Anda di halaman 1dari 59

i

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Sejarah Pertamina RU IV Cilacap


Pembangunan kilang minyak Cilacap merupakan salah satu dari unit-unit
pengolahan yang ada di Indonesia dengan unit pengolahan terbesar dan
terlengkap hasil produksinya. Kapasitas kilang ini sebesar 348.000 barrel/hari
dengan luas area kilang dan perkantoran 226,39 Ha. Pembangunan kilang
minyak Cilacap dilaksanakan dalam beberapa tahap yaitu Kilang Minyak I,
Kilang Minyak II, Kilang Paraxylene, Debottlenecking Project, Kilang SRU
dan Kilang RFCC.
Tujuan pembangunan kilang minyak ini di Cilacap adalah untuk
memenuhi kebutuhan BBM bagi masyarakat Pulau Jawa, mengingat secara
geografis posisi kilang cilacap terletak disentral pulau Jawa atau dekat dengan
konsumen terpadat penduduknya di Indonesia. Disamping itu juga untuk
mengurangi ketergantungan impor BBM dari luar negeri, dan sebagai langkah
efisiensi karena memudahkan supply distribusi. Gas
LPG
Gasoline
Kerosene / Avtur
ADO / IDO
Fuel Oil LSWR
Complex IFO
HEAVY
II NAPTH Gas
A KIlang LPG
Paraxylene Gasoline
p-Xylene
Domestic Cilacap Benzene
230 MB Heavy Aromate
230 MB
Fuel Oil
Complex Base Oil
I Parafinic
Lube Oil Extract / Minarex
Long Complex Asphalt
Residue I / II / III Slack Wax
Mid East IFO
118 MB
118 MB
BBM Non-BBM

Gambar 1.1 Blok Diagram Proses RU-IV


(Sumber: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

Laporan Kerja Praktek 1


PT Pertamina RU IV Cilacap
Gambar 1.2 Blok Diagram Proses RFCC
(Sumber: PT Pertamina (Persero) RU-IV Cilacap)

1.1.1 Kilang Minyak I


Pembangunan kilang minyak I Cilacap dimulai tahun 1974 dan mulai
beroperasi pada 24 Agustus 1976 setelah diresmikan oleh Presiden Soeharto.
Kilang ini dirancang oleh Shell International Petroleum Maatschappij (SIPM),
sedangkan kontraktornya adalah Fluor Eastern Inc yang dibantu oleh
beberapa sub kontraktor dari perusahaan nasional Indonesia dan asing. Selaku
pengawas dalam pelaksanaan proyek ini adalah Pertamina.
Kilang Minyak I ini dirancang dengan kapasitas semula 100.000
barrel/hari. Sejalan dengan peningkatan kebutuhan konsumen, maka
ditingkatkan kapasitasnya melalui Debottlenecking Project Cilacap pada tahun
1998/1999 sehingga kapasitasnya menjadi 118.000 barrel/hari. Kilang ini
dirancang untuk mengolah crude oil dari Timur Tengah yaitu Arabian Light
Crude (ALC). Selain menghasilkan BBM, kilang ini juga merupakan satu-
satunya kilang pelumas (lube base oil) dan aspal. Dalam perkembangan
selanjutnya, kilang ini tidak hanya mengolah Arabian Light Crude (ALC)
tetapi juga Iranian Light Crude (ILC) dan Basrah Light Crude (BLC).
Kilang Minyak I Pertamina Refinery Unit IV Cilacap meliputi :
a. Fuel Oil Complex (FOC I), untuk memproduksi BBM.

Laporan Kerja Praktek 2


PT Pertamina RU IV Cilacap
b. Lube Oil Complex (LOC I), untuk memproduksi bahan baku minyak
pelumas (lube base oil) dan aspal.
c. Utilities Complex I (UTL I), menyediakan semua kebutuhan utilities dari
unit-unit proses seperti steam, listrik, angin instrumen, air pendingin serta
fuel system.
d. Offsite Facilities yaitu sebagai fasilitas penunjang yang terdiri dari tangki-
tangki storage, flare sistem, utilitas dan environment system.

1.1.2 Kilang Minyak II


Kilang Minyak II dibangun pada tahun 1981 untuk memenuhi kebutuhan
BBM dalam negeri yang terus meningkat. Setelah diresmikan oleh Presiden
Soeharto pada tanggal 4 Agustus 1983, kilang ini memulai operasinya.
Kompleks BBM (Fuel Oil Complex II) di kilang ini dirancang oleh Universal
Oil Product (UOP) sedangkan Kompleks Bahan Dasar Minyak Pelumas (Lube
Oil Complex II dan III) dirancang oleh Shell International Petroleum
Maatschappij (SIPM), dan offsite facilities oleh Fluor Eastern Inc. Kontraktor
utama untuk pembangunan kilang ini adalah Fluor Eastern Inc. dan dibantu
oleh kontraktor-kontraktor nasional.
Kilang II dirancang terutama untuk mengolah minyak mentah dalam
negeri karena sebelumnya minyak mentah dalam negeri diolah di kilang
minyak luar negeri kemudian baru masuk kembali ke Indonesia dalam bentuk
BBM dan cara seperti ini sangatlah tidak efisien. Kilang ini mengolah minyak
mentah dalam negeri yang kadar sulfurnya lebih rendah daripada minyak
mentah Timur Tengah. Awalnya, minyak mentah domestik yang diolah
merupakan campuran dari 80% Arjuna Crude (kadar sulfurnya 0,1 % berat).
Dalam perkembangannya, bahan baku yang diolah adalah minyak cocktail
yang merupakan campuran dari minyak mentah dalam dan luar negeri.
Sebelum diadakan Debottlenecking Project pada tahun 1998/1999,
kapasitas Kilang Minyak II hanya 200.000 barrel/hari tetapi setelah diadakan
proyek tersebut, kapasitasnya meningkat menjadi 230.000 barrel/hari. Kilang
Minyak II Pertamina Refinery Unit IV Cilacap meliputi :
a. Fuel Oil Complex II (FOC II) yang memproduksi BBM.

Laporan Kerja Praktek 3


PT Pertamina RU IV Cilacap
b. Lube Oil Complex II (LOC II) yang memproduksi bahan dasar minyak
pelumas dan aspal
c. Lube Oil Complex III (LOC III) yang juga memproduksi bahan dasar
minyak pelumas dan aspal
d. Utilities Complex II (UTL II) yang fungsinya sama dengan UTL I.

1.1.3 Kilang Paraxylene


Berdasarkan pertimbangan adanya bahan baku naptha yang cukup, sarana
pendukung berupa dermaga, tangki, dan utilitas, serta peluang pasar baik di
dalam maupun luar negeri yang terbuka lebar, maka Pertamina RU-IV
membangun Kilang Paraxylene. Kilang yang dirancang oleh Universal Oil
Product (UOP) ini dibangun pada tahun 1988 oleh kontraktor Japan Gasoline
Corporation (JGC) dan memulai operasinya setelah diresmikan oleh Presiden
Soeharto pada tanggal 20 Desember 1990. Tujuan pembangunan kilang ini
adalah untuk mengolah nafta dari FOC II menjadi produk-produk petrokimia,
yaitu paraxylene dan benzene sebagai produk utama serta raffinate, heavy
aromate, toluene, dan LPG sebagai produk sampingan. Total kapasitas
produksi dari kilang ini adalah 270.000 ton/tahun.
Pertamina RU-IV semakin penting dengan adanya kilang Paraxylene,
karena dengan mengolah naphta 590.000 ton/tahun menjadi produk utama
paraxylene, benzene, dan produk samping lainnya, otomatis Pertamina RU-IV
menjadi satu-satunya unit pengolahan minyak bumi di Indonesia yang
terintegrasi dengan industri Petrokimia.
Paraxylene yang dihasilkan sebagian digunakan sebagai bahan baku
pabrik Purified Terepthalic Acid (PTA) pada pusat aromatik di Plaju,
Sumatera Selatan. Hal ini merupakan suatu bentuk usaha penghematan devisa
sekaligus sebagai usaha peningkatan nilai tambah produksi kilang BBM,
sedangkan sebagian lagi diekspor ke luar negeri. Sementara, seluruh benzene
yang dihasilkan diekspor ke luar negeri. Produk-produk sampingan dari kilang
ini dimanfaatkan lebih lanjut untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Laporan Kerja Praktek 4


PT Pertamina RU IV Cilacap
1.1.4 Kilang LPG dan Sulphur Recovery Unit
Pemerintah berencana untuk mengurangi kadar emisi SOx pada buangan.
Untuk mendukung komitmen terhadap lingkungan pada tanggal 27 Februari
2002, Pertamina RU-IV membangun kilang SRU dengan luas area proyek
24.200 m2 yang terdiri dari unit prose dan unit penunjang. Proyek ini dapat
mengurangi emisi gas dari kilang RU IV, khususnya SO2 sehingga emisi yang
dibuang ke udara akan lebih ramah terhadap lingkungan. Kilang ini mengolah
off gas dari berbagai unit di Pertamina RU-IV menjadi produk berupa sulfur
cair, LPG, dan condensate.
Dengan melakukan treatment terhadap 9 stream sour gas (sumber gas)
dengan jumlah total sebesar 600 metrik ton/hari dapat diperoleh produk sulfur
cair sebanyak 59-68 metrik ton/hari, produk LPG sebanyak 324-407 metric
ton/hari dan produk condensate (C5+) sebanyak 28-103 metrik ton/hari.
Sedangkan hasil atas yang berupa gas dengan kandungan H2S sangat rendah
dari Unit LPG Recovery akan dikirimkan keluar sebagai fuel sistem.

1.1.5 Kilang Residu Fluid Catalytical Cracking (RFCC)


Pembangunan RFCC Project Cilacap adalah untuk meningkatkan High
Octane Mogas Component (HOMC) 1,13 juta barel/bulan, meningkatkan
produksi LPG 350.000 ton/tahun, menghasilkan produk baru Prolypene
140.000 ton/tahun, dan meningkatkan margin kilang dan daya saing RU IV.
Dengan adanya RFCC proyek ini diharapkan ketergantungan Indonesia
terhadap impor BBM dan produk petrokimia dapat berkurang, serta terjadi
peningkatan Complexity Index kilang Pertamina RU IV Cilacap sehingga
menambah economic value yang diperkirakan sebesar 154,82 juta dolar AS
per tahun.
Feed kilang RFCC didesain berasal dari low sulphur wax residue (LSWR)
ex-CDU II 011 (58 MBSD) dan vacuum gas oil ex-HVU 21/021 LOC I/II (4
MBSD) dengan kapasitas 62 MBSD. Sebagai basis desain dan guarantee,
digunakan feed-1. Adapun feed-2 sebagai basis future crude. Feed hot LSWR
berasal langsung dari CDU II FOC II, sedangkan cold LSWR disimpan di
37T-103/104 & cold VGO di 35T-4.

Laporan Kerja Praktek 5


PT Pertamina RU IV Cilacap
Tujuan :
• Meningkatkan margin kilang RU IV dengan produks bernilai tinggi yaitu
Gasoline ON 93 dan Propylene.
• Mengurangi atau meniadakan import HOMC sebagai komponen blending
Gasoline.
• Meningkatkan produksi LPG untuk peningkatan kehandalan supply LPG.

