Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT. Karena atas berkat rahmat-Nya
kami dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya. Tak lupa pula kami mengucapkan
terima kasih kepada dosen Mata Kuliah Tuberkulosis yang telah memberikan tugas ini
kepada kami sebagai upaya untuk menjadikan kami manusia yang berilmu dan
berpengetahuan.

Keberhasilan kami dalam menyelesaikan makalah ini tentunya tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak. Untuk itu, kami menyampaikan terima kasih pada semua pihak yang
telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan
dan masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki, untuk itu, kami mengharapkan saran
yang membangun demi kesempurnaan makalah ini, sehingga dapat bermanfaat bagi siapapun
yang membacanya.

Gorontalo, Januari 2019

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang ditimbulkan oleh Mycobacterium
tuberculosis. Penyakit ini dulunya bernama Consumption atau Pthisis dan semula
dianggap sebagai penyakit turunan. Barulah Leannec (1819) yang pertama-tama
menyatakan bahwa penyakit ini suatu infeksi kronik, dan Koch (1882) dapat
mengidentifikasikan kuman penyebabnya. Penyakit ini dinamakan tuberkulosis karena
terbentuknya nodul yang khas yakni tubercle. Hampir seluruh organ tubuh dapat
terserang olehnya, tapi yang paling banyak adalah paru-paru (1,2).
Penyakit tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga DEPKES tahun 1995 menunjukan angka
kematian nomor satu dari seluruh golongan penyakit infeksi. WHO memperkirakan
(2000) setiap tahun terjadi 583.000 kasus tuberkulosis baru dan kematian mencapai
140.000. Secara kasar diperkirakan setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130
penduduk baru dengan BTA positif. Kriteria yang menyatakan bahwa di suatu negara
tuberkulosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat adalah bila hanya terdapat
satu kasus BTA (+) per satu juta penduduk. Sampai hari ini belum ada satu negarapun di
dunia yang telah memenuhi kriteria tersebut, artinya belum ada satu negarapun yang
bebas tuberkulosis. Bahkan untuk negara maju, yang pada mulanya angka tuberkulosis
telah menurun, tetapi belakangan ini naik lagi sehingga tuberkulosis disebut sebagai
salah satu reemerging diseases. Untuk Indonesia tuberkulosis bukanlah “reemerging
diseases”, penyakit ini belum pernah menurun jumlahnya di negara kita, dan bukan tidak
mungkin meningkat (2,3).
Laporan Internasional (1999) bahkan menunjukan Indonesia adalah “penyumbang
kasus penderita tuberkulosis terbesar ke tiga di dunia sesudah Cina dan India” (2,3).
Padahal pada tahun 1980 berdasarkan survei Departemen Kesehatan tergolong empat
besar (1). Menurut prediksi WHO pada saat sekarang ini Indonesia menduduki peringkat
pertama, sehingga WHO telah menyarankan untuk diterapkannya program DOTS di
negara kita. WHO menyatakan bahwa kunci keberhasilan penanggulangan tuberkulosis
adalah menerapkan strategi DOTS, yang telah teruji ampuh di berbagai negara. Karena
itu, pemahaman tentang DOTS merupakan hal yang amat penting agar tuberkulosis dapat
ditanggulangi dengan baik.
Penanggulangan penyakit TB Paru perlu ditangani dengan cara yang lebih baik
agar tidak lagi menjadi masalah di Indonesia, terutama dari segi manajemen pengobatan
seperti pengawasan keteraturan berobat (Departemen Kesehatan RI, 2002). Salah satu
dari komponen DOTS adalah panduan OAT jangka pendek dengan pengawasan
langsung. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang pengawas minum
obat (PMO). Keluarga dapat dijadikan sebagai PMO, karena dikenal, dipercaya dan
disetujui, baik oleh petugas kesehatan maupun penderita, selain itu harus disegani,
dihormati dan tinggal dekat dengan penderita serta bersedia membantu penderita dengan
sukarela. (Pengurus Pusat Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia, 2000).

