Anda di halaman 1dari 35

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bencana yang tidak ada habisnya, baik karena manusia maupun karena
kejadian alam merupakan sumber stressor yang dapat mengakibatkan
terjadinya berbagai masalah kesehatan jiwa masyarakat, baik yang ringan
sampai yang berat. Masalah kesehatan jiwa yang ringan berupa masalah
psikososial seperti kecemasan, psikosomatis dapat terjadi pada orang yang
mengalami bencana. Bahkan keadaan lebih berat seperti depresi dan psikosis
dapat terjadi jika orang yang mengalami masalah psikososial tidak ditangani
dengan baik
Biasanya harga diri sangat rentan terganggu pada saat remaja dan usia
lanjut. Dari hasil riset ditemukan bahwa masalah kesehatan fisik dapat
mengakibatkan harga diri rendah. Harga diri tinggi terkait dengam
ansietas yang rendah, efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain.
Sedangkan harga diri rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang
buruk dan resiko terjadi harga diri rendah.
Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif
terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri
rendah dapat terjadi secara situasional (trauma) atau kronis (negatif self
evaluasi yang telah berlangsung lama). Dan dapat di ekspresikan secara
langsung atau tidak langsung (nyata atau tidak nyata). Konsep diri sangat
erat kaitannya dengan diri individu. Kehidupan yang sehat, baik fisik
maupun psikologi salah satunya di dukung oleh konsep diri yang baik dan
stabil. Konsep diri adalah hal-hal yang berkaitan dengan ide, pikiran,
kepercayaan serta keyakinan yang diketahui dan dipahami oleh individu
tentang dirinya.

B. Rumusan Masalah
1. Apa defenisi ganguan jiwa?
2. Apa penyebab gangguan jiwa?
3. Apa saja macam-macam gangguan jiwa?
4. Bagaimana dukungan sosial keluarga?
5. Apa saja peran dan fungsi perawat kesehatan jiwa komunitas?
6. Bagaimana pelayanan kesehatan jiwa komunitas?
7. Baigaimana menetapkan asuhan keperawatan komunitas jiwa masyarakat?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui defenisi gangguan jiwa.
2. Untuk mengetahui penyebab gangguan jiwa.
3. Untuk mengetahui gangguan jiwa.
4. Untuk mengetahui dukungan sosial keluarga.
5. Untuk mengetahui peran dan fungsi perawat kesehatan jiwa komunitas
6. Untuk mengetahui pelayanan kesehatan jiwa kesehatan.
7. Untuk menetapkan asuhan keperawatan komunitas jiwa masyarakat

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Defenisi Gangguan Jiwa


Gangguan jiwa adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya
emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera).
Gangguan jiwa ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita (dan
keluarganya)
Gangguan jiwa dapat mengenai setiap orang, tanpa mengenal umur, ras,
agama, maupun status sosial-ekonomi. Gangguan jiwa bukan disebabkan oleh
kelemahan pribadi. Di masyarakat banyak beredar kepercayaan atau mitos
yang salah mengenai gangguan jiwa, ada yang percaya bahwa gangguan
jiwadisebabkan oleh gangguan roh jahat, ada yang menuduh bahwa itu akibat
guna-guna, karena kutukan atau hukuman atas dosanya.

B. Penyebab Gangguan Jiwa


Gejala utama atau gejala yang menonjol pada gangguan jiwa terdapat pada
unsur kejiwaan, tetapi penyebab utamanya di badan (somatogenik),
lingkungan sosial (sosiogenik) ataupun psikis (psikogenik), (Maramis1994).
Biasanya tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa penyebab
sekaligus dariberbagai unsur itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan
terjadi bersamaan, lalu timbulah gangguan badan ataupun jiwa.

C. Macam-Macam Gangguan Jiwa


Gangguan jiwa artinya bahwa yang menonjol ialah gejala psikologik dari
unsur psikis (Maramis, 1994). Macam gangguan jiwa (Rusdi Maslim, 1998):
Gangguan jiwa organik dan simtomatik, skizofrenia, gangguan skizotipal dan
gangguan waham, gangguan suasana perasaan, gangguan neurotik, gangguan
somatoform, sindrom perilaku yang berhubungan dengan gangguan fisiologis
dan faktor fisik, Gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa, retardasi
mental, gangguan perkembangan psikologis, gangguan perilaku dan
emosional dengan onset masa kanak dan remaja.
1. Skizofrenia.
Merupakan bentuk psikosa fungsional paling berat, dan menimbulkan
disorganisasi personalitas yang terbesar. Skizofrenia merupakan suatu
bentuk psikosa yang sering dijumpai dimana-mana sejak dahulu kala.
Meskipun demikian pengetahuan kita tentang penyebab dan patogenisanya
sangat kurang (Maramis, 1994). Dalam kasus berat, klien tidak mempunyai
kontak dengan realitas, sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal.
Perjalanan penyakit ini bertahap akan menuju kearah kronisitas, tetapi
sekali-kali bisa timbul serangan.
2. Depresi
Merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia berkaitan dengan
alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan
pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa
putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri (Kaplan, 1998).
Depresi juga dapat diartikan sebagai salah satu bentuk gangguan kejiwaan
pada alam perasaan yang ditandai dengan kemurungan, keleluasaan,
ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lain
sebagainya (Hawari, 1997).Depresi adalah suatu perasaan sedih dan yang
berhubungan dengan penderitaan.Dapat berupa serangan yang ditujukan
pada diri sendiri atau perasaan marah yang mendalam (Nugroho, 2000).
Depresi adalah gangguan patologis terhadap mood mempunyai
karakteristik berupa bermacam-macam perasaan, sikap dan kepercayaan
bahwa seseorang hidup menyendiri, pesimis, putus asa, ketidak berdayaan,
harga diri rendah, bersalah, harapan yang negatif dan takut pada bahaya
yang akan datang.

3. Kecemasan
Sebagai pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang pernah dialami
oleh setiap orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah
yang dihadapi sebaik-baiknya, Maslim (1991). Suatu keadaan seseorang
merasa khawatir dan takut sebagai bentuk reaksi dari ancaman yang tidak
spesifik (Rawlins 1993).Penyebabnya maupun sumber biasanya tidak
diketahui atau tidak dikenali.Intensitas kecemasan dibedakan dari
kecemasan tingkat ringan sampai tingkat berat.Menurut Sundeen (1995)
mengidentifikasi rentang respon kecemasan kedalam empat tingkatan yang
meliputi, kecemasn ringan, sedang, berat dan kecemasan panik.
4. Gangguan Kepribadian
Klinik menunjukkan bahwa gejala gangguan kepribadian (psikopatia)
dan nerosa berbentuk hampir sama pada orang dengan intelegensi tinggi
atau rendah. Jadi dapat dikatakan bahwa gangguan kepribadian, nerosa dan
gangguan intelegensi sebagaian besar tidak tergantung pada satu dengan
yang lain atau tidak berkorelasi. Klasifikasi gangguan kepribadian:
paranoid, afektif atau siklotemik, skizoid, axplosif, anankastik atau obsesif-
konpulsif, histerik, astenik, antisosial, pasif agresif, dan kepribadian
inadequate. (Maslim,1998).
5. Gangguan Mental Organik
Merupakan gangguan jiwa psikotik atau non-psikotik yang disebabkan
oleh gangguan fungsi jaringan otak (Maramis,1994). Gangguan fungsi
jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama
mengenai otak atau diluar otak. Bila bagian otak yang terganggu itu luas,
maka gangguan dasar mengenai fungsi mental sama saja, tidak tergantung
pada penyakit yang menyebabkannya. Bila hanya bagian otak dengan
fungsi tertentu saja yang terganggu, maka lokasi inilah yang menentukan
gejala dan sindroma, bukan penyakit yang menyebabkannya. Pembagian
menjadi psikotik dan tidak psikotik lebih menunjukkan kepada berat
gangguan otak pada suatu penyakit tertentu daripada pembagian akut dan
menahun.
6. Gangguan Psikosomatik
Merupakan komponen psikologi yang diikuti gangguan fungsi badaniah
(Maramis, 1994). Sering terjadi perkembangan neurotik yang
memperlihatkan sebagian besar atau semata-mata karena gangguan fungsi
alat-alat tubuh yang dikuasai oleh susunan saraf vegetatif. Gangguan
psikosomatik dapat disamakan dengan apa yang dinamakan neurosa organ.
Karena biasanya hanya fungsi faaliah yang terganggu, maka sering disebut
juga gangguan psikofisiologik.
7. Retardasi Mental
Merupakan terhenti atau tidak lengkapnya perkembangan jiwa terutama
ditandai oleh terjadinya gangguan keterampilan selama masa
perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara
menyeluruh, misalnya kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan social
8. Gangguan Perilaku Masa Anak dan Remaja.
Anak dengan gangguan perilaku ini ditunjukkan dengan perilaku yang
tidak sesuai dengan permintaan, kebiasaan atau norma masyarakat
(Maramis, 1994). Anak dengan gangguan perilaku dapat menimbulkan
masalah dalam asuhan dan pendidikan. Gangguan perilaku mungkin
berasal dari anak atau mungkin dari lingkungannya, akan tetapi akhirnya
kedua faktor ini saling mempengaruhi. Diketahui bahwa ciri dan bentuk
anggota tubuh serta sifat kepribadian yang umum dapat diturunkan dari
orang tua kepada anaknya. Pada gangguan otak seperti trauma kepala,
ensepalitis, neoplasma dapat mengakibat-kan perubahan kepribadian.
Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi perilaku pada anak. Maka
dengan demikian gangguan perilaku dapat dicegah.

