Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

Disusun oleh:
Haya Harareed
1102013125

Pembimbing :
Dr. Esther Sinsuw Sp.KJ

Kepaniteraan Klinik Ilmu Jiwa


Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
Rumah Sakit Bhayangkara Tk.I R.S.Sukanto-Jakarta
BAB I
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. JTC


Umur : 23 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Tempat, tanggal lahir : Jakrta, 17 Juli 1995
Agama : Protestan
Suku : Jawa
Pendidikan terakhir : SMA
Status pernikahan : Belum menikah
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : PD Timur Mas blok H3 No.25, Bekasi
Tanggal pemeriksaan : 26 April 2018

II. RIWAYAT PSIKIATRI

i. Autoanamnesis : Pada tanggal 26 April 2018 di Poli Jiwa RS POLRI

B. Keluhan Utama

Pasien diantar keluarga ke Poli Jiwa karena kecanduan obat-obatan psikoaktif.

C. Keluhan Tambahan

Kesulitan tidur
D. Riwayat Gangguan Sekarang

Pasien datang ke Poli Jiwa RS Polri pada tanggal 26 April 2018 diantar oleh
ibunya karena ketergantungan obat-obatan (narkoba). Pasien mengaku terakhir
mengkonsumsi alprazolam 1mg tanggal 16 April 2018. Pasien paling sering
mengkonsumsi alprazolam akhir-akhir ini, sekali konsumsi pasien dapat meminum
empat hingga lima tablet Alprazolam 1 mg. Pasien mengatakan mengkonsumsi zat
psikoaktif untuk meningkatkan kepercayaan diri, mendapatkan efek mabuk dan
membantu untuk tidur. Biasanya pasien mengkonsumsi zat psikoaktif saat akan tampil
di depan umum dan saat sedang membuat project. Selama tidak mengkonsumsi obat
tersebut pasien mengeluhkan kehilangan semangat, menjadi tidak kreatif, kesulitan
berfikir, sulit tidur, serta tremor.
D. Riwayat Gangguan Dahulu
1. Gangguan Psikiatrik

Tidak ada.

2. Gangguan Medik

Riwayat overdosis obat-obatan tahun 2013 dan 2015.


3. Gangguan Zat Psikoaktif dan Alkohol

Pasien meliliki riwayat konsumsi rokok, alkohol dan obat-obatan (haloperidol,


dumolid, esilgan, riclona,LSD). Awalnya pasien pernah mencoba rokok dan jamu
intisari saat SD. Sejak saat itu korban menjadi perokok aktif. Saat SMP korban biasa
merokok dua hingga tiga bungkus perhari serta mengkonsumsi minuman anggur merah,
anggur putih serta jamu-jamu untuk mabuk. Pasien mengkonsumsi tramadol saat kelas
8 SMP karena ajakan teman. Dalam sehari pasien bisa mengkonsumsi empat hingga
lima butir Tramadol 1 mg. Sewaktu kelas 9 pasien mulai mengkonsusmsi Dumolid.
Saat SMA pasien biasa merokok satu bungkus perhari dan pernah mencoba
mengkonsumsi sabu sebanyak empat kali.

Pada tahun 2013 pasien sempat overdosis karena mengkonsumsi haloperidol


dan mendapat perawatan di RS Global. Pada tahun 2014 pasien sempat berhenti total
menggunakan obat-obatan selama enam bulan karena ingin masuk sekolah pilot, tetapi
karena tidak jadi masuk sekolah pilot pasien kembali mengkonsumsi obat-obatan
tersebut. Selanjutnya, pada tahun 2015 pasien mulai kuliah dan suka mengkonsumsi
vodka dan whiskey. Pasien kembali mengalami overdosis karena meminum alprazolam
1 mg (10 tablet), Riclona 2 mg (8 tablet), dan dumolid 5 mg (4 tablet), hal tersebut
dilakukan karena pasien merasa dosis yang digunakan dirasa tidak cukup. Saat kejadian
tersebut pasien mendapat perawatan di RSAL Mintohardjo. Sejak tahun 2015 pasien
mulai mengeluhkan kesulitan dalam berpikir, tremor, serta hilang semangat apabila
tidak mengkonsumsi obat-obatan. Pada tahun 2017-2018 pasien rutin mengkonsumsi
LSD 7 mg seminggu sekali. Sejak pasien kuliah semester lima, pasien mengaku mulai
mengurangi rokok menjadi satu bungkus untuk dua hari serta mengurangi minum-
minum alcohol karena ia merasa lebih emosional apabila sering mabuk.

Pasien mengaku hubungannya dengan keluarga baik. Orang tua pasien kerap
bertengkar perihal kenakalan yang dilakukan pasien, namun ibu pasien selalu membela
pasien. Hubungan pasien dengan ibunya dekat. Pasien cukup dekat dengan kakak
pertama korban, namun jarang berkomunikasi dengan kakak keduanya. Kakak pertama
pasien adalah pengguna ganja.

E. Riwayat Kehidupan Pribadi

Riwayat Perkembangan Pribadi

a. Masa prenatal dan perinatal

Pasien lahir di Jakarta pada tanggal 17 Juli 1995. Kehamilan selama 9 bulan dan
persalinan secara section caesaria ditolong oleh dokter spesialis kandungan.
Kondisi kesehatan ibu secara fisik baik selama kehamilan.
b. Riwayat masa kanak awal (0-3 tahun)

Pasien diasuh oleh kedua orangtuanya. Selama masa ini, proses perkembangan
dan pertumbuhan sesuai dengan anak sebaya. Pasien tidak pernah mendapat
sakit berat, demam tinggi, kejang ataupun trauma kepala. Pasien tidak pernah
mengalami kesulitan dalam pemberian makanan. Tidak ada kelainan prilaku
yang menonjol.

c. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)

Masa ini dilalui dengan baik, tumbuh kembang baik dan normal seperti anak
seusianya. Pasien tergolong anak yang hiperaktif. Pasien sempat dibawa
ibunya konsultasi ke psikolog dan dianjurkan untuk melakukan aktivitas
menggambar.

d. Masa kanak akhir dan remaja (12-18 tahun)


Pasien tumbuh dan kembang seperti anak lainnya. Prestasi pasien disekolah
kurang baik dan pernah tinggal kelas.

e. Masa dewasa (>18 tahun)

Pergaulan pasien baik dengan keluarga maupun teman-teman dan lingkungan


sekitar.

