Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN TRANSFUSI DARAH

Kunjungan Palang Merah Indonesia

Laporan ini disusun sebagai hasil tugas kelompok

Dosen mata kuliah Transfusi Darah :

Antita Oktari, M. Si.

Disusu Oleh :

Kelompok 6

Novi Setiawati (1611E1056)

Putri Alen Avenda Sari (1611E1056)

Rahma Vildhya Aeni (1611e1056)

Refsa Ramadhan (1611E1057)

Veni Meilania (1611E1080)

D3B Analis Kesehatan

Sekolah Tinggi Analis Bakti Asih Bandung

Jl. Padasuka Atas No. 233 Bandung 40192 Tpl/Fax (022)720373

2019
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr.wb.

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayah-Nya, sehingga makalah mengenai “Kunjungan Palang Merah Indonesia”
ini dapat terselesaikan dengan baik meskipun masih sederhana.

Ucapan terimakasih kami berikan kepada rekan – rekan kelas D3B Analis
Kesehatan yang telah membantu dan berpartisipasi dalam penyusunan Laporan ini, tak
lupa ucapan terimakasih juga diberikan kepada Ibu Anita Oktari,M.si. selaku dosen
mata kuliah Transfusi Darah.

Harap dibuatnya makalah ini yaitu untuk menambah pengetahuan tentang


Kungungan PMI yang kami lakukan. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna, karena keterbatasan dan kekurangan ilmu pengetahuan
penulis. Maka dengan senang hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi sempurnanya makalah ini. Penyusun berharap semoga makalah ini
bermanfaat bagi pembaca.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Bandung, 6 Januari 2019

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...................................................................................................... 2
DAFTAR ISI .................................................................................................................... 3
BAB I................................................................................................................................ 4
PENDAHULUAN..................................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 4
1.2 Tujuan ....................................................................................................................... 5
BAB II .............................................................................................................................. 6
ISI .............................................................................................................................................. 6
2.1 Sejarah PMI ............................................................................................................... 6
2.2 Visi dan Misi PMI ..................................................................................................... 7
2.3 Tujuan Stategis PMI .................................................................................................. 7
2.4 Sejarah Lambang ....................................................................................................... 8
2.5 Hukum Prikemanusiaan Internasional..................................................................... 10
2.6 Hukum Prikemanusiaan Internasional-Ketentuan Dasar HPI ................................. 12
2.7 Tenaga Sukarelawan ............................................................................................... 14
1. Palang Merah Remaja ............................................................................................. 14
2. Korps Sukarela (KSR) PMI..................................................................................... 16
3. Tenaga Sukarela (TSR) ........................................................................................... 17
4. Donor Darah Sukarela ............................................................................................. 18
BAB III ........................................................................................................................... 20
PENUTUP ............................................................................................................................... 20
1. Bahan Diskusi ............................................................................................................. 20
2. Kesimpulan ................................................................................................................. 24
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 25

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini pada era globalisasi, semua organisasi publik dihadapkan dapat
mengedepankan kualitas pelayanan, tak terkecuali adalah organisasi sosial
kemanusiaan. Tuntutan tersebut lahir karena sebuah organisasi yang bergerak dan
berhubungan dengan masyarakat. Hal ini dapat berfungsi sebagai kontrol atas apa
yang dilakukan untuk dapat memberikan pelayanan yang berkualitas kepada seluruh
masyarakat pengguna.

Palang Merah Indonesia (PMI) adalah organisasi perhimpunan , nasional di


Indonesia yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan dan kesehatan dituntut
pula dapat memberikan pelayanan yang memuaskan. Tujuan utamanya bukan
karena mencari laba, melainkan lebih mementingkan fungsi sosialnya, hal ini sesuai
dengan tujuan prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit
Merah yaitu kemanusiaan, kesamaan, kesukarelaan, kemandirian, kesatuan,
kenetralan,dan kesemestaan. Sampai saat ini PMI telah berada di 33 PMI Daerah
(tingkat provinsi) dan sekitar 408 PMI Cabang (tingkat kota/kabupaten) di seluruh
Indonesia.

Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bandung merupakan PMI Cabang yang
berada dalam gerak Kepalang Merahan Indonesia, oleh karena itu PMI Kota
Bandung harus dapat menentukan ciri khas peranan sosialnya secara tepat dan
maksimal, tidak terlepas dari tugas – tugas pokoknya yang telah ditentukan seperti
penyelenggaraan donor darah, pendidikan, dan pelatihan, pembinaan terhadap
generasi muda Palang Merah Remaja (PMR) serta relawan (KSR) yang peduli
terhadap kemanusiaan, peningkatan kemampuan kesiapsiagaan dalam menghadapi
bencana alam dan lain sebagaimya.

