Anda di halaman 1dari 45

BAB II

PEMBAHASAN

A. Aspek-Aspek Teoritis
1. Winch
Komponen-komponen Winch Tulsa Tipe Rufnek 100 adalah
sebagai berikut:

Tabel 4. Komponen-komponen Winch Tulsa RN100

11
12

2. Hidrolik dan Pneumatik


a. Hidrolik
1) Pengertian Hidrolik
Kata hidrolik ( hidrolika ) berasal dari bahasa yunani,
yaitu: Hydro berarti air dan aulos berarti pipa. Hidrolik (Hidrolika)
adalah ilmu yang menyangkut berbagai gerak dan keadaan
kesetimbangan zat cair dan pemanfaatannya untuk melakukan
suatu kerja. Hidrolika merupakan cabang dari ilmu fisika yang
mempelajari arus zat cair melalui pipa-pipa dan pembuluh-
pembuluh yang tertutup dalam pengaruh berbagai gaya luar (
hidrostatika ) dan di bawah hukum-hukum arusnya sendiri
(hidrodinamika).
Hidrostatika memiliki prinsip bahwa dalam suatu fluida
yang berada dalam keadaan tidak bergerak, tekanan pada titik
manapun akan sama besar. Tekanan hanya tergantung pada
kerapatan fluida tersebut dan ketinggian permukaannya.
Kenyataannya, hal sederhana pertama yang berkaitan dengan
prinsip kerja sistem hidrolik terjadi selama abad 17. Ilmuwan
Perancis Pascal menemukan prinsip-prinsip hidrolik berikut ini.

Hukum yang menjadi dasar prinsip sistem hidrolik adalah


hukum pascal. Dalam sebuah ruangan tertutup, tekanan yang
bekerja pada fluida akan merambat merata ke semua arah.
Besarnya tekanan dalam fluida adalah (F) dibagi dengan luas
bidang (A). Tekanan pada suatu titik akan bekerja ke segala arah
dan sama besar.
13

2) Keuntungan dan Kerugian Sistem Hidrolik.


Menurut Ahmad Kholil (2012: 93-94), keuntungan dan
kerugian sistem hidrolik adalah:
a) Keuntungan penggunaan sistem hidraulis:
(1) Memiliki kemampuan untuk memindahkan gaya-gaya yang
besar, karena melipatgandakan gaya dengan sangat besar.
(2) Komponen yang digunakan pada sisteam hidraolis relatif
sederhana, kompak sehingga hanya menggunakan ruang
yang relatif kecil.
(3) Relatif tidak membutuhkan pemeliharaan.
(4) Karena tidak menghasilkan energi kinetik yang besar maka
sistem hidraulis dapat bereaksi dengan cepat terhadap
perubahan arah gerakan.
(5) Pengaturan sistem hidraulis untuk gerak lurus atau rotasi
dapat dilakukan tanpa tahap (stepless) walau dalam keadaan
berbeban.
(6) Kemudahan kontrol oleh sirkuit listrik dan elektronika.
(7) Tidak menghasilkan goncangan atau getaran yang besar
sehingga relatif lebih stabil unutk pekerjaan-pekerjaan
presisi karena menggunakan fuilda statis.
(8) Pemindahan tenaga lebih mudah karena hose/ pipa dapat
dibentuk atau ditekuk dengan bentuk apapun untuk
melintasi jalur-jalur sulit yang tidak mungkin ditempuh oleh
sistem mekanis.
(9) Memiliki pengaman beban berlebih yang reseponsif yang
dapat digunakan berulang.
(10) Bekerja pada suhu yang relatif rendah dan tidak
menimbulkan panas sehingga aman.
14

b) Kerugian sistem hidraulis:


(1) Oli yang digunakan peka terhadap suhu dan tekanan yang
dapat memperpendek usia pakai oli yang bersangkutan.
(2) Kerugian tenaga lebih besar yang diakibatkan oleh gesekan,
diameter pipa yang kecil, tikungan, dan gravitasi.
(3) Kebocoran yang terjadi dapat mencemarkan produk-produk
olahan yang menggunakan sistem hidraulis tersebut.
(4) Komponen-komponen sistem hidraulis harus dibuat dengan
presisi tinggi.

b. Pneumatik
1) Pengertian Pneumatik.
Orang pertama yang dikenal telah menggunakan alat
pneumatik adalah orang Yunani KTESIBIOS. Istilah “pneuma”
diperoleh dari istilah Yunani kuno mempunyai arti hembusan atau
tiupan, juga dalam philoshopi antara lain istilah “pnematiks” adalah
ilmu yang mempelajari gerakan atau perpindahan udara dan gejala
atau fenomena udara. Dengan kata lain pneumatik berarti
mempelajari tentang gerakan angin (udara) yang dapat
dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga dan kecepatan.
Menurut Anggun Achmad S. (2006: 19), sistem pneumatik
merupakan suatu bentuk perubahan atau pemindahan daya dengan
menggunakan media penghantar berupa fluida udara untuk
memperoleh daya yang lebih besar dari daya awal yang
dikeluarkan. Dimana fluida penghantar ini (udara) dinaikkan
tekanannya oleh pompa pembangkit tekanan kemudian diteruskan
ke silinder kerja melalui selang-selang saluran dan katup-katup.
Gerakan translasi batang piston dari silinder keja yang
dibangkitkan oleh tekanan fluida pada ruang silinder dimanfaatkan
untuk gerak maju mundur.
15

Sistem pneumatik adalah suatu sistem yang menggunakan


tenaga yang disimpan dalam bentuk dara yang diampatkan, serta
dimanfaatkan untuk menghasilkan suatu kerja. Udara mampat ini
diperoleh dari atmosfer bumi yang diserap kompresor dengan
tekanan udara normal (0,98 bar) sampai mencapai tekanan yang
lebih tinggi (antara 4-8 bar).
Menurut Onny (2017), sistem kerja pneumatik mirip
dengan sistem hidrolik. Ada beberapa bagian komponen yang
sedikit berbeda, namun seperti aktuator (motor dan silinder), filter,
dan solenoid valve memiliki prinsip yang sama dengan sistem
hidrolik. Perbedaan mendasar dari kedua sistem tersebut adalah
fluida kerja yang digunakan, sistem hidrolik menggunakan fluida
inkompresibel sedangkan pada sistem pneumatik menggunakan
fluida kompresibel. Tekanan kerjanya juga pada range yang
berbeda, jika sistem hidrolik bekerja pada tekanan 6,9-34 MPa,
maka sistem pneumatik bekerja pada tekanan rendah 550-690 KPa.

