Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,yang telah melimpahkan berkatnya
kepada kami,sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah tentang
“OSTEOPOROSIS”Sebagai manusia biasa, kami menyadari masih banyak kekurangan dalam
penyusunan makalah ini.

Demi kesempurnaan dan peningkatan kualitas makalah ini, kami mohon kritik dan saran dari
berbagai pihak dalam rangka penyempurnaan makalah ini.
Untuk itu pada kesempatan ini, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman
yang telah membantu kami dalam proses penyelesaian penyusunan makalah ini yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan pada kami guna terselesainya makalah ini, dengan tidak
mengurangi rasa hormat yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat berguna dan membantu kami dalam
melaksanakan kuliah nanti. Amiieen. . . . . .

osteoporosis Page 1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................................1

DAFTAR ISI........................................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................3


1.1.Latar Belakang Masalah .......................................................................................3
1.2.Tujuan Penulisan ..................................................................................................3
1.3.Metode Penulisan .................................................................................................4
1.4.Sistematika Penulisan ...........................................................................................4
BAB II KONSEP MEDIS....................................................................................................5
2.1.Pengertian .............................................................................................................5
2.2 etiologi ..................................................................................................................6
2.3 patofisiologi………………………... ..................................................................9
2.4 manifestasi klinis ..................................................................................................9
2.5 komplikasi ..........................................................................................................10
2.6 penatalaksanaan ..................................................................................................10
2.7 pemeriksaan diagnostik/penunjang.....................................................................10
BAB III KONSEP KEPERAWATAN ..............................................................................14
3.1pengkajian .........................................................................................................14
3.2diagnosa ............................................................................................................16
3.3 intervensi ..........................................................................................................17
BAB IV PENUTUP ...........................................................................................................24
4.1.Kesimpulan………………………….. ..............................................................24

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................... 25

osteoporosis Page 2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dengan meningkatnya usia harapan hidup, maka berbagai penyakit degeneratif dan metabolik,
termasuk osteoporosis akan menjadi problem muskolokeletal yang memerlukan perhatian
khusus, terutama dinegara berkembang, termasuk indonesia. Pada tahun 1990, ternyata jumlah
penduduk yang berusia 55 tahun atau lebih mencapai 9,2%, meningkat 50% dibandingkan survey
tahun 1971. Dengan demikian, kasus osteoporosis dengan berbagai akibatnya, terutama fraktur
diperkirakan juga akan meningkat ( Sodoyo, 2009 )
Penelitian Roeshadi di Jawa Timur, mendapatkan bahwa puncak massa tulang dicapai pada usia
30-34 tahun dan rata-rata kehilangan massa tulang pasca menopause adalah 1,4% tahun.
Penelitian yang dilakukan di klinik Reumatologi RSCM mendapatkan faktor resiko osteoporosis
yang meliputi umur, lamanya menopause dan kadar estrogen yang rendah, sedangkan faktor
proteksinya adalah kadar estrogen yang tinggi, riwayat berat badan lebih/obesitas dan latihan
yang teratur ( Sudoyo, 2009 ).

1.2 Rumusan Masalah


Agar penulisan makalah tidak menyimpang dari tujuan semula, maka penulis merumuskan
masalah pada:
1. Apa yang dimaksud dengan Osteoporosis?
2. Apa etiologi dari Osteoporosis?
3. Bagaimana manifestasi klinis Osteoporosis?
4. Bagaimana penatalaksanaan Osteoporosis secara medis dan keperawatan?
5. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan Osteoporosis ?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu sebagai proses pembelajaran mahasiswa dalam
memahami Osteoporosis, dan mahasiswa mampu memahami defenisi, etiologi, manifestasi
klinis, klassifikasi, penatalaksanaan medis dan keperawatan serta asuhan keperawatan dari
Osteoporosis.

osteoporosis Page 3
.

1.4 Metode Penulisan


Metode yang digunakan dalam penulisan tugas makalah ini adalah mencari dari berbagai
sumber dan diskusi bersama kelompok
1.5 Sistematika Penulisan
Penulisan makalah ini disusun dalam empat BAB dengan sistematika sebagai berikut.

osteoporosis Page 4
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 PENGERTIAN

Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya tulang, dan porous berarti
berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaitu
penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang,
disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat
menimbulkan kerapuhan tulang (Tandra, 2009).

