut penyamakan. Mekanisme
penyamakan kulit pada prinsipnya adalah memasukkan bahan tertentu (bahan penyamak)
kedalam anyaman atau jaringan serat kulit sehingga terjadi ikatan kimia antara bahan
penyamak dengan serat kulit (Purnomo, 1987). Menurut Fahidin dan Muslich (1999), teknik
penyamakan kulit dikelompokan menjadi 3 tahapan, yaitu proses pra penyamakan,
penyamakan, dan pasca penyamakan.
1. Pra penyamakan
Proses pra penyamakan (Beam House Operation) meliputi perendaman, pengapuran,
pembuangan daging, pembuangan kapur, pengikisan protein, pemucatan dan
pengasaman (Purnomo, 1987).
a) Perendaman (soaking) merupakan tahapan pertama dari proses penyamakan yang
bertujuan mengembalikan kadar air kulit yang hilang selama proses pengawetan
sehingga kadar airnya mendekati kadar air kulit segar.
b) Pengapuran bertujuan menghilangkan epidermis dan bulu, kelenjar keringat dan
lemak, serta menghilangkan semua zat-zat yang bukan kolagen. Kapur yang masih
ketinggalan akan mengganggu proses penyamakan.
c) Pembuangan daging (fleshing) bertujuan menghilangkan sisa-sisa daging yang masih
melekat pada kulit dan menghilangkan lapisan subkutis (lapisan antara daging dan
kutis). Proses pembuangan bulu (scudding) bertujuan menghilangkan sisa-sisa bulu
beserta akarnya yang masih tertinggal pada kulit (Fahidin dan Muslich, 1999).
d) Pembuangan kapur (deliming) bertujuan menghilangkan kapur dan menetralkan kulit
dari suasana basa akibat pengapuran, menghindari pengerutan kulit ketika
pengasaman, serta menghindari timbulnya endapan kapur yang dapat bereaksi dengan
bahan penyamak. Proses pembuangan kapur biasanya menggunakan garam
ammonium sulfat (ZA) yang nantinya dicampur dengan asam sulfat.
e) Pengikisan protein (bating) bertujuan melanjutkan pembuangan semua zat-zat bukan
kolagen yang belum terhilangkan dalam proses pengapuran. Pengikisan protein ini
dilakukan oleh enzim protease. Pengikisan ini diutamakan untuk globular protein
yang terdapat diantara serat kulit dan elastin. Dengan terurainya protein ini maka akan
terdapat banyak ruang kosong diantara serat-serat kulit sehingga kulit samakan
menjadi lebih lunak dan lemas. Waktu bating yang berlebihan dapat menyebabkan
kulit menjadi menipis karena banyak protein yang terhidrolisis mengakibatkan
kekuatan tarik menjadi rendah, sedangkan waktu bating yang terlalu singkat
menyebabkan terjadinya pemisahan serat-serat fibril yang tidak sempurna dan
penetrasi bahan penyamak kurang merata.
f) Pengasaman (pickling) berfungsi mengasamkan kulit sampai pH tertentu untuk
menyesuaikan dengan penyamak krom yang mempunyai pH 2.5 - 3. Selain itu,
pengasaman juga dilakukan untuk menghilangkan noda hitam pada kulit akibat proses
sebelumnya, menghilangkan unsur besi pada kulit serta menghilangkan noda putih
karena pengendapan CaCO3 yang menyebabkan cat dasar tidak merata (Purnomo,
1987).
2. Penyamakan
Penyamakan bertujuan mengubah kulit mentah yang mudah rusak oleh aktivitas
kajian lapangan organisme, kimia maupun fisik menjadi kulit tersamak yang lebih tahan
terhadap pengaruhpengaruh tersebut. Bahan penyamak dapat berasal dari bahan nabati
(tumbuh-tumbuhan), mineral, dan minyak. Bahan penyamak nabati dapat berasal dari kulit
akasia, manggis, buah pinang, gambir dan lain-lain. Bahan penyamak mineral adalah garam-
garam yang berasal dari logam-logam aluminium, zirkonium, dan kromium. Bahan
penyamak dari minyak dapat berasal dari minyak ikan hiu atau ikan lainnya.
Penggunaan bahan penyamak akan mempengaruhi sifat fisik dari kulit, seperti
kelemasan, ketahanan terhadap panas/dingin, terhadap gesekan, dan lain-lain (Purnomo,
1987). Kulit yang disamak dengan penyamak nabati akan berwarna seperti warna bahan
penyamaknya, mempunyai ketahanan fisik yang kurang baik terhadap panas. Sifat dari kulit
yang disamak yaitu agak kaku tetapi empuk, cocok untuk bahan dasar ikat pinggang dan tas.
Bahan penyamak mineral yang paling banyak digunakan yaitu krom. Hal ini karena krom
memiliki sifat-sifat khusus yang berhubungan dengan struktur molekul bahan krom itu
sendiri.
3. Pasca penyamakan
Pasca penyamakan bertujuan membentuk sifat-sifat tertentu pada kulit terutama
berhubungan dengan kelemasan, kepadatan, dan warna kulit. Proses tersebut terdiri atas
netralisasi, pewarnaan, perminyakan, pengecatan, pengeringan, pelembaban, dan pelemasan
(Fahidin dan Muslich, 1999).
a) Penetralan (neutralization) bertujuan mengurangi kadar asam dari kulit yang disamak
menggunakan krom agar tidak menghambat proses pengecatan dasar dan
perminyakan (Purnomo, 1985).
b) Pewarnaan dasar memiliki fungsi sebagai pemberian warna dasar pada kulit tersamak
seperti yang diinginkan. Pemberian warna disesuaikan dengan bentuk produk akhir
yang direncanakan.
c) Peminyakan (fat liquoring) bertujuan melicinkan serat kulit sehingga lebih tahan
terhadap gaya tarikan, menjaga serat kulit agar tidak lengket sehingga lebih lunak dan
lemas, dan memperkecil daya serap, serta membuat kulit lebih fleksibel (mudah
dilekuk dan tidak mudah sobek).
d) Pengecetan bertujuan memenuhi selera konsumen. Pengecatan zat warna hanya
melekat di permukaan dalam media bahan perekat yang fungsinya melekatkan warna
dan memperbaiki permukaan kulit.
e) Pengeringan bertujuan menghentikan semua reaksi kimia di dalam kulit.
f) Pelembaban biasanya dilakukan selama 1-3 hari pada udara biasa agar kulit
menyesuaikan dengan kelembaban udara disekitarnya. Proses ini menyebabkan
jumlah air bebas atau air tidak terikat di dalam kulit meningkat sehingga kulit siap
menerima perlakuan fisik pada proses pelemasan.
g) Pelemasan dilakukan dengan tujuan melemaskan kulit dan mengembalikan luas kulit
yang hilang (mengkerut) selama proses pengeringan.