Produk utama dari kilang RFCC yaitu


LPG = 15.620 barrel per hari
Propylene = 4.870 barrel per hari
Premium = 75.345 barrel per hari
Kerosene = 62.137 barrel per hari
Sedangkan produk sampingnya adalah:
ADO= 56.278 barrel per hari dan MFO/ LSWR = 34.883 barrel per hari

Tabel 1.1 Material Balance RU IV Pre dan Post RFCC


Produk Produksi (bpsd)

Pre Post Delta


LPG 4957 15620 +10663
Propylene 0 4870 + 4870
Premium 65796 75345 + 9549
Kero 62137 62137 Tetap
ADO 69772 56278 -13494
LSWR 66663 34883 - 31780

Laporan Kerja Praktek 6


PT Pertamina RU IV Cilacap
Tabel 1.2 Sejarah Kilang RU IV Cilacap
Tahun Proyek Tujuan
Midlle East Crude
FOC I = 100 MBSD
Memenuhi kebutuhan BBM dan
1974-1976 LOC I = 80000 Ton/Tahun
Lube Base dalam negeri
Aspalt = 245000 Ton /Tahun
Utilities & offsite
Domestic Crude
FOC II = 200 MBSD Memenuhi pertumbuhan kebutuhan
1981-1983 LOC II = 175000 Ton/ Tahun BBM, LPG, Lube Base dan Aspalt
Aspalt = 550000 Ton/ Tahun dalam negeri
Utilities & offsite
Naphta dari FOC II Memenuhi kebutuhan Paraxylene
1988-1990 Paraxylene = 270000 Ton/ Tahun dan Benxene dalam negeri dan luar
Benzene = 120000 Ton/ Tahun negeri
Debottlenecking / proyek
peningkatan kapasitas Memenuhi pertumbuhan kebutuhan
1996-1998 FOC I = 118 MBSD BBM, LPG, Lube Base dan Aspalt
FOC II = 230 MBSD dalam negeri
Lube Base = 480000 Ton/ Tahun
Sulfur Recovery Unit
Recovery LPG dan memenuhi baku
2001-2005 LPG = 400 Ton/ Day
mutu limbah udara (SOX)
Sulfur = 70 Ton/ Day
Instalasi Pengolahan Air Limbah Meningkakan baku mutu limbah cair
(IPAL)

RFCC = 62 MBSD
2011-2015
LPG Sweetening = 1500 PSD Peningkatan yield valuable product
PRU = 430 TPD seperti HOMC, LPG, Propylene dan
Gasoline Hydrotreating = 38 MBSD meningkatkan complexity index
Utilities & Offsite kilang RU IV
2016- on Meningkatkan kualitas BBM
Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC)
going menjadi EURO 4

1.2. Lokasi Pabrik dan Tata Letak


1.2.1 Lokasi Pabrik
Lokasi perusahaan adalah hal penting yang akan menentukan kelancaran
perusahaan dalam menjalankan operasinya. Demikian halnya dalam
menentukan lokasi kilang. Hal-hal yang menjadi pertimbangan meliputi
biaya produksi, biaya operasi, dampak sosial, kebutuhan bahan bakar
minyak, sarana, studi lingkungan dan letak geografis. PERTAMINA RU IV
Cilacap terletak di desa Lomanis, Kecamatan Cilacap Tengah, Kabupaten

Laporan Kerja Praktek 7


PT Pertamina RU IV Cilacap
Cilacap. Dipilihnya Cilacap sebagai lokasi kilang didasarkan pada
pertimbangan berikut :
1. Studi kebutuhan BBM menunjukkan bahwa konsumsi terbesar adalah
penduduk Pulau Jawa.
2. Tersedianya sarana pelabuhan alami yang sangat ideal karena lautnya
cukup dalam dan tenang karena terlindungi Pulau Nusakambangan.
3. Terdapatnya jaringan pipa Maos-Yogyakarta dan Cilacap-Padalarang,
sehingga penyaluran bahan bakar minyak lebih mudah.
4. Daerah Cilacap dan sekitarnya telah direncanakan oleh pemerintah
sebagai pusat pengembangan produksi untuk wilayah Jawa bagian
selatan.
Dari hasil pertimbangan tersebut, ditunjang dengan adanya areal tanah
yang tersedia dan memenuhi persyaratan untuk pembangunan kilang
minyak, maka RU IV Cilacap dengan luas area total yang digunakan
adalah ± 526 Ha.

Gambar 1.3 Lokasi Pertamina RU IV Cilacap

1.2.2 Tata Letak Kilang


Tata letak Kilang Minyak Cilacap beserta sarana pendukung yang ada
adalah sebagai berikut :
1. Areal kilang minyak dan perluasan : 203,19ha
2. Areal terminal minyak dan pelabuhan : 50,97 ha

Laporan Kerja Praktek 8


PT Pertamina RU IV Cilacap
3. Areal pipa track dan jalur jalan : 120,77 ha
4. Areal perumahan dan jalur jalan : 100,80ha
5. Areal rumah sakit dan lingkungannya : 10,27ha
6. Areal lapangan terbang : 70,00 ha
7. Areal kilang paraxylene : 90,00 ha
8. Sarana olah raga dan rekreasi : 69,71 ha
Total : 526,71 ha
PT. Pertamina (Persero) Refinery Unit IV Cilacap terdiri dari unit–unit
proses dan sarana penunjang yang terbagi dalam beberapa area di mana
setiap area memiliki nomor unit dan nama unit masing–masing, yaitu :
1) Area 10
Fuel Oil Complex I, terdiri dari :
Unit 11 : Crude Destilation Unit (CDU) I
Unit 12 : Naphtha Hydrotreater Unit (NHT) I
Unit 13 : Hydro Desulfurizer Unit (HDS)
Unit14 : Platformer I Unit
Unit 15 : Propane Manufacturer Unit (PMF)
Unit 16 : Meroxtreater Unit
Unit 17 : Sour Water Stripper Unit (SWS) I
Unit 18 : Nitrogen Plant
Unit 19 : CRP Unit / Hg Removal
Unit 48 : Flare Unit

2) Area 01
Fuel Oil Complex II, terdiri dari :
Unit 008 : Caustic and Storage Unit
Unit 009 : Nitrogen Plant
Unit 011 : Crude Distillation Unit (CDU) II
Unit 012 : Naphtha Hydrotreater Unit (NHT) II
Unit 013 : Aromatic Hydrogenation (AH) Unibon Unit
Unit 014 :Continuous Catalytic Regeneration (CCR) Platformer Unit
Unit 015 : Liquified Petroleum Gas (LPG) Recovery Unit

Laporan Kerja Praktek 9


PT Pertamina RU IV Cilacap
Unit 016 : Minimize Alkalinity Merchaptan Oxidation (Minalk
: Merox) Treater
Unit 017 : Sour Water Stripper Unit (SWS) II
Unit 018 : Thermal Distillate Hydrotreater Unit
Unit 019 : Visbreaker Thermal Cracking Unit
Unit 048 : Flare Unit

3) Area 20
Lube Oil Complex I, terdiri dari :
Unit 21 : High Vacuum Unit (HVU) I
Unit 22 : Propane Deasphalting Unit (PDU) I
Unit 23 : Fulfural Extraction Unit (FEU) I
Unit 24 : Methyl Ethyl Keton (MEK) Dewaxing Unit / MDU I
Unit 25 : Hot Oil Sistem I

4) Area 02
Lube Oil Complex II, terdiri dari :
Unit 021 : High Vacuum Unit (HVU) II
Unit 022 : Propane Deasphalting Unit (PDU) II
Unit 023 : Fulfural Extraction Unit (FEU) II
Unit 024 : Methyl Ethyl Keton (MEK) Dewaxing Unit / MDU II
Unit 025 : Hot Oil Sistem II

5) Area 30
Area Tangki BBM, terdiri dari :
Unit 31 : Tangki-tangki gasoline, HOMC dan vessel penambahan
: TEL FOC I dan platformer feed tank
Unit 32 : Tangki-tangki kerosene, Avtur dan AH Unibon feed tank
Unit 33 : Tangki-tangki Automative Diesel Oil (ADO)
Unit 34 : Tangki-tangki Industrial Fuel Oil (IFO)
Unit 35 : Tangki-tangki komponen IFO dan HVU feed

Laporan Kerja Praktek 10


PT Pertamina RU IV Cilacap
Unit 36 : Tangki-tangki Mogas, Heavy Naphta dan penambahan
TEL FOC II
Unit 37 : Tangki – tangki LSWR dan IFO
Unit 38 : Tangki – tangki ALC, BLC dan ILC sebagai umpan FOCI

6) Area 40
Tangki – tangki Non BBM, terdiri dari :
Unit 41 : Tangki-tangki Lube Oil
Unit 42 : Tangki-tangki Bitumen
Unit 43 : Tangki-tangki Long Residue, Wet Slop
Unit 44 : Gasoline station, Bengkel, Gudang dan Pooll Alat Berat
Unit 45 : Tangki-tangki Feed FOC II
Unit 46 : Tangki-tangki Crude Feed
Unit 47 : Tangki Mixed LPG, Propane

7) Area 50
Utilities Complex I, terdiri dari :
Unit 51 : Pembangkit tenaga listrik
Unit 52 : Unit Steam Generator
Unit 53 : Unit Sistem Air Pendingin
Unit 54 : Unit Pengolahan Air
Unit 55 : Unit Sistem Air Pemadam Kebakaran Unit 56 Unit Sistem
: Udara
Unit 56 : Unit Sistem Udara Tekan
Unit 57 : Unit sistem Pengadaan Fuel Oil dan Fuel Gas

8) Area 05
Utilities Complex II, terdiri dari :
Unit 051 : Pembangkit tenaga listrik
Unit 052 : Unit Steam Generator
Unit 053 : Unit Sistem Air Pendingin
Unit 054 : Unit Pengolahan Air

Laporan Kerja Praktek 11


PT Pertamina RU IV Cilacap
Unit 055 : Unit Sistem Air Pemadam Kebakaran
Unit 056 : Unit Sistem Udara Tekan
Unit 057 : Unit sistem Pengadaan BBM dan Gas

9) Area 60
Jaringan Oil Movement dan Perpipaan, terdiri dari :
Unit 61 : Jaringan pipa dari dan ke Unit Terminal Minyak Area 70
Unit 62 : Cross Country Pipe Line
Unit 63 : Stasiun Pompa Air Sungai
Unit 64 : Dermaga Pengapalan Bitumen, Lube Oil, LPG dan
: Paraxylene
Unit 66 : Tangki-tangki Balast dan Bunker, Holding basin
Unit 67 : Dermaga Pengapalan Bitumen, Lube Oil, LPG, dan
: Paraxylene
Unit 68 : Dermaga Pengapalan LPG

10) Area 70
Teminal Minyak Mentah dan Produk, terdiri dari :
Unit 71 : Tangki-tangki minyak mentah feed FOC II dan Bunker
Unit 72 : Crude Island Board
Unit 73 : Dermaga pengapalan minyak dan penerimaan Crude Oil

11) Area 80
Kilang Paraxylene, terdiri dari :
Unit 81 : Nitrogen Plant Unit Unit 82 Naphtha Hydrotreater Unit
Unit 84 : CCR Platformer Unit
Unit 85 : Sulfolane Unit
Unit 86 : Tatoray UnitUnit 87 Xylene Fractionation Unit
Unit 88 : Parex Unit
Unit 89 : Isomar unit

Laporan Kerja Praktek 12


PT Pertamina RU IV Cilacap
12) Area 90
LPG Sulfur Recovery Unit, terdiri dari :
Unit 91 : Gas Treating Unit
Unit 92 : LPG Recovery Unit
Unit 93 : Sulfur Recovery Unit
Unit 94 : Tail Gas & Thermal Oxidator
Unit 95 : Refrigeration Unit

13) Area 200


Lube Oil Complex III, terdiri dari :
Unit 022 : Propane Deasphalting Unit
Unit 240 : MEK Dewaxing Unit
Unit 260 : Hydro Treating Unit

14) Area 500


Utilities II A, terdiri dari :
Unit 510 : Pembangkit Tenaga Listrik
Unit 520 : Steam Generator Unit
Unit 530 : Cooling Water System
Unit 540 : Unit Sistem Udara Tekan

15) Area 100


Residu Flow Catalytical Cracking (RFCC)
Unit 101 : Residual Catalytic
Unit 102 : Gas Concentration
Unit 103 : LPG Merox
Unit 104 : Propylene Recovery
Unit 105 : Gasoline Hydrotreating
Unit 106 : Amine Regeneration
Unit 107 : Sour Water Stripping
Unit108 : Hydrogen Purification
Unit 109 : Oxydation Stability, Chemical Injection

Laporan Kerja Praktek 13


PT Pertamina RU IV Cilacap
1.3. Bahan baku dan produk yang dihasilkan
Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC)
Bahan Baku : Low Sulphur Wax Residue ( LSWR) dari FOC II
Spesifikasi LSWR
1. Spesific Grafity : < 0.9280
2. Fe : Max 20 ppm
3. Na : Max 6 ppm
4. Sulfur : Max 1,95 % wt
5. Ni+V : Max 30 ppm
6. Total Nitrogen : Max 2848 wt
Produk
 Propylene
Propylene digunakan sebagai feedstock dalam pembuatan Polypropylene
seperti Polypropylene PERTAMINA (Polytam)
 Mixed LPG
Merupakan campuran propane dan butana dengan komposisi antara 70-
80% dan 20-30% volume dan diberi odorant (Mercaptant) dan umumnya
digunakan untuk bahan bakar rumah tangga
 Desulphurized gasoline
Merupakan senyawa naphta yang dihasilkan dari unit 105
hydrotreating unit (SHU-HDS) untuk diolah menjadi gasolina.
 Light Cycle Oil (LCO)
Light Cycle Oil merupakan produk yang memiliki properties Falsh Point
Min 70 oC.
 Decanted Oil (DCO)
Main Column Bottoms (Decanted Oil) product memiliki properties
Sediment Content Max 0,10 % wt

1.4. Organisasi Perusahaan


PERTAMINA merupakan suatu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan
satu-satunya badan usaha yang mendapat wewenang untuk mengelola
kekayaan negara berupa minyak dan gas bumi. Melalui Surat Ketetapan
Direktur Utama No. 53/C00000/2008-SO, Pertamina Unit Pengolahan IV

Laporan Kerja Praktek 14


PT Pertamina RU IV Cilacap
Cilacap (UP IV) berubah namanya menjadi Pertamina Refinery Unit IV
Cilacap. Perubahan ini diharapkan dapat mempercepat transformasi Pertamina
menjadi kilang minyak yang unggul dan menuju perusahaan minyak bertaraf
Internasional.
1.4.1 Visi, Misi, Motto, Logo, dan Slogan PT Pertamina (Persero)
A. Visi PT Pertamina (Persero)
“Menjadi perusahaan minyak nasional kelas dunia “
B. Misi PT Pertamina (Persero)
1. Melakukan usaha dalam bidang energi dan petrokimia.
2. Merupakan entitas bisnis yang dikelola secara professional,
kompetitif dan berdasarkan tata nilai unggulan.
3. Memberikan nilai lebih bagi pemegang saham, pelanggan, pekerja
dan masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional
C. Moto PT Pertamina (Persero)
“Sikap jujur, tegakkan disiplin, sadar biaya dan puaskan pelanggan”
D. Logo PT Pertamina (Persero)
PERTAMINA memiliki slogan yaitu SEMANGAT TERBARUKAN,
yang berarti semangat kerja yang benar-benar baru, ide-ide baru,
kemampuan berimajinasi, dan kecepatan berinovasi. Dengan slogan ini
diharapkan prilaku dari jajaran pekerja PERTAMINA akan berubah
menjadi enterpreneur dan customer oriented, terkait dengan persaingan
yang sedang dan akan dihadapi.

