Anda di halaman 1dari 22

TUGAS MANAJEMEN KEPERAWATAN

PROPOSAL ROLE PLAY RONDE KEPERAWATAN

Disusun Oleh :
Kelompok 6

1. Desy Enggar Pravita (10215004)


2. Fitriah Nurul Hidayah (10215010)
3. M. Perdana Sigo Pradikda (10215024)
4. Richard Abdul Azis (10215028)
5. Fatin Afizah Sari (10215034)
6. Kartika Dwi Pratiwi (10215038)
7. Siti Fatimah (10215050)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTIWIYATA
KEDIRI
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Manajemen adalah suatu upaca kegiatan untuk mengarahkan, mengkoordinasi,
mengarahkan dan mengawasi dalam mencapai tujuan bersama dalam sebuah
organisasi. Manajemen keperawatan adalah upaya staf keperawatan dalam
memberikan asuhan keperawatan, pengobatan, dan rasa aman kepada pasien,
keluarga, serta masyarakat. Manajemen sangat penting diterapkan di dalam
ruangan agar semua kegiatan tertata rapi dan terarah, sehingga tujuan dapat
dicapai bersama, yaitu menciptakan suasana yang aman dan nyaman baik kepada
sesama staf keperawatan maupun pasien (Handoko,2010).
Dalam pelaksanaan manajemen terdapat model praktik keperawatan
professional ( MPKP ) yang di dalamnya terdapat kegiatan ronde keperawatan.
Ronde keperawatan adalah suatu kegiatan dimana perawat primer dan perawat
asosiet bekerja sama untuk menyelesaikan masalah klien, dan klien dilibatkan
secara langsung dalam proses penyelesaian masalah tersebut. (Kurniadi,2013).
Ronde keperawatan diperlukan agar masalah klien dapat teratasi dengan baik,
sehingga semua kebutuhan dasar klien dapat terpenuhi. Perawat professional
harus dapat menerapkan ronde keperawatan, sehingga role play tentang ronde
keperawatan ini sangat perlu dilakukan agar mahasiswa paham mengenai ronde
keperawatan dan dapat mengaplikasikannya kelak saat bekerja.

1.2 TUJUAN
1.2.1 Tujuan Umum
Setelah dilakukan ronde keperawatan masalah keperawatan yang dialami
klien dapat teratasi.
1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah dilakukan ronde keperawatan, perawat mampu :
a. Berfikir kritis dan sistematis dalam perencanaan masalah
keperawatan klien.
b. Memberikan tindakan yang berorientasi pada masalah keperawatan
klien.
c. Menilai hasil kerja.
d. Melakukan asuhan keperawatan menyuluruh.
e. Meningkatkan kemampuan validasi data klien.
f. Meingkatkan kemampuan justifikasi.
g. Meningkatkan kemampuan memodifikasi rencana asuhan
keperawatan.
h. Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosa keperawatan.

1.3 MANFAAT
1.3.1 Bagi perawat.
a. Terciptanya komunitas perawatan yang profesional terjalin kerjasama
antar tim.
b. Perawat dapat melaksanakan model asuhan keperawatan yang tepat
dan benar.
1.3.2 Bagi pasien.
a. Maasalah pasien teratasi
b. Kebutuhan psien terpenuhi
1.3.3 Bagi Rumah Sakit
a. Meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.
b. Meningkatlan kepercayaan masyarakat tehadap pelayanan rumah
sakit.
c. Meningkatkan loyalitas konsumen terhadap rumah sakit.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 KONSEP RONDE KEPERAWATAN


2.1.1 DEFINISI RONDE KEPERAWATAN
Ronde keperawatan merupakan proses yang memberikan
kesempatan kepada perawat untuk bertukar pikiran atau mengungkapkan
ide antar perawat satu dengan yang lain, perawat dapat mengungkapkan
kondisi pasien dan karakteristik keluarga pasien. Ronde keperawatan
adalah kegiatan bertujuan mengatasi masalah keperawatan klien,
dilaksanakan perawat, pasien dilibatkan untuk membahas dan
melaksanakan asuhan keperawatan. Akan tetapi, pada kasus tertentu
harus dilakukan oleh perawat primer atau konsuler, kepala ruangan,
perawat associate, yang perlu juga melibatkan seluruh anggota tim
(Nursalam, 2002).
Karateristik :

1. Pasien dan keluarga dilibatkan secara langsung


2. Pasien merupakan fokus kegiatan
3. PA, PP, dan konselor melakukan diskusi bersama
4. Konselor memfasilitasi kreatifitas
5. Konselor membantu mengembangkan kemampuan PA, PP dalam
meningkatkan kemampuan mengatasi masalah.

