Anda di halaman 1dari 24

MATERI INTI 4

PELAYANAN BAGI INDIVIDU DAN KELUARGA SAAT BENCANA

I. DESKRIPSI SINGKAT
Bencana, terutama bencana alam merupakan suatu peristiwa yang terjadi secara
mendadak dan tidak dapat dicegah. Dampak dari terjadinya bencana memiliki
rentang yang sangat luas, mulai dari dampak korban meninggal, kerusakan
infrastrukstur, ekonomi, sosial meliputi individu dan keluarga. Akan tetapi
dampak dari bencana alam ini dapat diminimalkan, dengan kesiapsiagaan dan
respon yang efektif.

Untuk dapat merespon kejadian bencana secara efektif, perawat sebagai salah
satu tenaga kesehatan yang memegang peranan penting pada tim respon
bencana perlu mempersiapkan diri secara optimal.

Pada materi inti ini akan dilakukan pemaparan dan eksplorasi terkait berbagai
kompetensi dasar yang diperlukan untuk memberikan pelayanan secara optimal
bagi individu dan keluarga pada saat terjadi bencana.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN


A. Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti materi ini, peserta mampu melakukan pelayanan bagi
individu dan keluarga saat bencana.

B. Tujuan Pembelajaran Khusus


Setelah mengikuti materi ini peserta mampu:
1. Menjelaskan manajemen krisis saat bencana
2. Melakukan pengkajian kebutuhan keperawatan individu
3. Melakukan tindakan keperawatan saat bencana

III. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN


Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan dan sub pokok bahasan sebagai
berikut:
Pokok Bahasan 1. Manajemen Krisis Saat Bencana

Pokok Bahasan 2. Pengkajian kebutuhan keperawatan individu

Pokok Bahasan 3. Tindakan keperawatan saat bencana


Sub pokok bahasan:
a. Triage bencana
b. Tindakan untuk pemenuhan kebutuhan klien akibat bencana
c. Lingkungan yang aman untuk korban selamat (individu, keluarga, dan
masyarakat) dan petugas kesehatan
b. Sistem rujukan
c. Pencegahan penyebaran penyakit menular
d. Dokumentasi asuhan keperawatan bencana

IV. METODE
 Tugas baca
 Ceramah tanya jawab
 Simulasi table top
 Exercises
V. MEDIA DAN ALAT BANTU

 Bahan tayang
 Modul
 Laptop
 LCD
 ATK
 Formulir exercises
 Skenario simulasi
 Table top exercises

VI. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

Langkah-langkah kegiatan pembelajaran ini menguraikan tentang kegiatan


fasilitator dan peserta dalam proses pembelajaran selama sesi ini berlangsung (8
JPL: 8 x 45 menit = 360 menit), adalah sebagai berikut:

Langkah 1.
Pengkondisian (20 menit)
Langkah Pembelajaran:
1. Fasilitator menyapa peserta dengan ramah dan hangat. Apabila belum pernah
menyampaikan sesi di kelas, mulailah dengan perkenalan. Perkenalkan diri
dengan menyebutkan nama lengkap, instansi tempat bekerja dan judul materi
yang akan disampaikan.
2. Menciptakan suasana nyaman dan mendorong kesiapan peserta untuk
menerima materi dengan menyepakati proses pembelajaran.
3. Dilanjutkan dengan penyampaian judul materi, deskripsi singkat, tujuan
pembelajaran serta ruang lingkup pokok bahasan yang akan dibahas pada sesi
ini.

Langkah 2.
Penyampaian dan pembahasan pokok bahasan 1. Manajemen krisis saat bencana
(90 menit).
Langkah pembelajaran:
1. Fasilitator menjelaskan tentang manajemen krisis saat bencana
2. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya terkait
dengan pokok bahasan yang disampaikan
3. Fasilitator memberikan umpan balik
4. Fasilitator melanjutkan, menjelaskan formulir B-1 dan B-4 tentang cara
pelaporan kejadian saat bencana
5. Fasilitator memberikan kesempatan peserta untuk bertanya atau
menyampaikan klarifikasi, kemudian fasilitator menyampaikan jawaban atau
tanggapan yang sesuai.