Gambar 1.4 logo pertamina

Elemen logo merupakan representasi huruf PERTAMINA yang


membentuk anak panah dengan arah ke kanan. Hal ini berarti PT
PERTAMINA (Persero) bergerak melesat maju dan progresif. Secara
keseluruhan, logo PERTAMINA menggunakan warna – warna yang
berani. Hal ini menunjukkan langkah besar kedepan yang diambil

Laporan Kerja Praktek 15


PT Pertamina RU IV Cilacap
PERTAMINA dan aspirasi perusahaan akan masa depan yang lebih
positif dan dinamis. Warna-warna tersebut yaitu :
Biru : Mencerminkan Handal, Dapat Dipercaya, dan
: Bertanggung Jawab
Hijau : Mencerminkan Sumber Daya Energi yang Berwawasan
: Lingkungan
Merah : Keuletan, Ketegasan, dan Keberanian dalam Menghadapi
: Berbagai Macam
E. Tata Nilai PT Pertamina
Dalam mencapai visi dan misinya, Pertamina berkomitmen untuk
menerapkan tata nilai sebagai berikut :
1. Clean (Bersih)
Dikelola secara professional, menghindari benturan kepentingan,
tidak menoleransi suap, menjunjung tinggi kepercayaan dan
integritas. Berpedoman pada asas-asas tata kelola korporasi yang
baik.
2. Competitive (Kompetitif)
Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional,
mendorong pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya
sadar biaya dan menghargai kinerja.
3. Confident (Percaya Diri)
Berperan dalam pembangunan ekonomi nasional, menjadi pelopor
dalam reformasi BUMN, dan membangun kebanggaan bangsa.
4. Customer Focused (Fokus pada Pelanggan)
Berorientasi pada pelanggan dan berkomitmen untuk memerikan
pelayanan terbaik kepada pelanggan.
5. Commercial (Komersial)
Menciptakan nilai tambah dengan orientasi komersial, mengambil
keputusan berdasarkan prinsip-prinsip bisnis sehat.
6. Capable (Berkemampuan)

Laporan Kerja Praktek 16


PT Pertamina RU IV Cilacap
Dikelola oleh pemimpin dan pekerja yang professional dan
memiliki talenta dan penguasaan teknis tinggi, berkomitmen dalam
membangun kemampuan riset dan pengembangan.

1.4.2 Visi, Misi, Motto PT Pertamina RU IV Cilacap


A. Visi PT Pertamina RU IV Cilacap
“Menjadi perusahaan kilang minyak dan petromikia yang unggul di Asia
pada tahun 2020”
B. Misi PT Pertamina RU IV Cilacap
“Mengolah minyak bumi menjadi produk BBM, non BBM, dan
Petrokimia untuk memberikan nilai tambah bagi perusahaan”, dengan
tujuan: memuaskan stakeholder melalui peningkatan kinerja perusahaan
secara profesional, berstandar internasional, dan berwawasan lingkungan”
C. Motto PT Pertamina RU IV Cilacap
“Bekerja dalam kebersamaan untuk keunggulan bersama”

1.4.3 Sistem Manajemen dan Pengawasan


Pertamina dikelola oleh suatu Dewan Direksi Perusahaan dan diawasi
oleh suatu Dewan Komisaris/Pemerintah Republik Indonesia. Pelaksanaan
kegiatan Pertamina diawasi oleh seperangkat pengawas yaitu Lembaga
Negara, Pemerintah maupun dari unsur intern Pertamina sendiri.
Dewan Direksi PERTAMINA terdiri dari Direktur Utama dan tujuh orang
Direktur, yaitu :
1. Direktur Hulu
2. Direktur Pengolahan
3. Direktur Pemasaran dan Niaga
4. Direktur Keuangan
5. Direktur Umum
6. Direktur SDM
7. Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko

Laporan Kerja Praktek 17


PT Pertamina RU IV Cilacap
1.4.4 Sistem Organisasi dan Kepegawaian
Direktur Pengolahan PERTAMINA membawahi unit-unit pengolahan yang
ada di Indonesia. Kegiatan utama operasi kilang di RU IV Cilacap adalah :
1. Kilang Minyak (BBM dan Non-BBM)
2. Kilang Petrokimia

A. Sistem Organisasi
Refinery Unit IV Cilacap dipimpin oleh seorang General Manager
yang membawahi :
1. Manager Engineering and Development
2. Manager Legal & General Affairs
3. Manager Health, Safety Environment
4. Manager Procurement
5. Manager Reliability
6. OPI Coordinator
7. Director of Pertamina Hospital (Hirarki ke Pusat)
8. Manager Human Resource Area (Hirarki ke Pusat)
9. IT RU IV Cilacap Area Manager (Hirarki ke Pusat)
10. Manager, Refinery Finace Offsite Support Region III
11. Manager, Marine Region IV
12. Manager, Refinery Internal Audit Cilacap
Sedangkan Senior Manager Operation and Manufacturing
membawahi 5 manager, 1 marine section head, yaitu :
1. Manager Production I
2. Manager Production II
3. Manager Ref. Planning & Optimization
4. Manager Maint. Planning & Support
5. Manager Maintenance Execution
6. Manager Turn Arround
Dalam melakukan tugas dan kegiatannya kepala bidang dibantu oleh
kepala sub bidang, kepala seksi dan seluruh perangkat operasi di bawahnya

Laporan Kerja Praktek 18


PT Pertamina RU IV Cilacap
Gambar 1.5 Struktur Organisasi Pertamina RU IV Cilacap
(Sumber : PT. Pertamina (Persero) RU IV Cilacap)

B. Sistem Kepegawaian
Dalam Kegiatan sehari-hari, PERTAMINA mempunyai pekerja-
pekerja di lingkungannya. Secara garis besar pekerja PERTAMINA dibagi
menjadi :
 Pegawai Pembina : golongan 2 ke atas
 Pegawai Utama : golongan 5 - 3
 Pegawai Madya : golongan 9 - 6
 Pegawai Biasa : golongan 16 – 10

Laporan Kerja Praktek 19


PT Pertamina RU IV Cilacap
Dengan Pembagian jam kerja sebagai berikut :
 Pekerja Harian :
Untuk pekerja harian bekerja selama 40 jam kerja setiap minggu
dengan perincian sebagai berikut :
Hari Senin – Jumat : 07.00 – 15.30
Istirahat Senin - Kamis : 11.30 – 12.30
Istirahat Jumat : 11.30 – 13.00
 Pekerja Shift :
Untuk pekerja Shift bekerja dengan sistem 3:1, artinya 3 hari kerja dan
1 hari libur. Periode tersebut berjalan secara bergantian dari Shift pagi,
sore dan malam dengan jam kerja sebagai berikut :
1. Untuk pekerja operasi :
Shift pagi : 08.00 - 16.00
Shift sore : 16.00 - 24.00
Shift malam : 00.00 - 08.00
2. Untuk pekerja security :
Shift pagi : 06.00 – 14.00
Shift sore : 14.00 – 22.00
Shift malam : 22.00 – 06.00

C. Fasilitas Kesejahteraan
Fasilitas kesejahteraan yang tersedia di PERTAMINA Refinery Unit IV
Cilacap adalah :
1. Perumahan
Pertamina RU IV Cilacap memiliki 3 lokasi komplek perumahan
yang disediakan bagi pekerja sesuai jabatan/fungsinya yang berlaku.
Ketiga lokasi tesebut adalah :
 Perumahan Gunung Simping, untuk bagian Manajemen dan Pekerja.
 Perumahan Lomanis dan Donan, untuk Pekerja.
 Perumahan Tegal Katilayu, untuk Paramedis rumah sakit Pertamina,
Awak kapal dan Pekerja.
 Untuk tamu disediakan Griya Patra dan Mess 39 ,Mess 40.

Laporan Kerja Praktek 20


PT Pertamina RU IV Cilacap
2. Sarana Kesehatan, meliputi :
 Klinik darurat, terletak di kilang sebagai sarana pertologan pertama
pada kecelakaan kerja.
 Rumah Sakit Pertamina Cilacap Swadana ( RSPCS ), terletak di
komplek Tegal Katilayu yang juga melayani kesehatan bagi
masyarakat umum.

3. Sarana Pendidikan
Untuk meningkatkan kemampuan dan karir, Pertamina juga
memberikan kesempatan bagi pekerjanya untuk merngikuti pendidikan
ataupun pelatihan. Selain itu bagi anak-anak pekerjanya, disediakan TK
dan SD, dan terbuka juga untuk umum.

4. Sarana Rekreasi dan Olah Raga


Terdapat 2 gedung pertemuan dan rekreasi yang dimiliki oleh
Pertamina RU IV Cilacap, yaitu :
 Patra Graha.
 Patra Ria.
Selain itu, tersedia juga sarana olah raga, diantaranya :
 Lapangan sepak bola
 Lapangan bola volley dan basket
 Lapangan bulu tangkis dan tenis
 Lapangan golf
 Kolam renang
 Arena Bowling dan Bilyard

5. Sarana Perhubungan dan Telekomonikasi


Komplek perumahan, kantor dan lokasi kilang Pertamina RU IV
Cilacap dilengkapi dengan pesawat telepon sebagai alat komunikasi.
Mobil dinas disediakan sebagai alat transportasi bagi staf senior yang
dapat digunakan bagi kegiatan operasional. Serta disediakan beberapa

Laporan Kerja Praktek 21


PT Pertamina RU IV Cilacap
bus sebagai sarana bagi para pekerja, tamu maupun alat transportasi bagi
para anak pekerja ke sekolah.
6. Perlengkapan kerja
Untuk perangkat kerja dan keselamatan kerja bagi setiap pekerja,
pihak Pertamina menyediakan pakaian seragam, sedangkan para pekerja
yang terkait langsung dengan operasi diberikan safety shoes, ear plug,
gloves, masker dan jas hujan. Bagi para tamu juga disediakan pinjaman
topi keselamatan.

7. Keuangan dan cuti


Finansial yang diberikan pada setiap pekerja terdiri dari :
 Gaji setiap bulan sesuai dengan pangkat dan golongan.
 Tunjangan Hari Raya (THR) dan uang cuti tahunan.
 Premi shift bagi pekerja shift.
Untuk pekerja yang sudah pensiun, menerima uang pensiun setiap
bulannya. Untuk keperluan cuti, bagi setiap pekerja mendapat
kesempatan cuti selama 12 hari kerja setiap tahunnya dan setiap 3 tahun
mendapat cuti besar selama 26 hari kerja.

1.5. Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Di Pertamina RU IV Cilacap terdapat bagian yang menangani keselamatan
kerja, yaitu bagian Health Safety Enviromental (HSE) yang mempunyai tugas
antara lain:
1. Sebagai advisor body dalam usaha pencegahan kecelakaan kerja,
kebakaran/peledakan, dan pencemaran lingkungan.
2. Melaksanakan penanggulangan kecelakaan kerja, kebakaran/peledakan,
dan pencemaran lingkungan
3. Melakukan pembinaan aspek HSE kepada pekerja maupun mitra kerja
(pihak III) untuk meningkatkan safety awareness, melalui pelatihan, safety
talk, operation talk, dsb.
4. Kesiapsiagaan sarana dan prasarana serta personil untuk menunjang
pelaksanaan, pencegahan, dan penanggulangan kecelakaan kerja,
kebakaran/peledakan, dan pencemaran lingkungan.