C. Jenis – Jenis Penyamakan


1. Penyamakan mineral
Jenis bahan penyamak yang sering digunakan dalam penyamakan ini antara lain yang
berasal dari golongan aluminium seperti tawas putih (K2SO4 Al2(SO4)3 24 H2O),
golongan chrome seperti Cr2O3 (produk komersial dengan merek Chromosal-B) dan
Zirkonium. Produk kulit jadi (leather) yang biasa dihasilkan melalui penyamakan ini
antara lain : kulit untuk bahan jaket, tas kantor, sepatu dan lap (chamois).

2. Penyamakan Nabati
mereaksikan gugus-gugus hidroksil yang terdapat dalam zat penyamak dengan
struktur kolagen kulit dan membuat reaksi ikatan dari molekul zat penyamak dengan
molekul zat penyamak lainnya hingga seluruh ruang kosong yang terdapat diantara
rantai kolagen terisi seluruhnya. Proses penyamakan akan berlangsung sempurna jika
kolagen telah menyerap kira-kira separuh dari berat zat penyamak yang digunakan.
Dalam penyamakan nabati, pH dan kepekatan dari larutan bahan penyamaknya harus
diatur. Pada pH tinggi, bahan penyamak nabati mempunyai zarah-zarah yang lebih
halus dibanding pada pH rendah. Pada kepekatan rendah, penyamak nabati
mempunyai ukuran zarah yang lebih kecil dibanding pada kepekatan tinggi. Dengan
demikian, kondisi yang diberlakukan pada penyamakan nabati adalah dimulai dengan
pH tinggi dan kepekatan rendah kemudian diakhiri dengan pH rendah dan kepekatan
tinggi (Purnomo, 1987).

