Anda di halaman 1dari 37

i

PEMANFAATAN LIMBAH BAGLOG JAMUR TIRAM (Pleurotus


ostreatus) DAN ENZIM SELULASE DARI KEONG EMAS (Pomacea
canaliculata) SEBAGAI BIOETANOL

Energy and Environment

Diusulkan oleh
Landep Ayuningtias 151810301065 Angkatan 2015
Rosa Safitri 151810301060 Angkatan 2015

JEMBER
2018

i
ii

ii
iii

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis yang
berjudul “Pemanfaatan Limbah Baglog Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) Dan
Enzim Selulase Dari Hepatopankreas Keong Emas (Pomacea canaliculata)
Sebagai Bioetanol”. Karya tulis ini disusun untuk mengikuti lomba karya tulis
ilmia di Universitas Islam Indonesia. Ucapan terimakasih dan penghargaan yang
tinggi kami sampaikan kepada :
1. Ibu drh. Wuryanti Handayani, M.Si. selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan banyak bimbingan, saran dan arahan dalam penyususnan karya
tulis ilmiah ini.
2. Semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan kepada kami,
sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.
Kami menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam pembuatan
karya tulis ilmiah ini baik dari segi materi dan sistematika penulisan. Oleh karena
itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan untuk
memperbaiki karya ini menjadi lebih baik. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi peneliti, pembaca ataupun
pemerintah dalam menyediakan bioetanol agar krisis energi dapat teratasi.

Jember, 10 September 2018

Penulis

iii
iv

Daftar Isi

Kata Pengantar ................................................................................................................... iii

1.1. Latar Belakang .................................................................................................... 1

1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................... 3

1.3. Tujuan ................................................................................................................. 3

1.4. Manfaat ............................................................................................................... 3

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................ 5

2.1. Limbah Baglog Jamur Tiram ................................................................................. 5

2.2. Selulosa ................................................................................................................. 5

Gambar 2.1 struktur selulosa .............................................................................................. 6

Gambar 2.2. Gabungan lignin dan seluosa membentuk dinding sel tumbuhan .................. 7

Gambar 2.3. Interaksi ester dan eter pada polisakarida dengan lignin ................................ 8

2.3. Hidrolisis Selulosa dengan Enzim Selulase ......................................................... 8

2.4. Fermentasi glukosa menggunakan Saccharomyces cerevisiae ...................... 9

BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN.......................................................................... 11

3.1. Teknik Mengumpulkan Data dan Informasi .......................................................... 11

3.2. Pengolahan Data dan Informasi ............................................................................. 11

3.3. Teknik Analisis-Sintesis ........................................................................................ 11

4.1. Pretreatmen baglog jamur tiram................................................................... 13

4.2. Delignifikasi ..................................................................................................... 14

4.3. Enzim Selulase dari Keong Emas (Pomacea canaliculata) .............................. 16

a. Isolasi selulase dari keong emas (Pomacea canaliculata) ................................ 16

a. Penentuan kadar protein ekstrak menggunakan metode bradford .................... 16

b. Penentuan aktivitas enzim menggunakan metode Somogyi-Nelson................. 17

4.4. Hidrolisis selulosa dengan menggunakan enzim selulase ............................ 18

iv
v

4.5. Fermentasi glukosa dengan Saccharomyces cereviciae menghasilkan


bioetanol ....................................................................................................................... 20

BAB 5. PENUTUP ........................................................................................................... 22

1.1. Kesimpulan ...................................................................................................... 22

Kesimpulan pada karya tulis ilmiah ini yaitu................................................................ 22

1.2. Saran ................................................................................................................ 22

Penelitian mengenai produksi bioetanol diperlukan variasi yang lebih banyak lagi agar
dapat menghasilkan bioetanol yang optimal. Variasi yang dapat dilakukan misalnya
konsentrasi enzim saat hidrolisis................................................................................... 22

PERNYATAAN ORISINALITAS .......................................Error! Bookmark not defined.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP.......................................................................................... 25

Daftar Pustaka ................................................................................................................... 23

Lampiran. Scan Bukti Pembayaran................................................................................... 29

v
vi

Daftar Gambar

Gambar 2.1. struktur selulosa


Gambar 2.2. Gabungan lignin dan seluosa membentuk dinding sel tumbuhan
Gambar 2.3. Interaksi ester dan eter pada polisakarida dengan lignin
Gambar 2.4. Mekanisme pemecahan selulosa menjadi glukosa
Gambar 4.1. Mekanisme pemutusan ikatan antara lignin dan selulosa mengunakan
KOH
Gambar 4.2. Reaksi bleaching pada selulosa
Gambar 4.3. Reaksi hidrolisis selulase dengan selulosa
Gambar 4.4. PengaruhpH terhadap kinerja enzim selulase untuk menghidrolisis
selulose menjadi glukosa
Gambar 4.5. Pengaruh banyaknya ragi dan waktu fermentasi terhadap bioetanol
yang dihasilkan

vi
vii

Daftar Tabel

Tabel 2.1. Komposisi Umum Baglog jamur tiram

vii
viii

PEMANFAATAN LIMBAH BAGLOG JAMUR TIRAM (Pleurotus


ostreatus) DAN ENZIM SELULASE DARI KEONG EMAS (Pomacea
canaliculata) SEBAGAI BIOETANOL
Landep Ayuningtias, Rosa Safitri