Laporan Kerja Praktek 22


PT Pertamina RU IV Cilacap
5. Mengkaji terhadap bahaya dari sistem pada tahap perancangan dan
modifikasi serta dampaknya terhadap operasi, manusia dan lingkungan.
6. Mengembangkan standar dan prosedur teknis HSE
7. Mengkaji dan memberikan saran serta informasi teknis terhadap hal yang
berhubungan dengan HSE
Dalam melaksanakan tugasnya, HSE dibagi menjadi 3 bagian dengan
fungsi masing-masing termasuk juga dalam usaha penanganan limbah.
1.5.1 Fire & Insurance
Fungsi Fire and Insurance atau Penanggulangan Kebakaran adalah
Mengkoordinasikan, mengawasi, mengevaluasi serta memimpin
pelaksanaan kegiatan Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran, yang
meliputi kesiapsiagaan sarana dan personil, Pelatihan, Pengelolaan Risiko
(Manajemen Risiko) serta tertib administrasi secara efektif dan efisien sesuai
standard kualitas yang ditetapkan, untuk mendukung keamanan dan
kehandalan operasi Kilang. Bagian ini mempunyai tugas antara lain:
1. Meningkatkan kesiapsiagaan petugas dan peralatan pemadam kebakaran
dalam menghadapi setiap potensi terjadinya kebakaran.
2. Meningkatkan kehandalan sarana untuk penanggulangan kebakaran.
3. Mencegah dan menanggulangi kebakaran/ledakan, serta bekerja sama
dengan bagian yang bersangkutan
4. Mengadakan penyelidikan (fire investigation) terhadap setiap kasus
terjadinya kebakaran.
5. Pelaksanaan risk survey dan kegiatan pemantauan terhadap rekomendasi
asuransi.
6. Melakukan fire inspection secara rutin dan berkala terhadap sumber
bahaya yang berpotensi terhadap resiko kebakaran.
1.5.2 Environmental
Fungsi Environmental atau Lindungan Lingkungan (LL) adalah
mengkoordinasikan, mengawasi dan memimpin kegiatan operasional Bagian
Lindungan Lingkungan meliputi Pemantauan/Pengelolaan Lingkungan,
Pengelolaan B3, kegiatan Good House Keeping dan
pertamanan/penghijauan, untuk menunjang tercapainya lingkungan kerja

Laporan Kerja Praktek 23


PT Pertamina RU IV Cilacap
yang bersih, aman, nyaman serta meminimalkan dampak lingkungan akibat
operasional kilang guna memenuhi ketentuan/ standard yang telah
ditetapkan. Bagian ini mempunyai tugas antara lain:
1. Mencegah dan menanggulangi pencemaran di dalam dan di sekitar
daerah operasi PT Pertamina RU IV Cilacap.
2. Pengelolaan dan pemantauan kualitas lingkungan sesuai dengan standar
dan ketentuan perundangan yang berlaku.
3. Pengelolaan house keeping dan penghijauan di dalam dan sekitar area
kilang.
1.5.3 Safety
Fungsi Safety atau Keselamatan Kerja (KK) adalah Merencanakan,
mengatur, menganalisa dan mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan
pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja guna tercapai kondisi kerja
yang aman, sesuai norma-norma kesehatan untuk menghindarkan kerugian
Perusahaan. Tanggungjawab bidang tugasnya ialah :
1. Penyelenggaraan kegiatan pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit
akibat kerja guna mencapai kondisi operasi yang aman sesuai norma-
norma keselamatan.
2. Penyelenggaraan kegiatan penanggulangan kecelakaan dan yang
mengakibatkan kerusakan peralatan guna meminimalkan kerugian
Perusahaan.
1.5.4 Occupational Health
Fungsi dari Occupational Health adalah menangani hal-hal yang
berkaitan dengan kesehatan kerja dan penyakit akibat kerja. Adapun
kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh unit ini meliputi :
1. Mengukur, memantau, merekomendasi pengendalian bahaya lingkungan
kerja industri mulai dari faktor kimia (gas,debu), fisika (bising, getaran,
radiasi, iluminasi), biologi (serangga,tikus, binatang buas), dan
ergonomi.
2. Melakukan penyuluhan dan bimbingan tentang health talk.
3. Pengelolaan kotak P3K
4. Inspeksi dan rekomendasi sanitasi lingkungan kerja bermasalah.

Laporan Kerja Praktek 24


PT Pertamina RU IV Cilacap
5. Pemantauan ,perawatan alat HSE serta maintenance alat ukur Hazard

1.6. Penanganan Limbah


Di dalam eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi negara, Pertamina
RU IV Cilacap tidak dapat lepas dari penanganan limbah yang dihasilkan.
Limbah yang dihasilkan dalam pengolahannya dapat diklasifikasikan menjadi
tiga, yaitu : bahan buangan cair, gas dan sludge.
a. Pengolahan Buangan Cair
Pada dasarnya prinsip dari pengolahan air limbah adalah menghilangkan
unsur – unsur yang tidak dikehendaki dalam air limbah secara fisik, kimia
ataupun biologi. Pertamina RU IV Cilacap dalam mengolah limbah
cairnya tidak dilakukan pada tiap– tiap unit, namun limbah dari beberapa
unit digabung menjadi satu baru kemudian diolah. Limbah cair
pengolahannya dilakukan secara bertahap meliputi : Sour Water Stripper
(SWS), Corrugated Plate Inceptor (CPI) dan Holding Basin.
1. Sour Water Stripper (SWS)
Unit ini dirancang untuk mengolah sour water dari Visbreaking
Unit, Naphta Hydrotreating Unit, High Vacum Unit, Crude Distillation
Unit, AH Unibon, Destillate Hydrotreating Unit yang mengandung
H2S, NH3, fenol, CO2, mercaptan, cyanida dan pada hydrocracking
sour water terdapat fluorida. Unit ini dirancang untuk dapat
membersihkan 97 % dari H2S yang kemudian dibakar diflare, sedang
air bersih yang tersisa dapat digunakan kembali. Dalam sour water
H2S dan NH3 terdapat dalam bentuk NH4HS yang merupakan garam
dari basa lemah dan asam lemah. Di dalam larutan ini, garam
terhidrolisa menjadi H2S dan NH3.
Reaksi :
NH4 + H2S NH3 + H2S
H2S dan NH3 bebas sangat mudah menguap dalam fase cair. Gas
H2S dan NH3 dapat dipisahkan dengan menggunakan steam sebagai
stripping medium atau steam yang terjadi dari pemanasan sour water
itu sendiri (dalam reboiler). Hidrolisa akan naik dengan naiknya suhu.

Laporan Kerja Praktek 25


PT Pertamina RU IV Cilacap
Kelarutan H2S cepat dipisahkan. Sour water yang telah mengalami
stripper akan menaikkan konsentrasi NH3/H Pada unit 052 terdapat
empat boiler dengan kapasitas masing – masing 110 ton/jam HP steam.
Jenis boiler yang dipakai adalah water tube boiler yang mampu
menghasilkan HP steam pada tekanan 60 kg/cm2 dan temperatur
4600C. Penghasil HP steam lainnya adalah Waste Heat Boiler (WHB)
yang terdapat di unit 014 dan 019 menghasilkan MP steam dengan
kapasitas masing-masing 30 ton/jam. MP steam digunakan untuk
pengabut bahan bakar minyak, vacuum ejector, soot blowing dan lain –
lain. LP steam yang dihasilkan mempunyai tekanan 3,5 kg /cm2 dan
temperatur 3300C. LP steam digunakan untuk pemanas pipa – pipa,
stripping steam pada distilasi.
2. Corrugated Plate Interceptor (CPI)
Corrugated Plate Interceptor (CPI) adalah jenis alat atau bangunan
penangkap minyak yang berfungsi untuk memisahkan air dan minyak
dengan menggunakan plate sejajar, dibuat dari fiber glass yang
bergelombang yang dipasang dengan kemiringan tertentu, bekerja
secara gravitasi. CPI memiliki kemampuan memisahkan lebih besar
dibanding dengan alat pemisah lain, mampu memisahkan partikel
minyak sampai dibawah 150 mikron dengan menggunakan permukaan
pemisah tambahan berupa plat sejajar maka didapatkan proses
pemisahan dalam kondisi laminer dan stabil. Kecepatan aliran dari plat
yang bergelombang dan perbedaan spesifik grafity antara minyak dan
air menyebabkan minyak akan naik ke atas, sedangkan air akan turun
ke bawah yang kemudian masuk parit dan akhirnya ke Holding Basin
untuk diolah lebih lanjut sebelum dibuang ke badan air penerima (
Sungai Donan ).
3. Holding Basin
Holding basin adalah kolom untuk menahan genangan minyak
bekas buangan pabrik supaya tidak lolos ke badan air penerima,
dengan perantaraan skimmer (penghisap genangan minyak
dipermukaan), floating skimmer (menghisap minyak di bagian tengah),

Laporan Kerja Praktek 26


PT Pertamina RU IV Cilacap
dan baffle (untuk menahan agar minyaknya tidak terbawa ke badan air
penerima). Selanjutnya genangan minyak ditampung pada sump pit
kemudian dipompakan ke tangki slops untuk direcovery. Holding
Basin dibuat dengan tujuan untuk mencegah pencemaran lingkungan,
khususnya bila oil water sampai lolos ke badan air. Genangan minyak
berasal dari bocoran – bocoran peralatan pabrik atau lainnya. Holding
basin yang terdapat di Pertamina RU IV Cilacap ada dua yaitu Exciting
Holding Basin Unit 49 dan New Holding Basin Unit 66.
Blok Diagram Pengelolaan Air Buangan Kilang dapat dilihat pada
Gambar 1.5

Gambar 1.6 Blok Diagram Pengelolaan Air Buangan Kilang

b. Pengolahan Buangan Gas


Untuk menghindari pencemaran udara dari bahan – bahan buangan gas
maka dilakukan penanganan terhadap bahan buangan tersebut dengan
cara:
a. Dibuat stack / cerobong asap dengan ketinggian tertentu sebagai alat
untuk pembuangan asap.
b. Gas–gas hasil proses yang tidak dapat dimanfaatkan dibakar dengan
menggunakan flare.
c. Pengolahan Buangan Sludge
Sludge merupakan salah satu limbah yang dihasilkan dalam industri
minyak yang tidak dapat dibuang begitu saja ke alam bebas karena
mencemari lingkungan. Pada sludge selain mengandung lumpur / pasir dan

Laporan Kerja Praktek 27


PT Pertamina RU IV Cilacap
air juga masih mengandung hidrokarbon (HC) fraksi berat yang tidak
dapat direcovery ke dalam proses maupun bila dibuang ke lingkungan
tidak akan terurai secara alamiah dalam waktu singkat. Perlu dilakukan
pemusnahan hidrokarbon tersebut untuk menghindari pencemaran
lingkungan. Dalam usaha tersebut di PERTAMINA RU IV Cilacap,
sludge dibakar dalam suatu ruang pembakar (incinerator) pada temperatur
tertentu sehingga lumpur/pasir yang tidak terbakar dapat digunakan untuk
landfill atau dibuang di suatu area tanpa mencemari lingkungan.

Laporan Kerja Praktek 28


PT Pertamina RU IV Cilacap
BAB II
DESKRIPSI PROSES

2.1. Konsep Proses


Gasoline Hydrotreating Unit atau disebut dengan Prime G+ merupakan
salah satu unit yang berada di kilang RFCC. Prime G+ ini berfungsi mengurangi
kandungan sulfur dari 400 ppm.wt menjadi 150 ppm.wt dengan desain kapasitas
37.6 MBSD (191.73 Ton /hr). Proses utama yang terjadi di unit ini yaitu konversi
diolefin yang terjadi di reaktor Selective Hydrogenation Unit (SHU) dan juga
desulfurisasi di reaktor Hydrogenation Desulfurization (HDS).

Gambar 2.1. Skema Proses Unit 105-Gasoline Hydrotreating


(Sumber : PT. Pertamina (Persero) RU IV Cilacap)

Dengan hydrotreating HC rantai panjang (heavy oil) dipecah menjadi


produk HC rantai pendek dengan menggunakan gas Hydrogen(H2). Proses ini
mirip dengan Catalitic Cracking tetapi dengan adanya gas Hydrogen akan
meningkatkan rasio H : C dalam produk. Hydrotreating sebenarnya sama dengan
Hydrocracking tetapi ditekankan pada penghilangan senyawa Nitrogen dan sulfur
dalam feed sehingga bisa terlepas sebagai gas H2S ataupun NH3. Sedangkan
Hydrocracking digunakan bila kesulitan menggunakan proses Catalitic Cracking
murni karena sifat feed yang banyak mengandung senyawa polisiklik ataupun
feed yang mengandung senyawa N dan S tinggi yang merupakan racun katalis.

