Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kebakaran dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, hal itu dapat

dimungkinkan apabila unsur-unsur penunjang terjadinya kebakaran

terdapat di tempat tersebut. Menurut badan diklat perhubungan (2000:3)

adapun unsur-unsur penunjang terjadinya kebakaran yang disebut

dengan segitiga api tersebut meliputi, adanya bahan yang dapat

terbakar, adanya percikan api yang dapat menimbulkan sumber api,

adanya oksigen yaitu zat yang dibutuhkan untuk dapat menunjang

terjadinya kebakaran.

Kebakaran dapat terjadi di kapal yang memiliki tiga unsur

penunjang kebakaran yang terdapat disana, dan hampir keseluruhan

komponen yang ada merupakan benda-benda yang mudah terbakar. Hal

ini menyebabkan kapal sebagai salah satu alat transportasi yang rentan

akan bahaya kebakaran.

Pada saat ini terdapat berbagai macam jenis ukuran dan tipe kapal

dengan berbagai macam ukuran. Salah satunya adalah kapal tanker,

yaitu kapal yang didesain khusus untuk memuat muatan dalam bentuk

cairan. Kapal tanker itu sendiri mempunyai jenis-jenis tersendiri menurut

1
muatan yang diangkutnya, jenis-jenis kapal tanker tersebut ialah kapal

tanker chemical, kapal tanker minyak dan kapal tanker gas.

Dari beberapa penjelasan tersebut diatas maka untuk mencegah

terjadinya kebakaran di atas kapal tanker minyak dibuatlah suatu alat

yang disebut dengan Inert Gas System (IGS) dimana alat tersebut dapat

menghasilkan suatu gas yang disebut gas lembam (inert gas), yang

dimana oksigen tersebut sangat diperlukan dalam menunjang proses

pembakaran karbon dioksida. Melalui IGS proses pembakaran yang

ditujukan dalam segitiga api dapat dihilangkan salah satu komponennya

yaitu oksigen, sehingga kebakaran dapat diminimalisir atau dicegah.

Pada penulisan ini penulis menitik beratkan pada pengoperasian

dan perawatan IGS di kapal tanker minyak, dimana kapal jenis ini

mengangkut bahan bakar minyak dalam jumlah besar sehingga bahaya

kebakran dapat terjadi kapan saja. Karena sebagaimana kita ketahui

minyak salah satu bahan yang mudah terabakar. Hal ini didasarkan pada

pengalaman yang penulis dapatkan saat melaksankan praktek laut di

kapal MT. Damai Selatan yang merupakan kapal tanker minyak.

Penggunaan IGS di kapal-kapal tanker bukanlah suatu hal yang

baru, menurut Badan Diklat Perhubungan (2000:9) yang mengacu pada

konvensi Internasional untuk keselamatan kapal tanker dan pencegahan

pencemaran yang ditetapkan di London pada bulan Februari 1978 telah

menerima lima resolusi yang merekomendasikan kepada IMO

(International Maritime Organization).

2
Peraturan Internasional mensyaratkan bahwa kapal tanker yang

pada bulan Juni 1980 dengan bobot mati diatas 20.000 ton sudah

diharuskan diperlengkapi dengan IGS yang merupakan salah satu

system pencegahan terjadinya kebakaran dan ledakan dalam tangki

muatan dengan cara menurunkan kadar konsentrasi oksigen maksimum

8% (delapan persen) dalam tangki muatan kapal tanker. Untuk

mempertahankan konsentrasi oksigen pada kondisi inert (non-falme

condition) di dalam tangki muatan diperlukan adanya pemahaman

tentang pengoperasian IGS dan kemudian melaksanakannya sesuai

prosedur yang telah tersusun.

Adapun tujuan penulisan ini adalah agar supaya peraturan-

peraturan mengenai keselamatan kerja dan pencegahan pencemaran

lingkungan hidup di laut seperti MARPOL (Marine Pollution) 1973,

SOLAS (Safety Of Life At Sea) 1974, TSPP (Tanker Safety And Pollution

Prevention) 1978, STCW (Standart Training Certficate And

Watchkeeping) 1978 dan ISGOOT (Standart Safety Guide for OIL Tanker

and Termic nal) dapat dilaksankan dengan sebaik-baiknya. Peraturan-

peraturan tersebut juga untuk membantu anak buah kapal maupun

unsur-unsur manajemen di darat yang bergerak dalam bidang

perkapalan. Utamanya kapal tanker untuk lebih memahami maksud,

tujuan dan jenis-jenis peralatan yang digunakan dalam meningkatkan

keselamatan dan pencegahan pencemaran lingkungan hidup di laut,

khususnya yang berkaitan dengan pengoperasian IGS. Hal ini banyak

mengambil pengalaman yang didapatkan ketika melaksankan praktek


3
laut, selain itu melalui observasi langsung dengan studi literature dimana

ditemui banyak hal yang perlu diperhatikan secara lebih detail dan perlu

adanya kajian terhadap pengoperasian IGS yang selama ini telah

dilakukan.