3. Penyamakan menggunakan krom


menghasilkan kulit dengan tekstur yang lebih lemas dibanding penyamak nabati,
tahan terhadap panas yang tinggi, daya tarik tinggi dan memungkinkan hasil yang
lebih baik bila dilakukan pengecatan. Kulit ini cocok untuk kulit atasan sepatu, baju,
sarung tangan, dan lain-lain. Mekanisme dari penyamakan krom yaitu membentuk
ikatan dengan asam-asam amino dalam struktur protein kolagen yang reaktif. Besar
kecilnya molekul krom akan berpengaruh terhadap daya penetrasinya. Hal ini erat
kaitannya dengan basisitas dari krom. Proses penyamakan diawali dengan basisitas
yang rendah (sekitar 33%) dan diakhiri dengan basisitas yang tinggi (sekitar 66%).
Pada basisitas rendah, krom mempunyai daya penetrasi yang baik terhadap jaringan
kulit walaupun daya ikatnya terhadap kulit lemah. Pada basisitas tinggi, daya
penetrasi krom rendah namun daya ikatnya tinggi sehingga krom mampu berikatan
dengan jaringan kulit secara sempurna (Purnomo, 1987).

4. Penyamakan Minyak
Jenis bahan penyamak yang digunakan adalah berasal dari minyak ikan salah satu
contohnya adalah minyak ikan hiu. Dalam perdagangan biasa dikenal dengan nama
minyak ikan kasar. Minyak ikan yang digunakan memiliki ikatan C rangkap atau
bilangan yodium berkisar 80-120. Produk kulit jadi yang dihasilkan misalnya kulit
bulu (zemleer).

C. Pemanfaatan Enzim Mikro Organisme Untuk Penyamakan Kulit


Pemanfaatan enzim untuk penyamakan kulit dapat dilakukan sejak awal proses
penyamakan, yaitu khususnya pada:
 Perendaman (soaking process), dengan menambahkan enzim protease basa atau
campuran protease dan enzim amilase.
 Pencabutan bulu (dehairing process), dengan enzim protease basa
 Penghilangan lemak(degreasing process), dengan lipase basa
 Penghilangan protein(batting process), dengan protease basa.
Menurut Kamini dkk. (1999) sejak lebih satu dekade yang lalu, telah banyak
diidentifikasi dan diseleksi mikroorganisme untuk produksi enzim-enzim untuk penyamakan
kulit (lihat Tabel-1)
Tabel-1: Enzim Mikroorganisme Untuk Proses Penyamakan Kulit

No Proses Enzim yang Mikroorganisme penghasil


digunakan
1 Perendaman A spergillus parasiticus, A Flavus, .
(soaking) Protease,amilase oryzae, Rhizopus rhizopusdiformis,
Bacillus subtillis A. Awamori
2 Penabutan A. flavus, Asepergillus sp, Bacillus
rambut/bulu subtillis, Lactobacillus sp, Conidiobolus
(dehauring) Protase sp, B.amyloliquefaciens, Streptpmyces
griseus, S.fradiae, S.moderatus
3 Penghilangan A. parasiticus, S. Rimosus , B.
protein (bating) Protase Lincheniformis, B. Subtillis, penicillium
janthinellium
4 Penghilangan R. nodosus, A. Oryzae, A. Flavus
lemak Lipase

