Anda di halaman 1dari 23

Laporan Ketimpangan Sosial dan Dampaknya

Nama : Yohana Merry Christine

Kelas : XII IIS 3

SMAN 2 TAMBUN UTARA

Tahun Ajaran 2018/2019


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat,
rahmat dan anugerah-nyalah kami dapat menyelesaikan tugas/laporan yang
berjudul “Ketimpangan Sosial dan Dampaknya” tepat pada waktunya. Penyusunan
laporan ini bertujuan untuk menyelesaikan salah satu tugas mata pelajaran
sosiologi. Isi dari laporan ini adalah pemaparan pengetahuan tentang ketimpangan
social yang sedang terjadi di Indonesia.

Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna, oleh
sebab itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata kami mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak yang berperan dalam penyusunan makalah ini.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi banyak orang dan berguna untuk para
kalangan muda khususnya pelajar.

Bekasi , 7 Januari 2019


Daftar Isi

Cover ………………………………………………..

Kata pengantar ………………………………………………..

Daftar isi ………………………………………………..

BAB I

Latar belakang ………………………………………………..

Rumusan masalah ………………………………………………..

BAB II

Ketimpangan sosial ………………………………………………..

Dampak ……………………………………………….

Laporan 1 ……………………………………………….

Laporan 2 ……………………………………………….

Laporan 3 ……………………………………………….

BAB II

Kesimpulan ………………………………………………

Saran ………………………………………………

Daftar pustaka
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Makalah ini kami tujukan khususnya untuk kalangan remaja, pelajar dan generasi muda yang
tidak lain adalah sebagai generasi penerus bangsa agar kita semua mengenal akan ketimpangan
yang terjadi di Indonesia dan dampaknya bagi kehidupan dan kemakmuran masyarakat
Indonesia. Kami membuat makalah ini karena prihatin akan kondisi ketimpangan yang sangat
mencolok dan berdampak buruk bagi kehidupan bangsa dan negara. Oleh karena itu, kami
berharap agar para generasi muda Indonesia termotivasi untuk membangun negri ini dengan baik
agar dapat mengurangi ketimpangan yang terjadi di bidang apapun setelah membaca makalah
ini.
1.2. Rumusan Masalah

1) Apa yang dimaksud ketimpangan sosial ?

2) Apa saja factor yang mempengaruhi ketimpangan sosial ekonomi ?

3) Apa dampak yang akan ditimbulkan oleh ketimpangan sosial ekonomi ?

4) Bagaimana upaya pemerintah dalam mengatasi ketimpangan sosial ekonomi ?

1.3. Tujuan Penulisan

1) Sebagai sarana penambah ilmu pengetahuan.

2) Sebagai informasi untuk mengetahui akibat dan dampak ketimpangan sosial di bidang
ekonomi serta mengetahui langkah yang perlu diambil untuk mengatasi masalah tersebut.

1.4. Metode Penulisan

Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah dengan menggunakan
tinjauan dari beberapa sumber yang berkompeten dalam permasalahan ketimpangan sosial.

1.5. Manfaat penulisan

Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pengetahuan serta pemahaman
tentang ketimpangan sosial di bidang ekonomi dan mencari pemecahan masalah atau solusi
untuk mengurangi ketimpangan sosial tersebut.

BAB II

ISI

2.1. Definisi Ketimpangan Sosial

Ketimpangan sosial adalah bentuk-bentuk ketidak-adilan yang terjadi pada proses


pembangunan. Ketimpangan sosial sering dipandang sebagai dampak residual dari proses
pertumbuhan ekonomi, sedangkan ketimpangan sosial ekonomi adalah ketidakseimbangan
diantara masyarakat dalam sektor ekonomi. Ketimpangan atau kesenjangan mengacu pada
persebaran ukuran ekonomi antar individu masyarakat, antar kelompok masyarakat, dan bisa
juga antarnegara. kekayaan, pendapatan, dan konsumsi adalah indikator untuk mengukur
ketimpangan sosial ekonomi. Sementara itu, masalah ketimpangan sosial ekonomi biasanya
berkutat pada masalah kesetaraan ekonomi, kesetaraan pengeluaran, dan kesetaraan kesempatan,
seperti ketimpangan sosial lainnya, ketimpangan sosial ekonomi juga termasuk ke dalam
masalah sosial. Sebab, ketimpangan ini mengakibatkan kerugian kepada setiap lapisan
masyarakat yang ada di suatu negara, termasuk Indonesia.

Menurut Andrian of Chaniago, ketimpangan sosial adalah buah dari pembangunan yang
dilakukan oleh pemerintah, dimana pemerintah cenderung mementingkan aspek ekonomi dalam
pembangunan dibanding dengan aspek sosial. Ketimpangan sosial dianggap sebagai masalah
sosial masalah ini dialami dan dirasakan seluruh aspek masyarakat, dimana ketimpangan sosial
ini terbentuk oleh ketidakadilan.

2.2. Faktor penyebab Ketimpangan Sosial Ekonomi

Secara umum, ketimpangan sosial, khususnya ekonomi dipengarhi oleh dua faktor,
yaitu:

1. Faktor Internal: faktor ketimpangan sosial ini ada di dalam diri masyarakat, tertama
menyangkut kualitas yang ada di dalam diri, seperti tingkat pendidikan, kecerdasan, kesehatan,
dan lain sebagainya.

