Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak potensi


baik dari kekayaan sumber daya alamnya maupun kekayaan budaya dan
adat istiadat tiap-tiap daerah di Indonesia yang tidak kalah dengan negara-
negara lainnya di dunia. Indonesia adalah sebuah negeri yang memiliki alam
indah dan nyaman bagi semua umat manusia. Tempat-tempat indah bagai
permata yang tersebar luas hingga pelosok negeri. Beberapa tempat sudah
menjadi icon wisata dunia. Namun masih ada tempat lainnya yang masih
tersembunyi. Sudah seharusnya kita sadar akan potensi-potensi alam
Indonesia dan turut memelihara serta mengembangkannya.

Salah satu potensi yang ada di Indonesia berada di profinsi Banten.


Propinsi Banten yang berada di antara 5°7'50" - 7°1'11" LS dan 105°1'11" -
106°'12" BT, dengan luas wilayah 9.160,70 km2 membuatnya sangat
strategis sebagai penghubung jalur perdagangan Sumatera - Jawa.
Batas wilayah sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa, Sebelah Barat
dengan Selat Sunda, serta di bagian Selatan berbatasan dengan Samudera
Hindia, sehingga wilayah ini mempunyai potensi lokal yang sangat luar
biasa baik dalam sektor budaya, pariwisata, makanan dan berbagai sektor
yang lain.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu sebagai berikut.

1. Bagaimana potensi daerah Banten di sektor sumber daya kelautan dan


perikanan?

2. Bagaimana potensi daerah Banten di sektor pariwisata?

1
2

3. Bagaimana potensi daerah Banten di sektor pertanian?

4. Bagaimana potensi daerah Banten di sektor budaya?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dalam pembuat makalah ini yaitu sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui potensi lokal daerah Banten.
2. Untuk membuat masyarakat lebih mengenal dan bisa memaksimalkan
potensi lokal yang berada di daerah Banten.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Potensi Lokal Daerah


Potensi diartikan sebagai kemampuan yang dapat dikembangkan. Potensi
lokal daerah adalah segala kemampuan yang ada pada suatu daerah yang
dapat adikembangkan. Agar potensi daerah dapat bermanfaat, maka
masyarakat melakukan kegiatan ekonomi.

2.2 Jenis-Jenis Potensi Lokal Daerah

Potensi lokal daerah dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu :

a. Potensi Alam

Potensi alam adalah kemampuan berupa kekayaan kenampakan dan


sumber daya alam yang dapat dikembangkan.

1. Bidang pertanian, yaitu menanam tanaman pangan, menggarap lahan,


menjual hasil panen dan mengolah hasil panen.
2. Bidang Perkebunan, yaitu menggarap lahan perkebunan, memetik
hasil panen, mengolah hasil panen, dan bekerja di perkebunan.
3. Bidang peternakan, yaitu membudidayakan ternak, menjual ternak,
bekerja pada peternakan, dan mengolah hasil ternak.
4. Bidang pertambangan, yaitu menjadi penambang, beklerja pada
pertambangan dan menjual hasil tambang.
5. Bidang pariwisata, yaitu menyewakan penginapan, membuat, menjual
kerajinan, menyewakan perahu, menyewakan perlengkapan selancar,
dan selam.
6. Bidang perikanan, yaitu menangkap ikan, membudidayakan ikan, dan
membudidayakan rumput laut.

3
4

b. Potensi Sosial Budaya

Potensi sosial budaya adalah kemampuan yang dapat dikembangkan dari


pola kehidupan yang terdapat pada suatu masyarakat di suatu daerah.

Indonesia memiliki potensi sosial budaya yang beragam, yaitu :

1. Pakaian daerah, seperti Ulos Raga, Batik, Baju Bodo, dan lain-lain.
2. Tarian daerah, seperti Jaipong, tari Lilin dan lain-lain.
3. Pertunjukan, seperti Debus, Ogoh-Ogoh, dan lain-lain.
4. Lagu daerah, seperti Boungong Jeumpa, Ampar-Ampar Pisang, dan
lain-lain.
5. Alat musik daerah, seperti sasando, tifa, dan lain-lain.
6. Kerajinan, seperti ukiran Jepara, Seni patung Papua dan lain-lain.
7. Cerita daerah, seperti Asal mula telaga biru, dan lain-lain.
8. Makanan daerah, seperti Papeda, Oncong-oncong pisan, Pempek,
Taoge goring, dan lain-lain.
9. Adat istiadat, seperti tradisi bergotong royong dalam membangun
rumah, uapacara adat pembakaran mayat.