Pusat Teknologi Bioindustri – BPPT, telah berhasil mengembangkan teknologi


produksi enzim protease untuk penyamakan kulit dengan menggunakan bakteri Bacillus
megaterium baik pada skala laboratorium (fermentor 20 liter) maupun pada skala pilot (2.000
liter). Selanjutnya enzim protease ini yang dipasarkan dengan nama “Exolite”, diharapkan
dapat diterima oleh masyarakat, khususnya oleh industri penyamak kulit. Produk exolite ini
telah diuji-cobakan untuk penyamakan kulit kambing, domba dan sapi melalui kerjasama
dengan Balai Besar Litbang Industri Barang Karet, Kulit dan Plastik dan di industri
penyamak kulit di Jogyakarta, Garut dan Magetan.

D. Methodogi Produksi Protease Dan Penyamakan Kulit


Menurut Pawiroharsono, dkk. (2002) Proses penyamakan kulit ramah lingkungan ini
dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu :
1). Proses fermentasi untuk produksi enzim protease
Pada tahap ini pada dasarnya menumbuhkan bakteri Bacillus megaterium secara optimal
dalam medium molase – urea di dalam fermentor. Untuk mencapai optimal, maka fermentor
tersebut dilengkapi agitator dan aerasi, yang dioperasikan pada temperature 37° C. Apabila
fermentasi dilakukan pada volume yang besar, maka proses fermentasi harus di-scale-up,
yaitu dilakukan secara bertahap dari volume yang kecil ke volume yang besar.
Kultur awal disebut sebagai kultur starter untuk fermentasi berikutnya dan seterusnya.
Volume starter pada umumnya berkisar anatar 5 – 10 % dari volume fermentasi berikutnya.
Untuk pengembangan produk skala komersial, Pusat Teknologi Bioindustri – BPPT, telah
bekerjasama dengan pihak swasta untuk melakukan produksi skala komersial dengan fasilitas
fermentor yang telah dibangun dan dioperasikan pada volume 1000 liter dan 2000 liter.
2). Proses pemanenan enzim atau downstream process.
Proses ini merupakan proses hilir untuk memisahkan media yang mengandung enzim dari
sel dan selanjutnya dapat diproses lanjut untuk pemurnian produk tersebut. Hal ini perlu
segera dilakukan untuk menghindari kerusakan produk, mengingat enzim adalah senyawa
protein. Proses hilir pada produksi enzim protease ini dilakukan dengan teknik penyaringan
dengan menggunakan membrane atau disebut microfilter dengan porositas 0,5 mikron.
3). Proses penyamakan kulit dengan menggunakan enzim protease
Uji coba produk enzim protease (exolite) dilakukan untuk penyamakan kulit kambing,
domba dan sapi melalui kerjasama dengan Balai Besar Litbang Industri Barang Karet, Kulit
dan Plastik, Jogjakarta) dan di industri penyamak kulit di Jogyakarta, Garut danMagetan,
karena di sini fasilitas peralatan penyamakan kulit lengkap. Kulit yang akan disamak lebih
dahulu dikeringkan dengan ditambahkan garam agar kulit tidak rusak. Pada prinsipnya proses
penyamakan kulit dilakukan mengikuti prosedur baku yang telah diterapkan di industri kulit
yaitu melalui beberapa tahap sebagaimana terlihat pada Gambar-2. Dalam hal ini penggunaan
enzim hanya dilakukan pada proses penghilangan bulu atau dehairing (Gambar-1), yaitu
sebesar 0,5 – 1 % dari volume kulit yang diproses.

