Anda di halaman 1dari 8

e-journal Keperawatan (e-Kep) Volume 6 Nomor 1, Mei 2018

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT


KEMANDIRIAN ACTIVITY DAILY LIVING (ADL) PADA
PASIEN PASCA STROKE DI POLIKLINIK
NEUROLOGI RSU GMIM PANCARAN
KASIH MANADO
Abdul Jalil Tatali
Mario E katuuk
Rina Kundre

Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran


Universitas Sam Ratulangi Manado
Email : a.j.i.tatali85@gmail.com

Abstract : Stroke can cause several issues such as physical impairment and disability in doing
Activity Daily Living (ADL). Stroke can also cause strees and depression. Therefore there needs
to be a family support system, that will train and motivate family member that suffered from
stroke to be able to do they're Activity Daily Living without the dependence of other people and
help the rehabilitation process of the patient to be independent. purpose of this research is to
analyze the conecction between family support and the independent level of Activity Daily
Living to former stroke patients. design of this research uses analytical observation using cross
sectional approach. Samples on this research uses purposive sampling with a total
correspondent of 65 people. Data is analyzed using Chi Square with α=0,05. The statistical
results using Chi Square has found that Pvalue=0,021, which is less than α=0,05. conclusion
is that there is correlation between family support and the independent level of Activity Daily
Livingto former stroke patients.
Keywords : Family support, Activity Daily Living, post troke

Abstrak : Stroke menimbulkan beberapa dampak yaitu keterbatasan fisik dan kecacatan dalam
melakukan Activity Daily Living (ADL), strok juga menimbulkan stress dan depresi. Oleh
karena itu dibutuhkan dukungan keluarga sebagai support system, dukungan keluarga tersebut
secara mandiri dapat melatih dan memotivasi anggota keluarga yang menderita pasca stroke
untuk melakukan Activity Daily Living tanpa tergantung orang lain dan membantu dalam proses
rehabilitasi untuk pemulihan agar pasien dapat melakukan aktivitas mandiri.Tujuan penelitian
ini adalah menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kemandirian Activity
Daily Living (ADL) pada pasien pasca stroke. Desain penelitian menggunakan penelitian
observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini
menggunakan purposive sampling dengan jumlah responden 65 orang. Analisis data
menggunakan Chi Square dengan α=0,05. Hasil uji statistik Chi Square diperoleh Pvalue=0,021
yakni lebih kecil dibanding α=0,05. Simpulan terdapat hubungan dukungan keluarga dengan
tingkat kemandirian Activity Daily Living pada pasien pasca stroke.
Kata kunci : Dukungan keluarga, Activity Daily Living (ADL), pasca troke