2.3 Potensi Lokal Profinsi Banten

2.3.1 Potensi Lokal di Sektor Kelautan dan Perikanan

Propinsi Banten merupakan daerah yang sangat prospektif dalam


pengembangan sektor perikanan dan kelautan. Banten memiliki garis
pantai sepanjang 715,21 kilometer dan beberapa pulau-pulau kecil, serta
potensi ekosistem terumbu karang. Potensi ekosistem terumbu karang
terdapat di beberapa daerah seperti disekitar Bayah, Muara Binuangeun,
Pulau Tinjil, sekitar Pulau Panaitan, pesisir Ujung Kulon, Tanjung
Lesung, Carita, di sekitar Pulau Panjang.
5

Sebuah penelitian mengungkapkan tentang sumberdaya ikan di Provinsi


Banten adalah sebagai beikut: Kabupaten Lebak mencapai 17.050.441,81
kg/tahun dengan pemanfaatan rata-rata setiap tahun sebesar 4.464.270,00
kg/tahun atau baru sekitar 26,25%; Kabupaten Pandeglang sebesar
32.285.708,85 kg/tahun dengan tingkat pemanfaatan setiap tahun sebesar
24.203.520,00 kg/tahun atau 74,97%; Kabupaten Serang sebesar
14.825.107,50 kg/tahun dengan tingkat pemanfaatan pertahun 8.610.410
kg (58,08%) dan potensi perikanan Kabupaten Tangerang sebesar
9.048.646,11 kg/tahun, dengan tingkat pemanfaatan pertahun 6.785.340
(74,98%). Pada sektor budidaya, khususnya budidaya tambak antara lain
udang windu, udang putih, udang api-api, bandeng, belanak dan mujair
berkembang dengan baik. Salah satunya di Kabupaten Pandeglang dari
hasil produksi budidaya tambak hingga tahun 1998 mencapai 228,7 ton
senilai Rp. 6.775.600.000 dengan luas areal mencapai 174 hektar. Dari
segi makanan khas perikanan Banten masih banyak yang bisa digali dan
dikembangkan menjadi produk unggulan. Otak-otak, sate bandeng, bakso
ikan payus, dendeng ikan dan masih banyak aneka-ragam olahan ikan
dari Banten dapat dikembangkan sebagai produk unggulan yang pada
akhirnya dapat membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan
kesejahteraan rakyat.
Melihat potensi besar di bidang perikanan tersebut, baik dalam perspektif
Indonesia maupun Provinsi Banten sangat prospektif untuk
dikembangkan. Tapi jika dikorelasikan dengan tingkat kesejahteraan para
nelayan potensi tersebut tidak berkorelasi positif dengan tingkat
kesejahteraan nelayan. Sehingga dapat dikatakan potensi yang besar
dibidang perikanan tersebut belum dieksplorasi secara optimal khususnya
bagi kesejahteraan para nelayan. Masalah mendasar kondisi tersebut
adalah rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan nelayan.
Berdasarkan perkiraan kualitas pendidikan SDM perikanan bagian
6

terbesar nelayan berpendidikan rendah yaitu 70 persen tidak tamat


sekolah dasar (SD) dan tidak sekolah, 19,59 persen tamat sekolah dasar,
dan hanya 0,03 persen yang memiliki pendidikan sampai jenjang
Diploma 3 dan Sarjana.
Berdasarkan potensi perikanan yang dimiliki Indonesia umumnya dan
provinsi Banten khususnya ditambah belum optimalnya eksplorasi yang
dilakukan maka secara objektif harus diakui bahwasanya keberadaan
Program Studi Perikanan Untirta prospektif dan juga diperlukan
khususnya oleh masyarakat Banten untuk menghasilkan SDM perikanan
yang berkualitas di bidangnya.
Tetapi itu saja belum cukup untuk menjawab pertanyaan apakah Program
Studi ini menambah daftar pengangguran terdidik atau mengurangi
jumlah pengangguran terdidik. Karena potensi tersebut tidak akan berarti
apa-apa jika kualitas alumni yang dihasilkan tidak sesuai standar pasar.
Sehingga diperlukan sinergisasi antara kurikulum yang diterapkan di
Program Studi Perikanan Untirta dengan kualifikasi keahlian yang
diperlukan oleh instansi swasta, pemerintahan maupun untuk
berwirausaha dibidang perikanan.
(Mala Nurilmala: Dosen IPB dan dosen Luar Biasa di Jurusan Perikanan
Untirta).
7