Abstrak

Jamur tiram merupakan salah satu tanaman yang sangat berpotensi untuk
dikembangkan di Indonesia, salah satunya yaitu di Kabupaten Jember. Kabupaten
Jember sendiri termasuk salah satu daerah produsen jamur tiram. Hal ini terbukti
dengan keberadaan KOTANIMURA. KOTANIMURA merupakan singkatan dari
koperasi petani jamur tiram nusantara yang melakukan usaha budidaya jamur
tiram dan ekspor jamur tiram ke wilayah nusantara dan ke Jepang serta Korea.
Dalam usaha budidaya jamur tiram, setelah jamur tiram melewati masa panennya
maka akan menyisahkan limbah berupa baglog. Baglog merupakan media tanam
jamur tiram yang 90% komposisinya berupa serbuk gergaji kayu. Sementara itu
limbah baglog memiliki kandungan terbesar berupa selulosa.Hadrawi (2014)
melaporkan dalam penelitiannya bahwa kandungan selulosa limbah baglog jamur
tiram dengan masa inkubasi 1 bulan yaitu 53,59% dari beratnya. Selulosa adalah
polimer yang tersusun oleh monomer glukosa. Hidrolisis selulosa menjadi glukosa
dapat dimanfaatkan secara maksimal sebagai bahan baku pembuatan etanol
sebagai sumber bioetanol. Hidrolisis selulosa dapat menggunakan enzim selulase.
Selulase adalah enzim yang mampu mendegradasi selulosa menjadi monomer-
monomernya, yaitu glukosa. Salah satu sumber selulase yang melimpah yakni
keong emas (Pomacea canaliculata). Siregar (2011) telah mencoba mengisolasi
enzim selulase dari pankreas keong mas dan menggunakannya untuk
meghidrolisis selulosa.Selama ini bahan bakar fosil menjadi tulang punggung
transportasi di seluruh dunia sementara jumlah BBM semakin menipis. Sehingga
diperlukan sumber energi terbarukan yang mampu mendampingi suplai BBM
sehingga mampu meminimalisir kelangkaan BBM. Bioetanol ini dapat digunakan
sebagai campuran bahan bakar dan dapat pula digunakan sebagai salah satu
pasokan energi (Broto, 2010).Pembuatan bioetanol dari limbah baglog jamur
tiram ini dilakukan melalui proses isolasi selulosa kemudian dilanjutkan dengan
konversi selolsa menjadi glukosa secara enzimatis. Enzim yang digunakan adalah
selulase dari pankreas keong emas (Pomacea canaliculata). Glukosa yang
diperoleh selanjutnya difermentasi dengan menambahkan mikroorganisme
Saccharomyces cerevisiae sehingga diperoleh bioetanol. Metode yang digunakan
dalam penulisan ini adalah menggunakan data sekunder yang berasal dari jurnal,
buku dan media lainnya. Bioetanol ini dapat dibuat dengan mudah dan dapat
diperbaharui, sehingga karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat membantu
permasalahan kelangkaan energi yang telah terjadi di Indonesia.

Kata Kunci : Limbah baglog jamur tiram, enzim selulase keong emas (Pomacea
canaliculata), bioetanol

viii
1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kabupaten Jember merupakan salah satu daerah di Indonesia yang berhasil
mengembangkan usaha budidaya jamur tiram. Hal ini dibuktikan dengan adanya
usaha budidaya jamur tiram KOTANIMURA (koperasi petani jamur tiram
nusantara). KOTANIMURA ini telah melakukan ekspor jamur tiram tidak hanya
di wilayah nusantara, melainkan juga ke luar negeri seperti Jepang dan Korea.
Proses budidaya jamur tiram akan menghasilkan limbah berupa baglog setelah
jamur tiram melewati masa panennya. Menurut salah satu petani di
KOTANIMURA, Baglog merupakan media tanam jamur tiram yang
komposisinya kurang lebih 90% berupa serbuk gergaji kayu, dimana setiap 100
kg baglog jamur terdiri dari 10 kg bekatul, 1 kg dedak dan ½ kg kapur. Baglog
yang telah melewati masa tersebut harus dibongkar dan akan menjadi limbah.
Limbah baglog ini dapat mencemari lingkungan jika tidak dimanfaatkan dengan
baik (Warisno dan Kres 2010).
Limbah baglog jamur tiram mengandung selulosa sebesar 53,59% setelah
diinkubasi selama 1 bulan (Hadrawi, 2014). Kandungan selulosa yang terdapat
pada baglog jamur tiram berasal dari serbuk kayu (44, 04%), dedak (9-12,8 %)
dan bekatul (1,69%) (Aryati, 2009). Selulosa merupakan polimer yang terdiri dari
monomer-monomer glukosa. Glukosa merupakan bahan dasar yang dapat
dikonversi menjadi bioetanol. Hal ini membuktikan bahwa limbah baglog jamur
dapat lebih dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai jual seperti
bioetanol, sehingga limbah baglog jamur dilingkungan dapat berkurang. Bioetanol
merupakan etanol yang dapat dihasilkan dari aktivitas mikroorganisme seperti
Saccharomyces cerevisiae.
Selulase merupakan enzim yang terdiri dari endoglukanase, eksoglukanase
dan selobiase yang mampu mendegradasi ikatan β-1,4-glikosidik pada selulosa,
sehingga akan menghasilkan monomer-monomer glukosa (Lehninger, 1988).
Salah satu sumber dari enzim selulase yaitu berada pada saluran pencernaan
keong emas. Al-Arif dkk. (2004) dalam penelitiannya menemukan bahwa dalam

1
2

saluran pencernaan keong emas (Pomacea canaliculata) mengandung aktivitas


selulase yang lebih tinggi jika dibandingkan pada saluran pencernaan rayap
(Macrotermes sp.). Keong emas merupakan salah satu molusca yang hidupnya
bergantung dengan enzim selulase untuk mencerna makanannya seperti daun dan
tumbuhan lainnya.
Kebutuhan bioetanol di Indonesia berjumlah 390.000 kiloliter pertahun,
sedangkan pabrik bioetanol di negara ini hanya dapat memproduksi sekitar 4%
dari yang dibutuhkan (Adini, 2015). Fakta ini menunjukkan bahwa pemanfaatan
selulosa pada baglog jamur tiram untuk memproduksi bioetanol dapat digunakan
untuk membantu dalam pemenuhan bioetanol di Indonesia. Selulosa pada baglog
jamur tiram dapat diubah menjadi glukosa melalui proses hidrolisis. Proses
hidrolisis dapat dilakukan secara enzimatis maupun kimiawi. Proses hidrolisis
secara kimiawi memiliki dampak negatif, karena senyawa kimia seperti asam
sulfat yang digunakan pada proses hidrolisis dapat mencemari lingkungan,
sehingga proses konversi selulosa menjadi glukosa dilakukan dengan
menggunakan reaksi hidrolisis secara enzimatis menggunakan enzim selulase.
Bioetanol dapat digunakan sebagai bahan bakar. Bahan bakar yang digunakan di
Indonesia kebanyakan berasal dari fosil, sedangkan bahan bakar fosil merupakan
sumber daya yang tidak dapat diperbaharui dan jumlahnya semakin menurun
setiap tahunnya. Hal ini membuktikan bahwa bioetanol dapat digunakan sebagai
sumber energi alternatif dalam memenuhi kebutuhan energi di Indonesia.
Pembuatan bioetanol dari selulosa baglog jamur tiram dilakukan melalui
tahap delignifikasi, hidrolisis dan fermentasi. Selulosa merupakan polimer yang
tidak dapat ditemukan dalam keadaan murni dialam. Selulosa biasanya bergabung
atau berikatan dengan polimer lain seperti lignin, sehingga perlu didelignifikasi
agar selulosa dapat terekstrak. Proses hidrolisis selulosa dilakukan dengan enzim
selulase yang telah diekstrak pada keong emas. Proses hidrolisis ini dilakukan
dengan variasi konsentrasi enzim selulasedan lamanya waktu hidrolisis selulosa.
Glukosa yang dihasilkan difermentasi menggunakan Saccharomyces
cerevisiaesehingga diperoleh bioetanol. Bioetanol yang dihasilkan bergantung
pada lamanya fermentasi dan banyaknya Saccharomyces cerevisiae yang
diberikan. Pemurniaan bioetanol dapat dilakukan dengan menggunakan destilasi.

