Anda di halaman 1dari 14

PENGARUH PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN

TERHADAP PEREKONOMIAN DI INDONESIA


MAKALAH
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Bahasa Indonesia sebagai pengganti
Ujian Akhir Semester oleh dosen Hesti Muliawati S.S., M.Pd
dibuat oleh
Siti Patimah (115040184)

PRODI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
CIREBON
2016
KATA PENGANTAR
Bissmilahirohmanirohim,
Puja dan puji syukur saya ucapkan, karena berkat Rahmat dan Karunia-
Nya saya dapat menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia dengan baik dan lancar.
Makalah ini saya buat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bahasa
Indonesia mengenai “Pengaruh Pengangguran dan Kemiskinan terhadap
Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia”, dan makalah ini dibuat dari berbagai
sumber ilmu pengetahuan mengenai pertumbuhan ekonomi
Saya menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar
pada makalah ini. Oleh karna itu saya menghapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun untuk kemajuan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Cirebon, 17 Januari 2016

Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………………… i
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ……………….……………………………………… 1
1.2 Rumusan Masalah ………………………………………………….... 1
1.3 Tujuan dan Manfaat ………………………………………………..... 1
BAB II KAJIAN TEORI
2.1 Definisi Kemiskinan ……………….………………………………… 2
2.2 Definisi Pengangguran ……………….……………………………… 2
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Keadaan Kemiskinan dan Pengangguran di Indonesia ……..……….. 4
3.2 Pengaruh Pengangguran dan Kemiskinan ……………………...……. 6
3.3 Program Pemerintah ………………………………………………..... 8
BAB IV PENUTUP
4.1 Simpulan …………………………………………………………… 10
4.2 Saran ………………………………………………...……………… 10
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….. 11
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu masalah pokok yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia
adalah masalah pengangguran. Pengangguran yang tinggi berdampak langsung
maupun tidak langsung terhadap kemiskinan, kriminalitas dan masalah-masalah
sosial politik yang juga semakin meningkat. Dengan jumlah angkatan kerja yang
cukup besar, arus migrasi yang terus mengalir, serta dampak krisis ekonomi yang
berkepanjangan sampai saat ini, membuat permasalahan tenaga kerja menjadi
sangat besar dan kompleks.
Pengangguran terjadi disebabkan jumlah lapangan kerja yang tersedia
lebih kecil dari jumlah pencari kerja. Juga kompetensi pencari kerja tidak sesuai
dengan pasar kerja.Selain itu juga kurang efektifnya informasi pasar kerja bagi
para pencari kerja.
Fenomena pengangguran juga berkaitan erat dengan terjadinya pemutusan
hubungan kerja, yang disebabkan antara lain; perusahaan yang
menutup/mengurangi bidang usahanya akibat krisis ekonomi atau keamanan yang
kurang kondusif; peraturan yang menghambat inventasi; hambatan dalam proses
ekspor impor, dan lain-lain.

1.2 Rumusan Masalah


- Bagaimana keadaan kemiskinan dan pengangguran di Indonesia?
- Bagaimana pengaruh pengangguran dan kemiskinan terhadap
pertumbuhan ekonomi?
- Program apakah yang harus dilakukan pemerintah untuk mengurangi
masalah kemiskinan dan pengangguran di Indonesia?

1.3 Tujuan dan Manfaat


Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan
dan diharapkan bagi kita semua. Serta dapat lebih memahami masalah-masalah
pembangunan terhadap perekonomian kita
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Definisi Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk
memenuhi kebutuhan seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan
dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh
kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.
Semakin banyak dan semakin lama orang menganggur akan menyebabkan
kemiskinan.di Indonesia jumlah rakyat miskin masih cukup banyak, walaupun
pemerintah telah berupaya mengatasinya. Kemiskinan bisa menyebabkan dua hal
yakni dari dalam diri seseorang (internal) dan faktor dari luar (eksternal). Faktor
internal antara lain karena pendidikan yang rendah, tidak memiliki keterampilan
dan kerena sifat pemalas. Sedangan faktor eksternal anatara lain disebabkan oleh
kondidi ekonomi Negara yang buruk, harga melambung tinggi dan kurangnya
perhatian pemerintah. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang
memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lain
melihatnya dari segi moral dan evaluative, dan yang lainnya lagi memahaminya
dari sudut ilmiah yang telah mapan.