2. Faktor Eksternal: faktor ketimpangan sosial ini berada di luar diri seseorang. Faktor ini
muncul dari kebijakan atau birokrasi pemerintah yang mengekang atau mengucilkan satu pihak
tertentu. Faktor eksternal bisa menimbulkan kemiskinan struktural.

Ketimpangan sosial ekonomi dapat terjadi karena beberapa faktor. Berikut ini beberapa
faktor penyebab terjadinya ketimpangan sosial ekonomi yang ada di Indonesia:

1. Kebijakan Pemerintah yang Tidak Adil

Kebijakan pemerintah yang tidak adil menyebabkan sejumlah ketimpangan sosial


ekonomi. Salah satu bentuk kebijakan pemerintah yang menyebabkan ketimpangan sosial
ekonomi adalah kebijakan pembangunan negara. Dalam masalah pembangunan, pemerintah
seringkali terlalu fokus membangun daerah perkotaan atau beberapa pulau besar seperti Jawa dan
Sumatera. Hal ini dikarenakan pemerintah masih menganggap daerah-daerah tersebut berpotensi
sangat tinggi dan dapat menghasilkan pemasukan yang tinggi bagi negara. Selain itu,
ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola pulau-pulau Indonesia yang banyak membuat
mereka lebih fokus mengurus perkotaan atau pulau-pulau besar di Indonesia.

Ini mengakibatkan ketimpangan sosial ekonomi antara daerah perkotaan dengan daerah
terpencil. Daerah perkotaan atau pulau besar yang mengalami pembangunan pesat akan
memperoleh fasilitas memadai, pendapatan yang tinggi, serta kesejahteraan penduduk yang lebih
baik. Ini berbeda dengan daerah terpencil yang kondisinya tertinggal dan membuat fasilitas yang
didapat tidak memadai, pendapatan daerah yang rendah, serta kesejahteraan penduduk yang
memprihatinkan. Kemiskinan akan dapat dijumpai di daerah terpencil. Bila dibiarkan, maka akan
terjadi kecemburuan sosial antara daerah terpencil dengan daerah yang lebih maju.
2. Persebaran Penduduk

Faktor-faktor yang mempengaruhi persebaran penduduk juga mempengaruhi


ketimpangan sosial ekonomi. Di Indonesia, persebaran penduduk masih tidak begitu merata. Hal
ini bisa dilihat dari banyaknya penduduk yang menghuni Pulau Jawa dibanding pulau-pulau
lainnya. Anggapan bahwa Pulau Jawa sebagai pusat pemerintahan berpotensi tinggi membuat
sejumlah penduduk bermigrasi ke pulau ini.

Selain itu, faktor pembangunan yang tidak merata juga mengakibatkan penduduk daerah
terpencil pindah ke Pulau Jawa karena pulau tersebut dianggap lebih maju dibanding daerah asal
mereka.. Akibatnya, terjadi ketimpangan pertumbuhan ekonomi antara Pulau Jawa dengan
pulau-pulau terpencil. Pulau Jawa akan mengalami pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibanding
pulau lainnya.

3. Kualitas Diri Masyarakat

Pembangunan yang tidak merata membuat fasilitas pendidikan dan kesehatan yang
memadai tidak dapat dinikmati sejumlah daerah. Akibatnya, tidak semua masyarakat mempunyai
kualitas diri yang baik. Kualitas diri ini berpengaruh terhadap kualitas kerja mereka. Semakin
tinggi kualitas diri mereka, maka semakin tinggi pula peluang kerja dan kesejahteraan hidup
yang didapat.

Selain itu, sifat malas penduduk tertentu juga berpengaruh terhadap kualitas diri
masyarakat. Sifat malas akan mengakibatkan masyarakat enggan menerima perubahan dan
enggan untuk belajar meningkatkan kualitas dirinya. Bila dibiarkan, maka masyarakat akan
semakin tertinggal kualitas dirinya. Masalah kualitas diri ini juga menjadi salah satu masalah
negara berkembang, termasuk Indonesia.

4. Lapangan Pekerjaan

Lapangan pekerjaan yang sedikit hanya mampu menampung angkatan kerja dengan
jumlah yang sedikit. Hal ini akan mengakibatkan ketimpangan sosial ekonomi antara angkatan
kerja yang telah bekerja dengan angkatan kerja yang belum bekerja.

Secara ekonomi, angkatan kerja akan berpotensi meraih pendapatan dan kesejahteraan
hidup yang lebih baik dibanding angkatan kerja yang masih menganggur. Jika tidak diatasi,
angkatan kerja yang menganggur akan semakin sedikit dan membuat perekonomian negara
semakin rapuh. Meningkatkan lapangan pekerjaan bisa menjadi solusi untuk mengatasi
ketimpangan ini.