1
e-journal Keperawatan (e-Kep) Volume 6 Nomor 1, Mei 2018

PENDAHULUAN kesehatan (Kozier dkk, 2010). Gambaran


Stroke merupakan masalah kesehatan klinis dari tahapan stroke dapat berupa
yang utama bagi masyarakat modern saat ini. kehilangan motorik yaitu munculnya
Sindrom ini menunjukan tanda dan gejala hemiplegia maupun hemiparesis akibat dari
hilangnya fungsi sistem saraf pusat fokal gangguan kontrol motor volunter pada salah
(atau global) yang berkembang cepat (dalam satu sisi tubuh, hal ini menunjukan
detik atau menit). Gejala-gejala ini kerusakan pada neuron motor atas sisi yang
berlangsung lebih dari 24 jam dan berlawanan dari otak (Nugroho T, 2011).
menyebabkan kecacatan fisik, mental serta Dampak penyakit stroke tersebut
kematian baik pada usia produktif maupun menyebabkan keterbatasan fisik, kecacatan,
usia lanjut (Ginsberg, 2007). Word Health stress serta depresi pada seseorang sehingga
Organization (WHO) menunjukan stroke mengalami ketergantungan pada orang lain
merupakan penyebab kematian dan dan membutuhkan bantuan secara
kecacatan di seluruh dunia. Secara berkesinambungan (Longmore, 2013). Agar
epidemiologi data menunjukan bahwa secara bertahap pasien dapat melakukan
terdapat 6,7 juta orang diantaranya aktivitas secara mandiri, dukungan keluarga
meninggal akibat stroke dan diperkirakan sangat berpengaruh dalam proses
angka kematian stroke semakin meningkat rehabilitasi untuk membantu pemulihan
sebesar 10% penduduk (WHO 2014). WHO pasien pasca stroke (Kristyanti & Kurnia,
juga memperkirakan kematian terjadi akibat 2013).
stroke pada tahun 2020 mendatang terus Keluarga merupakan support system
meningkat menjadi 7,6 juta (Sobirin dkk, utama bagi penderita stroke untuk
2014). mempertahankan kesehatannya (Sudiharto,
Data Riset Kesehatan Dasar (2013) 2007). Friedman dkk, (2010) menyatakan
menjelaskan di Indonesia prevalensi stroke bahwa dukungan keluarga adalah sikap,
meningkat seiring bertambahnya umur tindakan dan penerimaan keluarga terhadap
berhubungan dengan proses penuaan dimana anggotanya yang bermanfaat bagi individu,
semua organ tubuh mengalami kemunduran keluarga juga merupakan sistem pendukung
fungsi. Kasus stroke tertinggi yang utama pemberi pelayanan langsung pada
terdiagnosis tenaga kesehatan adalah usia 75 setiap keadaan sehat sakit anggota keluarga.
tahun keatas (43,1%) dan terenda pada Penelitian Nuryanti (2016) tentang
kelompok usia 15-24 tahun yaitu sebesar dukungan keluarga didapatkan bahwa
0,2%. Prevalensi stroke berdasarkan jenis keluarga secara mandiri dapat melatih dan
kelamin lebih banyak laki-laki (7,1%) memotivasi anggota keluarga dengan pasca
disbanding dengan perempuan (6,8%). stroke untuk melakukan Activity Daily
Berdasarkan data 10 besar penyakit Living tanpa tergantung orang lain.
terbanyak di Indonesia pada tahun 2013, Penelitian Fadlulloh, dkk (2014)
prevalensi kasus stroke di indonesia menyebut bahwa dukungan keluarga dalam
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan pemenuhan aktivitas sehari-hari (AKS)
sebesar 7,0% dan 12,1% untuk yang responden paling banyak pada kategori
terdiagnosis memiliki gejala stroke dan ketergantungan ringan, ketergantungan
prevalensi kasus stroke tertinggi terdapat minimal, bahkan mandiri dalam melakukan
di Provinsi Sulawesi Utara (10,8%) dan AKS dan kemandirian dalam melakukan
terenda di Provinsi Papua (2,3%). AKS juga mempunyai hubungan bermakna
Aktivitas kehidupan sehari-hari (activity dengan status penyakit. Penelitian yang
daily living) adalah fungsi dan aktivitas dilakukan oleh Karunia, (2016) menunjukan
individu yang normalnya dilakaukan tanpa terdapat hubungan antara dukungan
bantuan orang lain dan ADL pada pasien keluarga dengan kemandirian dalam
pasca stroke merupakan masalah yang melakukan ADL pasca stroke di Instalasi
menarik perhatian para profesional