2.1.2 TUJUAN RONDE KEPERAWATAN


1. Menumbuhkan cara berpikir kritis dan sistematis
2. Meningkatkan kemampuan validasi data pasien
3. Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosis keperawatan
pasien
4. Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang
berorientasi pada masalah pasien
5. Meningkatkan kemampuan memodifikasi rencana asuhan
keperawatan
6. Meningkatkan kemampuan justifikasi
7. Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja
2.1.3 MANFAAT RONDE KEPERAWATAN
1. Masalah pasien dapat teratasi
2. Kebutuhan pasien dapat terpenuhi
3. Terciptanya komunitas keperawatan yang professional
4. Terjalinnya kerjasama antar tim kesehatan
5. Perawat dapat melaksanakan model asuhan keperawatan dengan
tepat dan benar
2.1.4 KRITERIA PASIEN RONDE KEPERAWATAN
1. Mempunyai masalah keperawatanyang belumnteratasi meskipun
sudah dilakukan tindakan keperawatan
2. Pasien dengan kasus baru atau langka
2.1.5 PERAN MASING-MASING ANGGOTA TIM RONDE
KEPERAWATAN
1) PP dan PA
1. Menjelaskan data pasien yang mendukung masalah pasien
2. Menjelaskan diagnosis keperawatan
3. Menjelaskan intervensi yang dilakukan
4. Menjelaskan hasil yang didapat
5. Menjelaskan rasional (alasan ilmiah) dari tindakan yang
diambil
6. Menggali masalah-masalah pasien yang belum terkaji
2) PERAWAT KONSELOR
1. Memberikan justifikasi
2. Memberikan reinforcement
3. Memvalidasi kebenaran dari masalah dan intervensi keperawatan
serta rasional tindakan
4. Mengarahkan dan koreksi
5. Mengintegrasikan konsep dan teori yang telah dipelajari
2.1.6 ALUR RONDE KEPERAWATAN

Tahap pra...................... PP

Penetapan Pasien

Persiapan Pasien

- Informed concent
- Hasil pengkajian/
validasi data - Apa diagnosis
keperawatan?
- Apa data yang
mendukung?
Penyajian Masalah - Bagaimana
Tahap pelaksanaan
intervensi yang
Di nurse station.............. dilakukan?
- Apa hambatan
yang ditemukan?

Validasi Data

Diskusi PP,
Konselor, karu

Tahap pelaksanaan di kamar pasien.................................... Lanjutan diskusi


