Anda di halaman 1dari 3

Nama :CHARLEEN AUSTRYN ZABRINA

Kelas/No Absen: 7E / 10

Judul cerpen: Aku belum kalah, bu

Pengarang: Gany Fitriani

Aku belum kalah, bu

Siang itu selepas pengumuman kelulusan SMP, Marina hanya dapat terduduk diam
di depan ruang kelasnya. Para orangtua kelas IX dan anak-anaknya baru saja
mengambil pengumuman kelulusan dan segera menuju rumahnya masing-masing.
Mereka semua sangat bahagia atas kelulusannya dan para orangtua bangga
dengan hasil yang diraih anak-anaknya, mereka juga mulai membicarakan SMA
mana yang akan menjadi tempat belajar selanjutnya. Marina masih menunggu
ibunya yang sedang pergi ke toilet.

“selamat ya, kau menduduki peringkat 1 paralel, rencananya kau mau lanjut ke SMA
mana, Rin?” begitu teman-temannya bertanya. Marina hanya tersenyum menjawab
pertanyaan mereka. bukannya ia tidak ingin menjawabnya dengan jelas, namun ada
kebimbangan di hatinya.

Marina, atau yang biasa disapa dengan Rina adalah anak dari seorang petani yang
penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, bahkan
mereka kadang harus menghemat bahan makanan untuk dimakan keesokan
harinya. Ia tinggal bersama ayah-ibunya serta kedua adiknya yang masih kecil.
Marina tidak tega melihat kondisi keluarganya, ia sendiri memiliki keinginan untuk
melanjutkan sekolah, namun hal itu akan semakin menekan kondisi keluarga
mereka yang kekurangan apalagi adik-adiknya yang masih dan selalu memiliki
banyak kebutuhan. Mereka tinggal di sebuah desa terpencil yang jauh dari hiruk
pikuk kehidupan kota.

“Rin, kau harus melanjutkan ke SMA favorit di kota, ibu dan ayah akan usahakan
untuk biaya hidup kau di sana” ujar ibunya dengan wajah berbinar pada Marina.
Dengan hati-hati Marina menjawab tawaran ibunya tersebut.
“bu, Rina ingin bekerja dulu, baru setelah itu Rina akan melanjutkan. Tidak apa-apa
ya bu?”
“kau ini bagaimana, tidak. Ibu tidak mengizinkanmu, kau harus tetap melanjutkan
tahun ini juga. Kau ini lulusan terbaik, kau juga harus mendapatkan pendidikan yang
tinggi, jangan seperti ayah dan ibu yang hanya sebagai petani, kau harus sekolah
sampai perguruan tinggi bahkan sampai ke luar negeri. Kau jangan kalah hanya
karena kita miskin”
“aku tidak kalah bu, hanya saja aku ingin mencari penghasilan sendiri supaya tidak
terlalu memberatkan ibu dan ayah. Apalagi adik-adik masih memiliki banyak
kebutuhan, mereka sebentar lagi akan masuk sekolah bu, pasti perlu biaya yang
banyak. Ibu, pokoknya Rina janji sama ibu, kalau Rina tidak akan mengecewakan
ibu dan Rina akan melanjutkan pendidikan tahun depan” ucap Rina memohon pada
ibunya, menatap wajah sang ibu, memohon izin darinya. Setelah cukup lama berfikir,
ibunya pun mengizinkan Rina. Rina menjadi senang dengan keputusan ibunya
tersebut, dalam hati ia berjanji untuk tidak mengecewakan ibunya.
Keesokan harinya Rina sudah bersiap. Hari ini ia akan pergi ke kota untuk mencari
pekerjaan. Setelah berpamitan ia segera pergi dengan menumpang pada mobil pick
up pengangkut barang-barang dari desa.

Lima bulan sudah semenjak kedatangannya ke kota, Rina sudah bekerja di sebuah
toko kelontong. Ia sangat gigih dan ulet sehingga ia sangat dipercaya oleh bosnya.
Selain sibuk bekerja, Rina juga menyibukkan diri dengan belajar. Setiap minggu ia
datang ke perpustakaan guna meminjam buku-buku yang akan menambah
wawasannya. Selain itu, setiap ba’da maghrib Rina mengajar anak-anak mengaji di
mushola dekat kostnya.

Rina tidak pernah sekalipun mengeluh dengan keadaannya itu, ia sangat senang
menjalani kehidupannya. Dan selama lima bulan itu pula ia harus menahan
kerinduan pada orangtua dan adiknya, karena selama lima bulan itu ia tak pulang ke
desa. Rina hanya mengabari mereka melalui surat yang ia titipkan pada orang-orang
yang mengangkut barang dari desanya ke kota ataupun yang akan kembali ke desa.

Sudah lama pula Marina mengumpulkan uang hasilnya bekerja. Kini sudah tiba
penerimaan peserta didik baru. Tanpa ragu, Marina segera mendaftarkan dirinya di
sebuah SMA favorit di kota.
Kira-kira dua minggu setelah pendaftaran, pengumuman penerimaan siswa baru di
SMA tersebut di umumkan. Dan Marina bersyukur, namanya termasuk sebagai
salah satu siswa yang diterima. Ia langsung sujud syukur. Keesokaannya ia
langsung pulang ke desa untuk mengabari orangtuanya.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama dan masih menumpang, Marina
segera pulang ke rumahnya. Begitu sampai di halaman rumah, Marina terhenti
karena kini rumahnya sudah mulai diperbaiki, ia semakin bersyukur dalam hatinya.
Begitu sampai di dalam rumah ia segera menyalami orangtuanya dan juga memeluk
adik-adiknya. Dengan gembira ia beritahu kepada mereka kalau ia sudah diterima di
sebuah SMA favorit di kota dan hanya tinggal mendaftar ulang dan menunggu
sampai hari pertama masuk sekolah tiba.