D. Pencegahan Kekambuhan Gangguan Jiwa


Pencegahan kekambuhan adalah dengan mencegah terjadinya peristiwa
timbulnya kembali gejala yang sebelumnya sudah memperoleh kemajuan
(Stiart, 2001). Pada gangguan jiwa kronis diperkirakan mengalami
kekambuhan 50% pada tahun I, dan 79% pada tahun ke-II (Yosep, 2006).
Kekambuhan biasa terjadi karena adanya kejadian buruk sebelum mereka
kambuh (Wiramis harja, 2007). Empat faktor penyebab kekambuhan dan yang
memerlukan perawatan, menurut Sullinger (1988) adalah sebagai berikut :
1. Klien: ketidakteraturan mengkonsumsi obat mempunyai kecenderungan
untuk kambuh. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan 25%-50% klien
yang pulang dari rumah sakit tidak memakan obat secara teratur.
2. Dokter (pemberi resep): pengguanaan obat yang teratur dapat mengurangi
kambuh, namun penggunaan obat neuroleptic yang lama dapat
menimbulkan efek samping Tardive Diskinesia yang dapat mengganggu
hubungan sosial seperti gerakan yang tidak terkontrol.
3. Penanggung jawab klien: Setelah klien pulang, maka perawat puskesmas
tetap bertanggung jawab atas program adaptasi klien di rumah.
4. Keluarga: Berdasarkan penelitian di Inggris dan Amerika keluarga dengan
ekspresi emosi tinggi (bermusuhan, mengkritik, tidak ramah, banyak
menekan dan menyalahkan), hasilnya 57% kembali dirawat dari keluarga
ekspresi emosi tinggi dan 17% dari keluarga ekspresi emosi keluarga
rendah. Selain itu, klien juga mudah dipengaruhi oleh stress menyenangkan
(naik pangkat, menikah) maupun yang menyedihkan
(kematian/kecelakaan). Dengan terapi keluarga, klien dan keluarga dapat
mengatasi dan mengurangi stress. Cara terapi bisanya: mengumpulkan
anggota keluarga dan memberi kesempatan menyampaikan perasaan.
Memberi kesempatan menambah ilmu dan wawasan kepada klien ganguan
jiwa, memfasilitasi untuk menemukan situasi dan pengalaman baru.
Beberapa gejala kambuh yang perlu diidentifikasi oleh klien dan keluarga,
adalah sebagai berikut :
a. Menjadi ragu-ragu dan serba takut (nervous)
b. Tidak nafsu makan
c. Sukar konsentrasi
d. Sulit tidur
e. Tidak ada minat
f. Depresi dan menarik diri
Setelah klien kembali ke keluarga, sebaiknya klien melakukan perawatan
lanjutan pada puskesmas di wilayahnya yang mempunyai program kesehatan
jiwa. Perawat komunitas yang menangani klien dapat menganggap rumah
klien sebagai “ruangan perawatan”. Perawat, klien dan keluarga bekerjasama
untuk membantu proses adaptasi klien di dalam keluarga dan masyarakat.
Perawat dapat membuat kontrak dengan keluarga tentang jadwal kunjungan
dan after care di puskesmas.
Keluarga merupakan unit yang paling dekat dengan klien dan merupakan
“perawat utama” bagi klien. Keluarga berperan dalam menentukan cara atau
asuhan yang diperlukan klien di rumah. Pentingnya peran keluarga dalam
klien gangguan jiwa dapat dipandang dari berbagai segi. Pertama, keluarga
merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan
lingkungannya. Keluarga merupakan “institusi” pendidikan utama bagi
individu untuk belajar dan mengembangkan nilai, keyakinan, sikap dan
perilaku (Clement dan Buchanan, 1982). Individu menguji coba perilakunya
di dalam keluarga, dan umpan balik keluarga mempengaruhi individu dalam
mengadopsi perilaku tertentu.

E. Dukungan sosial keluarga


1. Pengertian Dukungan Sosial Keluarga
Menurut Sarwono dalam Yusuf (2007), dukungan adalah suatu
upaya yang diberikan kepada orang lain, baik moril maupun materil untuk
memotivasi orang tersebut dalam melaksanakan kegiatan. Sistem
dukungan untuk mempromosikan perubahan perilaku ada 3, yaitu : (1)
dukungan material adalah menyediakan fasilitas latihan, (2) dukungan
informasi adalah untuk memberiakan contoh nyata keberhasilan seseorang
dalam melaksanakan diet dan latihan, dan (3) dukungan emosional atau
semangat adalah member pujian atas keberhasilan proses latihan.
Menurut Friedman (1998), dukungan sosial keluarga adalah sikap,
tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Anggota
keluarga memenadang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap
memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.

