Anda di halaman 1dari 18

“ANALISIS KORUPSI ATAS PENGELOLAAN KEUANGAN ANGGARAN

PENDAPATAN BELANJA DAERAH (APBD) DI KOTA MALANG”

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Pemerintahan

Disusun oleh :

• Nabila Angraini (0221 16 123)

• Yolanda Anisa Fitri (0221 16 124)

• Wira Ade Putra (0221 16 126)

• Rifa Aulia Suherman (0221 16 133)

• Yofi Luqmanul Hakim (0221 16 135)

• Dewi Sevie Amelia (0221 16 136)

Kelas : 5D Akuntansi
FAKULTAS EKONOMI
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
UNIVERSITAS PAKUAN BOGOR
2018/2019

ii
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT atas berkat
rahmat dan karuniaNya yang diberikan kepada kita semua sebagai umatnya, Kami
dapat menyusun paper dengan judul “ANALISIS KORUPSI ATAS
PENGELOLAAN KEUANGAN ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA
DAERAH (APBD) DI KOTA MALANG” ini untuk memenuhi mata kuliah
Akuntansi Pemerintah yang memiliki suatu muatan soft skill yang membuat kami
menjadi diri yang mandiri.

Paper studi kasus yang disusun untuk mempelajari lebih detail mengenai
bagaimana kronologi korupsi yang dilakukan oleh salah satu satuan kerja
pemerintah di indonesia, kami berharap informasi yang kami dapatkan tidak
hanya untuk kami melainkan untuk para pembaca sebagai ilmu untuk menambah
wawasan serta dapat mengambil hikmah atau pelajaran dari kasus yang kami
sajikan ini.

Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada dosen mata
kuliah Akuntansi Pemerintahan yaitu Bapak Sudjatmiko Wibowo yang telah
membimbing kami dalam menyusun paper studi kasus ini, semoga Paper studi
kasus ini dapat memberikan pelajaran positif mengenai pemerintahan diindonesia
dan memberikan manfaat dalam hidup kami nantinya . Dari lubuk hati yang
paling dalam, sangat disadari bahwa paper studi kasus yang kami buat masih jauh
dari sempurna . Oleh sebab itulah tidak ada salahnya kami mengharapkan
berbagai kritik dan saran yang membangun untuk lebih baik kedepannya.

Bogor, Oktober 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................i

DAFTAR ISI......................................................................................................................ii

BAB I.................................................................................................................................1

PENDAHULUAN..............................................................................................................1

1.1 Latar Belakang Masalah...........................................................................................1

1.2 Perumusan Masalah..................................................................................................2

1.3 Tujuan Penelitian......................................................................................................2

BAB II................................................................................................................................4

PEMBAHASAN................................................................................................................4

2.1 Kronologi Kasus Korupsi di Kota Malang...............................................................4

2.2 Siklus Keuangan Pemerintahan Daerah....................................................................6

2.3 Modus Operansi.......................................................................................................7

2.4 Penyebab Terjadinya Kasus......................................................................................7

2.5 Akibat dan Dampak yang Ditimbulkan..................................................................10

BAB III............................................................................................................................12

PENUTUP........................................................................................................................12

3.1 Kesimpulan.............................................................................................................12

3.2 Saran.......................................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................14

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Secara umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Daerah (APBD)


adalah pernyataan tentang rencana pendapatan dan belanja daerah dalam
periode tertentu (1 tahun). Pada awalnya fungsi APBD adalah sebagai
pedoman pemerintah daerah dalam mengelola keuangan daerah untuk satu
periode. Selanjutnya, sebelum anggaran dijalankan harus mendapat
persetujuan dari DPRD sebagai wakil rakyat maka fungsi anggaran juga
sebagai alat pengawasan dan pertanggungjawaban terhadap kebijakan publik.
Dengan melihat fungsi anggaran tersebut maka seharusnya anggaran
merupakan power relation antara eksekutif, legislatif dan rakyat itu sendiri
(Sopanah & Wahyudi, 2004).

Semenjak DPRD mempunyai otoritas dalam penyusunan APBD terdapat


perubahan kondisi yang menimbulkan banyak masalah. Pertama, sistem
pengalihan anggaran yang tidak jelas dari pusat ke daerah. Kedua, karena
keterbatasan waktu partisipasi rakyat sering diabaikan. Ketiga, esensi otonomi
dalam penyusunan anggaran masih dipelintir oleh pemerintah pusat karena
otonomi pengelolaan sumber-sumber pendapatan masih dikuasai oleh pusat
sedangkan daerah hanya diperbesar porsi belanjanya. Keempat, ternyata
DPRD dimanapun memiliki kesulitan untuk melakukan asessment prioritas
kebutuhan rakyat yang harus didahulukan dalam APBD. Kelima, volume
APBD yang disusun oleh daerah meningkat hingga 80% dibandingkan pada
masa orde baru, hal ini menimbulkan masalah karena sedikit-banyak DPRD
dan pemerintah daerah perlu berkerja lebih keras untuk menyusun APBD.
Keenam, meskipun masih harus melalui pemerintah pusat namun pemerintah
menurut UU No 25 tahun 1999 memiliki kewenangan untuk melakukan
pinjaman daerah baik ke dalam negeri maupun ke luar negeri.