Laporan Kerja Praktek 29


PT Pertamina RU IV Cilacap
2.2. Diagram Alir Proses

Naphta dari
FILTER
Unit 102

Surge
drum
Hydrogen

Heat
exchanger

Reaktor
SHU

Splitter

Hydrogen Heat
Exchanger

Reaktor
HDS
Lean MDEA
from unit 106

HDS Separator Drum


Amine
Absorber
kolom
Stabilizer
Rich MDEA to
unit 106
Desulphurized
Gasoline tank

Laporan Kerja Praktek 30


PT Pertamina RU IV Cilacap
2.3. Langkah-langkah Proses
2.3.1 Spesifikasi Bahan Baku
Bahan baku pada unit gasoline hydrotreating berasal dari debutanizer unit
102-Gas Concentration dengan temperatur 100oC, sedangkan untuk Hydrogen
dengan kemurnian tinggi yaitu sekitar 99% berasal dari unit 108-Hydrogen
Purification. Produk yang dihasilkan dari unit ini adalah gasoline yang memiliki
kandungan sulfur maksimum hanya sebesar 150 ppm.wt. Berikut adalah
spesifikasi dari Umpan maupun produk dari unit 105-Gasoline Hydrotreating.

Tabel 2.1 Spesifikasi Bahan Baku


Characteristics Feed
Source / RFCC RFCC
Maximum Available Rate, BPSD 37586
Density at 15 deg. C, kg/m3 770
Compositioin
Sulphur, wppm 400
Mercaptan Sulphur, wppm 42.7
Paraffins, wt% 28.6
Olefins, wt% 29.9
Naphthenes. wt% 9.8
Aromatics. Wt% 31.8
RVP, kpa 60 max.
RON/MON 93.4/….
Bromine Number gBr/100g N/A
Diolefins content (%wt) -1
Existing gums (after heptane wash)
mg/100ml N/A
Nitrogen, wppm 129
Impurities (See next pages) None
PONA analysis (wt%) See Next table

Laporan Kerja Praktek 31


PT Pertamina RU IV Cilacap
Tabel 2.2 PONA Analysis (%-vol)
Carbon n-Paraffins i-Paraffins Olefins Naphthenes Aromatics Total
C3 0 0 0 0 0 0
C4 (1) 0 0 0 0 0 0
C5 1.55 7.05 10.94 0.29 0.00 19.82
C6 1.21 4.80 7.17 1.78 0.50 15.46
C7 1.00 3.58 4.59 2.86 2.30 14.33
C8 0.73 2.32 2.70 2.43 4.98 13.16
C9 0.63 1.77 1.87 1.64 6.61 12.52
C10 0.62 1.62 1.57 0.55 8.04 12.40
C11 0.50 1.19 1.02 0.24 9.38 12.33
Total 6.23 22.32 29.85 9.79 31.81 100.00

Tabel 2.3 Sulfur Distribution (ASTM D-5623)


Sulphur Compounds wt ppm
C1-SH 0.5
C2-SH 7.2
C3-SH 4.9
C4-SH 1.3
C5-SH 0.9
C6-SH 27.9
C1-S-C1 1.4
C1-S-C2 0.9
CS2 0.9
Tetrahydrothiophene 7.6
C1-tetrahydrothiophene 8.8
Thiophene 26.2
C1-Thiophene 61.8
C2-Thiophene 63.0
C3+C4- Thiophene 56.7
C5-Thiophene 21.4
Benzothiophene 52.9
C1-Benzothiophene 55.7
Total 400
(Sumber : PT. Pertamina (Persero) RU IV Cilacap)

Laporan Kerja Praktek 32


PT Pertamina RU IV Cilacap
Tabel 2.4 Komposisi Umpan
No Nama Senyawa Kmol/hr
1 H2 -
2 Methane -
3 Ethane -
4 Propane -
5 Butane 32.32
6 Ibutane 0.66
7 Pentane 114.26
8 Ipentane 114.26
9 CP 7.93
10 1Butene 2.73
11 C2Butene 13.22
12 T2Butene 6.83
13 13BD 11.8
14 1Pentene 29.9
15 2M1Buten 25.89
16 T2Penten 44.85
17 C2Penten 42.12
18 2M2Buten 78.23
19 23PD 6.28
20 3M1Buten 59.81
21 Isoprene 6.28
22 PPLN 6.28
23 H2O -
24 H2S -
25 MDEA -
26 NBP 61 84.18
27 NBP 66 77.8
28 NBP 72 81.13
29 NBP 78 71.99
30 NBP 84 75.78
31 NBP 92 78.55
32 NBP 100 80.77
33 NBP 107 42.58
34 NBP 112 41.72
35 NBP 117 41.34
36 NBP 122 41.59
37 NBP 127 42.44
38 NBP 132 44.07
39 NBP 138 56.76
40 NBP 144 76.31
41 NBP 151 81.35
42 NBP 159 85.77
43 NBP 171 93.5
44 NBP 189 89.79
45 NBP 200 111.27
46 Weight Rate (kg/hr) 191 730
47 Molar Rate (kmol/h) 2 002.36
48 Enthalpy (Gcal/h) 10.27
49 Density (kg/m3) 683.1
50 Mol. Weigt (kg/kmol) 95.75
(Sumber : PT. Pertamina (Persero) RU IV Cilacap)

Laporan Kerja Praktek 33


PT Pertamina RU IV Cilacap
2.3.2 Pembentukan Produk
Feed Naphta yang berasal dari unit 102 disaring menggunakan filter
package dengan kondisi operasi suhu 110 oC dan tekanan 6 kg/cm2g. Filter ini
berbentuk silinder, jenisnya yaitu cartridge filter dengan material pleated Paper
ukuran 10 mikron yang terdiri dari 27 elemen filter. Kotoran akan tersaring dan
pada saat tertentu feed filter package ini akan dibersihkan.
Feed yang telah disaring masuk kedalam surge drum (vessel
penampungan) dimana fungsinya yaitu memisahkan naphta dari air dan gas-gas
ringan. Ketiga komponen tersebut di pisahkan berdasarkan berat jenis, dimana
gas-gas ringan dialirkan menuju flare , water akan diolah di unit Sour Water
stripping dan naphta dipompa menuju reactor selektif hydrogenation unit (SHU)
Sebelum masuk ke reactor SHU naphta terlebih dahulu dipanaskan
dengan menggunakan heat exchanger (HE) 105E-501 dan 105E-502 yang
sebelumnya dialirkan hydrogen 99% dari unit 108 hydrogen puffication dengan
suhu dan tekanan sebesar 43 oC dan 30 kg/cm2g. HE 105E-503 hanya digunakan
pada saat awal operasi (starter) dengan media pemanasnya berupa steam. HE
105E-501 menggunakan pemanas produk dari reactor Hydrodisulfurisasi (HDS)
suhu yang dapat tercapai dari HE 501 sebesar 145 oC dengan tekanan 28.2
kg/cm2g. Naphta dipanaskan lagi dengan HE 105E-502, media pemanasnya yaitu
memanfaatkan produk dari reactor SHU. Suhu dan tekanan yang dicapai yaitu
150 oC dan 27.8 kg/cm2g.
Setelah suhu tercapai naphta masuk ke dalam reactor SHU dengan cara
dispray. Katalis yang digunakan dalam reaktor ini adalah katalis H-R-8455ex
Ni3S2 (Ni) dan MoS2 (Mo) dengan support alumina. Katalis ini memiliki
karakteristik high hydrogenation activity untuk diolefin, low polymerization
activity, selective untuk minimal hydrogenation olefin. Produk yang dihasilkan
dari reactor ini berupa light naphta yang bebas dari mercaptan dan light sulfide.
Reaksi yang terjadi di SHU Reactor adalah sebagai berikut :
a. Hidrogenasi diolefin
Reaksi hidrogenasi diolefin menghasilkan olefin dan juga beberapa senyawa
paraffin.

Laporan Kerja Praktek 34


PT Pertamina RU IV Cilacap
Kandungan diolefin dalam feed maupun produk dapat diukur melalui analisa
Diene Value (DV) atau Maleic Anhydride Value (MAV).
Contoh reaksinya yaitu:
CH2 = CH ─ CH2 ─ CH = CH2 + H2 → CH2 = CH ─ CH2 ─ CH2 ─ CH3
1-4 Pentadiene 1-Pentene

b. Isomerisasi Olefin
Reaksi isomerisasi olefin dari eksternal olefin menjadi internal olefin
berlangsung pada temperatur rendah (150 - 200oC) dimana semua diolefin
total bereaksi. Isomerisasi olefin ini dapat terjadi karena internal olefin lebih
stabil dibandingkan dengan eksternal olefin dan juga internal olefin memiliki
angka oktan yang lebih tinggi.
CH2 = CH─ CH2─ CH2─ CH2─ CH3 → CH3─ CH = CH ─ CH2─ CH2─ CH3
1-Hexene 2-Hexene

c. Reaksi Sulfur
Beberapa senyawa sulfur yang terkandung di dalam cracked naphta antara
lain mercaptan (RSH), alifatik sulfida (RSR), alifatik disulfida dan thiophenes.
Di reaktor SHU, light mercaptan dan light sulfida akan terkonversi menjadi
senyawa sulfur yang lebih berat. Berikut adalah beberapa reaksi konversi
sulfur yang terjadi pada reaktor SHU.

Laporan Kerja Praktek 35


PT Pertamina RU IV Cilacap
d. Hidrogenasi olefin
Reaksi hidrogenasi olefin harus dihindari karena akan mengurangi angka
oktan dari produk yang dihasilkan.
Reaksi di SHU Reactor bersifat eksotermis dengan temperatur outletnya
166 oC dan tekanan 22.5 kg/cm2g.
CH2 = CH ─ CH2─ CH2 ─ CH3 + H2 → CH3─ CH2─ CH2─ CH2─ CH3
Pentena Pentana

Naptha masuk kedalam kolom splitter untuk difraksinasi menjadi Heavy


cracked naphta (HCN), Light cracked naphta (LCN) dan gas-gas ringan. Proses
pemisahanya berdasarkan titik didih dengan furnace sebagai pemanasnya. Gas-
gas ringan di reflux kemudian terkondensasi dan dimasukkan kembali kedalam
kolom splitter. Gas yang tidak terkondensasi di alirkan menuju flare. LCN
dengan spesifikasi mercaptan 1 ppm dan sulfur 200 ppm dialirkan menuju
desulphurized gasoline tank yang nantinya dicampur terlebih dahulu dengan
produk dari kolom stabilizer. Sedangkan sebagian HCN dipompa menuju furnace
lalu dimasukkan kembali ke dalam splitter untuk mempercepat proses pemanasan
dalam spliter dan sisanya diolah lebih lanjut menuju reaktor HDS dengan
spesifikasi sebagai berikut:
- Temperature = 246 oC
- Tekanan = 20,6 kg/cm2 g
- Mercaptan = 61 ppm
- Sulfur = 660 ppm
HCN dicampurkan dengan recycle hydrogen dan dipanaskan di HE 105E-506
hingga suhu 270 oC dan tekanan 24.6 kg/cm2g dengan media pemanas produk dari
reactor HDS
Di reaktor HDS reaksi utamanya yaitu desulfurisasi dan reaksi penjenuhan olefin.
Reaksi denitrifikasi juga terjadi pada reaktor ini namun dalam jumlah kecil.
a. Reaksi Desulfurisasi
Senyawa sulfur yang terkandung di dalam cracked gasoline adalah thiopenic dan
benzo-thiophenic. Reaksi desulfurisasi tersebut meliputi beberapa langkah, yaitu :

Laporan Kerja Praktek 36


PT Pertamina RU IV Cilacap
+ H2 → + H2 → C ─ C ─ C ─ C─ SH + H2 → C ─ C ─ C ─ C+ H2S

Thiophene → Thiopane → Mercaptans → H2S


b. Hydrogenasi Olefins
Pada reaktor HDS, reaksi hidrogenasi olefin atau penjenuhan olefins harus
lebih sedikit dibandingkan reaksi desulfurisasi, hal ini bertujuan untuk
memaksimalkan angka oktan dari produk yang dihasilkan. Reaksi penjenuhan
olefins ini akan menghasilkan senyawa paraffinik yang dapat menurunkan
RON. Berikut ini adalah reaksi penjenuhan olefin yang terjadi di reaktor HDS.