2.2 Definisi Pengangguran


Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak
bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama
seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang
layak. Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau
para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang
mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam
perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan
masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan
dan masalah-masalah sosial lainnya.
Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah
pengangguran dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen.
Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran
konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan
kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek
psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya. Tingkat
pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik
keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan
ekonomi. Akibat jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per
kapita suatu negara. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, dikenal
istilah "pengangguran terselubung" di mana pekerjaan yang semestinya bisa
dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih banyak orang
5

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Keadaan Kemiskinan dan Pengangguran di Indonesia
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau
besar dan kecil dengan luas tabah sekitar 2 juta km² dan populasi yang keempat
terpadat di dunia setelah China, India, dan Amerika. Kesuburan atau kelahiran
merupakan salah satu penambah faktor selain migrasi penduduk, jumlah kelahiran
setiap tahun di Indonesia masih besar, jumlah bayi yang lahir setelah tahun 2000
masih banyak setiap tahun jumlah kelahiran di Indonesia mencapai sekitar 4,5 juta
bayi .
Tingkat kelahiran yang tinggi adalah apa yang menyebabkan ledakan
penduduk di Indonesia. Jumlah penduduk yang banyak tentu menyebabkan
banyak masalah, seperti kemiskinan, pendidikan, dan lain-lain. Hal-hal seperti itu,
yang menyebabkan kesenjangan sosial di masyarakat. Kesenjangan ini terjadi
disebabkan oleh kemiskinan yang merajalela dan kurangnya lapangan kerja.
Kesenjangan sosial adalah ketidakseimbangan sosial negara yang ada di
masyarakat yang membuat perbedaan yang sangat mencolok. Fenomena ini terjadi
di hampir semua negara di dunia termasuk Indonesia. Kesenjangan sosial di
Indonesia terlihat, antara kaya dan miskin, dan antara pejabat dan orang-orang.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan ketimpangan sosial ini di antaranya
adalah kemiskinan dan kurangnya lapangan pekerjaan.
Kemiskinan adalah suatu kondisi di mana ada ketidakmampuan untuk
memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan,
dan kesehatan. Kemiskinan merupakan penyebab utama ketimpangan sosial dalam
masyarakat.
Kemiskinan memang menjadi problem serius yang membelit bangsa-bangsa di
dunia, termasuk Indonesia. Ketimpangan ekonomi, tingkat pendidikan yang
rendah, serta penguasaan aset-aset ekonomi oleh kalangan tertentu, adalah
sebagian penyebab kemiskinan. Pertanyaan sekarang, apa yang bisa dilakukan
pemerintah maupun perusahaan untuk mengurangi angka kemiskinan? Mampukah
program tanggung jawab sosial pemerintah maupun perusahaan menjadi salah
satu solusi penting dalam upaya mengurangi angka kemiskinan?. Mengurangi
kemiskinan dan pengangguran adalah tugas semua pemangku kepentingan
(stakeholder), yaitu pemerintah termasuk pemda, perusahaan, masyarakat,
akademisi, dan lain-lain sebagainya. Program ini akan berjalan efektif jika semua
pihak duduk bersama tanpa ada kecurigaan yang selama ini terjadi, kurang adanya
koordinasi diantara lembaga-lembaga tersebut. Setiap departemen pemerintah,
mempunyai program pengentasan kemiskinan dan pengangguran. Namun tidak
ada koordinasi yang jelas. Akibatnya mereka seakan berjalan sendiri-sendiri.
Kalau ada yang mengkoordinir, seperti perusahaan holding misalnya, maka
hasilnya akan lebih efektif, untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran,
yang perlu dilakukan adalah memberdayakan masyarakat. Ini akan lebih efektif
dibandingkan hanya memberikan bantuan yang sifatnya sesaat, yang dibutuhkan
adalah pemberian akses kepada masyarakat tersebut. Ini kurang dilakukan
pemerintah, pemerintah perlu diberi akses kepada masyarakat dibanding ekonomi,
sosial, budaya dan sebagainya. Mereka harus dibantu untuk bisa mencari makan
sendiri. Jadi jangan hanya diberi makan. Intinya adalah buatlah program-program
pemberdayaan yang berkesinambungan.
Pembangunan di bidang ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah pada
dewasa ini di sektor pertanian, perikanan, perkebunan, industri dan pertambangan,
hakekatnya ditujukan selain untuk mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi,
juga dimaksudkan untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan. Seharusnya
tidak semua masalah kemiskinan menjadi tanggung jawab pemerintah. Rasanya
tidak fair kalau seluruhnya dibebankan hanya kepada pemerintah. Masyarakat,
terutama golongan yang mampu juga secara sukarela diharapkan dapat
berkontribusi mengatasi masalah kemiskinan yang terjadi di negeri ini. Progam
mengatasi kemiskinan yang paling murah adalah si kaya membantu si miskin atau
si pandai membantu yang bodoh. Idealisme dan pengorbanan yang diperlukan
untuk mengatasi kemiskinan di negeri ini bukan sesuatu yang berada di menara
gading dan bukan pula yang diada-adakan. Idealisme dan pengorbanan tersebut
sesungguhnya adalah sebuah realita yang sudah terjadi di masyarakat. Banyak
orang beranggapan bahwa kemiskinan adalah takdir atau mereka miskin
karena mereka malas, tidak kreatif, dan tidak memiliki etos kerja. Kemiskinan
memiliki dampak yang luas terhadap kehidupan, tidak hanya kehidupan pribadi
orang miskin, tetapi juga untuk orang-orang yang tidak tergolong miskin.
Kemiskinan bukan hanya beban pribadi, tetapi juga beban dan tanggung jawab
masyarakat, negara dan dunia untuk menanggulanginya.
Meningkatnya jumlah orang yang tidak dibarengi dengan ketersediaan
lapangan kerja yang memadai, sehingga jumlah pengangguran tumbuh. Hal ini
disebabkan kurangnya lapangan pekerjaan. Pekerjaan lapangan memiliki
pengaruh besar dalam perekonomian masyarakat, sementara ekonomi adalah
faktor kesenjangan sosial.
Salah satu karakteristik tenaga kerja di Indonesia adalah tingkat
pertumbuhan lapangan kerja lebih tinggi dari laju pertumbuhan lapangan kerja.
Berbeda dengan negara-negara di Eropa dan Amerika, di mana pekerjaan masih
berlebihan.