2
e-journal Keperawatan (e-Kep) Volume 6 Nomor 1, Mei 2018

Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Umum HASIL dan PEMBAHASAN


(RSU) Haji Surabaya.
Studi pendahuluan yang dilakukan di 1. Karakteristik responden
Poliklinik Neurologi Rumah Sakit GMIM
Pancaran Kasih Manado menjelaskan bahwa Tabel Distribusi responden berdasarkan
pada tahun 2016 terdapat 616 kasus pasien umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan
pasca stroke. Pada tahun 2017 bulan Mei- dan status pekerjaan (n=65)
Oktober terdapat 304 kasus. Dari hasil
Karakteristik Frekue Presenta
wawancara mengenai dukungan keluarga No
Responden nsi (n) se (%)
terhadap 5 orang pasien pasca stroke, 4
Umur
orang mengatakan bahwa selalu ditemani
30-40 tahun 1 1,5
keluarga, istri atau suami saat kontrol atau
1 41-50 tahun 3 4,6
berobat dan 1 orang lainnya mengatakan
51-60 tahun 36 55,4
kadang kadang diantar keluarga jika
˃60 tahun 25 38,5
keluarganya tidak sibuk bekerja. Sementara
itu, dari wawancara mengenai ADL pada Jenis Kelamin
2. Laki-Laki 36 55,4
pasien pasca stroke, 4 orang mengatakan
Perempuan 29 44,6
bahwa mereka merasa tergantung pada
keluaraga dalam melakukan aktivitas sehari Pendidikan
hari seperti mandi, mengendalikan buang air SD 14 21,5
besar dan buang air kecil dan makan. 3. SMP 12 18,5
Mereka juga merasa menjadi beban bagi SMA 25 38,5
anggota keluarga yang lain. PT 14 21,5
Pekerjaan
METODE PENELITIAN Pegawai 11 16,9
Penelitian ini merupakan penelitian Petani 6 9,2
observasional analitik dengan pendekatan Nelanan 4 6,2
4.
cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan Swasta 21 32,3
pada bulan November 2017-Januari 2018 di Wiraswasta 1 1,5
Poliklinik Neurologi RSU GMIM Pancaran Lainnya 2 3,1
Kasih Manado. Populasi dalam penelitian ini Tidak Bekerja 20 30,8
adalah seluruh pasien pasca stroke yang Sumber : Data primer, 2017
berkunjung di Poliklinik Neurologi RSU
GMIM Pancaran Kasih Manado mulai dari Distribusi responden berdasarkan umur
tiga bulan terakhir berjumlah 135. Teknik bahwa yang paling banyak adalah umur 51-
pengambilan sampel dalam penelitian ini 60 tahun yaitu 36 responden (55,4%)
ialah purposive sampling. Dalam sedangkan yang paling sedikit adalah umur
menentukan jumlah sampel, peneliti 30-40 tahun yaitu 1 responden (1,5%%).
menggunakan Rumus Slovin (Sujarweni, Distribusi responden berdasarkan jenis
2014). Jumlah responden yang diambil kelamin menunjukan paling banyak jenis
dalam penelitian ini adalah 65 responden. kelamin laki-laki 36 responden (55,4%)
Analisa data melalui analisis univariat dan sedangkan perempuan 29 responden
bivariat dengan menggunakan Uji Chi (44,6%). Distribusi responden berdasarkan
Square dengan nilai α = 5 % (α = 0,05) pendidikan bahwa paling banyak adalah
dengan tingkat kepercayaan 95%. berpendidikan SMA 25 responden (38,5%)
sedangkan yang paling sedikit
berpendidikan SD dan Perguruan Tinggi
masing-masing 14 responden (21,5%).
Distribusi responden berdasarkan pekerjaan
menunjukan bahwa yang paling banyak
adalah swasta 21 responden (32,3%)

3
e-journal Keperawatan (e-Kep) Volume 6 Nomor 1, Mei 2018

sedangkan yang paling sedikit adalah Neurologi Rumah Sakit RSU GMIM
wiraswasta 1 responden Pancaran Kasih Manado
Tabel 4 Hubungan Dukungan Keluarga
2. Analisa Univariat dengan Tingkat kemadirian Activity Daily
Living Pada Pasien Pasca Stroke Di
a. Dukungan Keluarga pada Pasien Poliklinik Neurologi RSU GMIM
Pasca Stroke Pancaran Kasih Manado
Tabel 2 Distribusi Responden Tingkat Kemandirian Activity Daily Living (ADL)
berdasarkan Dukungan Keluarga pada Dukungan
Ket Total
Ket
Mandiri Total
P
Keluarga Sebagian Value
Pasien Pasca Stroke
n % n % n % n %
Dukungan Frekuensi Presentase
Keluarga (n) (%) Rendah 6 30 3 15 11 55 20 100
Rendah 20 30,8 Tinggi 5 11,1 22 48,9 18 40 45 100 0,021
Tinggi 45 69,2 Total 11 16,9 25 38,5 29 44,6 65 100
Total 65 100
Sumber : Data primer, 2017 Sumber : Data primer, 2017