2. Jenis Dukungan Sosial Keluarga


Kaplan (1976) dalam Friedman (1998) menjelaskan bahwa
keluarga memiliki 4 jenis dukungan, yaitu :
a. Dukungan Emosional
Dukungan emosional mencakup ungkapan empati, kepedulian dan
perhatian terhadap orang yang bersangkutan.Bentuk dukungan ini
membuat individu memiliki perasaan nyaman, yakin, diperlukan dan
dicintai oleh sumber dukungan sosial, sehingga dapat menghadapi
masalah dengan lebih baik.
b. Dukungan Penghargaan
Dukungan penghargaan terjadi lewat ungkapan hormat (penghargaan)
positif untuk orang itu, dorongan maju atau persetujuan dengan
gagasan atau perasaan individu, dan perbandingan positif orang itu
dengan orang lain, contohnya dengan membandingkannya dengan
orang lain yang lebih buruk keadaannya.
c. Dukungan Instrumental
Dukungan instrumental mencakup bantuan langsung, seperti kalau
orang memberi pinjaman uang kepada orang itu.Bentuk dukungan ini
dapat mengurangi beban individu karena individu dapat langsung
memecahkan masalahnya yang berhubungan dengan materi.
d. Dukungan Informatif
Dukungan informatif mencakup memberikan nasehat, petunjuk-
petunjuk, saran-saran atau umpan balik. Jenis informasi seperti ini
dapat menolong individu untuk mengenali dan mengatasi masalah
dengan lebih mudah.
3. Sumber Dukungan Sosial Keluarga
Menurut Root & Dooley (1985) dalam Kuncoro (2002) ada 2
sumber dukungan sosial keluarga yaitu natural dan artifisial. Dukungan
sosial keluarga yang natural diterima seseorang melalui interaksi sosial
dalam kehidupan secara spontan dengan orang yang berada di sekitarnya.
Dukungan sosial keluarga ini bersifat formal sedangkan dukungan sosial
keluarga artifisial adalah dukungan yang dirancang dalam kebutuhan
primer seseorang misalnya dukungan keluarga akibat bencana alam
melalui berbagai sumbangan sehingga sumber dukungan sosial keluarga
natural mempunyai berbagai perbedaan jika dibandingkan dengan
dukungan sosial keluarga artifisial.
Perbedaan terletak pada keberadaan sumber dukungan sosial
keluarga natural bersifat apa adanya tanpa di buat-buat sehingga mudah
diperoleh dan bersifat spontan, Sumber dukungan sosial keluarga yang
natural mempunyai kesesuaian dengan nama yang berlaku tentang kapan
sesuatu harus diberikan, sumber dukungan sosial keluarga natural berakar
dari hubungan yang berakar lama, sumber dukungan natural mempunyai
keragaman dalam penyampaian dukungan, mulai dari pemberian barang
yang nyata, menemui seseorang dengan menyampaikan salam, sumber
dukungan sosial keluarga natural terbatas dari beban dan label psikologis.
4. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Dukungan sosial keluarga
Sarafino (2006) menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi apakah seseorang akan menerima dukungan sosial keluarga
atau tidak. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah :
a. Faktor dari penerima dukungan (recipient)
Seseorang tidak akan menerima dukungan sosial dari orang lain
jika ia tidak suka bersosial, tidak suka menolong orang lain, dan tidak
ingin orang lain tahu bahwa ia membutuhkan bantuan. Beberapa orang
terkadang tidak cukup asertif untuk memahami bahwa ia sebenarnya
membutuhkan bantuan dari orang lain, atau merasa bahwa ia
seharusnya mandiri dan tidak mengganggu orang lain, atau merasa
tidak nyaman saat orang lain menolongnya, atau tidak tahu kepada
siapa dia harus meminta pertolongan.
b. Faktor dari pemberi dukungan (providers)
Seseorang terkadang tidak memberikan dukungan sosial kepada
orang lain ketika ia sendiri tidak memiliki sumberdaya untuk
menolong orang lain, atau tengah menghadapi stres, harus menolong
dirinya sendiri, atau kurang sensitif terhadap sekitarnya sehingga tidak
menyadari bahwa orang lain membutuhkan dukungan darinya.
5. Indikator Dukungan Sosial Keluarga
Indikator rendahnya dukungan sosial keluarga diantaranya:
a. Keluarga belum dapat memantau penderita gangguan jiwa dalam
pemberian obat sesuai dengan anjuran petugas kesehatan.
b. Keluarga belum bisa menjaga kebersihan diri penderita gangguan jiwa.
c. Keluarga belum bisa memenuhi kebutuhan KDM penderita di
sebabkan adanya kegiatan lain.
d. Keluarga masih melakukan pengasingan pada penderita gangguan
jiwa.
e. Keluarga masih merasa malu dengan adanya penderita gangguan jiwa
di rumahnya karena dianggap aib keluarga.
f. Keluarga juga tidak mempunyai kreativitas dalam cara pemberian obat
pada penderita gangguan jiwa.
g. Keluarga tidak dapat berkomunikasi baik dengan penderita gangguan
jiwa.
h. Keluarga belum mampu memberikan informasi dan motivasi pada
penderita gangguan jiwa.
i. Keluarga masih beranggapan bahwa penderita gangguan jiwa tidak
dapat di sembuhkan lagi.
6. Indikator Pencegahan Kekambuhan pada Penderita Gangguan Jiwa
Indikator pencegahan kekambuhan penderita gangguan jiwa di Puskesmas
adalah sebagai berikut :
a. Tidak terjadinya prilaku penyimpangan penderita seperti perilaku
kekerasan
b. Tidak terjadinya prilaku penyimpangan pada penderita seperti Histeris
c. Tidak Terjadi prilaku penyimpangan seperti tidak mau minum obat,
tidak mau makan, tidak mau minum, tidak mau tidur, tidak mau keluar
rumah, tidak mau bicara, tidak mau mandi.
d. Tidak terjadinya prilaku seperti bicara sendiri
e. Tidak terjadinya prilaku ketawa sendiri, bicara gaur, berdiam diri,
BAB dan BAK sembarangan.
7. Fungsi Keluarga Dalam Memberikan Dukungan
Caplan (1964) dalam Friedman (1998) menjelaskan bahwa keluarga
memiliki beberapa fungsi dukungan yaitu:
a. Dukungan informasional
Keluarga berfungsi sebagai kolektor dan diseminator (penyebar)
informasi tentang dunia. Menjelaskan tentang pemberian saran,
sugesti, informasi yang dapat digunakan mengungkapkan suatu
masalah. Manfaat dari dukungan ini adalah menekan munculnya suatu
stressor karena informasi yang diberikan dapat menyumbangkan aksi
sugesti yang khusus pada individu. Aspek dalam dukungan ini adalah
nasehat, usulan, saran, petunjuk dan pemberian informasi.
b. Dukungan penilaian
Keluarga sebagai bimbingan umpan balik, yaitu dengan membimbing
dan menengahi pemecahan masalah, sebagai sumber dan validator
indentitas anggota keluarga diantaranya memberikan support,
penghargaan, perhatian
c. Dukungan instrumental
Keluarga merupakan sumber pertolongan praktis dan konkrit,
diantaranya: kesehatan penderita dalam hal kebutuhan makan dan
minum, istirahat, terhindarnya penderita dari kelelahan.
d. Dukungan emosional
Keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan
pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Aspek-aspek
dari dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan dalam
bentuk afeksi, adanya kepercayaan, perhatian, mendengarkan dan
didengarkan.

F. Konsep Dasar Community Mental Healthy Nursing


Keperawatan kesehatan jiwa komunitas adalah pelayanan keperawatan
yang komprehensif , holistik, dan paripurna yang berfokus pada masyarakat
yang sehat jiwa , rentan terhadap stress (resiko gangguan jiwa) dan dalam
tahap pemulihan serta pencegahan kekambuhan (gangguan jiwa).
Pelayanan keperawatan komprehensif adalah pelayanan yang berfokuskan
pada pencegahan primer pada anggota masyarakat yang sehat jiwa,
pencegahan sekunder pada masyarakat yang mengalami masalah psikososial
(resiko gangguan jiwa) dan pencegahan tersier pasien gangguan jiwa dengan
proses pemulihan.
Pelayanan keperawatan holistik adalah pelayanan menyeluruh pada semua
aspek kehidupan manusia yaitu aspek bio-psiko-sosio-cultural dan spiritual.
1. Aspek (bio-fisik)
Dikaitkan dengan masalah kesehatan fisik seperti kehilangan orang tubuh
yag dialami anggota masyarakat akibat bencana yang memerlukan
pelayanan dalam rangka adaptasi mereka terhadap kondisi fisiknya.
Demikian pula dengan penyakit fisik lain baik yang akut,kronis maupun
terminal yang memberi dampak pada kesehatan jiwa.
2. Aspek psikologis
Dikaitkan dengan berbagai masalah psikologis yang dialami masyarakat
seperti ketakutan, trauma, kecemasan maupun kondisi lebih berat yang
memerlukakan pelayanan agar mereka dapat beradaptasi dengan situasi
tersebut.
3. Aspek social
Dikaitkan dengan kehilangan suami/istri/anak, keluarga dekat, pekerjaan,
tempat tinggal, dan harta benda yang memerlukan pelayanan dari berbagai
sektor terkait agar mampu mempertahankan kehidupan sosial yg
memuaskan.
4. Aspek cultural
Dikaitkan dengan tolong menolong yang dapat digunakan sebagai sistem
pendukung sosial dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ditemukan.
5. Aspek spiritual
Dikaitkan dengan nilai-nilai keagamaan yang kuat yang dapat
diperdayakan sebagai potensi masyarakat dalam mengatasi berbagai
konflik dan masalah kesehatan yang terjadi.
Pelayanan keperawatan paripurna adalah pelayanan pada semua jenjang
pelayanan yaitu dari pelayanan kesehatan jiwa spesialis , pelayanan
kesehatan jiwa integratif dan pelayanan kesehatan jiwa yang bersumber
daya masyarakat. Perberdayaan seluruh potensi dan sumber daya yang ada
dimasyarakat diupayakan agar terwujud masyarakat yang mandiri dalam
memelihara kesehatannya.