3.2 Pengaruh Pengangguran & Kemiskinan


Pengangguran adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali
sedang mencari kerja, bekerja kurang dari 2 hari dalam seminggu atau seseorang
yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan. Pengangguran umumnya
disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan jumlah
lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya. Pengangguran sering kali menjadi
masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas
dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan
timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah lainnya.
Negara-negara berkembang seperti Indonesia dikenal istilah pengangguran
terselubung, dimana pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga
sedikit dilakukan oleh lebih banyak orang. Masalah ketenagakerjaan di Indonesia
sekarang ini sudah mencapai kondisi yang cukup memprihatinkan ditandai dengan
jumlah penganggur dan setengah penganggur yang besar pendapatanrelatif rendah
dan kurang merata. Sebaliknya pengangguran yang tinggi merupakan pemborosan
sumber daya dan potensi yang ada, menjadi beban keluarga dan masyarakat,
sumber utama kemiskinan, menghambat pembangunan dalam jangka panjang.
Pembangunan bangsa Indonesia kedepan sangat tergantung pada kualitas
sumber daya manusia Indonesia yang sehat fisik dan mental serta mempunyai
ketrampilan dan keahlian kerja, sehingga mampu membangun keluarga yang
bersangkutan untuk mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang tetap dan layak
sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup, kesehatan, pendidikan anggota
keluarganya.
Pengangguran di Indonesia terjadi disebabkan antara lain yaitu karena
jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dari pencari kerja. Juga
kompetensi pencari kerja tidak sesuai dengan pasar kerja. Selain itu juga karena
efektifnya informasi pasar kerja bagi para pencari kerja. Fenomena pengangguran
juga berkaitan erat dengan terjadinya pemutusan hubungan kerja disebabkan
antara lain; perusahaan menutup atau mengurangi bidang usahanya akibat krisis
ekonomi atau keamanan yang kurang kondusif, peraturan yang menghambat
investasi, hambatan dalam proses ekspor impor.
Padahal perang melawan kemiskinan sudah ditabuh sejak lama di negri ini.
Di Orde Baru misalnya, pemerintah menggalangberbagai sarana dan cara untuk
mengatasi kemiskinan. Pembangunan fisik digenjot diberbagai bidang,
pertumbuhan ekonomi menjadi fokus perhatian, investasi asing digalakkan,
berbagai jenis skema kredit investasi kecil dan kredit modal kerja digelar, bahkan
hutang luar negri pun ditempuh sebagai altrnatif untuk menopang idea of progress
bernama pembangunan.
Akan tetapi karena keberpihakan ideologis pemerintah tidak jelas,
pembangunan ala Orde Baru itu tidak bisa sepenuhnya bisa dirasakan rakyat lapis
bawah. Masalahnya sekarang apakah para elite, politisi, dan birokrat kita
mempunyai keberpihakan ideologis untuk melawan kemiskinan? Adakah
komitmen tegas dari para penentu kebijakan Negara untuk memberantas KKN
secara radikal? Jika Negara tidak sanggup menyatakan perang terhadap
kemiskinan, gagal dalam memerangi korupsi, dan tetap malas melaksanakan
agenda reformasi sebagai perintah konstitusi maka kemiskinan bangsa mungkin
akan menjadi simbol abadi negeri ini.
Satu penyebab pengangguran structural yang lain adalah adanya
ketidakseimbangan struktur upah relative. Penyebab umum hal semacam ini
adalah upah minimum, perjanjian buruh yang memperkecil perbedaan upah,
perjanjian upah struktur nasional tanpa mempertimbangkan kondisi pasar local,
peraturan pengupahan sama di mana majikan tidak pernah merasa bahwa
kelompok-kelompok bersangkutan semua memberikan konstribusi yang sama
pada profitabilitas perusahaan. Kebijakan semacam ini mengakibatkan kelompok-
kelompok tertentu kehilangan pekerjaannya, karena upah relative mereka berada
di atas tingkat ekuilibriumnya. Angka pengangguran yang di ukur, bisa terlalu
tinggi atau terlalu rendah, karena angka itu memasukkan pengangguran suka rela
dan tidak memasukkan pekerja malas yang telah meninggalkan angkatan kerja.
Tingkat pengangguran dan semi pengangguran di desa-desa dan wilayah
kota cenderung meningkat. Distribusi pendapatan diantara yang kaya dan yang
miskin semakin memburuk kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Banyak penduduk merasakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang cepat justru
telah gagal menghapuskan atau paling tidak mengurangi tingkat kemiskinan
absolute yang meluas yang tetap menjadi kenyataan kehidupan ekonomi di
hamper semua negara sedang berkembang.
Pengangguran dapat ditekan dengan meningkatkan permintaan agrerat,
memudahkan permintaan antar pekerjaan, memperlambat laju perubahan
ekonomi, dan dengan menaikkan biaya menganggur. Akan tetapi, menekan
pengangguran menjadi nol merupakan hal yang tidak mungkin dan tidak
diinginkan.