2
3

Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memproduksi bioetanol dari
baglog limbah jamur tiram, sehingga dapat membantu dalam memenuhi
kebutuhan bioetanol di Indonesia.

1.2. Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut:
1. Bagaimana cara mengisolasi selulosa dari limbah baglog jamur tiram?
2. Bagaimana isolasi dan karakterisasi crudeenzim selulase dari pankreas
keong emas (Pomacea canaliculata)?
3. Bagaimana menentukan pH dan suhu optimum enzim sellulase untuk
menghidrolisis selulosa limbah baglog jamur tiram?
4. Bagaimana menentukan waktu inkubasi dan konsentrasi Saccharomyces
cerevisiae yang optimum pada pembuatan bioetanol dari hasil hidrolisis
selulosa dengan enzim selulase pankreas keong emas (Pomacea
canaliculata)?

1.3. Tujuan
Tujuan dari karya tulis ini yaitu
1. Mengetahui cara mengisolasi selulosa dari limbah baglog jamur tiram.
2. Mengetahui isolasi dan karakterisasi crude enzim selulase dari pankreas
keong emas (Pomacea canaliculata).
3. Mengetahui pH dan suhu optimum enzim sellulase untuk menghidrolisis
selulosa limbah baglog jamur tiram.
4. Mengetahui waktu inkubasi dan konsentrasi Saccharomyces cerevisiae yang
optimum pada pembuatan bioetanol dari hasil hidrolisis selulosa dengan
enzim selulase pankreas keong emas (Pomacea canaliculata).

1.4. Manfaat
Manfaat dari karya tulis ini yaitu
1. Penelitian ini bermanfaat bagi lingkungan, yaitu dapat mengurangi limbah
baglog jamur tiram.
2. Penelitian ini dapat memberikan inovasi dalam memenuhi kebutuhan
bioetanol dalam negeri, sehingga dapat mengatasi kelangkaan sumber energi
di Indonesia.

3
4

3. Penelitian ini dapat memberikan informasi tentang sumber selulase pada


keong emas yang dapat digunakan untuk menghidrolisis selulosa.

4
5

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Limbah Baglog Jamur Tiram


Baglog merupakan media tanam jamur tiram yang terdiri dari campuran
beberapa bahan diantaranya serbuk gergaji kayu, dedak jagung, bekatul, kapur dan
air. Pada umumnya budidaya jamur tiram putih yang diterapkan para petani jamur
yaitu menggunakan serbuk gergaji sebagai media tanam. Media pertumbuhan
jamur yang digunakan adalah serbuk gergaji kayu, dedak, biji-bijian atau
tepungnya, mineral dan air (Suprapti, 2000). Kayu atau serbuk kayu yang
digunakan sebagai tempat tumbuh jamur mengandung karbohidrat, serat, lignin,
selulosa, dan hemiselulosa (Hadrawi, 2014). Penambahan bekatul dan dedak
jagung berfungsi dalam perkembangan miselium dan pertumbuhan tubuh buah
jamur karena mengandung vitamin, karbohidrat, lemak dan protein (Sumarsih
2010). Menurut Chazali dan Pratiwi (2009), kandungan yang terdapat pada baglog
jamur tertera dalam tabel 2.1. berikut
Tabel 2.1. Komposisi Umum Baglog Jamur
Bahan Media Tanam Jumlah (Kg) %
Serbuk gergaji kayu 100 86,6
Dedak jagung 5 8,66
Bekatul 10 4,33
Kapur 0,5 0,4
Baglog biasanya dipadatkan di dalam plastik dan digunakan sebagai media
dan nutrisi pertumbuhan jamur tiram. Baglog hanya efektif digunakan untuk
menumbuhkan jamur tiram selama waktu 4-5 bulan sejak proses pertama. Namun,
ketika masa pakai baglognya telah habis maka baglog tersebut menjadi limbah
(Warisno dan Kres 2010). Limbah baglog biasanya dibiarkan begitu saja di
pekarangan rumah dan jika tidak ditangani dengan baik maka akan menimbulkan
pencemaran lingkungan, bau tidak sedap dan tempat berkembangnya bakteri dan
penyakit.

2.2. Selulosa
Selulosa merupakan bahan dasar penyusun tumbuhan yang merupakan
metabolit primer. Selulosa dapat dikonversi menjadi berbagai macam, senyawa
kimia lain yang mempunyai nilai komersial yang tinggi. Salah satu pemanfaatan

5
6

selulosa yang memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi yakni konversi selulosa
menjadi furtural yang merupakan bahan baku bagi kebanyakan fine chemicals dan
bahan bakar (biofuel) (Monariqsa, 2012). Struktur selulosa dapat dilihat dari
gambar berikut:

Gambar 2.1 struktur selulosa


(Sumber : Lehninger, 1988).
Selulosa adalah zat penyusun tanaman yang terdapat pada struktur sel. Kadar
selulosa dan hemiselulosa pada tanaman pakan yang muda mencapai 40% dari
bahan kering. Bila hijauan makin tua proporsi selulosa dan hemiselulosa makin
bertambah (Tillman dkk, 1998). Selulosa merupakan komponen utama penyusun
dinding sel tanaman. Kandungan selulosa pada dinding sel tanaman tingkat tinggi
sekitar 35-50% dari berat kering tanaman (Lynd et al, 2002). Selulosa merupakan
polimer glukosa dengan ikatan ß -1,4 glukosida dalam rantai lurus. Bangun dasar
selulosa berupa suatu selobiosa yaitu dimer dari glukosa. Rantai panjang selulosa
terhubung secara bersama melalui ikatan hidrogen dan gaya van der Waals (Perez
et al, 2002).
Sululosa dialam biasanya tidak dapat ditemukan dalam keadaan murni,
melainkan ditemukan dalam keadaan terikatatau berasosiasi dengan polisakarida
lain seperti lignin. Gabungan antara selulosa dan lignin dapat membentuk
kerangka dasar dinding sel pada tumbuhan. Selulosa yang berasosiasi dengan
lignin dapat disebut sebagai lignoselulosa.

