Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS

ILEUS OBSTRUKTIF

Disusun Oleh :

Darlene R. Bahri - 1461050228

Karisha Validya – 1461050055

Josua Luis Mundung – 1461050146

Veronica Meidy -1361050234

Pembimbing :

dr. Ratna Emilia Hutapea, Sp.An

KEPANITRAAN ILMU ANESTESIOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS

KRISTEN INDONESIA PERIODE 9 DESEMBER 2018 – 19 JANUARI 2019

1
BAB I

PENDAHULUAN

Ileus obstruksi merupakan salah satu kegawatdaruratan dalam bagian bedah. Pasien datang

kerumah sakit datang dengan keluhan nyeri abdomen karena obstruksi saluran cerna masih

sekitar 20%, dan 80% terjadi pada usus halus.1. Hambatan pasase usus dapat disebabkan oleh

obstruksi lumen usus atau oleh gangguan peristaltis. Obstruksi usus disebut juga obstruksi

mekanik. Penyumbatan dapat terjadi dimana saja di sepanjang usus. Pada obstruksi usus harus

dibedakan lagi obstruksi sederhana dan obstruksi strangulata. Obstruksi usus yang disebabkan

oleh hernia, invaginasi, adhesi dan volvulus mungkin sekali disertai strangulasi, sedangkan

obstruksi oleh tumor atau askariasis adalah obstruksi sederhana yang jarang menyebabkan

strangulasi. istilah obstruksi digunakan untuk suatu kemacetan mekanik yang timbul akibat

suatu kelainan struktural yang menyebabkan suatu penghalang fisik untuk majunya isi usus.

Istilah ileus dimaksudkan untuk suatu paralitik atau variasi obstruksi fungsional.2 Obstruksi

pada intestinal juga dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi seperti peritonitis dan

terganggunya keseimbangan cairan dan elektrolit. Kondisi tersebut merupakan kondisi serius

sehingga memerlukan penanganan cepat dan tepat sehingga dapat menurunkan angka

morbiditas dan mortilitas akibat ileus obstruksi.3 Tujuan utama penatalaksanaan adalah

dekompresi bagian yang mengalami obstruksi untuk mencegah perforasi. Tindakan operasi

biasanya selalu diperlukan. Menghilangkan penyebab obstruksi adalah tujuan kedua.4

BAB II
2
TINJAUAN PUSTAKA

I. DEFINISI

Ileus obstruktif merupakan suatu keadaan yang menyebabkan isi usus tidak bisa

melewati lumen usus sebagai akibat adanya sumbatan atau hambata.1,2 Hambatan

saluran cerna adalah berhentinya atau tertahannya isi saluran cerna. Obstruksi saluran

cerna dapat dibedakan menjadi dua, yaitu komplit dan inkomplit dan dapat disebabkan

oleh faktor mekanis dan faktor fungsional. Obstruksi mekanik adalah istilah yang

digunakan ketika terdapat sumbatan fisik pada lumen saluran cerna, misalnya jaringan

ikat adhesi, hernia strangulata dan penekanan dari tumor pelvis.3 Hambatan pada jalan

isi usus akan menyebabkan isi usus terhalang dan tertimbun di bagian proksimal dari

sumbatan sehingga pada daerah proksimal tersebut akan terjadi distensi atau dilatasi

usus.

II. ETIOLOGI

Penyebab terjadinya ileus obstruksi pada usus halus antara lain :

2.1 Hernia inkarserata

Usus masuk dan terjepit di dalam pintu hernia. Pada anak dapat dikelola secara

konservatif dengan posisi tidur Trendelenburg. Namun, jika percobaan reduksi gaya

berat ini tidak berhasil dalam waktu 8 jam, harus diadakan herniotomi segera.

2.2. Non hernia inkarserata, antara lain :

1. Adhesi Atau Perlekatan Usus

3
Di mana pita fibrosis dari jaringan ikat menjepit usus. Dapat berupa

perlengketan mungkin dalam bentuk tunggal maupun multiple, bisa

setempat atau luas. Umunya berasal dari rangsangan peritoneum akibat

peritonitis setempat atau umum. Ileus karena adhesi biasanya tidak

disertai strangulasi.

2. Invaginasi

Disebut juga intususepsi, sering ditemukan pada anak dan agak jarang

pada orang muda dan dewasa. Invaginasi pada anak sering bersifat

idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya. Invaginasi umumnya

berupa intususepsi ileosekal yang masuk naik kekolon ascendens dan

mungkin terus sampai keluar dari rektum. Hal ini dapat mengakibatkan

nekrosis iskemik pada bagian usus yang masuk dengan komplikasi

perforasi dan peritonitis. Diagnosis invaginasi dapat diduga atas

pemeriksaan fisik, dandipastikan dengan pemeriksaan Rontgen dengan

pemberian enema barium.