Gambar 1: Skema proses fermentasi untuk produksi enzim untuk penyamakan kulit.
E. Pengolahan Kulit menjadi Kerupuk Rambak Kulit Sapi
Menurut Wiriano (1984) Prosedur pembuatan kerupuk rambak kulit sapi adalah:
1. Perendaman
Perendaman kulit dilakukan dengan air bersih selama ± 2 jam.
2. Pengapuran
Kulit yang telah mengalami perendaman, selanjutnya dimasukkan dalam
larutan kapur konsentrasi 2oBe, yaitu 0,4 kg kapur dalam 5 liter air untuk 1 kg kulit.
Masing-masing dengan lama perlakuan 24, 48, 72 dan 96 jam. Dilakukan pengadukan
setiap 5 jam sekali untuk mempertahankan pH larutan.
3. Buang kapur dan buang bulu
Pembuangan kapur dengan mencuci kulit dengan air bersih, masing-masing perlakuan
5 liter dan diulang tiga kali. Pembuangan bulu dengan cara dikerok menggunakan
pisau.
4. Perebusan
Perebusan kulit pada suhu 90oC selama 2 jam. Selanjutnya diangin-anginkan. Sampel
(kerupuk rambak basah) diambil untuk dilakukan pengujian kadar air, kadar protein
dan kadar kalsium.
5. Pengguntingan dilakukan dengan menggunting ukuran 3x2 cm.
6. Pengeringan I
Pengeringan dengan sinar matahari selama 1 hari.
7. Perendaman bumbu
Kerupuk hasil pengeringan I direndam dalam larutan bumbu. Komposisi
bumbu garam 2%, bawang putih 5% dan penyedap rasa 1,5%.
8. Pengeringan II
Pengeringan dengan sinar matahari 2-3 hari (sampai kering). Sampel (kerupuk rambak
kering) diambil untuk pengujian kadar air, kadar protein, kadar kalsium dan daya
kembang.
9. Penggorengan
Penggorengan I (kerupuk dimasukkan tempat penggorengan pada suhu ± 80oC selama
5 menit) dan diperam dalam bak selama 1 hari. Penggorengan II (suhu ± 80o C selama
± 10 menit). Penggorengan III (suhu ± 160oC sampai mengembang sempurna)
Tabel 1. Rata-rata kadar air (%) kerupuk rambak kulit sapi dan hasil UJBD
Perlakuan Rata-rata
Basah Kering Matang
P1 19,5751c 1,9888b 0,4089b
P2 16,6010bc 1,8551ab 0,2434ab
P3 14,7319ab 1,6762a 0,1403a
P4 12,2322a 1,8385a 0,1084a

Keterangan : Notasi yang berbeda pada tiap-tiap kolom menunjukkan perbedaan pengaruh
yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar air kerupuk rambak kulit sapi

Rata-rata kadar air pada kerupuk rambak matang pada P1, P2, P3 dan P4 berturut-turut
sebesar 0,4089; 0,2434; 0,1403; dan 0,1084. Berdasar hasil tersebut perlakuan pengapuran
selama 96 jam menghasilkan kadar air terbaik. Kadar air sebesar 0,60%-2,30% merupakan
tingkat kadar air yang umum untuk produk pangan kering (Matz, 1984). Kadar air yang
rendah akan meningkatkan kerenyahan pada produk, karena semakin banyak air yang keluar
dari bahan maka semakin banyak ruang kosong yang terdapat dalam jaringan sehingga pada
saat kerupuk digoreng akan mengembang sampai tingkat tertentu dan menyebabkan kerupuk
menjadi lebih renyah. Tekstur bahan dikatakan renyah jika memiliki kadar air <5%
(Muchtadi, Purwoyatno dan Basuki, 1987).
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

1) Proses penyamakan kulit adalah proses pengolahan kulit binatang melalui beberapa
tahapan proses sehingga kulit binatang yang masih utuh dirubah menjadi kulit yang siap
digunakan untuk pembuatan produk-produk hilir seperti sepatu, dompet, ikat pinggang,
jok kursi dan sebagainya.
2) Penyamakan terdiri dari 3 tahapan yaitu;
a) Pra-penyamakan
b) Penyamakan
c) Pasca penyamakan
3) Jenis penyamakan ada 4 yaitu ;
a) Penyamakan mineral
b) Penyamakan nabati
c) Penyamakan menggunakan krom
d) Penyamakan minyak
4) Penyamakan kulit bisa menggunakan mikroorganisme ataupun enzim pada proses pra-
penyamakan.
5) Pengolahan kulit bisa dimanfaatkan sebagai produk pangan yang dapat dikonsumsi
masyarakat.