4
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui kegitan Palang Merah Indonesia
2. Untuk mengetahui proses pengambilan darah (kegiatan transfusi darah)
3. Untuk mengetahui sejarah berdirinya Palang Merah Indonesia

5
BAB II

ISI

2.1 Sejarah PMI


Sejarah lahirnya Palang Merah Indonesia pada tanggal 21 Oktober 1873, pada
saat itu pemerintah kolonial Belanda mendirikan organisasi Palang Merah di
Indonesia dengan nama Het Nederland-Indiche Rode Kruis (NIRK) yang
kemudian namanya menjadi Nederlands Rode Kruiz Afdelinbg Indie (NERKAI).

Pada tahun 1932 timbul semangat untuk mendirikan Palang Merah Indonesia
(PMI) yang dipelopori oleh dr. RCL. Senduk dan Bahder Djohan. Kemudian,
proposal pendirian diajukan pada kongres NERKAI (1940), namun ditolak. Pada saat
penjajahan Jepang, proposal itu kembali diajukan, namun tetap ditolak.

Pada 3 September 1945 Presiden Soekarno memerintahkan kepada Menteri


Kesehatan dr. Buntaran Martoatmodjo untuk membentuk suatu Badan Palang Merah
Nasional untuk menunjukan kepada dunia internasional bahwa keberadaan Negara
Indonesia adalah suatu fakta nyata setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus
1945.

Pada 5 September 1945, dr. buntaran membentuk Panitia Lima yang terdiri dari
dr. R. Mochtar, dr. Bahder Johan, dr. Joehana, Dr. Marjuki dan dr. Sitanala, untuk
mempersiapkan pembentukan Palang merah di Indonesia.

Tepat pada tanggal 17 September 1945 terbentuklah Pengurus Besar Palang


Merah Indonesia (PMI) dengan ketua pertama, Drs. Mohammad Hatta. Di dalam satu
negara hanya ada satu perhimpunan nasional, maka Pemerintah Belanda
membubarkan NERKAI dan menyerahkan asetnya kepada PMI. Pihak NERKAI
diwakili oleh dr. B. Van Trich sedangkan dari PMI diwakili oleh dr. Bahder Djohan,
peristiwa ini terjadi pada 16 Januari tahun 1950.

PMI terus melakukan pemberian bantuan hingga akhirnya Pemerintah Republik


Indonesia Serikat mengeluarkan Keppres No. 25 tanggal 16 Januari 1950 dan
dikuatkan engan Keppres No. 246 tanggal 29 November 1963. Pemerintah Indonesia
mengakui keberadaan PMI.

6
Adapun tugas utama PMI berdasarkan Keppres RIS No. 25 tahun 1950 dan
Keppres RI No. 246 tahun 1963 adalah untuk memberikan bantuan pertama pada
korban bencana alam dan korban perang sesuai dengan isi Konvensi Jenewa 1949.

Secara Internasional, keberadaan PMI diakui oleh Komite Palang Merah


Internasional (ICRC) pada 15 Juni 1950. Setelah itu, PMI diterima menjadi anggota
Perhimpunan Nasional ke-68 oleh Liga Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit
Merah (Liga) yang sekarang disebut Federasi Internasional Perhimpunan Palang
Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) pada Oktober 1950.

Saat ini, PMI telah berdiri di 33 Provinsi, 371 Kabupaten/Kota dan 2.654
Kecamatan (data per-Maret 2010). PMI mempunyai hampir 1,5 juta sukarelawan
yang siap melakukan pelayanan. (www.pmi.or.id).

2.2 Visi dan Misi PMI


Visi

PMI yang berkarakter, profesional, mandiri dan di cintai masyarakat.

Misi

1. Menjadi organisasi kemanusiaan terdepan yang memberikan layanan


berkualitas melalui kerja sama dengan masyarakat dan mitra sesuai
dengan prinsip – prinsip dasar gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit
Merah.
2. Meningkatkan kemandirian organisasi PMI melalui kemitraan strategis
yang berkesinambungan dengan pemerintah, swasta, mitra gerakan dan
pemangku kepentingan lainnya di semua tingkatan.
3. Meningkatkan reputasi organisasi PMI di tingkat Nasional dan
Internasional.

2.3 Tujuan Stategis PMI

1. Mewujudkan PMI yang berfungsi baik di berbagai tingkatan, baik dalam


pelaksanaan kebijakan, peraturan organisasi, sistim dan prosedur yang
ditetapkan.

7
2. Meningkatkan kapasitas sumber daya organisasi PMI di berbagai
tingkatan, baik sumber daya manusia dan sarana prasarana yang
diperlukan dalam operasi penanganan bencana di seluruh wilayah
Indonesia.
3. Meningkatkan ketahanan masyarakat untuk mengurangi risiko dan
dampak bencana serta penyakit.
4. Meningkatkan pelayanan darah yang memadai, aman dan berkualitas di
seluruh Indonesia.
5. Memperkuat hubungan kerja sama dengan pemerintah pusat dan
daerah dalam rangka menjalankan mandat dan fungsi PMI di bidang
kemanusiaan.
6. Meningkatkan kemitraan yang berkesinambungan dengan sektor publik,
swasta, mitra gerakan, lembaga donor dan pemangku kepentingan
lainnya di semua tingkatan dalam melayanai masyarakat.
7. Meningkatkan akuntabilitas PMI sebagai organisasi kemanusiaan di
tingkat Nasional maupun Internasional.
8. Meningkatkan pemahaman seluruh elemen masyarakat tentang nilai-
nilai kemanusiaan, prinsip - prinsip dasar Gerakan Internasional
Palang Merah/Bulan Sabit Merah serta, Hukum Perikemanusiaan
Internasional melalui upaya komunikasi, edukasi dan diseminasi.