di nurse station

Pasca ronde..................................................................
Kesimpulan dan
Rekomendasi solusi
masalah
2.2 KONSEP PENYAKIT
2.2.1 DEFINISI
(ISK) adalah keadaan adanya infeksi yang ditandai dengan
pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri dalam saluran kemih, meliputi
infeksi parenkim ginjal sampai kandung kemih dengan jumlah bakteriuria
yang bermakna (Soegijanto, 2005).
(ISK) adalah infeksi akibat berkembang biaknya mikroorganisme di
dalam saluran kemih, yang dalam keadaan normal air kemih tidak
mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme lain. Infeksi saluran kemih
dapat terjadibaik di pria maupun wanita dari semua umur, dan dari kedua
jenis kelamin ternyata wanita lebih sering menderita daripada pria (Sudoyo
Aru,dkk 2009).
(ISK) merupakan faktor resiko yang penting pada terjadinya
insufisiensi ginjal atau stadium terminal sakit ginjal. Infeksi saluran kemih
terjadi secara asending oleh sistitis karena kuan berasal dari flora fekal yang
menimbulkan koloni perineum lalu kuman masuk melalui uretra (Widagdo,
2012).
(ISK) ialah istilah umum untuk menyatakan adanya pertumbuhan
bakteri di dalam saluran kemih, meliputi infeksi di parenkim ginjal sampai
infeksi di kandung kemih. Pertumbuhan bakteri yang mencapai > 100.000
unit koloni per ml urin segar pancar tengah (midstream urine) pagi hari,
digunakan sebagai batasan diagnosa ISK (IDI, 2011).
Prevalensi ISK bervariasi menurut jenis kelamin dan umur.ISK dapat
menyerang pasien dari segala usia mulai bayi baru lahir hingga orangtua.
Pada umumnya wanita lebih sering mengalami episode ISK daripada pria,
karena uretra wanita lebih pendek daripada pria.Namun, pada masa
neonatus, ISK lebih banyak terdapat pada bayi laki-laki (2,7%) yang tidak
menjalani sirkumsisi daripada bayi perempuan (0,7%).Dengan
bertambahnya usia insiden ISK terbalik, yaitu pada masa sekolah, ISK pada
anak perempuan (3%) sedangkan pada anak laki-laki (1,1%). Insiden ini
pada usia remaja anak perempuan meningkat 3,3 sampai 5,8%. Bakteriuria
asimptomatik pada wanita usia 18-40 tahun adalah 5 sampai 6% dan angka
itu meningkat menjadi 20% pada wanita usia lanjut (Purnomo, 2011).
Kesimpulan dari pengertian tentang penyakit infeksi saluran kemih di
atas yaitu dapat disimpulkan infeksi saluran kemih adalah penyakit yang
bertumbuhnya kuman di saluran kemih yang dapat menyerang lebih banyak
pada anak perempuan dibandingkan laki-laki dan juga tidak memandang
umur karena bisa menyerang semua umur baik anak-anak, usia remaja,
dewasa dan lansia. Kebiasaan menahan buang air kecil, kurang minum air
putih dan (air kencing susah keluar dan sedikit).

2.2.2 KLASIFIKASI
Menurut Purnomo (2012), (ISK) diklasifikasikan menjadi dua macam
yaitu: ISK uncomplicated (sederhana) dan ISK (rumit). Istilah ISK
uncomplicated (sederhana) adalah infeksi saluran kemih pada pasien
tanpadisertai kelainan anatomi maupun kelainan struktur saluran kemih.
ISK complicated (rumit) adalah infeksi saluran kemih yang terjadi pada
pasien yang menderita kelainan anatomik atau struktur saluran kemih, atau
adanya penyakit sistemik kelainan ini akan menyulitkan pemberantasan
kuman oleh antibiotika.

2.2.3 ETIOLOGI
E.coli adalah penyebab tersering. Penyebab lain ialah klebsiela,
enterobakteri, pseudomonas, streptokok, dan stafilokok (SudoyoAru, dkk
2009).
1. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain :
a. Escherichia Coli : 90% penyebab ISK uncomplicated ( simple )
b. Psedomonas, proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated
c. Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan lain-
lain
2. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain :
a. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat
pengosongan kandung kemih yang kurang efektif.
b. Mobilitas menurun
c. Nutrisi yang sering kurang baik
d. Adanya hambatan pada aliran darah
e. Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat
Berbagai jenis orgnisme dapat menyebabkan ISK. Escherichia coli
(80% kasus) dan organism enterik garam-negatif lainny merupakan
organisme yang paling sering menyebabkan ISK : kuman-kuman ini
biasanya ditemukan di daerah anus dan perineum. Organisme lain yag
menyebabkan ISK antara lain Proteus, Pseudomonas, Klebsiella,
Staphylococcus aureus, Haemophilus, dan Staphylococcus koagulse
negatif. Beberapa faktor menyebabkan munculnya ISK di masa kanak-
kanak (Wong, 2008).