Riwayat Pendidikan

a. SD : Pasien menyelesaikan pendidikan SD pernah tinggal kelas.

b. SMP : Pasien menyelesaikan pendidikan SMP pernah tinggal kelas.


c. SMA : Pasien menyelesaikan pendidikan SMA dengan Paket C.

d. Kuliah : Pasien kuliah di LSPR jurusan broadcasting saat ini semester 5.

Riwayat Pekerjaan

Pasien mengaku pernah bekerja di production house sebagai cameraman,


audioman, talent sejak tahun 2013-2017. Serta bekerja sebagai marketing barber
shop tahun 2017.

Kehidupan Beragama

Pasien seorang penganut agama Protestan dan baik dalam menjalankan ibadah.
Rutin ke ibadah Minggu sebulan dua kali.

Kehidupan Sosial dan Perkawinan

Pasien pandai bergaul dan kehidupan sosial pasien baik. Pasien belum pernah
menikah.
Riwayat Pelanggaran Hukum

Pada tanggal 17 April 2018 pasien ditangkap oleh polisi atas kepemilikan obat-
obatan psikoaktif.

F. Riwayat Keluarga

Pasien saat kecil tinggal bersama orang tua pasien. Pasien adalah anak ketiga dari tiga
bersaudara. Pasien belum menikah Pasien saat ini tinggal bersama orang tua serta
kakak-kakak pasien. Hubungan pasien dengan bapak kandung, ibu kandung, dan kakak
pasien tidak ada masalah. Namun pasien mengatakan bahwa dirinya jarang
berkomunikasi dengan kakaknya yang kedua. Kakak pertama pasien adalah pengguna
ganja.

Genogram

G. Persepsi Pasien tentang Diri dan Kehidupannya

Pasien menyadari bahwa pasien melakukan perbuatan yang salah, pasien mengaku
ingin lepas dari ketergantungan obat-obatan psikoaktif.

H. Impian, Fantasi, dan Cita-cita Pasien

Pasien mengatakan ingin lepas dari ketergantungan obat-obatan.

III. STATUS MENTAL

A. DESKRIPSI UMUM

1. Penampilan

Pasien laki-laki berumur 23 tahun dengan penampakan fisik sesuai dengan usianya.
Kulit berwarna putih, pasien memiliki rambut hitam ikal pendek. Pada saat
wawancara, pasien berpakaian rapi dan bersih. Pasien dapat merawat diri dan
menjaga kebersihan cukup baik.
2. Kesadaran
Kesadaran neurologic: Compos Mentis
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor
a) Sebelum wawancara: pasien tampak tenang dan sedang berbicara pada
ibunya
b) Saat wawancara: pasien tampak tenang, dapat menjawab pertanyaan
dengan spontan dan jawaban yang diberikan sesuai dengan pertanyaan
yang diberikan
c) Setelah wawancara: pasien tampak tenang dan kembali berbicara dengan
ibunya.
4. Sikap terhadap pemeriksa

Selama wawancara pasien menunjukkan sikap kooperatif dalam menjawab


pertanyaan dari pemeriksa.
5. Pembicaraan
Pasien dapat berbicara menceritakan kehidupan pasien secara spontan, lancar dan
artikulasi jelas.

B. ALAM PERASAAN (EMOSI)


1. Suasana perasaan (mood) : Eutimia (saat pemeriksaan)

2. Afek ekspresi : Luas (saat pemeriksaan)

C. GANGGUAN PERSEPSI
1. Halusinasi : Tidak ada

2. Ilusi : Tidak ada

3. Depersonalisasi : Tidak ada


4. Derealisasi : Tidak ada
D. SENSORIUM DAN KOGNITIF (FUNGSI INTELEKTUAL)

1. Taraf pendidikan : S-1

2. Pengetahuan umum : Baik

3. Kecerdasan : Baik

4. Konsentrasi : Baik

5. Orientasi
a. Waktu : Baik (Pasien dapat menyebutkan pemeriksaan pada pagi hari)
b. Tempat : Baik (Pasien tahu sekarang berada di rumah sakit)
c. Orang : Baik (Pasien dapat mengenali dirinya dan orang disekitarnya)
d. Situasi : Baik (Pasien tahu bahwa sedang diwawancarai oleh dokter)
4. Daya Ingat
 Jangka Panjang: baik, pasien dapat menyebutkan tanggal lahir pasien
 Jangka Pendek: baik, pasien dapat menyebutkan menu makan pagi pasien
 Segera: baik, pasien dapat menyebutkan 3 benda yang ditanyakan oleh
pemeriksa
5. Pikiran abstraktif : Baik (Pasien dapat menyebutkan persamaan)

6. Visuospasial : Baik (Pasien dapat menggambarkan bentuk yang diminta oleh


pemeriksa)

7. Kemampuan menolong diri : Baik (Pasien tidak membutuhkan bantuan orang


lain untuk makan, mandi dan berganti pakaian).