3. Askariasis

Cacing askaris hidup di usus halus bagian yeyunum, biasanya jumlahnya

puluhan hingga ratusan ekor. Obstruksi bisa terjadi di mana-mana di

usus halus, tetapi biasanya di ileum terminal yang merupakan tempat

lumen paling sempit. Obstruksi umumnya disebabkan oleh suatu

gumpalan padat terdiri atas sisa makanan dan puluhan ekor cacing yang

mati atau hampir mati akibat pemberian obat cacing. Segmen usus yang

4
penuh dengan cacing berisiko tinggi untuk mengalami volvulus,

strangulasi, dan perforasi.

4. Volvunus

Merupakan suatu keadaan di mana terjadi pemuntiran usus yang

abnormal dari segmen usus sepanjang aksis longitudinal usus sendiri,

maupun pemuntiran terhadap aksis radiimesenterii sehingga pasase

makanan terganggu. Pada usus halus agak jarang ditemukan kasusnya.

Kebanyakan volvulus didapat di bagian ileum dan mudah mengalami

strangulasi. Gambaran klinisnya berupa gambaran ileus obstruksi tinggi

dengan atau tanpa gejala dan tanda strangulasi.5

5. Tumor

Tumor usus halus agak jarang menyebabkan obstruksi usus, kecuali jika

ia menimbulkan invaginasi. Proses keganasan, terutama karsinoma

ovarium dankarsinomakolon,dapat menyebabkanobstruksiusus.

Haliniterutamadisebabkanolehkumpulanmetastasis di peritoneum atau

di mesenterium yang menekan usus.

6. Batu Empedu

Inflamasi yang berat dari kantong empedu menyebabkan fistul dari

saluran empedu keduodenum atau usus halus yang menyebabkan batu

empedu masuk ke traktus gastrointestinal. Batu empedu yang besar

dapat terjepit di usus halus, umumnya pada bagian ileum terminal atau

katup ileocaecal yang menyebabkan obstruksi. Penyebab obstruksi

5
kolon yang paling sering ialah karsinoma, terutama pada

daerahrektosigmoid dan kolon kiri distal.6

III. ANATOMI

1. Duodenum
Duodenum atau juga disebut dengan usus 12 jari merupakan usus yang berbentuk
seperti huruf C yang menghubungkan antara gaster dengan jejunum. Duodenum
melengkung di sekitar caput pancreas. Duodenum merupakan bagian
terminal/muara dari system apparatus biliaris dari hepar maupun dari pancreas.
Selain itu duodenum juga merupakan batas akhir dari saluran cerna atas. Dimana
saluran cerna dipisahka menjadi saluran cerna atas dan bawah oleh adanya
ligamentum Treitz (m. suspensorium duodeni) yang terletak pada flexura
duodenojejunales yang merupakan batas antara duodenum dan jejunum. Di dalam
lumen duodenum terdapat lekukan-lekukan kecil yg disebut dengan plica
sircularis. Duodenum terletak di cavum abdomen pada regio epigastrium dan
umbilikalis. Duodenum memiliki penggantung yg disebut dengan
mesoduodenum. Duodenum terdiri atas beberapa bagian yaitu:
a) Duodenum pars Superior
b) Duodenum pars Descendens
c) Duodenum pars Horizontal
d) Duodenum pars Ascendens.

2. Jejenum dan Ileum

Jejunum dan ileum juga sering disebut dengan usus halus/usus penyerapan

membentang dari flexura duodenojejunales sampai ke juncture ileocacaecalis.

Jejunum dan ileum ini merupakan organ intraperitoneal. Jejunum dan ileum

memiliki penggantung yang disebut dengan mesenterium yang memiliki proyeksi

6
ke dinding posterior abdomen dan disebut dengan radix mesenterii. Pada bagian

akhir dari ileum akan terdapat sebuah katup yang disebut dengan valvulla ileocaecal

(valvulla bauhini) yang merupakan suatu batas yang memisahkan antara intestinum

tenue dengan intestinum crassum. Selain itu, juga berfungsi untuk mencegah

terjadinya refluks fekalit maupun flora normal dalam intestinum crassum kembali

ke intestinum tenue, dan juga untuk mengatur pengeluara zat sisa penyerapan

nutrisi. Berikut adalah perbedaan antara jejunum dan duodenum.3

3. Kolon

Kolon dibagi lagi menjadi kolon asendens, transversum, desendens, dan sigmoid.

Kolon ascendens berjalan ke atas dari sekum ke permukaan inferior lobus kanan

hati, menduduki regio iliaca dextra. Setelah mencapai hati, kolon ascendens

membelok ke kiri, membentuk fleksura koli dekstra (fleksura hepatik). Kolon

transversum menyilang abdomen pada regio umbilikalis dari fleksura koli dekstra

sampai fleksura koli sinistra. Kolon transversum, waktu mencapai daerah limpa,

membengkok ke bawah, membentuk fleksura koli sinistra (fleksura lienalis) untuk

kemudian menjadi kolon descendens. Kolon sigmoid mulai pada pintu atas panggul.