Kondisi yang berubah diatas memicu beberapa kecenderungan. Pertama,,


adanya jargon dari pemerintah daerah yang begitu kuat untuk meningkatkan
PAD (Pendapatan Asli Daerah) dalam rangka otonomi daerah. Dengan
demikian bagi beberapa daerah yang miskin SDA akan memilih menggali
PAD dengan meningkatan pajak. Bagi daerah kaya sekalipun meningkatkan
pajak adalah alternatif yang paling mudah karena tidak perlu melakukan
banyak investasi dibandingkan jika mengekplorasi SDA. Oleh karena itu tidak
heran bila kecenderungan meningkatkan pajak ini terjadi di banyak daerah
bahkan daerah yang kaya sekalipun.

Dengan mengingat bahwa tingkat korupsi birokrasi daerah di Indonesia


masih tinggi, hal ini ditunjukkan dalam survey kecenderungan korupsi
birokrasi yang diselenggarakan oleh PERC. Pada tahun 1999, angka
kecenderungan korupsi birokrasi menunjukkan angka 8,0 dari skala 0-10.

1
Dimana angka nol berarti mutlak bersih dan 10 berarti mutlak memiliki
kecenderungan korupsi. Dan satu tahun kemudian, tahun 2000, angka ini tidak
mengalami perbaikan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka
meningkatkan PAD akan lebih baik bila diprioritaskan dengan cara
mengurangi kebocoran pendapatan pemerintah daerah yang selama ini ada
bukan dengan cara meningkatkan pajak karena akan menyengsarakan rakyat
(Ardyanto, 2002)

Kedua, otoritas yang sangat besar bagi DPRD untuk menyusun APBD dan
menyusun anggaran untuk DPRD sangat memungkinkan terjadinya korupsi
APBD karena tidak ada pengawasan yang sistematis kecuali jika rakyat
mempunyai kesadaran yang tinggi. Dengan demikian kembali pada kenyataan
bahwa anggaran adalah power relation maka kemungkinan terjadinya suap
(bribery) terhadap DPRD untuk menyetujui pos anggaran tertentu yang tidak
dibutuhkan rakyat sangat mungkin terjadi.

Sesungguhnya korupsi dapat dipandang sebagai fenomena politik,


fenomena sosial, fenomena budaya, fenomena ekonomi, dan sebagai
fenomena pembangunan. Karena itu pula upaya penanganan korupsi harus
dilakukan secara komprehensif melalui startegi atau pendekatan
negara/politik, pendekatan pembangunan, ekonomi, sosial dan budaya.
Berdasarkan pengertian, korupsi di Indonesia difahami sebagai perilaku
pejabat dan atau organisasi (negara) yang melakukan pelanggaran, dan
penyimpangan terhadap norma-norma atau peraturan-peraturan yang ada.
Korupsi difahami sebagai kejahatan negara (state corruption). Korupsi terjadi
karena monopoli kekuasaan, ditambah kewenangan bertindak, ditambah
adanya kesempatan, dikurangi pertangungjawaban. Jika demikian, menjadi
wajar bila korupsi sangat sulit untuk diberantas apalagi dicegah, karena
korupsi merupakan salah satu karakter atau sifat negara, sehingga
negara=Kekuasaan=Korupsi. Maka dari itu, mari kita berusaha untuk
menghilangkan korupsi di Indonesia ini.

1.2 Perumusan Masalah

Dapat dirumuskan sebuah permasalah dalam penelitian ini adalah faktor-


faktor (Modus Operasi, sebab-akibat) apa sajakah yang mempengaruhi
terjadinya korupsi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) di Kota
Malang?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan bukti empiris mengenai


berbagai factor-faktor (Modus Operasi, sebab-akibat) yang mempengaruhi
terjadinya korupsi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) khususnya di
Kota Malang yang hampir melibatkan seluruh anggota DPRD. Dari hasil
penelitian ini dapat digunakan sebagai bukti kongkrit dalam diskursus korupsi
dan upaya strategi pemberantasan korupsi, juga sebagai bahan untuk mendidik
publik untuk mengetahui struktur dan komponen APBD atau kelompok