c. Reaksi Denitrifikasi
Senyawa nitrogen yang terkandung di dalam cracked naphtha dapat
dihilangkan dengan cara catalytic hydrotreating yaitu memutus ikatan antara
atom karbon dengan aton nitrogen sehingga menghasilkan hidrokarbon alifatik
dan ammonia. Namun, kendala yang dihadapi dalam proses denitrifikasi ini
adalah pemutusan ikatan antara karbon dan nitrogen (C-N) lebih sukar
dibandingkan dengan ikatan antara karbon dengan sulfur (C-S).
C 5 H7 N + 4H2 → C5H12 + NH3
Methylpyrrole hydrogen n-Pentane Ammonia
Reaksi pada HDS reaktor bersifat eksotermis. Katalis yang digunakan
yaitu H-R-8065 ex Axens dengan sisi aktif co-mo yaitu Co9C8 (co) dan MoS2
(Mo) dengan support alumina. Katalis ini memiliki karakteistik high
desulfurization activity, selective untuk minimal hydrogenation of olefins.
Spesifikasi produk HDS reactor yaitu sebagai berikut:
- Temperature = 288 oC

Laporan Kerja Praktek 37


PT Pertamina RU IV Cilacap
- Tekanan = 19.1 kg/cm2 g
- Mercaptan = 0 ppm
- Sulfur = 29 ppm
Selanjutnya naphta dipanaskan dengan menggunakan furnace 105F-502
hingga suhu 322 oC dan tekanan 17.8 kg/cm2 g. Panas tersebut dimanfaatkan
untuk HE 105E-506 dan HE 105E-501 kemudian didinginkan dan ditampung
pada surge drum 105V-503. Fasa cair (naphta) di alirkan dari bawah menuju
kolom stabilizer sedangkan fasa gas (hydrogen dan H2S) dengan sedikit naphta
dialirkan dari atas menuju amine absorber. Amine absorber ini berfungsi
memisahkan naphta cair dengan fase gas sebelum masuk pada kolom amine.
Naphta yang berhasil dipisahkan dari fasa gas di campur dengan naphta dari
surge drum menuju kolom stabilizer.
Dalam amine absorber dialirkan lean amine (Amine murni yang belum
mengikat H2S) dari unit 106 yang berfungsi mengabsorbsi H2S supaya dapat
terpisah dengan hydrogen. Amine yang telah terabsorpsi H2S disebut dengan
rich amine. Rich amine ini diolah lebih lanjut pada unit 106 (Amine regeneration
unit) untuk di regenarasi sehingga dapat dimanfaatkan kembali sebagai absorber
H2S. Jenis amine yang digunakan yaitu methyldietolamin (MDEA) Hydrogen
yang telah dimurnikan masuk kedalam vessel amine absorber. Vessel amine
absorber dilengkapi dengan penyaring yang berfungsi memisahkan MDEA dari
hydrogen sehingga produk yang diharapkan sebelum masuk kompressore tidak
ada lagi fasa cairnya. Hydrogen yang telah terpisah dialirkan menuju feed
reaktor HDS menggunakan kompresore 105K-501.
Naphta yang masuk ke kolom stabilizer berfungsi memastikan tidak ada
lagi kandungan H2S pada naphta. Gas-gas ringan pada kolom stabilizer di alirkan
lewat atas dan di beri inhibitor anti korosi sebelum masuk reflux. Produk bawah
kolom stabilizer sebagian di panaskan menggunakan furnice 105F-503 hingga
suhu 255oC dan tekanan 5.9 kg/cm2g dan sebagian lagi menjadi produk gasoline
yang akan dicampur dengan LCN sebelum masuk tangki gasoline desulfurized.

Laporan Kerja Praktek 38


PT Pertamina RU IV Cilacap
2.3.3 Spesifikasi Produk
Spesifikasi produk yang masuk dalam tangki desulphurised RFCC gasoline
yaitu merkaptan < 5 ppm dan total sulfur ≤150 ppm.
Tabel 2.5. Komposisi Produk
No Nama Senyawa Kmol/hr
1 H2 0.06
2 Methane 0.01
3 Ethane -
4 Propane -
5 Butane 29.05
6 Ibutane 0.49
7 Pentane 117.61
8 Ipentane 118.21
9 CP 7.92
10 1Butene 2.14
11 C2Butene 22.3
12 T2Butene 5.88
13 13BD -
14 1Pentene 31.8
15 2M1Buten 27.91
16 T2Penten 49.32
17 C2Penten 43.68
18 2M2Buten 75.57
19 23PD -
20 3M1Buten 59.6
21 Isoprene -
22 PPLN -
23 H2O -
24 H2S -
25 MDEA -
26 NBP 61 84.16
27 NBP 66 77.8
28 NBP 72 81.22
29 NBP 78 71.98
30 NBP 84 75.79
31 NBP 92 78.54
32 NBP 100 80.78
33 NBP 107 42.56
34 NBP 112 41.68
35 NBP 117 41.31
36 NBP 122 41.64
37 NBP 127 42.48
38 NBP 132 44.11
39 NBP 138 56.8
40 NBP 144 76.15
41 NBP 151 81.21
42 NBP 159 85.62
43 NBP 171 93.35
44 NBP 189 89.55
45 NBP 200 111.13
46 Weight Rate (kg/hr) 190946
47 Molar Rate (kmol/h) 1989.44
48 Enthalpy (Gcal/h) 3.2
49 Density (kg/m3) 751.2
50 Mol. Weigt (kg/kmol) 95.98
(Sumber : PT. Pertamina (Persero) RU IV Cilacap)

Laporan Kerja Praktek 39


PT Pertamina RU IV Cilacap
BAB III
SPESIFIKASI ALAT

3.1. Spesifikasi Alat Utama


1. SHU Reaktor (105-R-501)
Fungsi : Berfungsi sebagai diolefin conversion dan
sweetening dari fraksi ringan dari Naphta
Tekanan desain : 25.5 kg/cm2.g
Temperatur desain : 150 0C
Panjang reaktor : 20850 mm
Diameter dalam : 2100 mm
Katalis : HR-845S ex Axens dengan sisi aktif Ni-Mo, yaitu
Ni3S2 (Ni) dan MoS2 (Mo) dengan support alumina
2. Splitter (105-C-501)
Fungsi : Memisahkan LCN (Light Cracked Naphta) dengan
HCN (Heavy Cracked Naphta)
Tekanan desain : 5.4 kg/cm2.g
Temperatur desain : 148 0C
3. HDS Reactor (105-R-502)
Fungsi : Sebagai sulfur removal dari fraksi heavy naphta
Tekanan desain : 20.6 kg/cm2.g
Temperatur desain : 270 0C
Panjang reaktor : 8150 mm
Diameter dalam : 2800 mm
Katalis : HR-806S ex Axens dengan sisi aktif Co-Mo, yaitu
Co9S8 (Co) dan Mo2S (Mo) dengan support
alumina
4. Stabilizer (105-C-503)
Fungsi : Menstrip H2S dan memisahkan Effluent HDS dari
fraksi ringannya sehingga diperoleh RVP sesuai target.
Tekanan desain : 5.7 kg/cm2.g

Laporan Kerja Praktek 40


PT Pertamina RU IV Cilacap
Temperatur desain : 185 0C

5. HDS Reaktor Heater (105-F-502)


Fungsi : Memanaskan HDS outlet menjadi suhu tertentu
Tekanan desain : 17.8 kg/cm2.g
Temperatur desain : inlet 288 0C , outlet 322 0C

6. Stabilizer Heater (105-F-503)


Fungsi : Memanaskan bottom produk Stabilizer untuk
dimasukkan kembali ke Stabilizer
Tekanan desain : 5.9 kg/cm2.g
Temperatur desain : 255 0C

3.2. Spesifikasi Alat Pendukung


1. Vessel
Design Operating
Tag Type
Description Condition Condition
Number Press Temp Press Temp
Vert / Hor
(kg/cm2.g) (oC) (kg/cm2.g) (oC)
105-V-501 SHU Feed Surge Drum Hor w/ Boot 5.6 125 4.1 110
105-V-502 Splitter Reflux Drum Hor w/ Boot 6.7 85 4.5 38
105-V-503 HDS Separator Drum Hor w/ Boot 18.7 190 15 46
105-V-504 Amine Absorber KO Drum Vert 18.7 190 14.9 46
105-V-505 Recycle Gas Compressor KO Drum Vert 18.7 190 14.4 53
105-V-506 Stabilizer Reflux Drum Hor w/ Boot 7.1 190 5.1 46
105-V-507 Fuel Gas Knock Out Drum Vert 6.2 120 3.5 38

2. Kolom
Design Condition Operating Condition
Tag Type
Description Internal Top Bottom
Number Vert / Press Temp Press Temp Press Temp
Hor (kg/cm2.g) (oC) (kg/cm2.g) (oC) (kg/cm2.g) (oC)
Amine
105-C-502 Vert 18.7 190 14.5 53 14.8 48
Absorber

Laporan Kerja Praktek 41


PT Pertamina RU IV Cilacap
3. Kompresor
Operating Condition
Tag
Description Type Flow Press (kg/cm2.g) Temp (oC)
Number
(m3/hr) Suction Discharge Suction Discharge
Recycle Gas
105-K-501 Centrifugal 2183.6 14.3 21 53 110
Compressor

4. Pompa
Design Condition
Tag Capacity Min. Pumping Rated
Description Type Disch Press dP
Number Rated Flow Temp Power
(kg/cm2.g) (kg/cm2)
(m3/h) (m3/h) (oC) (kW)

105-P-501 Shu Reactor Feed Pumps 322.9 168.5 31 26.43 110 403.07
105-P-502 Splitter Reflux Pumps 343.6 150.5 10.02 5.17 38 62.64
105-P-503 Lcn Product Pumps 193.8 101.1 10.07 2.55 116 25.26
Centrifugal

105-P-504 Splitter Heater Pumps 867.9 452.8 9.47 3.25 246 132
105-P-505 Hds Feed Pumps 160.9 83.9 24.73 18.5 246 150
105-P-506 Hcn Product Pumps 161.2 84.1 10.72 4.53 248 29.43
105-P-507 Stabilizer Reflux Pumps 18 7.2 9.7 4.09 46 5.1
105-P-508 Stabilizer Heater Pumps 247.8 129.3 10.7 3.88 248 38.88

5. Air Cooler
Operating Condition
Tag Duty Temp Temp Press
Description Type
Number (MMkcal/h) Service Fluid Inlet Outlet Inlet /
(oC) (oC) dP
Splitter Overhead Air 4 Splitter 5.2 /
105-E-504 14.18 85 49
Condenser BAY Ovhd 0.4
Hds Reactor Effluent Air 2 HDS 15.4 /
105-E-507 9.74 140 46
Condenser BAY Effluent 0.3
Stabilizer Overhead Air 1 Stabilizer 5.5 /
105-E-509 1.34 189 46
Condenser BAY Overhead 0.3
Recombined
2 8.0 /
105-E-510 Product Air Cooler 6.87 Prod (LCN + 118 49
BAY 0.5
HCN)

Laporan Kerja Praktek 42


PT Pertamina RU IV Cilacap
6. Furnace
Operating Condition
Tag Duty Temp Temp Press
Description Type
Number (MMkcal/h) Service Fluid Inlet Outlet Inlet /
o o
( C) ( C) dP
19.0 /
w/ APH HDS Effluent
105-F-502 Hds Reactor Heater 2.48 337 378 1.2

7. Exchanger
Duty Operating Condition
Tag TEMA (MM SHELL SIDE TUBE SIDE
Description Temp Temp Press Temp Temp Press
Number Type kcal/ Service
Service Fluid Inlet Outle Inlet / Inlet Outlet Inlet /
h) Fluid
(oC) t (oC) dP (oC) (oC) dP
Shu Reactor Feed -
105-E- 16.1 SHU 28.7
Hds Effluent AES 5.89 HDS Effluent 227 169 106 166
501 / 0.3 Feed / 0.4
Exchanger
105-E- Shu Reactor Feed - 22.5 SHU 28.2
AES 5.2 SHU Effluent 214 173 124 170
502 Effluent Exchanger / 0.3 Feed / 0.4
105-E- Shu Reactor Feed Desuperheat 20.1 SHU 27.8
AES 3.66 215 215 170 200
503 Preheater ed HP Steam /- Feed / 0.3
105-e- 4.8 / Cooling
Splitter trim cooler AES 1.03 HC + H2 49 38 33 38 3.2
505 0.3 Water
105-E- Hds Reactor Feed - 11.0 22.4 HDS 17.7
BEU HDS Feed 201 320 378 227
506 Effluent Exchanger 6 / 1.2 Effluent / 1.6
105-E- Stabilizer Feed - Stabilizer 8.8 / Stabilizer 7.5 /
AES 6.33 248 123 47 185
508 Bottom Exchanger Bottom 0.6 Feed 0.8
Recombined
105-E- Product Trim 7.4 / Cooling 3.2 /
AES 1.02 Prod (LCN + 49 38 33 38
511 Cooler 0.3 Water -
HCN)
105-E- 0.26 3.5 / 2.8 /
Fuel Gas Heater BEU Fuel Gas 18 120 LP Steam 190 134
512 8 0.14 0.7