Langkah 3.
Penyampaian dan pembahasan pokok bahasan 2. Pengkajian kebutuhan
keperawatan individu (45 menit).
Langkah pembelajaran:
1. Fasilitator menjelaskan pokok bahasan pengkajian kebutuhan keperawatan
individu dengan menggunakan metode ceramah tanya jawab.
2. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan
pengalamannya tentang kebutuhan yang diperlukan saat bencana dan
menghubungkan dengan pengkajian keperwatan untuk membuat prioritas
kebutuhan individu saat bencana.
3. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk latihan/exercises
cara melakukan pengkajian individu dan keluarga saat terjadi bencana melalui
kasus.
4. Fasilitator memberikan umpan balik terhadap latihan yang diberikan kepada
peserta.

Langkah 4.
Penyampaian dan pembahasan pokok bahasan 3: Tindakan keperawatan saat
bencana (180 menit)
1. Fasilitator memberikan penjelaskan tentang triase bencana, zona bencana,
sitem rujukan, pencegahan penyebaran penyakit menular, dan dokumentasi
asuhan keperawatan.
2. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya dan
memberikan masukan terkait dengan pokok bahasan 3.
3. Fasilitator memberikan umpan balik terkait dengan pertanyaan peserta.
4. Fasilitator membagi peserta dalam beberapa kelompok untuk melakukan
simulasi dalam bentuk table top meliputi: pengkajian, triase, implementasi,
rujukan, penyakit menular, dan dokumentasi asuhan keperawatan bencana.
5. Fasilitator memberikan umpan balik terhadap simulasi table top yang
dilakukan oleh peserta.

Langkah 5.
Rangkuman dan kesimpulan (30 menit)
Langkah pembelajaran:
1. Fasilitator melakukan evaluasi untuk mengetahui penyerapan peserta terhadap
materi yang disampaikan dan pencapaian tujuan pembelajaran
2. Fasilitator merangkum point-point penting dari materi yang disampaikan.
3. Fasilitator membuat kesimpulan tentang materi yang diberikan dan menutup
sesi ini dengan memberikan apresiasi kepada seluruh peserta.

VII. URAIAN MATERI

Pokok Bahasan 1.
MANAJEMEN KRISIS SAAT BENCANA
Materi ini sangat berkaitan dengan materi inti 1. Identifikasi hazard dan resiko
bencana serta sistem surveillance bencana, mapping sumber daya rumah sakit
sebagai pusat rujukan ketika terjadi bencana, dan rumah sakit yang kolaps
ketika terjadi bencana.

Manajemen krisis kesehatan saat terjadi bencana bertujuan untuk


menyelamatkan nyawa, mencegah atau mengurangi kecacatan dengan
memberikan pelayanan yang terbaik bagi kepentingan korban 1. Dalam
pelaksanaannya, untuk mencapai tujuan tersebut terdapat lima tahapan
penanganan krisis, yaitu tahap penyiagaan, upaya awal, perencanaan operasi,
operasi tanggap darurat dan pemulihan darurat serta tahap pengakhiran misi 1.

Berdasarkan studi literatur tentang keefektifan manajemen bencana pada fase


respon, diketahui bahwa tenaga kesehatan yang berada pada area terjadinya
bencana langsung merespon bencana dengan melakukan pertolongan atau
tindakan keperawatan tanpa melakukan tahapan penanganan krisis. Akibatnya,
pertolongan yang dilakukan tidak memiliki scale impact yang besar; pertolongan
hanya diperuntukkan dalam jangka waktu yang pendek dan lebih pada
pendekatan per individu2,3. Oleh karena itu, sangat penting bagi tenaga
kesehatan yang kebetulan berada pada daerah yang sedang terjadi bencana
untuk mengetahui langkah-langkah apa yang perlu dilakukan pada setiap
tahapan penanganan krisis.
Prinsip pada manajemen krisis saat terjadi bencana adalah, sumber daya
manusia (dalam hal ini tenaga kesehatan) dialokasikan untuk melakukan
tahapan-tahapan penanganan krisis secara simultan (70%), baru kemudian
sumber daya sisa (30%) melakukan pertolongan kegawatdaruratan.

