Anda di halaman 1dari 59

USULAN PENELITIAN

ANALISIS RASIO KEUANGAN DALAM MEMPREDIKSI


KONDISI FINANCIAL DISTRESS DIBURSA EFEK
INDONESIA

DANCE MESAK

NIM 1781611043

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam perkembangan globalisasi, ada beberapa dampak buruk yang bisa

dirasakan, salah satunya adalah global financial crisis pada tahun 2008 yang

berakibat pada melemahnya aktivitas bisnis secara umum. Sebagian besar negara

di seluruh dunia mengalami kemunduran dan bencana keuangan karena pecahnya

krisis keuangan tersebut. Krisis keuangan tersebut telah menyebabkan

kebangkrutan beberapa perusahaan publik di Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan

negara-negara lainnya. Di samping itu, di lingkungan dalam negeri, ada beberapa

dampak atas terjadinya krisis keuangan tersebut, salah satunya adalah terdapat

beberapa perusahaan yang menjadi de-listing akibat dari krisis tersebut.

Perusahaan bisa di de-listing dari Bursa Efek Indonesia (BEI) disebabkan karena

perusahaan tersebut berada pada kondisi financial distress atau sedang mengalami

kesulitan keuangan. Suatu perusahaan dapat dikategorikan sedang mengalami

financial distress dimana jika perusahaan tersebut memiliki kinerja yang

menunjukkan laba operasinya negatif. Fenomena lain dari financial distress

adalah banyaknya perusahaan yang cenderung mengalami kesulitan likuiditas,

dimana ditunjukkan dengan semakin turunnya kemampuan perusahaan dalam

memenuhi kewajibannya kepada kreditur (Hanifah, 2013).

Kondisi perekonomian di Indonesia yang masih belum menentu

mengakibatkan tingginya risiko suatu perusahaan untuk mengalami kesulitan

keuangan atau bahkan kebangkrutan. Kesalahan prediksi terhadap kelangsungan

1
2

operasi suatu perusahaan di masa yang akan datang dapat berakibat fatal yaitu

kehilangan pendapatan atau investasi yang telah ditanamkan pada suatu

perusahaan. Oleh karena itu, pentingnya model prediksi kebangkrutan suatu

perusahaan menjadi hal yang sangat dibutuhkan oleh berbagai pihak seperti

pemberi pinjaman, investor, pemerintah, akuntan, dan manajemen.

Kondisi financial distress yang tidak dapat diatasi maka tidak tertutup

kemungkinan perusahaan mengalami kebangkrutan. Karena dengan mengetahui

kondisi financial distress perusahaan sejak dini diharapkan dapat dilakukan

tindakan-tindakan untuk mengantisipasi kondisi yang mengarah pada

kebangkrutan. Financial distress dapat diukur melalui laporan keuangan dengan

cara menganalisis laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan hasil dari

suatu aktivitas yang bersifat teknis berdasar pada metode dan prosedur-prosedur

yang memerlukan penjelasan-penjelasan agar tujuan atau maksud untuk

menyediakan informasi yang bermanfaat dapat dicapai. Laporan keuangan dapat

digunakan sebagai alat untuk membuat proyeksi tentang berbagai aspek finansial

perusahaan di masa mendatang.

Untuk mengetahui adanya gejala kebangkrutan diperlukan suatu model

memprediksi financial distress untuk menghindari kerugian dalam nilai investasi.

Salah satu aspek pentingnya analisis terhadap laporan keuangan dari sebuah

perusahaan adalah untuk meramal kontinuitas atau kelangsungan hidup

perusahaan, sangat penting bagi manajemen dan pemilik perusahaan untuk

mengantisipasi kemungkinan adanya potensi kebangkrutan. Dengan adanya pasar

modal dapat dijadikan sebagai alat untuk merefleksikan kinerja dan kondisi
3

keuangan perusahaan. Pasar akan merespon positif melalui peningkatan harga

saham perusahaan jika kondisi keuangan dan kinerja perusahaan bagus. Para

investor dan kreditor sebelum menanamkan dananya pada suatu perusahaan akan

selalu melihat terlebih dahulu kondisi keuangan tersebut. Oleh karena itu, analisis

dan prediksi atas kondisi keuangan suatu perusahaan adalah sangat penting.

