Anda di halaman 1dari 16

A.

Anatomi
Appendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang
kira-kira 10 cm dan berpangkal pada sekum. Appendiks pertama kali
tampak saat perkembangan embriologi minggu ke delapan yaitu bagian
ujung dari protuberans sekum. Pada saat antenatal dan postnatal,
pertumbuhan dari sekum yang berlebih akan menjadi appendiks yang akan
berpindah dari medial menuju katup ileocaecal.
Pada bayi appendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkal dan
menyempit kearah ujung. Keadaan ini menjadi sebab rendahnya insidens
appendicitis pada usia tersebut. Appendiks memiliki lumen sempit di bagian
proksimal dan melebar pada bagian distal. Pada appendiks terdapat tiga
tanea coli yang menyatu dipersambungan sekum dan berguna untuk
mendeteksi posisi appendiks. Gejala klinik appendicitis ditentukan oleh
letak appendiks. Posisi appendiks adalah retrocaecal (di belakang sekum)
65,28%, pelvic (panggul) 31,01%, subcaecal (di bawah sekum) 2,26%,
preileal (di depan usus halus) 1%, dan postileal (di belakang usus halus)
0,4%, seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 2.1. Appendiks pada saluran pencernaan

9
Gambar 2.2 Anatomi appendiks

Gambar 3.3. Posisi Appendiks

Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang


mengikuti arteri mesenterika superior dari arteri appendikularis, sedangkan
persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis X. Oleh karena itu, nyeri
viseral pada appendicitis bermula di sekitar umbilikus. Appendiks didarahi
oleh arteri apendikularis yang merupakan cabang dari bagian bawah arteri
ileocolica. Arteri appendiks termasuk end arteri. Bila terjadi penyumbatan
pada arteri ini, maka appendiks mengalami ganggren.
B. Fisiologi
Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu secara
normal dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum.
Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada
patogenesis appendicitis.

10
Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh Gut Associated
Lymphoid Tissue (GALT) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk
appendiks ialah Imunoglobulin A (Ig-A). Imunoglobulin ini sangat efektif
sebagai pelindung terhadap infeksi yaitu mengontrol proliferasi bakteri,
netralisasi virus, serta mencegah penetrasi enterotoksin dan antigen
intestinal lainnya. Namun, pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi
sistem imun tubuh sebab jumlah jaringan sedikit sekali jika dibandingkan
dengan jumlah di saluran cerna dan seluruh tubuh.
C. Definisi Appendicitis
Appendicitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya
lumen oleh fekalith (batu feces), hiperplasi jaringan limfoid, dan cacing
usus. Obstruksi lumen merupakan penyebab utama appendicitis. Erosi
membran mukosa appendiks dapat terjadi karena parasit seperti Entamoeba
histolytica, Trichuris trichiura, dan Enterobius vermikularis.
D. Klasifikasi Appendicitis
Klasifikasi appendicitis berdasarkan klinikopatologis antara lain:
1. Appendicitis Akut
a. Appendicitis akut sederhana (cataral appendicitis)
Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa
disebabkan obstruksi. Sekresi mukosa menumpuk dalam lumen
appendiks dan terjadi peningkatan tekanan dalam lumen yang
mengganggu aliran limfe, mukosa appendiks jadi menebal, edema,
dan kemerahan. Gejala diawali dengan rasa nyeri di daerah
umbilikus, mual, muntah, anoreksia, malaise, dan demam ringan.
Pada appendicitis kataral terjadi leukositosis dan appendiks terlihat
normal, hiperemia, edema, dan tidak ada eksudat serosa.
b. Appendicitis Akut Purulenta (Supurative Appendicitis)
Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema
menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks
dan menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan
edema pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar
berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa

11
sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin.
Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema, hiperemia, dan di
dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen.
Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri
tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney, defans muskuler, dan nyeri
pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi
pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum.

