Anda di halaman 1dari 9

Nama : Muhammad Adrian Wicaksana

NIM : 03031381621107
Kelas :B
Kampus : Palembang

1. Jelaskan mekanisme kerja 4 jenis valve beserta gambar dan contoh aplikasinya !
2. Jelaskan 3 komponen utama dalam mekanisme control valve !
3. Jelaskan perbedaan mekanisme spring diafragma actuator dan piston actuator !
4. Bagaimana prinsip kerja positioner pada pengendalian control valve ?
5. Determine symbol and instrumentation diagram below !

PENYELESAIAN

1. Katup (valve) adalah suatu alat yang menerima perintah dari luar untuk melepas,
menghentikan atau mengarahkan fluida yang berjalan melalui katup tersebut. Valve
memiliki banyak jenis, diantaranya adalah gate valve, globe valve, check valve, dan
lain sebagainya.
1) Gate Valve
Gate valve adalah valve yang terbuka dengan cara mengangkat sebuah
gerbang penutup atau plang keluar dari jalan yang dilalui fluida. Secara umum,
gate valve digunakan untuk membuka dan menutup aliran secara penuh, dan
biasanya tidak digunakan untuk mengatur laju alir (kecuali yang didesain secara
khusus untuk keperluan tersebut). Karena akan merusak posisi discnya dan
mengakibatkan valve bisa passing pada saat valve ditutup. Passing adalah aliran
yang tetap akan lewat, walaupun valve sudah menutup. Disc tidak menekan seat
dengan baik yang diakibatkan karena posisi disc sudah berubah atau tidak rata
lagi. Karena desain tersebut (membuka atau menutup valve secara penuh), gate
valve memiliki tahanan atau hambatan yang relatif kecil.

Gambar Gate Valve :

Aplikasi dari gate valve :


Gate valve terdiri dari 3 jenis, yaitu Rising Stem Gate Valve, Non Rising Stem
Gate Valve dan Outside Screw & Yoke Gate Valve (OS & Y). Rising Stem dan Non
Rising Stem umumnya digunakan untuk tekanan yang tidak terlalu tinggi, dan tidak
cocok untuk getaran. Sementara itu, Outside Screw & Yoke Gate Valve amat cocok
digunakan untuk high pressure. Biasanya OS & Y banyak digunakan di bidang
perminyakan, medan yang tinggi dan temperatur tinggi karena pada OS & Y stem
naik atau turun bisa dijadikan sebagai penanda. Contoh, apabila stem tinggi itu
menandakan posisi valve sedang dibuka penuh. Pada dasarnya body & bonet pada
gate terbuat dari bahan bahan yang sama.

2) Globe Valve
Global valve merupakan salah satu jenis valve yang dirancang untuk mengatur
besar kecilnya aliran fluida (regulate atau trotthling). Dinamakan dengan globe
valve karena bentuknya yang bulat dengan dua bagian yang dipisahkan oleh
penyekat internal. Prinsip dasar dari operasi globe valve adalah gerakan tegak lurus
disc dari dudukannya, hal ini memastikan bahwa aliran atau flow pada pipa dapat
diatur melalui tuas yang menutup pada ring yang ada dibawahnya. Kelebihan dari
sistem tegak lurus pada globe valve ini adalah dapat menutup dengan baik melalui
tuas yang menempel pada lobang. Tuas tersebut digerakkan dengan thread yang
bisa di kendalikan.
Terdapat lubang yang membentuk seat sehingga plug dapat bergerak untuk
menutup valve tersebut. Plug ini sering juga disebut disc. Pada globe valve, plug
dihubungkan ke batang yang dioperasikan oleh sekrup menggunakan handwheel
dalam katup manual. Aliran fluida saat melewati globe valve akan mengalami
hambatan sehingga akan terjadi pressure drop yang lebih besar dari gate valve,
pertama aliran akan mengenai seat lalu membelok ke atas melewati dan mengenai
seluruh bagian disc, lalu aliran akan dibelokkan lagi ke arah yang sama.

Gambar Globe Valve :

Aplikasi dari globe valve :


1. Untuk cooling water system, dimana aliran perlu untuk di atur.
2. High-point vent dan low-point drain dimana kebocoran (leak tighness) dan
safety menjadi prioritas.