2.2.4 ANATOMI FISIOLOGI


Struktur saluran kemih bagian bawah diyakini turut meningkatkan
insidensi bakteriuria pada wanita. Uretra yang pendek dengan panjang
sekitar 2 cm (¾ inci) pada anak perempuan dan 4 cm (1 ½ inci) pada wanita
dewasa memberikan kemudahanjalan masuk invasi organism. Di samping
itu, penutupan uretra pada akhir mikturisi dapat mengembalikan bakteri
pengontaminasi ke dalam kandung kemih. Uretra laki-laki yang panjang
(sampai sepanjang 20 cm (8 inci) pada pria (dewasa) dan sifat antibakteri
yang di miliki oleh secret prostat akan menghambat masuk serta tumbuhnya
kuman-kuman pathogen (Wong, 2008).

2.2.5 GAMBARAN KLINIS


Menurut Wong (2008), adapun gambaran klinis dari penyakit infeksi
saluran kemih (ISK) yaitu :
3. Periode neonates (Lahir hingga usia 1 bulan)
Kemampuan menyusu buru, muntah-muntah (vomitus), berat
badan tidak bertambah, Respirasi cepat (asidosis), gawat nafas (distres
pernafasan), pneumomediastinum atau pneumotoraks spontan, sering
berkemih, pancaran urine buruk, ikterus, kejang,dehidrasi, anomali
atau stigmata lainnya, pembesaran ginjal atau kandung kemih.
4. Periode bayi (1 bulan hingga 24 bulan)
Kemampuan menyusu buruk, muntah-muntah (vomitus), berat
badan tidak bertambah, rasa haus berlebihan, sering berkemih,
mengejan atau menjerit saat berkemih, urine berbau busuk, pucat,
demam, ruam popok persisten, serangan kejang (dengan atau tanpa
demam) , dehidrasi, pembesaran ginjal atau kandung kemih.
5. Periode Kanak-kanak (2 hingg 14 tahun)
Selera makan buruk, muntah-muntah (vomitus), gagal tumbuh,
rasa haus berlebihan, Enuresis, inkontinensia, sering berkemih, nyeri
saat berkemih, pembengkakan wajah, kejang, pucat, keletihan, adanya
darah dalam urine, nyeri abdomen atau punggung, edema, hipertensi,
tetanus.

2.2.6 PATOFISIOLOGI
Sejauh ini diketahui bahwa saluran kemih atau urine bebas dari
mikroorganisme atau steril. Infeksi saluran kemih terjadi pada saat
mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih dan berbiak di dalam
media urine. Mikroorganisme memasuki saluran kemih melalui cara : 1)
ascending, 2) hematogen seperti pada penularan M. tubercolis atau S
aureus, 3) limfogen, dan 4) langsung dari organ sekitarnya yang
sebelumnya telah terinfeksi. Sebagianbesar mikro - organisme memasuki
saluran kemih melalui cara asending. Kuman penyebab ISK pada umumnya
adalah kuman yang berasal dari floral normal usus dan hidup secara
komensal di dalam introitus vagina, prepisum kemih melalui uretra-
prostrat-vas deferens-testis (pada pria)-buli-buli-ureter, dan sampai ke
ginjal. Terjadi infeksi saluran kemih karena adanya gangguan
keseimbangan antara mikroorganisme penyebab infeksi (uroptogen)
sebagai agent dan epitel saluran kemih sebagai host. Gangguan
keseimbangan ini disebabkan oleh karena pertahankan tubuh dari host yang
menurun atau karena virulensi agent meningkat (Purnomo, 2011).