Menurut WHO pada International Consensus Development Conference, di Roma, Itali,


1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah,
disertai perubahan mikroarsitektur tulang, dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang
pada akhirnya menimbulkan akibat meningkatnya kerapuhan tulang dengan resiko
terjadinya patah tulang (Suryati, 2006).

Menurut National Institute of Health (NIH), 2001 Osteoporosis adalah kelainan kerangka,
ditandai dengan kekuatan tulang mengkhawatirkan dan dipengaruhi oleh meningkatnya
risiko patah tulang. Sedangkan kekuatan tulang merefleksikan gabungan dari dua faktor,
yaitu densitas tulang dan kualitas tulang (Junaidi, 2007).

Osteoporosis adalah penyakit tulamg sisitemik yang ditandai oleh penurunan mikroarsitektur
tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Pada tahun 2001, National Institute
of Health (NIH) mengajukan definisi baru osteoporosis sebagai penyakit tulang sistemik
yang ditandai oleh compromised bone strength sehingga tulang mudah patah ( Sudoyo,
2009 ).

Osteoporosis dibagi 2 kelompok, yaitu :

a. Osteoporosis Primer
Osteoporosis primer berhubungan dengan kelainan pada tulang, yang menyebabkan
peningkatan proses resorpsi di tulang trabekula sehingga meningkatkan resiko fraktur

osteoporosis Page 5
vertebra dan Colles. Pada usia decade awal pasca menopause, wanita lebih sering
terkena dari pada pria dengan perbandingan 68:1 pada usia rata-rata 53-57 tahun.

b. Osteoporosis Sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit atau sebab lain diluar tulang

2.2 ETIOLOGI
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usia lanjut:
1. Determinan Massa Tulang
a. Faktor genetik
Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat kepadatan tulang. Beberapa
orang mempunyai tulang yang cukup besar dan yang lain kecil. Sebagai contoh, orang
kulit hitam pada umumnya mempunyai struktur tulang lebih kuat/berat dari pacia
bangsa Kaukasia. Jacii seseorang yang mempunyai tulang kuat (terutama kulit Hitam
Amerika), relatif imun terhadap fraktur karena osteoporosis.
b. Faktor mekanis
Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di samping faktor genetk.
Bertambahnya beban akan menambah massa tulang dan berkurangnya beban akan
mengakibatkan berkurangnya massa tulang. Kedua hal tersebut menunjukkan respons
terhadap kerja mekanik Beban mekanik yang berat akan mengakibatkan massa otot
besar dan juga massa tulang yang besar. Sebagai contoh adalah pemain tenis atau
pengayuh becak, akan dijumpai adanya hipertrofi baik pada otot maupun tulangnya
terutama pada lengan atau tungkainya, sebaliknya atrofi baik pada otot maupun
tulangnya akan dijumpai pada pasien yang harus istrahat di tempat tidur dalam waktu
yang lama, poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa. Walaupun demikian
belum diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanis yang diperlukan dan
berapa lama untuk meningkatkan massa tulang di sampihg faktor genetik.
c. faktor makanan dan hormon
Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup (protein dan
mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai dengan pengaruh

osteoporosis Page 6
genetik yang bersangkutan. Pemberian makanan yang berlebih (misainya kalsium) di
atas kebutuhan maksimal selama masa pertumbuhan, disangsikan dapat menghasilkan
massa tulang yang melebihi kemampuan pertumbuhan tulang yang bersangkutan
sesuai dengan kemampuan genetiknya.