Selain itu, cara mengatasi masalah pengangguran juga harus dilakukan dalam menangani
ketimpangan sosial ekonomi ini.
5. Kemiskinan

Kemiskinan membuat masyarakat sulit mendapatkan kesejahteraan hidup yang layak,


sehingga masyarakat yang mengalami kemiskinan akan mengalami ketimpangan sosial ekonomi
dengan masyarakat yang lebih kaya. Kemiskinan bisa disebabkan oleh kualitas pribadi yang
rendah serta sikap malas yang diidap masyarakat. Kemiskinan juga dapat terjadi karena pengaruh
struktur sosial yang juga disebut sebagai kemiskinan struktural.

Secara umum, kemiskinan mempunyai bermacam-macam ciri, yaitu:

• Angka kematian yang diri.

• Tingkat kesehatan yang rendah.

• Tingkat pendidikan yang rendah.

• Memiliki mata pencaharian yang berpenghasilan rendah.

• Mempunyai sikap tidak menerima perubahan.

Kemiskinan struktural mempunyai macam-macam golongan, yaitu:

• Kaum petani yang tidak mempunyai lahan sendiri.

• Petani yang mempunyai lahan sendiri namun lahannya begitu kecil.

• Para buruh yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang baik serta tidak
terlatih.

• Pengusaha yang tidak mempunyai modal dan fasilitas dari pemerintah.

6. Globalisasi

Ketimpangan sosial ekonomi akibat globalisasi bisa disebabkan oleh sikap masyarakat
terhadap globalisasi. Jika masyarakat mampu beradaptasi terhadap globlisasi, maka mereka
mampu bertahan hidup lebih lama serta kesejahteraan ekonomi mereka relatif lebih tinggi.
Sebaliknya, jika tidak mampu beradaptasi terhadap globalisasi, masyarakat akan makin tertinggal
dan kesejahteraan eknominya akan jauh lebih rendah.

7. Teknologi

Sama seperti globalisasi, pemanfaatan teknologi juga berpengaruh terhadap


ketimpangan sosial ekonomi. Jika mampu memanfaatkan teknologi secara optimal, maka
masyarakat akan mampu bertahan hidup dan kesejahteraan ekonominya pun akan membaik.
Sebaliknya, kegagalan memanfaatkan teknologi akan merugikan masyarakat dan kesejahteraan
ekonominya pun akan menurun.

8. Letak Geografis

Pengaruh letak geografis juga dapat mempengaruhi ketimpangan sosial ekonomi. Hal
ini bisa dilihat dari kemajuan ekonomis masyarakat di daerah dataran tinggi dengan dataran
rendah.

Secara ekonomi, daerah dataran tinggi akan meraih pertumbuhan ekonomi yang tinggi
karena pembangunan di daerah tersebut cukup pesat dan fasilitas pendidikan dan kesehatannya
pun terbilang memadai.

9. Pendapatan

Sebenarnya, pendapatan bukanlah suatu hal yang dapat menimbulkan ketimpangan


sosial ekonomi. Itu pun dengan catatan bahwa pendapatan yang diterima harus sesuai dengan
bidang pekerjaan, tingkat kesulitan, kualitas, serta kinerja dari tenaga kerja. Jika tidak sesuai
dengan hal tersebut, maka ketimpangan sosial ekonomi pasti akan terjadi. Gaji buruh dan guru
yang kecil adalah contoh ketimpangan yang disebabkan oleh faktor ini. Bila dilihat dari tingkat
kesulitan dan kualitas dari tenaga kerja, gaji yang diterima dari dua profesi itu bisa lebih layak
lagi.

10. Tingkat Kekayaan

Faktor ini merupakan akumulasi dari faktor-faktor sebelumnya, seperti lapangan kerja,
kemiskinan, kualitas diri, dan pendapatan. Tingkat kekayaan di Indonesia begitu timpang antara
orang kaya dan orang miskin, baik dari segi pendapatan maupun perlakuan dari masyarakat.
Khusus segi pengakuan, orang yang meraup pendapatan tinggi akan diperlakukan lebih layak
ketimbang orang berpendapatan rendah. Hal tersebut tentu merupakan suatu tindakan
diskriminasi terhadap orang berpendapatan rendah. Kecemburuan sosial juga akan timbul di
dalam diri orang yang berpendapatan rendah. Lebih parahnya, kecemburuan tersebut bisa
memicu tindak kejahatan yang merugikan orang berpendapatan tinggi dan tidak jarang juga
merugikan negara.
Selain 10 faktor di atas, masih ada beberapa faktor ketimpangan sosial di Indonesia
yang dilansir dari laman Oxam, yaitu:

• Fundamentalisme pasar yang mendorong orang kaya untuk mendapatkan kekayaan atau
keuntungan besar dari pertumbuhan ekonomi negara.

• Tingginya political capture. Istilah political capture ini merupakan istilah yang merujuk
pada kemampuan orang kaya yang dapat merubah aturan hukum, sehingga aturan tersebut dapat
menguntungkan mereka.

• Adanya ketidaksetaraan gender.

• Upah murah yang diterima tenaga kerja yang membuat mereka sulit terlepas dari jerat
kemiskinan.

• Sistem perpajakan yang gagal dalam memainkan peran pentingnya sebagai


pendistribusi kekayaan bagi masyarakat.