2.4 Sejarah Lambang

Gambar 1 : Lambang – Lambang Kemanusiaan

Pada tahun 1859, ketika melakukan perjalanan di Italia, seorang pengusaha


Swiss bernama Henry Dunant menyaksikan akibat mengerikan dari Perang Solferino.
Sekembalinya di Jenewa, Dunant menuliskan apa yang disaksikannya itu dalam

8
sebuah buku berjudul A Memory of Solferino (Kenangan dari Solferino). Dalam
buku ini Dunant mengajukan dua usulan untuk membantu korban perang :

 Perlunya pada masa damai didirikan kelompok relawan di setiap negara supaya
mereka siap merawat korban pada masa perang
 Perlunya negara-negara menyepakati pemberian perlindungan bagi para petugas
pertolongan dan para korban di medan pertempuran

Usulan pertama terwujud dengan dibentuknya Perhimpunan Nasional Palang


Merah atau Bulan Sabit Merah (Perhimpunan Nasional) di banyak negara. Dewasa
ini, lebih dari 185 Perhimpunan Nasional telah diakui oleh Gerakan Palang Merah
dan Bulan Sabit Merah Internasional (Gerakan). Usulan kedua terwujud dengan
disusunnya empat buah Konvensi Jenewa 1949, yang dewasa ini telah disetujui oleh
semua negara di dunia.

Pada tahun 1863 berlangsung Konferensi Internasional I di Jenewa Swiss yang


dihadiri oleh 16 negara. Negara-negara menyadari perlunya tanda yang sama untuk
anggota kesatuan medis militer. Tanda itu harus berstatus netral dan dapat menjamin
perlindungan terhadap mereka di medan perang.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap negara Swiss, Konferensi Internasional


sepakat menggunakan lambang Palang Merah di atas dasar putih sebagai Tanda
Pengenal untuk kesatuan medis militer dari setiap negara. Lambang tersebut diambil
dari warna kebalikan bendera nasional Swiss, palang putih diatas dasar merah.

Pada tahun itu pula Komite Internasional untuk Pertolongan Bagi Tentara yang
Terluka berganti nama menjadi Komite Internasional Palang Merah (International
Committee of the Red Cross) atau ICRC.

Pada 1864, Lambang Palang Merah sebagai Tanda Pengenal dan Tanda
Pelindung bagi anggota kesatuan medis militer diadopsi ke dalam Konvensi Jenewa
I tentang “Perlindungan bagi anggota militer yang luka dan sakit di meda
pertempuran darat”.

9
Setelah diadopsi, Lambang Palang Merah diartikan sebagai:

 Lambang Pembeda; ada pembedaan yang nyata antara kesatuan tempur


(kombatan) dan kesatuan medis (non kombatan).

 Lambang yang netral; pemberian satu tanda yang sama bagi seluruh anggota
kesatuan medis militer di setiap negara, memberikan mereka status netral

2.5 Hukum Prikemanusiaan Internasional


Hukum Perikemanusiaan Internasional adalah sebuah cabang dari perlindungan
bagi korban perang dan mengenai pembatasan atas alat (sarana) dan metode (cara)
bertempur dalamn sengketa bersenjata internasional ataupun non internasional. HPI
dikenal pula dengan beberapa nama lain, yaitu Hukum Perang (the Law of War),
Hukum Sengketa Bersenjata (the Law of Armed Conflict), atau Hukum Humaniter
Internasional (International Humanitarian Law).

Tujan HPI :

1. Memberikan perlindungan kepada mereka yang tidak terlibat, atau tidak


lagi terlibat, dalam pertempuran, yaitu penduduk sipil, tentara yang
menjadi korban luka, sakit, korban kapal karam, dan tawanan perang.
2. Mengatur penggunaan alat dan cara bertempur, dan
3. Membatasi serta meringankan penderitaan yang diakibatkan oleh perang.

Latar belakang HPI berkaitan erat dengan sejarah Gerakan Palang Merah dan
Bulan Sabit Merah Internasional. Ide yang dituangkan oleh Jean Henry Dunant
dalam bukunya “Kenangan dari Solferino” melahirkan sebuah komite yang
kemudian dikenal dengan nama Komite Internasional Palang Merah (The
International Committee of the Red Cross and Red Crescent atau ICRC).