2. Determinan penurunan Massa Tulang


a. Faktor genetik
Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat risiko fraktur
dari pada seseorang dengan tulang yang besar. Sampai saat ini tidak ada ukuran
universal yang dapat dipakai sebagai ukuran tulang normal. Setiap individu
mempunyai ketentuan normal sesuai dengan sitat genetiknya serta beban mekanis den
besar badannya. Apabila individu dengan tulang yang besar, kemudian terjadi proses
penurunan massa tulang (osteoporosis) sehubungan dengan lanjutnya usia, maka
individu tersebut relatif masih mempunyai tulang lebih banyak dari pada individu
yang mempunyai tulang kecil pada usia yang sama.
b. Faktor mekanis
Faktor mekanis mungkin merupakan yang terpenting dalarn proses penurunan massa
tulang schubungan dengan lanjutnya usia. Walaupun demikian telah terbukti bahwa
ada interaksi panting antara faktor mekanis dengan faktor nutrisi hormonal. Pada
umumnya aktivitas fisis akan menurun dengan bertambahnya usia; dan karena massa
tulang merupakan fungsi beban mekanis, massa tulang tersebut pasti akan menurun
dengan bertambahnya usia.
c. Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses penurunan massa
tulang sehubungan dengan bertambahnya usia, terutama pada wanita post menopause.
Kalsium, merupakan nutrisi yang sangat penting. Wanita-wanita pada masa peri
menopause, dengan masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak bak, akan
mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif, sedang mereka yang
masukan kalsiumnya baik dan absorbsinya juga baik, menunjukkan keseimbangan
kalsium positif. Dari keadaan ini jelas, bahwa pada wanita masa menopause ada
hubungan yang erat antara masukan kalsium dengan keseimbangan kalsium dalam

osteoporosis Page 7
tubuhnya. Pada wanita dalam masa menopause keseimbangan kalsiumnya akan
terganggu akibat masukan serta absorbsinya kurang serta eksresi melalui urin yang
bertambah. Hasil akhir kekurangan/kehilangan estrogen pada masa menopause adalah
pergeseran keseimbangan kalsium yang negatif, sejumiah 25 mg kalsium sehari.
d. Protein
Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi penurunan massa
tulang. Makanan yang kaya protein akan mengakibatkan ekskresi asam amino yang
mengandung sulfat melalui urin, hal ini akan meningkatkan ekskresi kalsium. Pada
umumnya protein tidak dimakan secara tersendiri, tetapi bersama makanan lain.
Apabila makanan tersebut mengandung fosfor, maka fosfor tersebut akan mengurangi
ekskresi kalsium melalui urin. Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah pengeluaran
kalsium melalui tinja. Hasil akhir dari makanan yang mengandung protein berlebihan
akan mengakibatkan kecenderungan untuk terjadi keseimbangan kalsium yang
negative.
e. Estrogen.
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan terjadinya
gangguan keseimbangan kalsium. Hal ini disebabkan oleh karena menurunnya
eflsiensi absorbsi kalsium dari makanan dan juga menurunnya konservasi kalsium di
ginjal.
f. Rokok dan kopi
Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan mengakibatkan
penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertai masukan kalsium yang rendah.
Mekanisme pengaruh merokok terhadap penurunan massa tulang tidak diketahui,
akan tetapi kafein dapat memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja.
g. Alkohol
Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang sering ditemukan. Individu
dengan alkoholisme mempunyai kecenderungan masukan kalsium rendah, disertai
dengan ekskresi lewat urin yang meningkat. Mekanisme yang jelas belum diketahui
dengan pasti.

osteoporosis Page 8
Beberapa penyebab osteoporosis dalam (Junaidi, 2007), yaitu:
1. Osteoporosis pascamenopause terjadi karena kurangnya hormon estrogen (hormon
utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium kedalam
tulang. Biasanya gejala timbul pada perempuan yang berusia antara 51-75 tahun,
tetapi dapat muncul lebih cepat atau lebih lambat. Hormon estrogen produksinya
menurun 2-3 tahun sebelum menopause dan terus berlangsung 3-4 tahun setelah
meopause. Hal ini berakibat menurunnya massa tulang sebanyak 1-3% dalam waktu
5-7 tahun pertama setelah menopause.
2. Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang
berhubungan dengan usia dan ketidak seimbangan antara kecepatan hancurnya
tulang (osteoklas) dan pembentukan tulang baru (osteoblast). Senilis berati bahwa
keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang-
orang berusia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering wanita. Wanita sering kali
menderita osteoporosis senilis dan pasca menopause.
3. Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder yang
disebakan oleh keadaan medis lain atau obat-obatan. Penyakit ini bisa disebabkan
oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid, dan
adrenal) serta obat-obatan (mislnya kortikosteroid, barbiturat, anti kejang, dan
hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dapat
memperburuk keadaan ini.
4. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya
tidak diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki
kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal, dan tidak
memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang.