G. Prinsip-Prinsip Keperawatan Kesehatan Jiwa


Prinsip-prinsip keperawatan kesehatan jiwa adalah sebagai berikut :
1. Therapeutic Nurse patient relationship (hubungan yang terapeutik antara
perawat dengan klien).
2. Conceptual models of psychiatric nursing (konsep model keperawatan
jiwa).
3. Stress adaptation model of psychiatric nursing (model stress dan adaptasi
dalam keperawatan jiwa).
4. Biological context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan biologis
dalam keperawatan jiwa).
5. Psychological context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan
psikologis dalam keperawatan jiwa).
6. Sociocultural context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan sosial
budaya dalam keperawatan jiwa).
7. Environmental context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan
lingkungan dalam keperawatan jiwa).
8. Legal ethical context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan legal
etika dalam keperawatan jiwa).
9. Implementing the nursing process : standards of care (penatalaksanaan
proses keperawatan: dengan standar- standar perawatan).
10. Actualizing the Psychiatric Nursing Role : Professional Performance
Standards (aktualisasi peran keperawatan jiwa: melalui penampilan standar-
standar professional).
H. Jenis – jenis CMHN
1. Basic Course (BC) CMHN
Sasaran : perawat keswamas (puskesmas)
Kegiatan : perawat diberikan pelatihan cara memberikan asuhan
keperawatan (7Dx Keperawatan) pada klien dan keluarga pasien gangguan
jiwa dirumah.
2. Intermediate Course (IC) CMHN
Sasaran : Kader Keswa dan Perawat Keswa (Puskesmas
Kegiatan :
a. Membentuk desa siaga sehat jiwa
b. Merekrut dan melatih kader keswa untuk skreening ggn jiwa di
masyarakat, masalah psikososial dan sehat jiwa.
c. Melatih perawat keswa mengintervensi klien dengan masalah
psikososial dan mengembangkan rehabilitasi pasien gangguan jiwa.
3. Advance Course (AC) CMHN
Sasaran : individu, keluarga, staf puskesmas, kelompok formal dan
informal serta masyarakat luas
Kegiatan :
a. Manajemen keperawatan kesehatan jiwa
b. Kerjasama Lintas sektoral
1) Psycoanalytical (Freud, Erickson).
Menjelaskan bahwa gangguan jiwa dapat terjadi pada seseorang
apabila ego (akal) tidak berfungsi dalam mengontrol id (kehendak
nafsu atau insting). Ketidakmampuan seseorang dalam menggunakan
akalnya (ego) untuk mematuhi tata tertib, peraturan, norma,
agama(super ego/das uber ich), akan mendorong terjadinya
penyimpangan perilaku (deviation of Behavioral). Faktor penyebab
lain gangguan jiwa dalam teori ini adalah adanya konflik intrapsikis
terutama pada masa anak-anak. Misalnya ketidakpuasan pada masa
oral dimana anak tidak mendapatkan air susu secara sempurna, tidak
adanya stimulus untuk belajar berkata- kata, dilarang dengan
kekerasan untuk memasukkan benda pada mulutnya pada fase oral
dan sebagainya.
2) Interpersonal ( Sullivan, peplau).
Menurut konsep model ini, kelainan jiwa seseorang bisa muncul
akibat adanya ancaman. Ancaman tersebut menimbulkan kecemasan
(Anxiety). Ansietas timbul dan alami seseorang akibat adanya konflik
saat berhubungan dengan orang lain (interpersonal). Menurut konsep
ini perasaan takut seseorang didasari adnya ketakutan ditolak atau
tidak diterima oleh orang sekitarnya. Proses terapi menurut konsep
ini adalh Build Feeling Security (berupaya membangun rasa aman
pada klien), Trusting Relationship and interpersonal Satisfaction
(menjalin hubungan yang saling percaya) dan membina kepuasan
dalam bergaul dengan orang lain sehingga klien merasa berharga dan
dihormati. Peran perawat dalam terapi adalah share anxieties
(berupaya melakukan sharing mengenai apa-apa yang dirasakan
klien, apa yang biasa dicemaskan oleh klien saat berhubungan dengan
orang lain), therapist use empathy and relationship (perawat berupaya
bersikap empati dan turut merasakan apa-apa yang dirasakan oleh
klien). Perawat memberiakan respon verbal yang mendorong rasa
aman klien dalam berhubungan dengan orang lain.
3) Social ( Caplan, Szasz).
Seseorang akan mengalami gangguan jiwa atau penyimpangan
perilaku apabila faktor social dan faktor lingkungan yang memicu
munculnya stress pada seseorang (social and environmental factors
create stress, which cause anxiety and symptom). Prinsip proses
terapi yang sangat penting dalam konsep model ini adalah
environment manipulation and social support (pentingnya modifikasi
lingkungan dan adanya dukungan sosial)
4) Existensial ( Ellis, Rogers).
Menurut teori model ekistensial gangguan perilaku atau gangguan
jiwa terjadi bila individu gagal menemukan jati dirinya dan tujuan
hidupnya. Individu tidak memiliki kebanggaan akan dirinya.
Membenci diri sendiri dan mengalami gangguan dalam Body
imagenya. Prinsip proses terapi-nya adalah : mengupayakan individu
agar bergaul dengan orang lain, memahami riwayat hidup orang lain
yang dianggap sukses atau dapat dianggap sebagai panutan
(experience in relationship), memperluas kesadaran diri dengan cara
introspeksi (self assessment), bergaul dengan kelompok sosial dan
kemanusiaan (conducted in group), mendorong untuk menerima jati
dirinya sendiri dan menerima kritik atau feedback tentang
perilakunya dari orang lain (encouraged to accept self and control
behavior).
5) Supportive Therapy ( Wermon, Rockland).
Penyebab gangguan jiwa dalam konsep ini adalah: factor
biopsikososial dan respo maladaptive saat ini. Aspek biologisnya
menjadi masalah seperti: sering sakit maag, migraine, batuk-batuk.
Aspek psikologisnya mengalami banyak keluhan seperti : mudah
cemas, kurang percaya diri, perasaan bersalah, ragu-ragu, pemarah.
Aspek sosialnya memiliki masalah seperti : susah bergaul, menarik
diri,tidak disukai, bermusuhan, tidak mampu mendapatkan pekerjaan,
dan sebagainya. Semua hal tersebut terakumulasi menjadi penyebab
gangguan jiwa.
6) Medica (Meyer, Kraeplin).
Menurut konsep ini gangguan jiwa muncul akibat multifactor yang
kompleks meliputi: aspek fisik, genetic, lingkungan dan sosial.
Sehingga focus penatalaksanaannya harus lengkap melalui
pemeriksaan diagnostic, terapi somatic, farmakologik dan teknik
interpersonal..