3. Komponen-Komponen Hidrolik Sistem Penggerak Winch


a. Power Take Off (PTO)
Ada beberapa jenis power take off yang berbeda, dengan
outlet tunggal atau ganda. Power take off memasok daya melalui
flange dan / atau langsung ke pompa hidrolik. Power take off
mempunyai dua spesifikasi yang berbeda, yaitu kopling dependen dan
kopling independen.

Gambar 1. Power Take Off Type PTR-D


16

Gambar 2.Power Take Off (PTO) Unit

b. Tangki Hidrolik
Tangki hidrolik berfungsi untuk menyimpan sejumlah oli.
Pada saat system hidrolik tidak beroperasi, oli dalam tanki levelnya
lebih tinggi dibandingkan pada saat beroperasi. Pada saat pengisian oli
pada tanki, bisa saja walaupun sudah terlihat sudah penuh namun
setelah dioperasikan levelnya akan turun.

Gambar 3.Tangki Hidrolik

Selain untuk menyimpan, karena tanki memiliki luas yang


besar, tanki bisa menjadi alat pembuang panas yang berasal dari oli
yang dibawa dari system. Pada bagian luar tanki terdapat penunjuk
(sight gage) untuk melihat level oli di dalam tanki. Level tersebut
17

bertuliskan ADD (tambah) dan FULL (penuh). Oli harus berada


pada level diantara tanda ini.

Gambar 4. Konstruksi Bagian Dalam Tangki Hidrolik

Ada dua jenis tangki hidrolik, yaitu tangki bertekanan


(pressurized) dan tangki tidak bertekanan. Gambar di atas
menunjukkan konstruksi bagian dalam tangki bertekanan. Bagian-
bagiannya terdiri dari return screen yang berfungsi untuk menyaring
kotoran-kotoran yang dibawa oli dari system. Baffles berfungsi untuk
mengarahkan aliran oli dan memutar oli sehingga apabila ada kotoran-
kotoran pada oli, ada banyak waktu untuk kotoran-kotoran itu
mengendap dan tidak masuk pompa. Baffles juga berfungsi untuk
mengurangi terjadinya gelembung-gelembung udara yang dapat
merusak pompa. Ecology drain adalah lubang tempat pembuangan oli
dan juga untuk membuang air yang sudah terpisah dengan oli. Filler
screen berfungsi untuk menyaring kotoran dari luar pada saat
pengisian oli.
Di atas tangki bertekanan dipasang vacuum relief valve yang
fungsinya sama dengan fungsi radiator cap pada engine. Pada saat
system hidrolik beroperasi, oli dari keadaan dingin menjadi panas. Oli
yang panas akan memuai dan bertambah volumenya dan menekan
udara di atas tangki. Sehingga tanki menjadi bertekanan. Tanki yang
bertekanan akan membantu pompa menghisap oli. Apabila tekanan
sudah mencapai batas tertentu maka sebagian udara dapat keluar
melalui vacuum relief valve. Jika system hidrolik tidak bekerja dan
18

lingkungan sekitar dingin. Oli akan menyusut dan volumenya


berkurang. Udara di atas tangki akan memiliki tekanan yang lebih
rendah dari tekenan udara luar. Sampai batas tertentu, udara bisa
masuk ke dalam tangki melalui vacuum relief valve. Jangan membuka
tangki pada saat oli masih panas atau dalam kondisi beroperasi karena
tekanan di dalam tangki bisa berbahaya. Tunggu sampai oli sudah
dingin dan buka perlahan-lahan tutup tangkinya.

c. Pompa Hidrolik
Pompa hidrolik adalah komponen yang mengalirkan oli
hidrolik dari tangki menuju semua sistem yang akan bekerja. Kinerja
pompa yang baik akan menghasilkan kerja sistem yang cepat
(responsive) dan memiliki daya yang besar. Menurut Ahmad Kholil
(2012: 109), pompa hidraulis berguna untuk mengalirkan oli dari
tangki menuju komponen hidraulis yang membutuhkan. Pompa hanya
bertugas untuk menghasilkan aliran (flow) dan tidak menghasilkan
tekanan (pressure). Sedangkan menurut Andreww Parr (2003: 32),
sebuah pompa hidrolik mengambil minyak dari sebuah tangki dan
mengirimkannya ke bagian-bagian lain sirkuit hidrolik.
Jadi pompa hidrolik merupakan sebuah komponen yang
berfungsi untuk menngambil hidrolik dari tangki hidrolik kemudian
mengirimkannya ke sistem hidrolik lain yang membutuhkan, di dalam
hal ini adalah motor hidrolik untuk penggerak winch. Tekanan pada
sebuah sistem hidrolik terbentuk karena adanya hambatan pada
rangkaian hidrolik. Pompa hidrolik digologkan menjadi dua macam,
yaitu:
1) Positive Displacement Pump.
Pompa hidrolik tipe ini memiliki desain dengan tingkat
kebocoran (pumping loss) rendah dan akan selalu mengalirkan oli
selama bekerja. Model pompa seperti seperti ini biasanya
dipasangkan pada sistem open centre. Penghentian aliran keluaran
19

selama pompa bekerja akan menyebabkan kerusakan pada pompa.


Contoh: gear pump dan piston pump.
Menurut Wagino dan Wawan Purwanto (2012), Secara
umum pompa jenis positive displacement terbagi menjadi dua
bagian yaitu:
a) Fix displacement pump.
Fix displacement pump adalah jenis pompa yang
menghasilkan aliran tetap selama pompa tersebut bekerja.
Dalam proses kerjanya, saat pompa mendapatkan putaran dari
mesin atau dari sistem lain, pompa akan mengalirkan oli dan
meneruskan ke semua jalur kerja sistem dengan debit tetap.
Jenis pompa ini banyak diaplikasikan pada sistem pelumasan
mesin dalam bentuk gear pump. Untuk menjamin keamanan
pada sebuah komponen dari kelebihan aliran, sistem biasanya
dilengkapi dengan sebuah komponen yang di sebut safety valve
(katup pengaman).
Pompa hidrolik tipe ini memiliki desain dengan tingkat
kebocoran (pumping loss) tinggi, penghentian aliran oli keluaran
selama pompa bekerja tidak menyebabkan kerusakan pompa.