c. Appendicitis akut gangrenosa


Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah
arteri mulai terganggu sehingga terjadi infrak dan ganggren. Selain
didapatkan tanda-tanda supuratif, appendiks mengalami gangren
pada bagian tertentu. Dinding appendiks berwarna ungu, hijau
keabuan atau merah kehitaman. Pada appendicitis akut gangrenosa
terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairan peritoneal yang
purulen.
2. Appendicitis Infiltrat
Appendicitis infiltrat adalah proses radang appendiks yang
penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum, usus halus, sekum, kolon
dan peritoneum sehingga membentuk gumpalan massa flegmon yang
melekat erat satu dengan yang lainnya.
3. Appendicitis Abses
Appendicitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi
nanah (pus), biasanya di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum,
retrocaecal, subcaecal, dan pelvic.
4. Appendicitis Perforasi
Appendicitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah
ganggren yang menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut
sehingga terjadi peritonitis umum. Pada dinding appendiks tampak
daerah perforasi dikelilingi oleh jaringan nekrotik.
5. Appendicitis Kronis

12
Appendicitis kronis merupakan lanjutan appendicitis akut
supuratif sebagai proses radang yang persisten akibat infeksi
mikroorganisme dengan virulensi rendah, khususnya obstruksi parsial
terhadap lumen. Diagnosa appendicitis kronis baru dapat ditegakkan
jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah lebih dari
dua minggu, radang kronik appendiks secara makroskopik dan
mikroskopik. Secara histologis, dinding appendiks menebal, sub
mukosa dan muskularis propia mengalami fibrosis. Terdapat infiltrasi
sel radang limfosit dan eosinofil pada sub mukosa, muskularis propia,
dan serosa. Pembuluh darah serosa tampak dilatasi.

E. Appendicitis Infiltrat
1. Definisi appendicitis infiltrat
Apendisitis infiltrat adalah proses radang apendiks yang
penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum dan usus-usus dan peritoneum
disekitarnya sehingga membentuk massa (appendiceal mass). Umumnya
massa apendiks terbentuk pada hari ke-4 sejak peradangan mulai apabila
tidak terjadi peritonitis umum. Massa apendiks lebih sering dijumpai pada
pasien berumur lima tahun atau lebih karena daya tahan tubuh telah
berkembang dengan baik dan omentum telah cukup panjang dan tebal untuk
membungkus proses radang.
2. Patofisiologi
Appendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen
apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur
karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma.
Obstruksi lumen yang tertutup disebabkan oleh hambatan pada
bagian proksimalnya dan berlanjut pada peningkatan sekresi normal dari
mukosa apendiks yang distensi. Obstruksi tersebut mneyebabkan mucus
yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mucus
tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding appendiks mempunyai

13
keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan intralumen. Kapasitas
lumen apendiks normal hanya sekitar 0,1 ml. Jika sekresi sekitar 0,5 dapat
meningkatkan tekanan intalumen sekitar 60 cmH20. Manusia merupakan
salah satu dari sedikit binatang yang dapat mengkompensasi peningkatan
sekresi yang cukup tinggi sehingga menjadi gangrene atau terjadi perforasi.
Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan apendiks mengalami
hipoksia,menghambat aliran limfe, terjadi ulserasi mukosa dan invasi
bakteri. Infeksi menyebabkan pembengkakan apendiks bertambah (edema)
dan semakin iskemik karena terjadi trombosis pembuluh darah intramural
(dinding apendiks). Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang
ditandai oleh nyeri epigastrium. Gangren dan perforasi khas dapat terjadi
dalam 24-36 jam, tapi waktu tersebut dapat berbeda-beda setiap pasien
karena ditentukan banyak faktor.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat.
Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan
bakteri akan menembus dinding.Peradangan timbul meluas dan mengenai
peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah.
Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian arteri
terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan
gangrene. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding
yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Bila semua
proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan
bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu massa local yang disebut
infiltrate apendikularis. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi
abses atau menghilang.
Infiltrat apendikularis merupakan tahap patologi apendisitis yang
dimulai dimukosa dan melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam
waktu 24-48 jam pertama, ini merupakan usaha pertahanan tubuh dengan
membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan omentum, usus
halus, atau adneksa sehingga terbentuk massa periapendikular. Didalamnya
dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami
perforasi. Jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa

14
periapendikular akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri
secara lambat. Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks
lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah
dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya
perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah
ada gangguan pembuluh darah. Kecepatan rentetan peristiwa tersebut
tergantung pada virulensi mikroorganisme, daya tahan tubuh, fibrosis pada
dinding apendiks, omentum, usus yang lain, peritoneum parietale dan
jugaorgan lain seperti vesika urinaria, uterus tuba, mencoba membatasi dan
melokalisir proses peradangan ini. Bila proses melokalisir ini belum selesai
dan sudah terjadi perforasi maka akan timbul peritonitis. Walaupun proses
melokalisir sudah selesai tetapi masih belum cukup kuatmenahan tahanan
atau tegangan dalam cavum abdominalis, oleh karena itu penderita harus
benar- benar istirahat (bedrest).
Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna,
tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan
dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan
berulang diperut kanan bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang
akut lagi dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut.
3. Manifestasi klinis
Appendisitis infiltrat didahului oleh keluhan appendisitis akut yang
kemudian disertai adanya massa periapendikular. Gejala Appendicitis akut
antara lain:
a. Rasa sakit di daerah epigastrum, daerah periumbilikus, di seluruh
abdomen atau di kuadran kanan bawah merupakan gejala-gejala
pertama. Rasa sakit ini samar-samar, ringan sampai moderat, dan
kadang-kadang berupa kejang. Sesudah empat jam biasanya rasa nyeri
itu sedikit demi sedikit menghilang kemudian beralih ke kuadran bawah
kanan. Rasa nyeri menetap dan secara progesif bertambah hebat apabila
pasien bergerak.
b. Anoreksia, mual, dan muntah yang timbul selang beberapa jam dan
merupakan kelanjutan dari rasa sakit yang timbul permulaan.

15
c. Demam tidak tinggi (kurang dari 38⁰C), kekakuan otot, dan konstipasi.
d. Appendicitis pada bayi ditandai dengan rasa gelisah, mengantuk, dan
terdapat nyeri lokal. Pada usia lanjut, rasa nyeri tidak nyata. Pada wanita
hamil rasa nyeri terasa lebih tinggi di daerah abdomen dibandingkan
dengan biasanya.
e. Nyeri tekan didaerah kuadran kanan bawah. Nyeri tekan mungkin
ditemukan juga di daerah panggul sebelah kanan jika appendiks terletak
retrocaecal. Rasa nyeri ditemukan di daerah rektum pada pemeriksaan
rektum apabila posisi appendiks di pelvic. Letak appendiks
mempengaruhi letak rasa nyeri.
4. Pemeriksaan
a. Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi : Kembung sering terlihat pada penderita dengan
komplikasi perforasi. Appendisitis infiltrat atau adanya abses
apendikuler terlihat dengan adanya penonjolan di perut kanan
bawah.
2) Auskultasi : peristaltik usus sering normal, peristalsis dapat
hilang karena ileus paralitik pada peritonitisgeneralisata akibat
apendisitis perforata
3) Palpasi : nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan, bisa
disertai nyeri lepas. Defans muskuler menunjukkan adanya
rangsangan peritoneum parietale. Nyeri tekan perut kanan
bawah ini merupakan kunci diagnosis. Pada apendisitis
retrosekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk
menentukan adanya rasa nyeri. Jika sudah terbentuk abses yaitu
bila ada omentum atau usus lain yang dengan cepat
membendung daerah apendiks maka selain ada nyeri pada fossa
iliaka kanan selama 3-4 hari(waktu yang dibutuhkan untuk
pembentukan abses) juga pada palpasi akan teraba massa yang
fixed dengan nyeri tekan dan tepi atas massa dapat diraba. Jika
apendiks intrapelvinal makamassa dapat diraba pada RT (Rectal
Touche) sebagai massa yang hangat.