I. Peran dan Fungsi Perawatan Kesehatan Jiwa Komunitas


Keperawatan kesehatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya
untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang mendukung pada
fungsi yang terintegrasi sehingga sanggup mengembangkan diri secara wajar
dan dapat melakukan fungsinya dengan baik, sanggup menjelaskan tugasnya
sehari-hari sebagaimana mestinya. Dalam mengembangkan upaya pelayanan
keperawatan jiwa, perawat sangat penting untuk mengetahui dan meyakini
akan peran dan fungsinya, serta memahami beberapa konsep dasar yang
berhubungan dengan asuhan keperawatan jiwa.
1. Pengkajian yg mempertimbangkan budaya
2. Merancang dan mengimplementasikan rencana tindakan
3. Berperan serta dalam pengelolaan kasus
4. Meningkatkan dan memelihara kesehatan mental, mengatasi pengaruh
penyakit mental - penyuluhan dan konseling
5. Mengelola dan mengkoordinasikan sistem pelayanan yang
mengintegrasikan kebutuhan pasien, keluarga staf dan pembuat kebijakan
6. Memberikan pedoman pelayanan kesehatan

J. Kompetensi perawat kesehatan jiwa komunitas (competent of caring)


1. Pengkajian biopsikososial yang peka terhadap budaya
2. Merancang dan implementasi rencana tindakan untuk klien dan keluarga.
3. Peran serta dalam pengelolaan kasus: mengorganisasikan, mengkaji,
negosiasi, koordinasi pelayanan bagi individu dan keluarga.
4. Memberikan pedoman pelayanan bagi individu, keluarga, kelompok, untuk
menggunakan sumber yang tersedia di komunitas kesehatan mental,
termasuk pelayanan terkait, teknologi dan sistem sosial yang paling tepat.
5. Meningkatkan dan memelihara kesehatanmental serta mengatasi pengaruh
penyakit mental melalui penyuluhan dan konseling.
6. Memberikan askep pada penyakit fisik yang mengalami masalah psikologis
dan penyakit jiwa dengan masalah fisik.
7. Mengelola dan mengkoordinasi sistem pelayanan yang mengintegrasikan
kebutuhan klien, keluarga, staf, dan pembuat kebijakan.