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dmaksud dengan DOTS dan PMO?
2. Apa saja komponen yang ada di dalam DOTS?
3. Apa saja syarat untuk menjadi seorang PMO?
4. Apa tujuan PMO?
5. Bagaimana tugas seorang PMO?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengrtian DOTS dan PMO
2. Untuk mengetahui apa saja komponen yang terdapat dalam DOTS
3. Untuk mengetahui syarat menjadi seorang PMO
4. Untuk mengetahui tujuan adanya PMO
5. Untuk mengetahui bagaimana tugas menjadi seorang PMO
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi
Kalau kita tulis dalam huruf kecil, “dots”, dan kemudian kita balik 180 derajat
membacanya, akan terbaca sebagai “stop”. Memang demikianlah maksudnya stop
tuberkulosis. DOTS (Directly Observed Treatment, Short-course) adalah pengawasan
langsung pengobatan jangka pendek, yang kalau kita jabarkan pengertian DOTS dapat
dimulai dengan keharusan setiap pengelola program tuberkulosis untuk direct
attention dalam usaha menemukan penderita dengan kata lain mendeteksi kasus dengan
pemeriksaan mikroskop. Kemudian setiap penderita harus di observed dalam memakan
obatnya, setiap obat yang ditelan penderita harus di depan seorang pengawas. Selain itu
tentunya penderita harus menerima treatment yang tertata dalam sistem pengelolaan,
distribusi dengan penyediaan obat yang cukup. Kemudian, setiap penderita harus
mendapat obat yang baik, artinya pengobatan short course standard yang telah terbukti
ampuh secara klinis. Akhirnya, harus ada dukungan dari pemerintah yang membuat
program penanggulangan tuberkulosis mendapat prioritas yang tinggi dalam pelayanan
kesehatan.
Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan panduan OAT jangka pendek
dengan pengawasan langsung untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan
Pengawas Menelan Obat (PMO). Pengawas Menelan Obat atau PMO adalahorang yang
bertugas mengawasi pasien TB dalam melaksnakan kepastian obat TB dapat diminum
secara tepat oleh pasien.

B. Komponen DOTS
DOTS mengandung lima komponen, yaitu:
1. Komitmen pemerintah untuk mendukung pengawasan tuberkulosis.
Komitmen politik pemerintah dalam mendukung pengawasan tuberkulosis
adalah penting terhadap keempat unsur lainnya untuk dijalankan dengan baik.
Komitmen ini seyogyanya dimulai dengan keputusan pemerintah untuk menjadikan
tuberkulosis sebagai perioritas penting/utama dalam program kesehatan. Untuk
mendapatkan dampak yang memadai maka harus dibuat program nasional yang
menyeluruh yang diikuti dengan pembuatan buku petunjuk (guideline) yang
menjelaskan bagaimana DOTS dapat diimplementasikan dalam program/sistem
kesehatan umum yang ada. Begitu dasar-dasar ini telah diletakan maka diperlukan
dukungan pendanaan serta tenaga pelaksana yang terlatih untuk dapat mewujudkan
program menjadi kegiatan nyata di masyarakat.

2. Penemuan kasus dengan pemeriksaan mikroskopik sputum, utamanya dilakukan pada


mereka yang datang ke pasilitas kesehatan karena keluhan paru dan pernapasan.
Pemeriksaan mikroskopis sputum adalah metode yang paling efektif untuk
penyaringan terhadap tersangka tuberkulosis paru. WHO merekomendasikan strategi
pengawasan tuberkulosis, dilengkapi dengan laboratorium yang berfungsi baik untuk
mendeteksi dari mulai awal, tindak lanjutan dan menetapkan pengobatannya. Secara
umum pemeriksaan mikroskop merupakan cara yang paling cost effective dalam
menemukan kasus tuberkulosis. Dalam hal ini, pada keadaan tertentu dapat dilakukan
pemeriksaan foto toraks, dengan kriteria-kriteria yang jelas yang dapat diterapkan di
masyarakat.

3. Cara pengobatan standard selama 6 – 8 bulan untuk semua kasus dengan pemeriksaan
sputum positif, dengan pengawasan pengobatan secara langsung, untuk sekurang-
kurangnya dua bulan pertama.
Pemberian obat yang diawasi secara langsung, atau dikenal dengan istilah
DOT (Directly Observed Therapy), pasien diawasi secara langsung ketika menelan
obatnya, dimana obat yang diberikan harus sesuai standard (3). Dalam aturan
pengobatan tuberkulosis jangka pendek yang berlangsung selama 6 – 8 bulan dengan
menggunakan kombinasi obat anti TB yang adekuat. Pemberian obat harus
berdasarkan apakah pasien diklasifikasikan sebagai kasus baru atau kasus
lanjutan/kambuh, dan seyogyanya diberikan secara gratis kepada seluruh pasien
tuberkulosis.
Pengawasan pengobatan secara langsung adalah penting setidaknya selama
tahap pengobatan intensif (2 bulan pertama) untuk meyakinkan bahwa obat dimakan
dengan kombinasi yang benar dan jangka waktu yang tepat. Dengan pengawasan
pengobatan secara langsung, pasien tidak memikul sendiri tanggung jawab akan
kepatuhan penggunaan obat. Para petugas pelayanan kesehatan, petugas kesehatan
masyarakat, pemerintah dan masyarakat semua harus berbagi tanggung jawab dan
memberi banyak dukungan kepada pasien untuk melanjutkan dan menyelesaikan
pengobatannya. Pengawas pengobatan bisa jadi siapa saja yang berkeinginan,
terlatih, bertanggung jawab, dapat diterima oleh pasien dan bertanggung jawab
terhadap pelayanan pengawasan pengobatan tuberkulosis.