11. Kualifikasi tenaga kerja yang minim

Kualifikasi tenaga kerja yang terbatas membuat suatu Indonesia sulit untuk
berkembang. Oleh sebab itu diperlukan sarana yang dapat meningkatkan kualifikasi seorang
tenaga kerja seperti membuka pelatihan kerja serta memberikan kesempatan untuk para pekerja
untuk berkarya dan berinovasi agar dapat menghasilkan suatu ide atau buah pikiran yang baru
yang dapat menghasilkan keuntungan ataupun hasil.

12. Kurangnya tenaga ahli

Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dan memiliki potensi akan sumber daya
alam yang sangat besar, tetapi hambatan teknologi ataupun tenaga ahli yang kurang maka
Indonesia belum bisa memaksimalkan pengunan sumber daya alam untuk menghasilkan
keuntungan dan memakmurkan kehidupan rakyat Indonesia.

13. ketidakstabilan antara tingkat natalitas dan mortalitas serta migrasi penduduk

Natalitas adalah tingkat kelahiran penduduk sedangkan mortalitas adalah tingkat


kematian penduduk. Ketidakstabilan natalitas dan mortalitas dapat menyebabkan suatu negara
sulit untuk mengawasi penduduknya dan migrasi penduduk yang salah dapat menyebabkan suatu
daerah tempat yang sudah padat semakin padat dan tempat yang sepi malah ditinggalin
penduduknya, hal tersebut dapat menyebabkan persebaran penduduk yang tidak merata dan
dapat menimbulkan terjadi ketimpangan di bidang ekonomi dan dapat membuat pangan di
daerah/ tempat tersebut semakin langka. Oleh sebab itu, pemerintah perlu mengambil tindakan
untuk terus mengawasi persebaran penduduk serta tingkat kelahiran dan kematian penduduk.

2.3. Dampak yang ditimbulkan oleh ketimpangan sosial ekonomi


Kesenangan sosial ekonomi menimbulkan sejumlah dampak, yaitu:

1. Dampak Positif:

• Mendorong wilayah yang tertinggal untuk meningkatkan kualitas diri dan mampu
bersaing dengan daerah yang lebih maju.

• Meningkatkan upaya untuk mendapat kesejahteraan ekonomi yang tinggi.

2. Dampak Negatif:

• Adanya kecemburuan sosial.

• Adanya diskriminasi terhadap pihak yang tersisihkan.

• Melemahkan stabilitas dan solidaritas masyarakat

• Kriminalitas dan Kemiskinan

Kriminalitas adalah tindak kriminal segala sesuatu yang mellangar hukum atau sebuah
tindak kejahatan, sedangkan kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk
memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian,pendidikan dan kesehatan. Kemiskinan
merupakan awal mulanya terjadinya kriminalitas.

• Tingkat kemakmuran masyarakat berkurang

2.4. Upaya Mengatasinya

A. Upaya Umum

Masalah sosial ekonomi mesti diatasi dengan sejumlah cara, diantaranya:

• Memperbaiki kualitas penduduk.

• Meningkatkan kualitas kesehatan, baik dari segi fasilitas maupun pelayanan.

• Melakukan pemberdayan masyarakat yang berbasis ekonomi.

• Mengadakan transmigrasi.

• Melakukan pemerataan pembangunan.

• Mengadakan pelatihan manajerial di daerah terpencil.

• Menciptakan peluang kerja yang luas.

• Melatih kewirausahaan serta memberikan modal.

B. Upaya Pemerintah
1. Pemberantasan Kekurangan Gizi atau Stunting

Pemerintah Indonesia berupaya memberantas kekurangan gizi yang banyak terjadi,


terutama didaerah terpencil dengan pembangunan yang kurang maju. Kekurangan gizi dianggap
memperparah kondisi kemiskinan sebagai salah satu contoh masalah ketimpangan sosial di
masyarakat yang harus segera diatasi atau diturunkan. Kasus kekurangan gizi paling tinggi di
Indonesia sendiri tercatat terjadi pada daerah Indonesia bagian timur sehingga diperlukan
perhatian yang lebih dan khusus.

2. Penyaluran Bantuan Sosial yang Tepat Sasaran

Pembangunan dan kondisi ekonomi yang tidak merata menyebabkan masih banyaknya
warga yang kurang mampu dan membutuhkan bantuan. Penyaluran bantuan sosial yang tepat
sasaran bertujuan untuk mengurangi ketimpangan sosial yang ada di masyarakat terutama karena
adanya daerah atau masyarakat yang kekurangan bantuan namun justru belum tersentuk bantuan
yang ada.

3. Peningkatan Peluang Pekerjaan

Pertumbuhan ekonomi di Indonesia memang dapat dibilang sudah cukup baik dan maju,
namun pertumbuhan ekonomi seharusnya didukung dengan adanya peningkatan lapangan kerja
baru untuk mengurangi angka pengangguran. Pemerintah berupaya menyediakan pelatihan dan
pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja dan peningkatan keterampilan serta
kualitas sumberdaya manusia secara merata. Tujuannya adalah untuk mengurangi adanya
ketimpangan sosial di masyarakat karena tingkat pengangguran yang tinggi.