K. Pelayanan Keperawatan Jiwa Komunitas


Pelayanan keperawatan jiwa komprehensif adalah pelayanan keperawatan
jiwa yang diberikan pada masyarakat pasca bencana dan konflik, dengan
kondisi masyarakat yang sangat beragam dalam rentang sehat – sakit yang
memerlukan pelayanan keperawatan pada tingkat pencegahan primer,
sekunder, dan tersier. Pelayanan keperawatan kesehatan jiwa yang
komprehensif mencakup 3 tingkat pencegahan yaitu pencegaha primer ,
sekunder, dan tersier.
1. Pencegahan Primer
Fokus pelayanan keperawatan jiwa adalah pada peningkatan kesehatan dan
pencegahan terjadinya gangguan jiwa. Tujuan pelayanan adalah mencegah
terjadinya gangguan jiwa , mempertahankan dan meningkatkan kesehtan
jiwa. Target pelayanan yaitu anggota masyarakat yang belum mengalami
gangguan jiwa sesuai dengan kelompok umur yaitu anak, remaja, dewasa,
dan usia lanjut. Aktivitas pada pencegahan primer adalah program
pendidikan kesehatan , program stimulasi perkembangan, program
sosialisasi kesehatan jiwa , manajemen stress, persiapan menjadi orang tua.
Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah :
a. Memberikan pendidikan kesehatan pada orangtua antara lain :
1) Pendidikan menjadi orangtua
2) Pendidikan tentang perkembangan anak sesuai dengan usia.
3) Memantau dan menstimulasi perkembangan
4) Mensosialisasikan anak dengan lingkungan
b. Pendidikan kesehatan mengatasi stress
1) Stress pekerjaan
2) Stress perkawinan
3) Stress sekolah
4) Stress pasca bencana
c. Program dukungan sosial diberikan pada anak yatim piatu , individu
yang kehilangan pasangan , pekerjaan, kehilangan rumah/ tempat
tinggal , yang semuanya ini mungkin terjadi akibat bencana. Beberapa
kegiatan yang dilakukan adalah :
1) Memberikan informasi tentang cara mengatasi kehilangan
2) Menggerakkan dukungan masyarakat seperti menjadi orangtua
asuh bagi anak yatim piatu.
3) Melatih keterampilan sesuai dengan keahlian masing-masing untuk
mendapatkan pekerjaan
4) Mendapatkan dukungan pemerintah dan LSM untuk memperoleh
tempat tinggal.
d. Program pencegahan penyalahgunaan obat. Penyalahgunaan obat
sering digunakan sebagai koping untuk mengtasi masalah. Kegiatan
yang dilakukan:
1) Pendidikan kesehatan melatih koping positif untuk mengatasi
stress
2) Latihan asertif yaitu mengungkapkan keinginan dan perasaan tanpa
menyakiti orang lain.
3) Latihan afirmasi dengan menguatkan aspek-aspek positif yang ada
pada diri seseorang.
e. Program pencegahan bunuh diri. Bunuh diri merupakan salah satu cara
penyelesaian masalah oleh individu yang mengalami keputus asaan.
Oleh karena itu perlu dilakukan program :
1) Memberikan informasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat
tentang tanda-tanda bunuh diri.
2) Menyediakan lingkungan yang aman untuk mencegah bunuh diri.
3) Melatih keterampilan koping yang adaptif.
2. Pencegahan Sekunder
Fokus pada pencegahan sekunder adalah deteksi dini dan penanganan
dengan segera masalah psikososial dan gangguan jiwa. Tujuan pelayanan
adalah menurunkan angka kejadian gangguan jiwa. Target pelayanan
adalah anggota masyarakat yang beresiko atau memperlihatkan tanda-tanda
masalah dan gangguan jiwa. Aktivitas pada pencegahan sekunder adalah :
a. Menemukan kasus sedini mungkin dengan cara memperoleh informasi
dari berbagai sumber seperti masyarakat, tim kesehatan dan penemuan
langsung.
b. Melakukan penjaringan kasus dengan melakukan langkah sebagai
berikut :
1) Melakukan pengkajian 2menit untuk memperoleh data fokus pada
semua pasien yang berobat kepukesmas dengan keluhan fisik.
2) Jika ditemukan tanda-tanda yang berkaitan dengan kecemasan dan
depresi maka lanjutkan pengkajian dengan menggunakan
pengkajian keperawatan kesehatan jiwa.
3) Mengumumkan kepada masyarakat tentang gejala dini gangguan
jiwa (di tempat– tempat umum)
4) Memberikan pengobatan cepat terhadap kasus baru yang
ditemukan sesuai dengan standar pendelegasian program
pengobatan (bekerja sama dengan dokter) dan memonitor efek
samping pemberian obat, gejala, dan kepatuhan pasien minum
obat.
5) Bekerja sama dengan perawat komunitas dalam pemberian obat
lain yang dibutuhkan pasien untuk mengatasi gangguan fisik yang
dialami (jika ada gangguan fisik yang memerlukan pengobatan).
6) Melibatkan keluarga dalam pemberian obat, mengajarkan keluarga
agar melaporkan segera kepada perawat jika ditemukan adanya
tanda-tanda yang tidak biasa, dan menginformasikan jadwal tindak
lanjut.
7) Menangani kasus bunuh diri dengan menempatkan pasien ditempat
yang aman, melakukan pengawasan ketat, menguatkan koping, dan
melakukan rujukan jika mengancam keselamatan jiwa.
8) Melakukan terapi modalitas yaitu berbagai terapi keperawatan
untuk membantu pemulihan pasien seperti terapi aktivitas
kelompok , terapi keluarga dan terapi lingkungan.
9) Memfasilitasi self-help group (kelompok pasien, kelompok
keluarga, atau kelompok masyarakat pemerhati) berupa kegiatan
kelompok yang mebahas masalah-masalah yang terkait dengan
kesehatan jiwa dan cara penyelesaiannya.
10) Menyediakan hotline service untuk intervensikrisis yaitu pelayanan
dalam 24 pukul melalu telepon berupa pelayan konseling.
11) Melakukan tindakkan lanjut (follow-up) dan rujukan kasus.
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah pelayanan keperawatan yang berfokus pada
peningkatkan fungsi dan sosialisasi serta pencegahan kekambuhan pada
pasien gangguan jiwa. Tujuan pelayanan adalah mengurangi kecacatan atau
ketidak-mampuan akibat gangguan jiwa. Target pelayanan yaitu anggota
masyarakat mengalami gangguan jiwa pada tahap pemulihan. Aktifitas
pada pencegahan tersier meliputi :
a. Program dukungan sosial dengan menggerakan sumber-sumber di
masyarakat seperti : sumber pendidikan, dukungan masyarakat
(tetangga, teman dekat, tokoh masyarakat), dan pelayan terdekat yang
terjangkau masyarakat. Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah :
1) Pendidikan kesehatan tentang perilaku dan sikap masyarakat terhadap
penerima pasien gangguan jiwa.
2) Penjelasan tentang pentingnya pemanfaatan pelayanan kesehatan
dalam penanganan pasien yang melayani kekambuhan.
b. Program rehabilitas untuk memberdayakan pasien dan keluarga hingga
mandiri berfokus pada kekuatan dan kemampuan pasien dan keluarga
dengan cara :
1) Meningkatkan kemampuan koping yaitu belajar mengungkapkan dan
menyelesaikan masalah dengan cara yang tepat
2) Mengembangkan sistem pendukung dengan memberdayakan
keluarga dan masyarakat.
3) Menyediakan pelatihan dan kemampuan dan potensi yang perlu
dikembangkan oleh pasien, keluarga dan masyarakat agar pasien
produktif kembali.
4) Membantu pasien dan keluarga merencanakan dan mengambil
keputusan untuk dirinya.
c. Program sosialisasi
1) Membuat tempat pertemuan untuk sosialisasi.
2) Mengembangkan keterampilan hidup (aktifitas hidup sehari-hari
[ADL],mengelola rumah tangga, mengembangkan hobi
3) Program rekreasi seperti nonton bersama, jalan santai, pergi rekreasi.
4) Kegiatan sosial dan keagamaan (arisan, pengajian, majelis taklim,
kegiatan adat)
d. Program mencegah stigma. Stigma merupaka anggapan yang keliru
dalam masyarakat terhadap gangguan jiwa, oleh karena itu, perlu
diberikan program mencegah stigma untuk menghindari isolasi dan
deskriminasi terhadap pasien gangguan jiwa. Beberapa kegiatan yang
dilakukan, yaitu :
1) Memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang
kesehatan jiwa dan gangguan jiwa, serta tentang sikap dan tindakan
menghargai pasien gangguan jiwa.
2) Melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat, atau yang
berpengaruh dalam rangka mensosialisasikan kesehatan jiwa dan
gangguan jiwa.
L. Jenis gangguan jiwa yang ditangani pada (anak, remaja dan lansia)
1) Jenis gangguan jiwa yang ditangani pada Anak
Berdasarkan data hasil Riskesdas tahun 2007, persentase gangguan jiwa
mencapai 11,6 % dari sekitar 19 juta penduduk yang berusia di atas 15
tahun. Hal ini menjadikan masalah kesehatan jiwa sebagai prioritas bagi
Kementerian Kesehatan karena merupakan tantangan yang besar dengan
kompleksitas tinggi di berbagai lapisan dan aspek kehidupan. Anak-anak
dapat menderita gangguan jiwa, sebagai berikut :
a. Gangguan kecemasan : Anak dengan gangguan kecemasan menanggapi
hal-hal tertentu atau situasi dengan rasa takut dan ketakutan, serta
dengan tanda fisik kecemasan (gugup), seperti detak jantung yang cepat
dan berkeringat.
b. Gangguan perilaku : Anak dengan gangguan ini cenderung menentang
aturan dan sering mengganggu di lingkungan terstruktur, seperti sekolah.
c. Gangguan perkembangan : Anak dengan gangguan ini memiliki masalah
dalam memahami dunia di sekitar mereka.
d. Gangguan makan : Gangguan makan dapat melibatkan emosi dan sikap,
serta perilaku tidak biasa, terkait dengan kondisi tubuh bahkan makanan.
e. Gangguan Eliminasi : Gangguan ini mempengaruhi perilaku yang terkait
dengan pembuangan limbah tubuh (feses dan urin).
f. Gangguan Afektif : Gangguan ini melibatkan perasaan sedih terus
menerus bahkan berubahnya suasana hati dengan cepat.
g. Skizofrenia : gangguan serius melibatkan persepsi terdistorsi dan
pikiran.
h. Gangguan Tic : Gangguan ini menyebabkan seseorang melakukan
aktifitas yang sama serta berulang, gerakan tiba-tiba dan tak terkendali
serta sering.
2) Jenis Gangguan jiwa yang ditangani pada Remaja
a. Gangguan Cemas
Cemas (ansietas) adalah perasaan gelisah yang dihubungkan
dengan suatu antisipasi terhadap bahaya, ini berbeda dengan rasa takut,
yang merupakan bentuk respon emosional terhadap bahaya yang
obyektif, walaupun manifestasifisiologik yang ditimbulkannya sama
cemas merupakan suatu bentuk pengalamanan yang umum, tapi dapat
ditemui dalam bentuk yang berbeda pada gangguan psikiatrik dan
gangguan medis Diagnosis mengenai cemas ditegakkanapabila gejala
cemas mendominasi dan menyebabkan distres (rasa tertekan) atau
gangguan yang nyata.
b. Gangguan Depresi
Dalam perkembangan normal, remaja mempunyai kecenderungan
mengalami depresi, oleh karena itu sangatlah penting untuk
membedakan secara jelas dan hati-hati antara depresi yang disebabkan
oleh gejolak mood yang normal pada remaja (adolescent turmoil)
dengan depresi patologik. Akibat sulitnya membedakan antara kedua
kondisi diatas, membuat depresi pada remaja sering tidak terdiagnosis,
bila tidak ditangani dengan baik, gangguan psikiatrik pada remaja
sering kali akan berlanjut sampai masa dewasa.
Menurut Carlson, seperti yang dikutip oleh shafii membagi depresi
pada remaja menjadi tipe primer dan sekunder.
1) Tipe primer : bila tidak ada gangguan psikiatrik sebelumnya
2) Tipe sekunder : bila gangguan yang sekarang mempunyai hubungan
dengan gangguan psikiatrik sebelumnya. Pada gangguan depresi
yang sekunder biasanya lebih kacau, lebih agresif, mempunyai lebih
banyak kelelahan sometik, dan lebih sering terlihat mudah
tersinggung, putus asa, mempunyai ide bunuh diri, problem tidur,
penurunan prestasi sekolah, harga diri yang rendah , dan tidak
patuh.
c. Gangguan somatoform ( Psikosomatik )
Gangguan ini lebih dikenal di masyarakat umum sebagai gangguan
psikosomatik . Ciri uatama dari gangguan somatoform adalah adanya
keluhan gejala fisik yang berulang, yang disertai dengan dengan
permintaan pemeriksaan medis : meskipun sudah berkali-kali terbukti
hasilnya negatif dan juga telah dijelaskan oleh dokter bahwa tidak
ditemukan kelainan fisik yang menjadi dasar keluhannya. Pasien
biasanya menolak adanya kemungkinan penyebab psikologis,
walaupun ditemukan gejala ansietas dan depresi yang nyata.