Tahap penyiagaan
Tahap ini bertujuan untuk menyiagakan sumber daya baik manusia maupun
logistik. Tahap ini terdiri dari peringatan awal, penilaian awal, dan penyebaran
informasi kejadian.

Pada peringatan awal, informasi terkait kejadian bencana dapat berasal dari
masyarakat dan berbagai sumber lainnya. Penilaian awal (initial assessment)
pada lokasi bencana memiliki pendekatan yang berbeda dengan penilaian awal
yang dilakukan dalam konteks kegawatdaruratan keseharian. Penilaian awal ini
berupa informasi singkat yang harus segera dilaporkan ke Pusat Pengendali
Kesehatan (Pusdalkes). Contoh form penilaian awal (B-1) dan form pelaporan
kejadian bencana melalui Short Message Service (SMS) (B-4) dapat dilihat pada
lampiran1. Kaitannya dengan materi inti 2 (komunikasi dan informasi.

Tahap Upaya Awal (initial action)


Selanjutnya pada tahap kedua, beberapa orang yang ditunjuk sebagai tim Rapid
Health Assessment (RHA) melakukan serangkaian aktivitas untuk memastikan
dampak kejadian dan kebutuhan yang diperlukan. Aspek penilaian pada
kegiatan RHA, yaitu aspek medis, epidemiologis, dan kesehatan lingkungan.
Anggota tim sebaiknya memiliki pengalaman dan pengetahuan dibidangnya dan
mampu bekerja dalam situasi bencana.

Aspek medis yang dinilai, yaitu kebutuhan pelayanan medis dan perawatan
korban pra rumah sakit, rumah sakit dan rujukan, meliputi:
a. mengidentifikasi lokasi bencana, daerah pusat bencana, akses transportasi
dan komunikasi, lokasi pos medis lapangan dan sumber daya yang berada di
lokasi.
b. mengidentifikasi pos medis terdepan, rumah sakit atau puskesmas rawat
inap terdekat untuk rujukan awal (data mengenai rumah sakit setempat
seharusnya sudah tersedia sebelum terjadi bencana). Kaitannya dengan
materi inti 1. Identifikasi hazard dan resiko bencana serta sistem surveillance
bencana, mapping sumber daya rumah sakit sebagai pusat rujukan ketika
terjadi bencana, dst.
c. mengidentifikasi pos medis belakang beserta sumber dayanya, yaitu rumah
sakit rujukan bagi korban yang memerlukan perawatan lebih lengkap.
d. mengidentifikasi pos medis sekunder, yaitu rumah sakit lain seperti rumah
sakit TNI, Polri atau swasta.
e. mengidentifikasi alur evakuasi medis dari lokasi bencana sampai pos
terdepan.

Tahap Rencana Operasi pra rumah sakit

Gambar 1. Alur evakuasi korban dengan sistem Noria1.

Tahap Rencana Operasi di Rumah Sakit

Rumah sakit harus memiliki alur penerimaan untuk merespon rujukan korban
bencana massal agar tidak terjadi kekacauan dalam manajemen dan pertolongan
para korban. Sumber daya baik manusia dan logistik juga harus memiliki protap
pendistribusian yang jelas.