4. Menurunkan Ketimpangan Kekayaan

Upaya ini dilakukan dengan pengaturan ulang pajak penghasilan dimana di Indonesia
masih didominasi oleh kalangan pekerja. Sedangkan sebenarnya penghasilan pribadi seperti
pengusaha, pemilik modal, dan yang lainnya memiliki kewajiban pajak yang lebih besar
dibanding pekerja, namun pelaksanaannya belum optimal. Kondisi ini yang akhirnya
menciptakan adanya kesenjangan sosial.

5. Menciptakan Wirausaha secara Massal

Selain dengan menciptakan lapangan kerja baru, keadaan kemiskinan dan pengangguran
diatasi dengan upaya menciptakan wirausaha secara massal. Penciptaan wirausaha secara masal

6. Memberantas korupsi dengan hukuman yang berat


Korupsi masih merupakan masalah terpenting yang harus dihadapi oleh pemerintah
Indonesia karena pemberantasan korupsi di Indonesia masih 36% dari 100%. Korupsi
menyebabkan banyak masyarakat yang kurang mampu, hidup semakin melarat. Seharusnya
mereka mendapat bantuan dari pemerintah, tetapi tidak karena uang yang diberikan oleh
pemerintah yang digunakan untuk subsidi dikorupsi oleh pejabat atau badan negara yang
serakah. Oleh karena itu Pemberantasan korupsi perlu dilakukan dengan cara yang lebih keras
lagi seperti hukuman mati bagi koruptor yang merugikan negara. Undang Undang yang
mengatur Tindak Pidana Korupsi perlu direvisi menjadi lebih berat hukumannya agar dapat
menimbulkan efek jera bagi para koruptor.

7. Membuka lapangan kerja padat karya

Padat karya merupakan kegiatan pembangunan proyek yang lebih banyak menggunakan
tenaga manusia dibandingkan dengan tenaga mesin. Tujuan utama dari progam padat karya
adalah untuk membuka lapangan kerja bagi keluarga keluarga miskin atau kurang mampu yang
mengalami kehilangan penghasilan atau pekerjaan tetap. Dengan adanya progam padat karya
maka tingkat kesenjangan dan pengangguran dapat dikurangi.

8. Penyaluran bantuan melalui subsidi

Penyaluran bantuan semacam ini dapat meringankan serta membantu masyarakat yang
kurang mampu untuk tetap menjaga kelangsungan hidup, seperti contohnya Perum Bulog
menyalurkan bantuan raskin terhadap masyarakat yang kurang mampu dengan menjual beras
dengan harga yang murah dan dapat dijangkau oleh mereka.

Selain itu, penyaluran subsidi pun harus dilakukan untuk pekerja/ buruh dengan gaji
minimum, seperti contohnya pemberian subsidi BBM. Penyaluran bantuan ini dapat menekan
angka ketimpangan sosial yang terjadi.

Laporan 1
Ketimpangan mengancam kesehatan, kesejahteraan semua warga—bukan hanya
orang miskin.

Mengapa disebut demikian?


Ketika kita berbicara tentang ketimpangan, korban yang umumnya kita bayangkan adalah
warga miskin. Namun kenyataannya, ketimpangan berdampak buruk pada semua bagian
masyarakat, termasuk warga kelas menengah dan kelas atas.

Oxfam dan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) awal tahun
ini mengeluarkan laporan tentang ketimpangan yang mengungkapkan bahwa dalam dua
dasawarsa terakhir jurang antara si kaya dan selebihnya orang Indonesia semakin lebar dibanding
negara tetangga di Asia Tenggara. “Empat orang terkaya di Indonesia sekarang memiliki lebih
banyak harta dibandingkan 100 juta warga termiskin,” laporan itu menyebutkan.

Ketimpangan di Indonesia, diukur dengan indeks Gini, naik dari 0,30 pada tahun 2000 ke
0,41 tahun 2015. Gini, dikembangkan oleh Corrado Gini dari Italia pada 1912, mengukur
pemerataan penghasilan dari skala nol hingga satu. Nol artinya pemerataan sempurna dan satu
artinya seluruh penghasilan di negara itu dikuasai oleh satu orang saja.

Melebarnya ketimpangan di Indonesia akan meningkatkan risiko kesehatan masyarakat,


seperti rentannya warga terhadap penyakit-penyakit yang menyerang fisik dan mental, serta
meningkatnya kekerasan yang berdampak pada seluruh masyarakat.

Ketidakadilan itu beracun, membuat kita tidak bahagia

Ketimpangan memecah belah dan menggerus kehidupan bermasyarakat. Banyak riset


menunjukkan semakin lebar ketimpangan antara yang kaya dan miskin, maka semakin buruk
masalah sosial dan kesehatan di masyarakat tersebut.
Masalah kesehatan dan sosial yang lebih buruk artinya ada lebih banyak orang dengan
penyakit fisik dan mental, lebih banyak orang yang melakukan kekerasan, dan rasa saling
percaya yang rendah di masyarakat. Situasi ini memberi peluang pada penyalahgunaan obat-
obatan dan narkotika, lebih banyaknya orang yang masuk penjara, maupun kehamilan di
kalangan remaja.