Tabel 2 menjelaskan dari 65 responden Tabel 4 menjelaskan bahwa dari 45


sebagian besar pasien pasca stroke memiliki pasien pasca stroke yang memiliki dukungan
dukungan tinggi 45 oresponden (69,2%) keluarga tinggi terdapat 18 orang (40%)
dibanding dengan dukungan keluarga yang tingkat kemandirian Activity Daily
rendah 20 responden (30,8%). Living termasuk dalam kategori mandiri.
Sedangkan untuk responden yang memiliki
b. Tingkat Activity Daily Living pada dukungan keluarga tinggi 5 orang (11,1%)
Pasien Pasca Stroke dengan tingkat kemandirian ADL nya yaitu
Tabel 3 Distribusi Rensponden ketergantungan total. Dukungan keluarga
berdasarkan Tingkat kemandirian rendah dengan kemandirian ADL mandiri
Activity Daily Living pada Pasien Pasca berjumlah 11 orang (55%).
Stroke Hasil uji Chi Square didapatkan p value
sebesar 0,021 < α (0,05), sehingga H0
Freku Prese
Kemandirian Activity ditolak. Dengan demikian dapat
ensi ntase
Daily Living (ADL) disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang
(n) (%)
signifikan antara dukungan keluarga dengan
Ketergantungan Total 11 16,9
tingkat kemandirian Activity Daily Living
Ketergantungan Sebagian 25 38,5
pada pasien pasca Stroke di Poliklinik
Mandiri 29 44,6
Neurologi RSU GMIM Pancaran Kasih
Total 65 100
Manado.
Sumber : Data primer, 2017
Pembahasan
Tabel 3 menjelaskan dari 65 responden
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa
sebagian besar pasien pasca strok dengan
ada hubungan dukungan keluarga dengan
tingkat activity daily living dengan kategori
tingkat kemandirian Activity Daily Living
mandiri 29 responden (44,6%) sedangkan
pada pasien Pasca Stroke di Poliklinik
yang paling sedikit adalah tingkat
Neurologi Rumah Sakit GMIM Pancaran
ketergantungan total 11 responden (16,9%).
Kasih Manado. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan pada semua responden, sebagian
3. Analisa Bivariat besar memiliki dukungan keluarga tinggi
yang tingkat kemandirian Activity Daily
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Living termasuk dalam kategori mandiri.
Tingkat kemadirian Activity Daily Living Dukungan keluarga tinggi menyebabkan
Pada Pasien Pasca Stroke Di Poliklinik