Oleh karena itu, salah satu bentuk informasi yang dibutuhkan seorang

investor dalam melakukan investasi adalah laporan keuangan perusahaan. Agar

informasi Laporan keuangan yang tersaji menjadi lebih bermanfaat dalam

pengambilan keputusan, maka data keuangan harus dikonversi menjadi informasi

yang berguna dalam pengambilan keputusan ekonomis. Salah satu cara untuk

menilai sebuah kinerja perusahaan adalah melakukan analisis laporan keuangan

dengan menggunakan rasio-rasio keuangan. Selain itu juga dengan analisis

laporan keuangan ini bisa memprediksi financial distress.

Kondisi financial distress bisa saja terjadi pada setiap perusahaan baik itu

perusahaan yang bergerak di sektor manufaktur maupun perusahaan non

manufaktur juga kemungkinan mengalami kondisi financial distress. Hal ini

terbukti dari beberapa fenomena yang terjadi diantaranya berdasarkan kesimpulan

hasil laporan tahunan Price Waterhouse Coopers (PWC) disektor pertambangan

yag diterima oleh majalah pertambangan memberikan informasi bahwa terdapat

40 perusahaan pertambangan global terbesar mencatat kerugian bersih kolektif

sebesar U$27 miliar pada tahun 2015. Hal itu disebabkan karena penurunan harga

komoditas sebesar 25% dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi demikian

kemudian berimbas pada perusahaan tambang di Indonesia, dimana pada tahun


4

2015 tidak ada perusahaan pertambangan di Indonesia dengan kapitalisasi pasar

melebihi U$4 miliar. Angka tersebut merupakan batas terendah agar dapat masuk

dalam jajaran 40 perusahaan pertambangan terbesar di dunia berdasarkan

kapitalisasi pasar. Hal ini terbukti pada perusahaan pertambangan yang tercatat di

Bursa Efek Indonesia turun dari Rp. 255 triliun pada 31 Desember 2014 menjadi

Rp. 161 triliun pada 31 Desember 2015 penurunannya sebesar 37% yang

disebabkan jatuhnya harga komoditas.

Fenomena lain mengenai kondisi financial distress terjadi juga pada dunia

perbankan, dimana sesuai dengan berita pada Liputan Khusus Perbankkan

mengatakan bahwa Ditengah gejolak krisis moneter yang makin menjadi, pada

bulan Februari 1998, pemerintah menggumumkan akan melebur empat bank

BUMN yakni Bank Exim, Bapindo, BDN dan BBSD menjadi satu bank baru

bernama Bank Mandiri dikarenakan akan menimbulkan kerugian negara yang

lebih besar sehinggan keempat bank tersebut ditutup. Dan pada tanggal 2 Oktober

1998 keempat bank tersebut resmi dilebur menjadi Bank Mandiri. Kasus lain yang

menjadi sorotan terjadinya likuidasi pada dunia perbankan adalah pada tahun

2005 hingga 2016 Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melikuidasi sebanyak 71

Bank. Selanjutnya pada bulan Oktober 2017 Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)

kembali melikuidasi sebanyak 83 bank. Hal ini disebabkan karena perbankan

mengalami gagal bisnis. Diantaranya, perencanaan yang kurang matang dan

pengelolaan yang kurang stabil (Kompas.com tanggal 6 November 2017).

Penelitian yang dilakukan oleh Altman (1968) merupakan penelitian awal

yang mengkaji pemanfaatan analisis rasio keuangan sebagai alat untuk


5

memprediksi kebangkrutan perusahaan. Model Altman ini dikenal dengan Z-score

yaitu score yang ditentukan dari hitungan standar kali nisbah– nisbah keuangan

yang menunjukkan tingkat kemungkinan kebangkrutan perusahaan. Machfoedz

(1994) menguji manfaat rasio keuangan dalam memprediksi laba perusahaan di

masa yang akan datang. Ditemukan bahwa rasio keuangan yang digunakan dalam

model, bermanfaat untuk memprediksi laba satu tahun ke depan, namun tidak

bermanfaat untuk memprediksi lebih dari satu tahun.

Penelitian ini dilakukan untuk menguji kembali beberapa faktor dalam

penelitian terdahulu yang mempengaruhi kondisi financial distress perusahan

karena dalam penelitian terdahulu yang hasilnya diperoleh ada yang berbeda

seperti dalam penelitian dari Platt dan Platt (2002) menunjukkan rasio likuiditas

memiliki hubungan negatif terhadap kemungkinan perusahaan akan mengalami

financial distress. Sedangkan dalam penelitian Srikalimah (2017) menunjukkan

likuiditas berpengaruh positif terhadap kondisi financial distress perusahaan.

