Anda di halaman 1dari 9

PENURUNAN KONSENTRASI Zn, Cu, Ni, dan Pb PADA AIR LIMBAH

ELEKTROPLATING MENGGUNAKAN PRESIPITASI KALSIUM HIDROKSIDA


[Ca(OH)2].

Nurul Mawaddah – 25317316


Program Studi Magister Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan,
Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132
mawaddahnurul94@yahoo.com

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah kebutuhan Presipitan dalam
menurunkan konsentrasi logam berat menggunakan Presipitasi Hidroksida dengan pH
optimum masing-masing logam berat. Meningkatnya kebutuhan akan produk yang
menggunakan proses elektroplating mendorong berkembangnya industri elektroplating yang
berada di Indonesia. Perkembangan industri elektroplating yang semakin pesat tersebut selain
memberikan manfaat, juga menimbulkan dampak negatif dari limbah yang dihasilkan.
Beberapa unsur logam yang terdapat dalam limbah elektroplating antara lain besi, krom, seng,
nikel, mangan, dan tembaga. Beberapa proses penghilangan kandungan logam berat dapat
dilakukan melalui proses pengolahan secara kimia salah satunya adalah presipitasi
(pengendapan). Penelitian ini dilakukan untuk jumlah kebutuhan Presipitan dalam
menghilangkan logam berat menggunakan Presipitasi Hidroksida dengan pH optimum masing-
masing logam berat menggunakan persamaan dasar stoikiometri. Massa CaO yang dibutuhkan
untuk menurunkan konsentrasi logam dalam volume air limbah 1000 liter untuk Zn (II) adalah
1,47 gram, Cu (II) membutuhkan 0.12 gram, Ni(III) sebesar 3,7 gram, Pb (II) sebanyak 37 gram
dan Ni (II) sebanyak 3,7 gram dan Mn (II) sebanyak 11,7 gram.

Kata Kunci: limbah electroplating, logam berat, presipitasi, Ca(OH)2, stoikiometri

Abstract: This study aims to determine the amount of precipitant needs in reducing the
concentration of heavy metals using Precipitation Hydroxide with optimum pH of each heavy
metal. The inNieasing demand for products that use electroplating processes encourages the
development of electroplating industry residing in Indonesia. The rapid development of
electroplating industry in addition to providing benefits, also caused a negative impact of waste
generated. Some metallic elements contained in electroplating waste include iron, chromium,
zinc, nickel, manganese, and copper. Some process of removing heavy metal content can be
done through chemical processing one of them is precipitation (precipitation). This research
was conducted for the amount of precipitant requirement in removing heavy metals using
Precipitation Hydroxide with optimum pH of each heavy metal using stoichiometric base
equation. The CaO mass required to decrease the metal concentration in 1000 liter waste water
volume for Zn (II) is 1.47 grams, Cu (II) requires 0.12 grams, Ni (III) of 3.7 grams, Pb (II) of
37 grams and Ni (II) of 3.7 grams and Mn (II) of 11.7 grams.

Keyword: electroplating waste, heavy metals, precipitation, Ca(OH)2, stoichiometry