Untuk itu dalam penulisan ini penulis mengambil judul Karya Tulis

llmiah “PROSEDUR PENGOPERASIAN DAN PERAWATAN INERT

GAS SYSTEM (IGS) GUNA MENUNJANG EFESIENSI DAN

KESELAMATAN KERJA DI KAPAL MT.DAMAI SELATAN”. Untuk

mencapai tujuan tersebut maka diperlukan pemahaman secara benar

terhadap IGS secara secara menyeluruh. Sehingga akan tercapai

adanya efesiensi kerja yang dapat menunjang keselamatan jiwa di kapal

serta lingkungan hidup di laut.

B. Rumusan Masalah

Selama melaksankan praktek laut di kapal MT.DAMAI

SELATAN. Pada pengamatan yang dilakukan ditemui adanya

beberapa hal yang belum dipahami secara betul ,mengenai IGS. Dalam

,emcapai tujuan tersebut maka dipandang perlu untuk diadakannya

suatu pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan IGS, serta

pemahaman tentang perawatan dan pengoperasiannya tersebut.

Beberapa permasalahan yang dikemukakan antara lain:

4
1. Apakah pengoperasian IGS di atas kapal sesusai dengan procedure

guide atau manual book yang ada?

2. Apakah perawatan IGS yang dilaksankan di atas kapal telah sesuai

dengan program pemeliharaan yang disarankan dalam buku

panduan?

C. Tujuan Dan Kegunaan Peneletian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk menjelaskan prosedur pengoperasian IGS diharapkan para

anak buah kapal serta para pembaca dapat meahami arti penting

pengoperasian IGS di atas kapal.

2. Untuk menjelaskan pentingnya perawatan IGS untuk

mempertahankan kondisi peralatan yang terdapat pada IGS, sesuai

dengan ketentuan dan prosedur yang sudah ditetapkan, khususnya

di kapal MT.DAMAI SELATAN dan kapal tanker pada umumnya.

Adapun kegunaan peneltian ini dalah:

1. Memberikan tambahan informasi, pengetahuan, pemahaman dan

kecakapan pada awak kapal dalam pengoperasian system gas

lembam serta perawatanyang terencana.

5
2. Memberikikan tambahan pengetahuan khususnya bagi pembaca dan

taruna pada umumnya. Sehingga melalui penelitian ini masalah yang

berkaitan dengan IGS dapat terpecahkan.

D. Metode Penelitian

Penulis melakukan penilitian untuk kepentingan Karya Tulis llmiah

pada kapal MT.DAMAI SELATAN mulai dari tanggal 02 Agustus 2017

sampai tanggal 04 Agustus 2018. Dalam Karya Tulis llmiah ini penulis

menggunakan metode penilitian kualitatif. Menurut meolong (2002:3),

metode kualitatif adalah sebgai prosedur penelitian yang menghasilkan

data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari orang lain dan prilaku

yang diamati. Variable yang penulis gunakan dalam penelitain ni adalah

kegiatan pengoperasian dan perawatan IGS di kapal lain. Menurut

Ridwan (2003:31), data ialah bahan mentah yang perlu diolah sehingga

menghasilkan informasi atau keterangan, baik kualitatif maupun

kauntitatif yang merujukkan fakta. Berdasarkan cara memperolehnya

data-data yang diperoleh selama penulis melakukan penelitain sebagai

pendukung penulisian karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut :

1. Tempat Dan Waktu Penilaian

Penulis melakukan penelitian untuk kepentingan Karya Tulis

llmiah pada kapal MT.DAMAI SELATAN mulai dari tanggal 02 Agustus

2017 mesampai 04 Agustus 2018.

2. Metode Pngumpulan Data

6
a. Reset Lapangan

Dengan mengadakan observasi langsung ke objek

penelitian, yaitu dengan melaksanakan penelitian di MT.DAMAI

SELATAN sehingga data-data yang dikumpulkan sesuai dengan

yang diharapkan. Dengan demikian akan didapatkan data yang

diharapkan. Dengan demikian akan didapatkan data yang diyakini

peniliti adalah sebgai berikut.

1) Metode Observasi

Menurut Riduwan (2003:57), observasinya yaitu melakukan

pengalaman secara langsung ke objek penelitian untuk melihat

dari deket kegiatan yang dilakukan. Dalam hal ini penulis

mengadakan observasi langsung tentang pengoperasian dan

perawatan IGS. Pengmpulan data dengan observasi atau

dengan pengamatan langsung yag dilakukan penulis adalah

dengan cara mengamati pengoperasian dan perawatan di

kapal MT.DAMAI SELATAN. Data-data yang diambil Antara

lain mengenai prosedur-prosedur persiapan debelum

pengoperasian dan ketika pengoperasian, perawatan yang

dilakukan dalam kurun waktu tertentu.