Karena semakin besar rasio likuiditas maka semakin kecil perusahaan akan

mengalami kondisi financial distress.

Selain itu kondisi financial distress juga terjadi pada perusahaan-

perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Fenomena delistingnya

perusahaan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dianalisa dari berbagai sisi, salah

satunya model untuk memprediksi perusahaan yang mengalami kesulitan

keuangan sampai dengan ketegori kebangkrutan. Hal ini disebabkan karena

beberapa faktor dan salah satunya adalah terbelit utang yang besar dalam jangka

Panjang serta perusahaan terus mengalami kerugian. Perusahaan yang di delisting


6

dari Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai dengan tahun 2017 sebanyak 36

perusahaan. Berikut ini perusahaan yang di delisting dari Bursa Efek Indonesia

(BEI) dari tahun 2009 sampai dengan 2017.

Table 1.1.
Jumlah Perusahaan yang Delisting di Bursa Efek Indonesia (BEI)
Tahun 2009 – 2017
No. Tahun Delisting
1. 2009 8
2. 2011 5
3. 2012 4
4. 2013 7
5. 2014 1
6. 2015 3
7. 2017 8
Jumlah 36
Sumber: BEI 2018
Dari berbagai fenomena yang terjadi dapat disimpulkan bahwa kinerja

perusahaan sangatlah penting. Kinerja perusahaan adalah sebuah acuan bagi para

investor untuk melakukan investasi di perusahaan tersebut atau tidak. Kinerja

keuangan juga merupakan gambaran kondisi keuangan perusahaan pada suatu

periode tertentu menyangkut aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dana,

yang biasanya diukur dengan indikator kecukupan modal, likuiditas, dan

profitabilitas (Jumingan, 2008). Kinerja keuangan merupakan gambaran dari

pencapaian keberhasilan perusahaan dapat diartikan sebagai hasil yang telah

dicapai atas berbagai aktivitas yang telah dilakukan. Dapat dijelaskan bahwa

kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana
7

suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan

pelaksanaan keuangan secara baik dan benar (Fahmi, 2011).

Menilai sebuah kinerja perusahaan dapat dibuktikan dengan melihat dan

menganalisa laporan keuangan, salah satu yang menggunakan rasio keuangan

adalah penelitian yang berkaitan dengan manfaat laporan keuangan untuk tujuan

memprediksikan financial distress sebuah perusahaan. Kebangkrutan biasanya

diawali dengan terjadinya moment gagal bayar, hal ini disebabkan semakin besar

jumlah utang, semakin tinggi probabilitas financial distress. Perusahaan dengan

banyak kreditor akan semakin cepat bergerak ke arah financial distress, dibanding

perusahaan dengan kreditor tunggal. Apabila suatu perusahaan pembiayaannya

lebih banyak menggunakan utang, hal ini berisiko akan terjadi kesulitan

pembayaran di masa yang akan datang akibat utang lebih besar dari aset yang

dimiliki. Jika keadaan ini tidak dapat diatasi dengan baik, potensi terjadinya

financial distress pun semakin besar.

Rasio likuiditas juga dapat digunakan untuk memprediksi terjadinya

financial distress. Menurut Martono dan Agus (2002), rasio likuiditas merupakan

rasio yang menunjukan hubungan antara kas perusahaan dan aktiva lancar lainnya

dengan utang lancar, rasio ini juga digunakan untuk mengukur kemampuan

perusahan dalam memenuhi kewajiban - kewajiban financialnya yang harus

segera di penuhi. Rasio likuiditas yang biasa dipakai dalam berbagai penelitian

adalah current ratio & quick ratio.Current ratio merupakan rasio yang

menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka

pendeknya dengan menggunakan aktiva lancarnya. Sedangkan quick ratio dapat


8

menunjukan kemampuan aktiva lancar yang paling lancar mampu menutupi utang

lancar.

Menurut Toto (2008), ketidakmampuan membayar kewajiban secara tepat

waktu akan langsung dirasakan oleh kreditor, terutama kreditor yang berhubungan

dengan operasional perusahaan (supplier). Menurut Luciana (2003), hal ini telah

mengindikasikan adanya sinyal financial distress yang menyebabkan adanya

penundaan pengiriman dan masalah kualitas produk. Apabila perusahaan mampu

mendanai dan melunasi kewajiban jangka pendeknya dengan baik maka potensi

perusahaan mengalami financial distress akan semakin kecil.