4
e-journal Keperawatan (e-Kep) Volume 6 Nomor 1, Mei 2018

kemandirian aktivitas pada pasien pasca Kondisi ini seiring dengan peningkatan
stroke karena dukungan keluarga merupakan umur yang berhubungan dengan proses
dukungan interpersonal yang meliputi sikap, penuaan dimana semua organ tubuh
tindakan dan penerimaan anggota keluarga mengalami kemunduran fungsi termasuk
lainnya, sehingga anggota keluarga tersebut pembuluh darah otak. Pembuluh darah
merasa ada yang mempehatikan dan menjadi tidak elastis mengakibatkan lumen
mendukungnya dalam kehidupannya, pembuluh darah menjadi semakin sempit
sehingga perubahan fisik, mental maupun dan berdampak pada penurunan aliran darah
emosional pada pasien stroke sangat otak (Kristiyawati,Irawati & Hariyati, 2009)
memerlukan dukungan keluarga karena Hasil penelitian ini juga menunjukan
dukungan keluarga dapat membantu pasien terdapat dukungan keluarga yang rendah
tersebut untuk rehabilitasi dalam proses tetapi mempunyai aktivitas mandiri. Hal ini
pemulihan sehingga pasien dapat secepatnya dikarenakan responden tersebut sudah tidak
mandiri dalam aktivitasnya (Friedman dkk, memiliki pasangan hidup baik istri maupun
2010). suami dalam mendukung atau memotivasi
Penelitian ini juga terdapat dukungan pasien tersebut untuk bisa melakukan
keluarga tinggi dengan tingkat aktivitas aktivitas secara mandiri. dukungan keluarga
ketergantungan sebagian. Hal ini disebabkan yang diterimanya tidak sepenuhnya
oleh karena orang dengan pasca stroke mendukung sehingga responden tetap
tersebut mengalami ketakutan untuk berusaha semaksimal mungkin sampai
bergerak ataupun beraktivitas secara mencapai tahap pemulihan walaupun
mandiri, alasan lain yang menyebabkan dengan dukungan keluarga yang rendah. Hal
responden tidak mandiri yaitu responden ini tidak memutuskan semangan bagi dirinya
perna terjatuh ketika berlatih atau untuk tetap berobat dan melakukan
beraktivitas terutama berjalan dan kejadian rehabilitasi secara terus menerus sampai
terpeleset dikamar madi sering terjadi, pasien tersebut dapat beraktivitas secara
sehingga hal tersebut menjadi trauma mandiri.
tersendiri bagi orang dengan pasca stroke Terdapat juga hasil penelitian dukungan
untuk bergerak ataupun beraktivitas. Hal ini keluarga rendah dengan tingkat kemandirian
menyebabkan pasien tersebut yang aktivitas ketergantungan sebagian dan
seharusnya bisa mandiri sudah bisa ketergantungan total. Hal ini dikarenakan
melakukan aktivitas sendiri menjadi keluarga tidak mempunyai waktu atau
terhambat sehingga memerlukan sebagian kurang meluangkan waktu mereka untuk
bantuan dari orang lain atau keluarga dalam bersama-sama dengan orang pasca stroke
beraktivitas. dalam menemani atau membatu orang
Pada penelitian ini juga terdapat tersebut dengan alasan keluarga sibuk
dukungan keluarga tinggi dengan tingkat dengan pekerjaan. Sehingga tugas keluarga
aktivitas dengan ketergantungan total. Hal sebagai support system terabaikan. Hal ini
ini menunjukan bahwa responden yang membuat orang dengan pasca stroke tersebut
memiliki ketergantungan total tesebut, menjadi malas atau tidak bersemangat dalam
kondisinya disebabkan karena usia menjalani pengobatan dan rehabilitasi,
responden tersebut yang cenderung sudah sehingga dukungan yang kurang tersebut
memasuki masa lansia sehingga proses mengakibatkan kemandirian orang tersebut
pemulihannya menjadi sangat lambat. terhambat.
Kondisi ini berdampak pada regenerasi sel Bentuk dukungan keluarga lainnya yang
otak yang mengalami kerusakan sehingga dapat meningkatkan kemandirian adalah
berdampak pada terjadinya kelemahan dan dengan menyediakan benda-benda yang
kelumpuhan pada bagian anggota gerak. dibutuhkan individu dengan pasca stroke.
Dampak dari kondisi ini adalah terjadinya Benda ini dibutuhkan untuk memenuhi
ketergantungan total pada responden. kebutuhan dasarnya dan dapat dimodifikasi