Kolon sigmoid merupakan lanjutan kolon descendens. Ia tergantung ke bawah

dalam rongga pelvis dalam bentuk lengkungan. Kolon sigmoid bersatu dengan

rektum di depan sakrum. Rektum menduduki bagian posterior rongga pelvis.

Rektum ke atas dilanjutkan oleh kolon sigmoid dan berjalan turun di depan sekum,

meninggalkan pelvis dengan menembus dasar pelvis. Di sisi rektum melanjutkan

diri sebagai anus dalan perineum.3

7
IV. FISIOLOGI

Pada duodenum pars superior secara histologis terdapat adanya sel liberkeuhn yang

berfungsi untuk memproduksi sejumlah basa. Basa ini berfungsi untuk menaikkan pH

dari chymus yang masuk ke duodenum dari gaster, sehingga permukaan duodenum

tidak teriritasi dengan adanya chymus yang asam tadi).Selain itu, pada duodenum

terjadi proses pencernaan karbohidrat secara enzymatic yang telah berbentuk

disakarida. Duodenum merupakan muara dari ductus pancreaticus, dimana pada

pancreas diproduksi enzyme maltase, lactase dan sukrase. Dimana enzyme maltase

akan berfungsi untuk memecah 1 gugus gula maltose menjadi 2 gugus gula glukosa.

Sedangkan lactase akan merubah 1 gugus gula laktosa menjadi 1 gugus glukosa dan 1

gugus galaktosa. Sementara itu, enzyme sukrase akan memecah 1 gugus sukrosa

menjadi 1 gugus fruktosa dan 1 gugus glukosa. Sementara itu,di dalam duodenum juga

terjadi pencernaan lipid secara enzymatic. Dimana lipid dalam bentuk diasilgliserol

akan teremulsi oleh adanya getah empedu yang dialirkan melalui ductus choledocus

dari vesica fellea dan hepar. Setelah itu, emulsi lemak tersebut akan diubah oleh enzyme

lipase pancreas menjadi asam lemak dan 2 diasilgliserol. Dilihat secara histologik,

jejunum dan ileum memiliki vili vhorialis. Dimana vili chorialis ini berfungsi utk

menyerap zat2 gizi hasil akhir dr proses pencernaan spt glukosa, fruktosa, galaktosa,

peptide, asam lemak dan 2 asilgliserol.5

V. PATOGENESIS
8
Usus di bagian distal kolaps, sementara bagian proksimal berdilatasi. Usus yang

berdilatasi menyebabkan penumpukan cairan dan gas, distensi yang menyeluruh

menyebabkan pembuluh darah tertekan sehingga suplai darah berkurang (iskemik),

dapat terjadi perforasi. Dilatasi dan dilatasi usus oleh karena obstruksi menyebabkan

perubahan ekologi, kuman tumbuh berlebihan sehingga potensial untuk terjadi

translokasi kuman.Gangguan vaskularisasi menyebabkan mortalitas yang tinggi, air

dan elektrolit dapat lolosdari tubuh karena muntah. Dapat terjadi syok hipovolemik,

absorbsi dari toksin pada usus yang mengalami strangulasi.

VI. MANIFESTASI KLINIS

6.1 Obstruksi Sederhana

Obstruksi usus halus merupakan obstruksi saluran cerna tinggi, artinya disertai

dengan pengeluaran banyak cairan dan elektrolit baik di dalam lumen usus bagian

oral dari obstruksi,maupun oleh muntah. Gejala penyumbatan usus meliputi nyeri

kram pada perut, disertai kembung. Pada obstruksi usus halus proksimal akan

timbul gejala muntah yang banyak, yangjarang menjadi muntah fekal walaupun

obstruksi berlangsung lama. Nyeri bisa berat dan menetap. Nyeri abdomen sering

dirasakan sebagai perasaan tidak enak di perut bagian atas.Semakin distal

sumbatan, maka muntah yang dihasilkan semakin fekulen. Tanda vital normal pada

tahap awal, namun akan berlanjut dengan dehidrasi akibat kehilangan cairan dan

elektrolit. Suhu tubuh bisa normal sampai demam. Distensi abdomendapat dapat

minimal atau tidak ada pada obstruksi proksimal dan semakin jelas pada sumbatan

9
di daerah distal. Bising usus yang meningkat dan “metallic sound” dapat didengar

sesuai dengan timbulnya nyeri pada obstruksi di daerah distal timbul refluks dari

kolon ke ileum terminal sehingga ileum turut membesar.