E. PROSES PIKIR
1. Arus pikir
Kontinuitas : Koheren
Hendaya bahasa : Tidak ada
2. Isi pikir
 Waham : Tidak ada
 Waham kejar : Tidak ada
 Waham rujukan : Tidak ada
3. Obsesi : Tidak ada
4. Kompulsi : Tidak ada
5. Fobia : Tidak ada

F. PENGGENDALIAN IMPULS

Baik, selama wawancara pasien dapat bersikap tenang dan tidak menunjukkan gejala
yang agresif.

G. DAYA NILAI

1. Daya nilai sosial : Baik (Pasien dapat membedakan perbuatan baik dan buruk)

2. Uji daya nilai : Baik (Diberikan simulasi bila menemukan dompet dijalan
maka apa yang harus dilakukan)

3. RTA : Tidak terganggu

8
H. TILIKAN
Derajat 6 (Pasien menyadari bahwa dirinya sakit dan membutuhkan bantuan untuk
mengatasi kondisinya saat ini)

I. RELIABILITAS (TARIF DAPAT DIPERCAYA)


Pemeriksa memperoleh kesan bahwa keseluruhan jawaban pasien dapat dipercaya.

IV. PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG

PEMERIKSAAN FISIK

A. Status Generalis

a) Keadaan Umum : Baik

b) Kesadaran : Compos Mentis

c) Tanda-tanda Vital :
TD : 110/80 mmHg
RR : 21 x/menit
HR : 85 x/menit
Suhu : 36,40C
d) Sistem Kardiovaskular : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
e) Sistem Respirasi : Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/-
f) Sistem Gastrointestinal : Bising usus normal, thympani di semua kuadran
g) Sistem Ekstremitas : Edema (-), sianosis (-), akral hangat.

B. Status Neurologik

Tidak dilakukan pemeriksaan neurologis.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

- MET AMPHETAMINE : Negatif


- CANNABIS : Negatif
- BENZODIAZEPINE : Negatif

9
V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

 Pasien laki-laki usia 23 tahun dibawa ke Poli Jiwa RS Polri karena


ketergantungan obat-obatan psikoaktif.
 Pasien mengaku terakhir mengkonsumsi alprazolam 1mg tanggal 16 April
2018.
 Pasien mengkonsumsi zat psikoaktif untuk meningkatkan kepercayaan diri,
mendapatkan efek mabuk dan membantu untuk tidur.
 Selama tidak mengkonsumsi zat psikoaktif pasien mengeluhkan kehilangan
semangat, menjadi tidak kreatif, kesulitan berfikir, sulit tidur, serta tremor.
 Awalnya pasien pernah mencoba rokok dan jamu intisari saat SD.
 Saat SMP korban biasa merokok dua hingga tiga bungkus perhari serta
mengkonsumsi minuman anggur merah, anggur putih serta jamu-jamu untuk
mabuk.
 Pasien mulai mengkonsumsi tramadol saat kelas 8 SMP karena ajakan teman.
 Dalam sehari pasien bisa mengkonsumsi empat hingga lima butir Tramadol 1
mg.
 Saat SMA pasien pernah mencoba mengkonsumsi sabu sebanyak empat kali.
 Pada tahun 2013 pasien sempat overdosis karena mengkonsumsi haloperidol
dan mendapat perawatan di RS Global.
 Pada tahun 2014 pasien sempat berhenti total menggunakan obat-obatan selama
enam bulan.
 Selanjutnya, pada tahun 2015 pasien mulai kuliah dan suka mengkonsumsi
vodka dan whiskey.
 Pasien kembali mengalami overdosis pada 2015 karena meminum alprazolam
1 mg (10 tablet), Riclona 2 mg (8 tablet), dan dumolid 5 mg (4 tablet).
 Sejak tahun 2015 pasien mulai mengeluhkan kesulitan dalam berpikir, tremor,
serta hilang semangat apabila tidak mengkonsumsi obat-obatan.
 Pada tahun 2017-2018 pasien rutin mengkonsumsi LSD 7 mg seminggu sekali.
Kakak pertama pasien adalah pengguna ganja.

VI. FORMULA DIAGNOSTIK

1. Setelah wawancara, pasien tidak ditemukan adanya sindroma atau perilaku dan
psikologi yang bermakna secara klinis dan menimbulkan penderitaan (distress)
dan ketidakmampuan/ hendaya (disability/impairment) dalam fungsi serta
aktivitasnya sehari-hari. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pasien tidak
mengalami gangguan jiwa yang sesuai dengan definisi yang tercantum dalam
PPDGJ III.

2. Pasien tidak termasuk gangguan mental organik karena pasien pada saat di periksa
dalam keadaan sadar, tidak ada kelainan secara medis atau fisik yang bermakna
dan tidak adanya penurunan fungsi kognitif. (F0)

10
3. Pasien termasuk dalam gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat
karena pasien tidak memiliki riwayat konsumsi alcohol atau zat narkotika yang
dapat menimbulkan perubahan perilaku. (F1)

Susunan formulasi diagnostik ini berdasarkan dengan penemuan bermakna dengan


urutan untuk evaluasi multiaksial, seperti berikut:

Aksis I (Gangguan Klinis dan Gangguan Lain yang Menjadi Fokus


Perhatian Klinis)
Berdasarkan riwayat perjalanan penyakit, pasien tidak pernah memiliki riwayat trauma
kepala, kejang, dan kelainan fisik yang bermakna. Pasien menggunakan zat psikoaktif.
Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa pasien mengalami gangguan mental dan
perilaku akibat zat psikoaktif, dari hal tersebut, kriteria diagnostik menurut PPDGJ III
pada ikhtisar penemuan bermakna pasien digolongkan dalam F19.0 Gangguan Mental
dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Multipel dan Penggunaan Zat Psikoaktif Lainnya.