2
anggaran yang selama ini di korupsi serta besarnya ongkos sosial ekonomi
yang ditimbulkan dari korupsi APBD.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kronologi Kasus Korupsi di Kota Malang

Modus dari korupsinya, uang pelicin untuk pembahasan APBD Perubahan


2015. Pelakunya, hampir seluruh anggota DPRD Kota Malang periode 2014–
2015 dan melibatkan Wali Kota Malang periode 2013–2018 M Anton. Hal ini
dipaparkan dalam surat dakwaan untuk anggota DPRD Kota Malang yang
sedang menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Surabaya. Sejauh ini, total
41 anggota dewan, Wali Kota Moch Anton dan seorang pejabat Pemkot
Malang sudah menetap sebagai tahanan.

Kasus bermula saat Rapat Paripurna I penyampaian dokumen Kebijakan


Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS)
APBD-P 2015. Disampaikan oleh Wali Kota Malang M Anton di Gedung
DPRD Kota Malang pada 25 Juni 2015. Rapat Paripurna pembahasan KUA-
PPAS yang melibatkan eksekutif dan legislatif itu berlanjut pada 6 Juli 2015.
Agendanya, penyampaian pendapat Badan Anggaran DPRD Kota Malang dan
pendapat fraksi-fraksi. Sebelum rapat dimulai, Ketua DPRD di ruangannya
bersama para pimpinan fraksi bertemu dengan Wali Kota Malang M Anton,
Wakil Wali Kota Malang Sutiaji, dan Sekretaris Daerah Cipto Wiyono. Saat
itulah anggota dewan meminta uang pokok pikiran (pokir).

Uang pokir itu sebagai imbalan agar pembahasan APBD-P Kota Malang
2015 berjalan lancar. Anton menyanggupinya dan memerintahkan Sekda Cipto
Wiyono untuk mencarikan uang pokir. Tahap berikutnya, Cipto
memerintahkan pejabat Dinas PUPPB untuk mengumpulkan duit pokir itu.
Jarot Edy Sulistiyono, Kepala Dinas PUPPB mengumpulkan uang sebesar Rp
700 juta dari para rekanan. Pada 14 Juli 2015, uang pokir itu diserahkan ke Arif
Wicaksono, Ketua DPRD Kota Malang di rumah dinasnya. Berikutnya, uang
dibagikan kepada seluruh anggota dewan.

Pada 22 Juli 2015, Rapat Paripurna dengan agenda Pendapat Akhir Fraksi
DPRD Kota Malang pun menyetujui rancangan APBD Perubahan 2015 yang
diajukan Pemkot Malang. Proyek multiyears senilai Rp 98 miliar yang
diajukan pemkot pun diloloskan dewan.Selain suap itu, KPK juga menduga
seluruh anggota DPRD Kota Malang menerima gratifikasi lainnya total senilai
Rp 5,8 miliar. Serta ‘uang sampah’ sebesar Rp 300 juta yang dibagikan pada
semuanya untuk memuluskan proyek di TPA Supit Urang.

Pengeledahan KPK

Dua tahun berselang, 9 Agustus 2017 siang. Rombongan penyidik KPK


tiba di Balai Kota Malang. Mereka menggeledah ruang kerja Wali Kota
Malang M Anton dan ruang lainnya. Malamnya, giliran rumah dinas Ketua
DPRD Kota Malang Arif Wicaksono diperiksa penyidik. Dokumen induk

4
APBD 2019 dan dokumen lainnya disita penyidik dari kantor wali kota.
Sedangkan dari rumah dinas Arif Wicaksono, sejumlah dokumen termasuk
uang puluhan juta rupiah dan mata uang asing disita.

Sehari kemudian, giliran Gedung DPRD yang berdiri tepat di samping


kantor wali kota turut geledah. Penyidik juga turut menggeledah sejumlah
perkantoran milik Pemkot Malang. Secara terus menerus, berbagai perkantoran
Pemkot Malang ikut digeledah. KPK saat itu juga menetapkan Arif Wicaksono
sebagai tersangka. Arif anggota dewan yang pertama berstatus tersangka. Ia
kemudian ditahan komisi antirasuah pada 2 November 2017. Berikutnya, Jarot
Edy Sulistiyono, Kepala Dinas PUPPB juga ditahan dengan status tersangka.
Keduanya sudah divonis penjara dalam kasus suap pembahasan APBD-P 2015
itu. Arif Wicaksono divonis 5 tahun penjara, sedangkan Jarot diputus 2 tahun
penjara di Pengadilan Tipikor Surabaya.