2.2.7 MANIFESTASI KLINIS


Infeksi saluran kemih dapat diketahui dengan beberapa gejala seperti
demam, susah buang air kecil, nyeri setelah buang air besar (disuria
terminal), sering buang air kecil, kadang-kadang merasa panas ketika
berkemih, nyeri pinggang dan nyeri suprapubik (Permenkes, 2011).
Namun, gejala-gejala klinis tersebut tidak selalu diketahui atau
ditemukan pada penderita ISK. Untuk memegakan diagnosis dapat
dilakukan pemeriksaan penunjang pemeriksaan darah lengkap, urinalisis,
ureum dan kreatinin, kadar gula darah, urinalisasi rutin, kultur urin, dan
dip-stick urine test. (Stamm dkk, 2001).Dikatakan ISK jika terdapat kultur
urin positif ≥100.000 CFU/mL. Ditemukannya positif (dipstick) leukosit
esterase adalah 64 - 90%. Positif nitrit pada dipstick urin, menunjukkan
konversi nitrat menjadi nitrit oleh bakteri gram negatif tertentu (tidak gram
positif), sangat spesifik sekitar 50% untuk infeksi saluran kemih. Temuan
sel darah putih (leukosit) dalam urin (piuria) adalah indikator yang paling
dapat diandalkan infeksi (> 10 WBC / hpf pada spesimen berputar) adalah
95% sensitif tapi jauh kurang spesifik untuk ISK. Secara umum, > 100.000
koloni/mL pada kultur urin dianggap diagnostik untuk ISK (M.Grabe dkk,
2015).
2.2.8 PATHWAY

F.Predisposisi F.Presipitasi

Imunitas bakteri:E.Colli, kehamilan obstruksi kandung kemih diabetes


Klebsielle, streptococcus (batu uretra)
Kadar esterogen mengalami penekanan urine mengandung
Tubuh rentan memasuki saluran pd vesika urinaria urin yg keluar hanya sedikit glukosa
Terinfeksi bakteri kemih bawah
vasodilatasi P. Darah obstruksi sal.kemih sebagian tertampung bakteri yg ada di
pada uretra sal.kemih dgn mudah
Permeabilitas kapiler sering menahan urine dpt berkembangbiak
Bakteri berkembang biak Bakteri dapat
Perpindahan protein perkembangbiakan berkembangbiak menimbulkan
Plasma ke interstitial bakteri peradangan
Infeksi
Konsentrasi protein
Plasma dlm filrasi glomerulus tinggi

Tekanan onkotik plasma

ISK bawah (uretritis, sistitis)

Bakteri terus naik dan menginfeksi


Saluran kemih bagian atas

Glomerulonefritis, pielonefritis stress tubuh

Terjadi reaksi inflamasi pengeluaran hormon


Stress katekolamin
Reaksi antigen-antibody
Asam lambung
Pelepasan mediator inflamasi
Mual-muntah
Endogen-pirogen histamin kalekrein
Pengaktifan prostaglandin vasodilatasi P.darah merangsang pusat
Sensori nyeri
Perangsangan pusat aliran darah P.renal
Thermostat di hipotalamus

Thermostat tubuh volume darah aa.afferen nyeri akibat peradangan


Parenkim ginjal
Suhu tubuh suplai darah filtrasi
Tg: Panas(demam) nyeri menyebar ke pinggang
GFR tg: nyeri pinggang
Dx: Hipertermi
Dx: Nyeri Akut

Gangguan dlm laju filtrasi > kecepatan Defisiensi reabsorpsi


Pemekatan kemih reabsorpsi
Transport cairan ke sel reabsorpsi K+ dan ion lainnya
Urine encer elektrolit dan air
Hanya sedikit dapat dehidrasi sel-sel tubuh kontraktilitas otot polos
Volume diserap & peristaltik
Dx: kekurangan Tg: anoreksia, mual-muntah
Frekuensi berkemih cairan banyak dlm lumen
Dan banyak volume cairan Dx: ketidakseimbangan
Tg: Poliuria nutrisi < kebutuhan
Dx: gangguan tubuh
eliminasi urine
2.2.9 KOMPLIKASI
Menurut Purnomo (2011), adapun komplikasi yang ditimbulkan yaitu :
gagal ginjal akut, urosepsis, nekrosis papilla ginjal, terbentuknya batu
saluran kemih, supurasi atau pembentukan abses, dan granuloma.