4.2 Obstruksi disertai proses strangulasi

Gejalanya seperti obstruksi sederhana tetapi lebih nyata dan disertai dengan nyeri

hebat.Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya skar bekas operasi atau hernia.

Bila dijumpai tanda- tanda strangulasi berupa nyeri iskemik dimana nyeri yang

sangat hebat, menetap dan tidak menyurut, maka dilakukan tindakan operasi segera

untuk mencegah terjadinya nekrosis usus.

6.2 Obstruksi Mekanis

Di kolon timbul perlahan-lahan dengan nyeri akibat sumbatan biasanya terasa di

epigastrium. Nyeri yang hebat dan terus menerus menunjukkanadanya iskemia atau

peritonitis. Borborygmus dapat keras dan timbul sesuai dengan nyeri. Konstipasi

atau obstipasi adalah gambaran umum obstruksi komplit. Muntah lebih sering

terjadi pada penyumbatan usus besar. Muntah timbul kemudian dan tidakterjadi bila

katup ileosekal mampu mencegah refluks. Bila akibat refluks isi kolon terdorong

ke dalam usus halus, akan tampak gangguan pada usus halus. Muntah feka lakan

terjadi kemudian. Pada keadaan valvula Bauchini yang paten, terjadi distensi hebat

dan sering mengakibatkan perforasi sekum karena tekanannya paling tinggi dan

dindingnya yang lebih tipis. Pada pemeriksaan fisis akan menunjukkan distensi

abdomen dan timpani, gerakan usus akan tampak pada pasien yang kurus, dan akan

terdengar metallic sound pada auskultasi. Nyeri yang terlokasi, dan terabanya massa

10
menunjukkan adanya strangulasi.

VII. DIAGNOSIS

Pada anamnesis obstruksi tinggi sering dapat ditemukan penyebab misalnya berupa

adhesi dalam perut karena pernah dioperasi atau terdapat hernia. Gejala umum berupa

syok,oliguri dan gangguan elektrolit. Selanjutnya ditemukan meteorismus dan

kelebihan cairan diusus, hiperperistaltis berkala berupa kolik yang disertai mual dan

muntah. Kolik tersebut terlihat pada inspeksi perut sebagai gerakan usus atau kejang

usus dan pada auskultasi sewaktu serangan kolik, hiperperistaltis kedengaran jelas

sebagai bunyi nada tinggi. Penderita tampak gelisah dan menggeliat sewaktu kolik dan

setelah satu dua kali defekasi tidak ada lagi flatus atau defekasi. Pemeriksaan dengan

meraba dinding perut bertujuan untuk mencari adanya nyeri tumpul dan pembengkakan

atau massa yang abnormal. Gejala permulaan pada obstruksi kolon adalah perubahan

kebiasaan buang air besar terutama berupa obstipasi dan kembung yang kadang disertai

kolik pada perut bagian bawah. Pada inspeksi diperhatikan pembesaran perut yang tidak

pada tempatnya misalnya pembesaran setempat karena peristaltis yang hebat sehingga

terlihat gelombang usus ataupun kontur usus pada dinding perut. Biasanya distensi

terjadi pada sekum dan kolon bagian proksimal karena bagian ini mudah

membesar.
 Dengan stetoskop, diperiksa suara normal dari usus yang berfungsi (bising

usus). Pada penyakit ini, bising usus mungkin terdengar sangat keras dan bernada

tinggi, atau tidak terdengar sama sekali.
 Nilai laboratorium pada awalnya normal,

11
kemudian akan terjadi hemokonsentrasi, leukositosis, dan gangguan elektrolit. Pada

pemeriksaan radiologis, dengan posisi tegak,terlentang dan lateral dekubitus

menunjukkan gambaran anak tangga dari usus kecil yang mengalami dilatasi dengan

air fluid level. Pemberian kontras akan menunjukkan adanya obstruksi mekanis dan

letaknya. Pada ileus obstruktif letak rendah jangan lupa untukmelakukan pemeriksaan

rektosigmoidoskopi dan kolon (dengan colok dubur dan barium inloop) untuk mencari

penyebabnya. Periksa pula kemungkinan terjadi hernia. Pada saat sekarang ini radiologi

memainkan peranan penting dalam. Pemeriksaan laboratorium tidak mempunyai ciri-

ciri khusus. Pada urinalisa, berat jenis bisa meningkat dan ketonuria yang menunjukkan

adanya dehidrasi dan asidosis metabolik. Leukosit normal atau sedikit meningkat, jika

sudah tinggi kemungkinan sudah terjadi peritonitis. Kimia darah sering adanya

gangguan elektrolit.
 Foto polos abdomen sangat bernilai dalam menegakkan diagnosa

ileus obstruksi.Sedapat mungkin dibuat pada posisi tegak dengan sinar mendatar. Posisi

datar perlu untuk melihat distribusi gas, sedangkan sikap tegak untuk melihat batas

udara dan air serta letak obstruksi. Secara normal lambung dan kolon terisi sejumlah

kecil gas tetapi pada usus halus biasanya tidak tampak.
 Gambaran radiologi dari ileus

berupa distensi usus dengan multiple air fluid level,distensi usus bagian proksimal,

absen dari udara kolon pada obstruksi usus halus. Obstruksi kolon biasanya terlihat

sebagai distensi usus yang terbatas dengan gambaran haustra, kadang-kadang gambaran

massa dapat mendiagnosis secara awal ileus obstruktifus secara dini.