Gambar 5. Pompa Hidrolik Type Gear (Gear Pump)


20

Cara kerja pompa ini adalah sebagai berikut. Driving


gear menggerakkan driven gear. Gerakan kedua gear ini
menciptakan kevakuman pada sisi inlet. Oli masuk dari tangki
menuju pompa. Oli kemudian masuk ke dalam ruang-ruang
yang dibentuk oleh gigi-gigi gear dan housing. Oli dibawa oleh
ruangan ini menuju ke sisi outlet.
Tekanan tinggi pada sisi outlet akan mendorong gear-
gear mengarah ke sisi inlet. Dorongan ini akan membuat ketidak
seimbangan pada shaft (poros) pompa sehingga bisa
menimbulkan masalah. Untuk mengurangi efek ini, maka sering
dipasang pelat penyeimbang tekanan (pressure balance plate)
pada sisi inlet dimana oli dari tekanan tinggi diarahkan ke sisi
inlet dan akan menekan shat ke arah sisi outlet sehingga
menyeimbangkan dorongan. Pada beberapa desain, shaft pompa
dibuat tapered, sehingga tekanan shaft ke bearing lebih luas.
Jika gear pump sudah lama dipakai maka clearance
(suaian) antara puncak gigi gear dan housing sudah sedimikian
besarnya. Oli banyak yang bocor kembali ke sisi inlet dan
efisiensi volumetric pompa turun. Jika oli yang dipakai pada
sistem kotor dan banyak mengandung partikel-partikel keras
maka sering terjadi luka dan alur-alur terbentuk pada housing
pompa. Alur-alur ini akan mengakibatkan kebocoran dan
menurunkan efisiensi volumetric pompa.
Pada gear pump, besarnya flow pompa ditentukan oleh
besarnya ruang yang dibentuk antara gigi-gigi gear dan housing.
Besarnya flow juga ditentukan oleh kecepatan putar pompa.
Untuk mengatur besarnya flow pada gear pump, satu-satunya
cara adalah dengan mengatur putaran pompa.
b) Fixed displacement vane pump
Komponen utama dari vane pump adalah cam ring,
rotor, drive shaft dan vane. Komponen-komponen ini berada
21

di dalam housing dimana terdapat pressure plate yang


menekan di kedua sisi cam ring dan rotor. Diameter dalam dari
cam ring berbentuk oval. Saat rotor berputar, vane-vane
terdorong ke arah luar oleh gaya sentrifugal, dengan tekanan oli
di bagian belakang vane. Beberapa desain dilengkapi dengan
spring penekan di belakang vane.
Vane-vane menggesek dinding sebelah dalam cam ring
dan mempertahankan kontaknya. Saat vane-vane menggelincir
ke arah luar, ruangan yang terbentuk antara rotor, vane dan
housing berubah-ubah, dimana ukurannya besar saat melalui
inlet port hingga oli akan mengisi ruangan tersebut. Ketika rotor
mendekati outlet port, ruangan tersebut mengecil dan menekan
oli keluar menuju outlet port.

2) Variable Displacement ( Volume alir dapat dirubah )


Variable displacement piston pump banyak digunakan
dalam sistem hidrolik sebagai pompa utama (main pump).
Digerakkan langsung oleh engine. Pada Volvo excavator,
digunakan tandem main pump yang mengkonsumsi tenaga engine
hingga 70%. Untuk mencegah terjadinya engine stall, pompa
dilengkapi dengan kontrol debit (flow control) yang bekerja dengan
mendeteksi beban (load) yang akan mengurangi flow pompa saat
beban maksimum, meng-optimal-kan flow saat beban normal dan
meminimalkan flow saat tidak ada penggunaan.

Gambar 6. Variable Hydrolik Pump danVariable Piston Pump


22

d. Directional Control Valve 4/3


Directional Control Valve (DCV) digunakan untuk
mengarahkan oli menuju sirkuit yang berbeda pada sistem hidrolik.
Kapasitas aliran maksimum dan tekanan yang turun saat melewati
valve merupakan pertimbangan utama.
Directional control valve dapat dikombinasikan dengan
manual, hidrolik, pneumatic dan kontrol elektronik. Faktor ini
umumnya ditentukan selama melakukan desain sistem untuk pertama
kali. Directional control valve mengarahkan aliran oli menuju sistem
hidrolik. Dengan kata lain merupakan komponen dimana operator
mengontrol mesin. Directional control valve mengarahkan suplai oli
menuju aktuator pada sistem hidrolik. Valve body dilubangi,
dihaluskan dan kadang lubangnya di keraskan dengan perlakuan
panas.

Gambar 7. Directional Control Valve 4/3

Saluran Inlet dan outlet dilubangi dan diberi ulir. Valve spool
dibuat dengan mesin dengan bahan high-grade steel. Beberapa valve
spool dikeraskan dengan perlakuan panas, digerinda dan dihaluskan
hingga mencapai ukuran tertentu. Valve spool lainnya ada yang di
chrome plated, digerinda dan dipolish hingga ukuran tertentu.Valve
body dan valve spool kemudian dirangkai sesuai spesifikasi
23

rancangan. Ketika dirakit, valve spool adalah satu-satunya komponen


yang dapat bergerak.

Valve Centered Valve Shifted Left

Valve Shifted Right

Gambar 8. Contoh Spool DCV

Spool yang ditunjukkan gambar di atas merupakan double


acting silinder yang sedang beroperasi, dengan mengarahkan aliran
pada salah satu ujung silinder. Saluran A dan B merupakan saluran
silinder, saluran P merupakan tekanan oli dari pompa. Saluran T
merupakan oli yang dikembalikan ke tangki.

1) Valve Ditengah
Oli menuju silinder ditutup oleh posisi spool.

2) Valve bergerak kekiri


Oli dapat mengalir dari saluran P ke saluran sillinder A dan oli
dapat juga mengalir dari sisi yang tidak aktif dari double acting
silinder melalui B menuju tangki (T).
24

3) Valve bergerak kekanan


Oli saat ini dapat mengalir dari saluran P ke saluran silinder B. Oli
juga dapat mengalir dari sisi double acting silinder yang tidak aktif
melalui saluran A, selanjutnya menuju tangki (T).