1
PENDAHULUAN
Air limbah ialah air bersih yang telah terkontaminasi sehingga memiliki kualitas yang
berbeda dari air yang belum terkontaminasi dalam parameter-parameter tertentu dan berpotensi
besar dalam membahayakan kesehatan makhluk hidup (Adli, H. 2012). Ketentuan mengenai
kualitas air buangan limbah di Indonesia telah diatur oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup
No. 3 Tahun 2010 tentang baku mutu limbah cair, sehingga setiap laboratorium wajib mengatur
kadar limbah buangannya dengan melakukan pengolahan yang tepat sebelum dapat membuang
limbah cair ke perairan bebas.
Berdasarkan UU RI No.32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup, maka setiap industri maupun instansi/badan usaha harus bertanggung
jawab terhadap pengelolaan limbah yang dihasilkan dari kegiatannya.
Meningkatnya kebutuhan akan produk yang menggunakan proses elektroplating
mendorong berkembangnya industri elektroplating yang berada di Indonesia. Perkembangan
industri yang semakin pesat tersebut selain memberikan manfaat, juga menimbulkan dampak
negatif dari limbah yang dihasilkan. Limbah dari proses elektroplating merupakan limbah
logam berat yang termasuk dalam limbah B3 (Bahan Beracun Berbahaya) (Purwanto, 2005).
Beberapa unsur logam yang terdapat dalam limbah cair elektroplating antara lain besi,
krom, seng, nikel, mangan, dan tembaga.
Kuantitas limbah yang dihasilkan dalam proses elektroplating tidak terlampau besar,
tetapi tingkat toksisitasnya sangat berbahaya, terutama krom, nikel dan seng (Roekmijati,
2002). Karakteristik dan tingkat toksisitas dari air limbah elektroplating bervariasi tergantung
dari kondisi operasi dan proses pelapisan serta cara pembilasan yang dilakukan (Palar, 1994).
Pembuangan langsung limbah dari proses elektroplating tanpa pengolahan terlebih
dahulu ke lingkungan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Cemaran tersebut dapat
mencemari mikroorganisme dan lingkungannya baik dalam bentuk larutan, koloid, maupun
bentuk partikel lainnya. Mengingat penting dan besarnya dampak yang ditimbulkan bagi
lingkungan maka diperlukan suatu pengolahan terlebih dahulu sebelum efluent limbah
tersebut dibuang ke lingkungan. Beberapa proses penghilangan kandungan logam berat dapat
dilakukan melalui proses pengolahan secara kimia seperti dengan presipitasi (pengendapan),
adsorpsi (penyerapan), filtrasi (penyaringan) dan koagulasi.
Dari jumlah tersebut, presipitasi kimia adalah metode yang paling banyak digunakan
karena kesederhanaan dalam penggunaannya (Li et al., 2003; Duan dan Gregory, 2003). Dalam
pendekatan ini, ion-ion logam terlarut diubah menjadi fasa-fasa padat yang tidak larut melalui
reaksi kimia dengan endapan, misalnya, alkali atau sulfida. Endapan yang dihasilkan kemudian
dipisahkan dari air oleh sedimentasi dan / atau filtrasi atau flotasi (Matis et al., 2004; Zamboulis
et al., 2004).
Pada umumnya logam-logam di alam ditemukan dalam bentuk persenyawaan dengan
unsur lain dan sangat jarang ditemukan dalam bentuk elemen tunggal, demikian juga halnya
dengan logam seng, tembaga,kromium dan timbal. Logam-logam tersebut dapat masuk ke
dalam semua strata lingkungan, apakah itu pada strata peraian, tanah atau pun udara (lapisan
atmosfir) (Asmadi, dkk. 2009). Beberapa logam berat bersifat amfoter, oleh karena itu
kelarutannya mencapai nilai minimum dalam pH tertentu (berbeda untuk masing-masing
logam berat). Penambahan senyawa hidroksida ini akan meningkatkan pH larutan. Senyawa

2
hidroksida yang sering digunakan yaitu natrium hidroksida (NaOH) dan kalsium hidroksida
(Ca(OH)2) (Ayres, D.M., Davis, A.P., dan Gietka, P.M. 1994).
Logam Zn merupakan logam yang paling banyak digunakan dalam industry terutama
industri elektroplating. Kuantitas limbah yang dihasilkan dalam proses elektroplating tidak
terlampau besar, tetapi tingkat toksisitasnya sangat berbahaya. Pembuangan langsung
limbah dari proses elektroplating tanpa pengolahan terlebih dahulu ke lingkungan dapat
menyebabkan pencemaran lingkungan.
Tembaga pada industri elektroplating digunakan untuk membuat lapisan dasar sebelum
pelapisan logam berikutnya dan sebagai lapisan pelindung (BAPEDAL, 1996). Limbah yang
mengandung tembaga tidak dapat diuraikan di alam, sehingga akan terakumulasi di dalam
tanaman dan tumbuhan. Efek toksik tembaga dapat menimbulkan kerusakan pada hati, otak
dan ginjal (Widowati et al., 2008).
Krom pada industri elektroplating digunakan pada proses lapis keras dengan tujuan
sebagai anti kusam (BAPEDAL, 1996). Efek toksik logam Ni hasil limbah industri
elektroplating dapat bersifat bioakumulatif dan tidak dapat terurai.
Penanganan logam berat seperti Cu, Zn, Pb dan Ni dalam presipitasi biasanya
menggunakan agen presipitan. Agen presipitan yang umum digunakan dalam presipitasi logam
berat ialah hidroksida, karbonat, dan sulfida yang ditambahkan untuk mengendapkan logam
berat sehingga akan didapatkan endapan logam yang dapat dipisahkan dari air limbah dan
mendapatkan air hasil olahan yang kadar logam beratnya telah berkurang.
Kapur (CaO) adalah endapan yang sering digunakan untuk menghilangkan logam berat
dari air limbah industri, tetapi dosis yang diperlukan relatif tinggi (Tadesse, et al., 2006).
Presipitan logam amfoter, misalnya, seng dan timbal, cenderung kembali larut ketika pH
berubah di luar kisaran optimal. Akibatnya, pH harus dikontrol secara ketat.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui massa CaO masing-masing logam dari pH awal
logam untuk mencapai pH optimum logam di air limbah menggunakan persamaan
stoikiometri.