5
e-journal Keperawatan (e-Kep) Volume 6 Nomor 1, Mei 2018

sesuai dengan kebutuhannya. Benda-benda yang duilakukan oleh Sobirin, Husna,


tersebut adalah sapu tangan untuk menyeka Sulistiawan (2015) di Unit Rehabilitasi
air liur, perlengkapan makan dan minum, Medik Rumah Sakit Stroke Nasional
perlengkapan untuk perawatan diri dan Bukittinggi dimana terdapat hubungan yang
kebersihan tubuh serta alat bantu untuk signifikan antara peran keluarga dalam
berjalan. Tetapi sebelum menyediakan memotivasi pasien pasca stroke dengan
benda-benda tersebut sebaiknya kepatuhan rehabilitasi. Hal ini tidak sejalan
menanyakan benda yang disukai oleh orang dengan penelitian yang dilakukan oleh Mare
pasca stroke karna benda-benda tersebut (2015) bahwa tidak terdapat hubungan yang
akan membuatnya senang. Benda-benda bermakna antara dukungan keluarga dengan
tersebut diharapkan dapat melatih dan dapat kemampuan perawatan diri (Self Care) pada
menghibur seseorang pasca stroke. pasien pasca stroke di Puskesmas Gundi
Menghindari kebiasaan buruk yang Surabaya. Dalam penelitian tersebut
berdampak tidak baik bagi kesehatan seperti dijelaskan bahwa dengan adanya dukunga
latihan fisik/olahraga secara teratur dan keluarga yang sangat baik akan terjadi
sesuai kemampuan, (Padila,2013). Pada saat ketergantungan pada pasien pasca stroke,
wawancara terdapat anggota keluarga pasien sedangkan pada pasien yang tidak memiliki
yang menyediakan alat alat untuk latihan dukungan keluarga tidak baik akan
fisik seperti alat olahraga. Hal ini sangat menimbulkan kemandirian karena dirinya
bermanfaat bagi pasien karena membuatnya harus dapat memenuhi kebutuhan dalam
aktif dalam betlatih mandiri. Kecukupan gizi aktivitas sehari-hari.
juga sangat diperhatikan, bantuan keluarga Menurut asumsi peneliti bahwa antara
berupa penyediaan diet yang bergizi bagi dukungan keluarga dengan tingkat
pasien pasca stroke juga mempengaruhi kemandirian activity daily living pada pasien
kecepatan pemulihan kemandirian aktivitas pasca stroke sangat penting karena peran
kehidupan sehari-hari (Padila, 2013). keluarga sangat membantu dalam proses
Penelitian yang dilakukan oleh Antari, pemulihan anggota keluarganya. Sehingga
Saktika, dan Ferianto, (2016) menunjukan keluarga merupakan unit yang sangat dekat
dukungan sosial akan mempengaruhi dengan pasien dan merupakan perawat
kualitas hidup pada seseorang dapat berupa utama bagi pasien, sehingga semakin tinggi
dukungan instrumental berupa dukungan atau semakin baik dukungan keluarga yang
bantuan dalam bentuk nyata dan material. diberikan kepada pasien pasca stroke maka
Dukungan Informasional adalah berupa tingkat kemandirian dalam activity daily
pemberian informasi yang dibutuhkan oleh living pada pasien pasca stroke semakin
individu. Dukungan emosional dan meningkat
penghargaan adalah perhatian dan
membantu dalam penyelesaian masalah SIMPULAN
yang sedang dihadapinya dan merupakan Berdasarkan hasil penelitian Hubungan
bentuk penghargaan positif yang diberikan Dukungan Keluarga dengan Tingkat
kepada individu Kemandirian Activity Daily Living pada
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Pasien Pasca Stroke di Poliklinik Neurologi
yang dilakukan oleh Nuryanti (2016) bahwa RSU Pancaran Kasih Manado didapatkan
terdapat hubungan yang signifikan antara hasil sebagai berikut :
dukungan keluarga (Dukungan 1. Pasien pasca Stroke di Poliklinik
informasional, dukungan emosional, Neurologi RSU GMIM Pancaran
dukungan instrumental, dukungan Kasih Manado mendapatkan
penghargaan) dengan motivasi melakukan dukungan keluarga tinggi
Rage Of Motion (ROM) pada pasien pasca 2. Tingkat kemandirian Activity Daily
stroke di RSUD Kanudjoso Djatiwibowo Living pada asien pasca stroke adalah
Balikpapan. Sedangkan menurut penelitian mandiri.