Atas prakarsa komite tersebut, Pemerintah Swiss mengadakan konferensi


diplomatic pada tahun 1864 di Jenewa. Konferensi ini melahirkan perjanjian
internasional yang dikenal dengan nama Konvensi Jenewa 1864. Konvensi yang
pada waktu itu mengikat 12 negara tersebut berisi sejumlah ketentuan tentang
pemberian bantuan kepada anggota bersenjata yang terluka atau sakit tanpa
membeda-bedakan mereka berdasarkan kebangsaan.

10
Konvensi-Konvensi Jenewa 1949

 Konvensi Jenewa I : tentang perbaikan keadaan anggota angkatan perang yang


terluka dan sakit di medan pertempuran darat
 Konvensi Jenewa II : tentang perbaikan keadaan anggota angkatan perang di laut
yang terluka, sakit dan korban kapal karam
 Konvensi Jenewa III : tentang perlakuan terhadap tawanan perang
 Konvensi Jenewa IV : tentang perlindungan orang-orang sipil di waktu perang

Protokol-Protokol Tambahan 1977

 Protokol Tambahan I : perlindungan korban sengketa bersenjata internasional


 Protokol Tambahan II : perlindungan korban sengketa bersenjata non-
internasional

Selain perjanjian-perjanjian internasional tersebut, instrumen HPI juga


meliputi:

 Konvensi Den Haag 1907: tentang penggunaan alat dan cara bertempur
 Konvensi Den Haag 1954: tentang perlindungan terhadap benda budaya pada
masa sengketa bersenjata
 Konvensi Senjata Kimia 1993: tentang pelarangan senjata kimia
 Konvensi Ottawa 1997: tentang pelarangan ranjau darat anti personel
 Statuta Roma 1998: tentang pembentukan Mahkamah Pidana Internasional
(International Criminal Court)

Orang-Orang yang dilindung HPI

1. Prajurit yang terluka, sakit, dan yang menjadi korban kapal karam di medan
pertempuran
2. Tawanan perang dan mereka yang telah meletakkan senjata atau telah menyerah
3. Personil kesehatan angkatan bersenjata
4. Personil keagamaan angkatan bersenjata
5. Orang-orang yang dicabut kebebasannya sebagai akibat dari konflik
6. Penduduk sipil, terutama perempuan, anak-anak, dan lansia

11
7. Petugas Organisasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (ICRC, perhimpunan
nasional, dan IFRC)

2.6 Hukum Prikemanusiaan Internasional-Ketentuan Dasar HPI


Ketentuan – ketentuan dasar HPI

 Mereka yang tidak atau tidak dapat lagi mengambil bagian dalam pertempuran
berhak untuk dihormati jiwa serta mental dan fisiknya. Dalam keadaan apapun
mereka harus dilindungi dan diperlakukan secara manusiawi tanpa diskriminasi

 Mereka yang sakit dan terluka harus dirawat oleh pihak yang menguasainya.
Petugas medis, transportasi dan peralatan medis serta rohaniawan harus
dilindungi Lambang Palang Merah atau Bulan Sabit Merah di atas dasar putih
adalah tanda pembeda bagi petugas dan sarana medis serta rohaniawan dan
harus dihormati

 Tentara dan orang sipil ditangkap dan berada di bawah kekuasaan pihak lawan
berhak untuk dihormati jiwanya, martabat, hak-hak Pribadi dan hak politik,
agama atau keyakinan-keyakinan lainnya. Mereka berhak untuk menerima
bantuan dan bertukar kabar dengan keluarganya

 Setiap orang harus memperoleh jaminan keadilan yang mendasar. Tidak


seorangpun dapat dijatuhi hukuman tanpa melalui proses pengadilan

 Pihak-pihak yang bersengketa atau anggota dari angkatan bersenjata tidak


memiliki hak tidak terbatas untuk memilih alat dan metode berperang. Dilarang
menggunakan sarana atau metode peperangan yang dapat menyebabkan
penderitaan berlebihan dan kerugian yang tidak perlu

 Pihak-pihak yang bersengketa harus membedakan antara kombatan dan


penduduk sipil, antara objek-objek militer dan objek-objek sipil. Penyerangan
hanya dapat dilakukan terhadap kombatan dan objek-objek militer. Penduduk
sipil dan objek sipil seperti rumah tinggal, bendungan, pembangkit listrik, suplai
air minum, gudang makanan, rumah Ibadan dan sarana sipil lainnya tidak boleh
diserang

12
 Serangan yang mengakibatkan kerusakan yang luas dan berkepanjangan
terhadap lingkungan hidup juga dilarang.

Keikutsertaan Indonesia dalam Perjanjian-perjanjian Internasional di


Bidang HPI

Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi-konvensi Jenewa 1949 melalui


Undang-Undang No. 59 tahun 1958.

Disamping itu, Pemerintah Indonesia juga telah meratifikasi beberapa instrumen


lain di bidang Hukum Perikemanusiaan Internasional, yaitu:

a) Konvensi tentang Perlindungan Benda Budaya 1954 dan protokolnya

b) tentang Larangan Penggunaan Senjata Kimia 1993

c) Konvensi tentang Larangan Penggunaan Senjata Biologi 1972

Implementasi HPI di Indonesia

Gambar 2 : Implementasi HPI di Indonesia.