Aksis II (Gangguan Kepribadian dan Retardasi Mental)

Tidak ada diagnosis aksis II

Aksis III (Kondisi Medis Umum)

Tidak ada diagnosis aksis III

Aksis IV (Problem Psikososial dan Lingkungan)

Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial menjadi pencetus gangguan yang


terjadi pada pasien karena pasien mulai mencoba obat-obatan tersebut karena
diajak oleh teman. Selain itu pasien juga memiliki masalah berkaitan interaksi
dengan hukum atau kriminal karena sempat ditangkap oleh polisi pada 17 April
2018 karena kepemilikan dan penggunaan obat-obatan psikoaktif

Aksis V (Penilaian Fungsi secara Global)

Penilaian kemampuan penyesuaian menggunakan skala Global Assement Of


Functioning (GAF) menurut PPDGJ III didapatkan GAF pada saat pemeriksaan
didapatkan 80-71 yaitu beberapa gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas
ringan dalam sosial, pekerjaan, sekolah, dll.

11
Evaluasi multiaksial

Aksis I : F19.0 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat


multiple dan penggunaan zat psikoaktif lainnya

Aksis II : Tidak ada diagnosis aksis II

Aksis III : Tidak ada diagnosis aksis III

Aksis IV : Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial dan hukum atau kriminal

Aksis V : GAF 80-71

VII. DIAGNOSIS
F19.0 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat
Diagnosis Kerja : multiple dan zat psikoaktif lainnya
F.11 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan
Dianosis Banding : opioida

VIII. PROGNOSIS
Quo ad Vitam : Dubia ad bonam
Quo ad Sanationam : Dubia ad bonam
Quo ad Fungsionam : Dubia ad bonam

IX. TERAPI
Medikamentosa
(Psikofarmaka) Oral :
Lamotrigine (Lamictal)1x50mg
Olanzapine 1x25mg
Lorazepan (Ativan) 1x1mg
Non-medikamentosa

- Psikoedukasi

a. Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit yang dialami pasien.

12
b. Mengingatkan pasien tentang pentingnya minum obat sesuai aturan dan datang
kontrol ke poli kejiwaan.

c. Menjelaskan kepada keluarga pasien bahwa dukungan keluarga akan


membantu keadaan pasien.

- Psikoterapi
a. Ventilasi : Pasien diberikan kesempatan untuk menceritakan masalahnya.

b. Sugesti : Menanamkan kepada pasien bahwa ketergantungannya pada obat


bisa dihentikan.

c. Reassurance : Memberitahukan kepada pasien bahwa pe ngurangan dosis obat


dan konsultasi rutin dapat membantunya berhenti dari kecanduan obat-obatan.

13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
Gangguan penggunaan zat adalah suatu gangguan jiwa berupa penyimpangan perilaku
yang berhubungan dengan pemakaian zat, yang dapat mempengaruhi susunan saraf pusat
secara kurang lebih teratur sehingga menimbulkan gangguan fungsi sosial.
2.2 KLASIFIKASI GANGGUAN PENGGUNAAN ZAT
2.2.1 Penyalahgunaan Zat
Merupakan suatu pola penggunaan zat yang bersifat patologik, paling sedikit
satu bulan lamanya, sehingga menimbulkan gangguan fungsi sosial atau okupasional.
Pola penggunaan zat yang bersifat patologik dapat berupa intoksikasi sepanjang hari,
terus menggunakan zat tersebut walaupun penderita mengetahui bahwa dirinya sedang
menderita sakit fisik berat akibat zat tersebut, atau adanya kenyataan bahwa ia tidak
dapat berfungsi dengan baik tanpa menggunakan zat tersebut. Gangguan yang dapat
terjadi adalah gangguan fungsi sosial yang berupa ketidakmampuan memenuhi
kewajiban terhadap keluarga kawan-kawannya karena perilakunya yang tidak wajar,
impulsif, atau karena ekspresi perasaan agresif yang tidak wajar.

2.2.2 Ketergantungan Zat


Merupakan suatu bentuk gangguan penggunaan zat yang pada umumnya lebih
berat. Terdapat ketergantungan fisik yang ditandai dengan adanya toleransi atau
sindroma putus zat.
Zat-zat yang sering dipakai yang dapat menyebabkan gangguan penggunaan zat
dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Opioida misalnya, morfin, heroin, oetidin, kodein dan candu
2. Ganja atau kanabis atau mariyuana
3. Kokain dan daun koka
4. Alkohol (Etilkohol) yang terdapat dalam minuman keras
5. Amfetamin
6. Halusinogen, misalnya LSD, meskalin, psilosin, psilosibin
7. Sedativa dan hipnotika
8. Solven dan Inhalansia
9. Nikotin yang terdapat dalam tembakau
10. Kafein yang terdapat dalam kopi, teh dan minuman cola
Semua zat yang disebutkan di atas mempunyai pengaruh pada susunan saraf
pusat sehingga disebut zat psikotropika psikoaktif. Tidak semua zat psikotropik dapat
menimbulkan gangguan penggunaan zat. Zat psikotropik yang disebutkan di atas dapat
menimbulkan adiksi, oleh karena itu disebut zat adiktif. Obat antipsikosis dan
antidepresi hampir tidak pernah menimbulkan gangguan penggunaan zat.

Dalam buku-buku ilmu kedokteran khususnya psikiatri istilah “adiksi” dipakai untuk
melukiskan “kecanduan”. Tetapi dalam buku-buku baru istilah adiksi tidak dipakai lagi sebagai
gantinya dipakai istilah “ketergantungan obat”. Ketergantungan obat dibedakan atas
ketergantungan fisik dan ketergantungan psikis. Sementara itu arti adiksi dipersempit menjadi
ketergantungan fisik, sedangkan ketergantungan psikis disebut habituasi. Beberapa ahli
memberi arti adiksi sebagai bentuk ketergantungan yang berat pada hard drug (heroin, morfin),
sedangkan habituasi sebagai bentuk ketergantungan yang ringan yaitu pada soft drug (ganja,
sedativa, dan hipnotika).