6
e-journal Keperawatan (e-Kep) Volume 6 Nomor 1, Mei 2018

3. Terdapat hubungan yang signifikan Kristyanti, R, W & Kurnia, E. (2013).


antara dukungan keluarga dengan “Dukungan Keluarga Dan
tingkat kemandirian activity daily Kemandirian Activity Daily Living
living pada pasien pasca stroke di Dalam Penurunan Depresi Pasca
Poliklinik Neurologi RSU GMIM Stroke”. Jurnal STIKES. Vol,6. No,2
Pancaran Kasih Manado http//ejurnal.stikesbaptis.ac.id/index.p
hp/STIKES/article/download/196/169
DAFTAR PUSTAKA /pdf. (Diakses tanggal 4.11.2017)
Antari B.R, Saktika T, & Ferianto, (2015).
Hubungan Antara Dukungan Sosial Kristiyawati S.P, Irawaty D & Hariyati T.S,
Dengan Kualitas Hidup Lansia di Desa (2009). Faktor Resiko Yang
Cirebon Sleman Yokyakarta. Jurnal Berhubungan Dengan Kejadian Stoke
Media Ilmu Kesehatan Vol 5 Di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum
No.1.https://ejurnal.stikesayaniyk.ac.i Semarang”. Jurnal Keperawatan dan
d/index.php/mik/article/download/51/ Kebidanan (JIKK),
53/pdf. (Diakses tanggal 10.01.2018) Vol.1.No.1https://download.portalgar
uda.org/artice.php%3farticle/faktor-
Fadlulloh, Upoyo, Hartanto, (2014) yang-berhubungan-dengan-kejadian-
“Hubungan Tingkat Ketergantungan stroke-di-rumah-sakit-panti-wilayah-
dalam Pemenuhan Ktivitas Kehidupan citarum-semarang/pdf.(diakses
Sehari-Hari dengan Harga Diri tanggal 10.01.2018)
Penderita Stroke di Poliklinik saraf
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Longmore M. et al, (2013). Buku Saku
Purwekerto”The Soedirman Journal Oxford Kedokteran Klinis. Ed.8.-
of Nursing. Vol 9. Jakarta : EGC.
No2.http://jks.fikes.unsoed.ac.id/inde
Mare , A.C.B, (2015). “Hubungan
x.php/jks/article/view/579/319
Dukungan Keluarga Dengan
(Diakses tanggal 30.11.2017)
Kemampuan Perawatan diri (Self
Care) Pada pasien Pasca Stroke di
Friedman, dkk, (2010). Buku Ajar
PuskesmasGundi Surabaya”Skripsi.
Keperawatan Keluaraga: Riset Teori
dan Praktek. Jakarta : EGC.
Nugroho.T,(2011).AsuhanPeperawatan,Ma
ternitas, Anak, Bedah dan Penyakit
Ginsberg, (2007). Lecture Notes Neurologi
dalam. Nuha Medika ; Yogyakarta.
edisi ke delapan. PT Gelora Aksara
Pratama Erlangga. Nuryanti, S. (2016). “Hubungan Antara
Dukungan Keluarga dan Motivasi
Karunia, E. (2016) ”Hubungan Antara
Melakukan ROM Pada Pasien Pasca
Dukungan Keluarga Dengan
Stroke”. Mahakam Nursing Journal.
Kemandirian Activity Of Daily Living
Vol.1.No2.http//ejournalperawat.polte
Pasca stroke”.Jurnal Berkala
kkes/kaltim.ac.id/ojs/index.php/nursin
Epidemiologi.Vol.4.No.2.https://medi
g/article/view/23/11/pdf. (Diakses
a.neliti.com/media/publications/7486
tanggal 5.11.2017)
7-ID-none.pdf (Diakses tanggal 28 10
2017 2:19
Padila, (2013). Buku Ajar Keperawatan
Gerontik.NuhaMedika.Yokyakarta
Kozier dkk (2010). Buku Ajar Fundamental
Keperawatan. Konsep Proses dan RISKESDAS, (2013).Riset Kesehatan
Praktik - Ed. 7- Jakarta : EGC Dasar.http://www.depkes.go.id/resou
rces/download/general/Hasil%20Risk

7
e-journal Keperawatan (e-Kep) Volume 6 Nomor 1, Mei 2018

esdas%202013.pdf. (Diakses tanggal Sudiharto. (2007). Asuhan Keperawatan


28.10.2017) Keluarga dengan Pendekatan
Keperawatan Transkultural. Jakarta:
Sobirin C, Husna E, Sulisyawan A, (2014). EGC.
Hubungan Peran Keluarga Dalam
Memotifasi pasien Pasca Stroke Sujarweni.v.w, (2014). Metodologi
Dengan Kepatuhan Penderita PenelitianKeperawatan.Yokyakarta:
Mengikuti Rehabilitasi Medik Rumah Gava Media.
Sakit Stroke Nasional Bukit Tinggi”. World Health Organization, (2014).
Jurnal Kesehatan STIKES Prima NoncommunicableDiseasesCountryPr
Nusantara Bukittinggi. Vol 6. No 1 ofileshttp//www.Noncommunicable
http///ejurnal.stikesprimanusantara.ac. Disiasescountri Profiles2014-world
id/index.php/KKPN/article/download/ Health Organization. (Diakses
431/pdf. (Diakses tanggal 5.11.2017) tanggal.27.11.2017)