12
VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pada gambaran radiologi, kolon yang mengalami distensi menunjukkan gambaran

seperti ‘pigura’ dari dinding abdomen. Kemampuan diagnostik kolonoskopi lebih baik

dibandingkan pemeriksaan bariumkontras ganda. Kolonoskopi lebih sensitif dan

spesifik Untuk menegakkan diagnosa secara radiologis pada ileus obstruktif dilakukan

foto abdomen 3 posisi. Yang dapat ditemukan pada pemeriksaan foto abdomen ini

antara lain :

1. Ileus obstruksi letak tinggi :

a. Dilatasi di proximal sumbatan (paling distal di ileocecal junction)

dan kolaps usus di bagian distal sumbatan.

b. Coil spring appearance 


c. Herring bone appearance 


d. Air fluid level yang pendek-pendek dan banyak (step ladder sign)

2. Ileus obstruksi letak rendah :

Gambaran sama seperti ileus obstruksi letak tinggi 


a. Gambaran penebalan usus besar yang juga distensi tampak pada tepi

abdomen.

b. Air fluid level yang panjang-panjang di kolon. Sedangkan pada

ileus 
 paralitik gambaran radiologi ditemukan dilatasi usus yang

menyeluruhdari gaster sampai rectum. untuk mendiagnosis

13
neoplasma dan bahkan bisa langsung dilakukan biopsi.

IX. DIAGNOSIS BANDING

Pada ileus paralitik nyeri yang timbul lebih ringan tetapi konstan dan difus, dan

terjadidistensi abdomen. Ileus paralitik, bising usus tidak terdengar dan tidak terjadi

ketegangan dinding perut. Bila ileus disebabkan oleh proses inflamasi akut, akan ada

tanda dan gejala daripenyebab primer tersebut. Gastroenteritis akut, apendisitis akut,

dan pankreatitis akut juga dapat menyerupai obstruksi usus sederhana.

Gambar 1. Ileus Obstruktif . Tampak coil spring dan herring bone appearance

14
X. KOMPLIKASI

Pada obstruksi kolon dapat terjadi dilatasi progresif pada sekum yang berakhir dengan perforasi

sekum sehingga terjadi pencemaran rongga perut dengan akibat

XI. PENATALAKSANAAN

Tujuan utama penatalaksanaan adalah dekompresi bagian yang mengalami obstruksi untuk

mencegah perforasi. Tindakan operasi biasanya selalu diperlukan. Menghilangkan penyebab

obstruksi adalah tujuan kedua. Kadang-kadang suatu penyumbatan sembuh dengan sendirinya

tanpa pengobatan, terutama jika disebabkan oleh perlengketan. Penderita penyumbatan usus

harus di rawat di rumah sakit.


1. Persiapan
 Pipa lambung harus dipasang untuk mengurangi muntah, mencegah

aspirasi dan mengurangi distensi abdomen (dekompresi). Pasien dipuasakan, kemudian

dilakukan juga resusitasi cairan dan elektrolit untuk perbaikan keadaan umum. Setelah

keadaanoptimum tercapai barulah dilakukan laparatomi. Pada obstruksi parsial atau

karsinomatosis abdomen dengan pemantauan dan konservatif.


2. Operasi
 Operasi dapat dilakukan bila sudah tercapai rehidrasi dan organ-organ vital

berfungsi secara memuaskan. Tetapi yang paling sering dilakukan adalah pembedahan

sesegera mungkin. Tindakan bedah dilakukan bila :-Strangulasi- Obstruksi lengkap-

15
Hernia inkarserata-Tidak ada perbaikan dengan pengobatan peritonitis umum.

konservatif (dengan pemasangan NGT, infus,oksigen dan kateter).

3. Pasca Bedah

Pengobatan pasca bedah sangat penting terutama dalam hal cairan dan elektrolit.Kita

harus mencegah terjadinya gagal ginjal dan harus memberikan kalori yang cukup.Perlu

diingat bahwa pasca bedah usus pasien masih dalam Mortalitas ileus obstruktif ini

dipengaruhi banyak faktor seperti umur, etiologi, tempatdan lamanya obstruksi. Jika

umur penderita sangat muda ataupun tua maka toleransinya terhadap penyakit maupun

tindakan operatif yang dilakukan sangat rendah sehingga meningkatkan mortalitas.