3) Check Valve
Check valve digunakan untuk membuat aliran fluida hanya mengalir kesatu
arah saja agar tidak terjadi reversed flow atau back flow. Bentuk check valve sama
saja dengan gate valve tapi valve ini tidak mempunyai handle maupun batang
(stem). Check Valve tidak menggunakan handle untuk mengatur aliran, melainkan
menggunakan gravitasi dan tekanan dari aliran fluida itu sendiri. Ada berbagai
macam check valve yang cara kerjanya sama saja namun aplikasi nya terhadap
material fluida yang berbeda, yaitu: Swing check valve, Lift check valve, dan Ball
check valve. Hambatan yang dialami fluida relatif besar (apalagi untuk ball check
valve). Check valve memiliki perbedaan yang signifikan daro gate valve ataupun
globe valve karena jenis valve ini didesain untuk mencegah adanya aliran balik.

Gambar Check Valve :

Aplikasi dari check valve :


Check valve sering digunakan sebagai pengaman dari sebuah equipment dalam
sistem perpipaan. Aplikasi check valve sering dijumpai pada outlet discharge dari
centrifugal pump. Ketika laju alir fluida sesuai dengan arahnya, laju aliran
tersebut akan membuat plug atau disc membuka. Jika ada tekanan yang datang
dari arah berlawanan, maka plug atau disc tersebut akan menutup.

4) Ball Valve
Ball valve adalah sebuah katup dengan pengontrol aliran berbentuk disc bulat
seperti bola. Bola itu memiliki lubang yang berada ditengah sehingga ketika
lubang tersebut segaris lurus atau sejalan dengan kedua ujung valve, maka aliran
akan terjadi. Tetapi ketika katup tertutup dan posisi lubang berada tegak lurus
terhadap ujung katup, maka aliran akan terhalang atau tertutup.
Ball valve membuka dan menutup dengan cara rotasi pada disc sehingga dapat
membuka dan menutup lebih cepat. Ball valve juga mempunyai handle, ketika
pada posisi valve fully open maka handle akan searah dengan aliran atau pipa,
namun jika posisi valve fully close maka posisi handle tidak searah dengan aliran
atau pipa, melainkan akan membentuk sudut 90 derajat dengan aliran atau pipa.
Gambar Ball Valve :

Aplikasi dari ball valve :


Ball valve digunakan sebagai on/off valve, fully opened atau fully closed valve.
Ball valve sering digunakan untuk aliran yang mengandung partikel padatan
(slurry). Ball valve dapat terbuat dari logam, plastik atau keramik. Ball valve
sering dilapisi krom untuk membuatnya lebih tahan lama. Ball valve dapat
beroperasi dengan baik walaupun telah lama digunakan. Ball valve digunakan
secara luas dalam aplikasi industri karena mereka sangat serbaguna karena dapat
menahan tekanan hingga 1000 bar dan suhu sampai 482° F (250° C). Ukuran ball
valve biasanya berkisar 0,2-11,81 inch (0,5 cm sampai 30 cm). Ball valve mudah
untuk diperbaiki dan dioperasikan.

2. Control valve terdiri dari komponen-komponen penyusun ataupun pendukung kerja


dari valve tersebut. Komponen-komponen tersebut terdiri atas valve body, disc, seat,
bonnet, packing, packing gland, steam, dan wheel. Komponen-komponen utama
dalam mekanisme control valve antara lain:
1) Valve Body
Valve body digunakan sebagi casing luar atau pelindung dari bagian-bagian
internal valve. Valve body terdiri atas saluran-saluran yang mengarahkan cairan
hidraulik ke banyak valve yang kemudian mengaktifkan kopling atau band servo
yang sesuai untuk beralih ke gear yang sesuai untuk setiap driving situation.
Valve body juga berfungsi sebagai tempat disc dan penghubung antar pipa. Valve
body umumnya terbuat dari logam atau plastik.
2) Disc
Disc adalah bagian dari valve yang bisa digerakkan di dalam stationary body
yang menyesuaikan dan membatasi aliran yang melalui valve. Disc bergerak
sesuai dengan jenis dari valve yang bersangkutan. Sebuah disc dapat bergerak
secara linier di dalam valve, atau berotasi pada stem (untuk butterfly valve), dan
juga berotasi pada hinge or trunnion pada check valve.
3) Stem
Stem mentransmisikan gerakan dari handle atau peralatan control menuju disc.
Stem akan melewati suatu bonnet. Dalam beberapa kasus, stem dan disc dapat
dikombinasikan ke dalam satu bagian, atau stem dan handle dikombinasikan ke
dalam satu bagian. Gerakan yang ditransmisikan oleh stem bisa merupakan gaya
linear, torsi rotational, atau beberapa kombinasi lainnya. Valve dan stem dapat
diulir sedemikian rupa sehingga stem dapat disekrup ke dalam atau keluar dari
valve dengan memutarnya ke dalam satu arah atau sebaliknya, sehingga dapat
memindahkan disc ke belakang atau ke dalam body.