POTENSI PERIKANAN TANGKAP DI BANTEN

Jenis dan Jumlah Produksi Perikanan Tangkap Tahun 2012


:
Ikan Tuna : 604 ton
Ikan Cakalang & Tongkol : 3.871 ton
Udang : 1.505 ton
Rumput Laut : 5 ton
Lainnya : 53.717 ton

PRODUKSI 2012 (TON) 59.702

PRODUKSI 2011 (TON) 57.891

PRODUKSI 2010 (TON) 57.254

PRODUKSI 2009 (TON) 57.257

PRODUKSI 2008 (TON) 55.858

Sumber Data:
Statistik Kelautan dan Perikanan 2012
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Jakarta Pusat 10110
Telp 021-3520350
Fax 021-3519133
8

2.3.2 Potensi Lokal di Sektor Pariwisata

Secara geografis wilayah Banten dekat dengan Jawa-Barat dan pulau


Sumatra. Banten terletak di antara pulau Sumatra, Jawa-barat dan
Jakarta, dengan populasi penduduk mencapai 9.308.344 pada tahun 2005.
Sedikit di luar kota ke arah barat terdapat gunung berapi terkenal yaitu
gunung Krakatau yang terakhir meletus besar pada tahun 1883.

Terletak 8 derajat di selatan garis katulistiwa, Banten beriklim tropis


dengan 2 musim yaitu hujan dan kemarau, dengan suhu udara rata-rata
28 derajat celcius. Bagian selatan banten merupakan daerah berbukit
yang landai, sementara bagian utara merupakan daerah dataran
rendah/pantai. Hasil utama banten diantaranya pertanian, berkebunan dan
industri.
Masyarakat Banten memiliki akar agama yang kuat dengan budaya asli
yang masih eksis dalam kehidupan mereka. Agama utama masyarakat
Banten adalah Islam, yang tiba di wilayah ini bersamaan dengan
tersebarnya agama Islam di wilayah Sumatra dan Sulawesi pada sekitar
abad 15. Meski Islam berasal dari Arab, perkembanganya di Banten
sangat unik. banyak sekali seniman, artis dan musisi yang berasal dari
daerah ini. Sebagian besar masyarakat Banten atau sekitar 2.5 juta jiwa
tinggal di pedesaan-pedesaan yang padat, masing-masing dalam bentuk
keluarga besar.
Daerah tujuan wisata utama di Banten adalah Anyer. Desa kecil yang
sunyi berubah menjadi daeraj tujuan wisata karena pantainya yang indah
berpasir putih dan adanya sejumlah tempat rekreasi, terutama wisata air
seperti, surfing, diving, dll.
9

1. Masjid Agung Banten.

Banten dikenal dengan kehidupan agamanya yang harmonis dan saling


toleran satu sama lain. Mesjid agung Banten dibangun oleh Sultan
Maulana Yusuf pada tahun 1566. Selain serbagai pusat pengembangan
Islam di banten, mesjid ini juga dibangun untuk melengkapi bangunan
kesultanan yang ada.

Sementara kuil Cina yang ditemukan di Banten dibangun pada masa-


masa awal kesultanan Banten, dan letaknya kurang lebih 50 meter dari
benteng Speelwijk. Kuil ini merupakan salah satu kuil tertua di
Indonesia.
10

2. Taman Nasional Ujung Kulon.

Taman nasional Ujung Kulon merupakan salah satu daerah konservasi


alam dunia yang dicanangkan oleh badan dunia UNESCO (world
heritage site). Jika anda memasuki wilayah hutanya yang masih alami,
anda masih bisa menjumpai binatang badak bercula satu yang hampir
punah. Di tempat ini juga terdapat area penggembalaan kerbau, burung
merank dan binatang spesifik lainya. Tempat ini dikelilingi oleh pulai-
pulau yang indah di sekitarnya yang sangat cocok untuk olahraga Diving.