d. Gangguan Psikotik
Gangguan psikotik adalah suatu kondisi terdapatnya gangguan
yang berat dalam kemampuan menilai realitas, yang bukan karena
retardasi mental atau gangguan penyalahgunaan NAPZA. Terdapat
gejala yaitu waham , halusinasi,mperilaku yang sangat kacau ,
pembicaraan yang inkoheren ( kacau ) , tingkah laku agitatif dan
disorientasi yang termasuk gangguan psikotik antara lain :
1) Skizofrenia
2) Gangguan mood / afektif yang disertai dengan gejala psikotik
3) Gangguan waham
e. Gangguan mental organik gejala psikotik (ditandai adanya delirium,
demensia). Gangguan penyalahgunaan NAPZA (narkotik, alkohol,
psikotropika, dan zat Adikif lainnya )
Penyalahgunaan Napza di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini
semakin meningkat. Faktor risiko yang dapat diidentifikasi pada remaja
penyalahgunaan NAPZA :
1) Konflik keluarga yang berat
2) Kesulitan Akademik
3) Adanya komorbiditas dengan gangguan psikiatrik lain, seperti
gangguan tingkah laku dan depresi.
4) Penyalahgunaan NAPZA oleh orang tua dan teman
5) Impulsivitas
6) Merokok pada usia terlalu muda
4. Jenis Gangguan Jiwa yang ditangani pada Lansia
a. Skizofernia
Skizofrenia Gangguan jiwa skizofrenia merupakan gangguan jiwa
yang berat dan gawat yang dapat dialami manusia sejak muda dan dapat
berlanjut menjadi kronis dan lebih gawat ketika muncul pada lanjut usia
(lansia) karena menyangkut perubahan pada segi fisik, psikologis dan
sosial-budaya. Skizofrenia pada lansia angka prevalensinya sekitar 1%
dari kelompok lanjut usia (lansia)
b. Parafrenia
Parafrenia merupakan gangguan jiwa gawat yang pertama timbul
pada (lansia), (misalnya pada waktu menopause pada wanita). Gangguan
ini sering dianggap sebagai kondisi diantara Skizofrenia paranoid di satu
pihak dan gangguan depresif di pihak lain.
c. Gangguan Jiwa Afektif
Gangguan jiwa afektif adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan
adanya gangguan emosi (afektif) sehingga segala perilaku diwarnai oleh
ketergangguan keadan emosi.
d. Neurosis
Gangguan neurosis dialami sekitar 10-20% kelompok lansia.
Sering sukar untuk mengenali gangguan ini pada lansia karena disangka
sebagai gejala ketuaan. Hampir separuhnya merupakan gangguan yang
ada sejak masa mudanya, sedangkan separuhnya lagi adalah gangguan
yang didapatkannya pada masa memasuki lansia. Gangguan neurosis
pada lansia berhubungan erat dengan masalah psikososial dalam
memasuki tahap lansia. Gangguan ini ditandai oleh kecemasan sebagai
gejala utama dengan daya tilikan (insight) serta daya menilai realitasnya
yang baik. Kepribadiannya tetap utuh, secara kualitas perilaku orang
neurosis tetap baik, namun secara kuantitas perilakunya menjadi
irrasional. Secara umum gangguan neurosis dapat dikategorikan sebagai
berikut:
1. Neurosis cemas dan panic
2. Neurosis obsesif kompulsif
3. Neurosis fobik
4. Neurosis histerik (konversi)
5. Gangguan somatoform
6. Hipokondriasis
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS JIWA MASYARAKAT

A. Pengkajian Keperawatan
1. Data Inti (Core)
a. Riwayat :
1) Usia penderita:
Anak : 15 – 20 tahun
Orang tua : 32 tahun
2) Jenis ganguan jiwa yang pernah diderita: gangguan konsep diri: harga
diri rendah, memandang dirinya tidak sebaik teman-temannya di
sekolah.
3) Riwayat trauma : takut yang berlebihan
4) Konflik : penganiayaan
b. Demografi
1) Vital statistik:
Kelurahan Patimuan terletak di Kecamatan Patimuan, Kabupaten
Cilacap. Kelurahan Patimuan berbatasan langsung dengan 4
Kelurahan. Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan purwodadi,
sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan cinyawang, sebelah
timur berbatasan dengan Kelurahan sidamukti, dan sebelah barat
berbatasan dengan Kelurahan Maos. Kelurahan Patimuan terdapat 5
RW, dan setiap RW ada 5 RT, dan setiap RT terdapat 28 Kepala
Keluarga.
2) Agama : Islam
3) Budaya : Jawa
c. Data Delapan subsistem
1) Lingkungan fisik
Kualitas udara di Kelurahan Patimuan cukup bersih tidak ada polusi
udara, karena Kelurahan tersebut masih banyak terdapat pohon-
pohon rindang. Di Kelurahan Patimuan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari memakai air sumur jadi selama pohon-pohon itu masih
mampu menampung air, ketersediaan air bersih akan terpenuhi.
Tingkat kebisingan di Kelurahan Patimuan masih diambang batas
normal, karena di Kelurahan tersebut tidak terdapat pabrik ataupun
industri. Selain itu kendaraan bermotor yang bisa menjadi sumber
kebisingan juga jarang berlalu-lalang di Kelurahan tersebut, karena
warga di Kelurahan Patimuan lebih banyak menggunakan sepeda
untuk beraktifitas sehari-hari.
2) Keamanan & transportasi
Petugas keamanan di Kelurahan Patimuan sistemnya digilir. Jadi
setiap malam ronda yang terpusat di pos kamling kemudian keliling
Kelurahan, untuk pembagian jadwalnya diatur oleh penanggung
jawab keamanan di Kelurahan tersebut. Setiap malam ada 2 orang
yang bertugas.
Sarana tranportasi yang biasa digunakan adalah sepeda “onthel” dan
sebagian kecil menggunakan motor sebagai alat transportasinya.
Tidak jarang orang bepergian ke kota harus jalan kaki dahulu keluar
Kelurahan, setelah itu naik angkot atau kendaraan umum lainnya.
Petugas di jalan raya
3) Politik & pemerintahan
Pemerintah daerah (Pemda) setempat kurang tanggap dengan
kejadian gangguan jiwa di masyarakat. Pemda masih fokus dengan
masalah-masalah yang sifatnya medis, misalnya demam berdarah,
diare, kusta, terkait program imunisasi lengkap.
4) Pelayanan umum dan kesehatan
Akses pelayanan kesehatan jiwa terhadap masyarakat kurang
terjangkau. Ada puskesmas pembantu di Kelurahan Patimuan itupun
melayani penyakit yang umum dimasyarakat seperti flu, batuk, dan
panas. Puskesmas di Kecamatan harus menempuh jarak 10 km untuk
mengakses pelayanan kesehatan tersebut. Kalau mau ke RS harus
menempuh jarak ±20 km.
Jenis pelayanan kesehatan jiwa yang diberikan adalah belum begitu
berpengaruh dengan masih tingginya tingkat stress warga di
Kelurahan Patimuan. Pelayanan yang biasanya dilakukan adalah
memberikan penyuluhan sederhana terkait steres dan dampaknya
jangka panjang. Dampak pelayanan kesehatan bagi kesehatan jiwa
masyarakat bisa diminimalisir untuk kejadian gannguan jiwa,
apalagi yang sampai mengamuk ataupun merusak prasarana
Kelurahan. Jadi deteksi dini jiwa msyarakat perlu dioptimalkan lagi
oleh petugas pelayanan kesehatan terutama kita sebagai perawat.
Tidak menungga ada kasus, tetapi kita harus peka dengan kejadian
walaupun itu baru stress masyarakat.
5) Komunikasi
Komunikasi yang digunakan diwilayah tersebut adalah musyawarah
yang dilakukan antar warga dan pejabat kelurahan, serta setiap
informasi yang ada sering dilakukan melalui masjid yang ada. Media
komunikasi yang ada di masyarakat Patimuan cukup di mengerti
oleh warga, namun terhadap kesehatan jiwa belum begitu berdampak
karena masih sedikit media yang menjelaskan mengenai kesehatan
jiwa.
6) Ekonomi
Kondisi ekonomi yang sedang sulit disebagian keluarga di
kelurahan Patimuan, maka kesejahteraan masyarakatnya terbilang
masih rendah. Karena kesejahteraaan ekonomi yang rendah, maka
ada sebagian keluarga yang mengalami sedikit gangguan jiwa seperti
seringnya marah-marah pada anak sehingga anak mengalami
gangguan konsep diri. Peluang penghasilan tambahan masyarakat di
kelurahan Patimuan ke banyakan warganya adalah petani, namun
karena musim yang sedang mendukung ada juga sebagian warga
menggunakan kendaraan sepeda motornya untuk mengojeg, dan ada
ibu-ibu yang berdagang di depan rumahnya.