2) Metode Wawancara

Yaitu dengan mengadakan wawancara ataupu Tanya jawab

bebas yang diajukan penulis kepada perwira kapal, terutama

chief officer yang dalam hal ini bertanggung jawab terhadap

7
pengoperasian dan perawatan IGS menurut Moleong

(2002:135), wawancara adlah suatu cara pengumpulan data

yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari

sumbernya. Wawancara sebagai alat pengumpulan data,

menghendaki adanya komnuikasi langsung Antara peniliti

dengan objek penelitian. Lembar wawancara dalam Karya Tulis

llmiah ini terlampir pada lembar lampiran.

b. Studi Pustaka

Yaitu pengumpulan data dengan cara membaca buku-

buku yang berkaitan dengan maslah yang diteliti. Buku-buku yang

penulis baca sebagai bahan referensi yang mendukung Karya

Tulis llmiah ini adalah buku-buku yang ada diperpustakaan

POLITEHNIK MARITIM AMI MAKASSAR dan buku-buku

referensi lainya.

3. Jenis Dan Sumber Data

Menurut riduwan (2003:31), data ialah bahan mentah yang

perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan

baik kualitatif maupun kuantitatif yang menunjukkan fakta

berdasarkan cara memperolehnya, data-data yang dilampirkan

selama penulis mengadakan penelitian sebagai pendukung

penulisan Karya Tulis llmiah ini adalah sebagai berikut.

a. Data primer

8
Data primer adalah data yang dikumpulkan dan diolah sendri

oleh peneliti langsung dari responden yang kemudian diamati

dan dicabut untuk pertama kali. Data tersebut menjadi data

sekunder jika digunakan orang yang tidak berhubungan

khusus dengan penelitian.

b. Data sekunder adalah data yang pengumpulannya bukan

diusahaakan sendiri oleh penulis. Jadi data sekunder dapat

diartikan sebagai data yang berasal dari tangan kedua atau.

Tangan ke tiga.

c. Riset Lapangan

Dengan mengadakan observsi langsung ke objek penelitian,

yaitu dengan melaksankan penelitaian di MT.DAMAI

SELATAN sehingga data yang diyakini kebenarannya.

9
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Sebelum kita melangkah lebih jauh dalam Karya Tulis llmiah ini,

penulis akan mengupas lebih rinci dari judul yang telah dipilih. Hal ini

sangat diperlukan mengingat luasnya cakupan kegiatan

pengopaerasian dari Inert Gas System (IGS) itu sendiri. Pemahaman

terhadap arti dari judul Karya Tulis llmiah ini harus dapat dipahami betul,

sehingga nantinya kita bisa mengetahui insitsari dari pokok bahasan

yang terdapat didalamnya. Agar tujuan terbuat dapat tercapai maka

pengkajian secara lingustik sangatlah mutlak hal ini didasarkan pada

tata Bahasa baku Indonesia yang ada.

1. Prosedur menurut Ida Nuraida (2008:35)

“prosedur adalah serangkaian aksi yang spesifik, tindakan atau


operasi yang harus dijalankan atau dieksekusi dengan cara
yang baku (sama) agar selalu memperoleh hasil yang sama
dari keadaan yang sama, semisal prosedur kesehatan dan
keselamatan kerja, Prsedur Masuk Sekolah, Prosedur
berangkat sekolah, dan sebagainya. Lebih tepatnya kata ini
bisa mengindikasikan rangkaian aktivitas, tugas-tugas,

10
langkah-langkah, keputusan-keputusan, perhitungan-
perhitungan dan proses-proses, yang dijalankan melalui
serangkaian pekerjaan yang menghasilkan suatu tujuan yang
diinginkan, suatu produk atau sebuah akibat. Sebuah prosedur
biasanya mengakibatkan sebuah perubahan”.

2. Pengoperasian Menurut Chear (2003:102).

“peggoperasian adalah suatu rangkaian proses dan cara


mengoperasikan suatu alat ataupun system secara baik. Disini
dapat diambil suatu kesimpulan bahwasanya suatu proses
pengoperasian adalah proses perbuatan atau tindakan
mempergunakan suatu alat secara baik dan prosedural untuk
mendapatkan suatu hasil yang diinginkan”.

3. Perawatan Menurut Tim Penysun Kamus Pusat Pembinaan dan

Pembangunan Bahasa Indonesia (1995:882).

“perawatan adalah suatu proses perbuatan atau cara merawat,


penyelenggaraan pemiliharaan. Hal ini memiliki pengertian
bahwasanya perawatan merupakan suatu proses yang
dilakukan untu memelihara suatu alat sehingga alat tersebut
dapat digunakan dengan baik”.

4. Inert gas menurut Wursanto 1987:19).

“Inert gas adalah suatu gas atau campuran bermacam-macam


gas yang dapat mempertahankan kadar oksigen dalam
prosentase rendah sehingga dapat mencegah terjadinya
ledakan atau kebakaran”.