16
Pada appendicitis akut sering ditemukan adanya abdominal
swelling, sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasanya
ditemukan distensi perut. Secara klinis, dikenal beberapa
manuver diagnostik
a) Rovsing’s sign: dikatakan posiif jika tekanan yang
diberikan pada perut kuadran kiri (LLQ) abdomen
menghasilkan sakit di sebelah kanan (RLQ),
menggambarkan iritasi peritoneum. Sering positif tapi tidak
spesifik.
b) Psoas sign: dilakukan dengan posisi pasien berbaring pada
sisi sebelah kiri sendi pangkal kanan diekstensikan. Nyeri
pada cara ini menggambarkan iritasi p a d a o t o t p s o a s
kanan dan indikasi iritasi retrocaecal dan
r e t r o p e r i t o n e a l d a r i phlegmon atau abses.
c) Obturator sign: dilakukan dengan posisi pasien terlentang,
kemudian digerakan endorotasi tungkai kanan dari lateral ke
medial. Nyeri pada cara ini menunjukan peradangan pada M.
obturatorius di rongga pelvis.
d) Blumberg’s sign: nyeri lepas kontralateral (tekan di
LLQ kemudian lepasdan nyeri di RLQ)
e) Wahl’s sign: nyeri perkusi di RLQ di segitiga Scherren
menurun.
f) Baldwin test: nyeri di flank bila tungkai kanan ditekuk
g) Nyeri pada daerah cavum Douglas bila ada abscess
di rongga abdomenatau Appendix letak pelvis.
h) Nyeri pada pemeriksaan rectal tooucher.
i) Dunphy sign: nyeri ketika batuk
b. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium, pada darah lengkap didapatkan
leukosit ringan umumnya pada apendisitis sederhana. Lebih dari
13.000/mm3 umumnya pada apendisitis perforasi. Tidak adanya
leukositosis tidak menyingkirkan apendisitis. Hitung jenis leukosit

17
terdapat pergeserankekiri. Pada pemeriksaan urin, sedimen dapat
normal atau terdapat leukosit dan eritrosit lebihdari normal bila
apendiks yang meradang menempel pada ureter atau vesika.
c. Pemeriksaan Radiologis
1) Foto polos abdomen dikerjakan apabila hasil anamnesa atau
pemeriksaan fisik meragukan.Tanda-tanda peritonitis kuadran
kanan bawah. Gambaran perselubungan mungkin terlihat
´ilealatau caecal ileus´ (gambaran garis permukaan air-udara
disekum atau ileum). Patognomonik bila terlihat gambar fekalit.
2) USG atau CT Scan. USG dilakukan khususnya untuk melihat
keadaan kuadran kanan bawah atau nyeri pada pelvis pada
pasien anak atau wanita. Adanya peradangan pada apendiks
menyebabkan ukuran apendiks lebih dari normalnya (diameter
6mm). Kondisi penyakit lain padakuadran kanan bawah seperti
inflammatory bowel desease, diverticulitis cecal, divertikulum
meckel’s, endometriosis dan pelvic Inflammatory Disease (PID)
dapat menyebabkan positif palsu pada hasil USG. Pada CT
Scan khususnya apendiceal CT, lebih akurat dibanding USG.
Selain dapat mengidentifikasi apendiks yang mengalami
inflamasi (diameter lebih dari 6 mm) juga dapat melihat adanya
perubahan akibat inflamasi pada periapendik.
3) Pemeriksaan Barium enema dan Colonoscopy merupakan
pemeriksaan awal untuk menyingkirkan kemungkinan adanya
karsinoma colon. Tetapi untuk apendisitis akut pemeriksaan
barium enema merupakan kontraindikasi karena dapat
menyebabkan rupture apendiks.
5. Diagnosa
Riwayat klasik apendisitis akut, yang diikuti dengan adanya
massa yang nyeri di region iliaka kanan dan disertai demam,
mengarahkan diagnosis ke massa atau abses apendikuler. Penegakan
diagnosis didukung dengan pemeriksaan fisik maupun penunjang.
Kadang keadaan ini sulit dibedakan dengan karsinoma sekum, penyakit

18
Crohn, amuboma dan Lymphoma maligna intraabdomen. Kunci
diagnosis biasanya terletak pada anamnesis yang khas. Tumor caecum,
biasanya terjadi pada orang tua dengan tanda keadaan umum jelek,
anemia dan turunnya berat badan. Hal ini perlu dipastikan dengan colon
in loop dan benzidin test.
Massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif ditandai
dengan:
a. Keadaan umum pasien masih terlihat sakit, suhu tubuh masih
tinggi
b. Pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah
masih jelas terdapat tanda-tanda peritonitis
c. Laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis
terdapat pergeseran ke kiri
Massa apendiks dengan proses radang yang telah mereda dengan
ditandai dengan:
a. Keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit,
suhu tubuh tidak tinggi lagi
b. Pemeriksaan lokal abdomen tenang, tidak terdapat tanda-
tanda peritonitis dan hanya teraba massa dengan batas jelas
dengan nyeri tekan ringan
c. Laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal
6. Penatalaksanaan
Perjalanan patologis penyakit dimulai pada saat apendiks
dilindungi oleh omentum dan gulungan usus halus didekatnya. Mula-
mula, massa yang terbentuk tersusun atas omentum dan gulungan usus
halus, kemudian akan dilapisi oleh jaringan granulasi dan biasanya
dapat segera dirasakan secara klinis. Jika peradangan pada apendiks
tidak dapat membentuk suatu pertahanan maka penderita dapat
mengalami peritonitis umum, masa yang terbentuk tadi akan terisi nanah
yang semula berjumlah sedikit akan tetapi dengan segera menjadi abses
yang jelas batasnya.