Open Centre Directional Control Valve


Open centre valve memiliki saluran yang didesain didalam
valve body casting yang memungkinkan seluruh aliran inlet, ketika
spool diposisi netral atau posisi tengah-tengah, mengalir menuju
bypass area. Aliran yang terdapat pada valve kembali ke tangki atau
tersedia untuk valve lainnya yang terhubung secara seri ke valve yang
pertama. Keuntungan open centre valve adalah pompa dapat bekerja
dengan ringan ketika posisi valve netral dan meminimalkan jenaikan
tekanan. Kelemahan rancangan ini adalah terjadinya sedikit waktu
tunda ketika valve mulai dibuka untuk menaikkan tekanan didalam
sistem. Gambar di bawah menunjukkan diagram potongan open centre
directional control valve yang umum pada posisi HOLD.

Gambar 9. Open Centre Directional Control Valve

Pada posisi HOLD, aliran oli dipompakan menuju valve


body, kesekitar valve spool dan kembali ke tangki. Valve spool juga
menutup jalur oli menuju rod end dan head end silinder. Contoh
25

directional control valve diatas juga dilengkapi load check valve. Pada
posisi hold, load check valve memiliki spring tension dibelakangnya,
untuk menjaga valve tertutup dan mencegah terjadinya silinder
implement turun dengan sendirinya (drift).

Gambar di atas menunjukkan valve spool ketika dengan tiba-


tiba spool digerakkan keposisi naik (RAISE). Ketika valve spool
digerakkan, Valve spool menutup aliran oli yang dipompakan ke
tangki sehingga aliran oli dari pompa membuka load check valve.
Valve spool juga terhubung dengan head end silinder dan oli
dibelakang load check valve dan rod end silinder terhubung ke saluran
tangki. Load check valve mencegah oli pada head end silinder
mengalir menuju saluran oli dari pompa. Aliran oli pompa yang
tertutup menyebabakan naiknya tekanan oli . Hal ini mencegah
terjadinya drift pada implement hingga tekanan pompa naik.
26

Peningkatan tekanan oli yang berasal dari pompa akan


sanggup melawan tekanan dibelakang load check valve dan
mendorong valve. Oli dari pompa mengalir melewati load check valve
dan disekitar valve spool menuju head end silinder. Oli pada rod end
silinder mengalir melewati valve spool ke tangki. Kejadian sebaliknya
akan terjadi jika DCV digerakkan ke posisi LOWER.

e. Motor Hidrolik
Motor hidrolik adalah sebuah aktuator mekanik yang
mengkonversi aliran dan tekanan hidrolik menjadi torsi atau tenaga
putaran. Alat ini menjadi satu bagian dari sebuah sistem hidrolik
selain silinder hidrolik. Motor hidrolik berkebalikan fungsi dengan
pompa hidrolik. Jika pompa hidrolik berfungsi untuk menghasilkan
tekanan dan aliran tertentu pada suatu sistem hidrolik, maka motor
hidrolik bertugas mengkonversi kembali tekanan hidrolik menjadi
tenaga putar. Motor hidrolik dapat berkerja pada dua arah putaran
motor sesuai dengan kebutuhan penggunaan.

Gambar 10. Motor Hidrolik Type Gear


27

Motor hydrolik yang biasa digunakan pada truck volvo


adalah motor hydrolik type gear. Motor hidrolik ini menggunakan dua
buah roda gigi yang berputar di dalam casing. Satu roda gigi sebagai
driven gear dan lainnya berupa idler gear. Poros dari driven gear
berhubungan dengan alat yang digerakkan. Dan poros dari idler gear
hanya mengikuti berputar saja. Fluida hidrolik bertekanan masuk
melalui sisi inlet, mengalir ke masing-masing sisi roda gigi dan
menggerakkannya, sehingga timbul torsi yang digunakan oleh proses
selanjutnya.

f. Winch

Gambar 11. Winch Tulsa dengan Kapasitas 100.000 Kg

Hydraulic Winch adalah winch yang menggunakan fluida


sebagai tenaga penggeraknya, fluida yang digunakan berjenis oli.
Adapun keuntungan dari winch sistem hidrolik adalah tenaga yang
dihasilkan besar serta dapat bekerja dengan kecepatan beban yang
dapat diatur dengan mudah dan sama sekali tidak rebut. Dan kerugian
yang dimiliki oleh winch sistem hidrolik ini adalah konstruksinya
ruwet, tidak ekonomis dan perawatan serta perbaikan yang yang sulit.
28

4. Komponen-komponen Pneumatik Sebagai Kontrol Penggerak


Winch
Istilah pneumatik berasal dari bahasa Yunani, yaitu
‘pneuma’ yang berarti napas atau udara. Istilah pneumatik selalu
berhubungan dengan teknik penggunaan udara bertekanan, baik
tekanan di atas 1 atmosfer maupun tekanan di bawah 1 atmosfer
(vacum). Sehingga pneumatik merupakan ilmu yang mempelajari
teknik pemakaian udara bertekanan (udara kempa).

Gambar 12. Kompresor Udara Type Torak

Jaman dahulu kebanyakan orang sering menggunakan udara


bertekanan untuk berbagai keperluan yang masih terbatas, antara lain
menambah tekanan udara ban mobil/motor, melepaskan ban mobil
dari peleknya, membersihkan kotoran, dan sejenisnya. Sekarang,
sistem pneumatik memiliki apliaksi yang luas karena udara pneumatik
bersih dan mudah didapat. Banyak industri yang menggunakan sistem
pneumatik dalam proses produksi seperti industri makanan, industri obat-
obatan, industri pengepakan barang maupun industri yang lain. Belajar
pneumatik sangat bermanfaat mengingat hampir semua industri
sekarang memanfaatkan sistem pneumatik.
Komponen-komponen sistem pneumatik yang digunakan pada
penggerak winch tulsa:
29

a. Kompresor
Kompresor berfungsi untuk membangkitkan/menghasilkan
udara bertekanan dengan cara menghisap dan memampatkan udara
tersebut kemudian disimpan di dalam tangki udara kempa untuk
disuplai kepada pemakai (sistem pneumatik). Kompressor
dilengkapi dengan tabung untuk menyimpan udara bertekanan,
sehingga udara dapat mencapai jumlah dan tekanan yang diperlukan.
Tabung udara bertekanan pada kompressor dilengkapi dengan katup
pengaman, bila tekanan udaranya melebihi ketentuan, maka katup
pengaman akan terbuka secara otomatis.

b. Tangki Udara
Berfungsi untuk menyimpan udara bertekanan hingga pada
tekanan tertentu hingga pengisian akan berhenti, kemudian dapat
digunakan sewaktu-waktu diperlukan.