3. Perbedaan mekanisme spring diapraghm actuator dan piston actuator :


1) Spring Diapraghm Actuator
Desain sistem ini adalah failsafe yaitu jika ada kegagalan pada supply udara
(air supply), maka pegas akan bergerak sehingga valve akan terbuka atau tertutup
tergantung keadaan yang dipilih. Aktuator pegas dan diafragma dapat dibuat agar
berfungsi sebagai direct acting yaitu dengan meningkatkan tekanan udara maka
diafragma akan tertekan ke bawah sehingga steam actuator semakin panjang.
Selain itu aktuator pegas dan diafragma dapat dibuat reverse acting, yaitu dapat
meningkatkan tekanan udara maka diafragma akan tertekan ke atas sehingga
steam actuator semakin pendek.
Beberapa faktor yang membatasi actuator diaphragm melibatkan kombinasi
dari; ukuran, tekanan, gaya, dan langkah (stroke). Untuk memperoleh gaya yang
besar diperlukan suatu diameter yang besar, akan tetapi semakin besar
diameternya, makin kecil tekanan yang didapat. Stroke juga dibatasi dan
dipengaruhi oleh ukuran. Sebagai akibatnya banyak batasan-batasan yang
diperlukan agar pemakaiannya menjadi lebih ekonomis.
2) Piston Actuator
Piston actuator umumnya digunakan ketika stroke dari sebuah aktuator
diafragma terlalu pendek atau dorongannya terlalu kecil. Udara bertekanan
diaplikasikan ke dalam solid piston yang terkandung dalam solid cylinder. Piston
actuator bisa berupa single acting atau double acting, yaitu dapat menahan
tekanan input yang lebih tinggi dan dapat memberikan volume silinder yang lebih
kecil yang berarti dapat beraksi dengan kecepatan tinggi. Piston actuator terbagi
menjadi dua yaitu pneumatic actuator dan hydraulic actuator. Kedua piston
tersebut digunakan ketika gaya yang dibutuhkan untuk memposisikan valve atau
peredam lebih tinggi dari yang dapat disediakan oleh diaphragm actuator.

4. Prinsip kerja positioner pada pengendalian control valve :


Positioner berfungsi sebagai pengatur (naik dan turun) pada instrumen air
yang masuk ke actuator sampai pada level tertentu sesuai dengan output variable
instrument controller. Positioner umumnya di pasang pada sisi yoke dari suatu
control valve. Valve positioner terhubung secara mekanikal dengan valve stem atau
valve shaft sehingga posisi control valve bisa di bandingkan dengan signal yang di
perintahkan oleh controller. Mekanikal feedback link akan bekerja sesuai dengan
perintah controller untuk merubah posisi dengan memberi report dimana posisi
terakhir. Umumnya smart positioner menggunakan potensio meter untuk menentukan
posisi. Positioner dibagi ke dalam 3 tipe yaitu pneumatic positioner, analog i/p
positioner dan smart positioner yang memiliki prinsip kerja yang berbeda.
Pertama adalah pneumatic positioner. Pneumatic signal (3-15 Psig) digunakan
untuk supply (input) ke positioner. Positioner menerjemahkan sinyal ini ke level
posisi valve yang di butuhkan dengan memberi supply instrumen air ke actuator
sesuai dengan posisi yang di tentukan. Kedua adalah analog i/p positioner. Positioner
ini melakukan fungsi yang sama dengan pneumatic positioner, tetapi biasanya
menggunakan input electrical signal (4-20 mA). Ketiga adalah smart positioner.
Smart positioner mempunyai fungsi yang lebih banyak dari pada Analog I/P dan
Pneumatic yang telah dijelaskan. Keunggulan dari tipe ini bisa di control dengan
beberapa metode yang menggunakan signal digital diantaranya:
a) Digital Non-Communicating
Tipe ini signal current (Ampere) 4-20mA yang di suplai ke positioner
dengan membawa 2 signal yaitu power dan singal control.
b) HART
Hampir sama dengan tipe Non-communicating, kelebihanya bisa di
kontrol dengan sinyal yang terakreditasi HART (Highway Addressable
Remote Transducer).
c) FieldBus
Tipe ini menerima signal digital yang di transmisikan oleh controller
yang terakreditasi FieldBus teknologi. Keuntungan FieldBus ini bagi
pengguna yaitu bisa meningkatkan control architecture, product
capability dan pengurangan kabel instalasi.

5.

Simbol dan Instrumentasi Gambar Diatas

Temperature Temperature Temperature Temperature Valve


Indicating Controller Transmitter Computer Output
Transducer Pneumatic Valve Gate Valve Capilary Tubing For
Filled System

Electrical Signal Pneumatic Signal Process Connection