Pada obstruksi kolon mortalitasnya Obstruksi usus (mekanik) adalah keadaan dimana

isi lumen saluran cerna tidak bias disalurkan ke distal atau anus karena ada

sumbatan/hambatan yang disebabkan kelainan dalam lumen usus, dinding usus atau

luar usus yang menekan atau kelainan vaskularisasi pada suatusegmen usus yang

menyebabkan nekrosis segmen usus tersebut. Obstruksi usus halus dapat disebabkan

oleh adhesi, hernia inkarserata, neoplasma,intususepsi, volvulus, benda asing,

kumpulan cacing askaris, sedangkan obstruksi usus besar penyebabnya adalah

karsinoma, volvulus, divertikulum Meckel, penyakit Hirschsprung,inflamasi, tumor

jinak, impaksi fekal.Gejala penyumbatan usus meliputi nyeri kram pada perut, disertai

kembung. Bisingusus yang meningkat dan “metallic sound” dapat didengar sesuai

dengan timbulnya nyeri pada obstruksi di daerah distal. keadaan paralitik.

16
BAB III

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS

No.RM : 00.09.78.91

Nama : Tn. BG

Tanggal lahir : 07/08/1967

Usia : 51 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Pendidikan : Sudah Menikah

Alamat : Cikarang

II. ANAMNESIS ( diperoleh dari autoanamnesis dengan pasien)


1. Keluhan Utama

Perut kembung sejak 3 bulan sebelum rumah sakit

2. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien rujukan dari Rumah Sakit Bakti Husada dengan keluhan Perut kembung sejak 3
bulan sebelum rumah sakit. Pasien merasa sulit makan dan minum karena kembung
tersebut. Pasien merasakan nyeri pada ulu hati sejak 3 bulan SMRS namun semakin
berat 3 hari sebelum masuk rumah sakit. BAB terakhir tadi pagi, buang angina 1 jam

17
SMRS. Mual (+), muntah (-). Hipertensi (-)DM (-). Pasien dirujuk dengan alasan butuh
Spesilais Bedah Digestif.

3. Riwayat Penyakit Dahulu


Disangkal
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Disangkal

18
PEMERIKSAAN FISIS (28 Desember 2018, IGD RS UKI Pukul 20.30)

Keadaan umum: Tampak Sakit Sedang

Kesadaran Compos Menstis, E4,V5,M6

Tanda vital Laju nadi: 97 x/menit, reguler, kuat angkat, isi cukup

Laju napas: 20 x/menit, teratur, kedalaman cukup

Suhu: 37.3 °C

Tekanan darah130/70 mmHg

Status BB: 70 kg

Kepala Normocpehali

Wajah Tampak Pucat

Mata Konjungtiva tampak pucat, sklera ikterik, palpebra cekung, pupil bulat
isokor,  3 mm, refleks cahaya langsung dan tidak langsung baik, gerak
bola mata baik, kontak visual ada.

Leher Tak teraba kelenjar getah bening

Mulut Mukosa bibir dan lidah kering

Dada Simetris dalam keadaan statis dan dinamis

Jantung Bunyi jantung I/II normal, bising (-), irama derap (-)

Paru Suara napas vesikuler, ronki (-), mengi (-), lendir (-)

Abdomen Perut tampak buncit, defense muscular (+), hati dan limpa sulit teraba,
turgor cukup, bising usus sulit didengar, pekak, pekak sisi (+), nyeri
tekan (+) pada seluruh region abdomen.