Gambar 13. Tabung Kompresor


30

c. Air Dryer
Air dryer adalah suatu alat yang berfungsi untuk
menghilangkan kandungan air pada compressed air (udara
terkompresi). Sistem ini biasanya menjadi satu kesatuan proses
dengan kompresor. Udara terkompresi hasil dari kompresor sebagian
akan masuk ke tangki penyimpan dan sebagian lagi dikeringkan
menggunakan air dryer.

Gambar 14. Air Dryer

Udara terkompresi yang dikeringkan, akan mengalami proses


penurunan dew point. Dew point adalah nilai temperatur yang
dibutuhkan untuk mendinginkan sejumlah udara, pada tekanan
konstan, sehingga uap air yang terkandung mengembun. Nilai dari
penurunan dew point tergantung dari spesifikasi air dryer yang
dipergunakan dan kebutuhan dari konsumsinya.

d. Katup Pneumatik
Katup berfungsi untuk mengatur atau mengendalikan arah
udara kempa yang akan bekerja menggerakan aktuator, dengan kata
lain katup ini berfungsi untuk mengendalikan arah gerakan aktuator.
Katup-katup pneumatik diberi nama berdasarkan pada:
1) Jumlah lubang/saluran kerja (port)
31

2) Jumlah posisi kerja


3) Jenis penggerak katup
4) Nama tambahan lain sesuai dengan karakteristik katup.

Katup-katup pneumatik memiliki banyak jenis dan fungsinya.


Katup tersebut berperan sebagai pengatur/pengendali di dalam sistem
pneumatik.Komponen-komponen kontrol tersebut atau biasa disebut
katup-katup (Valves) menurut desain kontruksinya dapat
dikelompokan sebagai berikut:
1) Katup Poppet (Poppet Valves)
- Katup Bola (Ball Seat Valves)
- Katup Piringan (Disc Seat Valves)
2) Katup Geser (Slide valves)
- Longitudinal Slide
- Plate Slide
Sedangkan menurut fungsinya katup-katup dikelompokkan
sebagai berikut:
1) Katup Pengarah (Directional Control Valves)
2) Katup Satu Arah (Non Return Valves)
3) Katup Pengatur Tekanan (Pressure Control Valves)
4) Katup Pengontrol Aliran (Flow Control Valves)
5) Katup buka-tutup (Shut-off valves)
Sedangkan susunan urutannya dalam sistim pneumatik dapat
jelaskan sebagai berikut:
1) Sinyal masukan atau input element mendapat energi langsung dari
sumber tenaga (udara kempa) yang kemudian diteruskan ke
pemroses sinyal.
2) Sinyal pemroses atau processing element yang memproses sinyal
masukan secara logic untuk diteruskan ke final control element.
32

3) Sinyal pengendalian akhir (final control element) yang akan


mengarahkan output yaitu arah gerakan aktuator (working element)
dan ini merupakan hasil akhir dari sistem pneumatik.

Jenis Katup Berdasarkan Cara Pengoperasiannya:


1) Solenoid Valve
Valve yang digerakkan solenoid (magnet). Valve ini
dibuka dan ditutup dengan gaya tarik solenoid (magnet). Valve
jenis ini digunakan dalam alat control otomatis dengan sistem
electrik pneumatik. Solenoid valve digunakan secara luas untuk
otomatisasi mesin industri.
Menurut jumlah solenoid yang dipakai katup, terdapat
bebrapa type :
- Single solenoid valve (katup solenoid tunggal).
- Double solenoid valve (katup solenoid ganda).
Tipe single solenoid mempunyai satu elektro magnet
seperti pada gambar dibawah dan dengan daya tarik magnet valve
digganti posisinya (change over) kemudian dengan mematikan
listrik (Demagnetizing) valve kembali kekedudukan semula dengan
gaya sring atau tekanan udara.

Gambar 15. Katup 3/2 Selenoid Tunggal Normally Closed


33

Gambar 16. Katup 3/2 Selenoid Tunggal Normally Open

Ketika solenoid diubah keposisi on, plunyer (Armature)


tertarik keatas melawan gaya pegas. Ini menyebabkan sambungan
P dan A terhubung bersama. ujung belakang (Cakra Punggung)
daripada pluyur menutup saluran keluar R. apabila solenoid
diubah pada posisi off, pegas mendorong plunyer diatas
dudukan katup bawah dan menutup saluran P ke A. saluran kerja
A dapat membuang melalui R. katup ini adalah jenis katup saling
melengkapi, dan ia memerlukan waktu perubahan sangat singkat.

Gambar 17. Katup 5/2 Selenoid Tunggal

Simbol Katup Dengan Menggunakan Single Solenoid


(Solenoid Tunggal) Adalah Sebagai Berikut :
34

Gambar 18. Simbol Single Solenoid Valve

Tipe double solenoid valve mempunyai dua elektro


magnet, seperti pada gambar, dan dibagi menjadi tipe continuous
magnetizing (dimagnet terus menerus) yang mempertahankan
pengganti valve diposisinya dengan memagnet selenoid A atau B
terus menerus, dan tipe magnetisasi sekejap (instantaneous
magnetizing) yang mempertahankan penggantian posisi valve
dengan memagnet salah satu solenoid dan mematikan magnetnya
setelah itu.