Beberapa langkah pengimplementasian HPI telah dilakukan oleh Pemerintah


Indonesia, antara lain dengan adanya keputusan-keputusan sebagai berikut:

1. Penetapan PMI sebagai satu-satunya Organisasi Kepalangmerahan sebagaimana


tertuang dalam Keppres No. 25 Tahun 2950 dan pemberian tugas-tugas
kemanusiaan kepada PMI pada waktu terjadi bencana dan peperangan melalui
Keppres No. 264 Tahun 1963.

13
2. Pemakaian/penggunaan tanda dan kata-kata Palang Merah yang tertuang dalam
Peraturan Penguasa Perang Tertinggi No. 1 Tahun 1962
3. Pemberian mandat kepada Pantap Hukum Humaniter yang bertugas
mempersiapkan undang-undang dan peraturan-peraturan untuk implementasi
Konvensi-konvensi Jenewa melalui Keputusan Menteri Kehakiman No. C-
35.PR.09.03 Tahun 1980.
4. Upaya penyebarluasan HPI di kalangan TNI, POLRI, dan instansi pemerintah
lainnya dan juga di kalangan PMI bekerjasama dengan ICRC

Di dalam hal penegakan HPI, ada beberapa putusan pengadilan di Indonesia


yang menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa yang dianggap terlibat dalam
pelanggaran prinsip Hukum Perikemanusiaan Internasional, antara lain dalam proses
pengadilan Ad Hoc HAM kasus Timor Timur tahun 1999.

2.7 Tenaga Sukarelawan

1. Palang Merah Remaja

Gambar 3 : Palang Merah Remaja.

Palang Merah Remaja (PMR) adalah wadah kegiatan remaja di sekolah atau
lembaga pendidikan normal dalam kepalangmerahan melalui program kegiatan
ekstra kurikuler.

Anggota PMR:

PMR MULA setingkat SD


PMR MADYA setingkat SMP
PMR WIRA setingkat SMA

14
Syarat menjadi anggota PMR:

 WNI atau WNA yang berdomisili di Indonesia


 Berusia 7-20 tahun dan belum menikah
 Berpendidikan setingkat SD, SLTP dan SLTA
 Bersedia mengikuti pelatihan dan pendidikan dasar kepalangmerahan
 Mendapat persetujuan orang tua/wali

Kegiatan PMR:

 Pengumpulan bantuan di sekolah untuk korban bencana


 Bakti sosial dengan kunjungan ke rumah sakit atau panti jompo/panti asuhan
untuk perawatan keluarga, gerakan kebersihan lingkungan, dsb
 Mengikuti gerakan kakek/nenek angkat asuh
 Mengikuti pelatihan remaja sebaya di bidang kesehatan remaja dan
HIV/AIDS
 Donor darah siswa
 Seni (majalah dinding, lomba-lomba)
 Program persahabatan remaja palang merah regional/internasional
 Jumbara (Jumpa Bakti Gembira) PMR

Ruang lingkup kegiatan PMR dikenal dengan nama Tri Bakti Remaja yang
mengandung arti:

 Berbakti kepada masyarakat (seperti mengadakan kunjungan berkala ke


panti jompo, menjadi donor darah
 Mempertinggi keterampilan serta memelihara kebersihan dan kesehatan
(misalnya, mempraktikkan kebersihan dan kesehatan di lingkungan sekita
 Mempererat persahabatan nasional dan internasional (contohnya, melakukan
latihan gabungan PMR dengan kelompok PMR lain, saling bertukar album
persahabatan)

15
2. Korps Sukarela (KSR) PMI

Korps Sukarela (KSR) adalah kesatuan unit PMI yang menjadi wadah bagi
anggota biasa dan perseorangan yang atas kesadaran sendiri menyatakan
menjadi anggota KSR.

Anda dapat mendaftarkan diri ke Kantor PMI Kota/Kabupaten setempat dan


bergabung menjadi KSR Unit Markas Kota/Kabupaten. Bila Anda seorang
mahasiswa suatu perguruan tinggi, anda dapat menghubungi Unit Kegiatan
Mahasiswa (UKM) yang menangani kepalangmerahan.

Anda dapat bergabung menjadi anggota KSR setelah melewati pendidikan


dasar di PMI Kota/Kabupaten maupun UKM KSR-PMI di Perguruan Tinggi.

Syarat Menjadi Anggota KSR:

 WNI atau WNA yang sedang berdomisili di Indonesia


 Berusia minimal 18 tahun
 Berpendidikan minimal SLTP/Sederajat
 Bersedia mengikuti pendidikan dan pelatihan
 Bersedia menjalankan tugas kepalangmerahan secara terorganisir dan
mentaati peraturan yang berlaku

Setelah rekrutmen, Anda akan mengikuti pelatihan tingkat dasar KSR,


sebelum menginjak tingkat lanjutan dan spesiailisasi yang diselenggarakan oleh
Markas Kota/Kabupaten. Sedangkan bagi anggota UKM kepalangmerahan,
setelah pelatihan dasar di UKM dapat ditindaklanjuti pelatihan lanjutan di PMI
Kota/Kabupaten untuk menjadi anggota KSR PMI Perguruan Tinggi.