3.3 Program Pemerintah


Faktor Yang Menyebabkan Pengangguran di Indonesia
• Kurangnya sumber daya manusia pencipta kerja.
• Overpopulasi / pencari kerja.
• Kurangnya kain komunikasi antara pencari kerja dengan majikan.
• Kurangnya pendidikan bagi pewirausaha.
Kesenjangan sosial akan menjadi semakin serius jika tidak segera diatasi. Adapun
masalah yang akan disebabkan oleh adanya kesenjangan sosial :
- Melemahnya Wirausaha
Kesenjangan sosial menjadi perusak kepentingan ingin memulai bisnis,
crusher ingin terus mempertahankan bisnis, bahkan semangat crusher bagi
perusahaan untuk mengembangkan lebih maju. Hali ini karena pengusaha
selalu dianggap sepele.
- Terjadi Kriminalitas
Banyak orang miskin yang terpaksa menghalalkan segala cara untuk
mendapatkan uang, seperti pencopetan, pencurian, perjudian, jambret, begal.
dll.
Upaya yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk memecahkan masalah
ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia :
• Mengutamakan Pendidikan.
• Menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan.
• Meminimalkan korupsi dan memberantas korupsi.
• Meningkatkan sistem peradilan di Indonesia dan melakukan pengawasan
ketat dari mafia peradilan.
Kesenjangan sosial terjadi karena jumlah orang miskin dan pengangguran di
Indonesia. Indonesia sebenarnya mampu menjadi negara maju dan negara yang
mampu memberikan kesejahteraan masyarakat. Karena Indonesia memiliki
sumber daya alam yang sangat kaya dan melimpah tapi mengapa masih terjadi
kesenjangan sosial yang sangat mencolok. Ini adalah pertanyaan besar kebutuhan
untuk jawaban dan titik terang. Ini adalah tugas bagi pemerintah untuk menjadi
kesejahteraan sosial dan meminimalkan kesenjangan sosial.
BAB IV
PENUTUP
4.1 SIMPULAN
Banyak program yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah
perekonomian yakni mengenai masalah kemiskinan dan pengangguran namun
pada kenyataannya hasil yang dicapai tidak sesuai yang diharapkan, dan juga
banyak pengangguran yang ada di Indonesia karena kurangnya lapangan
pekerjaan yang ada dan ketidaksesuaian antara tingkat pendidikan yang
dibutuhkan dan yang tersedia yang menyebabkan bertambahnya kemiskinan di
Indonesia.

4.2 SARAN
Dalam mengatasi pengangguran dan kemiskinan tidak hanya tanggung
jawab pemerintah, selaku masyarakat yang memiliki tingkat ekonomi lebih tinggi
dari mereka atau seorang pengusaha di harapkan dapat membantu memberikan
lahan pekerjaan.
DAFTAR PUSTAKA
Dudung. 2015. Faktor dan Cara Menanggulangi Kesenjangan Sosial
di Masyarakat. www.DosenPendidikan.com. 23,13.18
G. Lipsey, Richard. Peter O. Steiner. Douglas D. Purvis. Jaka Wasana.
Kirbrandoko. 1997. Pengantar Makroekonomi. Jakarta: Erlangga
Oktaviyani, Lilis. Kemiskinan dan Pengangguran.
http://lilisoktaviyani1001.blogspot.co.id. 23,14.05
P. Todaro, Michael. 1994. Ekonomi untuk Negara Berkembang. Jakarta: Bumi
Aksara