Gelombang Tersangka

Komisi antirasuah terus melanjutkan penyidikan kasus tersebut. Berkali–


kali para anggota dewan dan Wali Kota Malang M Anton dipanggil untuk
pemeriksaan. Termasuk menggeledah ulang beberapa tempat serta lokasi baru.
Aliran uang suap itu pun menyeret Wali Kota Malang M Anton jadi pesakitan.
Ia ditetapkan sebagai tersangka pada 21 Maret 2018. Anton tak sendirian, 18
anggota DPRD Kota Malang turut mendampinginnya berompi oranye pada
saat itu. Ke-18 anggota dewan itu antara lain, Abdul Hakim (PDI-P), Tri
Yudiani (PDI-P), Suprapto (PDI-P), Sulik Lestyowati (Demokrat), Imam Fauzi
(PKB), Bambang Sumarto (Golkar), Sugiarti (Golkar), Heri Pudji Utami (PPP).
Abd Rochman (PKB), Syaiful Rusdi (PAN), Mohan Katelu (PAN), Sahrawi
(PKB), Salamet (Gerindra, Wiwik Hendri Astuti, Sukarno (Golkar), Hery
Subiantoro (demokrat), Zainuddin HS (PKB) dan Ya’qud Ananda Gudban
(Hanura),Ya’qud Ananda Gudban saat itu baru mundur dari kursi DPRD Kota
Malang. Lantaran maju sebagai Wali Kota Malang pada Pilkada 2018. M
Anton yang juga maju lagi sebagai calon wali kota. M Anton sendiri sudah
divonis 2 tahun penjara. Sedangkan 18 nama anggota dewan itu kini masih
menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Surabaya. Selama persidangan itu
pula, nama–nama anggota dewan lainnya turut disebut ikut menikmati uang
pokir saat pembahasan APBD-P 2015. Pada Senin, 3 September 2018 lalu,
giliran 22 anggota dewan dipanggil KPK setelah sebelumnya berkali–kali
diperiksa sebagai saksi. Mereka ditetapkan sebagai tersangka sekaligus ditahan
di Jakarta. Mereka adalah, Syamsul Fajrih (PPP), Sugiarto (PKS), Hadi
Santoso (PDI-P), Indra Tjahyono (Demokrat), Harun Prasojo (PAN), M Fadli
(Nasdem), Bambang Triyoso (PKS), Een Ambarsari (Gerindra), Erni Farida
(PDI-P), Choirul Amri (PKS) Afdhal Fauza (Hanura). Teguh Mulyono (PDI-
P), Mulyanto (PKB), Arief Hermanto (PDI-P), Choeroel Anwar (Golkar),
Suparno (Gerindra) Soni Yudiarto (Demokrat), Ribut Haryanto (Golkar),
Teguh Puji (Gerindra), Asia Iriani (PPP), Diana Yanti (PDI-P) dan Imam
Gozali (Hanura).

5
Pemerintahan Lumpuh

Praktis saat ini hanya tersisa 5 anggota dari total 45 anggota DPRD Kota
Malang. Subur Triono (PAN), Priyatmoko Oetomo (PDI-P), Tutuk Haryani
(PDI-P) jadi tiga lama nama tersisa. Sedangkan dua nama baru adalah
Abdulrahman (PKB) dan Nirma Cris Nindya dari (Hanura). Abdulrahman
menggantikan rekannya, Rasmuji yang meninggal pada 2017 silam. Sedangkan
Nirma Cris Nindya dilantik sebagai anggota dewan pada Juli lali,
menggantikan Ya’qud Ananda Gudban yang sudah lebih dulu mundur.

Roda pemerintahan di kota ini pun lumpuh. Agenda pembahasan APBD


Perubahan 2018, Rancangan APBD 2019, pelantikan Wali Kota Malang
terpilih periode 2018–2023, pengesahan sejumlah rancangan peraturan daerah
tak bisa dilakukan. Seluruh partai politik bersama Gubernur Jawa Timur
Soekarwo, Wali Kota Malang terpilih Sutiaji sudah menggelar pertemuan.
Disepakati ada percepatan pergantian antar waktu (PAW) untuk para anggota
dewan yang ditahan karena kasus suap tersebut. PAW untuk anggota DPRD
Kota Malang itu ditarget selesai sekaligus dilantik pada Senin, 10 September
depan. Agar pemerintahan kembali bisa melaju dan tak mengganggu segala
pelayanan publik dan rencana pembangunan.

2.2 Siklus Keuangan Pemerintahan Daerah

6
2.3 Modus Operansi

Modus dari korupsinya adalah uang pelicin untuk pembahasan APBD


Perubahan 2015. Para koruptor ini menyebut uang suap ini dengan alibi
sebagai uang Pokok Pikiran atau Pokir untuk melancarkan kebijakan umum
anggaran KUA dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) agar
disetujui.