Gambar 19. Katup Solenoid Ganda 5/2 Way


Simbol katup dengan menggunakan double solenoid
(solenoid ganda) adalah seperti gambar dibawah :
35

Gambar 20. Simbol Double Solenoid Valve


2) Mechanical valve
Valve ini melakukan penggantian dengan gerakan
mekanikal dari camp. Pemakaiannya sama seperti micro switch dan
limit switch dalam peralatan listrik. Perubahan katup dibuat dalam
tahap-tahap berikut :
Pertama, penutup saluran A ke R, kemudian pembukaan
saluran P ke A. kembali keposisi semula dapat berlangsung ketika
tuas rol dilepas. Ini akan menutup saluran tekanan ke diapragma
dan saluran pembuang. Pegas yang terpasang mengembalikan
kumparan pemandu katup utama ke posisi awalnya

Gambar 21. Katup 3/2 Dengan System Mekanik (Posisi Normal


Terbuka)

3) Manual Valve
Valve ini dibuka dan ditutup secara manual. Cara
kerja dari valve ini adalah udara dapat berubah dengan jalan
manual tergantung dari operator, seperti berupa pedal (pijakan
kaki), tuas dan tombol tekan.
36

Gambar 22. Katup Manual Dengan Sistem Tuas

e. Selang udara tekanan tinggi


Selang pnematik tekanan tinggi merupakan penyalur udara
dari suatu komponen ke komponen lainnya. Slang ini didesign harus
kuat terhadap udara bertekanan tinggi. Untuk penggunaannya
disesuaikan dengan jumlah tekanan yang harus diterima oleh aktuator.

Gambar 23. Slang Udara Tekana Tinggi


f. Silinder udara
Silinder pneumatik adalah aktuator atau perangkat mekanis
yang menggunakan kekuatan udara bertekanan (udara yang
terkompresi) untuk menghasilkan kekuatan dalam gerakan bolak –
balik piston secara linier (gerakan keluar - masuk). Silinder pneumatik
merupakan alat atau perangkat yang sering kita jumpai pada mesin –
mesin industri, baik itu dalam industri otomotif, industri kemasan,
elektronik, dan berbagai industri maupun instansi – instansi yang lain.
37

Gambar 24. Silinder Udara

Silinder pneumatik biasa digunakan untuk menjepit benda, mendorong


mesin pemotong, penekan mesin pengepresan, peredam getaran, pintu
penyortiran, dan lain sebagainya. Silinder pneumatik mungkin
memang memiliki banyak fungsi kegunaan, akan tetapi fungsi dasar
silinder tidak pernah berubah, dimana mereka berfungsi mengkonversi
tekanan udara atau energi potensial udara menjadi energi gerak atau
kinetik.
Dalam pengoperasiannya, silinder pneumatik dikontrol oleh
katup atau valve pengontrol. Katup pengontrol ini berfungsi
mengontrol arah udara yang akan masuk ke tabung silinder. Dengan
kata lain, katup kontrol arah inilah yang mengontrol gerakan maju
atau mundur (keluar atau masuk) piston. Katup kontrol arah ini biasa
dikendalikan secara mekanis atau manual dengan tangan, maupun
secara elektris seperti Solenoid valve.
38

Gaya piston yang dihasilkan oleh silinder bergantung pada


tekanan udara, diameter silinder dan tahanan gesekan dari komponen
perapat. Gaya piston secara teoritis dihitung menurut rumus berikut :

Untuk silinder kerja tunggal :

Untuk silinder kerja ganda :

Langkah Maju :

Langkah mundur:

Keterangan :
39

Pada silinder kerja tunggal, gaya piston silinder kembali lebih


kecil daripada gaya piston silinder maju karena pada saat kembali
digerakkan oleh pegas . Sedangkan pada silinder kerja ganda, gaya
piston silinder kembali lebih kecil daripada silinder maju karena
adanya diameter batang piston akan mengurangi luas penampang
piston. Sekitar 3 – 10 % adalah tahanan gesekan. Berikut ini adalah
gaya piston silinder dari berbagai ukuran pada tekanan 1 – 10 bar.

Tabel 5. Gaya Piston Silinder Dari Berbagai Ukuran


Pada Tekanan 1–10 Bar.

Silinder pneumatik tahan terhadap beban lebih. Silinder


pneumatik dapat dibebani lebih besar dari kapasitasnya. Beban yang
tinggi menyebabkan silinder diam .
Untuk menyiapan udara dan untuk mengetahui biaya
pengadaan energi, terlebih dahulu harus diketahui konsumsi udara
pada sistem. Pada tekanan kerja, diameter piston dan langkah tertentu,
konsumsi udara dihitung sebagai berikut :
40

Untuk mempermudah dan mempercepat dalam menentukan


kebutuhan udara, tabel di bawah ini menunjukkan kebutuhan udara
persentimeter langkah piston untuk berbagai macam tekanan dan
diameter piston silinder.

Tabel 6. Kebutuhan Udara Silinder Pneumatik Persentimeter Langkah


dengan Fungsi Tekanan Kerja dan Diameter Piston.

Kebutuhan udara dihitung dengan satuan liter/menit (l/min)


sesuai dengan standar kapasitas kompresor. Kebutuhan udara silinder
sebagai berikut :
41

Keterangan :

5. Cara Kerja Mekanisme Sistem Hidrolik dan Pneumatik Winch pada


Truck Prime Mover
a. Cara kerja winch dalam keadaan off

Winch tulsa bisa aktif atau bisa bekerja ketika mesin (sebagai
sumber tenaga gerak) dihidupkan. Pada saat ini, air control valve PTO
dalam keadaan OFF, maka udara bertekanan pada kompresor hanya
samapai pada port 1 Directional Control Valve PTO (Power Take
Off), sehingga winch masih dalam keadaan OFF.
42

b. Ketika dalam keadaan netral

Ketika winch dalam keadaan netral, directional control valve


PTO ditekan, sehingga udara bertekanan pada kompresor akan
mengalir melewati port 1 dan keluar melalui port 2 pada directional
control valve PTO kemudian mengalir ke silinder udara PTO.
Akibatnya, lengan kopling akan menghubungkan gear pemindah ke
poros transmisi PTO yang seterusnya akan meneruskan putaran dari
mesin ke pompa hidrolik. Ketika pompa hidrolik berputar, maka
hidrolik dari tangki akan dipompakan ke port 1 directional control
valve ¾ , karena pada saat ini directional control valve dalam keadaan
netral, maka hidrolik akan kembali ke tangki hidrolik seperti pada
gambar.
43

c. Ketika Winch Diulur

Ketika winch mengulur sling atau kable winch, putaran dari


engine akan diteruskan ke PTO kemudian ke pompa hidrolik.
Akibatnya pompa hidrolik bekerja memompakan hidolik ke
directional control valve. Pada saat ini directional control valve ¾
ditekan oleh piston pneumatik yang dihubungkan ke DCV ¾
,sehingga motor winch akan berputar. Untuk mengaktifkan DCV ¾ ini
digunakan udara bertekanan yang berfungsi untuk memaju atau
memundurkan duoble acting cylinder dengan katup pengontrol udara
4/3 dan juga bisa digunakan tuas pada DCV.
Pada saat winch mengulur, clutch (free lock) winch harus
dalam keadaan terkunci (lock). Untuk mengaktifkan free lock,
dibutuhkan udara bertekanan dari kompresor melewati directional
control valve 4/3. Pada saat directional control valve 4/3 ditekan ke
arah kanan, maka udara bertekanan dari kompresor akan mengalir
melalui port 1 dan keluar melalui port 2 pada directional control valve
44