6
7

Gambar 2.2. Gabungan lignin dan seluosa membentuk dinding sel tumbuhan
(Sumber : Osvaldo dkk, 2012).
Pretreatment atau juga disebut sebagai delignifikasi merupakan proses yang
digunakan untuk mengkondisikan bahan yang mengandung lignoselulosa. Tujuan
dari proses delignifikasi yaitu untuk membuka struktur lignoselulosa, sehingga
lignin akan terlepas dan selulosa dapat diisolasi(Osvaldo dkk, 2012).
Metode yang digunakan untuk memisahkan selulosa dan hemiselulosa dari
lignin yaitu menggunakan perlakuan asam, basa dan ledakan uap. Perlakuan
menggunakan larutan asam hanya akan menghasilkan kadar glukosa yang rendah,
serta dapat menghasilkan furtual yang bisa menjadi inhibitor dalam langkah
selanjutnya. Perlakukan dengan menggunakan basa (delignifikasi) dapat memecah
ikatan kimia antara lignin dan selulosa. Lignoselulosa bersifat tahan terhadap
degradasi, memiliki stabilitas hidrolitik dan ketahanan pada strukturnya. Hal ini
dapat terjadi karena adanya lingkage antara polisakarida (selulosa dan
hemiselulosa) dengan lignin melalui hubungan eter dan ester (Maryana et all,
2014). Hal ini membuktikan bahwa perlakuan dengan menggunakan basa
(delignifikasi) dapat memecah ikatan ester dan eter antara polisakarida dan lignin,
sehingga selulosa pada baglog dapat diisolasi

7
8

Gambar 2.3. Interaksi ester dan eter pada polisakarida dengan lignin
(Sumber : Maryana et all, 2014)

2.3. Hidrolisis Selulosa dengan Enzim Selulase


Enzim yang dapat digunakan untuk mendegradasi selulosa adalah enzim
selulase. Selulase adalah enzim yang mampu menguraikan selulosa dalam
menghidrolisis ikatan β-(1,4) glikosida menjadi bentuk yang lebih sederhana yang
kemudian lebih lanjut hingga menjadi monomer glukosa. Enzim Selulase
merupakan protein yang terdapat didalam sel hidup yang berfungsi sebagai
katalisator dalam reaksi biokimia. Enzim yang memiliki sifat spesifikasi untuk
menghodrolisis ikatan β (1-4) glukosida dari selulosa menghasilkan selobiosa
kemudian diubah menjadi monomer glukosa. Enzim selulosa umumnya terdiri
dari tiga unit enzim utama, antara lain Endo β -(1-4) glucanase (C1) atau
selobiohidrolase yang berperan dalam pemecahan dibagian kristal rantai selulosa
dan beta-Glukosidase merupakan unit enzim yang berperan penting untuk
menghasilkan produk glukosa dari pemecahan selulosa (Setyoko, 2016). Enzim
tersebut biasanya dikeluarkan sebagai bagian dari kompleks multienzim yang
mungkin termasuk selulosa. Untuk proses tersebut dapat dijelaskan oelh gambar
berikut:

8
9

Gambar 2.4. Mekanisme pemecahan selulosa menjadi glukosa (Silaban, 1999)

2.4. Fermentasi glukosa menggunakan Saccharomyces cerevisiae


Fermentasi alkohol merupakan proses penguraian karbohidrat seperti
glukosa menjadi etanol dan gas karbon dioksida. Proses fermentasi ini biasanya
biasanya dapat berlangsung dengan bantuan mikroorganisme seperti
Saccharomyces cerevisiae dalam keadaan anaerob. Reaksi yang terjadi pada
proses fermentasi yaitu

Saccharomyces cerevisiae
C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2
Glukosa Etanol Karbon dioksida
(Fatimah dkk, 2013).
Fermentsi alkohol dapat berlangsung jika mikroorganisme yang digunakan
bersentuhan dengan makanan yang dapat menunjang kebutuhannya. Faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi fermentasi alkohol yaitu
a. Jenis mikroorganisme
Pemilihan mikroorganisme biasanya bergantung pada substrat yang
digunakan. Saccharomyces cerevisiae merupakan mikroorganisme yang
tepat digunakan untuk fermentasi alkohol karena dapat menghasilkan etanol.
b. Waktu fermentasi
Fermentasi yang sempurna biasanya memerlukan waktu 4-20 hari.
Fermentasi yang baik juga dapat dilakukan selama tiga minggu yang
ditandai dengan tidak diproduksinya karbon dioksida.
c. Derajat keasaman

9
10

pH optimum yang digunakan untuk fermentasi buah-buahan atau


pembentukan sel khamir yaitu 3-5. Pengaturan pH dapat dilakukan dengan
menambahkan NaOH (untuk menaikkan pH) dan asam nitrat (menurunkan
pH).
d. Kadar glukosa yang difermentasi
Kadar glukosa yang optimum yaitu 10-18%. Kadar gula ini merupakan
kadar yang dibutuhkan untuk aktivitas pertumbuhan mikroorganisme.
e. Suhu
Suhu pertumbuhan dari Saccharomyces cerevisiae yaitu 19-32 oC.
(Osvaldo dkk, 2012).

10
11

BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengektraksi selulosa dari limbah baglog


jamur tiram. Selulosa hasil ekstraksi kemudian dihidrolisis menggunakan enzim
selulase yang diekstraksi dari hepatopankreas keong emas (Pomacea
canaliculata). Hasil hidrolisis selulosa dengan enzim selulase menghasilkan
glukosa (gula pereduksi) yang menjadi sumber bahan untuk pembuatan bioetanol.
Glukosa yang dihasilkan kemudian difermentasi menggunakan ragi
(Saccharomyces cerevisiae) sehingga menghasilkan bioetanol.Pemurniaan
bioetanol dapat dilakukan dengan menggunakan destilasi.

3.1. Teknik Mengumpulkan Data dan Informasi


Teknik pengumpulan data dan informasi yang digunakan adalah
pengelompokan jenis data dan informasi primer maupun sekunder. Data dan
informasi primer dalam penulisan karya tulis ilmiah diperoleh dengan observasi
secara langsung. Data dan informasi sekunder diperoleh dari buku, jurnal dan
referensi lainnya. Buku referensi diperoleh dari perpustakaan Universitas dan
jurnal online dengan tujuan untuk mendukung dan memperkuat ketepatan dan
kredibilitas dari hasil karya tulis.