3. Panorama Gunung Krakatau.

Di tengah-tengah selat Sunda terdapat gunung Krakatau yang mudah


dicampai dengan speedboat dari anyer maupun carita. Gunung ini
terkenal ke seluruh dunia dengan letusanya pada tahun 1883, yang kala
itu terdengar hingga australia barat dan kolombo. Bahkan awan panasnya
terus keluar selama seminggu kemudian dan mencapai wilayah eropa.
Gunung baru yang merupakan anak Krakatau mulai muncul di atas
permukaan laut untuk pertamakalinya pada tahun 1928 silam dan masih
aktif hingga kini. Anak krakatau terakhir meletus kecil pada akhir tahun
2007.
11

Foto letusan gunung krakatau tahun 2007

4. Anyer - Carita - Tanjung Lesung - Pulau Umang.

Pantai anyer, Carita, Tanjung lesung dan pulau Umang yang terletak di
daerah Serang dan Pandeglang merupakan tempat yang tenang bagi anda
untuk beristirahat. Di tempat ini banyak terdapat hotel berbintang
maupun non bintang, penginapan rumahan, restoran ataupun fasilitas
lainya guna memenuhi kebutuhan wisatawan. Anda bisa mencoba
berbagai olahraga air diantaranya ski air, jet ski, banana boat, kano dan
olahraga air faforit lainya.

Dua tahun selelah meletusnya gunung Krakatau, sebuah mercusuar baru


12

setinggi 75.5 meter dibangun di pantai Anyer, tepatnya menghadap ke


jalan raya sepanjang 1000 Km yang dibangun Deandles pada tahun 1881
silam guna menghubungkan Anyer dan Panarukan. Sementara tanjung
lesung dan pulau umang merupakan tempat tujuan wisata pantai lainya
yang menarik, yang berada di bagian selatan wilayah ini.

5. Pantai Sawarna ( Southern Banten Long Beach).

Pantai Ciantir dan pantai karang tanjung layar merupakan daerah tujuan
wisata utama desa Sawarna kecamatan Bayah kabupaten Lebak, dengan
ombak yang besar dan sangat cocok untuk olahraga selancar.

6. Masyarakat Baduy dan Cisungsang.


13

Masyarakat tradisional baduy terdapat di kabupaten Lebak, tinggal di


area seluas kurang lebih 5101 Ha. Suku ini terbagi dua, yaitu Baduy luar
dan Baduy dalam. Mereka hidup dengan bersahaja selaras dengan alam
dan menghindari kehidupan dunia luar yang modern. Mereka hidup
dengan kesederhanaan, sehingga mereka tidak pernah saling iri satu sama
lain.

Masyarakat Cisungsang tinggal di area seluas 28 Km2, terletak di


kecamatan Cibeber, kabupaten Lebak. Kesenianya yang terkenal adalah :
Rengkong, angklung buhun dan Bendrong lesung.

2.3.3 Potensi Lokal di Sektor Pertanian

Sejak tahun 2002 silam, tingkat produksi pertanian di Daerah Banten


mengalami peningkatan yang cukup positif meskipun kecenderungannya
masih terbilang lamban. Seperti pada tahun 2005, potensi pertanian
Banten mulai berkembang menjadi 364.721 ha dan 1.812.495 ton dengan
tingkat produksi per hektar sekitar 49,6 ton/ha. Selain itu, produksi
tanaman palawija juga mengalami peningkatan sebesar 4,08% setiap
tahunnya dengan tingkat rasio mencapai 1,64. Dua tanaman palawija
yang cukup diandalkan masyarakat Banten sebagai potensi unggulan
yaitu ubi kayu dan kacang kedelai.
14

Luas Lahan pertanian di Propinsi Banten sampai dengan tahun 2008


adalah seluas 861.856 Ha terdiri dari 195.176 Ha lahan Sawah dan
666.680 Ha Lahan kering dan Luas Lahan sawah menurut jenis
pengairannya terdiri dari 52.102 Ha irigasi teknis, 18.417 ha irigasi
setengah teknis, 21.630 Ha irigasi sederhana, 24.458 Ha irigasi desa dan
78.569 Ha adalah tadah hujan.

Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai (DAS), Provinsi Banten


dibagi menjadi enam DAS, yaitu :
 DAS Ujung Kulon, meliputi wilayah bagian Barat Kabupaten
Pandeglang (Taman Naional Ujung Kulon dan sekitarnya);
 DAS Cibaliung-Cibareno, meliputi bagian Selatan wilayah
Kabupaten Pandeglang dan bagian selatan wilayah Kabupaten Lebak;
 DAS Ciujung-Cidurian, meliputi bagian Barat wilayah Kabupaten
Pandeglang;
 DAS Rawadano, meliputi sebagian besar wilayah Kabupaten Serang
dan Kabupaten Pandeglang;
 DAS Teluklada, meliputi bagian Barat wilayah Kabupaten Serang
dan Kota Cilegon;
 DAS Cisadane-Ciliwung, meliputi bagian Timur wilayah Kabupaten
Tangerang dan Kota Tangerang.

2.3.4 Potensi Lokal di Sektor Budaya

Budaya Banten merupakan bagian dari dinamika budaya nasional


yang berkembang seiring dengan perjalanan ruang dan waktu. Provinsi
Banten menemukan bentuknya yang sekarang melalui perkembangan
sejarah yang panjang. Berbagai pengaruh telah ikut mewarnai kehidupan
sosial, politik dan budaya masyarakat Banten.
15

Peran Banten dalam percaturan politik Internasional dikukuhkan


saat Sultan Banten mengirim duta besarnya ke Inggris pada tahun 1681,
dan sebaliknya Eropa juga mengakui keberadaan Banten ketika Raja
Christian V dari Denmark mengirim utusannya ke Banten tahun 1682.
Keindahan Ibu Kota Banten Lama, Surosowan dengan
penghuninya yang multietnis digambarkan oleh Belanda bak Kota
Amsterdam. Kejayaan Banten Lama masih dapat dilihat dari sisa-sisa
bangunan Istana Surosowan, Kaibon, Benteng Speelwijk dan
kepurbakalaan lainnya. Benda cagar budaya dan situs yang telah
diinventarisasi oleh Disbudpar Provinsi Banten sejak tahun 2004 sampai
dengan tahun 2008 mencatat sebanyak 151 kepurbakalaan di Provinsi
Banten. Jumlah kepurbakalaan sebanyak itu bukan jumlah yang sedikit
untuk ukuran sebuah provinsi, hingga perlu segera ditangani secara serius
dan sungguh-sungguh oleh instansi terkait dan dukungan sumber daya
manusia yang berkualitas.
Keunikan lain yang dimiliki Banten adalah keberadaan suku
Baduy, dimana sebuah komunitas bisa mempertahankan nilai adat dan
budayanya terjaga utuh dari pengaruh modernisasi yang mulai masuk.
Tradisi Sunda Wiwitan masih dipraktekan. Pantangan yang diajarkan
terus menerus secara turun temurun menjadikan mereka hidup dalam
keharmonisan dengan sesama manusia dan alam. Selain Suku Baduy, ada
lagi komunitas masyarakat adat Desa Cisungsang yang terletak di kaki
Gunung Halimun, yang dikelilingi oleh 4 (Empat) desa adat lainnya yaitu
Desa Cicarucub, Bayah, Citorek, dan Cipta Gelar. Masyarakat Adat
Cisungsang dipimpin oleh seorang Kepala Adat, yang penunjukannya
melalui proses wangsit dari karuhun. Mereka telah lama mengembangkan
cara untuk mempertahankan hidup dengan menciptakan sistem nilai, pola
hidup, sistem kelembagaan dan hukum yang selaras dengan kondisi
masyarakat setempat. Pengalaman berinteraksi secara ketat dengan alam
telah memberikan pengetahuan mendalam bagi kelompok-kelompok
16