Dalam siklus pengelolaan keuangan daerah terdapat beberapa tahap yang


pertama yaitu pembuatan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah) yang dibuat oleh Wali Kota Malang sesuai dengan visi misi dan
RPJM Nasional. Lalu tahap berikutnya adalah dibuatnya RKPD (Rencana
Kerja Pemerintah Daerah) yang berpedoman pada pedoman Permendagri No
33 tahun 2017 tentang program penyusunan APBD. Lalu celah korupsinya
dimulai dari tahap ini yaita penyampaian dokumen kebijakan umum anggaran
KUA dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) yang dibuat oleh
sekertaris daerah untuk disampaikan kepada kepala daerah sebagai pedoman
dalam penyusunan APBD.

KUA dan PPAS disampaikan kepada Bada Eksekutif dan Legislatif


dalam rapat Paripurna. Karena persetujuan ini di berikan oleh Badan Eksekutif
dan Legislatif maka pintu celah korupsi terbuka. Mengingat dalam RAPBD ini
terdapat beberapa kepentingan, tak sedikit kepala daerah menghalalkan segala
cara agar RAPBD dapat disetujui. Salah satunya dengan menyuap para
anggota Eksekutif dan Legislatif. Tak ayal hal ini juga dimanfatkan para
anggota Eksekutif dan Legislatif untuk memperkaya diri sendiri. Selain itu,
kepentingan fraksi yang menaungi para anggota Eksrkutif dan legislatif ini
mempengaruhi keputusan penyetujuan RAPBD.

2.4 Penyebab Terjadinya Kasus

Terjadinya korupsi disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu (1) sistem


pemerintahan dan birokrasi yang memang kondusif untuk melakukan
penyimpangan, (2) belum adanya sistem kontrol dari masyarakat yang kuat,
dan belum adanya perangkat peraturan dan perundang-perundangan yang
tegas. Faktor lainnya menurut Fadjar (2002) adalah tindak lanjut dari setiap
penemuan pelanggaran yang masih lemah dan belum menunjukkan “greget”
oleh pimpinan instansi. Terbukti dengan banyaknya penemuan yang ditutup
secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas serta tekad dalam pemberantasan
korupsi dan dalam penuntasan penyimpangan yang ada dari semua unsur tidak
kelihatan. Disamping itu kurang memadainya sistem pertanggungjawaban
organisasi pemerintah kepada masyarakat yang menyebabkan banyak proyek
yang hanya sekedar pelengkap laporan kepada atasan.
Menurut Arifin (2000) faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi adalah: (1)
aspek prilaku individu organisasi, (2) aspek organisasi, dan (3) aspek
masyarakat tempat individu dan organisasi berada. Sementara menurut Lutfhi
(2002) faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi adalah: (1) motif, baik motif
ekonomi maupun motif politik, (2) peluang, dan (3) lemahnya pengawasan.

7
Berdasarkan uraian sebelumnya, dalam penelitian ini penulis
mengelompokkan empat aspek yang menyebabkan terjadinya korupsi APBD
di wilayah Malang Raya yaitu:

1. Aspek Prilaku individu

Apabila dilihat dari segi pelaku korupsi, sebab-sebab dia melakukan


korupsi dapat berupa dorongan dari dalam dirinya, yang dapat pula dikatakan
sebagai keinginan, niat, atau kesadaran untuk melakukan. Sebab-sebab
manusia terdorong untuk melakukan korupsi antara lain : (a) sifat tamak
manusia, (b) moral yang kurang kuat menghadapi godaan, (b) penghasilan
kurang mencukupi kebutuhan hidup yang wajar, (d) kebutuhan hiduop yang
mendesak, (e) gaya hidup konsumtif, (f) tidak mau bekerja keras, (g) ajaran-
ajaraan agamaa kurang diterapkan secara benar.

Dalam teori kebutuhan Maslow, demikian dikatakan Sulistyantoro (2004)


korupsi seharusnya hanya dilakukan oleh orang untuk memenuhi dua
kebutuhan yang paling bawah dan logika lurusnya hanya dilakukan oleh
komunitas masyarakat yang pas-pasan yang bertahan hidup, namum saat ini
korupsi dilakukan oleh orang kaya, pendidikan tinggi. Selanjutnya, poling
yang dilakukan oleh Malang Corruption Watch (MCW) berdasarkan jawaban
dari 9273 responden, hasilnya menunjukkan sekitar 30,2% korupsi terjadi
karena aspek individu demi kepentingan pribadinya. Pola-pola penyimpangan
yang terjadi biasanya tidak bekerja pada saat jam kantor (14,2%), pemakaian
fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi dan keluarganya (10%), dan (6)%
adalah biaya pengurusan sesuatu yang berkaitan dengan adminstarsi (MCW,
2004).