“namun tetap saja, kau sudah tertinggal satu tahun dengan teman-temanmu” begitu
ibunya berkomentar, terlihat diraut wajah ibunya kalau ia tidak senang dengan apa
yang Marina raih saat ini.
“Rina janji, akan buat ibu bangga” ujar Rina seraya menatap ibunya.
“bagi ibu kau sudah kalah, kau menyerah pada keadaan waktu itu. Maaf bukannya
ibu ingin mengungkit masa lalu. Sekarang, coba saja tunjukkan pada ibu apa yang
akan ibu banggakan darimu” ucap ibunya tegas. Hati Rina sakit mendengar ibunya
berkata seperti itu. Namun ia tegarkan kembali dirinya.
“baiklah bu, aku akan berusaha untuk membuat ibu bangga dan merasa kalau aku
ini belum kalah. Aku belum kalah bu” ucap Rina.

Seminggu setelah pulang ke desa, Rina sudah mulai berangkat sekolah. walaupun
sudah memasuki sekolah ia masih tetap bekerja, tetapi bukan di toko kelontong lagi,
kini ia bekerja di sebuah rumah makan. Rina bekerja paruh waktu, pada sore sampai
malam hari ia bekerja, sedangkan pagi dan siang ia harus sekolah.

Terkadang Rina merasa sangat sulit menghadapi semua ini, karena ia tidak punya
waktu banyak untuk belajar, apalagi ibunya selalu menekannya untuk menjadi
lulusan terbaik lagi. Dulu dengan mudah ia menyanggupi kemauan ibunya itu karena
ia masih memiliki banyak waktu untuk belajar, namun sekarang ia harus membagi
waktu untuk belajar dan bekerja.

Semenjak kedatangannya ke kota, Rina sudah bertekad pada diri sendiri bahwa ia
tidak akan lagi meminta uang pada orang tuanya. Selama ini, semua biaya hidupnya
selalu ditanggung sendiri bahkan biaya sekolah pun ia yang tanggung. Ia pun
semakin gigih bekerja dan giat belajar.

Bersekolah di sekolah favorit di kota memang sulit. Bukan sulit mengenai pelajaran
yang diberikan, melainkan dari lingkungan sekitar. Rina menyadari bahwa teman-
temannya berasal dari keluarga berada sehingga ia jarang bergaul dengan mereka.
Rina merasa minder dengan hal itu. Terkadang ia juga diejek teman-temannya
mengenai dirinya yang berasal dari desa dan menyebut Rina sebagai anak
kampungan. Rina hanya diam menghadapi ocehan mereka, ia menganggapnya
sebagai angin yang berlalu. Walaupun selalu diejek teman-temannya, Rina banyak
disayang guru. Hampir semua guru mengenal Rina, karena selain bekerja paruh
waktu di sebuah rumah makan, Rina juga menjual aksesoris kerudung yang ia buat
sendiri. Karena banyak guru yang tertarik dan menyukai aksesoris buatan Rina, jadi
mereka sangat mengenal Rina.

Sudah tiga tahun berlalu. Rina sudah menyelesaikan pendidikannya di SMA. Kini ia
hanya tinggal menunggu pengumuman. Selama tiga tahun itu, dari kelas X sampai
kelas XII Rina selalu menduduki peringkat 1, maka guru-guru pun yakin kalau Rina
yang akan menjadi lulusan terbaik.

Hari pelepasan siswa kelas XII tiba hari ini. orangtua Rina masih belum datang. Rina
menjadi resah, ia takut orangtuanya tidak mengetahui alamat sekolahnya, karena
mereka memang belum pernah pergi ke sekolah Rina. Sambutan demi sambutan
telah diberikan. Kini tinggal pembacaan anak-anak yang berprestasi. Dan apa yang
selama ini Rina perjuangkan membuahkan hasil. Ia dipanggil sebagai lulusan terbaik
tahun ini, ia maju ke atas panggung, semua orang bertepuk tangan untuknya namun
orangtuanya belum terlihat juga, ia masih merasa resah. Begitu ia di atas panggung,
barulah ia melihat orangtuanya yang baru saja hadir. Ia menjadi tenang dan ingin
segera memberitahu ibunya kalau ia menjadi lulusan terbaik.

“selamat untuk Marina sebagai lulusan terbaik dan mendapatkan beasiswa


pendidikan di sebuah universitas terbaik di luar negeri” ucap kepala sekolah. Rina
yang tidak mengetahui hal itu merasa tidak percaya dengan semua ini. ia masih
berdiri terpaku ditempatnya, begitu mendengar riuh tepuk tangan ia tersadar, kepala
sekolah pun tersenyum bangga padanya. Rina langsung sujud syukur. Ia segera
pergi ke ibunya dengan senyum penuh kebahagiaan, ibunya pun tersenyum bangga
dengan apa yang sudah dicapai Rina.

“bu, aku belum kalah bu.” Ucap Rina. Ibunya menangis haru seraya mendekap Rina
dalam pelukannya.
“ibu tau kau tidak akan kalah dengan keadaan. Kau hanya mundur satu langkah
untuk bisa maju tiga langkah. Semangat nak, banyak yang harus kamu perjuangkan
lagi, selamanya ibu akan mendukungmu” ucap ibunya
“selamat nak, kau memang anak yang hebat” ucap ayahnya
“terimakasih yah”. Mereka langsung berpelukan.