masyarakat adat dalam pengelolaan sumberdaya lokalnya. Mereka telah


memiliki pengetahuan lokal (Local Knowledge) untuk mengelola tanah,
tumbuhan dan binatang baik di hutan, laut untuk memenuhi segala
kebutuhan hidup mereka sendiri seperti makanan, obat-obatan, pakaian
dan perumahan. Harus diakui bahwa masyarakat adat yang hidup
puluhan ribu tahun di daerah ini merupakan “ilmuwan-ilmuwan yang
paling tahu” tentang alam lingkungan mereka.
Dalam bidang kesenian, yang merupakan salah satu dari tujuh
unsur kebudayaan universal, seni tradisional Banten Banten yang
memiliki genealogis (keeratan hubungan) dengan tradisi Islam
Kesultanan, serta kaya dengan adat keislaman lokal disinyalir hampir
mengalami kepunahan akibat daya tahan seni tradisional yang kurang
kuat dalam menghadapi penetrasi budaya asing. Berdasarkan data yang
ada di Provinsi Banten, ada 45 jenis Kesenian Tradisional Banten yang
tersebar di 4 Kabupaten dan 3 Kota yaitu : Kabupaten Serang, Kabupaten
Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang,
Kota Serang dan Kota Cilegon. Diantaranya : Angklung Buhun, Beluk,
Bendrong Lesung, Barongsai, Calung, Cigeulisan, Calung Renteng,
Cokek, Debus, Dog-dog Lojor, Degung, Dodod, Gacle, Gambang
Kromong, Genjring, Reog, Rengkong, Saman, Terebang Gede, Topeng
Sempilan/Wewe, Sepak Bola Api, Tanjudor, Terebang Dekem, Ubrug,
Wayang Golek, Wayang Kulit, Wayang Garing, Wayang Cepak, Yalil,
Wawacan Syekh, Gemyung, Gedebus, Jaipongan, Jipeng, Kendang
Penca, Kuda Kepang, Keroncong, Kecapi Suling, Lenong, Mawalan,
Marhaban, Patingtung, Qasidah, Rudat, Rampak Bedug. Dari berbagai
jenis Kesenian Tradisional Banten tersebut di atas, dapat dianalisis
bahwa Kesenian Tradisional Banten dapat dikategorikan menjadi 4
kategori :
17

1. Seni Tradisional yang sangat kental diwarnai hidup dan


berkembangnya agama Islam, seperti : Rampak Bedug, Terebang Gede,
Qasidah, Saman,Yalil;
2. Seni Tradisional yang merupakan perkawinan dari jiwa patriotic
masyarakat Banten dengan budaya Islam, seperti : Debus, Patingtung dan
Rudat;
3. Seni Tradisional yang merupakan budaya Banten tua, yang menurut
sejarah lahir bersama Islam atau sebelum datangnya agama Islam di
Banten, seperti : Angklung Buhun, Dog-dog Lojor, Bendrong Lesung,
Beluk dsb;
4. Seni Tradisional yang datang dari luar Banten, dengan mengalami
proses akulturasi budaya seperti : Kuda Lumping, Gambang Kromong,
Cokek dsb.
Sumber daya budaya di atas menunjukkan bahwa masyarakat Banten
memiliki daya pikir, imajinasi,dan kreatifitas yang tinggi, dan semua itu
merupakan kekayaan dan aset daerah yang harus dibina dan
dikembangkan terutama untuk menentukan identitas daerah dan
perkembangan pariwisata.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari berbagai ulasan yang telah dijelaskan pada pembahasan, dapat
disimpulkan bahwa daerah Nias memiliki banyak potensi pada berbagai
sector baik di sector sumber daya kelautan dan perikanan, sector
pariwisata, sector perkebunan, maupun di sector peternakan. Hal ini
membuktikan bahwa daerah Nias tidak kalah saing dengan daerah-daerah
lainnya di Indonesia.

3.2 Saran

Sesuai dengan judul makalah ini, saya berharap semoga potensi


daerah Nias dapat digali dan dikelola sebaik mungkin sehingga daerah ini
dapat lebih maju dan berkembang serta potensi-potensi yang ada dapat
dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat Nias itu
sendiri.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

18
DAFTAR PUSTAKA

http://dkp-psdkp.blogspot.com/2012/03/mengenal-dkp-provinsi-banten.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Banten

http://bisnisukm.com/mengenalkan-potensi-bisnis-di-provinsi-banten.html

http://www.deptan.go.id/daerah_new/distanak_banten/keadaan_geografis.htm

http://www.indonesia.go.id/in/pemerintah-daerah/provinsi-banten/sumber-daya-
alam

19