Rasio profitabilitas dapat digunakan untuk memprediksi kondisi financial

distress. Menurut Mamduh (2010), rasio profitabilitas merupakan rasio yang

mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat

penjualan, aset dan modal saham tertentu. Rasio ini dicerminkan dalam Return on

Asset (ROA), rasio yang tinggi menunjukkan efisiensi manajemen aset. Begitu

juga dengan Return on Equity (ROE) rasio ini digunakan untuk melihat tingkat

efisiensi perusahaan dalam mengelola equity nya untuk menghasilkan laba bersih

perusahaan.

Rasio Leverage dapat digunakan sebagai indikator untuk memprediksi

terjadinya financial distress. Menurut Keown (2011), rasio utang/Leverage

menunjukkan seberapa banyak utang yang digunakan untuk membiayai aset-aset

perusahaan. Rasio leverage yang akan digunakan adalah debt ratio dan debt

equity ratio. Debt ratio yaitu total utang dibagi dengan total aktiva, informasi

rasio utang ini juga penting karena melalui rasio utang, kreditur dapat mengukur
9

seberapa tinggi risiko utang yang diberikan kepada suatu perusahaan. Sedangkan

debt equity ratio adalah rasio yang membandingkan jumlah utang terhadap

ekuitas. Rasio ini sering digunakan para analis dan para investor untuk melihat

seberapa besar utang perusahaan jika dibandingkan ekuitas yang dimiliki oleh

perusahaan atau para pemegang saham. Semakin tinggi angka debt equity ratio

maka diasumsikan perusahaan memiliki risiko yang semakin tinggi terhadap

likuiditas perusahaannya.

Salah satu analisis kinerja keuangan dengan menggunakan informasi

laporan arus kas adalah analisis rasio laporan arus kas. Analisis laporan arus kas

ini menggunakan komponen dalam laporan arus kas dan komponen neraca dan

laporan laba rugi sebagai informasi dalam analisis rasio. Laporan arus kas

merupakan campuran antara laporan laba-rugi dengan neraca (Subramanyam,

2010). Menurut Almilia (2006), rasio arus kas bersih meningkat, maka laba

perusahaan akan meningkat dan hal ini akan meningkatkan nilai perusahaan dan

selanjutnya juga akan menaikkan laba perusahaan sehingga perusahaan tidak akan

mengalami financial distress.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis mengambil judul “Analisis Rasio

Keuangan Untuk Memprediksi Kondisi Financial Distress di Bursa Efek

Indonesia”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah :


10

1) Apakah likuiditas berpengaruh pada kondisi financial distress perusahaan

yang terdaftar terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

2) Apakah profitabilitas berpengaruh pada kondisi financial distress

perusahaan yang terdaftar terdaftar di Bursa Efek Indonesia ?

3) Apakah financial leverage berpengaruh pada kondisi financial distress

perusahaan yang terdaftar terdaftar di Bursa Efek Indonesia ?

4) Apakah arus kas operasi berpengaruh pada kondisi financial distress

perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini

antara lain:

1) Untuk menganalisis pengaruh likuiditas pada kondisi financial distress

perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia;

2) Untuk menganalisis pengaruh profitabilitas pada kondisi financial distress

perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia;

3) Untuk menganalisis pengaruh financial leverage pada kondisi financial

distress perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia;

4) Untuk menganalisis pengaruh arus kas operasi pada kondisi financial

distress perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun kegunaan pengembangan ilmu yang diharapkan dari hasil penelitian

ini adalah :
11

1) Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan memberikan informasi dan wawasan serta

pemahaman yang lebih luas mengenai bagaimana pengaruh rasio keuangan

dalam memprediksi financial distress perusahaan yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia dan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu

pengetahuan.

2) Bagi Perusahaan

Hasil analisis ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi

manajemen perusahaan dalam melakukan serta mengevaluasi aktivitas

keuangan agar terhidar dari aspek-aspek yang mempengaruhi kebangkrutan

perusahaan serta dapat memberikan tanda awal adanya financial distress.

3) Bagi Investor

Dapat memberikan informasi tentang reaksi pasar modal terhadap investasi

sebagai pertimbangan sebelum pengambilan keputusan investasi saham.

4) Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam

mengkaji masalah yang sama sehingga segala kekurangan yang ada pada

penelitian ini dapat diperbaiki dan disempurnakan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Landasan Teoritis

2. 1.1 Nilai Perusahaan

Memaksimalkan nilai perusahaan sangat penting artinya bagi suatu

perusahaan, karena dengan memaksimalkan nilai perusahaan berarti juga

memaksimalkan tujuan utama perusahaan. Nilai perusahaan merupakan persepsi

investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang sering dikaitkan dengan

harga saham. Harga saham yang tinggi nilai perusahaan juga tinggi dan dengan

otomatis return perusahaanpun akan tinggi pula. Nilai perusahaan yang tinggi

akan membuat pasar percaya tidak hanya pada kinerja perusahaan saat ini namun

juga pada prospek perusahaan dimasa depan.

Menurut Harmono (2009:223), nilai perusahaan adalah kinerja perusahaan

yang dicerminkan oleh harga saham yang dibentuk oleh permintaan dan

penawaran pasar modal yang merefleksikan penilaian masyarakat terhadap kinerja

perusahaan.

Menurut Jogiyanto (2000:392), Informasi yang dipublikasikan sebagai

suatu pengumuman akan memberikan signal bagi investor dalam pengambilan

keputusan investasi. Jika pengumuman tersebut mengandung nilai positif, maka

diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh

pasar. Pada waktu informasi diumumkan dan semua pelaku pasar sudah menerima

informasi atas suatu perusahaan, pelaku pasar terlebih dahulu menginterpretasikan

dan menganalisisis informasi tersebut sebagai signal baik (good news) atau signal

12
13

buruk (bad news). Jika pengumuman tersebut menjadi signal baik bagi investor

maka akan terjadi peningkatan dalam volume perdagangan saham yang

mengakibatkan tingginya harga saham di pasar modal sebagai cerminan atas nilai

perusahaan.

Bagi perusahaan yang sudah go public, nilai perusahaan akan tercermin

dari nilai pasarnya. Berdasarkan definisi nilai perusahaan yang dijelaskan di atas

maka dapat dikaitkan dengan sebuah teori yang disebut Signalling Theory, yang

mana Signalling Theory sendiri menekankan pada pentingnya informasi yang

dikeluarkan oleh perusahaan terhadap keputusan investasi pihak luar perusahaan

(investor).

2. 1.2 Teori Sinyal

Teori sinyal mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah

perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal ini

berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk

merealisasikan keinginan pemilik. Sinyal dapat berupa promosi atau informasi

lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan

lain. Menurut Jogiyanto (2000) menyatakan bahwa informasi yang dipublikasikan

kepada publik sebagai sebuah pengumuman akan memberikan signal bagi

pengguna informasi keuangan dalam pengambilan keputusan.

Informasi yang diterima oleh investor terlebih dahulu diterjemahkan

sebagai sinyal yang baik (good news) atau sinyal yang jelek (bad news). Apabila

laba yang dilaporkan oleh perusahaan meningkat maka informasi tersebut dapat

dikategorikan sebagai sinyal baik karena mengindikasikan kondisi perusahaan


14

yang baik. Sebaliknya apabila laba yang dilaporkan menurun maka perusahaan

berada dalam kondisi tidak baik sehingga dianggap sebagai sinyal yang jelek

2. 1.3 Laporan Keuangan

2. 1.3.1 Pengertian Laporan Keuangan

Kinerja keuangan perusahaan dapat dinilai dan dianalisa dengan

menggunakan suatu Analisa keuangan yang disebut analisa rasio keuangan. Untuk

mendapatkan keadaan tentang perkembangan kinerja perusahaan, perlu diadakan

interprestasi atau analisis terhadap data keuangan dari perusahaan yang

bersangkutan dan data tersebut tercermin dalam laporan keuangan.

Menurut Hanafi (2004:30), laporan keuangan menjadi penting karena

memberikan input informasi untuk pengambilan keputusan. Laporan keuangan

akan memberikan informasi mengenai profitabilitas, risiko, timing aliran kas yang

semuanya akan mempengaruhi harapan pihak-pihak yang berkepentingan. Periode

penerbitan laporan keuangan pada umumnya diterbitkan setiap tahun operasi atau

lebih dikenal dengan laporan keuangan tahunan (financial statement).

Menurut IAI (2009 : 27), laporan keuangan merupakan bagian dari proses

pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca,

laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam

berbagai cara seperti misalnya sebagai laporan arus kas atau laporan arus dana),

catatan-cacatan dan bagian integral dari laporan keuangan.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa laporan keuanagn adalah

Suatu informasi mengenai keuangan perusahaan dalam suatu periode tertentu

yang digunakan untuk menggambarkan kinera suatu perusahaan.