METODOLOGI
1. Kerangka Analisis Jurnal
Analisis jurnal ini bertujuan untuk mengetahui jumlah kebutuhan presipitan dalam
menghilangkan logam berat menggunakan Presipitasi Hidroksida dengan pH optimum masing-
masing logam berat. Adapun tahapan penelitian yaitu sebagai berikut :

3
Gambar 1. Diagram Alir Kerangka Analisis Jurnal

2. Analisis Material
Pada penelitian ini diketahui variasi konsentrasi awal masing-masing logam pada air
limbah elektroplating yaitu Zn (II) 32 mg/l, Cu (II) 100 mg/l, Ni (III) 100 mg/l,Pb (II) 50
mg/ldan Ni (II) 100 mg/l (fu and Wang, 2010). pH awal logam adalah 6,7. Volume limbah
diasumsikan sebesar 1000 liter. Masing-masing logam memiliki pH optimum dalam air limbah.
Maka, dibutuhkan sejumlah presipitan untuk mengubah pH awal ke pH optimum.
Dalam penelitian ini persamaan stoikiometri yang digunakan untuk semua logam dimana
Me adalah kation divalent sebagai berikut
Me(OH)2(s) = Me2+ + 2OH-
Dalam pengolahan air limbah dibutuhkan satu senyawa yang dapat mengendapkan logam
yaitu Ca(OH)2. Melalui reaksi ini akan menghilangkan logam Me dari air limbah.
Ca(OH)2(s) Ca2+ + 2OH-
Konstanta keseimbangan seperti pada reaksi diatas mengarah ke produk kelarutan, Ksp. Untuk
reaksi pada persamaan diatas, Ksp akan diberikan contoh sebagai berikut
[𝐶𝑎2+ ][𝑂𝐻 − ]
Ksp =
[𝐶𝑎(𝑂𝐻)2 ]
Jika, konstanta keseimbangan dan konsentrasi salah satu dari spesies diketahui, konsentrasi
spesies yang lain dapat ditentukan. Tidak akan presipitat yang terbentuk jika konsentrasi
produk dari ion yang berpasangan kurang dari Ksp, artinya dalam keadaan undersaturated.
Sebaliknya, apabila konsentrasi produk dari ion yang berpasangan lebih besar dari Ksp maka
akan terbentuk endapan artinya dalam kondisi supersaturated.

4
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Pengolahan Data
Berdasarkan hasil pengolahan data menggunakan persamaan dasar stoikiometri, maka
diperoleh hasil kebutuhan CaO pada masing-masing logam pada Tabel 1.

Tabel 1. Data Jumlah Presipitan yang dibutuhkan berdasarkan pH Awal Logam


Logam pH Awal pH Optimum Kapur yang
Berat dibutuhkan (g)
Zn2+ 9,6 1.47
Cu2+ 8.5 0.12
6,7
Pb2+ 11 37
Ni2+ 10 3.7
Mn 10,5 11,7
Sumber: Pengolahan data, 2018

Berdasarkan hasil yang diperoleh diatas bahwa massa CaO yang dibutuhkan untuk
menurunkan konsentrasi logam dalam volume air limbah 1000 liter untuk Zn (II) adalah 1,47
gram, Cu (II) membutuhkan 0.12 gram, Ni(III) sebesar 3,7 gram, Pb (II) sebanyak 37 gram dan
Ni (II) sebanyak 3,7 gram dan Mn (II) sebanyak 11,7 gram.