14
Untuk memperoleh khasiat seperti semula dari zat yang dipakai berulang kali,
diperlukan jumlah yang makin lama makin banyak, keadaan yang demikian itu disebut
“Toleransi”. Toleransi silang merupakan toleransi yang terjadi diantara zat-zat yang khasiat
farmakologiknya mirip, misalnya orang yang toleran terhadap alkohol juga toleran terhadap
sedativa dan hipnotika. Gejala ‘putus zat” (gejala lepas zat, withdrwal syndrome) merupakan
gejala yang timbul bila seseorang yang ketergantungan pada suatu zat, pada suatu saat
pemakaiannya dihentikan atau dikurangi jumlahnya. Intoksifikasi merupakan suatu gangguan
mental organik yang ditandai dengan perubahan psikologis dan perilaku sebagai akibat
pemakaian zat.
Menurut Olson (1992) penyakit atau gangguan jiwa adalah penyakit neurotransmisi
atau penyaluran listrik kimiawi-listrik antar neuron. Masyarakat seringkali tidak dapat
membedakan antara obat psikotropika dengan narkotika. Obat psikotropika adalah obat yang
berkerja secara selektif pada susunan saraf pusat dan mempunyai efek utama terhadap aktifitas
mental dan perilaku. Pada umumnya obat ini biasa digunakan untuk terapi gangguan psikiatri,
sedangkan obat narkotika adalah obat yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat
dan mempunyai efek utama terhadap penurunan dan perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. Yang mana obat ini biasa digunakan untuk
analgesic (anti rasa sakit), antitusif (mengurangi batuk), antipasmodik (mengurangi rasa mulas
dan mual), dan premedikasi anestesi dalam praktik kedokteran. Obat psikotropika adalah obat
yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat dan mempunyai efek utama terhadap
aktivitas mental dan perilaku. Obat ini biasa digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik.
Mengenai pengaruh zat psikoaktif , dibagi kedalam beberapa bagian sesuai dengan
buku PPDGJ-III diantaranya:
 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan alkohol (F10)
 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan opioida (F11)
 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kanabionida (F12)
 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan sedativa dan hipnotika (F13)
 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kokain (F14)
 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan stimulansia lain termasuk kafein
(F15)
 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan halusinogenatika (F16)
 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan tembakau (F17)
 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan pelarut yang mudah menguap (F18)
 Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat multipel dan penggunaan zat
psikoaktif lainnya (F19)
2.3 ETIOLOGI
Penyebab penyalahgunaan NAPZA sangat kompleks akibat interaksi antara faktor
yang terkait dengan individu, faktor lingkungan dan faktor tersedianya zat (NAPZA). Tidak
terdapat adanya penyebab tunggal (single cause) Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya
penyalagunaan NAPZA adalah sebagian berikut

1. Faktor individu :
Kebanyakan penyalahgunaan NAPZA dimulai atau terdapat pada masa remaja,
sebab remaja yang sedang mengalami perubahan biologik, psikologik maupun sosial
yang pesat merupakan individu yang rentan untuk menyalahgunakan NAPZA. Anak
atau remaja dengan ciri-ciri tertentu mempunyai risiko lebih besar untuk menjadi
penyalahguna NAPZA. Ciri-ciri tersebut antara lain :
a) Cenderung membrontak dan menolak otoritas

15
b) Cenderung memiliki gangguan jiwa lain (komorbiditas) seperti
Depresi,Ccemas, Psikotik, keperibadian dissosial
c) Perilaku menyimpang dari aturan atau norma yang berlaku
d) Rasa kurang percaya diri (low selw-confidence), rendah diri dan memiliki
citra diri negatif (low self-esteem)
e) Sifat mudah kecewa, cenderung agresif dan destruktif
f) Mudah murung,pemalu, pendiam
g) Mudah mertsa bosan dan jenuh
h) Keingintahuan yang besar untuk mencoba atau penasaran
i) Keinginan untuk bersenang-senang (just for fun)
j) Keinginan untuk mengikuti mode,karena dianggap sebagai lambang
keperkasaan dan kehidupan modern.
k) Keinginan untuk diterima dalam pergaulan.
l) Identitas diri yang kabur, sehingga merasa diri kurang “jantan”
m) Tidak siap mental untuk menghadapi tekanan pergaulan sehingga sulit
mengambil keputusan untuk menolak tawaran NAPZA dengan tegas
n) Kemampuan komunikasi rendah
o) Melarikan diri sesuatu (kebosanan, kegagalan, kekecewaan, ketidak
mampuan, kesepianan kegetiran hidup, malu dan lain-lain)
p) Putus sekolah
q) Kurang menghayati iman kepercayaannya

2. Faktor Lingkungan :
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik
disekitar rumah, sekolah, teman sebaya maupun masyarakat. Faktor keluarga,terutama
faktor orang tua yang ikut menjadi penyebab seorang anak atau remaja menjadi
penyalahguna NAPZA antara lain adalah :
a. Lingkungan Keluarga
a) Komunikasi orang tua-anak kurang baik/efektif
b) Hubungan dalam keluarga kurang harmonis/disfungsi dalam keluarga
c) Orang tua bercerai,berselingkuh atau kawin lagi
d) Orang tua terlalu sibuk atau tidak acuh
e) Orang tua otoriter atau serba melarang
f) Orang tua yang serba membolehkan (permisif)