3/2 PTO, kemudian diteruskan ke port 1 dan keluar pada port 2


directional control valve 4/3 penggerak free lock, maka udara
bertekanan ini akan terus ke silinder pneumatik free lock, dan tuas free
lock akan mengunci winch. Free lock dihubungkan dengan rem pada
tulsa winch yang bekerja ketika ada sentakan dari sling, sehingga
memungkinkan winch berhenti mengulur ketika beban melebihi batas
maksimal kerja suatu winch. Cara kerja rem pada winch tulsa ini
seperti cara kerja safety belt pada kendaraan.
Tulsa winch juga dipasangkan brake linning yang berfungsi
untuk menahan putaran winch ketika beban diulur. Brake linning juga
digerakkan oleh sebuah silinder pneumatik. Ketika tuas digerakkan ke
kanan, maka aliran udara ke silinder pnematik break linning dimulai
dari kompresor, tangki udara, air dryer, DCV PTO, port 1 DCV 4/3,
port + silinder pneumatik, kemudian udara yang berada di bagian –
silinder pneumatik akan dikeluarkan melalui port – silinder
pneumatik, diteruskan ke port 4 DCV 4/3 dan dikeluarkan ke udara
bebas melalui port 3 DCV 4/3.

d. Ketika Winch Menggulung Kable / Sling


45

Ketika sling digulung, maka arah putaran motor winch yang


tadinya ke belakang, sekarang mengarah ke depan. Hidrolik dari
tangki dialirkan ke Directional Control Valve Winch pada posisi tuas
DCV ditekan ke arah kiri, hidrolik mengalir ke port 1, port 4, motor
winch, kemudian kembali ke port 2, port 1, filter, kemudian ke tangki
hidrolik. Pada saat ini free lock masih dalam keadaan terkunci.

e. Winch Dalam Keadaan ON dan Netral

Ketika winch dalam keadaan ON dan Netral, hidrolik dari


tangki hanya sampai di Directional Control Valve Winch, sehingga
motor winch akan berhenti berputar. Sedangkan free lock dalam
keadaan tidak mengunci.

6. Permasalahan Yang Sering Terjadi Pada Sistem Mekanisme


Hidrolik dan Pneumatik Winch
Permasalahan yang sering ditemukan oleh penulis selama
kegiatan praktek kerja lapangan industri pada sistem mekanisme hidrolik
46

dan pneumatik winch yang dipasang pada truck prime mover volvo
adalah:
1. Winch berputar lambat.
2. Winch tidak bisa bekerja ketika beban berat.
3. Hilangnya teknan pada silinder pneumatik penggerak winch (silinder
free lock dan silinder linning shoe).

Semua gangguan yang terjadi pada sistem mekanisme hidrolik


winch sering berhubungan dengan power yang berkemungkinan
disebabkan oleh Power Take Off (PTO) rusak, pompa hidrolik bocor,
kebocoran pada saluran hidrolik. Sedangkan kemungkinan penyebab
permasalahan yang terjadi pada sistem pneumatik mekanisme winch
adalah kerusakan pada air dryer, kerusakan pada silinder pneumatik dan
atau kebocoran pada sambungan-sambungan slang pnematik.

7. Pengertian Trobleshooting
Troubleshooting adalah sebuah istilah dalam bahasa inggris,
yang merujuk kepada sebuah masalah. Troubleshooting merupakan
pencarian sumber masalah secara sistematis sehingga masalah tersebut
dapat diselesaikan. Troubleshooting, kadang-kadang merupakan proses
penghilangan masalah, dan juga proses penghilangan penyebab potensial
dari sebuah masalah. Troubleshooting, pada umumnya digunakan dalam
berbagai bidang, seperti halnya dalam bidang komputer, administrasi
sistem, dan juga bidang elektronika dan kelistrikan.
(https://id.wikipedia.org)

B. Troubleshooting Sistem Winch pada Truck Prime Mover


No Permasalahan Penyebab Perbaikan
1. Kopling winch tidak - Rahang kopling - Menyelaraskan
bekerja dengan baik. tidak selaras. rahang dengan drum
dalam keadaan
47

berputar/diputar.
- Yoke atau lingkage - Ganti yoke atau
rusak. kopling.
2. Kebocoran oli dari - Seal rusak atau - Ganti seal.
housing. aus.
- Oli gearbox terlalu - Buang kelebihan oli
banyak. tersebut.
- Gasket aus atau - Ganti gasket /
rusak. paking.
3. Load drift - Rem tidak - Setel rem.
berfungsi secara - Ganti part/ bagian
normal. yang dirasa perlu
diganti.
4. Winch berputar - Kecepatan aliran - Cek laju aliran dan
lambat. fluida rendah. tingkatkan bila
perlu.
- Motor hidrolik - Ganti motor
rusak. hidrolik.
5. Cable drum tidak bisa - Winch tidak - Periksa pemasangan
dikumpar dengan terpasang dengan dan komfirmasi
bebas. tepat. bahwa winch
dipasang dengan
tepat pada
dudukannya.
- Kopling tidak - Lepaskan kopling.
terlepas.
6. Kebocoran hidrolik - Seal poros motor - Ganti seal.
dari ventilasi gearbox. rusak.
7. Winch tidak bisa - Terlalu banyak - Kurangi kabel
bekerja dengan beban kabel drum. drum.
48

berat. - Sistem pressure - Tingkatkan tekanan


rendah. hidrolik.
- Winch rusak. - Putar winch pada
setengah dari nilai
beban selama
beberapa tarikan.