2. Pembahasan
Analisis Logam Seng (Zn)
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perhitungan menggunakan persamaan Stoikiometri
pada logam Zn membutuhkan 1,47 CaO untuk mencapai pH optimum yaitu 9,6. Suatu logam
berat membutuhkan presipitan yang banyak untuk mengoptimalkan pH yang tinggi.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nurhasni, et. al (2013) diperoleh bahwa
Nilai pH yang semakin besar menyebabkan kadar Zn semakin menurun dimana kadarnya
mulai menunjukkan nilai yang membentuk garis lurus pada pH 8 (pada gambar 2).

Gambar 2. Pengaruh pH terhadap penyisihan kadar logam seng

5
Semakin banyak massa koagulan yang ditambahkan maka semakin tinggi nilai pH,
(Vogel, 1985). Untuk logam Zn sesuai Gambar 2 didapatkan persentase penyisihan
terbesar yaitu 94,45 % atau kadar Zn sebesar 0,58 mg/L pada rasio massa koagulan dan
limbah 0,11. Seng terjadi secara dominan sebagai Zn (II) pada pH < 7,5 dan diharapkan untuk
membentuk hidroksida pada pH 8-10. Pada pH 7,5-11,5 dan pH > 11,5, spesies dominan Zn
(II) adalah Zn(OH)2(aq), dan Zn(OH)3 masing-masing (Stumm dan Morgan, 1995; Xue, et al.,
2009). Selain Zn hidroksi-kompleks, kompleks hidrasi kalsium seng (CaZn2(OH)6.2H2O) juga
dapat terbentuk pada pH 7–12.
Selain pada limbah industri, kelarutan logam berat pada air lindi akan sangat dipengaruhi
oleh nilai pH. Jika nilai pH menurun atau berada dalam rentang pH asam, maka kelarutan
logam berat akan meningkat. Sebaliknya, jika nilai pH meningkat atau berada dalam rentang
pH basa, maka kelarutan logam berat akan menurun. Selain pH air lindi, faktor lain turut yang
mempengaruhi konsentrasi logam Zn terukur adalah volume air lindi yang terbentuk.
Peningkatan volume air lindi yang terjadi selama tahap awal penelitian menjadi pemicu
turunnya konsentrasi logam Zn (Yu-Yang et.al., 2009).

Analisis Logam Tembaga (Cu)


Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perhitungan menggunakan persamaan Stoikiometri
pada logam Cu membutuhkan 0,12 gram CaO untuk mencapai pH optimum yaitu 8,5. Suatu
logam berat membutuhkan presipitan yang banyak untuk mengoptimalkan pH yang tinggi.
Semakin tinggi pH, semakin besar persentase penurunan logam Cu pada limbah. Endapan
Cu(OH)2 akan terbentuk seiring dengan meningkatnya pH larutan. Berdasarkan penelitian
Handoko, dkk (2013), bahwa Kadar Cu dalam sampel dengan konsentrasi awal 500 mg/l
dengan proses presipitasi Cu2+ menggunakan larutan Ca(OH)2 0,2 M atau 7,4 gr cenderung
mengalami penurunan sampai pH 8, tetapi ketika pH sampel ditingkatkan lagi, maka kadar
logam Cu kembali meningkat. Hal ini dikarenakan endapan Cu(OH)2 yang dihasilkan dari
proses presipitasi larut kembali sebagai ion kompleks akibat penambahan larutan basa,
sehingga logam Cu kembali ada dalam larutan sebagai ion Cu2+. Menurut Roekmijati (2002)
penyisihan Cu semakin rendah dengan meningkatnya volume reduktor. Pada pH 7 sampai
pH 8, persen penyisihan Cu cenderung meningkat, namun pada pH 8 sampai 10 tidak terjadi
lagi perubahan persen pengendapan dan terbentuk Cu(OH)2.

Analisis Logam Nikel (Ni)


Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perhitungan menggunakan persamaan Stoikiometri pada
logam Ni membutuhkan 3,7 gram CaO untuk mencapai pH optimum yaitu 10. nilai pH yang
semakin besar menyebabkan kadar Ni semakin menurun. Nikel merupakan logam yang
mudah larut dalam asam mineral encer (Cotton FA & Wilkinson G 1989). Nikel dalam bentuk
nikel hidroksida tak larut dengan penambahan kapur akan memberikan hasil kelarutan
maksimumsebesar 0,01 mg/l pada pH 9-10 (Teng 2000).