Kondisi ini artinya suatu kondisi dimana kadar oksigen pada tangki

dipertahankan dalam keadaan 8% atau kurang dibandingkan dengan

jumlah folume gas yang ada pada atmosfer tangki tersebut Sistem

gas inert adalah suatu susunan gas inert yang terdidri dari pesawat
11
pembuuat gas inert beserta sistem distribusinya dilengkapi dengan

peralatan untuk mencegah aliran balik dari gas tersebut ke kamar

mesin, dilengkapi pula dengan alat pengukur yang dipindah.

Inerting artinya memasukkan gas inert ke dalam tangkai agar terjadi

kondisi inert. Purging artinya memasukkan gas inert ke dalam tangki

inert dimana tangki tersebut telah ada dalam kondisi inerrt, agar

terjadi pengurangan kadar oksigen sehingga apabila tangki tersebut

kemasukka udara segar tidak terjadi peledakkan. Gas freeing artinya

memasukkan udara segar ke dalam tangki dengan maksud

menghilangkan gas beracun”

5. efisiensi menurut Ipendi (2000:33)

“Efesiensi adalah penggunaan sumber daya secara minimum


guna pencapaian hasil yang optimum. Efisiensi menganggap
bahwa tujuan-tujuan yang benar telah ditentukan dan berusaha
untuk mencari cara-cara yang paling baik untuk mencapai
tujuan-tujuan tersebut. Efisiensi hanya dapat dievaluasi dengan
penilaian-penilaian relatif, membandingkan antara masukan dan
keluaran yang diterima”.

6. Pengertian keselamatan Kerja menurut Hasna (1998:12)

“Keselamatan kerja adalah Suatu upaya untuk


mempertahankan dan meningkatkan derajat
kesejahtaraan fisik,mental dan social yang setinggi-tingginya
bagi pekerja.
pen!egahan penyimpangan kesehatan diantara pekerja yang di
sebabkan oleh kondisi pekerjaan, perlindungan pekerja dalam p
ekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan,
penempatan dan pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan
kerja yang diadaptasikan dengan kapabilitas fisiologi dan

12
psikologi, dan diringkaskan sebagai adaptasi pekerjaan
kepada manusia dan setiap manusia kepada jabatannya”.

Dari beberapa pengertian diatas tentang pengoperasian dan

perawatan IGS itu, kita bisa dapatkan penjelasan bahwasanya

suatu system gas lembam dapat bekerja sesuai dengan fungsinya

apabila kita bisa melaksanaka suatu pengoerasian dengan cara

yang baik dan benar sesuai prosedur. Kita bisa menguasai system

gas lembam itu sendri secara keseluruhan dengan cara

familiarisasi dengan alat tersbut dengan baik dan benar. Dan juga

melakuka perawatan terhadap alat-alat yang terdapat system

tersebut shingga pengoperasian itu sendiri dapat benar-benar

terjadi tanpa ada suatu kendala atau hambatan yang nantinya

berdampak pada efesiensi kerja. Selain itu hal tersebut diatas dapat

juga dengan cara menggali informasi lebih dalam melalui

pengalaman yang telah ada untuk mengatasi terjadinya suatu

ledakan yang daopat menimbulkan banyak koraban jiwa manusia

dan muatannya serta dilingkungan disekitarnya.

Berdasarkan observasi dan juga penangan control muatan

dengan menggunakan system gas lembam ini tidak dilaksankan

sesuai dengan prosedur yang ada. Kenyataan yang terjadi pada

penggoperasian dan perawatan dilaksankan dengan system atau

cara penggabungan Antara teori dan praktek pengalaman masing-

masing personil awak kapal.

13
BAB III

GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

A. Sejarah Singkat PT. Alra Bahtera Samudera

Pt. Alra Bahtera Samudera merupakan suatu perushaan

pelayaran yang berdiri sejak 2009. Pendiri PT. Alra Bahtera Samudera

merupakan salah satu pengusaha asal Jakarta yang juga memiliki

beberapa yayasan kemanusiaan. Terletak di Jakarta utara, PT. Alra

Bahtera Samudera merupakan salah satu perushaan bunker service

swasta yang diperhitungkan di Tanjung Priok. Nama PT. Alra Bahtera

Samudera berasal dari anak prempuan sang pemilik perushaan.

Hingga sekarang PT. Alra Bahtera Samudera memiliki beberapa

cabang kantor yang tersebar di beberapa daerah di kota Jakarta.