Gambar 2. Pos Pelayanan Medis Depan/Belakang

Pokok Bahasan 2.
PENGKAJIAN KEBUTUHAN KEPERAWATAN INDIVIDU

Pengkajian kebutuhan individu saat bencana


Pengkajian yang dilakukan kepada individu saat bencana meliputi :
1. Melakukan pengkajian cepat tentang situasi bencana dan pelayanan
keperawatan yang dibutuhkan
2. Malakukan pengkajian riwayat kesehatan dan umur menjadi prioritas dalam
pengkajian ini, termasuk respons fisik dan psikologis saat bencana
3. Mengenali symptom dari penyakit dan pengukuran yang dilakukan untuk
menurunkan expose untuk orang yang selamat
4. Mengidentifikasi tanda dan simtom jika terkena bahan kimia, biologi,
radiologi dan radiasi nuklir.
5. Identifikasi ketidakbiasaan atau jenis penyakit dan luka yang mungkin
muncul, termasuk juga mungkin dampak bahan kimia, radiasi atau subtansi
lainnya yang berhubungan dengan bencana.
6. Membedakan kebutuhan untuk dekontaminasi, isolasi atau karantina jika
memungkinkan
7. Mengenali tingkat kesehatan dan mental yang dibutuhkan untuk
penanganan dan membuat skala prioritas.

Pokok Bahasan 3.
TINDAKAN KEPERAWATAN SAAT BENCANA
a. Triage bencana

Triase atau Triage adalah proses seleksi korban untuk menentukan prioritas
penanganan berdasar pada kriteria tertentu. Penanganan pra-rumah sakit
adalah tahap penanganan yang dilakukan sebelum korban mencapai rumah
sakit. Bebeda dengan fase pra-rumah sakit yang mengutamakan tindakan
resusitasi dan stabilisasi, pada fase rumah sakit juga direncanakan penanganan
sampai tahap definitif. Ketiga proses tersebut, triase – penanganan pra-rs –
penanganan intra rs, merupakan proses yang berurutan, sehingga memerlukan
kesamaan konsep dan koordinasi yang baik dari para petugasnya.

Pada keadaan bencana, triage dilakukan pada tiga tingkat, yaitu di tempat
(lokasi kejadian), triage medik, dan triage evakuasi.

1. Triage di lokasi kejadian


Triage yang digunakan di lokasi kejadian adalah kombinasi antara MASS dan
START triage.

MASS Triage membagi korban berdasarkan kemampuan mereka untuk bergerak.


Digunakan untuk menyaring secara cepat antara korban yang dapat bergerak
dan yang membutuhkan perawatan lanjutan. MASS singkatan dari Move,
Assess, Sort and Send. Pengelompokan triage terdiri dari:
Hijau : minimal/minor 24 jam
Kuning : delayed/bisa menunggu 4 jam
Merah : segera 2 jam
Hitam : meninggal

Move: Minta korban yang membutuhkan perawatan lanjut untuk


bergerak/berjalan mendekat kearah suara, korban yang dapat bergerak (tag
hijau). Selanjutnya, minta sisa korban untuk menggerakkan atau mengangkat
ekstremitas. Korban yang masih dapat menggerakan ekstremitas (tag hijau).

Assess-Sort: pada tahap pengkajian individu dapat dilakukan triage dengan


metode START; Simple Triage and Rapid Treatment. Pengkajian pada START
hanya menggunakan tiga komponen, yaitu RPM (Respiratory, Perfusion dan
Mental Status). Indikator pada masing-masing komponen, yaitu pernapasan
30x/menit, capillary refill 2 detik dan status mental mengikuti perintah yang
disingkat 30-2-can do. Pada START satu-satunya pertolongan pertama yang
dapat dilakukan selama dilakukan proses triage adalah membuka jalan napas
(memasukkan OPA), menghentikan perdarahan dengan bebat sederhana dan
mengelevasi kaki pada syok.
Gunakan pita berwarna merah, kuning, hijau dan hitam.
Send: Setelah dilakukan triage, korban dipindahkan ke pos medis lapangan atau
pos medis depan sesuai dengan zona bencana (akan dibahas pada pokok
bahasan 3).