3.2. Pengolahan Data dan Informasi


Pengolahan data dan informasi dilakukan dengan merangkum (overview)
data yang telah terkumpul untuk setiap kategori secara kualitatif, kemudian
memasukkannya ke dalam tabel ataupun grafik yang saling berhubungan. Data
yang diperoleh lalu dianalisis menggunakan analisis SWOT sebagai alat ukur
untuk mencari kelebihan dan kekurangan program mentoring ke depannya.
Pengolahan data dan informasi yang sudah ada dilanjutkan dengan pemilihan
kesesuaian dengan teori sesuai sub-sub judul dalam karya tulis dalam kerangka
tulisan. Data dan informasi yang didapatkan yakni dari penulisan-penulisan
artikel, jurnal ilmiah, buku mengenai landasan teori dan artikel ilmiah.

3.3. Teknik Analisis-Sintesis


Data yang dianalisis dihubungkan dengan teori-teori yang relevan saat ini
sehingga pemikiran inovasi lain yang muncul akan berdampak positif sebagai

11
12

alternatif solusi dalam menyelesaikan masalah yang terjadi saat ini. Berdasarkan
hasil perbandingan tersebut, dapat diidentifikasikan permasalahan yang ada,
kelebihan-kelemahan, dan pengaruhnya secara luas sehingga terdapat solusi yang
mengkombinasikan penyelesaian beberapa masalah menjadi satu.
Analisis data dalam pendekatan deskriptif kualitatif dilanjutkan dengan
upaya menggali informasi fakta dan opini dari penelitian sebelumnya yang
memiliki tingkat kepercayaan (trustworthiness)/kreadibilitas tinggi. Hasil analisis
dan síntesis ini berupa gagasan baru untuk memecahkan permasalahan yang
ditemukan dalam literatur. Hasil data sekunder dan pemikiran ilmiah dianalisis
dan diinterpretasikan dengan menggunakan kategori-kategori analisis (filling
system) yang telah ditentukan dalam analisis domain yaitu status Sosial Ekonomi,
perilaku Partisipasi subjek karya tulis dan kemudahan akses ke berbagai pihak
saat dilakukan karya tulis

12
13

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Bioetanol merupakan bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil


yang banyak diminati karena adanya kelangkaan dan meningkatnya harga minyak
bumi. Pemerintah akhir-akhir ini akan mengganti bahan bakar minyak dengan
alkohol. Fakta ini menunjukkan bahwa banyak diperlukan sumber bioetanol,
sedangkan sumber bioetanol nasional hanya mencapai 180.000 kiloliter (Piarah
dkk, 2011). Bioetanol dapat diperoleh dari tumbuhan yang mengandung selulosa,
seperti serbuk kayu. Baglog merupakan media tanam jamur tiram yang kurang
lebih 90% kandungannya berupa serbuk kayu. Limbah baglog jamur tiram
mengandung 53,59% selulosa setelah diinkubasi selama 1 bulan, dimana 44,04%
kandungan selulosanya berasal dari serbuk kayu. Oleh karena itu penelitian ini
dilakukan dengan memanfaatkan selulosa serbuk kayu yang terkandung pada
baglog jamur tiram yang digunakan untuk memproduksi bioetanol. Proses
pembuatan bioetanol dilakukan melalui tahap pretreatment, delignifikasi,
hidrolisis dan fermentasi.
4.1. Pretreatmen baglog jamur tiram
Perlakuan awal limbah baglog jamur tiram menjadi bioetanol yaitu
pretreatmen. Proses ini dilakukan dengan tujuan untuk menyiapkan sampel yang
akan digunakan dalam memproduksi bioetanol. Pretreatmen dilakukan dengan
proses pencucian dan pengeringan limbah baglog. Limbah baglog jamur tiram
dibersihkan menggunakan air agar terbebas dari kotoran dan sisa-sisa miselium
jamur tiram. Serbuk media tanam jamur tiram (baglog) yang telah dibersihkan
lalu dikeringkan dan dihaluskan menggunakan grinder. Penghalusan sampel
dilakukan agar dapat memperoleh ukuran sampel yang kecil, sehingga reaksi pada
tahap selanjutnya dapat berlangsung dengan cepat. Serbuk kayu yang telah
digrinder lalu diayak dengan ayakan 60 mesh sampai diperoleh serbuk gergaji
kayu yang homogen. Serbuk gergaji halus berwarna coklat tua (sampel) kemudian
dikeringkan dalam oven pada suhu 60℃ selama 24 jam. Pengeringan tersebut
bertujuan untuk menghilangkan air yang masih terkandung dalam sampel serta
menjaga kondisi sampel agar tahan lama dan tidak mudah rusak aktivitas mikroba.
Satu baglo jamur tiram memiliki berat sekitar 1,4 kg dan mengandung kurang

13
14

lebih 90% serbuk kayu, sehingga pada proses pretreatment ini dapat memperoleh
serbuk kayu kurang lebih 1,20 kg.

4.2. Delignifikasi
Delignifikasi merupakan tahap yang dilakukan untuk mengurangi kadar
lignin pada bahan yang mengandung lignoselulosa. Lignoselulosa merupakan
selulosa yang bergabung dengan lignin.Proses delignifikasi dapat membuka
struktur dari lignoselulosa, sehingga selulosa dapat dengan mudah diisolasi.
Proses delignifikasi ini juga dapat merusak struktur lignin yang berikatan secara
kovalen dengan selulosa dan melarutkan kandungan lignin ada suatu bahan
sehingga dapat mempermudah proses pemisahan lignin dengan selulosa
(karbohidrat). Proses delignifikasi dapat dilakukan dengan menggunakan senyawa
alkali seperti KOHdan NaOH (Kurniaty dkk, 2017). KOH merupakan basa yang
lebih kuat jika dibandingkan dengan NaOH, sehingga proses delignifikasi lebih
optimum dilakukan dengan menggunakan KOH. Basa yang lebih kuat dapat
dengan cepat memutus ikatan antara lignin dan hemiselulosa (selulosa). Reaksi
antara KOH dengan lignoselulosa adalah sebagai berikut

KOH

Gambar 4.1 Mekanisme pemutusan ikatan antara lignin dan selulosa


mengunakan KOH
Proses delignifikasi dengan menggunakan KOH juga dibantu dengan
menggunakan pemanasan (refluks). Pemanasan ini dilakukan dengan tujuan untuk
mempercepat reaksi, karena semakin tinggi suhu maka partikel akan bergerak
lebih cepat, sehingga tumbukan akan sering terjadi dan menyebabkan reaksi
semakin cepat. Metode refluks adalah pelarut yang digunakan akan menguap pada
suhu tertentu, namun akan didinginkan dengan kondensor sehingga pelarut yang