Pelatihan spesialisasi biasanya akan diberikan kepada KSR yang siap


menjadi anggota "Satgana" (Satuan Siaga Penanggulangan Bencana). Cakupan
kegiatan tersebut pada intinya diarahkan untuk melaksanakan
pertolongan/bantuan dalam kesatuan unit terorganisasi di bidang
Penanggulangan Bencana serta Pelayanan Sosial dan Kesehatan Masyarakat.

16
Kegiatan KSR:

 Donor darah sukarela


 Pertolongan pertama dan evakuasi pada kecelakaan, bencana dan konflik
 Dapur umum, penampungan darurat, distribusi relief, ReStoring Family Link
(RFL) untuk korban bencana
 Pelayanan pada program berbasis masyarakat (CBFA/CBDP)
 Layanan konseling dan Pendidikan Remaja Sebaya (PRS) untuk pencegahan
sebaran HIV/AIDS dan narkoba
 Ketrampilan hidup
 Temu Karya KSR
 Membantu PMI Kota/Kabupaten membina Anggota PMR

3. Tenaga Sukarela (TSR)

Tenaga Sukarela (TSR) adalah anggota PMI yang direkrut dari perseorangan
dari kalangan masyarakat yang berlatar belakang profesi atau memiliki
ketrampilan tertentu, misalnya dokter, ahli gizi, sanitasi, akuntan, logistik,
teknisi, pertanian, jurnalis, seniman/artis, teknologi komunikasi, guru, dsb dan
bersedia menjadi relawan PMI.

Kalangan profesional yang berminat ingin bergabung dengan PMI dapat


menghubungi Markas PMI Kota/Kabupaten atau PMI Provinsi setempat
kemudian mengikuti orientasi kepalangmerahan, sebelum dilibatkan dalam
berbagai kegiatan kemanusiaan. Mereka akan direkrut bilamana PMI
mempunyai program kegiatan pelayanan yang memerlukan tenaga relawan
dengan spesifikasi yang terkait, untuk ditugaskan di lokasi operasi kemanusiaan
tersebut.

Menjadi Anggota TSR:

 Usia minimal 18 tahun dan serendahnya tamatan SMP/Sederajat

17
 Atas kesadaran dan kemauan sendiri bersedia mendaftarkan diri menjadi
anggota PMI setempat
 Memiliki keterampilan/keahlian/profesi tertentu yang dapat mendukung
tugas dan kegiatan PMI, baik yang didapat dari pendidikan formal maupun
non formal, seperti kursus, dll
 Memiliki kesanggupan secara fisik dan mental
 Bersedia menjalankan ketentuan organisasi PMI dan menjaga nama baik
PMI
 Bersedia mengabdikan diri di PMI
 Bersedia mengikuti Orientasi Kepalangmerahan

Persyaratan Bagi WNA:

 WNA yang telah memenuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku di


Indonesia (mempunyai dokumen keimigrasian yang jelas)
 Bersedia mengikuti Orientasi Kepalangmerahan
 Mendaftarkan diri atas kesadaran dan kemauan sendiri
 Bersedia mentaati peraturan organisasi yang berlaku dan menjaga nama baik
PMI

4. Donor Darah Sukarela

Gambar 4 : Donor Darah.

Donor Darah Sukarela (DDS) adalah orang yang dengan sukarela


mendonorkan darahnya. Banyaknya DDS yang rutin donor darah, dapat
memenuhi kebutuhan darah setiap hari. Hal ini tentu sangat menguntungkan

18
pasien yang membutuhkan darah. DDS membantu tersedianya darah sehat yang
sudah siap diolah dan siap digunakan kapan pun.

Sayangnya, jumlah DDS masih belum banyak atau baru 2-3% saja secara
keseluruhan. Padahal idealnya jumlah DDS itu minimal 4% dari jumlah
penduduk suatu daerah. Sehingga sangat penting bagi siapapun dapat menjadi
DDS untuk membantu sesama mendapatkan darah yang dibutuhkan.

Sebagai bentuk apresiasi kepada para pendonor, PMI dan Pemerintah


memberikan piagam penghargaan kepada para DDS yang telah menyumbangkan
darahnya sebanyak 15 kali, 30 kali, 50 kali, 75 kali, dan 100 kali. Donor darah
sukarela 100 kali mendapatkan penghargaan Satyalancana Kebaktian Sosial
yang diberikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia (RI).