16
g) Kurangnya orang yang dapat dijadikan model atau teladan
h) Orang tua kurang peduli dan tidak tahu dengan masalah NAPZA
i) Tata tertib atau disiplin keluarga yang selalu berubah (kurang konsisten)
j)Kurangnya kehidupan beragama atau menjalankan ibadah dalam keluarga
k) Orang tua atau anggota keluarga yang menjadi penyalahguna NAPZA
b. Lingkungan Sekolah
a) Sekolah yang kurang disiplin
b) Sekolah yang terletak dekat tempat hiburan dan penjual NAPZA
c) Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk
mengembangkan diri secara kreatif dan positif
d) Adanya murid pengguna NAPZA
c. Lingkungan Teman Sebaya
a) Berteman dengan penyalahguna
b) Tekanan atau ancaman teman kelompok atau pengedar
d. Lingkungan masyarakat/sosial
a) Lemahnya penegakan hukum
b) Situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung

3. Faktor Napza
a) Mudahnya NAPZA didapat dimana-mana dengan harga “terjangkau”
b) Banyaknya iklan minuman beralkohol dan rokok yang menarik untuk dicoba
c) Khasiat farakologik NAPZA yang menenangkan, menghilangkan nyeri,
menidur-kan, membuat euforia/ fly/stone/high/teler dan lain-lain.
2.4 DETEKSI DINI PENYALAHGUNAAN NAPZA
Deteksi dini penyalahgunaan NAPZA bukanlah hal yang mudah,tapi sangat penting
artinya untuk mencegah berlanjutnya masalah tersebut. Beberapa keadaan yang patut dikenali
atau diwaspadai adalah :

2.4.1 Kelompok Risiko Tinggi


Kelompok Risiko Tinggi adalah orang yang belum menjadi pemakai atau
terlibat dalam penggunaan NAPZA tetapi mempunyai risiko untuk terlibat hal tersebut,
mereka disebut juga Potential User (calon pemakai, golongan rentan). Sekalipun tidak
mudah untuk mengenalinya, namun seseorang dengan ciri tertentu (kelompok risiko
tinggi) mempunyai potensi lebih besar untuk menjadi penyalahguna NAPZA
dibandingkan dengan yang tidak mempunyai ciri kelompok risiko tinggi. Mereka
mempunyai karakteristik sebagai berikut :

17
1) ANAK :
Ciri-ciri pada anak yang mempunyai risiko tinggi menyalahgunakan NAPZA
antara lain :
a)Anak yang sulit memusatkan perhatian pada suatu kegiatan (tidak tekun).
b) Anak yang sering sakit
c) Anak yang mudah kecewa
d) Anak yang mudah murung
e) Anak yang sudah merokok sejak Sekolah Dasar
e) Anak yang agresif dan destruktif
f) Anak yang sering berbohong, mencari atau melawan tata tertib
g) Anak denga IQ taraf perbatasan (IQ 70-90)

2. REMAJA :
Ciri-ciri remaja yang mempunyai risiko tinggi menyalahgunakan NAPZA :
a) Remaja yang mempunyai rasa rendah diri, kurang percaya diri dan
mempunyai citra diri negatif.
b) Remaja yang mempunyai sifat sangat tidak sabar
c) Remaja yang diliputi rasa sedih (depresi) atau cemas (ansietas)
d) Remaja yang cenderung melakukan sesuatu yang mengandung risiko
tinggi/bahaya
e) Remaja yang cenderung memberontak
f) Remaja yang tidak mau mengikutu peraturan/tata nilai yang berlaku
g) Remaja yang kurang taat beragama
h) Remaja yang berkawan dengan penyalahguna NAPZA
i) Remaja dengan motivasi belajar rendah
j) Remaja yang tidak suka kegiatan ekstrakurikuler
k)Remaja dengan hambatan atau penyimpangan dalam perkembangan
psikoseksual (pemalu,sulit bergaul, sering masturbasi, suka menyendiri, kurang
bergaul dengan lawan jenis).
l) Remaja yang mudah menjadi bosan, jenuh, murung.
m) Remaja yang cenderung merusak diri sendiri
3. KELUARGA

18
Ciri-ciri keluarga yang mempunyai risiko tinggi, antara lain:
a) Orang tua kurang komunikatif dengan anak
b) Orang tua yang terlalu mengatur anak
c) Orang tua yang terlalu menuntut anaknya secara berlebihan agar berprestasi
diluar kemampuannya.
d) Orang tua yang kurang memberi perhatian pada anak karena terlalu sibuk
e) Orang tua yang kurang harmonis,sering bertengkar,orang tua berselingkuh
atau ayah menikah lagi
f) Orang tua yang tidak memiliki standar norma baik-buruk atau benar salah
yang jelas.
g) Orang tua yang tidak dapat menjadikan dirinya teladan
h) Orang tua menjadi penyalahgunaan NAPZA

2.5 JENIS NAPZA YANG DISALAHGUNAKAN


2.5.1 Narkotika
adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun
semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan
(menurut Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika). NARKOTIKA
dibedakan kedalam golongan-golongan :
a) Narkotika Golongan I :
Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan, dan tidak
ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan
ketergantungan, (Contoh : heroin/putauw, kokain, ganja).
b) Narkotika Golongan II :
Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat
digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai
potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan (Contoh : morfin,petidin)
c) Narkotika Golongan III :
Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan
ketergantungan (Contoh: kodein)
Narkotika yang sering disalahgunakan adalah Narkotika Golongan I : (1) Opiat
: morfin, herion (putauw), petidin, candu, dan lain-lain (2) Ganja atau kanabis,
marihuana, hashis (3) Kokain, yaitu serbuk kokain, pasta kokain, daun koka.