14
15

tadinya dalam bentuk uap akan mengembun pada dinding kondensor dan turun
lagi dalam wadah reaksi, sehingga pelarut akan tetap ada selama reaksi
berlangsung. Proses delignifikasi dilakukan dengan merefluks serbuk baglog hasil
pretreatmen dengan 500 mL KOH 2 N dan di aduk dengan stirer magnetik pada
suhu 80 oC selama 2 jam.
Berdasarkan literatur Kholidah, dkk. (2018), larutan yang dihasilkan
selama proses delignifikasi berwarna hitam pekat. Larutan berwarna hitam pekat
tersebut menunjukkan adanya lignin yang larut dalam KOH panas. Warna hitam
yang ditimbulkan mengindikasikan bahwa senyawa-senyawa yang memiliki
gugus kromofor (gugus yang memiliki ikatan rangkap terkonjugasi) larut dalam
KOH panas, sehingga menyebabkan suatu senyawa memiliki warna yang
menyerap cahaya pada panjang gelombang 200 nm – 400 nm (UV). Reaksi
sampel dengan larutan KOH pada suhu 80℃ menyebabkan molekul lignin
terdegradasi akibat pemutusan ikatan aril-eter, karbon-karbon, aril-aril, dan alkil-
alkil. Proses delignifikasi ini dapat dipengaruhi oleh konsentrasi KOH dan waktu
yang digunakan pada proses delignifikasi. Menurut Indrianingsih dkk (2013)
konsentrasi KOH yang lebih tinggi dan waktu delignifikasi lebih lama akan
menghasilkan kandungan selulosa lebih banyak, tetapi pemanasan harus tetap di
kontrol suhunya agar struktur selulosa tidak rusak.
Produk hasil delignifikasi yang dihasilkan yaitu berwarna coklat muda, hal
ini menunjukan bahwa kemungkinan masih ada sisa lignin. Sisa lignin tersebut
dapat dihilangkan melalui prose bleaching. Pemutihan (bleaching)untuk
menghilangkan lignin, sehinggadiperoleh serat yang berwarna putih. Pemutihan
ini dilakukan menggunakan larutan NaClO. Ion hipoklorityang dimiliki oleh
NaClO merupakan oksidator kuat yang mampu memecahkan ikatan eter dalam
struktur lignin, akibatnya derajat keputihan sampel naik secara signifikan.
Proses bleaching dilakukan dengan menggunakan larutan NaClO. Proses
bleaching diawali dengan membuat 500 ml larutan NaClO 25%. Selulosa hasil
proses delignifikasi dimasukkan ke dalam larutan NaClO 25%. Proses pemutihan
dilakukan selama 1 jam pada suhu 80°C. Pada proses ini molekul-molekul
penyerap warna akan dioksidasi sehingga menjadi polar dan larut dalam air.
Proses bleaching menghasilkan warna yang lebih cerah. Larutan setelah satu jam

15
16

kemudian difiltrasi dan dinetralkan dengan air hangat. Filtrat berupa selulosa
kemudian dikeringkan dalam oven (Kholidah dkk., 2018).

Gambar 4.2 Reaksi bleaching pada selulosa


Proses Pencucian dilakukan dengan larutan Na2SO4. Selulosa dicuci
dengan 25 gram Na2SO4 dalam 500 mL akuades dalam gelas beaker. Setelah
pencucian kemudian dikeringkan dengan cara memasukkan ke dalam oven dengan
suhu 105°C selama 30 menit. Kemudian dilakukan penilaian kadar selulosa
dengan analisis randemen.

4.3. Enzim Selulase dari Keong Emas (Pomacea canaliculata)


a. Isolasi selulase dari keong emas (Pomacea canaliculata)
Ekstrak selulase diperoleh dengan metode pengendapan menggunakan
aseton 50% (v/v) (Siregar, 2011). Hepatopankreas keong emas 35 gram
dihomogenasi dengan NaCl 1% (dingin) sebanyak 350 mL dengan blender dan
disentrifugasi pada 7000 rpm selama 30 menit. Supernatan sebanyak 300 mL
ditambahkan aseton dingin 150 mL hingga terjadi suspensi. Aseton berfungsi
untuk merusak mantel air yang terdapat disekeliling enzim, sehingga protein akan
berkumpul dan mengendap (Sari, 2011). Suspensi disentrifugasi 7000 rpm selama
30 menit. Pellet dikeringkan dalam freeze dryer sampai dalam keadaan kering.
Ekstrak serbuk diambil 0,5 g dan dilarutkan dala 50 mL buffer asetat 0,1 M pH
4,5 (Siregar, 2011).
a. Penentuan kadar protein ekstrak menggunakan metode bradford
Kadar protein dari suatu sampel bisa ditentukan dengan beberapa metode,
salah satunya metode Bradford. Metode Bradford menggunakan prinsip
spektrofotometri untuk melihat nilai absorban dan hubungannya dengan protein

16
17

yang diikat zat warna CBBG. Konsentrasi sampel bisa ditentukan setelah
membuat kurva standar dari percobaan.
Metode Bradford adalah salah satu metode dalam penentuan kadar protein
suatu bahan. Prinsip kerjanya didasarkan pada peningkatan secara langsung zat
warna Coomasie Brilliant Blue G250 (CBBG) oleh protein yang mengandung
residu asam amino dengan rantai samping aromatik (tirosin, triptofan, dan
fenilalanin) atau bersifat basa (arginin, histidin, dan leusin). Reagen CBBG bebas
berwarna merah kecoklatan (Imaks 465 nm), sedangkan dalam suasana basa reagen
CBBG akan berbentuk anion yang akan mengikat protein membentuk warna biru
(Imaks 595 nm). Jumlah CBBG yang terikat pada protein proporsional dengan
muatan positif yang ditemukan pada protein (Stoscheck 1990).Reagen Bradford
dibuat dengan melarutkan 0,025 g Coomasie Brilliant Blue ke dalam 12,5 mL
etanol 95%, kemudian ditambahkan 25 mL asam fosfat 85%. Larutan diencerkan
dengan akuades hingga mencapai volume 250 mL dan dihomogenkan.
Selanjutnya disaring dengan kertas saring dan disimpan dalam botol gelap dan
suhu rendah (Khopkar 2007). Menurut Siregar (2011), berdasarkan metode
bradford kadar ekstrak enzim selulase keong emas sebesar 1,19 mg/mL. Hasil ini
diperoleh setelah membuat kurva standar.
b. Penentuan aktivitas enzim menggunakan metode Somogyi-Nelson
Siregar melaporkan dalam penelitiannya bahwa aktivitas enzim ekstrak
selulase sebesar 0,2815 U/mL. Satuan aktivitas enzim adalah unit aktivitas. Satu
unit aktivitas enzim adalah banyaknya µ mol glukosa yang dihasilkan per mL
ekstrak enzim per menit pada kondisi optimum, dimana 1 unit = 1 µmol/ml/menit
(Siregar, 2011). Metode Somogyi-Nelson merupakan metode penetapan kadar
gula pereduksi, dimana prinsipnya, gula pereduksi akan mereduksi ion Cu2+
menjadi ion Cu+, kemudian ion Cu+ ini akan mereduksi senyawa arsenomolibdat
membentuk kompleks berwarna biru kehijauan (Nelson, 1944). Reaksi yang
terjadi antara reagen cu alkalis (Cu2+) spesifik dengan gula pereduksi menjadi Cu+
(endapan merah bata) yang mengendap sebagai senyawa Cu2O. Adapun
persamaan reaksinya adalah sebagai berikut:
(C5 H11 O5 )COH + 2Cu2+ + 5OH − → (C5 H11 O5 )COOH + Cu2 O ↓ +3H2 O