Perlu digarisbawahi adalah apabila korban masih berada di lokasi bencana (zona
1) adalah memindahkan korban sesegera mungkin, membawa korban gawat
darurat ke fasilitas kesehatan sambil melakukan usaha pertolongan pertama
(membuka jalan napas/mengehentikan perdarahan dengan bebat sederhana den
mengelevasi kaki pada syok [lihat kembali materi START]). Resusitasi jantung
dan paru tidak boleh dilakukan dilokasi bencana (pos medis lapangan) pada
bencana massal karena membutuhkan waktu dan tenaga.

2. Triage Medik
Triage medik dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terlatih dan berpengalaman
di pos medis lapangan atau pos medis depan (intra hospital) untuk menentukan
perawatan yang dibutuhkan oleh korban. Triage menggunakan pendekatan
Airway, Breathing, Circulation dan Disability dengan empat level triage, yaitu
merah (untuk korban yang membutukan penanganan segera), kuning (untuk
korban yang memerlukan pengawasan ketat tetapi perawatan dapat ditunda
sementara), hijau (untuk korban yang tidak memerlukan pengobatan dan
perawatan dapat ditunda), dan hitam (korban meninggal dunia).

3. Triage Evakuasi
Triage evakuasi bertujuan untuk memilih korban yang membutuhkan perawatan
lebih lanjut di rumah sakit dengan sarana yang lebih lengkap atau pos medis
belakang. Pengiriman ke rumah sakit rujukan tipe B atau A atau rumah sakit
rujukan alternatif dan jenis kendaraan yang akan digunakan saat evakuasi perlu
diidentifikasi.

b. Tindakan untuk pemenuhan kebutuhan klien akibat bencana


Berdasarkan hasil studi literatur terkait tindakan spesifik dibutuhkan selama
bertugas di daerah bencana dikelompokkan berdasarkan area bertugas, yaitu
intra rumah sakit dan pre rumah sakit.

Di area intra rumah sakit tindakan yang diperlukan terbagi lagi berdasarkan
unit kerja, yaitu kamar operasi, UGD, ICU, ruang perawatan, dan seterusnya
berdasarkan jenis kasus atau korban yang dirujuk dari pre rumah sakit.

Pada area pre rumah sakit (lapangan) terdapat tujuh (7) kemampuan utama
terkait tindakan yang harus dimiliki oleh seorang perawat untuk merespon
kejadian bencana secara efektif7:
1. Transportasi dan evakuasi korban masal
2. Manajemen kegawatdaruratan
3. Haemostatis, bandaging, fiksasi, manual handling korban masal
4. Triage bencana/triage pada korban masal
5. Observasi dan monitoring korban masal
6. Tindakan awal untuk menangani krisis psikologis
7. Dokumentasi perawatan pasien di daerah bencana

Penjelasan secara terperinci ketujuh tindakan di atas telah dan akan


dijelaskan ke dalam subpokok bahasan pada materi ini.

c. Lingkungan yang aman untuk korban selamat (individu, keluarga, dan


masyarakat) dan petugas kesehatan sesuai zona bencana.

Penentuan zona aman pada kejadian bencana sangat penting. Manajemen zona
bencana membagi zona bencana menjadi tiga bagian, yaitu ring 1, ring 2 dan
ring 3. Pada beberapa literatur pembagian zona ini juga disebut hot, warm dan
cold zone atau RTR1, RTR2 dan RTR3 4. Meskipun dalam penamaan, sebutan
untuk zona tersebut berbeda-beda akan tetapi memiliki prinsip pembagian
yang sama (penjelasan lebih lengkap terkait ketiga zona tersebut akan
diberikan kemudian).

Pembagian zona bencana memiliki beberapa tujuan yaitu manajemen korban


selamat, manajaemen petugas kesehatan, manajemen sistem triage dan alur
rujukan4, seperti yang dipresentasikan pada gambar di bawah ini.