Pemberian piagam penghargaan tersebut sebagai berikut:

 Penghargaan kepada DDS 5X dan 50X diberikan oleh PMI Kota/Kabupaten

 Penghargaan kepada DDS 75X oleh Gubernur dan PMI Provinsi

 Penghargaan Satya Lancana Kebaktian Sosial kepada DDS 100 X oleh


Presiden

19
BAB III

PENUTUP

Bahan Diskusi
1. Sejarah singkat berdirinya UTD PMI / BDRS
 Berdirinya Palang Merah di Indonesia sebetulnya sudah dimulai sebelum
Perang Dunia II, tepatnya 12 Oktober 1873.Pemerintah Kolonial Belanda
mendirikan Palang Merah di Indonesia dengan nama Nederlandsche Roode
Kruis Afdeeling Indië (NERKAI) yang kemudian dibubarkan pada saat
pendudukan Jepang.
 Perjuangan mendirikan Palang Merah Indonesia (PMI) diawali 1932.
Kegiatan tersebut dipelopori Dr. R.
 C. L. Senduk dan Dr. Bahder Djohan dengan membuat rancangan
pembentukan PMI. Rancangan tersebut mendapat dukungan luas terutama
dari kalangan terpelajar Indonesia, dan diajukan ke dalam Sidang Konferensi
Narkei pada 1940, akan tetapi ditolak mentah-mentah.
 Rancangan tersebut disimpan menunggu saat yang tepat. Seperti tak kenal
menyerah pada saat pendudukan Jepang mereka kembali mencoba untuk
membentuk Badan Palang Merah Nasional, namun sekali lagi upaya itu
mendapat halangan dari Pemerintah Tentara Jepang sehingga untuk yang
kedua kalinya rancangan tersebut kembali disimpan.
 Proses pembentukan PMI dimulai 3 September 1945 saat itu Presiden
Soekarno memerintahkan Dr. Boentaran (Menkes RI Kabinet I) agar
membentuk suatu badan Palang Merah Nasional.
 Dibantu Panitia lima orang terdiri atas Dr. R. Mochtar sebagai Ketua, Dr.
Bahder Djohan sebagai Penulis dan tiga anggota panitia yaitu Dr. R. M.
Djoehana Wiradikarta, Dr. Marzuki, Dr. Sitanala, mempersiapkan
terbentuknya Perhimpunan Palang Merah Indonesia. Tepat sebulan setelah
kemerdekaan RI, 17 September 1945, PMI terbentuk. Peristiwa bersejarah
tersebut hingga saat ini dikenal sebagai Hari PMI.
 Peran PMI adalah membantu pemerintah di bidang sosial kemanusiaan,
terutama tugas kepalangmerahan sebagaimana dipersyaratkan dalam

20
ketentuan Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 yang telah diratifikasi oleh
pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1958 melalui UU No 59.
 Sebagai perhimpunan nasional yang sah, PMI berdiri berdasarkan Keputusan
Presiden No 25 tahun 1925 dan dikukuhkan kegiatannya sebagai satu-
satunya organisasi perhimpunan nasional yang menjalankan tugas
kepalangmerahan melalui Keputusan Presiden No 246 tahun 1963.

2. Kegiatan umum yang dilaksanakan di UTD PMI / BDRS


Pelayanan darah adalah upaya pelayanan kesehatan yang memanfaatkan darah
manusia sebagai bahan dasar dengan tujuan kemanusiaan dan tidak untuk tujuan
komersial. Peraturan Pemerintah N0. 7/ 2011 tentang Pelayanan Darah menyebutkan
penyelenggaraan donor darah dan pengolahan darah dilakukan oleh Unit Donor Darah
(UDD) yang diselenggarakan oleh organisasi sosial dengan tugas pokok dan fungsinya
di bidang Kepalangmerahan atau dalam hal ini Palang Merah Indonesia (PMI).
Lebih lanjut, baik dalam UU No. 36/2009 tentang Kesehatan maupun Peraturan
Pemerintah No.7/2011 tentang Pelayanan Darah, dinyatakan bahwa Pemerintah
bertanggung jawab atas pelaksanaan pelayanan darah yang aman, mudah diakses, dan
sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Tanggung jawab pemerintah dan pemerintah
daerah (Pemda) meliputi pengaturan, pembinaan, pengawasan dan pendanaan pelayanan
darah untuk kepentingan pelayanan kesehatan.
Sesuai penjelasan UU No. 36/2009 tentang Kesehatan Pasal 90 dan PP No. 7/2011
tentang Pelayanan Darah Pasal 46, jaminan pendanaan pemerintah diwujudkan dalam
bentuk pemberian subsidi kepada UDD dari APBN, APBD dan bantuan lainnya.
Kebutuhan Darah Nasional
PMI terus mengampanyekan donor darah sebagai bagian dari gaya hidup (lifestyle).
Setiap tahunnya, PMI menargetkan hingga 4,5 juta kantong darah sesuai dengan
kebutuhan darah nasional, disesuaikan dengan standar Lembaga Kesehatan
Internasional (WHO) yaitu 2% dari jumlah penduduk untuk setiap harinya.
Keamanan Darah
Untuk menjaga keamanan darah terhadap resiko penularan infeksi dari donor kepada
pasien penerima darah, setiap kantong darah harus diuji saring terhadap infeksi, antara
lain terhadap Sifilis, Hepatitis B, Hepatitis C dan HIV. Uji saring Sifilis telah

21
dilaksanakan sejak tahun 1975 dan saat ini ditujukan terhadap antibodi treponema
pallidum menggunakan reagensia TPHA. Uji saring Hepatitis B ditujukan terhadap
HBsAg, Hepatitis C terhadap anti-HCV dan HIV terhadap anti-HIV. Metoda uji saring
yang digunakan adalah Elisa (70% donasi), Rapid Test (30% donasi) dan NAT.