17
18

Sampel diangkat, didinginkan lalu ditambahkan 1 mL reagen


arsenomolibdat hingga endapan orange terlarut. ketika ditambahkan
arsenomolibdat endapan tersebut akan larut dan membentuk kompleks
7-
[AsMo4VMo8 VIO40] berwarna biru kehijauan (Cu+diubah kembali menjadi
Cu2+). Selanjutnya dilakukan pengukuran dengan spektrofotometer pada panjang
gelombang 545 nm untuk mendapatkan nilai absorbansi. Intensitas warna yang
terbentuk menunjukkan konsentrasi gula pereduksi yang terdapat dalam sampel,
hal tersebut karena konsentrasi arsenomolibdat yang tereduksi sebanding dengan
konsentrasi tembaga (I) oksida (Cu2O), sedangkan konsentrasi Cu2O sebanding
dengan konsentrasi gula pereduksi (Nelson, 1944).

4.4. Hidrolisis selulosa dengan menggunakan enzim selulase


Selulase adalah enzim yang mampu menghidrolisis selulosa dalam
menghidrolisis ikatan β-(1,4) glikosida menjadi bentuk yang lebih sederhana yaitu
berupa monomer glukosa. Selulase terdiri dari tiga kelompok utama, yaitu
endoglukanase, eksoglukanase, dan β-glukosidase. Mekanisme selulase yang
digunakan untuk menghidrolisis selulosa adalah sebagai berikut

Gambar 4.3. Reaksi hidrolisis selulase dengan selulosa


(Sumber : Sutarno dkk, 2014)

18
19

Enzim endoglukanase dapat menghidrolisis bagian amorf pada serat selulosa


sehingga akan menghasilkan oligosakarida. Enzim eksoglukanase dapat
menghasilkan selobiosa (disakarida), sedangkan β-glukosidase apat memecah
selobiosa menjadi dua molekul glukosa yang merupakan hasil utama dari
hidrolisis selulosa. Glukosa merupakan komponen utama yang digunakn untuk
memproduksi bioetanol. Reaksi hidrolisis secara enzimatis tidak akan
meyebabkan glukosa yang dihasilkan terdegradasi dan akan menghasilkan kadar
glukosa yang tinggi (Sutarno dkk, 2014).
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses hidrolisis yaitu pH dan suhu.
Selulase merupakan protein yang dapat berfungsi sebagai katalis, dimana kerjanya
sangat bergantung pada pH campuran. Enzim memiliki pH optium yang berbeda-
beda, tetapi enzim tidak dapat bekerja jika berapa pada pH yang terlalu asam dan
basa. Hal ini dapat terjadi karena sisi aktif enzim akan terdenaturasi sehingga
tidak akan bereaksi dengan substrat.

Gambar 4.4. PengaruhpH terhadap kinerja enzim selulase untuk menghidrolisis


selulose menjadi glukosa
(Sumber : Safaria dkk, 2013)
Gambar 4.4. merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Safaria dkk (2013).
Penelitian ini menunjukkan bahwa enzim selulose bekerja secara optimum pada
pH 5. Artinya, pada pH ini proses hidrolisis akan menghasilkan kadar glukosa
lebih banyak. Reaksi hidrolisis selulosa oleh selulase terjadi pada sisi aktif asam
glutamat. Gugus karboksil pada asam amino akan berubah menjadi ion COO-.
Jika jumlah gugus COOH dari enzim semakin tinggi maka akan terjadi protonasi

19
20

pada oksigen glikosidik membentuk kompleks glikosil enzim, sehingga akan


menyebabkan aktivitas enzim meningkat. Aktivitas selulase dihambat oleh gugus
sulfhidril dari sistein. Hal ini dapat menurunkan aktivitas enzim. Peningkatan pH
dapat menyebabkan ion OH- berlebih, sehingga gugus sulfhidril kehilangan
muatan positif membentuk gugus –S-, sehingga dapat mengakibatkan protonasi
yang melibatkan gugus sulfhidril (-SH) terhambat dam interaksi substrat dan
enzim tidak dapat berlangsung serta pembentukan kompleks E-S menjadi
terhambat. Hal ini dapat mengakibatkan konsentrasi glukosa menurun (Safaria
dkk, 2013). Proses hidrolisis juga dipengaruhi oleh suhu, dimana suhu optimum
enzim selulase terletak pada suhu 30-50 oC. Suhu yang terlalu tinggi dan terlalu
rendah dapat mengakibatkan enzim terdenaturasi, sehingga aktivitas enzim turun
dan dihasilkan glukosa yang sedikit.

4.5. Fermentasi glukosa dengan Saccharomyces cereviciae menghasilkan


bioetanol
Fermentasi alkohol merupakan proses penguraian karbohidrat seperti
glukosa menjadi etanol dan gas karbon dioksida. Proses fermentasi ini dibantu
dengan mikroorganisme seperti Saccharomyces cerevisiae dalam keadaan
anaerob. Proses fermentasi dengan Saccharomyces cerevisiae harus dilakukan
pada pH 4-6. Hal ini dilakukan karena mikroorganisme ini dapat bertahan hidup
pada lingkungan dengan pH 4-6. Fermentasi biasanya dipengaruhi oleh faktor
banyaknya mikroorganisme dan lamanya waktu fermentasi.