2.3 Patofisiologi PPOM


Kartilago hialin adalah jaringan elastis yang 95% terdiri dari air dan matrik ekstra selular,
5 % sel konrosit. Fungsinya sebagai penyangga juga pelumas sehingga tidak
menimbulkan nyeri pada saat pergerakan sendi.

Apabila kerusakan jaringan rawan sendi lebih cepat dari kemampuannya untuk
memperbaiki diri, maka terjadi penipisan dan kehilangan pelumas sehingga kedua tulang

osteoporosis Page 9
akan bersentuhan. Inilah yang menyebabkan rasa nyeri pada sendi lutut. Setelah terjadi
kerusakan tulang rawan, sendi dan tulang ikut berubah

2. 4 Manifestasi Klinis
Osteoporosis dimanifestasikan dengan :

1. Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata.


2. Nyeri timbul mendadak.
3. Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang.
4. Nyeri berkurang pada saat istirahat di tempat tidur.
5. Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah jika melakukan aktivitas.
6. Deformitas vertebra thorakalis  Penurunan tinggi badan

2.5 KOMPLIKASI
Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif menjadi panas, rapuh dan mudah
patah. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur. Bisa terjadi fraktur kompresi vertebra
torakalis dan lumbalis, fraktur daerah kolum femoris dan daerah trokhanter, dan fraktur
colles pada pergelangan. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur kompresi. Fraktur
kompresi ganda vertebra mengakibatkan deformitas skelet tangan

2.6 PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan Medis

A. Pengobatan

1. Meningkatkan pembentukan tulang, obat-obatan yg dapat meningkatkan


pembentukan tulan adalah Na-fluorida dan steroid anabolik

2. Menghambat resobsi tulang, obat-obatan yang dapat mengahambat resorbsi


tulang adalah kalsium, kalsitonin, estrogen dan difosfonat.

B. Pencegahan

Pencegahan sebaiknya dilakukan pada usia pertumbuhan/dewasa muda, hal ini


bertujuan:

osteoporosis Page 10
1. Mencapai massa tulang dewasa Proses konsolidasi) yang optimal

2. Mengatur makanan dan life style yg menjadi seseorang tetap bugar seperti:

a. Diet mengandung tinggi kalsium (1000 mg/hari)

b. Latihan teratur setiap hari

c. Hindari :

1. Makanan tinggi protein

2. Minum alkohol

3. Merokok

4. Minum kopi

5. Minum antasida yang mengandung aluminium

2. Penatalaksanaan keperawatan

a. Membantu klien mengatasi nyeri.

b. Membantu klien dalam mobilitas.

c. Memberikan informasi tentang penyakit yang diderita kepada klien.

d. Memfasilitasikan klien dalam beraktivitas agar tidak terjadi cedera.

2.7 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK/PENUNJANG

a. Pemeriksaan radiologik

Dilakukan untuk menilai densitas massa tulang sangat tidak sensitif. Gambaran
radiologik yang khas pada osteoporosis adalah penipisan korteks dan daerah
trabekuler yang lebih lusen.Hal ini akan tampak pada tulang-tulang vertebra yang
memberikan gambaran picture-frame vertebra.

b. Pemeriksaan densitas massa tulang (Densitometri)

Densitometri tulang merupakan pemeriksaan yang akurat dan untuk menilai densitas
massa tulang, seseorang dikatakan menderita osteoporosis apabila nilai BMD ( Bone

osteoporosis Page 11
Mineral Density ) berada dibawah -2,5 dan dikatakan mengalami osteopenia (mulai
menurunnya kepadatan tulang) bila nilai BMD berada antara -2,5 dan -1 dan normal
apabila nilai BMD berada diatas nilai -1.

Beberapa metode yang digunakan untuk menilai densitas massa tulang:

1. Single-Photon Absortiometry (SPA)

Pada SPA digunakan unsur radioisotop I yang mempunyai energi photon rendah
guna menghasilkan berkas radiasi kolimasi tinggi. SPA digunakan hanya untuk
bagian tulang yang mempunyai jaringan lunak yang tidak tebalseperti distal radius
dan kalkaneus.

2. Dual-Photon Absorptiometry (DPA)

Metode ini mempunyai cara yang sama dengan SPA. Perbedaannya berupa
sumber energi yang mempunyai photon dengan 2 tingkat energi yang berbeda
guna mengatasi tulang dan jaringan lunak yang cukup tebal sehingga dapat
dipakai untuk evaluasi bagian-bagian tubuh dan tulang yang mempunyai struktur
geometri komplek seperti pada daerah leher femur dan vetrebrata.