B. KAPAL MT.DAMAI SELATAN

14
MT.DAMAI SELATAN merupakan kapal yang dibuat di

Yamamaka/ Japan pada tahun 1993 yang terbuat dari stainlish dan

baja. Kapal ini merupakan salah satu armada yang dioperasikan oleh

PT.Alra Bahtera Samudera yang berkantor di Jakarta. Adapun data

kapal tersebut sebgai berikut:

1. Ship Particular

Nama Kapal : MT.DAMAI SELATAN

Perushaan : PT.Alra Bahtera Samudera

Kebangsaan : Indonesia

Call Sign : P.N.X.V

Nomor IMO : 9053969

Jenis Kapal : Tanker Oil

Buatan : Japan

Klasifikasi : BKI

Gross Tonnage : 1580 Tons

Net Tonnage : 740 Tons

Length Over All : 78,50 M

15
Breath Moulded : 13 M

Depth Moulded : 7,50 M

Draught Summer : 4.10 M

Main Engine : HANSIN DIESEL1000 PS

Auxiliary Engine : Yanmar S165LT (300 PK

2. Struktur Organisasi Kerja di Kapal MT.DAMAI SELATAN

NAHKODA

TOP MANAGEMENT

MANAGMENT
MUALLLIM-I KKM

MUALLIM-II MASININS-I
OPERRATIONAL LEVEL

KOKI

BONSUN MANDOR

JURU MUDI SUPPORTING LEVEL OILER

CADET DECK CADET ENG


16
C. Pengoperasian Dan Perawatan Inert Gas System (IGS) Guna

Menunjang Efesiensi Dan Keselamatan Kerja Di Kapal MT Damai

Selatan.

Sebagaimana prinsip dari IGS adalah untk menurunkan dan

mempertahankan kadar oksigen yang rendah dalam tangki sehingga

tidak memungkinkan timbulnya kebakaran atau ledakan. Sehingga

pengoperasian terhadap alat tersebut mutlak untuk dilakukan guna

menunjang efesiensi dan keselamatan kerja, disamping

pengoperasiannya hal penting yang juga perlu diperhatikan adalah

perawatan peralatan dari system tersebut. Perawatan disni bertujuan

untuk senantiasa menjaga kondisi dari system tersebut supaya dalam

keadaan yang bagus dan siap dipakai serta dapat menghasilkan gas

inert yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar oksigen didalam

tanki muatan.

Dan penjelasan diatas dan menurut Batti (1983:20) pemasangan

Inert Gas System pada kapal tanker bertujuan.

1. Untuk mengontrol atmosfer dalam tangki muatan guna mencegah

bahaya ledakan dan kebakaran.

2. Untuk melindungi kapal, instalasi-instalasi di darat dan di pelabuhan

serta orang-orang yang mengoperasikan kapal dan instalasi-instalasi

tersebut.

17
3. Membantu memperlancar pembongkaran muatan karena dengan

adanya tekanan positif dari system gas lembam (IGS) dalam tangki

muatan di pelabuhan.

Dari ketiga hal diatas maka perlu diadakannya suatu

pengoperasiannya dan perawatan yang sistematis, seperti yang telah

dikemukakan di depan pengertian dari sistematis yaitu memakai system

dengan cara yang diatur secara baik. Hal ini tersebut mendasari

penulisan ini untuk menggunakan pelaksanaan pengoperasian dan

perawatan dalam suatu penulisan dengan mempertimbangkan

beberapa hal sebgai berikut:

1. Pengoperasian dan perawatan IGS.

2. Pengoperasian yang prosedurul dan perawatan secara berkala.

3. Pelaksanaan pengoperasian dan perawatan IGS di kapal.

4. Pemahaman terhadap pengoperasian dan perawatan.

Bagian di bawah ini mendasari kerangka pemikiran penulisan ini.

Pengoperasian dan
perawatan IGS

Pengoperasian Pelaksanaan
yang procedural pengoperasian
dan perawatan dan perawatan
secara priodik IGS di kapal

18
D. Tugas Dan Tanggung Jawab

1. Nahkoda

Nahkoda adalah sebagai pimpinan tertinggi dikapal,

pemegang kewibawaan di kapal, jaksa atau pegawai kepolisian,

pegawai sipil dan notaris.

a. Nahkoda mempunyai kekuasaan mutlak di atas kapal untuk

pengoperasian kappal di laut dan di pelabuhan. Berdasarkan

undang-undang terhadap semua orang yang berada di atas

kapal.

b. Nahkoda mempunyai jawab penuh atas operasional kapal baik

dari segi stabilitas maupun navigasi, dimana ia memberikan

19
perintah kepada muatan apabila air ballast dibuang atau dimuat

untuk menstabilkan kapal

c. Nahkoda mempunyai hak dan tanggung jawab penuh secara

keseluruhan dalam penerapan, pelaksanaan system manejemen

keselamatan (ISM Code)

d. Nahkoda bertanggung jawab penuh atas keselamatn kapal,

personil da kapal dan untuk pencegahan polusi menurut standar

yang diisyaratkan oleh perushaan dari kapal yang aman,

kelaikan laut, efesiensi dan pengoperasian kapal secara

ekonomis dan lain-lain.

e. Melaksanakan kebijakan perushaan dalam bideang

keselamatan dan lindungan, memotivasi awak kapal agar selalu

memperhatikan dan mematuhi ketentuan sesuai prosedur

secara jeals dan mudah.

f. Memeriksa dan memastikan agar persyaratan ditentukan dalam

system manjemen keselamatan diperhatikan kekurangannya

DPA.

g. Mengikuti prosedur perushaan dengan tugas saat terjadi polusi

atau kerusakan pada pihak ketiga atau struktur kapal.

h. Mengdakan familiarisasi terhadap semua perwira dan rating

membuat inspeksi harian pada semua bagian kapal dengan

perhatian khusus pada daerah umum, ruang permesinan, kabin,

untuk memastikan standar yang tetap terpelihara.