6
Gambar 3. Pengaruh pH terhadap penyisihan kadar
logam nikel

Rasio massa koagulan dan limbah yang semakin banyak menyebabkan terbentuknya
endapan Fe(OH) 3 dan flok Fe(OH) 4-. Semakin banyak massa koagulan yang ditambahkan
dan semakin tinggi nilai pH, akan menyebabkan semakin banyak ion OH- yang akan
bereaksi dengan logam Ni untuk membentuk endapan Ni(OH)2 pada limbah (Vogel,
1985).

Analisis Logam Timbal (Pb)


Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perhitungan menggunakan persamaan Stoikiometri
pada logam Pb membutuhkan 37 gr CaO untuk mencapai pH optimum yaitu 11. Suatu logam
berat membutuhkan presipitan yang banyak untuk mengoptimalkan pH yang tinggi.
Untuk timbal, timbal umumnya terjadi reaksi Pb2+ pada pH diatas 6, berbeda dengan Cu
dan Zn, nitrat dengan Pb signifikan pada pH < 6. Pada pH 7,5 – 9, 9-10, 10-11 dan >12, Pb (II)
dominan adalah Pb(OH), Pb3(OH)42+ (Stumm and Morgan,1995; Xue et al., 2009). Dengan
peningkatan pH, Pb dapat membentuk hidroksida. Nilai pH sangat mempengaruhi proses
penyisihan logam timbal pada air limbah. Dengan nilai pH lebih dari 5, maka mekanisme
penyisihan logam timbal menjadi meningkat (Adam, 2015).

Analisis Logam Mangan (Mn)


Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perhitungan menggunakan persamaan Stoikiometri
pada logam Pb membutuhkan 11,7 gr CaO untuk mencapai pH optimum yaitu 10,5. Suatu
logam berat membutuhkan presipitan yang banyak untuk mengoptimalkan pH yang tinggi.
Mangan biasanya muncul dalam air sumur sebagai Mn(HCO3)2, MnCl2, atau MnSO4.
Mangan jugadapat ditemukan di dasar reservoir dimana terjadi kondisi anaerob akibat
terjadinya proses dekomposisi. Kenaikan pH menjadi 9 –10 dapat menyebabkan Mg
berpresipitasi dalam bentuk yang tidak terlarut.
Meskipun tidak bersifat toksik, mangan dapat mengendalikan kadar unsur toksik di
perairan, misalnya logam berat. Jika dibiarkan di udara terbuka dan mendapat cukup oksigen,
air dengan kadar mangan (Mn2+) tinggi (lebih dari 0,01 mg/liter) akan membentuk koloid
karena terjadinya proses oksidasi Mn2+menjadi Mn4+. Koloid ini mengalami presipitasi
membentuk warna cokelat gelap sehingga air menjadi keruh. Mangan merupakan ion logam
7
yang dapat menimbulkan masalah dalam sistem penyediaan air minum, masalah utama timbul
pada air tanah dan kesulitannya adalah ketika sumber air mengandung mangan pada musim-
musim tertentu.Hal ini disebabkan adanya reaksi-reaksi kimia yang sangat dipengaruhi oleh
kondisi lingkungan.Masuknya mangan ke dalam sistem penyediaan air minum akibat adanya
perubahan kondisi lingkungan sebagai hasil reaksi biologi secara garis besar dituliskan sebagai
berikut (Said, 2005).

KESIMPULAN
Berdasarkan pengolahan data dan analisis yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa:
1. pH optimal untuk logam Zn, Cu, Pb, Ni, dan Mn adalah pada pH 9,6; 8,5; 11; 10.
2. Massa CaO optimal untuk mereduksi konsentrasi logam dalam volume air limbah
1000 liter untuk Zn (II) adalah 1,47 gram, Cu (II) membutuhkan 0.12 gram, Ni(III)
sebesar 3,7 gram, Pb (II) sebanyak 37 gram dan Ni (II) sebanyak 3,7 gram dan Mn (II)
sebanyak 11,7 gram.
3. Penggunaan kapur (CaO) pada pengolahan limbah industri elektroplating dapat
menurunkan kadar logam berat berdasarkan pH air limbah.

DAFTAR PUSTAKA

Adam, G.A.M. 2015. Analisis Pengaruh Sifat Kimia Sampah Terhadap Reduksi Volume
Sampah dan Karakteristik Air Lindi Pada Bioreaktor Landfill Aerobik dan Anaerobik.
Tesis Program Studi Teknik Lingkungan. Jakarta. Universitas Indonesia.

Adli, H. 2012. Pengolahan Limbah Cair Laboratorium Dengan Metode Presipitasi dan
Adsoprsi Untuk Penurunan Kadar Logam Berat. Jakarta: Universitas Indonesia.