2. Aspek Organisasi Kepemerintahan

Organisasi dalam hal ini adalah organisasi dalam arti yang luas,
termasuk sistem pengorganisasian lingkungan masyarakat. Organisasi yang
menjadi korban korupsi atau dimana korupsi terjadi biasanya memberi andil
terjadinya korupsi karena membuka peluang atau kesempatan untuk terjadinya
korupsi (Tunggal, 2000). Bilamana organisasi tersebut tidak membuka
peluang sedikitpun bagi seseorang untuk melakukan korupsi, maka korupsi
tidak akan terjadi. Aspek-aspek penyebab terjadinya korupsi dari sudut
pandang organisasi ini meliputi: (a) kurang adanya teladan dari pimpinan, (b)
tidak adanya kultur organisasi yang benar, (c) sistem akuntabilitas di instansi
pemerintah kurang memadai, (d) manajemen cenderung menutupi korupsi di
dalam organisasinya.Berdasarkan jejak pendapat yang dilakukan oleh Kompas
29/7/2004 di kota Surabaya, Medan, Jakarta dan Makasar, menyebutkan
bahwa korupsi yang terjadi di tubuh organisasi kepemerintahan (eksekutif)
maupun legislatif. Tidak kurang dari 40 persen responden menilai bahwa
tindakan korupsi dilingkungan birokrasi kepemerintahan dan wakil rakyat di

8
daerahnya semakin menjadi-jadi. hanya 20 persen responden saja yang
berpendapat bahwa prilaku korupsi di pemkot dan DPRD masing-masing
sudah berkurang.

3. Aspek Peraturan Perundang-Undangan

Tindakan korupsi mudah timbul karena ada kelemahan di dalam


peraturan perundang-undangan, yang dapat mencakup: (a) adanya peraturan
perundang-undangan yang monolistik yang hanya menguntungkan kerabat
dan konco-konco presiden, (b) kualitas peraturan perundang-undangan kurang
memadai, (c) peraturan kurang disosialisasikan, (d) sangsi yang terlalu ringan,
(e) penerapan sangsi yang tidak konsisten dan pandang bulu, (f) lemahnya
bidang evalusi dan revisi peraturan perundang-undangan. Beberapa ide
strategis untuk menanggulangi kelemahan ini telah dibentuk oleh pemerintah
diantaranya dengan mendorong para pembuat undang-undang untuk
melakukan evaluasi atas efektivitas suatu undang-undang secara terencana
sejak undang-undang tersebut dibuat.

Lembaga-lembaga ekskutif (Bupati/Walikota dan jajarannya) dalam


melakukan praktek korupsinya tidak selalu berdiri sendiri, akan tetapi melalui
suatu kosnpirasi dengan para pengusaha atau dengan kelompok kepentingan
lainnya misalnya, dalam hal penentuan tender pembangunan yang terlebih
dahulu pengusaha menanamkan saham kekuasaannya lewat proses
pembiayaan pengusaha dalam terpilihnya bupati/Walikota tersebut. Kemudian
mereka secara bersama-sama dengan DPRD, Bupati/Walikota membuat
kebijakan yang koruptif yang hanya menguntungkan sebagian kecil
masyarakat yaitu para kolega, keluarga maupun kelompoknya sendiri. Dengan
kemampuan lobi kelompok kepentingan dan pengusaha kepada pejabat publik
yang berupa uang sogokan, hadiah, hibah dan berbagai bentuk pemberian
yang mempunyai motif koruptif telah berhasil membawa pengusaha
melancarkan aktifitas usahanya yang berlawanan dengan kehendak
masyarakat, sehingga masyarakat hanya menikmati sisa-sisa ekonomi kaum
borjuasi atau pemodal yang kapitalistik. Dari kasus ini dapat disimpulkan
bahwa terjadinya korupsi APBD sangat mungkin jika aspek peraturan
perundang-undangan sangat lemah atau hanya menguntungkan pihak tertentu
saja. Hal senada juga dikemukakan oleh Basyaib, dkk (2002) yang
menyatakan bahwa lemahnya sistem peraturan perundang-undangan
memberikan peluang untuk melakukan tindak pidana korupsi.

Hasil pooling yang dilakukan oleh Malang Corruption Watch (MCW)


berdasarkan jawaban dari 9273 responden menunjukan bahwa sekitar 22,2%
korupsi terjadi di Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) (MCW, 2004). Bentuk
korupsi ini terjadi karena lemahnya peraturan perundang-undangan didaerah.