20
2. Mualim I

Mualim I adalah kepala departemen deck dan sebagai perwira

pengganti apabila nahkoda berhalangan dan bertindak sebgai

pengawas langsung setiap pekerjaan di bagian deck yang sifatnya

sangat berbahaya. Tanggung jawab muallim I

a. Sebagai penanggung jawab penuh pada muatan dan

pembongkaran cargo maupun air ballast.

b. Menyelenggarakan tugas jaga navigasi

c. Admnistrasi, pengawasan operasi yang aman dan ekonomis dan

perlengkapan di deck departemen, pemeliharaan semua

ruangan dan perlengkapan dibawah tanggung jawabnya.

Ketepatan waktu dalam mempersiapkan semua ruangan serta

mengadakan pencatatan secara teliti yang benar.

d. Menyelenggarakan buku harian deck, buku olah gerak. Buku

catatan minyak, dan buku catatan lainnya, yang ada kaitannya

dengan departemen deck dengan baik dan benar.

e. Memeriksa dan mengawasi kegiatan bongkar muatan.

f. Sebagai perwira pencegah bekerja sama dengan masinis I untuk

menjamin kondisi kerja yang aman di atas kapal dan mengawasi

semua tingkat pekerjaan khususnya yang berhubungan dengan

kegiatan di deck agar dilaksanakan dengan aman sesuai dengan

kecakapan pelaut yang baik.

21
g. Melaksanakan inspeksi yang dianggap perlu atau yang

diperintahkan oleh Nahkoda.

h. Mengawasi pelatihan cadet deck.

3. Mualim II

Muallim II sebgai Perwira navigasi diatas kapal dan pengganti

Muallim I apabila berhalangan. Adapun tanggnug jawabnya adalah

a. Menentukan posisi kapal dengan tepat dan menghitung

perhitungan navigasi setiap hari ketika sedang berlayar dan

melaporkan hasil kepada Nahkoda.

b. Menghitung pelayaran statistic terakhir dan melaporkan kepada

Nahkoda. Membantu Mualim I dalam menangani penanganan

yang bersifat umum.

c. Sebelum meninggalkan pelabuhan memeriksa steering grear,

dan memberikan perintah kepada anak buah kapal di buritan.

d. Memeriksa dan merawat peta dan semua publikasi nautika,

merawat dokumen navigasi, chanel, kedaan cuaca, dan

mengumpulkan informasi navigasi lainnya.

e. Mempersiapkan obat-obatan untuk kru kapal.

4. Boatswain

Tugas dan tangung jawab bosun adalh sebagai Kepala kerja

bawahan dan melaksanakan tugas yang diberikan oleh Mualim I

22
baik secara langsung maupun melalui perwira jaga. Tugas serang

mencakup hal – hal sebagai berikut :

a. Sebagai kepala kerja ABK dek, memimpin / mengarahkan ABK

dek, mengambil inisiatif kerja.

b. Membagi tugas – tugas kepada ABK dengan baik setelah

menerima perintah dari mualim I.

c. Ronda dengan teratur, memelihara semua hal yang menjadi

tanggung jawabnya dan melaporkannya pada Nahkoda.

d. Memelihara alat kerja yang berada dibawah tanggung

jawabnya.

e. Menerima, mengelola dan merancang pemakaian store dengan

ekonomis.

f. Melaksanakan tugas – tugas yang sehubungan dengan

reparasi/ perbaikan di kapal.

g. Mencatat pekerjaan – pekerjaan yang telah dilakukan oleh

bagian dek.

h. Mengoperasikan dan memelihara pompa – pompa dan alat –

alat bongkar muat, ventilator kedap air dan lobang –

lobang lainnya dan alat – alat berlabuh jangkar.

i. Mengelola penerimaan air tawar.

j. Melakukan ballasting dan de ballasting, segera setelah

penerimaan instruksi Mualim I.

23
5. AB (Able Bodied)

Tugas-tugasnya sebagai berikut:

a. Melaksanakan tugas jaga dianjungan, jaga tangga ( gangway )

pegang kemudi dan pengintaian ( look-out )

b. Menyiapkan bendera – bendera, alat pemadam di dek dan

perlengkapan lainnya seperti yang diperintahkan oleh mualim

jaga.

c. Menjaga kebersihan anjungan dan gangway, menunaikan

perintah dari perwira dek yang bertugas sewaktu perawatan

kapal atau penggunaan alat–alat navigasi, dan peralatan

anjungan lainnya.

d. Membimbing kelasi.