Kesejahteraan anak terancam sehingga besar kemungkinan prestasi anak-anak tersebut di


bidang matematika dan membaca rendah, sehingga memperkecil kesempatan mereka
mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada orang tua mereka.

Penelitian-penelitian baru menyarankan bahwa mengurangi ketimpangan antara yang


kaya dan miskin bisa membantu mengatasi masalah kesehatan dan sosial tersebut. Mereka
menyimpulkan ketimpangan dan ketidakadilan meracuni kesehatan dan kesejahteraan kita.

Data dari Kementerian Kesehatan pada tahun 2013 mengatakan bahwa 6% dari populasi
Indonesia di atas usia 15 tahun, atau sekitar 14 juta orang, menderita depresi dan kecemasan.
Diperkirakan 400.000 orang mengalami penyakit mental serius dan 57.000 diantaranya dipasung
atau pernah dipasung. Untungnya, Undang-Undang Kesehatan Jiwa tahun 2014 menyatakan
memasung orang adalah pelanggaran hukum. Namun Indonesia membutuhkan upaya lebih dari
sekadar peraturan.

Situasi tak adil mendorong perilaku berisiko

Dalamnya ketimpangan juga mempengaruhi bagaimana orang menilai dirinya sendiri di


masyarakat. Kate Pickett dan Richard Wilkinson, dua peneliti kesehatan masyarakat yang
terkemuka, mengatakan di buku mereka yang terkenal “The Spirit Level”, bahwa lebarnya
ketimpangan mendorong “persaingan status” dan “perasaan tidak aman mengenai status” di
kalangan baik orang dewasa maupun anak-anak di seluruh kelompok penghasilan.

Persaingan dan perasaan tidak aman mendorong keterasingan dan kerentanan, seperti
meningkatnya stres dan rasa frustasi, pada individu-individu. Hal-hal ini meningkatkan perilaku
berisiko seperti merokok berat, ketergantungan pada alkohol, melakukan kekerasan, atau bahkan
bunuh diri.
Bukti memperlihatkan perbedaan yang kentara dalam hal kesejahteraan antara negara-
negara yang tingkat ketimpangannya berbeda-beda. Kasus pembunuhan disengaja pada tahun
2011 di Amerika Serikat, di mana ketimpangan cukup dalam, adalah 47 orang untuk setiap satu
juta orang. Bandingkan angka tersebut dengan negara yang penghasilannya lebih merata: 15
orang di Kanada dan tiga di Jepang untuk setiap satu juta orang.

Melindungi masyarakat dari masalah sosial seperti kriminalitas membutuhkan biaya yang
tak sedikit. Kita akan perlu mengalokasikan dana lebih banyak untuk kerja polisi, pemeliharaan
penjara, dan layanan publik untuk mengatasi masalah kriminalitas tersebut, kadang dengan biaya
tinggi namun hasil tak seberapa.

Warga kelas menengah dan kelas atas menderita juga dalam situasi tak adil karena
ketakutan, ancaman, dan biaya yang berkait dengan masalah-masalah tersebut. Sebagai contoh,
ketakutan dan kecemasan yang ditimbulkan dari ancaman nyata kejahatan, mulai dari kejahatan
kecil-kecilan hingga perampokan sadis di jalanan kita.

Dampak ekonomi, sosial, dan psikososial dari kejahatan-kejahatan ini sangat besar karena
mereka bisa mengancam jiwa, menyebabkan luka berat, trauma, cacat, atau kematian. Kesetaraan
itu baik dan mungkin dicapai

Riset-riset menyimpulkan, mayoritas—antara 90% sampai 95% dari populasi—


mendapatkan manfaat dari kesetaraan yang lebih baik. Kita, terutama pemerintah dan swasta,
harus menanggapi rekomendasi Oxfam dan INFID secara serius.
Masyarakat yang setara akan menguntungkan kita semua; kita akan punya kesempatan
yang lebih baik untuk memperbaiki hidup kita dan akan lebih mampu untuk hidup berdampingan
dan bekerja sama. Kita akan mengalami lebih sedikit kekerasan, kejahatan, ketergantungan
narkotika, obat terlarang dan alkohol, maupun bunuh diri dalam masyarakat yang lebih setara.

Kajian-kajian tentang kesehatan jiwa mengkritik fokus berlebihan pada solusi individual
untuk penyakit mental dan meresepkan kesetaraan sebagai bagian dari penyembuhan.
Penanganan individual seperti terapi dan obat-obatan tentu saja telah menyembuhkan banyak
orang, tetapi kajian-kajian ini juga menyarankan perlunya “solusi sosial”. Kita perlu mengurangi
ketimpangan, karena bukti-bukti telah menunjukkan bahwa kesehatan jiwa kita sangat peka
terhadap ketimpangan.

Meraih kesetaraan adalah mungkin. Kebijakan publik yang sehat bisa menyumbangkan
jalan keluar dari siklus ketimpangan antargenerasi dengan cara mengatasi berbagai faktor
pendorongnya.