3. Quantitative Computer Tomography (QCT)

Merupakan densitometri yang paling ideal karena mengukur densitas tulang


secara volimetrik.

c. Sonodensitometri

Sebuah metode yang digunakan untuk menilai densitas perifer dengan menggunakan
gelombang suara dan tanpa adanya resiko radiasi.

d. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI dalam menilai densitas tulang trabekula melalui dua langkah yaitu pertama T2
sumsum tulang dapat digunakan untuk menilai densitas serta kualitas jaringan tulang
trabekula dan yang kedua untuk menilai arsitektur trabekula.

e. Biopsi tulang dan Histomorfometri

Merupakan pemeriksaan yang sangat penting untuk memeriksa kelainan


metabolisme tulang.

osteoporosis Page 12
f. Radiologis
Gejala radiologis yang khas adalah densitas atau masa tulang yang menurun yang
dapat dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra biasanya
merupakan lokasi yang paling berat. Penipisa korteks dan hilangnya trabekula
transfersal merupakan kelainan yang sering ditemukan. Lemahnya korpus vertebra
menyebabkan penonjolan yang menggelembung dari nukleus pulposus ke dalam
ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
g. CT-Scan
CT-Scan dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai nilai
penting dalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral vertebra diatas 110 mg/cm3
baisanya tidak menimbulkan fraktur vetebra atau penonjolan, sedangkan mineral
vertebra dibawah 65 mg/cm3 ada pada hampir semua klien yang mengalami fraktur.
h. Pemeriksaan Laboratorium
1. Kadar Ca, P, Fosfatase alkali tidak menunjukkan kelainan yang nyata.
2. Kadar HPT (pada pascamenoupouse kadar HPT meningkat) dan
Ct (terapi) ekstrogen merangsang pembentukkan Ct)

3. Kadar 1,25-(OH)2-D3 absorbsi Ca menurun.

4. Eksresi fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga meningkat kadarnya

osteoporosis Page 13
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOPOROSIS

3.1 Pengkajian
1. Assesment
a) Riwayat kesehatan. Anamnesis memegang peranan penting pada evaluasi klien
osteoporosis. Kadang keluhan utama (missal fraktur kolum femoris pada
osteoporosis). Factor lain yang perlu diperhatikan adalah usia, jenis kelamin, ras,
status haid, fraktur pada trauma minimal, imobilisasi lama, penurunan tinggi badan
pada orang tua, kurangnya paparan sinar matahari, kurang asupan kalasium, fosfat
dan vitamin D. obat-obatan yang diminum dalam jangka panjang, alkohol dan
merokok merupakan factor risiko osteoporosis. Penyakit lain yang juga harus
ditanyakan adalah ppenyakit ginjal, saluran cerna, hati, endokrin dan insufisiensi
pancreas. Riwayat haid , usia menarke dan menopause, penggunaan obat
kontrasepsi, serta riwayat keluarga yang menderita osteoporosis juga perlu
dipertanyakan.
b) Pengkajian psikososial. Perlu mengkaji konsep diri pasien terutama citra diri
khususnya pada klien dengan kifosis berat. Klien mungkin membatasi interaksi
social karena perubahan yang tampak atau keterbatasan fisik, misalnya tidak mampu
duduk dikursi dan lain-lain. Perubahan seksual dapat terjadi karena harga diri rendah
atau tidak nyaman selama posisi interkoitus. Osteoporosis menyebabkan fraktur
berulang sehingga perawat perlu mengkaji perasaan cemas dan takut pada pasien.
c) Pola aktivitas sehari-hari. Pola aktivitas dan latihan biasanya berhubungan dengan
olahraga, pengisian waktu luang dan rekreasi, berpakaian, mandi, makan dan toilet.
Beberapa perubahan yang terjadi sehubungan dengan dengan menurunnya gerak dan
persendian adalah agility, stamina menurun, koordinasi menurun, dan dexterity
(kemampuan memanipulasi ketrampilan motorik halus) menurun.