6. Kepala Kamar Mesin

a. Bertanggung jawab terhadap keamanan efesinsi operasional

kapal dan pemeliharan semua mesin yang dioperasikan dan

cadangan/standby.

b. Pemeliharaan dan pencatatan sesuai dengan persyaratan dan

prosedur perusahaan.

c. Memastikan perundang-undangan dan class survei yang

dilakukan pada semua mesin dan pealatannya.

24
d. Memastikan bahwa buku catatan minyak (yang diperlukan flag

state) dan buku harian mesin akurat dan up-to-date.

e. Memastikan bahwa suku cadang mesin, elektrik tersedia dan

cukup.

f. Pengoperasian sistem CO2 instalasi.

g. Pemeliharaan peralatan penting.

h. Pelatihan awak kapal.

i. Sistem pompa got dan siste pompa ballast.

j. Peralatan hidrolik dan listrik dari semua dek dan mesin

department.

k. Sistem pemisah air berminyak.

l. Pengisian bahan bakar.

m. Mempertahankan dan mengisi semua dokumen dan laporan

yang terkait dengan departement mesin.

n. Memastikan bahwa minyak atau campuran minyak tidak pernah

dibuang ke laut.

7. Masinis I

a. Membantu kepala kamar mesin, menerima perintah, memipin

dan mengawasi bawahan, memastikan pengoperasian

perawatan mesin dan peralatan dibawah tanggung jwab engine

department, dan memastikan seluruh personil dalam

25
departemennya mengerti semua perintah, peraturan, dan

pemberitahuan.

b. Mengoperasikan dan menjaga mesin utama dan peralatan

jangkar, seperti jag laut dan jaga jangkar.

c. Segera melapor ke Nahkoda setelah menemukan kekurangan

atas mesin atau peralatan dibawah tanggung jawabnya.

d. Mengelola minyak pelumas dan memantau penerimaannya.

8. Oiler

a. Melakukan tugas jaga laut dan jaga jangkar, dan mengikuti

perintah perwira mesin yang bertugas.

b. Membiasakan diri dengan penanganan berbagai macam mesin

dan peralatan dibwah tanggung jawabnya dan membuat

pengaturan tangki dan katup pipa, srta mengawasi dan merawat

peralatan tersebut.

c. Membisakan diri dengan mesin dan peralatan yang

dipercayakan sebgai tugasnya oleh perwira mesin yang

bertugas.

26
27
BAB IV

PEMBAHASAN DAN PEMECAHAN MASALAH

A. Jalannya penanganan pengoperasian IGS di kapal MT.DAMAI

SELATAN. Berdasarkan atas data yang ada dan referensi lain serta dari

pengalaman yang didapat oleh penulis selama melaksankan praktek

laut di atas kapal MT.DAMAI SELATAN didapatkan bahwa

pengoperasian dan perawatan Inert Gas System dengan baik dan

benar oleh anak buah kapal masih kurang sistematis. Dimana

pengoperasian suatu alat ataupun sistem secara baik, serta

memelihara alat-alat tersebut dengan berkesinambungan. Jadi dengan

mengetahui peralatan, cara pengoperasian dan perawatan yang

terdapat dalam IGS dengan benar dan sistematis maka bahaya-bahaya

akan dapat dicegah. Kurangnya pengetahuan awak kapal dealam

pengoperasian dan perawatan IGS yang mengakibatkan tidak

berfungsinya sistem dengan baik. Untuk itu diperlukan tenaga operator

yang ahli dan berpengalaman, serta perawatan yang baik secara

berkala. Karena dengan perawatan yang baik dan rutin maka peralatan

IGS ini dapat dipakai dalam jangka waktu yang lama serta terhindar dari

kerusakan yang lebih parah yang dapat menggangu operasional kapal.

B. Pelaksanaan perawatan IGS tidak sesuai dengan program

pemeliharaan yang disarankan sehingga tidak berjalan sistematis.Tidak

28
sistematisnya perawatan IGS disebabkan banyak hal, namun disini

penulis mengamati beberapa hal yang mencolok mengenai tidak

sistematisnya perawatan IGS di kapal dikarenakan perawatan yang

dijalankan tidak berdasarkan pada program pemeliharaan yang

disarankan dalam manual instruction ataupun buku petunjuk lainnya

dan juga pengoperasian dan perawatannya yang hanya dilakukan oleh

anak buah kapal tidak tertarik untuk mengetahui lebih banyak terhadap

alat ini. Pada kapal-kapal tanker yang walaupun sudah dilengkapi

dengan IGS, tidak menjamin sepenuhnya bahwa dikapal-kapal tersebut

tidak akan muncul bahaya kebakaran ataupun ledakan. Untuk itu pada

kapal-kapal tanker yang dilengkapi dengan IGS umumnya bersedia

buku petunjuk pelajaran lengkap (manual instruction book) yang sesuai

dengan penataannya haruslah benar-benar dipelajari dan diketahui

oleh seluruh anak buah kapal. Disamping itu perlu adanya alternative

pemecahan terhadap maslah tersebut Antara lain:

a. Dalam pengoperasian dan perawatannya IGS haruslah

berdasarkan prosedur yang berlaku sesuai dengan Inert Gas

System Procedure Guide dan atau Manual Instruction Book

sehingga didpatkan hasil dari pengoperasian IGS yang maksimal

dengan tujuan keselamatan kapal, anak buah kapal, dan

lingkunagan disekitarnya tidak terancam.