19
PEMERIKSAAN PENUNJANG

25/12/2018 RS BAKTI HUSADA CIKARANG

H2TL Hitung Jenis Sel

Hemoglobin 10,1 g/dL Basofil 0

Hematokrit 25% Eosinofil 0

Leukosit 11.800/UL Batang 1

Trombosit 150.000/UL Segmen 73

Gula Darah Limfosit 22

GDS 157mg/dl Monosit 4

27/12/2018 RS BAKTI HUSADA CIKARANG

Hematologi

Golongan Darah B

Rhesus Positif

H2TL

Hemoglobin 6,8 g/dL

Hematokrit 17%

Leukosit 16.300/UL

Trombosit 151.000/UL

20
28/12/2018 RS UKI Pukul 20.30 WIB

Elektrolit Homeostatsis

Natrium 136mmol/L Masa Perdarahan 1.30 Menit

Kalium 4,5mmol/L Masa Pembekuan 13 Menit

Clorida 105mmol/L Masa Pembekuan

Analisa Gas Darah Kontrol(Masa Protombin) 14detik

PH Darah 7.378 Pasien(Masa Protombin) 16 detik

PCO 24 mmhg Kimia Klinik

PO2 517 mmhg Albumin 2.2g/dl

Saturasi O2 Tidak Terdeteksi SGOT/AGT 722U/L

Base Excess -8,3 mmol/L SGPT 242U/L

HCO3 14,3 mmol/L Fungsi Ginjal

TCO2 15 mol/L Ureum Darah 134mg/dl

Konsentrasi O2 Tidak Terdeteksi Creatinin Darah 1.59mg/dl

Gula Darah

Gula Darah Sewaktu 83mg/dl

21
Konsul Departemen Ilmu Anestesi ( 28 Desember 2018 , IGD RS UKI 22.00)

 Penurunan kesadaran

 Diagnosis kerja pre Anestesi : Susp. Ileus Obstruktif, Sepsis, Uremia

 Rencana : Tidak ACC Operasi perbaiki Keadaan Umum Terlebih dahulu

DIAGNOSIS KERJA

Susp. Ileus Obstruktif

TATA LAKSANA

 Pro ICU dengan monitor dan oksigen ventilator ec Penurunan Kesadaran

 NGT Dialirkan

 Pantau Balance Cairan/24 jam

 IVD : I D5%/24 jam

III Ringer Laktat/ 24 jam

 Medikamentosa

1. Ceftriaxone 2x1gram (IV)

2. Ranitidin 2x1 ampul (IV)

 Rotgen thorax AP

 Rotgen Abdomen 3 posisis

 Rawat bersama penyakit dalam

22
Minggu, 29 Desember 2018 01.00)
01.00 Pasien Tiba di ICU dengan terpasang infus Ringg Ass 4500ml dan dilakukan intubasi
01.10 Frekuensi Nadi 37x/menit, Tekanan Darah 73/41mmhg  N-Epimefrin 1 ampul
01.15 Dokter Spesialis Bedah Digestiv melakukan DPL (Diagnostic Periotoneal Lavage) dan
ditemukan isi abdomen adalah darah kurang lebih sebanyak 3 liter.
01.30 Pasien Bradikardi (Nadi 32x/menit), Tekanan Darah tidak terukur
O2 dinaikan menjadi 4L, Kompresi 30:2 1 siklus

Respons (-) E1M1V1, Denyut Nadi1 22xmenit. Nadi lemah, tidak kuat angkat, Tekanan
Darah tidak terukur Frekuensi Nafas 9x/menit

Sulfas Atropin 1 Ampul + N-Epinefrin 1 Ampul + PRC 1 Kantong

Kompresi 30:2 1 siklus  respons (-)

Respons (-) E1M1V1, Denyut Nadi1 20xmenit. Nadi lemah, tidak kuat angkat, Tekanan
Darah tidak terukur Frekuensi Nafas 8x/menit

Kompresi 30:2 1 siklus  respons (-)  Keluarga mengatakan tidak perlu dilanjutkan
komopresi

Pasien Apneu, Frekuensi Nafas tidak tampak pergerakan dinding dada, Denyut Nadi teraba
denyut nadi carotis/perifer

Frekuensi Nafas tidak tampak pergerakan dinding dada, Denyut Nadi teraba denyut nadi
carotis/perifer respons (-)

23

Pupil dilatasi maksimal, napas (-), denyut jantung (-), EKG Asistol
Pasien dinyatakan meninggal dunia di hadapan dokter, perawat dan keluarga.

24
BAB IV

ANALISA KASUS DAN PEMBAHASAN

1. Berdasarkan tanda dan gejala syok hemoragik menurut ATLS 2018 pasien termasuk

dalam kategori Syok Hipovolemik Derajat IV.

2. Berdasarkan ATLS 2018 adanya faktor-faktor yang mempengaruhi respon

hemodynamic terhapat kehilangan caira akut yang berbeda tiap masing- masing

pasien. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu :

a. Usia Pasien

b. Keparahan trauma, tipe trauma dan lokasi anatomi trauma.

c. Jeda waktu antara trauma dan dilakukannya terapi.

d. Cairan pre rumah sakit.

e. Medikamentosa untuk kondisi kronik


25
Dan pada pasien ini faktor usia, keparahan trauma, jeda waktu dan cairan pre rumah

sakit merupakan faktor fator yang memperberat respon hemodinamik terharap terapi

yang diberikan.

3. Dalam Pemeriksaan Fisik dikouskan untuk mendiagnosis dengan tepat life-threating

injuries dan prosedur ABCDEs. Observasi dasar sangat penting untuk mengetahui

respon pasien terhadap terapi, maka perlu dilakukan :

a. Airway dan Breathing

Membangun jalan nafas paten dengan ventilasi dan oksigenasi yang memadai

adalah prioritas utama. Berikan oksigen tambahan untuk menjaga saturasi

oksigen lebih dari 95%. Menilai jalan nafas bebas. Apakah pasien dapat bicara

dan bernafas dengan bebas . Jika ada obstruksi maka lakukan :

• Chin lift / jaw thrust (lidah itu bertaut pada rahang bawah)

• Suction / hisap (jika alat tersedia)

• Guedel airway / nasopharyngeal airway

• Intubasi trakhea dengan leher di tahan (imobilisasi) pada posisi netral dan

dilakukanya intubasi untuk oksigenasi.

b. Circulation: Hemorrhage Control

Kontrol perdarahan, pemasangan akses intravena yang adekuat untuk perfusi

ke jaringan untuk pengaturan sirkulasi yang lebih baik dimana Prioritasnya

adalah menghentikan pendarahan, bukan untuk menghitung volume cairan

yang hilang.