7) Rekreasi
Sarana rekreasi yang sering digunakan oleh warga yang ada di
kelurahan Patimuan adalah bermain bersama di lapangan bola setiap
sore, dan sering berkumpul mengobrol di lingkungan rumah. Warga
yang ada di kelurahan Patimuan biasanya melakukan rekreasi di
lapangan pada sore hari dan berkumpul di lingkungan rumah pada
saat malam sehabis magrib.
Dampak rekreasi terhdap kesehatan jiwa masyarakat rekreasi yang
ada cukup memberikan dampak positif pada warga, karena semakin
terjalinnya kebersamaan dan rasa peduli antar warga dan sering
berdiskusi untuk mengatasi masalah ekonomi yang sulit sehinga
kondisi emosional sebagian warga yang sering marah dapat di
kurangi dengan saling berdiskusi pada saat berkumpul di lingkungan
rumah.
B. Diagnosa Keperawatan
Harga diri rendah situasional pada remaja di kelurahan Patimuan
berhubungan dengan Gangguan gambaran diri yang dimanifestasikan dengan
Akibat dimarahi dan diperlakukan kasar sama orang tua.
C. Perencanan
1. Tujuan jangka panjang
Koping komunitas di kelurahan Patimuan menjadi efektif dalam menjalani
masalah.
2. Tujuan jangka pendek
a. Orangtua di kelurahan patimuan dapat mengatasi stres.
b. Tidak terjadi kekerasan pada remaja di kelurahan patimuan.
c. Remaja di kelurahan patimuan tidak lagi takut dengan orangtuanya.
d. Percaya diri paa remaja di kelurahan patimuan meningkat.
e. Kedekatan orang tua dan remaja menjadi lebih baik.
3.3 Implementasi

Kriteri
Dx Tujuan Umum Tujuan Khusus Strategi Rencana Kegiatan Sumber Tempat Waktu Standar Evaluasi Evaluator
a
.I Setelah dilakukan Setelah dilakukan Proses 1. Pembentukan a. Kader Aula Setiap Respon e. Warga Mahasisw
tind.keperawatan tind. keperawatan kelompok kelompok kerja kesehatan Kelurahan hari verbal mengikuti a
b. Tokoh
selama 3 minggu selama 1 minggu: kesehatan jiwa di Patimuan minggu, kelompok kerja Kader
masy.
diharapkan Warga Kelurahan desa dilakukan kesehatan jiwa kesehatan
c. Maha
2. Pembentukan
orangtua bisa Patimuan dapat 2 kali/ di desa
siswa
kelompok f.Warga
melakukan membentuk d. Materi ttg minggu.
pendukung seperti mengikuti
tindakan koping kelompok kerja kesehatan
kelompok kelompok
yang efektif. kesehatan jiwa di jiwa
pengajian, pengajian
desa dan
kelompok diskusi
kelompok
kesehatan jiwa.
pendukung .

Setelah dilakukan Pedidikan 1.Latihan 1. kader Aula Setiap Respon a. Warga Mahasisw
tind keperawatan kesehatan kepemimpinan kesehatan Kelurahan hari verbal mengikuti a
2. Tokoh
selama 2 minggu Jiwa (mengadakan Patimuan minggu, training motivasi Kader
masy. b. Warga bisa
warga kelurahan melalui training motivasi) dilakukan kesehatan
3. Tokoh
3. Edukasi menyebut
patimuan dapat Formasi (penyuluhan Agama 2 kali/ 1 bagaimana cara
4. mahasiswa
melakukan kepemimp tentang minggu memecahkan
5. materi
demonstrasi ttg inan bagaimana cara masalah
tentang
bagaimana cara memecahkan
kesehatan
menyelesaikan masalah)
jiwa
suatu masalah
yang baik.
Setelah dilakukan Pemberda a. Pembinaan 1. Kader Aula Setiap Respon 1. Warga aktif Mahasisw
tind. keperawatan yaan dan keluarga sehat dan kesehatan Kelurahan hari Psikom diskusi terkait a
2. Tokoh
selama 3 minggu kemitraan anggota keluarga Patimuan minggu, otor kasus yang ada Kader
masy. 2. Warga
warga kelurahan resiko gang. jiwa dilakukan kesehatan
3. Maha
terkontrol
patimuan dapat membahas kasus 2 kali/ 1
siswa
emosinya
melakukan studi terkait manajemen 4. Materi minggu
dengan
kasus tentang stress dan di tentang
kelompok
masalah yang diskusikan. kesehatan
b. Pembinaan diskusi tersebut
sering dihadapi jiwa Respon
3. Masyarakat
kelompok &
Afektif
lebih mampu
masy. melalui
menghadapi
kunjungan Perawa
t Puskesmas/ kemungkinan
Komunitas masalah yg ada
c. Kerjasama LP
warga terbuka
dengan Dinas
wawasan dan
Kesehatan
peluang usaha
Kabupaten berupa
untuk perbaikan
pengadaan
ekonominya.
kegiatan rutin Life
Skill Education
dan LS berupa
pelatihan
kewirausaan dari
Dinas Perikanan.
Setelah dilakukan Intervensi 1. Terapi modalitas 4. Perawat Aula Setiap 2 Respon 1. Warga merasa Mahasisw
5. Tokoh
tind.keperawatan profesiona keperawatan Kelurahan hari verbal lebih tenang a dan
masy. 2. Warga merasa
selama 4 minggu l berupa pemberian Patimuan sekali/min kader
6. Tokoh
lebih semangat
warga kelurahan teknik relaksasi ggu kesehatan
agama 3. Warga bisa
patimuan dapat nafas dalam. 7. Maha
mengontrol
2. Terapi siswa
melakukan studi
emosinya
kasus tentang komplementer
masalah yang berupa
sering dihadapi manajemen stress
3. Pemberian
bimbingan
keagamaan
(spiritual)
BAB IV
PENUTUP

a. Kesimpulan
Keperawatan Jiwa adalah pelayan keperawatan aladaptive didasarkan pada
ilmu perilaku, Ilmu keperawatan jiwa pada manusia sepanjang siklus
kehidupan dengan respon psiko-sosial yang aladaptive yang disebabkan oleh
gangguan bio-psiko-sosial, dengan menggunakan diri sendiri dan terapi
keperawatan jiwa (komunikasi terapetik dan dan terapi modalitas keperawatan
kesehatan jiwa) melalui pendekatan proses keperawatan untuk meningkatkan,
mencegah, mempertahankan dan memulihkan masalah kesehatan jiwa. Klien,
(individu, keluarga, kelompok komunitas).
Keperawatan kesehatan jiwa merupakan proses interpersonal yang
berupaya untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang
mendukung pada fungsi yang terintegrasi sehingga sanggup mengembangkan
diri secara wajar dan dapat melakukan fungsinya dengan baik, sanggup
menjelaskan tugasnya sehari-hari sebagaimana mestinya, Dalam
mengembangkan upaya pelayanan keperawatan jiwa, perawat sangat penting
untuk mengetahui dan meyakini akan peran dan fungsinya, serta memahami
beberapa konsep dasar yangf berhubungan denga asuhan keperawatan jiwa.

DAFTAR PUSTAKA
Keliat, Budi Anna. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas CMHN
Basic. Jakarta: EGC.
Makalah Keperawatanku, Community Mental Health Nursing. Post 14 Maret
2012. Diambil pada tanggal 21 Juni 2014, dari
alamathttp://makalahkeperawatanku.blogspot.com/2012/03/community-
mental-health-nursing.html