b. Kepada perwira senior sebagai safety officer harus bertanggung

jawab untuk memberikan bimbingan dan pengetahuan yang cukup

kepada anak buah kapal melalui program pengenalan kapal (ship

29
familirization programe), kepada anak buah kapal yang belum

mengerti tentang kegiatan operasional kapal utamanya yang

menyangkut IGS khusus kepada anak buah kapal yang baru saja

naik (sign on) dalam hal ini termasuk memberikan informasi cara

pengoperasian IGS.

c. Perwira senior baik itu bagian deck ataupun mesin harus dapat

menerapkan manajemen yang baik dalam memimpin anak buah

kapal tentang pengoperasian dan perawatan IGS. Dapun fungsi

dari manajemen tersebut antara lain.

1) Pencemaran (planning)

2) Pengoperasian (organizing)

3) Pengarahan (actuating)

4) Pengawasan (controlling)

d. Hendaknya perusahaan pelayaran dapat menanggulangi segala

kekurangan dari karyawan lautnya, terutama menyangkut masalah

pengembangan pendidikan untuk mengantisipasi laju

perkembangan tekhnologi sehingga dalam merekrut dan menerima

anak buah kapal haruslah yang selektif, berkualitas dan

berpengalaman.

e. Dari bebrapa alternative pemechan masalah diatas kapal maka

dapat kita tarik kesimpulan tentang kurangnya perawatan IGS.

30
31
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pengoperasian dan perawatan Inert Gas System (IGS) tidak berjalan

sistematis. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan prosedur

pengoperasian dan perawatan di atas kapal dengan prosedur

pengoperasian dan perawatan yang terdapat pada manual instruction

book ataupun procedure guide yang ada.

2. Yang menyebabkan pengoperasian dan perawatan IGS tidak

sistematis dikarenakan kurangnya pengetahuan awak kapal terhdap

peralatan yang ada, fungsi dari masing-masing alat tersebut, cara

kerja dan pemeliharaan terhadap peralatan yang ada.

3. Pemahaman dan pengetahuan yang kurang dari anak buah kapal

tentang IGS akan menebabkan terancamnya keselamatan kapal,

muatan dan lingkungan sekitarnya.

B. SARAN

1. Dengan adanya perbedaan yang terjadi antara pengoperasian dan

perawatan yang ada di atas kapl dengan yang ada pada manual

instruction dan procedure guide, maka sebaiknya pola

pengoperasian dan perawatan harus benar-benar mengikuti

32
petunjuk-petunjuk yang ada sehingga dapat dipergunakan dengan

baik pada saat diperlukan.

2. Untuk meningkatkan pengetahuan dan ABK, hendaknya seluruh

pelaut terutama perwira dan ABK di kapal-kapal tanker mengetahui

dan memahami peralatan Inert Gas System, prisnsip kerja dan fungsi

dari masing-masing peraltan, sebgai salah satu alat keselamatan

yang sangat penting di kapal-kapal tanker. Yang tidak kalah penting

dalam hal ini adalah diadakannya suatu pelatihan keselamatan kerja.

Disamping itu setiap kapal harus disediakan operation manual dari

IGS yang digunakan dan penerangan-penerangan melalui film-film

mengenai pendidikan dan pelatihan dari video tape, yang

menggambarkan semua aspek dari cara-cara pengoperasian dan

perawatan Inert Gas System.

3. Dengan mngadakan pengontrolan, pemeliharaan dan

perawatanyang rutin pada sistem gas lembam (IGS) ini serta adanya

pengetahuan melalui informasi yang berkelanjutan terutama melalui

latihan terhadap personil / awak kapal yang terlibat dalam kegiatan

ini akan dapat menjamin efesiensi dan keselamatan kerja.

33
34
DAFTAR PUSTAKA

Badan Diklat Perhubungan, 2000, Inert Gas System, Oil Tanker Training

Modul-3. Jakrta: Badan Diklat Perhubungan, Dephub.

Batti, Pieter.1983. Inert Gas System dan Crude Oil Washing, Jakarta: PT.

Cagara Budaya Teknik.

Chaer, Abdul. 2003. Tata Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: BAlai Pustaka

Departemen Pendidikan Kebudayaan.

Hadi, Sutrisno, 2000. Metodologi Research Kualitatif, Bandung : PT.Remaja

Rosdakarya.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Indonesia 1995. Kamus Bahasa Indonesia, edisi Ketiga. Jakrta: Balai

Pustaka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,

Suryabrata, sumadi. 2003,Metodologi Penelitian Jakarta: PT. Raja Grafindo

persada.

35