Pemerintah Indonesia memiliki berbagai pilihan untuk memerangi ketimpangan. Salah


satunya adalah memperbaiki pelayanan tingkat lokal dalam hal gizi, sanitasi, kesehatan, keluarga
berencana, dan pendidikan, yang merupakan hal-hal penting yang menentukan awal yang baik
bagi generasi mendatang. Cara lain adalah memperbaiki program perlindungan sosial seperti
bantuan langsung tunai bersyarat, subsidi pendidikan, dan pelatihan kerja bagi pemuda pemudi.

Kita akan membutuhkan lebih banyak dana untuk melakukan semua itu tapi kita bisa
mendapatkan uangnya jika kita melawan korupsi, melaksanakan sistem perpajakan yang lebih
adil, dan memaksa lebih banyak wajib pajak untuk membayar. Kombinasi antara program
struktural dan individual bisa mempersempit ketimpangan dan mendorong kesehatan dan
kesejahteraan.

Masa depan pembangunan bangsa kita bergantung tidak hanya pada indikator ekonomi
yang bersifat permukaan seperti pertumbuhan ekonomi tetapi juga ukuran-ukuran yang lebih
bermakna: masyarakat yang lebih setara dan adil.
Laporan 2

Masalah Ketimpangan Sosial di Bidang Pendidikan

Pernahkah gak sih kalian melihat teman-teman yang seharusnya masih bersekolah malah
berjualan koran di jalanan? Di sisi lain ada teman-teman lain yang bisa sekolah tinggi hingga ke
luar negeri. Nah, perbedaan mencolok itu menunjukkan adanya masalah ketimpangan sosial di
bidang pendidikan. Memang tidak bisa dipungkiri kalau ketimpangan tersebut juga didasarkan
pada ketimpangan sosial pada aspek ekonomi.

Pendidikan menjadi penting karena merupakan social elevator, yaitu saluran mobilitas
sosial vertikal yang efektif agar seseorang dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya di masa
depan. Pendidikan juga merupakan kunci pembangunan masyarakat, terutama di bidang sumber
daya manusia.

Namun sayangnya, di Indonesia masih ada kesenjangan fasilitas dan kualitas pendidikan
di tiap daerah. Akibatnya, anak-anak di kota-kota besar jauh lebih mudah mendapat akses
pendidikan yang baik. Serta berkesempatan meningkatkan kualitas hidupnya dibanding anak-
anak di wilayah pedesaan.

Randall Collins dalam bukunya The Credential Society: An Historical Sociology of


Education and Stratification, menilai bahwa pendidikan formal merupakan awal dari proses
stratifikasi sosial. Di Indonesia, hal ini didukung oleh adanya pola perjalanan sekolah anak yang
berbeda dari kalangan keluarga mampu dan miskin. Faktor-faktor yang mempengaruhi
ketimpangan sosial di bidang pendidikan antara lain:
Kualitas Lingkungan Sekolah. Faktor ini meliputi masyarakat dan lingkungan sekitar
yang mendukung seorang anak untuk mendapat pendidikan yang baik.

Kesempatan Memperoleh Pendidikan yang Berkualitas. Keterbatasan dari segi kualitas


pengajar, budaya masyarakat, hingga kemudahan akses ke sekolah juga berpengaruh terhadap
mudah atau tidaknya kesempatan seseorang untuk mendapat pendidikan yang berkualitas.

Kualitas Lulusan. Semakin baik kualitas lulusan di wilayah tersebut, makin besar pula
kesempatan wilayah itu untuk menjadi lebih berkembang dan sejahtera.

Fasilitas Pendidikan. Hal ini juga mencakup ketersediaan fasilitas pendidikan, rasio guru-
siswa, dan kualitas guru.

Upaya untuk mengurangi ketimpangan sosial di bidang pendidikan ini perlahan-lahan


mulai banyak digagas oleh orang-orang di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, salah satu yang
bisa menjadi contoh adalah Indonesia Mengajar. Gerakan ini memfasilitasi lulusan universitas
untuk mengajar sekolah dasar di daerah-daerah terpencil. Tujuannya agar daerah-daerah tersebut
berkesempatan mendapat kualitas pengajar yang serupa dengan yang ada di daerah-daerah yang
lebih maju. Selain itu, gerakan-gerakan mengajar anak jalanan dan start up pendidikan seperti
Ruangguru juga menjadi salah satu alternatif bagi pelajar untuk mendapat akses ilmu dan
pendidikan yang berkualitas.

Pendidikan menjadi penting bagi seorang individu

Karena pendidikan menjadi social elevator,

Yaitu menjadi saluran mobilitas sosial vertikal yang efektif

Agar seseorang dapat meningkatkan hidupnya.

Pendidikan juga merupakan kunci pembangunan bagi suatu masyarakat,

Terutama pembangunan Sumber Daya Manusia.