Tabel 7. Troubleshooting Winch

C. Troubleshooting Yang Sering Terjadi Pada Sistem Hidrolik dan


Pneumatik Winch
1. Keruskan Pada Power Take Off (PTO)
Prosedur Servis Power Take Off
a. Langkah pembongkaran:
1) Lepaskan Power Take Off dari Engine.
2) Buka tutup piston

3) Lepaskan piston

4) Buka lengan kopling dan lengan pemindah


49

b. Langkah pengecekan
1) Bersihkan semua komponen
2) Periksa komponen dari kerusakan atau aus
3) Ganti parts yang rusak atau sudah aus.
c. Pemasangan:
Catatan: lumasi bantalan dan seal dengan pelumas yang sama dengan
pelumas yang digunakan pada gear box.
1) Lumasi lengan kopling dan gear pemindah.

Catatan: perhatikan posisi lengan kopling. Pasang sisi miring dari


splines menuju gerabox.
2) Pasang komponen piston ke dudukannya.
3) Lumasi piston
4) Pasang piston ke lengan kopling dan torsi tighten.
50

5) Pasang baut (20 ± 3 Nm)

2. Keruskan Pada Pompa Hidrolik (Tipe Gear Pump)


No Permasalahan Penyebab Perbaikan
1.  Terajadi aerasi dan  Permukaan oli  Isi sampai
score (pelubangan) rendah tingkat yang
 Pompa berisik benar
 Oli dingin  Ganti dengan oli
yang sesuai
 Saluran hisap  Bersihkan atau
kotor ganti
 Saluran hisap  Perbesar ukuran
terlalu kecil saluran
 Saluran hisap  Bersihkan
terhambat penghambat dari
saluran
51

2. Pompa butuh waktu  Permukaan oli  Isi sampai


lama atau tidak rendah tingkat yang
bereaksi benar
 Pressure  Atur ulang
(tekanan) pressure
valve pelepas (tekanan)
kurang  Perbaiki atau
 Pompa aus atau ganti pompa
rusak

3. Oli Panas  Pengaturan  Atur ulang atau


valve pelepas ganti valve
terlalu kecil
 Oli kotor  Buang dan isi
kembali dengan
oli yang sesuai
 Permukaan oli  Isi sampai
rendah tingkat yang
benar
 Baffle tanki  Perbaiki baffle
hidarulis tidak
sesuai
 Saluran balikan  Pasang dibawah
terletak di atas permukaan oli
permukaan oli
 Shaft pada  Ganti shaft seal
pompa rusak
atau aus
4. Oli berbuih  Kebocoran  Kencangkan
udara ke dalam seluruh
52

saluran hisap sambungan


dari tanki ke
pompa
 Jenis oli salah  Buang dan isi
dengan oli yang
sesuai
 Permukaan oli  Isi sampai
rendah tingkat yang
benar
 Baffle tanki  Perbaiki lagi
hydraulic tidak baffle
sesuai
 Saluran balik  Pasang dibawah
berada diatas permukaan oli
permukaan oli
 Shaft pompa  Ganti shaft seal
rusak atau aus
5. Aliran atau pressure  Thrust plate  Ganti thrust
(tekanan) dari pompa rusak plate
rendah  Check valve  Ganti check
rusak valve
 Housing gear  Ganti housing
aus gear
 Rangkaian gear  Ganti rangkaian
aus gear
 Udar masuk ke
pompa melalui
shaft seal
6. Shaft seal pompa  Wilayah shaft  Ganti shaft
bocor sekitar seal aus
53

 Check valve  Bersihkan atau


pada pompa ganti check
tidak tersegel valve
 Ring seal rusak  Ganti ring seal
atau aus
 Saluran wadah  Pasang drain
buangan tidak line
terpasang
(motor)

Tabel 8. Troubleshooting Gear Pump

3. Keruskan Pada Air Dryer


Permasalahan: Air Dryer Tidak Bekerja dengan Baik.
a. Langkah Kerja:
1) Hidupkan mesin.
2) Cek waktu pembukaan dan penutupan check valve.
STD: Open. 170 Psi.
Close. 135 Psi.
3) Matikan mesin.
b. Pembongkaran:
1) Lepasakan slang saluaran IN pada air dryer.
2) Lepasakan salang saluran OUT pada air dryer.
3) Lepaskan baut dudukan air dryer.
4) Angkat air dryer dari dudukannya dan letakkan di meja kerja.
5) Lepaskan slang buang.
6) Lepaskan filter udara.
7) Lepaskan check valve.
8) Lepaskan baut penyetel / governor.
9) Lepaskan piston air dryer dari silindernya.
10) Bersihkan komponen yang dibongkar.
11) Periksa keausan pada dinding luar piston.
54

12) Periksa o-ring. (kelonggarannya).’Pasang piston air dryer.


13) Pasang
c. Penyetelan:
STD: Open. 170 Psi.
Close. 135 Psi.
1) Ganti nepel saluran in dengan nepel yang sesuai dengan nepel
kompresor udara.
2) Lepaskan nepel saluran out.
3) Pasangkan prasure gauge pada saluran out.
4) Pasangkan slang kompresor udara pada saluran in.
5) Beri udara tekan sampai saluran buang mengeluarkan angin sambil
membaca tekanan pada jarum inidikator preasure gauge.
6) Amati saluran buang hingga air dryer berhenti mengeluarkan angin
dan baca tekanan pada jarum indikator preasure gauge.
Ke kanan : mepercepat pembunagan angin.
Ke kiri : meperlambat pembuangan angin.
d. Penyetelan setelah air dryer dipasangkan ke Kendaraan
Catt: Bekerja harus dua orang.
1) Hidukan mesin.
2) Injak dan tahan gas pada putaran menegah.

3) Perhatikan indikator tekanan udara kompresor pada daskbor ( ±9

kg/cm) dan air dryer seharusnya sudah membuang angin.


4) Amati saluran buang hingga berhenti membuang angin
(seharusnya berhenti membuang angin ketika pada tekanan 135
Psi dan alarm sudah berbunyi.
55

4. Kerusakan Pada Silinder Pneumatik


Permasalahan Penyebab Perbaikan
Tekanan silinder tidak 1. Seal piston keras. 1. Ganti seal piston.
sempurna dan atau tidak 2. Dinding silinder 2. Ganti silinder
ada. aus/rusak pneumatik

Tabel 9. Troubleshooting Silinder Pneumatik