4. Aspek Pengawasan

Pengawasan yang dilakukan instansi terkait (BPKP, Itwil, Irjen,


Bawasda) kurang bisa efektif karena beberapa faktor, diantaranya (a) adanya
tumpang tindih pengawasan pada berbagai instansi, (b) kurangnya

9
profesionalisme pengawas, (c) kurang adanya koordinasi antar pengawas (d)
kurangnya kepatuhan terhadap etika hukum maupun pemerintahan oleh
pengawas sendiri. hal ini sering kali para pengawas tersebut terlibat dalam
praktik korupsi. belum lagi berkaitan dengan pengawasan ekternal yang
dilakukan masyarakat dan media juga lemah, dengan demikian menambah
deretan citra buruk pengawasan APBD yang sarat dengan korupsi. Hal inis
sejalan dengan pendapatnya Baswir (1996) yang mengemukakan bahwa
negara kita yang merupakan birokrasi patrimonial dan negara hegemonik
tersebut menyebabkan lemahnya fungsi pengawasan, sehingga merebaklah
budaya korupsi itu.

Secara umum pengawasan terbagi menjadi dua, yaitu pengawasan internal


(pengawasan fungsional dan pengawasan langsung oleh pimpinan) serta
pengawasan bersifat eksternal (pengawasan dari legislatif dan masyarakat).
Dimana pengawasan ini kurang bisa efektif karena adanya beberapa faktor,
diantaranya adanya tumpang tindih pengawasan pada berbagai instansi,
kurang profesionalismenya pengawas serta kurangnya kepatuhan pada etika
hukum maupun pemerintahan oleh pengawas sendiri. Dan berkaitan dengan
hal ini pengawas sendiri sering kali terlibat dalam praktek korupsi.

2.5 Akibat dan Dampak yang Ditimbulkan

Pembangunan di Kota Malang, Jawa Timur, terancam lumpuh. Sebanyak


41 dari 45 anggota DPRD Kota Malang terseret kasus korupsi yang ditangani
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Moch Arief Wicaksono selaku
mantan Ketua DPRD Kota Malang yang diciduk pertama kali sudah menjadi
terpidana dengan vonis 5 tahun penjara.Sedangkan, 18 anggota DPRD Kota
Malang masih menjadi terdakwa dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana
Korupsi (Tipikor) Surabaya dan 22 anggota lainnya masih menjalani
pemeriksaan di gedung KPK di Jakarta.

Mereka yang masih dalam pemeriksaan adalah Asia Iriani (PPP), Indra
Tjahyono (Demokrat) Choeroel Anwar (Golkar), Moh Fadli (NasDem),
Bambang Triyoso (PKS), Een Ambarsari (Gerindra), Erni Farida (PDI-P),
Syamsul Fajrih (PPP), Choirul Amri (PKS) Teguh Mulyono (PDI-P) dan
Imam Ghozali (Hanura).Selain itu juga ada Suparno (Gerindra), Afdhal Fauza
(Hanura), Soni Yudiarto (Demokrat), Ribut Haryanto (Golkar), Teguh Puji
Wahyono (Gerindra), Harun Prasojo (PAN), Hadi Susanto (PDI-P), Diana
Yanti (PDI-P) dan Sugiarto (PKS) serta Arief Hermanto (PDI-P) dan
Mulyanto (PKB).

Dengan demikian, anggota dewan yang tersisa tinggal lima orang. Yakni
Abdurrochman (PKB) selalu wakil ketua dan pimpinan dewan satu-satunya,
Subur Triono (PAN), Priyatmoko Oetomo (PDI-P) dan Tutuk Haryani (PDI-
P). Ditambah satu lagi anggota dewan hasil PAW dari Yaqud Ananda
Gudban yang sudah menjadi terdakwa, yaitu Nirma Cris Desinidya (Hanura).
Abdurrochman mengatakan, sejumlah agenda di DPRD Kota Malang
terbengkalai akibat kasus tersebut. Salah satunya adalah sidang paripurna
LKPJ akhir masa jabatan Wali Kota Malang 2013 - 2018, sidang paripurna

10
pengesahan P-APBD tahun anggaran 2018 dan pembahasan APBD induk
tahun anggaran 2019. Agenda-agenda tersebut menjadi agenda penting karena
menyangkut keberlangsungan pembangunan di Kota Malang.

APBD-P kemarin baru mulai. Belum sampai detil. Masih nunggu di-
Bamus-kan, sudah dijadwalkan, akhirnya ditunda," katanya di gedung DPRD
Kota Malang, Senin (3/9/2018). Padahal, menurutnya, Bulan September ini
P-APBD tahun anggaran 2018 harusnya sudah bisa disahkan. Tidak hanya
itu, pelantikan wali kota Malang terpilih yang dijadwalkan pada 22
September juga terancam gagal karena kasus tersebut. "Terancam tidak bisa
dilantik. Karena tidak kuorum," katanya. Kendati begitu, pelayanan di gedung
DPRD Kota Malang tetap berjalan. Termasuk jika ada kunjungan kerja dari
DPRD kota lain.