Asmadi, Endro dan Oktiawan,W,. 2009. Pengurangan Chrom (Ni) Dalam Limbah Cair
Industri Kulit pada Proses Tannery menggunakan Senyawa Alkali Ca(OH)2, NaOH
dan NaHCO3. Semarang: Universitas Diponegoro.

Ayres, David M., Davis, Allen P. & Gietka, Paul M.1994. Removing heavy metals from
wastewater. University of Maryland: Engineering Research Center Report.

Badan Pengelola Dampak Lingkungan. 1996. Teknologi Pengendalian Dampak Lingkungan


Industri Lapis Listrik. Jakarta: Kementrian Negara Lingkungan Hidup.

Cotton, F.A. andG. Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Terjemahan Sahati Suharto.
Penerbit Universitas Indonesia (UIPress). Jakarta.

Duan, J., Gregory, J., 2003. Coagulation by hydrolysing metal salts. Adv. Colloid Interface
Sci. 100, 475–502.

Fu, Fenglian and Wang, Qi. 2010. Removal of Heavy Metal Ions from Wastewater: A review.
Journal of Environmental Management 92 (2011) 407-418.

8
Handoko, C.T., Yanti, T.B., Syadiyah, H dan Marwati, S. 2013. Penggunaan Metode
Presipitasi untuk menurunkan Kadar Cu dalam Limbah Cair Industri Perak di
Kotagede. Jurnal Penelitian Saintek, Vol. 18, Nomor 2, Oktober 2013.

Li, Y.J., Zeng, X.P., Liu, Y.F., 2003. Study on the treatment of copper-electroplating
wastewater by chemical trapping and flocculation. Sep. Purif. Technol. 31, 91–95.

Matis, K.A., Zouboulis, A.I., Gallios, G.P., 2004. Application of flotation for the separation of
metal-loaded zeolite. Chemosphere 55, 65–72.

Nurhasni dkk.2013. Pengolahan Limbah Industri Elektroplating dengan Proses Koagulasi


Flokulasi. Program Studi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi. Jakarta. UIN Syarif
Hidayatullah. Valensi Vol. 3 No. 1, Mei 2013 (41-47) ISSN: 1978 - 8193.

Palar, H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Rineka Cipta. Jakarta.

Praswasti PDK, Dianursanti, Misri Gozan, dan Wahyu Ardie Nugroho. 2010. Optimasi
Penggunaan Koagulan Pada Pengolahan Air Limbah Batubara. Prosiding Seminar
Nasional Teknik Kimia “Kejuangan” Pengembangan Teknologi Kimia untuk
Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia. Jakarta : Universitas Indonesia.

Purwanto, dan Syamsul H. 2005.Teknologi Industri Elektroplating. Semarang : Universitas


Diponegoro.
Roekmijati. 2002. Presipitasi Bertahap Logam Berat Limbah Cair Industri Pelapisan Logam
Menggunakan Larutan Kaustik Soda. Jurnal kimia lingkungan. Jakarta : Universitas
Indonesia.

Said, N.I. 2005. Metode Penghilangan Zat Besi dan Mangan di DalamPenyediaan Air Minum
Domestik. JAI Vol. 1, No. 3

Stumm, W. and Morgan, J., (1995), Aquatic Chemistry: Chemical Equilibria and Rates in
Natural Waters, Wiley-Interscience 3rd edition.

Teng, H., Hsu, L.Y., 2000, Influence of Different Chemical Reagents on the Preparation of
Activated Carbons from Bituminous Coal, Fuel Process. Technol.,64,1-3, 155-166.

Tadesse, I., Isoaho, S.A., Green, F.B., Puhakka, J.A., 2006. Lime enhanced chromium removal
in advanced integrated wastewater pond system. Bioresour. Technol. 97, 529–534.

Vogel. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Makro, Edisi 5 . PT.Kalman
Media Pustaka, Jakarta.

Widowati W, Astiana S, dan Raymond J. 2008. Efek Toksik Logam. Bandung : ANDI
Yogyakarta.

Yu-Yang, Y.L., Li, F.H., Chen-Jing, Cheng-Ran Fang, Feng-Ping Wang & Dong-Sheng Shen.
2009. Releasing Behaviour of Cooper in Recirculated Bioreactor Landfill. Bioresource
Technology 100: 2419-2424.