Laporan 3

Ketimpangan Sosial dalam Aspek Ekonomi

Pernahkah teman-teman melihat ketimpangan sosial di sekitar kalian? Sepertinya sangat


mustahil jika kalian belum pernah melihat contoh ketimpangan sosial di sekitar kalian. Tentunya,
di era globalisasi seperti ini, terlebih dengan koneksi internet yang mudah didapat,
memungkinkan kita melihat kehidupan di luar yang tidak hanya di sekitar kita. Kita bisa dengan
mudah mencari di media sosial berbagai contoh ketimpangan sosial apalagi dalam aspek
ekonomi. Perbandingan gaya hidup kelas-kelas ekonomi yang terbentuk di masyarakat sekitar
rawan menimbulkan kecemburuansosial

Tidak bisa dipungkiri ya teman-teman, bahwa faktor ekonomi sendiri dianggap menjadi
faktor utama munculnya ketimpangan sosial di masyarakat. Kalian tahu? Ketimpangan ini
penyebab utamanya karena pembangunan ekonomi yang tidak merata. Nah, dari ketidakrataan
pembangunan inilah menyebabkan dapat yang merugikan masyarakat yang tidak memiliki
banyak modal dan aset. Daerah atau sekelompok orang yang memiliki sumber daya dan faktor
produksi terutama modal, akan punya banyak pendapatan.

Ketimpangan sosial juga bisa dilihat sebagai efek dari tekanan struktural. Maka muncul
istilah kemiskinan struktural yang disebabkan oleh kesenjangan kebijakan-kebijakan. Para ahli
menyatakan, kemiskinan struktural dialami suatu golongan masyarakat yang tidak dapat
mengakses sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Adapun contoh dari
ketimpangan sosial meliputi kurangnya pemukiman, kurangnya fasilitas usaha, sulit mendapat
peluang kerja, dan kekurangan akses pendidikan.
Contoh ketimpangan : 1. Minim pemukiman

2. Kurangnya fasilitas usaha

3. Kurangnya lapangan pekerjaan

4. Akses pendidikan yang terbatas

ketimpangan sosial dari sisi ekonomi di masyarakat saat ini, tidak terlepas dari dampak
globalisasi. Globalisasi bak mata uang yang punya dua sisi. Bisa diyakini sebagai perubahan
terstruktur dalam skala modern yang ditunjukkan dengan pertumbuhan perusahaan
multinasional, pasar uang dunia, dan lain-lain. Tapi, di sisi lain tentunya RG Squad juga bisa
menilai sendiri kenyataan yang terjadi seperti apa? Iya. Hanya kalangan-kalangan tertentu saja
yang bisa menikmati akses perubahan tersebut.

Ketimpangan sosial sangat mudah dijumpai pada masyarakat modern saat ini. Hal ini
disebabkan karena faktor persaingan untuk mendapatkan hal-hal tertentu sangat tinggi seperti
lapangan pekerjaan, status sosial, pendidikan, dan pendapatan dalam jumlah tertentu. Semakin
tinggi kelas sosial seseorang, makin mudah pula ia untuk mengakses hal-hal tersebut
dibandingkan dengan orang-orang di kelas sosial di bawahnya..
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan

Masalah ketimpangan sosial ekonomi di Indonesia sangat sulit dipecahkan. Bukan hanya
di Indonesia, tetapi negara-negara berkembang pun menghadapi masalah serupa. Masalah ini ada
yang berdampak positif dan negatif. Dampak positif ketimpangan sosial ekonomi adalah
mendorong adanya persaingan antar individu, sedangkan dampak negatifnya adalah dapat
membuat kemiskinan serta kriminalitas.

Upaya mengurangi ketimpangan sosial di bidang ekonomi dapat dilakukan dengan


beberapa cara yang efektif seperti memberikan bantuan/ subsidi pada masyarakat kurang mampu,
membuka lapangan kerja dan memberantas korupsi. Upaya tersebut dilakukan untuk
meningkatkan taraf kehidupan masyarakat di Indonesia.

Selain itu, upaya mengurangi ketimpangan sosial ekonomi di Indonesia dapat terealisasi
dengan adanya pendidikan yang baik dan teknologi yang memadai. Oleh karena itu, pemerintah
perlu memberi sosialisasi dan pendidikan untuk masyarakat Indonesia agar mereka dapat
mengubah pola pikir ( mindset) mereka menjadi lebih kritis lagi

3.2. Saran

Dalam menghadapi ketimpangan sosial ekonomi di Indonesia pada zaman globalisasi,


diperlukan usaha yang lebih kreatif, inovatif dan eksploratif.

Selain itu, diperlukan kesadaran masyarakat unuk berubah dan dukungan atau bantuan
pemerintah kepada masyarakat yang kurang mampu melalui pendidikan dan progam padat karya.
Dengan adanya program padat karya, pemerintah bisa memberikan pelatihan dan pengajaran
serta pekerjaan untuk masyarakat yang kurang mampu, ini merupakan salah satu cara yang dapat
mengurangi angka pengangguran di Indonesia dan meningkatkan kualitas sumber daya
masyarakat (SDM) dalam pengetahuan, wawasan, skill, dan moralitas.
Daftar Pustaka

http://ketimpangansosialekonomi.blogspot.com/

https://theconversation.com/ketimpangan-mengancam-kesehatan-kesejahteraan-semua-
warga-bukan-hanya-orang-miskin-81813

https://blog.ruangguru.com/contoh-ketimpangan-sosial-dalam-aspek-ekonomi

https://blog.ruangguru.com/masalah-ketimpangan-sosial-di-bidang-pendidikan