Laporan Kerja Praktek 43


PT Pertamina RU IV Cilacap
BAB IV
UTILITAS

Unit Utilities pada PERTAMINA RU IV Cilacap adalah semua bahan atau


media atau sarana yang dibutuhkan untuk menunjang operasi pengolahan kilang
seperti tenaga listrik, tenaga uap, air pendingin, air bersih, udara bertekanan,
bahan bakar dan air baku sehingga kilang dapat memproduksi BBM dan NBM.
Pengadaan utilities dalam industri, khususnya untuk operasional kilang
bahan bakar minyak dan petrokimia Pertamina RU IV selama ini selalu
diusahakan sendiri, mengingat kebutuhan pasokan yang berkesinambungan belum
dapat diperoleh dari sumber lain. Dalam pengoperasian utilities harus handal
karena bila terjadi kegagalan dalam pengoperasian utilities, tidak saja akan
mengakibatkan kehilangan produksi kilang berupa BBM, NBM dan Petrokimia
tetapi dapat juga menimbulkan kerusakan katalis, peralatan operasi, dan
kesalamatan (safety).
Dalam memenuhi kebutuhan kilang Cilacap maka Pertamina RU IV secara
operasional memiliki unit – unit Utilitas yaitu :
 Unit 51/ 051/ 510 : Unit Pembangkit Tenaga Listrik
 Unit 52/ 052/ 520 : Unit Pembangkit Tenaga Uap
 Unit 53/ 053/ 530 : Unit Distribusi Air Pendingin
 Unit 54/ 054 : Unit Pengadaan Air Bersih
 Unit 55/055/550 : Unit Pengadaan Air Pemadam Kebakaran
 Unit 56/ 056/ 560 : Unit Pengadaan Uap Bertekanan
 Unit 57/ 05 : Unit Distribusi Bahan Bakar Cair Dan Gas
 Unit 63/ 063 : Unit Pengadaan Air Baku

4.1. Unit 51/ 051/ 510 (Unit Pembangkit Tenaga Listrik)


Unit ini memiliki 8 buah turbin generator pembangkit tenaga listrik
yang digerakkan oleh tenaga uap. Sistim ini beroperasi dengan extractive
condensing turbine dengan high pressure steam (HP steam) yang bertekanan
60 kg/cm2 dengan temperatur 460 0C. Dan menghasilkan medium pressure

Laporan Kerja Praktek 44


PT Pertamina RU IV Cilacap
steam (MP steam) bertekanan 18 kg/cm2 dengan temperatur 330 0C serta
menghasilkan pula kondensat recovery sebagai air penambah pada tangki
desuperheater dan tangki BFW. Kebutuhan listrik PERTAMINA RU IV
sekitar 64.7 MW dan kapasitas generator secara keseluruhan 112 MW.

4.2. Unit 52/ 052/ 520 (Unit Pembangkit Tenaga Uap)


Unit ini bertugas untuk menyediakan steam yang digunakan untuk
berbagai proses operasi. Unit ini dikategorikan menjadi 3, yaitu :
A. Sistem pembangkit :
Tenaga uap tekanan 60 kg/cm2 dan temperatur 460oC atau High Pressure
Steam dihasilkan dari :
1. Boiler UTL I : 52 B 1/2/3 (9 Unit) kapasitas @60 ton/jam.
2. Boiler UTL II : 052 B101/102/103/104 (4Unit) kapasitas @110ton/jam.
3. Boiler UTL KPC : 52 B 201 (1 Unit) kapasitas 110 ton/jam.
4. Boiler UTL IIA : 520 B 301 (1 Unit) kapasitas 60 ton/jam.
Sebagian besar uap tekanan tinggi tersebut digunakan sebagai tenaga
penggerak turbin generator dan sebagian kecil untuk penggerak turbin pompa
boiler feed water (BFW) dan cooling water.
B. Sistem distribusi tenaga uap terbagi atas :
Sistem distribusi tenaga uap di PERTAMINA UP IV Cilacap terbagi
atas:
1. High pressure steam dengan tekanan 60 kg/cm2, temperatur 460oC,
superheated. Penghasil HP steam adalah semua boiler di utilities dan
WHB di unit 14/FOC I.
2. Medium pressure steam dengan tekanan 18 kg/cm2, temperatur 330oC,
superheated. MP steam ini dihasilkan dari; ekstraksi turbine generator,
WHB unit 014, 019 FOC II, let down station HP/MP. MP steam ini
digunakan sebagai penggerak turbin pompa, kompressor, pemanas
pada heat exchanger, penarik sistem vakum pada ejector di semua area
proses.

Laporan Kerja Praktek 45


PT Pertamina RU IV Cilacap
3. Low pressure steam dengan tekanan 3,5 kg/cm2 temperatur 220oC,
superheated. LP dihasilkan dari sistem back pressure turbine dan let
down station MP/LP.
C. Kondensat sistem
Di dalam sistem selalu terjadi kondensasi, dan kondensat yang terjadi
dimanfaatkan kembali sebagai boiler feed water guna mengurangi water
losses. Ada tiga jenis kondensat, yaitu :
1. High pressure condensat yang berasal dari HP, MP steam line.
Kondensat ini ditampung dalam suatu flash drum untuk dipisahkan
menjadi LP condensat dan LP steam.
2. Low pressure condensat yang berasal dari LP steam line.
3. Clean condensat yang berasal dari surface condenser turbin generator
dan brine heater SWD (sea water desalination)

4.3. Unit 53/ 053/ 530 (Unit Distribusi Air Pendingin)


Distribusi air pendingin dilakukan dengan dua cara yaitu sistem
bertekanan (presurized) dan sistem gravity. Untuk sistem bertekanan, air
pendingin didistribusikan dengan pompa dan kapasitasnya 38600 m3/jam :
Untuk mencegah timbulnya mikroorganisme pada sistem air
pendingin, diinjeksikan sodium hypochloride hasil dari sodium hypochloride
generator.

4.4. Unit 54/ 054 (Unit Pengadaan Air Bersih)


Unit Pengadaan air bersih dilakukan di unit Sea Water Desalination
(SWD), di mana prinsip operasi unit ini adalah mengolah air laut menjadi air
tawar dengan spesifikasi tertentu dengan cara destilasi pada tekanan rendah
(vacuum). Ada dua sistem pembuatan air bersih di SWD yaitu dengan Multi
Stage Flash (MSF) through dan Multi Stage Flash Brine Recirculation.
Utilitas pertamina Refinery Unit IV Cilacap memiliki 8 buah unit
SWD yaitu :

Laporan Kerja Praktek 46


PT Pertamina RU IV Cilacap
1. UTL I : 54 WS 1/2/3 (3 unit) kapasitas @ 45 ton/jam (Type MSF once
through), dan 54 WS 201 (1 unit) kapasitas 45 ton/jam (Type MSF brine
recirculation).
2. UTL II : 054 WS 101/102/103/105 (4 unit) kapasitas @ 90 ton/jam (Type
MSF once through)
Produk unit SWD ini digunakan untuk :
 Sebagian besar sebagai air umpan boiler.
 Sebagai jacket water untuk pendingin sistem minyak pelumas pada
rotating equipment.
 Sebagai media pencampur bahan kimia untuk keperluan proses
 Sebagai air minum di area kilang

4.5. Unit 55/055/550 (Unit Pengadaan Air Pemadam Kebakaran)


Digunakan untuk menunjang operasi pemadam kebakaran. Sistem ini
terdiri dari 2 pompa air bakar yang berkapasitas 600m3/jam pada tekanan 12,5
kg/cm2, dan fasilitas pengaman cairan busa udara

4.6. Unit 56/ 056/ 560 (Unit Pengadaan Uap Bertekanan)


Unit ini berfungsi untuk menyediakan udara tekan yang dipakai dalam
sistem instrumentasi pneumatic di seluruh area kilang dan utilities sendiri.
Udara tekan yang dihasilkan harus kering dan tidak mengandung partikel-
partikel lain baik padatan maupun cair.
Sistem udara bertekanan terdiri atas:
 Kompresor dan intercooler
 Filter (ada 3 tingkat)
 Pengeringan udara berisi silica gel
 Penampung udara beserta jaringannya.
Pada unit ini, udara masuk kompresor dua stage dengan kapasitas
masing-masing kompresor tertera pada tabel di bawah ini. Tekanan udara
keluar kompresor adalah 8 kg/cm2. Udara yang keluar dari stage ke dua dari
kompresor masuk ke pendingin dan didinginkan hingga 43oC. Setelah itu,

Laporan Kerja Praktek 47


PT Pertamina RU IV Cilacap
udara dilewatkan prefilter kemudian ke air dryer untuk dikeringkan hingga
dew point -40oC. Udara kering tersebut dilewatkan ke afterfilter dan kemudian
ditampung di air instrument receiver.
Fungsi udara bertekanan :
a. Sebagai angin instrumen
Angin instrumen ini harus kering dan tidak boleh mengandung minyak.
Peralatan di sistem ini terdiri dari inter dan after cooler, receiver, air dryer,
air filter dan pipa distribusi.
b. Sebagai plant air untuk tube cleaning pada surface condensor turbine
generator dan evaporator condensor SWD.

4.7. Unit 57/ 05 (Unit Distribusi Bahan Bakar Cair Dan Gas)
Sistem ini terdiri dari sistem HFO dan HGO. Sistem HFO digunakan
sebagai bahan bakar pada boiler dan furnace saat normal operasi, sedangkan HGO
digunakan pada saat start up dan shut down unit serta untuk flushing oil dan
sealing sistem. Pengaturan viskositas menggunakan sarana heat exchanger dengan
media pemanas MP steam. HFO didistribusikan dengan dua sistem yaitu dengan
tekanan tinggi 35 kg/cm2 untuk keperluan sistem High Vacuum Unit dan tekanan
rendah 18 kg/cm2 untuk keperluan burner. HFO terdiri dari slack wax, slop wax,
heavy aromate dan IFO yang diperoleh dari proses area.
Bahan bakar gas (refinery gas) dipakai dan dimaksimalkan untuk
pembakaran di boiler dan furnace. Bahan baku diperoleh dari unit proses dan
ditampung di mix drum (vessel pencampur bahan bakar gas) 57V-2 dan 057V-102
yang selanjutnya didistribusikan ke seluruh proses area dengan tekanan 3.5
kg/cm2. Apabila tekanan lebih dari 4 kg/cm2 akan dibuang ke flare dan apabila
kurang dari 2.5 kg/cm2 akan disuplai dari LPG vaporizer system dengan media
pemanas LP steam. LPG Vaporizer Vessel berfungsi untuk menampung dan
memproses propane/butane yang offspec. Pada sistem bahan bakar gas ini juga
terdapat waste gas compressor yang berfungsi untuk memperkecil losses gas ke
flare
.

Laporan Kerja Praktek 48


PT Pertamina RU IV Cilacap
4.8. Unit 63/ 063 (Unit Pengadaan Air Baku)
Air baku diperoleh dari kali Donan dengan menggunakan pompa jenis
submersible sebanyak 8 unit dengan total kapasitas 38600 m3/jam. Dari kali
Donan, air sungai dipompakan ke Jetty Donan (area 60). Ruangan pengambilan
air baku dilengkapi dengan fixed bar screen, retractable strainer dan floating gate
yang berfungsi untuk menyaring kotoran misalnya sampah, serta suction screen.
Dari unit 63 dan 063 air baku tersebut kemudian dialirkan melalui pipa kedalam 3
buah tangki. Untuk mencegah terjadinya lumut dan menghindari hidupnya kerang
dan mikroorganisme lainnya, pada saluran hisap semua pompa air baku
diinjeksikan sodium hipokloride hasil dari sodium hipokloride generator. Air
baku ditampung dalam tangki selanjutnya digunakan sebagai media :
 Sistem air pendingin bertekanan (pressurized cooling water)
 Sistem gravity untuk surface condensor turbo generator
 Air umpan sea water desalination

4.9. Fire Figthing Water System


Merupakan fasilitas yang digunakan untuk menunjang operasi pemadam
kebakaran. System ini terdiri dari dua pompa air bakar dan fasilitas pengaman
cairan busa udara. Dua pompa air yang digunakan mempunyai kapasitas 600
m3/jam pada tekanan 12.5 kg/cm2.