19
Apabila penderita ditemukan lewat sekitar 48 jam, maka segera
dilakukan appendektomi untuk membuang apendiks yang mungkin
gangren akan tetapi mempunyai perlekatan yang lonngar pada massa
periapendikular, bila massa periapendikular telah menjadi lebih
terfiksasi dan vaskular, sehingga membuat operasi berbahaya maka
harus menunggu pembentukan abses yang dapat mudah didrainase.
Massa apendiks terjadi bila terjadi apendisitis gangrenosa atau
mikroperforasi ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan atau lekuk
usus halus. Pada massa periapendikular yang pendidingannya belum
sempurna, dapat terjadi penyebaran pus keseluruh rongga peritoneum
jika perforasi diikuti peritonitis purulenta generalisata. Oleh karena itu,
massa periapendikular yang masih bebas disarankan segera dioperasi
untuk mencegah penyulit tersebut. Selain itu, operasi lebih mudah. Pada
anak, dipersiapkan untuk operasi dalam waktu 2-3 hari saja
. Pasien dewasa dengan massa periapendikular yang terpancang
dengan pendindingan sempurna, dianjurkan untuk dirawat dahulu dan
diberi antibiotik sambil diawasi suhu tubuh, ukuran massa, sertaluasnya
peritonitis. Bila sudah tidak ada demam, massa periapendikular hilang,
dan leukositnormal, penderita boleh pulang dan apendiktomi elektif
dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar perdarahan akibat
perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin. Bila terjadi perforasi, akan
terbentuk abses apendiks. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan
frekuensi nadi, bertambahnya nyeri, dan teraba pembengkakan massa,
serta bertambahnya angka leukosit.
Massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif sebaiknya
dilakukan tindakan pembedahan segera setelah pasien dipersiapkan,
karena dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum.
Persiapan dan pembedahan harus dilakukan sebaik-baiknya
mengingat penyulit infeksi luka lebih tinggi daripada pembedahan pada
apendisitis sederhana tanpa perforasi. Pada periapendikular infiltrat,
dilarang keras membuka perut, tindakan bedah apabila dilakukanakan
lebih sulit dan perdarahan lebih banyak, lebih-lebih bila massa apendiks

20
telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan sakit perut.
Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses
dengan atau pun tanpa peritonitis umum.
Terapi sementara untuk 8-12 minggu adalah konservatif saja.
Terapi konservatif pada periapendikular infiltrat antara lain:
a. Total bed rest posisi fawler agar pus terkumpul di cavum
douglassi
b. Diet lunak bubur saring
c. Antibiotika parenteral dalam dosis tinggi, antibiotik
kombinasi yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob
Baru setelah keadaan tenang, yaitu sekitar 6-8 minggu kemudian,
dilakukan apendiktomi. Kalau sudah terjadi abses, dianjurkan drainase
saja dan apendiktomi dikerjakan setelah 6-8 minggu kemudian. Jika
ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun, dan pemeriksaan jasmani
dan laboratorium tidak menunjukkan tanda radang atau abses, dapat
dipertimbangkan membatalkan tindakan bedah.

Analgesik diberikan hanya kalau perlu saja. Observasi suhu dan


nadi. Biasanya 48 jam gejala akan mereda. Bila gejala menghebat,
tandanya terjadi perforasi maka harus dipertimbangkan appendiktomi.
Batas dari massa hendaknya diberi tanda (demografi) setiap hari.
Biasanya pada hari ke5-7 massa mulai mengecil dan terlokalisir. Bila
massa tidak juga mengecil, tandanya telah terbentuk abses dan massa
harus segera dibuka dan didrainase.