2.2.10 PENATALAKSANAAN MEDIS


Menurut ikatan dokter Indonesia IDI (2011), beberapa penatalaksaan
medis mengenai infeksi saluran kemih (ISK) antara lain :
1. Medikamentosa
Penyebab tersering ISK ialah Escherichia coli. Sebelum ada hasil
biakan urin dan uji kepekaan, antibiotik diberikan secara empiric
selama 7-10 hari untuk eradikasi infeksi akut. Jenis antibiotik dan dosis
dapat dilihat pada lampiran. Anak yang mengalami dehidrasi, muntah,
atau tidakmdapat minum oral, berusia satu bulan atau kurang, atau
dicurigai mengalami urosepsis sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk
rehidrasi dan terapi antibiotik intravena.
2. Bedah
Koreksi bedah sesuai dengan kelainan saluran kemih yang ditemukan.
3. Suportif
Selain pemberian antibiotik, penderita ISK perlu mendapat asupan
cairan yang cukup, perawatan hygiene daerah perineum dan periuretra,
serta pencegahan konstipasi.
4. Pemantauan Terapi
Pengobatan fase akut di mulai, gejala ISK umumnya menghilang. Bila
belum menghilang, dipikirkan untuk mengganti antibiotik yang lain.
Pemeriksaan kultur dan uji resistensi urin ulang dilakukan 3 hari
setelah pengobatan fase akut dihentikan, dan bila memungkinkan
setelah 1 bulan dan setiap 3 bulan. Jika ada ISK berikan antibiotic
sesuai hasil uji kepekaan.
5. Tumbuh kembang
ISK simpleks umumnya tidak mengganggu proses tumbuh kembang,
sedangkan ISK kompleks bila disertai dengan gagal ginjal kronik akan
mempengaruhi proses tumbuh kembang.
2.2.11 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Wong (2008), jenis-jenis pemeriksaan diagnostic pada infeksi
saluran kemih (ISK) yaitu :
1. Biopsi ginjal
Pengambilan jaringan ginjal dengan teknik terbuka atau perkutan untuk
pemeriksaan dengan menggunakan pemeriksaan mikroskop cahaya,
electron, atau imunofluresen.
2. Pemeriksaan USG ginjal atau kandung kemih
Transmisi gelombang ultrasonic melalui parenkim ginjal, di sepanjang
saluran ureter dan di daerah kandung kemih.
3. Pemeriksaan USG (skrotum)
Transmisi gelombang ultrasonic melewati isi skrotum dan testis.
4. Computed tomography (CT) : Pemeriksaan dengan sinar-X pancaran
sempit dan analisis computer akan menghasilkan rekonstruksi area
yang tepat.
5. Pemerikaan kultur dan sensitivitas urine
Pengumpulan specimen steril
6. Pemeriksaan urinalisasi dapat di temukan protenuria, leukosituria,
(Leukosit >5/LPB), Hematuria (eritrosit >5/LPB).

2.2.12 ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
Dalam melakukan pengkajian pada klien ISK menggunakan
pendekatan bersifat menyeluruh yaitu :
a. Data biologis meliputi :
1) Identitas klien
2) Identitas penanggung
b. Riwayat kesehatan :
1) Riwayat infeksi saluran kemih
2) Riwayat pernah menderita batu ginjal
3) Riwayat penyakit DM, jantung.
c. Pengkajian fisik :
1) Palpasi kandung kemih
2) Inspeksi daerah meatusa
- Pengkajian warna, jumlah, bau dan kejernihan urine
- Pengkajian pada costovertebralis
d. Riwayat psikososial :
1) Usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan
2) Persepsi terhadap kondisi penyakit
3) Mekanisme koping dan system pendukung
4) Pengkajian pengetahuan klien dan keluarga
- Pemahaman tentang penyebab / perjalanan penyakit
- Pemahaman tentang pencegahan, perawatan dan terapi
medis
2. Diagnosa Keperawatan

3. Intervensi Keperawatan

Tujuan dan
No Diagnosa Intervensi Rasional
Kriteria Hasil
1
2
3
4
5
6
BAB III
PELAKSANAAN