4.10. Unit Ruang Kontrol / Pengendali Operasi


Dalam pengontrolan/pengendalian terdapat dua system, yaitu pneumatic
dan elektronik. Ruang control ini mempunyai tugas sebagai pengendali seluruh
kegiatan operasi di utilitas, antara lain mengawasi, mengatur dan mengoperasikan
unit-unitnya dengan cara manual atau secara otomatis dari ruang control. Suplai
listrik untuk system control didukung dengan Uninteruptable Power Supply
(UPS) untuk menjaga kontinuitas system control maka,
Sistem instrumentasi di ruang control dapat diguankan sebagai :
1. Pengontrol (controller)
2. Penunjuk (indicator)

Laporan Kerja Praktek 49


PT Pertamina RU IV Cilacap
3. Pencatat/perekam (recorder)
4. Isyarat (alarm)
Variable-variabel yang dikendalikan antara lain :
1. Tekanan
2. Temperature
3. Laju aliran
4. Tinggi permukaan cairan
5. Kualitas daya listrik
Di dalam runag control, system instrumentasi dibagi menjadi beberapa panel,
yaitu :
1. Panel control untuk turbin
2. Panel control untuk ketel uap
3. Panel control untuk generator
4. Panel control SWD (Sea Water Desalination)
5. Panel control untuk penyediaan air pendingin
6. Panel control untuk system udara bertekanan
7. Panel control untuk system penyediaan bahan bakar

Laporan Kerja Praktek 50


PT Pertamina RU IV Cilacap
BAB V
LABORATORIUM

5.1 Program Kerja Laboratorium


5.1.1 Laboratorium Pengamatan
Bagian ini mengadakan pemeriksaan terhadap sifat-sifat fisis bahan
baku, intermediate product, dan finishing product.
Sifat-sifat yang diamati antara lain :
1. Distilasi ASTM,
2. Spesificgravity,
3. Reid vapour pressure,
4. Flash point dan smoke point,
5. Convadson carbon residu,
6. Warna,
7. Cooper strip dan silver strip,
8. Viskositas kinematik,
9. Kandungan air.
5.1.2 Laboratorium Analitik dan Gas
Bagian ini mengadakan pemeriksaan terhadap row material
mengenai sifat-sifat kimianya, termasuk didalamnya tentang kerak dan
finishing product. Alat-alat yang digunakan untuk analisa antara lain :
1. N2 analizer, untuk menganalisa sulfur, CL2, H2S.
2. Atomic Absorbtion Spectrofotometer (AAS), untuk menganalisa
logam dan hidrokarbon.
3. Polychromator, untuk menganalisa semua metal yang ada dalam
sampel air maupun zat organik.
4. Nuclear Magnitute Resonance (NMR), untuk menganalisa
kandungan H2 dalam sampel avtur.
5. Portable Oxygen Tester (POT), untuk menganalisa kandungan
oksigen dalam gas pada cerobong asap.

Laporan Kerja Praktek 51


PT Pertamina RU IV Cilacap
6. Infra red Spectrofotometer (IRS), untuk menganalisa kandungan
kandungan oil dalam sampel air, juga menganalisa aromat dan
minyak berat.
7. Spectro Fluorophotometer, untuk menganalisa kandungan oil dalam
water slop.
8. Menganalisa bahan baku, stream product, dan finishing product
untuk pabrik paraxylene.
5.1.3 Laboratorium Penelitian dan Pengembangan
Bagian ini bertujuan untuk mengadakan penelitian, misalnya :
1. Blending fuel oil
2. Lindungan lingkungan (pembersihan air buangan)
3. Evaluasi crude.
4. Di samping mengadakan penelitian rutin, laboratorium ini juga
mengadakan penelitian yang sifatnya non-rutin, misalnya penelitian
terhadap produk kilang di unit tertentu yang tidak biasanya dilakukan
penelitian, guna mendapatkan alternatif lain tentang penggunaan
bahan baku.
5.1.4 Ren. ADM / Gudang / Statistik
Bagian ini bertugas untuk mengatur administrasi laboratorium,
pergudangan, dan statistik.
5.1.5 Laboratorium Paraxylene
Laboratorium ini khusus menangani unit paraxylene, yang
mempunyai kerja dan tugas menganalisa terhadap bahan baku, produk
yang dihasilkan dan bahan penunjang lainnya.

5.2 Peralatan Utama


5.3.1 Laboratorium Pengamatan
1. Autoflash
Alat yang digunakan untuk mengecek titik nyala api (flash point)
dimana ada 2 (dua) jenis pengukur titik nyala, yaitu termometer flash
point Abel untuk fraksi ringan (bensin, kerosene) dan flash point Bens
Shin Marfin untuk fraksi berat.

Laporan Kerja Praktek 52


PT Pertamina RU IV Cilacap
2. Smoke Point Tester
Alat yang digunakan untuk mengukur smoke point (titik asap) dari suatu
minyak yang mempunyai fraksi ringan.
3. Cooper Strip Tester
Alat untuk megetahui pengaruh minyak terhadap tembaga. Dimana tes
ini dapat digunakan untuk mengetahui kualitas minyak.
4. Hydrometer
Alat untuk mengukur spesific gravity (50/500 F) dari minyak yang
berfraksi ringan dan fraksi berat.
5. Viskometer Bath
Alat untuk mengukur viskositas minyak fraksi ringan dan fraksi berat.
6. Water Content Tester
Alat yang digunakan untuk menganalisa kadar air dalam minyak,
metode operasinya adalah destilasi, dimana rumus yang digunakan
adalah :
Volumeair dalam penampung
%air   100%
Volumesampel
7. Pure Point Tester
Alat yang digunakan untuk mengukur pure point (titik tuang) dari
minyak, dimana yang diamati adalah temperatur minyak tertinggi pada
saat minyak masih dapat dituang.
5.3.2 Laboratorium Analitika dan Gas
1. NMR (Nuclear Magnetik Resolution)
Digunakan untuk menganalisa adanya CHCl3 dalam bahan baku atau
produk yang dihasilkan.
2. MCST (Micro Calorimetric Titrating System)
Digunakan untuk menganalisa kandungan H2S, Cl, S dalam minyak
dengan metode titrasi, sebagai carrier digunakan helium dan oksigen.
3. AAS (Automatic Absorbtion Spectofotometric)
Digunakan untuk menganalisa semua metal baik dalam air maupun
dalam minyak, juga untuk menganalisa TEL (Tetra Etil Lead) content
dalam premium.

Laporan Kerja Praktek 53


PT Pertamina RU IV Cilacap
Tipe dari AAS adalah single element, sebagai pembakarnya adalah
acetylene dan N2O.
4. ICPS (Inductive Coupled Plasma Spectrophotometric)
Digunakan untuk analisa metal yang ada dalam air maupun minyak,
dengan pembakarnya gas plasma (argon) dan memiliki tipe
monomultifire.
5. (UV – VIS – NR Record Spectrophotometric)
Digunakan untuk menganalisa Si, NH3, furfural, metil etil keton, dan
metal – metal lainnya. Lampu UV digunakan untuk menganalisa avtur
dan naftalene.
6. Infra Red Spectrophotometer
Digunakan untuk menganalisa gugus senyawa fungsional secara
kualitatif dan menganalisa oil content dalam air buangan secara
kualitatif.
7. Spectrophotometer Fluorophotometer (RF – 520)
Digunakan untuk menganalisa zat – zat yang bisa berfluorisasi.
8. NMR Low Resolution
Digunakan untuk menganalisa kandungan hidrogen dalam minyak
aftur, JP – 4 dan JP – 5.
9. Aparaat Carbon Determinator (WR – 12)
Digunakan untuk menganalisa kandungan karbon dalam minyak dan
katalis.
10. Sulphur Lamp Apparatur
Digunakan untuk analisa sulfur dalam bahan bakar minyak (premium,
kerosene, solar, avtur).
11. Calorimetric Adiabatic
Digunakan untuk mengetahui nilai bakar dalam minyak.
12. POC (Portable Oil Content)
Digunakan untuk menganalisa oil content dalam air buangan
13. Karl Fiscer – Automatic Titrator
Digunakan untuk menganalisa kandungan air dalam minyak dengan
solvent etanol.

Laporan Kerja Praktek 54


PT Pertamina RU IV Cilacap
14. Salt in Crude Analizer
Digunakan untuk menganalisa salt content dalam minyak.
5.3.3 Laboratorium Penelitian, Pengembangan dan Lindungan Lingkungan
Pada dasarnya laboratorium ini tidak memiliki alat – alat yang
spesifik dalam melaksanakan tugasnya. Laboratorium ini dapat
menggunakan fasilitas laboratorium lain. Laboratorium ini melakukan
pengamatan dan penelitian, yang meliputi :
1. menganalisa sampel – sampel non rutin untuk penelitian
2. menganalisa peralatan untuk maintenace terhadap alat – alat yang ada
3. mengevaluasi dan mengadakan orientasi terhadap crude
4. menganalisa oil content yang tercecer di dermaga.
5. Menyalurkan air buangan / lindungan lingkungan

5.3.4 Laboratorium Administrasi, Material, Gudang dan Statistik


Laboratorium ini tidak mempunyai peralatan untuk mengadakan
suatu analisa, mengingat kerja dari laboratorium tersebut.
5.3.5 Laboratorium Paraxylene
Alat yang digunakan pada laboratorium ini adalah :
1. Moisturemeter
Digunakan untuk menganalisa kandungan air dan bromine indeks
dari olefin.
2. Desult Oksigen
Digunakan untuk mengecek feed naptha terhadap kandungan O2
3. UV Visible Spectrofotometer
Digunakan untuk menganalisa konduktivitas feed maupun
produk.
4. Conductivitymeter
Digunakan untuk menganalisa konduktivitas feed maupun
produk. Di samping itu laboratorium ini juga menggunakan peralatan
yang ada pada laboratorium lain.

Laporan Kerja Praktek 55


PT Pertamina RU IV Cilacap
5.3 Prosedur Analisa
Prosedur analisa yang digunakan pada laboratorium adalah :
a. Titrasi
b. Volumetri
c. Iodometri
d. Microkolorimetri
e. Refraksimetri
f. Viscosimetri
g. Flash point testers
h. IP Standart
i. Gravimetri
j. Potensiometri
k. Spectrofotometri
l. Distilasi
m. Chromatografi
n. ASTM Standart
o. UOP Standart

Laporan Kerja Praktek 56


PT Pertamina RU IV Cilacap
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
1. Refinery Unit IV Cilacap ini merupakan unit pengolahan terbesar yang
dikelola Pertamina secara keseluruhan yang dilihat dari hasil produksinya.
Kilang Cilacap ini memasok 34% kebutuhan BBM nasional atau 67%
kebutuhan BBM di Pulau Jawa.
2. Refinery Unit IV Cilacap memiliki beberapa unit proses seperti FOC 1,
FOC 2, LOC I,II,III, Paraxylene, SRU dan RFCC.
3. Kilang RFCC (Residual Fluid Catalytic Cracking) dirancang untuk
mengolah produk bawah CDU II berupa LSWR (Low Sulphur Wax
Residue) sejumlah 58.000 BPSD dan vacuum gas oil dari HVU dan LOC
I/II sejumlah 4000 BPSD yang bernilai jual rendah menjadi produk yang
bernilai jual tinggi.
4. Unit 105 Gasoline Hydrotreating fungsi utamanya yaitu menurunkan
kadar sulfur dari 400 ppm menjadi 150 ppm.

6.2 Saran
1. Meningkatkan kerjasama antara PT Pertamina (Persero) RU IV Cilacap
dengan masyarakat sekitar, misal dengan membuat program –program
yang bermanfaat untuk masyarakat dalam CSR (Company Social
Responsibility).
2. Sebaiknya dibuat perpustakaan yang cukup luas dan nyaman. Karna
sarana pendukung seperti perpustakaan yang nyaman sangat diperlukan
khususnya bagi mahasiswa KP untuk mencari sumber-sumber referensi
laporan kerja praktik.
3. PT Pertamina (Persero) RU IV Cilacap diharapkan selalu meningkatkan
peranannya untuk menjembatani dunia pendidikan (Perguruan Tinggi)
dengan dunia kerja sesungguhnya, sehingga akan didapatkan manfaat yang
saling menguntungkan.

Laporan Kerja Praktek 57


PT Pertamina RU IV Cilacap
DAFTAR PUSTAKA

Cilacap Refinery Pertamina. 2015. “RFCC Pocketbook”. PT. Pertamina UP IV


Cilacap.
Pertamina. 2015. Operating Manual Resid Fluid Catalytic Cracking. PT.
Pertamina UP IV Cilacap.

Laporan Kerja Praktek 58


PT Pertamina RU IV Cilacap