Penderita periapendikular infiltrat diobservasi selama 6 minggu


tentang:

a. LED
b. Jumlah lekosit
c. Massa periapendikular

Massa Periapendikular infiltrat dianggap tenang apabila :

21
a. Anamesa : penderita sudah tidak mengeluh sakit atau nyeri
abdomen
b. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum penderita baik, tidak terdapat kenaikan
suhu tubuh (diukur rectal dan aksiler)
2) Sudah tidak terdapat tanda – tanda appendicitis
3) Massa sudah mengecil atau menghilang, atau massa tetap
ada tetapi lebih kecil dibanding semula.
4) Laboratorium : LED kurang dari 20, Leukosit normal

Kebijakan untuk operasi periapendikular infiltrat :

a. Bila LED telah menurun kurang dari 40


b. Tidak didapatkan leukositosis
c. Tidak didapatkan massa atau pada pemeriksaan berulang
massa sudah tidak mengecil lagi.
Bila LED tetap tinggi ,maka perlu diperiksa:
a. Apakah penderita sudah bed rest total
b. Pemberian makanan penderita
c. Pemakaian antibiotik penderita
Bila dalam 8-12 minggu masih terdapat tanda-tanda infiltrat atau
tidak ada perbaikan operasi tetap dilakukan. Bila ada massa
periapendikular yang fixed, ini berarti sudah terjadi abses dan terapi
adalah drainase.
7. Komplikasi
Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik
berupa perforasi bebas maupun perforasi pada apendiks yang telah
mengalami pendindingan berupa massa yang terdiri ataskumpulan
apendiks, sekum, dan lekuk usus halus. Perforasi dapat menyebabkan
timbulnya abses lokal ataupun suatu peritonitis generalisata.
Tanda-tanda terjadinya suatu perforasi adalah :‡
a. Nyeri lokal pada fossa iliaka kanan berganti menjadi nyeri
abdomen menyeluruh‡

22
b. Suhu tubuh naik tinggi sekali.‡
c. Nadi semakin cepat.‡
d. Defance Muskular yang menyeluruh‡
e. Bising usus berkurang
f. Perut distended

Akibat lebih jauh dari peritonitis generalisata adalah terbentuknya


:

a. Pelvic Abscess
b. Subphrenic absess
c. Intra peritoneal abses lokal.
Peritonitis merupakan infeksi yang berbahaya karena bakteri
masuk kerongga abdomen, dapat menyebabkan kegagalan organ dan
kematian.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. De Jong, W., Sjamsuhidajat, R.,(editor). 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi
Revisi. EGC: Jakarta.
2. Mansjoer, Arif, dkk (editor). 2000. Kapita Selekta Kedokteran. EGC:
Jakarta.
3. Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit Jilid II. EGC : Jakarta.
4. Sabiston, Devid C. 1994. Buku Ajar Bedah. EGC:Jakarta.
5. She Warts, Seymour I. 2000. Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah. EGC:
Jakarta.
6. Brunicardi, F.C., Anderson, D.K., Billiar, T.R., Dum, D.L., Hunter, J.G.,
Mathews, J.B., Podlock, R.E., 2010. The Appendix dalam Schwartz's
Principles of Surgery9th Ed. USA:The McGraw Hill Companies. p: 2043-
74.
7. Grace, P.A., Borley, N.R. Apendisitis Akut dalam At A Glance. Jakarta:
Erlangga; 2006. p:106.
8. Saputra, L. 2002. Mulut dan Gastrointestinal dalam Intisari Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta: Binarupa Aksara. h:380.
9. Kumar, V., Cotran, R.S., Robbins, A.L., 2007. Rongga Perut dan Saluran
Gastrointestinal dalam Buku Ajar Patologi Ed.7. Jakarta: EGC. h:660-61.
10. Tjandra, J.J., 2006. The Appendix and Meckel’s Diverticulum dalam
Textbook of Surgery 3rd Ed. UK: Blackwell Publishing Ltd. p:179.
11. Morris, J.A., Sawyer. J.L. 1995.Abdomen Akuta dalam Buku Ajar Bedah
(Sabiston’s Essential Surgery). Jakarta:EGC. h:497.

24