3. Tahapan transfusi darah + lingkup kerja di UTD PMI / BDRS


 Persiapan Pendonor
 Persiapan Resipien
 Persiapan Kantung Darah yang akan Ditransfusikan
 Prosedur Pengambilan Darah Donor
 Prosedur Pengambilan Darah Penerima
 Follow up
Ruang lingkup kerja meliputi dokter, petugas donor darah, dan tenaga ahli kesehatan
lainnya.

4. Macam-macam komponen darah yang tersedia


- Darah lengkap (DL)
- Trombosit pekat (TP)
- Wash eritrosit (WE)
- Plasma cair (PC)
- Plasma segar beku (PSB)
- Cryo
- Leucodeplated
- Buffy coat (BC)

5. Keunggulan-keunggulan UTD PMI/BDRS


Dilihat dari bentuk organisasi PMI itu sendiri (Organisasi lini dan staff), kelebihan PMI
adalah sebagai berikut:
1. Adanya pembagian tugas yang jelas antara kelompok lini yang melakukan tugas
pokok organisasi dan kelompok staf yang melakukan kegiatan penunjang.
2. Asas spesialisasi yang ada dapat dilanjutkan menurut bakat bawahan masing-
masing.

22
3. Prinsip “the right man on the right place” dapat diterapkan dengan mudah.
4. Koordinasi dalam setiap unit kegiatan dapat diterapkan dengan mudah.
5. Dapat digunakan dalam organisasi yang lebih besar.
Berdasarkan analisis faktor internal, kelebihan PMI adalah sebagai berikut:
1. PMI masih diakui oleh pemerintah sebagai satu-satunya Organisasi
Kepalangmerahan di Indonesia berdasarkan Keppres No. 25 Tahun 1950 serta
Kep. Pres No. 246/1963 tentang posisi PMI yang bekerja melaksanakan tugas
atas nama pemerintah dan harus bertanggungjawab kepada pemerintah dengan
tetap berprinsip kepada kemandirian PMI. Hal ini menunjukkan bahwa PMI
masih tetap eksis dalam menjalankan peran dan fungsinya di masyarakat.
2. PMI telah memiliki jaringan kerja hingga hampir menyeluruh di wilayah tanah
air. Dari catatan yang ada, saat ini terdapat Pengurus Pusat (13 orang
pengurus), 30 PMI Daerah (380 orang Pengurus), 361 PMI Cabang (4.602 orang
Pengurus) dan 2.200 PMI Ranting (dari 197 PMI Cabang) di seluruh Indonesia.
3. PMI memiliki hampir 1 juta sukarelawan yang telah mendapat latihan
keterampilan di bidang Kepalangmerahan dan siap menjalankan tugasnya untuk
membantu anggota masyarakat yang membutuhkan. Dari catatan yang ada, PMI
memiliki anggota KSR sebanyak 27.987 orang (dari 161 PMI Cabang), Tenaga
Sukarela 22.362 orang (dari 132 PMI Cabang) dan Palang Merah Remaja
713.093 orang (dari 176 PMI Cabang).
4. PMI memiliki jaringan kerja nasional dan Internasional, baik yang terkait
dengan tugas-tugas kepalangmerahan di Indonesia maupun international
network dengan IFRC/ICRC/ dan International NGO (WFP, UN-OCHA,
UNHCR, UNDP dll) yang cukup baik.

23
Kesimpulan
Palang Merah Indonesia (PMI) adalah sebuah organisasi perhimpunan nasional
di Indonesia yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan. PMI selalu berpegang
teguh pada tujuh prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan sabit
merah yaitu kemanusiaan, kesamaan, kesukarelaan, kemandirian, kesatuan, kenetralan,
dan kesemestaan. Sampai saat ini PMI telah berada di 33 PMI Daerah (tingkat provinsi)
dan sekitar 408 PMI Cabang (tingkat kota/kabupaten) di seluruh indonesia.

24
DAFTAR PUSTAKA

 Oktari, A. 2012. Penuntun Praktikum Transfusi Darah. Bandung : Sekolah


Tinggi Analis Bakti Asih Bandung.
 www.pmi.or.id (diakses 07/01/2019)
 Kemenkes, “Permenkes No.91 Tahun 2015 Tentang Standar Pelayanan
Transfusi Darah,” 2015

25