osteoporosis Page 14
Adapun data subyektif dan obyektif yang bisa didapatkan dari klien dengan
osteoporosis adalah :
1. Data subyektif :
 Klien mengeluh nyeri tulang belakang
 Klien mengeluh kemampuan gerak cepat menurun
 Klien mengatakan membatasi pergaulannya karena perubahan yang tampak dan
keterbatasan gerak
 Klien mengatakan stamina badannya terasa menurun
 Klien mengeluh bengkak pada pergelangan tangannya setelah jatuh
 Klien mengatakan kurang mengerti tentang proses penyakitnya
 Klien mengatakan buang air besar susah dan keras
2. Data obyektif ;
 tulang belakang bungkuk
 terdapat penurunan tinggi badan
 klien tampak menggunakan penyangga tulang belakang (spinal brace)
 terdapat fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis angular
 klien tampak gelisah
 klien tampak meringis

2. Pemeriksaan fisik
a) Sistem pernafasan
Terjadi perubahan pernafasan pada kasus kiposis berat, karena penekanan pada
fungsional paru.
b) Sistem kardiovaskuler

c) Sistem persyarafan
Nyeri punggung yang disertai pembatasan pergerakan spinal yang disadari dan
halus merupakan indikasi adanya fraktur satu atau lebih fraktur kompresi
vertebral.

osteoporosis Page 15
d) Sistem perkemihan

e) Sistem Pencernaan
Pembatasan pergerakan dan deformitas spinal mungkin menyebabkan konstipasi,
abdominal distance.
f) Sistem musklooskletal
Inspeksi dan palpasi pada daerah columna vertebralis, penderita dengan
osteoporosis seirng menunjukkan kiposis atau gibbus (dowager’s hump) dan
penurunan tinggi badan dan berat badan. Adanya perubahan gaya berjalan,
deformitas tulang, leg-length inequality, nyeri spinal. Lokasi fraktur yang sering
terjadi adalah antara vertebrae thorakalis 8 dan lumbalis 3.

3. Pemeriksaan diagnostic
- Radiology
- CT scan
- Pemeriksaan laboratoriu
3. 2 Diagnosa Yang Mungkin Muncul Pada Osteoporosis
1) Nyeri sehubungan dengan dampak sekunder dari fraktur vertebrae
2) terhadap perubahan
skletal (kiposis), nyeri sekunder atau frkatur baru.
3) Risiko injury (cedera) berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skletal dan
ketidakseimbangan tubuh
4) Kurang perawatan diri yang berhubungan dengan keletihan atau gangguan gerak
ditandai dengan klien mengeluh nyeri pada tulang belakang, kemampuan gerak cepat
menurun, klien mengatakan badan terasa lemas dan stamina menurun serta terdapat
fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis angular.
5) Gangguan citra diri yang berhubungan dengan perubahan dan ketergantungan fisik
serta psikologis yang disebabkan oleh penyakit atau terapi ditandai dengan klien
mengatakan membatasi pergaulan dan tampak menggunakan penyangga tulang
belakang (spinal brace)
Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat menunjukkan

osteoporosis Page 16
adaptasi dan menyatakan penerimaan pada situasi diri dengan criteria hasil klien
mengenali dan menyatu dengan perubahan dalam konsep diri yang akurat tanpa harga
diri negative, mengungkapkan dan mendemonstrasikan peningkatan perasaan positif
6) Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi yang
berhubungan dengan kurang informasi, salah persepsi ditandai dengan klien
mengatakan kurang ,mengerti tentang penyakitnya, klien tampak gelisah
7) Gangguan eleminasi alvi yang berhubungan dengan kompresi saraf pencernaan ileus
paralitik ditandai dengan klien mengatakan buang air besar susah dan keras
3.3 Intervensi
1. Nyeri sehubungan dengan dampak sekunder dari fraktur vertebrae
Tujuan ; Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang
Kriteria :
- Klien akan mengekspresikan perasaan nyerinya
- Klien dapat tenang dan istirahat yang cukup
- Klien dapat mandiri dalam perawatan dan penanganannya secara sederhana
INTERVENSI RASIONAL
1. Pantau tingkat nyeri pada 1. Tulang dalam peningkatan jumlah
punggung, terlokalisisr atau nyeri trabekuler, pembatasan gerak spinal.
menyebar pada abdomen atau
pinggang
2. Ajarkan pada klien tentang 2. Laternatif lain untuk mengatasi nyeri
alternatif lain untuk mengatasi pengaturan posisi, kompres hangat dan
dan mengurangi rasa nyerinya. sebagainya.
3. Kaji obat-obatan untuk mengatasi 3. Keyakinan klien tidak dapat mentolelir
nyeri akanb obat yang adequaty atau tidak
adequat untuk mengatasi nyerinya.
4. Rencanakan pada klien tentang 4. Kelelahan dan keletihan dapat
periode istirahat adequat dengan menurunkan minat untuk aktivitas
berbaring dengan posisi sehari-hari.
terlentang selam kurang lebih 15
menit