Gambar 4.5. Pengaruh banyaknya ragi dan waktu fermentasi terhadap bioetanol
yang dihasilkan

20
21

Gambar 4.5 merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hanum dkk (2013).
Peneliti menyebutkan bahwa pada waktu fermentasi selama 48 jam dengan ragi
6% dihasilkan bioetanol lebih banyak jika dibandingkan dengan variasi yang lain,
sehingga grafik tersebut menunjukkan bahwa volume bioetanol akan semakin
banyak dihasilkan jika jumlah ragi yang digunakan semakin besar, akan tetapi jika
telah mencapai batas maksimum, produksi bioetanol akan turun. Hal ini
disebabkan karena Saccharomyces cereviciae akan mati jika telah melewati waktu
48 jam. Konsentrasi ragi maksimum yaitu 6%, jika melebihi konsentrasi tersebut
maka didalam campuran akan mengandung Saccharomyces cereviciae lebih
banyak daripada sampel yang akan difermentasi (glukosa) sehingga jumlah
bioetanol yang dihasilkan akan menurun. Bioetanol yang diperoleh dari hasil
fermentasi dapat dimurnikan menggunakan destilasi. Destilasi merupakan teknik
pemurnian yang didasarkan pada perbedaan titik didih. Bioetanol merupakan
etanol yang memiliki titik didih lebih kecil jika dibandingkan dengan air yaitu
sebesar 80 oC, sehingga ketika didestilasi etanol akan menguap terlebih dahulu
dan terpisa dengan air. Proses destilasi ini dapat menghasilkan etanol murni.

21
22

BAB 5. PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Kesimpulan pada karya tulis ilmiah ini yaitu
1. Isolasi selulosa pada limbah baglog jamur tiram dapat dilakukan melalui
proses delignifikasi menggunakan larutan KOH.
2. Isolasi
3. Enzim selulase memiliki pH optimum sebesr 5 dan suhu optimum 30-50 oC
untuk menghidrolisis selulosa menjadi glukosa.
4. Fermentasi akan menghasilkan jumlah bioetanol lebih besar jika konsentrasi
Saccharomyces cerevisiae yang yang digunakan lebih banyak dan waktu
yang digunakan lebih lama. Konsentrasi optimum dari Saccharomyces
cerevisiaepada penelitian ini yaitu sebesar 6% dengan waktu 48 jam.
5.2. Saran
Penelitian mengenai produksi bioetanol diperlukan variasi yang lebih
banyak lagi agar dapat menghasilkan bioetanol yang optimal. Variasi yang dapat
dilakukan misalnya konsentrasi enzim saat hidrolisis.

22
23

Daftar Pustaka

Adini, Saniha dkk. 2015. Produksi Bioetanol Dari Rumput Laut dan Limbah Agar
Gracilaria sp. dengan Metode Sakarifikasi Yang Berbeda. 2 (16) : 1-2.
Al-Arif, M. Anam. 2004. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Selulotik dengan Aktivitas
Tinggi dalam Saluran Pencernaan Keong Emas (Pomacea canaliculata).
2(14) : 87.
Aryati, Heni. 2009. Analisis Kimia Kayu Batang, Cabang dan Kulit kayu Jenis Kayu
Leda (Eucalyptus deglupta_Blume). 27 (10_ : 258-260.
Hadrawi, Jumatriatikah. 2014. Kandungan Lignin, Selulosa, dan Hemiselulosa
Limbah Baglog Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) Dengan Masa
Inkubasi Yang Berbeda Sebagai Bahan Pakan Ternak [Skripsi]. Makassar:
Universitas Hasanuddin.
Hanum, Farida dkk. 2013. Pengaruh Massa Ragi dan Waktu Fermentasi terhadap
Bioetanol dari Biji Durian. 2 (4) : 52.
Kholidah, dkk. 2018. Hidrolisis Selulosa dari Limbah Serbuk Geraji Kayu
Menggunakan Enzim Selulase dari Hati Bekicot [Laporan Bioreaksi].
Jember: Universitas Jember.
Lehninger, A. L., 1982, Dasar-dasar Biokimia, Jlilid 1, Alih bahasa, Maggi
Thenawijaya, Erlangga, Jakarta.
Osvaldo dkk. 2012. Pengaruh Konsentrasi Asam dan Waktu pada Proses Hidrolisis
dan Fermentasi Pembuatan Bioetanol dari Alang-alang. 2(18) 52-58.
Safaria, Selviza. 2013. Efektivitas Campuran Enzim Selulase dari Aspergillus
Niger dan Trichoderma reesei dalam Menghidrolisis Substrat Savut
Kelapa. 2(1) : 49.
Siregar, Hilma Sri. 2011. Isolasi Selulase dari Pankreas Keong Emas. Vol. 1 no. 2.
Suprapti S. 1988. Pengaruh penambahan dedak terhadap produksi jamur tiram.
Jurnal Penelitian Hasil Hutan 5 (6): 337 - 339.
Sutarno, Rika Julfana. 2014. Hidrolisis Enzimatik Selulosa dari Ampas Sagu
Menggunakan Campuran Selulase dari Trichoderma dan Aspergillus niger.
2(1) : 54.

23
24

Tilman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo & S.


Lebdosoekojo. 1989. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.

24
25

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Penulis 1
A. Identitas Diri
1. Nama Ketua : Landep Ayuningtias
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Tempat, Tanggal Lahir : Jember, 13 Oktober 1996
4. Alamat e-mail : landepayu@gmail.com
5. Program Studi : Kimia
6. Tahun Angkatan : 2015
7. Alamat Rumah :Dusun Pondok Labu RT 002/ RW 015, Desa
Klompangan, Ajung, Jember
8. No. Hp : 081332555761
B. Daftar Pengalaman/ Penghargaan Kepenulisan selama menjadi Mahasiswa
No. Jenis Penghargaan Penyelenggara Judul Karya Tahun
1 Finalis ON MIPA PT DIKTI - 2018
Provinsi Jawa Timur
2 Peserta Japan-Asia Universitas - 2018
Youth Exchange Hiroshima
Program in Science

Penulis 1
A. Identitas Diri
1. Nama Ketua : Rosa Safitri
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Tempat, Tanggal Lahir : Probolinggo, 21 Februari 1997
4. Alamat e-mail : rosasafitri02@gmail.com
5. Program Studi : Kimia
6. Tahun Angkatan : 2015
7. Alamat Rumah :Jl. Lumajang Gang Mangga Dua,
Probolinggo
8. No. Hp : 08982894328
B. Daftar Pengalaman/ Penghargaan Kepenulisan selama menjadi Mahasiswa
No. Jenis Penghargaan Penyelenggara Judul Karya Tahun

25
26

1 Penerima Hibah DIKTI Produksi BAHAN 2018


PKM-PE Bakar Bioetanol dari
Kulit Buah Naga Merah

26
27

27
28

28
29

Lampiran. Scan Bukti Pembayaran

29