Pengelolaan sirkulasi termasuk :

 Mengendalikan perdarahan yang jelas

 Memperoleh akses intravena yang memadai,


26
 Menilai perfusi jaringan.

c. Disability: Neurological Examination

Pemeriksaan neurologis singkat akan menentukan tingkat kesadaran pasien,

yang berguna dalam menilai perfusi otak.

d. Exposure: Complete Examination

Penting untuk mencegah hipotermia, suatu kondisi yang dapat memperburuk

kehilangan darah dengan berkontribusi terhadap koagulopati dan asidosis yang

memburuk. Untuk mencegah hipotermia, selalu gunakan penghangat uid dan

teknik pemanasan aktif dan pasif eksternal.

4. Infus terus-menerus dalam jumlah besar cairan dan darah dalam upaya mencapai

tekanan darah normal bukanlah pengganti kontrol perdarahan maka perlu diperhatikan

respon dari setiap pasien yang dilakukan pemberian terapi. Pada langkah awal terapi
27
diapakai usual dose 1 liter untuk orang dewasa dan 20mL/kg utnuk anak anak atau

pasien dengan berat badang kurang dari 40kg dan pada pasien tersebut pasien masuk

delam kategore Minimal or No Response karena tanda tanda vital yang tidak membaik

setelah diberikan resuitasi cairan awal.

5. Tujuan dari resusitasi adalah mengembalikan perfusi organ dan oksigenasi jaringan,

yang dicapai dengan pemberian larutan kristaloid dan produk darah untuk

menggantikan volume intravaskular yang hilang. Perlu dilakukan pencegahan pada

syok yang tidak respond terhadap cairan kristaloid bolus yaitu

a. Mencari sumber perdarahan

b. Memikirkan syok yang disebabkan oleh non-hemorrhagic.

c. Mulai mempersiapkan kantong darah.

d. Dilakukan prosedur bedah untuk mengontrol perdarahan

Dan pada pasien ini dilakukan prodesur DPL ( Diagnostic Peritoneal Lavage) dimana

DPL ini berguna untuk :

a. Mencegah keterlambatan pengenalan cedera intra-abdomen atau yang

menyebabkan kematian dini karena perdarahan atau kematian lanjut akibat

cedera visceral.

b. Obstruksi pada usus

6. Blood Repalcement atau biasa disebut darah pengganti memiliki kritesia untuk

Massive Transfusion In Trauma yaitu :

a. ABC score (Assesment Blood Consumtion) lebih dari dua atau lebih.

b. Hemodinamik tidak stabil yang persisten

28
c. Perdarahan aktif

Dan pada pasien ini, hemodikanim tidak stabil dan perdarahan aktif merupakan

kriteria inklusi dilakukannya Massive Transfusion In Trauma.

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat, R. dan De Jong, Wim. 2003. Buku Ajar Ilmu Bedah . Edisi2. Jakarta :

EGC. Hal: 623

2. Mansjoer A., Suprohaita, Wardhani WI., Setiowulan W. Ileus Obstruktif. Dalam:

Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 2. Penerbit Media Aesculapius Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2000; 318 – 20.

3. Scanlon, Valerie., 2007. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi Edisi 3. Penerbit Buku

Kedokteran EGC. Jakarta.

4. Indrayani MN. Diagnosis dan tatalaksana ileus obstruksi [Internet]. e-Jurnal Medika

Udayana. 2013. Diakses dari : http://ojs.unud.ac.id/index.php/eu

5. Sherwood, Lauralee., 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi II. Penerbit

Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

6. m/article/view/5113/3903.

Diakses pada tanggal 7 Oktober 2014.

7. Sabiston DC. Buku ajar bedah bagian 1. Jakarta: EGC; 1995: 551- 9

8. El-Mowafi DM, Diamon MP. Gynecology surgery and subsequent bowel obstruction.

Diunduh

dari://www.gfmer.ch/International_activies_En/El_Mowafi/Bowel_Obstruction.html

9. Al-Took S, Platt R, Tulandi T. Adhesion- related small-bowel obstruction after

gynecologic operations. Am J Obstet Gynecol 1999; 180:313.

10. Maulana, Razi. 2011. Ileus Obstruktif http://razimaulana.wordpress.com. 


30
31