2.5.2 Psikotropika

19
Menurut Undang-undang RI No.5 tahun 1997 tentang Psikotropik. Yang dimaksud
dengan PSIKOTROPIKA adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan Narkotika,
yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

2.5.3 Zat Adiktif Lain


Yang dimaksud disini adalah bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika
dan Psikotropika, meliputi :
a) Minuman berakohol, Mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan
susunan syaraf pusat,dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari
dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan sebagai campuran dengan narkotika atau
psikotropika, memperkuat pengaruh obat/zat itu dalam tubuh manusia.
Ada 3 golongan minuman berakohol, yaitu :
- Golongan A : kadar etanol 1-5%, (Bir)
- Golongan B : kadar etanol 5-20%, (Berbagai jenis minuman anggur)
- Golongan C : kadar etanol 20-45 %, (Whiskey, Vodca, TKW, Manson
House,Johny Walker, Kamput.)
b) Inhalansia (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) mudah menguap berupa
senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor
dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalah gunakan, antara lain : Lem, thinner,
penghapus cat kuku,bensin.
c) Tembakau : Pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di
masyarakat. Pada upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian rokok dan
alkohol terutama pada remaja, harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena
rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang lebih
berbahaya.
Bahan/ obat/zat yang disalahgunakan dapat juga diklasifikasikan sebagai berikut :
- Sama sekali dilarang : Narkotoka golongan I dan Psikotropika GolonganI.
- Penggunaan dengan resep dokter : amfetamin, sedatif hipnotika.
- Diperjual belikan secara bebas : lem, thinner dan lain-lain.
- Ada batas umur dalam penggunannya : alkohol, rokok.
Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan NAPZA dapat digolongkan
menjadi tiga golongan :
1. Golongan Depresan (Downer)
Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini
membuat pemakaiannya merasa tenang, pendiam dan bahkan membuatnya tertidur dan tidak
sadarkan diri. Golongan ini termasuk Opioida (morfin, heroin/putauw, kodein), Sedatif
(penenang), hipnotik (otot tidur), dan tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain.
2. Golongan Stimulan (Upper)

20
Adalah jenis NAPZA yang dapat merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan
kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Zat
yang termasuk golongan ini adalah : Amfetamin (shabu,esktasi), Kafein, Kokain
3. Golongan Halusinogen
Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah
perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh
perasaan dapat terganggu. Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis. Golongan ini
termasuk : Kanabis (ganja), LSD, Mescalin. Macam-macam bahan Narkotika dan Psikotropika
yang terdapat di masyarakat serta akibat pemakaiannya :
a) OPIOIDA
Opioida dibagi dalam tiga golongan besar yaitu :
- Opioida alamiah (opiat): morfin, cpium, kodein
- Opioida semi sintetik : heroin/putauw, hidromorfin
- Opioida sintetik : meperidin, propoksipen, metadon
Nama lainnya adalah putauw, putaw, black heroin, brown sugar
b) KOKAIN
Kokain mempunyai dua bentuk yaitu : kokain hidroklorid dan free base. Kokain
berupa kristal pitih. Rasa sedikit pahit dan lebih mudah larut dari free base. Free base
tidak berwarna/putih, tidak berbau dan rasanya pahit. Nama jalanan dari kokain adalah
koka, coke, happy dust, charlie, srepet, snow salju, putih. Biasanya dalam bentuk bubuk
putih. Cara pemakaiannya : dengan membagi setumpuk kokain menjadi beberapa
bagian berbaris lurus diatas permukaan kaca atau benda-benda yang mempunyai
permukaan datar kemudian dihirup dengan menggunakan penyedot deperti sedotan.
Atau dengan cara dibakar bersama tembakau yang sering disebut cocopuff. Ada juga
yang melalui suatu proses menjadi bentuk padat untuk dihirup asapnya yang populer
disebut freebasing. Penggunaan dengan cara dihirup akan berisiko kering dan luka pada
sekitar lubang hidung bagian dalam. Efek rasa dari pemakaian kokain ini membuat
pemakai merasa segar, kehilangan nafsu makan, menambah rasa percaya diri, juga
dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah.
c). KANABIS
Nama jalanan yang sering digunakan ialah : grass cimeng, ganja dan gelek,
hasish, marijuana, bhang. Ganja berasal dari tanaman kanabis sativa dan kanabis indica.
Pada tanaman ganja terkandung tiga zat utama yaitu tetrehidro kanabinol, kanabinol
dan kanabidio. Cara penggunaannya adalah dihisap dengan cara dipadatkan
mempunyai rokok atau dengan menggunakan pipa rokok. Efek rasa dari kanabis
tergolong cepat, sipemakai : cenderung merasa lebih santai, rasa gembira berlebih
(euforia), sering berfantasi. Aktif berkomonikasi, selera makan tinggi, sensitif, kering
pada mulut dan tenggorokan
d). AMPHETAMINES