Keterangan:
RTR1 = Ring 1 = Hot zone
RTR2 = Ring 2 = Warm zone
RTR3 = Ring 3 = Cold zone
AC = Assembly Center
MC = Medical Care

RTR1 = Ring 1 = Hot zone


Merupakan area dari pusat terjadinya bencana sampai radius beberapa meter atau
kilometer. Penentuan jarak disesuaikan dengan jenis bencana, seperti letusan gunung
berapi, gempa bumi atau radiasi dan beberapa factor yang mempengaruhi seperti
arah angin dan semisalnya. Area ini merupakan area tidak aman untuk perawatan
medis. Responder hanya memiliki waktu terbatas di area ini. Korban yang masih
berada di area ini dilakukan triage dengan pendekatan MASS (lihat pembahasan
triage bencana) dan segera dilakukan evakuasi.

RTR2 = Ring 2 = Warm zone


Area dimana responder memiliki waktu untuk melakukan START triage dan
perawatan kondisi life threathening kemudian korban bisa dirujuk.

RTR3 = Ring 3 = Cold zone


Area ini berasa diluar parameter. Pusat evakuasi berada di area ini. Rumah sakit
lapangan, perawatan medis lanjut dan stabilisasi berada di area ini. Pusat ahli,
koordinasi bencana juga berada di area ini.

d. Sistem Rujukan
Sistem rujukan di Indonesia sangat berkaitan erat dengan Sistem
Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT). SPGDT adalah suatu sistem
berupa koordinasi sektor kesehatan yang didukung oleh sektor lain dan
kegiatan kelompok professional pada keadaan kedaruratan medis. SPGDT
merupakan respon cepat yang menekankan pada waktu time saving is life and
limb saving. SPGT terdiri dari dua jenis pelayanan kedaruratan medis yaitu
SPGDT S (sehari-hari) dan SPGDT B (bencana).

SPGDT merupakan sistem yang terdiri dari komponen:


- Pra rumah sakit, rumah sakit dan antar rumah sakit
- Komunikasi dan transportasi
- SDM Kesehatan dan kesehatan
- Multi sektor

Pada SPGDT bencana, ada empat hal yang perlu diperhatikan:


1. memerlukan komponen: organisasi, fasiitas, komunikasi, pendataan, SOP.
2. Pelayanan medis di lapangan memerlukan koordinasi lintas sektor
3. Perlu pendataan karakteristik setiap bencana
4. Hospital disaster plan

SPDGT pada bencana sangat ditentukan oleh pendistribusian komponen-


komponen SPGDT ke dalam tiga fase bencana, yaitu sebelum terjadinya
bencana, saat terjadinya bencana dan setelah terjadinya bencana.

Pada saat terjadi bencana aktivasi setiap komponen yang terdapat pada jejaring
SPGDT tergantung pada demografi area bencana, geografi, kesiapsiagaan
masyarakat termasuk di dalamnya multi sektor, transportasi, komunikasi dan
fasilitas kesehatan.
SPGDT juga perlu memperhatikan manajemen zona bencana beserta evakuasi
dan rujukannya serta korban bencana. Korban bencana terbagi menjadi tiga
kelompok, yaitu korban cidera, korban meninggal dan korban pengungsi.
SPGDT berikut merupakan salah satu contoh jejaring rujukan SPGDT Bencana
kota Salatiga5

e. Pencegahan Penyebaran Penyakit Menular

Pengendalian penyakit dilaksanakan dengan pengamatan penyakit (surveillance),


promotif, preventif dan penanganan kasus (Berkaitan dengan materi inti 1. Pokok
bahasan sistem surveillance bencana).