Sementara itu, KPK terus mendalami kasus suap pembahasan P-APBD


Kota Malang tahun anggaran 2015 yang dikenal dengan uang "pokir" senilai
Rp 700 juta, korupsi "uang sampah" senilai Rp 300 juta dan fee satu persen
dalam APBD Kota Malang tahun anggaran 2015 senilai Rp 5,8 miliar.
Mantan Wali Kota Malang M Anton dan mantan Kepala Dinas Pekerjaan
Umum, Perumahan, dan Pengawasan Bangunan (PU-PPB) Kota Malang Jarot
Edy Sulistyono juga terseret dalam kasus itu. Mereka kini sudah menjadi
terpidana.

11
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Tujuan penelitian ini adalah menguji faktor-faktor yang mempengaruhi


terjadinya korupsi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) khusunya di
Malang Raya. Dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bukti kongkrit
dalam diskursus korupsi dan strategi upaya pemberantasan korupsi, juga sebagai
bahan untuk mendidik publik tentang besarnya ongkos sosial ekonomi yang
ditimbulkan dari korupsi.

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pertama, aspek prilaku individu tidak


berpengaruh signifikan terhadap terjadinya korupsi APBD. Kedua, aspek
organisasi kepemerintahan merupakan faktor yang berpengaruh signifikan
terhadap terjadinya korupsi APBD. Hubungan yang di tunjukkan adalah negatif
artinya semakin baik organisasi kepemerintahan maka semakin rendah korupsi
APBD yang terjadi. Ketiga, aspek peraturan perundang-undangan merupakan
faktor yang berpengaruh signifikan terhadap terjadinya korupsi APBD. Hubungan
yang di tunjukkan adalah negatif artinya semakin berkualitas peraturan
perundang-undangannya maka semakin rendah korupsi APBD yang terjadi.
Keempat, aspek pengawasan merupakan faktor yang berpengaruh signifikan
terhadap terjadinya korupsi APBD. Hubungan yang di tunjukkan adalah negatif
artinya semakin tinggi tingkat pengawasan yang dilakukan maka semakin rendah
korupsi APBD yang terjadi. Sementara hasil analisis secara simultan mendukung
hasil analisis secara partial, artinya secara bersama-sama faktor individu prilaku,
organisasi kepemerintahan, peraturan perundang-undangan, dan pengawasan
secara signifikan mempengaruhi terjadinya korupsi APBD.

3.2 Saran

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan literatur


akuntansi khususnya akuntansi sektor publik dan lebih spesifik mengenai korupsi
APBD. Implikasi bagi penelitian selanjutnya mengembangkan sampel yang lebih
luas kepada masyarakat. Banyak cara yang digunakan koruptor dalam melakukan
aksinya. Beragam modus dilakukan supaya praktik ilegal tersebut tak tercium oleh
penegak hukum. Saran dari kami agar para anggota KPK tidak kalah pintar
dengan para koruptor.

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan literatur


akuntansi khususnya akuntansi sektor publik dan lebih spesifik mengenai korupsi
APBD. Implikasi bagi penelitian selanjutnya mengembangkan sampel yang lebih
luas kepada masyarakat. Diharapkan sampel yang diambil adalah yang benar-
benar mewakili pendapat masyarakat yang mempunyai kepedulian yang tinggi
terhadap pemberantasan korupsi. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat
menambah variabel lain seperti pola-pola atau modus korupsi APBD, dampak-
dampak korupsi APBD, serta strategi pemberantasan korupsi APBD. Selain

12
analisis, penelitian ini juga bisa dikembangkan ke dalam berbagai model
penelitian korelasional yang berpengaruh terhadap korupsi APBD, seperti
partisipasi masyarakat, trasparansi dan akuntabilitas, performance budget,
disiplin anggaran, value for money, keadilan anggaran, anggaran peka gender dan
lain-lain.

13
DAFTAR PUSTAKA

http://lindamaya.blogspot.com/2013/11/karya-ilmiah-audit-akuntansi-
pemerintah.html?m=1

https://www.google.com/amp/s/m.liputan6.com/amp/3638042/ini-kronologi-
korupsi-massal-dprd-kota-malang

https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/50468109/290.doc?
AWSAccessKeyId=AKIAIWOWYYGZ2Y53UL3A&Expires=1539684477&Sig
nature=sTYZjJjcNli%2F0WcFRpIdxxgrEcc%3D&response-content-
disposition=inline%3B%20filename%3DANALISIS_FAKTOR-
FAKTOR_YANG_MEMPENGARUHI.doc

14