21
Nama generik amfetamin adalah D-pseudo epinefrin berhasil disintesa tahun
1887, dan dipasarkan tahun 1932 sebagai obat. Nama jalannya : seed, meth, crystal,
uppers, whizz dan sulphate. Bentuknya ada yang berbentuk bubuk warna putih dan
keabuan, digunakan dengan cara dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet biasanya
diminum dengan air. Ada dua jenis amfetamin :
- MDMA (methylene dioxy methamphetamin), mulai dikenal sekitar tahun
1980 dengan nama Ekstasi atau Ecstacy. Nama lain : xtc, fantacy pils, inex,
cece, cein. Terdiri dari berbagai macam jenis antara lain : white doft, pink heart,
snow white, petir yang dikemas dalam bentuk pil atau kapsul
- Methamfetamin ice, dikenal sebagai SHABU. Nama lainnya shabu-shabu.SS,
ice, crystal, crank. Cara penggunaan : dibakar dengan menggunakan kertas
alumunium foil dan asapnya dihisap, atau dibakar dengan menggunakan botol
kaca yang dirancang khusus (bong).
e). LSD (Lysergic acid)
Termasuk dalam golongan halusinogen,dengan nama jalanan : acid, trips, tabs,
kertas. Bentuk yang bisa didapatkan seperti kertas berukuran kotak kecil sebesar
seperempat perangko dalam banyak warna dan gambar, ada juga yang berbentuk pil,
kapsul. Cara menggunakannya dengan meletakkan LSD pada permukaan lidah dan
bereaksi setelah 30-60 menit sejak pemakaian dan hilang setelah 8-12 jam. Efek rasa
ini bisa disebut tripping. Yang bisa digambarkan seperti halusinasi terhadap tempat.
Warna dan waktu. Biasanya halusinasi ini digabung menjadi satu. Hingga timbul obsesi
terhadap halusinasi yang ia rasakan dan keinginan untuk hanyut didalamnya, menjadi
sangat indah atau bahkan menyeramkan dan lama-lama membuat paranoid.
f). SEDATIF-HIPNOTIK (BENZODIAZEPIN)
Digolongkan zat sedatif (obat penenang) dan hipnotika (obat tidur) Nama
jalanan dari Benzodiazepin : BK, Dum, Lexo, MG, Rohyp. Pemakaian benzodiazepin
dapat melalui : oral, intra vena dan rectal. Penggunaan dibidang medis untuk
pengobatan kecemasan dan stres serta sebagai hipnotik (obat tidur).
g). SOLVENT / INHALANSIA
Adalah uap gas yang digunakan dengan cara dihirup.Contohnya : Aerosol, aica
aibon, isi korek api gas, cairan untuk dry cleaning, tiner,uap bensin. Biasanya
digunakan secara coba-coba oleh anak dibawah umur golongan kurang mampu/ anak
jalanan. Efek yang ditimbulkan : pusing, kepala terasa berputar, halusinasi ringan,
mual, muntah, gangguan fungsi paru, liver dan jantung.
h). ALKOHOL
Merupakan salah satu zat psikoaktif yang sering digunakan manusia. Diperoleh
dari proses fermentasi madu, gula, sari buah dan umbi-umbian. Dari proses fermentasi
diperoleh alkohol dengan kadar tidak lebih dari 15%, dengan proses penyulingan di
pabrik dapat dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi bahkan mencapai 100%. Nama
jalanan alkohol : booze, drink. Konsentrasi maksimum alkohol dicapai 30-90 menit
setelah tegukan terakhir. Sekali diabsorbsi, etanol didistribusikan keseluruh jaringan
tubuh dan cairan tubuh. Sering dengan peningkatan kadar alkohol dalam darah maka

22
orang akan menjadi euforia, namun sering dengan penurunannya pula orang menjadi
depresi.

2.6 PENATALKSANAAN
Tujuan Terapi dan Rehabilitasi
a. Abstinensia atau menghentikan sama sekali penggunaan NAPZA.
b. Pengurungan frekuensi dan keparahan relaps (kekambuhan). Sasaran
utamanya adalah pencegahan kekambuhan. Pelatihan relapse prevention
programme, program terapi kognitif, opiate antaginist maintenance therapy
dengan naltrexon merupakan beberapa alternatif untuk mencegah kekambuhan.
c. Memperbaiki fungsi psikologi dan fungsi adaptasi sosial .
Dalam kelompok ini, abstinesia bukan merupakan sasaran utama. Terapi
rumatan (maintenance) metadon merupakan pilihan untuk mencapai sasaran
terapi golongan ini.

• Penanganan gawat darurat :


Pada kondisi overdosis sedativa, stimulansia, opiat atau halusinogen biasanya akan
dibawa keruang gawat darurat. Remaja yang dibawa keruang gawat darurat dalam keadaan
perilaku kacau, Psikosis akut, koma, kolaps saluran pernafasan atau peredaran darah, biasanya
karena overdosis obat-obatan . Keadaan ini dapat menjadi fatal bila salah diagnosis atau
mendapat penanganan yang tidak tepat. Oleh karena itu tenaga medis dan paramedis yang
bekerja diruang gawat darurat haruslah mempunyai pengetahuan tentang obat-obatan yang
sering dipakai oleh penyalahguna NAPZA dan mampu mengatasi intoksikasi yang disebabkan
oleh berbagai macam zat tersebut. Contoh : Naloxone, antagonis opiat, diberikan pada
intoksikasi opiat akut, dengan dosis 0,1 mg/kg i.m. atau i.v. setiap 2-4 jam selama masih
dibutuhkan.
• Terapi dan Referal
Program terapi untuk pasien rawat–inap dan rawat-jalan bagi remaja dengan
penyalahgunaan NAPZA cukup banyak macamnya. Programyang komprehentif sangat
diperlukan untuk remaja dengan ketergantungan zat. Kebanyakan program ini memberikan
konseling atau psikoterapi, disertai dengan teknik farmakoterapi, misalnya dengan
menggunakan methadone, namun ada juga yang memakai pendekatan bebas-obat (drug–
freeapproach).
Keberhasilan berbagai metode pendekatan juga sangat tergantung pada kondisi remaja
itu sendiri, akut – kronis, lamanya pemakaian NAPZA, jenis NAPZA yang dipakai, juga
kondisi keluarga.
Untuk pencegahan terjadinya penyalahgunaan NAPZA sebaiknya diberikan penyuluhan
kepada masyarakat luas tentang NAPZA dan berbagai persoalan yang ditimbulkannya. Usaha
ini juga dapat dipakai sebagai deteksi dini penyalah gunaan NAPZA oleh anggota keluarga
dan masyarakat.

23