Tujuan pengendalian penyakit pada saat bencana adalah mencegah kejadian luar
biasa (KLB) penyakit menular potensi wabah. Berdasarkan hasil survei dari kejadian
bencana sebelumnya terdapat lima penyakit yang berpotensi menjadi KLB, yaitu
diare, ISPA, malaria, DBD, penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
(P3DI), dan keracunan. Akan tetapi, pencegahan penyakit tidak terbatas hanya pada
lima penyakit ini, untuk itu dibutuhkan pengamatan menyeluruh agar penyakit lain
spesifik pada jenis bencana yang berpotensi menjadi KLB dapat teridentifikasi.

Langkah-langkah pengamatan penyakit di daerah bencana meliputi pengumpulan


data menggunakan form terlampir, pengolahan dan penyajian data, analisis dan
interpretasi dan penyebarluasan informasi. Imunisasi dan pengendalian vektor juga
harus dilakukan untuk meminimalkan faktor resiko dan mencegah terjadinya KLB.
Kalkulasi kebutuhan logistik untuk penatalaksanaan kasus dan kebutuhan tenaga
medis/perawat untuk penatalaksanaan kasus juga diperlukan. Pencegahan dan
penanggulangan KLB sesuai dengan protap1.

f. Dokumentasi Asuhan Keperawatan Bencana


Pada daerah bencana prinsip dokumentasi harus memperhatikan hal-hal sebagai
berikut6:
1. Dokumentasi dilakukan dengan efektif dan efisien
Dokuemntasi pada area bencana (RS Lapangan) memiliki komponen yang lebih
sederhana jika dibandingkan dengan dokumentasi sehari-hari ketika di rumah
sakit.
2. Dokumentasi harus dapat memfasilitasi kegiatan surveilans
Pada form dokumentasi harus mencantumkan jenis penyakit (Dx medis), asal
rujuan korban (area pengungsi)

Contoh form dokumentasi bisa dilihat pada lampiran

VIII. REFERENSI
1. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Pedoman Teknis
Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana, Edisi Revisi. Diunduh dari
http://ino.searo.who.int/LinkFiles/Emergency_and_humanitarian_action_Te
chnical_quide_for_Health_Crisis_Response_in_Disaster.pdf Diunduh pada
tanggal 20 Juli 2014.
2. Nasrabadi, A. N., Naji, H., Mirzabeigi, dan Dadbakhs, M. 2007. Earthquake
relief: Iranian nurses’ responses in Bam, 2003, and lessons learned.
International Nursing Review, 54(1), 13-18.
3. Yang, Y., Xiao, L., Cheng, H., Zhu, J dan Arbon , P. 2010. Chinese nurses’
experience in the Wenchuan earthquake relief. International Nursing Review,
57(2), 217-223.
4. Public Health Emergency. 2013.
http://www.phe.gov/Preparedness/planning/playbooks/rdd/Pages/intro.asp
x diunduh pada tanggal 1 Agustus 2014.
5. SPGDT Kota Salatiga. 2013. http://spgdtkotasalatiga.blogspot.com
6. World Health Organisation. 2008
http://ino.searo.who.int/LinkFiles/Emergency_and_humanitarian_action_Pe
doman_RS_Lapangan_rev.pdf diunduh pada tanggal 24 Juli 2014.
7. Yin, H., He, H., Arbon, P & Zhu, J. 2011. A survey of the practice nurses’
skills in Wenchuan earthquake disaster sites: implications for disaster
training. Journal of Advanced Nursing, 67 (10), 2231-2238.

IX. LAMPIRAN

Form B-1
Dan SCENARIO SIMULASI DAN TABLE TOP EXERCISES
Form B-4

Form Rujukan dan Lembar Pemantauan


Form Px Penunjang dan Rencana Penatalaksanaan

Form Dokumentasi Rawat Jalan


Form Dokumentasi IGD

Form Radiologi dan Informed Consent


Form Laporan Anestesi
Form Dokumentasi Rawat Inap
Formulir Dokumentasi Ringkasan Pulang dan Triage