4. Penyediaan semua obat anti tuberkulosis secara teratur, menyeluruh dan tepat waktu.
Jaminan tersedianya obat secara teratur, menyeluruh dan tepat waktu, sangat
diperlukan guna keteraturan pengobatan. Masalah utama dalam hal ini adalah
perencanaan dan pemeliharaan stok obat pada berbagai tingkat daerah. Untuk ini
diperlukan pencatatan dan pelaporan penggunaan obat yang baik, seperti misalnya
jumlah kasus pada setiap kategori pengobatan, kasus yang ditangani pada waktu lalu
(untuk memperkirakan kebutuhan), data akurat stok masing-masing gudang yang
ada, dan lain-lain.

5. Pencatatan dan pelaporan yang baik sehingga memungkinkan penilaian terhadap hasil
pengobatan untuk tiap pasien dan penilaian terhadap program pelaksanaan
pengawasan tuberkulosis secara keseluruhan.
Sistem pencatatan dan pelaporan digunakan untuk sistematika evaluasi
kemajuan pasien dan hasil pengobatan. Sistem ini terdiri dari daftar laboratorium
yang berisi catatan dari semua pasien yang diperiksa sputumnya, kartu pengobatan
pasien yang merinci penggunaan obat dan pemeriksaan sputum lanjutan.
Setiap pasien tuberkulosis yang diobati harus mempunyai kartu identitas
penderita yang telah tercatat di catatan tuberkulosis yang ada di kabupaten.
Kemanapun pasien ini pergi, dia harus menggunakan kartu yang sama sehingga dapat
melanjutkan pemgobatannya dan tidak sampai tercatat dua kali.
Di luar lima komponen penting ini, tentu juga ada beberapa kegiatan lain
yang penting, seperti pelatihan, supervisi, jaringan laboratorium, proses jaga mutu
(quality control), dll.

C. Syarat PMO
1. Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui baik oleh petugas kesehatan
maupun penderita selain itu harus disegani dan dihormati oleh penderita.
2. Seseorang yang tinggal dekat dengan penderita.
3. Bersedia membantu penderita dengan sukarela.
4. Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan penderita.
5. Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya bidan di desa, perawat,
pekarya, sanitarian, juru imunisasi dan lain-lain.
D. Tujuan PMO
Belum selesais
E. Tugas PMO
Tugas seorang PMO bukanlah untuk menggantikan pasien mengambil obat
dari tempat berobat. Tugas PMO sangat penting untuk meningkatkan angka
kesembuhan pasien, antara lain adalah:

 Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan.
Tanpa PMO, pasien rentan drop out, sehingga kuman terlanjur kebal obat dan
waktu pengobatan bisa diulang dan lebih panjang.
 Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur.
 Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan.
 Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-
gejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan
Kesehatan.

Dalam menjalankan tugasnya, seorang PMO pun harus aktif memberikan


informasi penting yang perlu dipahami oleh pasien TB dan anggota keluarga lain.
Hal-hal itu antara lain:

 Bahwa TB disebabkan kuman, bukan penyakit keturunan atau kutukan.


 Bagaimana cara penularan TB, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara
pencegahannya.
 Bahwa TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur, bila tidak patuh
pengobatan menjadi lebih panjang karena kuman terlanjur lebih liar dan kebal
obat.
 Bagaimana cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan).
 Apa pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur.
 Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta
pertolongan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Mengingat peranannya yang besar, sangat penting bagi seorang pasien TB
memiliki pengawas minum obat. Dengan kerjasama PMO-pasien yang solid, angka
kecacatan dan kematian akibat TB dapat ditekan.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Bahar A. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 1990; 715.
Suradi. Diagnosis dan pengobatan TB paru. Temu Ilmiah Respirologi. Surakarta. 2001.
Aditama TY. DOTS & DOTS Plus. Temu Ilmiah Respirologi. Surakarta. 2001.
Ami Sari. Pengalaman pelaksanaan DOTS di puskesmas. Temu Ilmiah Respirologi.
Surakarta. 2001.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman penatalaksanaan TB paru. 1998.
www.who.int/gtb/policyrd/DOTS.htm.
www.who.int/gtb/policyrd/DOTS.tb. Otsuga Katsunori. JICA Project.
www.who.int/gtb/policyrd/DOTS.tb. Paulin MZ. Report from Piliphina.
www.who.int/gtb/policyrd/rusia. Perelman MI. Tuberculosis in Rusia.
https://www.academia.edu/8125078/HUBUNGAN_ANTARA_PERAN_PENGAWAS_ME
NELAN_OBAT_PMO_DENGAN_KEBERHASILAN_PENGOBATAN_PENDERITA_TU
BERKULOSIS_PARU_DI_PUSKESMAS_WONOSOBO_I
https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/tuberculosis-tbc/pengawas-minum-obat-tbc-
tuberkulosis/