osteoporosis Page 17
2. Perubahah mobilitas fisik berhubungan dengan disfungsi sekunder terhadap
perubahan skletal (kiposis), nyeri sekunder atau frkatur baru.
Tujuan : Setelah diberi tindakan keperawatan diharapkan klien mampu melakukan
mobilitas fisik.
Kriteria :
-Klien dapat meningkatkan mobilitas fisik
-Klien mampu melakukan ADL secara independent
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji tingkat kemampuan klien 1. Dasar untuk memberikan alternatif dan
yang masih ada latihan gerak yang sesuai dengan
kemampuannya.
2. Rencanakan tentang pemberian 2. Latihan akan meningkatkan pergrakan
program latihan : otot dan stimulasi sirkulasi darah.

- bantu klien jika diperlukan


latihan
- ajarkan klien tentang ADL
yang bisa dikerjakan,
- ajarkan pentingnya latihan
3. Bantu kebutuhan untuk 3.ADL secara independent
beradaptasi dan melakukan ADL,
rencana okupasi
4. Meningkatan latihan fisik secara 4. Dengan latihan fisik :
adequat :
- Dorong latihan dan hindari - Massa otot lebih besar sehingga
tekanan pada tulang seperti memberikan perlindungan pada
berjalan osteoporosis
- nstruksikan klien latihan selama -Program latihan merangsang
kurang lebi 30 menit dan selingi pembentukan tulang
dengan isitirahat.

osteoporosis Page 18
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Osteoporosis adalah penyakit tulamg sisitemik yang ditandai oleh penurunan
mikroarsitektur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.

Osteoporosis dibagi 2 kelompok, yaitu :

1. Osteoporosis Primer

Osteoporosis primer berhubungan dengan kelainan pada tulang, yang menyebabkan


peningkatan proses resorpsi di tulang trabekula sehingga meningkatkan resiko fraktur
vertebra dan Colles. Pada usia decade awal pasca menopause, wanita lebih sering
terkena dari pada pria dengan perbandingan 68:1 pada usia rata-rata 53-57 tahun.

2. Osteoporosis Sekunder

Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit atau sebab lain diluar tulang

osteoporosis Page 19
DAFTAR PUSTAKA

Setiyohadi, Bambang. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
McCloskey,Joanne.2004.Nursing Interventions Classification (NIC) Fourth Edition St.Louis
Missouri:Westline Industrial Line
Misnadiarly. 2007. OSTEOPOROSIS Jakarta: Pustaka Obor Populer
Moorhead,Sue.2008. Nursing Outcomes Classification (NOC) Fourth Edition St.Louis
Missouri:Westline Industrial Line
Price, Sylvia Anderson, Lorraine McCarty Wilson. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit Edisi 6 Volume 2. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Rubenstein, David, dkk. 2005. Lecture Notes: Kedokteran Klinis. Alih bahasa, dr. Annisa
Rahmalia. Editor edisi bahasa Indonesia, Amalia Safitri. Ed.6. Jakarta: Erlangga
Smeltzer, Suzanne C & Bare, Brenda G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth. Alih bahasa, Agung Waluyo,dkk. Editor edisi bahasa Indonesia, Monica Ester.
Ed.8. Jakarta : EGC.
Sudoyo W,Aru.2006.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV.Jakarta:Pusat Penerbitan
Depatement Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Sustrani, Lanny, Syamsir Alam, Iwan hadibroto.OSTEOPOROSIS.2007. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama
Wilkins, Williams, Lippincot. 2011. Nursing : Memahami Berbagai Macam Penyakit. Cerakan I.
PT.Indeks. Jakarta

osteoporosis Page 20