1.1 PELAKSANAAN
HARI / TANGGAL :
PUKUL :
ROLE PLAY :
TEMPAT :
PESERTA :

1.2 PENGORGANISASIAN
KARU :
PP :
PA :
PASIEN :
KELUARGA PASIEN :
NARATOR :
KONSELOR :
PEMBIMBING :

3.3 MEKANISME KEGIATAN

TAHAP KEGIATAN WAKTU TEMPAT PELAKSANAAN

Pra ronde Pra ronde : 1 hari Nurse Penanggung


1. Menentukan kasus dan sebelum station jawab
topik ronde
2. Menentukan tim ronde
3. Menentukan literatur
4. Membuat proposal
5. Menyiapkan pasien
Pelaksanaan Pembukaan : 5 menit Nurse Karu
ronde 1. Salam pembuka station
2. Memperkenalkan tim
ronde
3. Menjelaskan identitas
dan masalah pasien
4. Menjelaskan tujuan
ronde
Pelaksanaan Penyajian masalah : 30 menit Nurse PP
ronde 1. Memberi salam, station
memperkenalkan
pasien dan keluarga
pasien pada tim ronde
keperawatan
2. Menjelaskan riwayat
penyakit pasien dan
diagnosa keperawatan
pasien
3. Menjelaskan masalah
pasien dan rencana
tindakan yang telah
dilakukan serta
menetapkan prioritas
yang perlu di
diskusikan

Validasi data :
1. Mencocokkan dan Ruang Karu, PP, PA,
menjelaskan kembali perawatan konselor
data yang telah
disampaikan
2. Diskusi antar anggota
tim dan pasien tentang
masalah keperawatan
tersebut
3. Pemberian justifikasi
oleh perawat primer
atau konselor atau karu
tentang rencana
tindakan yang akan
dilakukan
4. Menentukan tindakan
keperawatan pada
masalah prioritas yang
telah ditetapkan
Pasca ronde Penutup : 10 menit Nurse Karu, supervisor,
1. Evaluasi, rekomendasi station Perawat konselor
keperawatan
2. Kesimpulan dan salam
penutup intervensi

3.4 KRITERIA EVALUASI


3.4.1 EVALUASI STRUKTUR
3.4.2 EVALUASI PROSES
3.4.3 EVALUASI HASIL
DAFTAR PUSTAKA

Donna L. Wong.[et.al]. (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong. Alih


bahasa : Agus Sutarna, Neti. Juniarti, H.Y. Kuncoro. Editor edisi bahasa
Indonesia : Egi Komara Yudha.[et al.]. Edisi 6. Jakarta : EGC

Handoko, T.H.(2010). Pengantar manajemen.Yogyakarta : BPFE

Ikatan Dokter Indonesia (IDI).(2013). Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di


Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta:Ikatan Dokter Indonesia.

Kurniadi, A. (2013). Manajemen keperawatan dan prospektifnya teori, konsep dan


aplikasi. Jakarta: FKUI

M. Grabe (Chair), R.Bartoletti, T.E. Bjerklund johansen, T.Cai, M. Cek, B.Koves,


K.G.Nabe, R.S. Pickard, P. Tenke, F. Wagenlehner, B.Wult, (2015).
Guideline on urological infection. Association of Urology.Europian

Nanda, 2012. Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2012 - 2014.


Buku Kedokteran : EGC.

Nursalam (2002). Manajemen Keperawatan Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan


Profesional. Jakarta : Salemba Medika.

Purnomo, B. 2011. Dasar-dasar Urologi,. Jakarta: Sagung Seto.

Purnomo BB. 2012. Buku kuliah dasar–dasar urologi. Jakarta: CV Infomedika.

Soegijanto, Soegeng, 2002. Ilmu Penyakit Anak, Diagnosis dan Penatalaksanaan.


Edisi 1. Jakarta: Selemba Medika

Soegijanto Soegeng. 2006. Demam Berdarah Dengue. Edisi kedua. Surabaya :


Airlangga University Press.

Sudoyo, Aru W, dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam. Edisi 4, Jilid 1.
Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

Widagdo. (2012). Masalah Dan Tatalaksana Penyakit Anak Dengan


Demam, Sagung Seto : Jakarta
LAMPIRAN

MENCANTUMKAN SEMUA FORMAT YANG DIBUTUHKAN UNTUK ROLE


PLAY (MISALNYA : FORMAT TIMBANG TERIMA / BUKU TIMBANG
TERIMA, REKAM EDIS PASIEN, DLL)
SKENARIO

MENCANTUMKAN SKENARIO DIALOG YANG DIGUNAKAN DALAM ROLE


PLAY