15

2. 1.3.2 Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan laporan keuangan menurut Pernyataan Standar Akuntansi

Keuangan (PSAK) No. 1 (2015:3) adalah tujuan laporan keuangan adalah

memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas

entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam

pembuatan keputusan ekonomi.

Laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggung jawaban

manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.

Dalam rangka mencapai tujuan laporan keuangan, laporan keuangan menyajikan

informasi mengenai entitas yang meliputi: “asset, liabilitas, ekuitas, pendapatan

dan beban termasuk keuntungan dan kerugian, kontribusi dari dan distribusi

kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik dan arus kas”. Informasi

tersebut, beserta informasi lainnya yang terdapat dalam catatan atas laporan

keuangan, membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas masa depan

dan khususnya, dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara kas.

Tujuan laporan keuangan menurut Bernstein (1983) dalam Harahap (2013)

adalah:

1) Screening

Mengetahui situasi dan kondisi perusahaan dari laporan keuangan tanpa

pergi langsung ke lapangan.

2) Understanding

Memahami perusahaan, kondisi keungan, dan hasil usahanya

3) Forcasting
16

Meramalkan kondisi keuangan di masa yang akan datang

4) Diagnosis

Melihat kemungkinan adanya masalah-masalah yang terjadi baik dalam

manajemen, operasi, keuangan atau masalah lain dalam perusahaan

5) Evaluation

Menilai prestasi manajemen dalam mengelola perusahaan

2. 1.3.3 Jenis-Jenis Laporan Keuangan

Laporan keuangan yang lengkap pada umumnya terdapat beberapa jenis,

Menurut Munawir (2010:5) jenis-jenis laporan keuangan tersebut adalah Laporan

keuangan pada umumnya terdiri dari neraca dan perhitungan rugi laba serta

laporan Perubahan Modal, dimana Neraca menunjukkan/menggambarkan jumlah

aktiva, hutang dan modal dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu, sedangkan

Perhitungan (Laporan) Rugi Laba memperlihatkan hasil-hasil yang telah dicapai

oleh perusahaan serta biaya yang terjadi selama periode tertentu, dan Laporan

Perubahan Modal menunjukkan sumber dan penggunaan atau alasan-alasan yang

menyebabkan perubahan modal perusahaan.

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) pada Standar Akuntansi

Keuangan (2009), jenis-jenis laporan keuangan meliputi :

1) Neraca, adalah laporan yang sistematis tentang aktiva yaitu harta yang

dimiliki oleh perusahaan, hutang yaitu kewajiban kepada perusahaan lain

yang belum dipenuhi serta modal yaitu hak atau bagian yang dimiliki oleh

pemilik perusahaan yang dapat menunjukkan keadaan keuangan

perusahaan pada tanggal tertentu.


17

2) Laporan laba-rugi, yaitu suatu laporan yang menunjukkan pendapatan-

pendapatan dan biaya-biaya dari suatu unit usaha beserta laba/rugi yang

diperoleh oleh suatu perusahaan pada periode tertentu.

3) Laporan perubahan posisi keuangan, yaitu suatu laporan yang berguna

untuk meringkas kegiatan-kegiatan pembelanjaan dan investasi yang

dilakukan oleh perusahaan, termasuk jumlah dana yang dihasilkan dari

kegiatan usaha perusahaan dalam tahun buku bersangkutan serta

melengkapi penjelasan tentang perubahan-perubahan dalam posisi

keuangan selama tahun buku yang bersangkutan.

4) Laporan arus kas, yaitu laporan yang bertujuan untuk menyajikan informasi

relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas suatu perusahaan selama

periode tertentu.

5) Catatan atas laporan keuangan, meliputi penjelasan atas rincian jumlah

yang tertera dalam neraca, laporan laba-rugi, laporan aarus kas dan laporan

perubahan ekuitas.

2. 1.4 Analisis Laporan Keuangan

2. 1.4.1 Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Analisis laporan keuangan merupakan suatu teknik analisis yang dalam

banyak hal dapat memberikan indikator tertentu dan masalah-masalah yang

timbul disekitar kondisi lingkupnya. “Analisis laporan keuangan adalah

menguraikan pos-pos keuangan menjadi unit informasi yang lebih kecil dan

melihat hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mempunyai makna antara

satu dengan yang lain baik antara data kuantitatif maupun data non-kuantitatif
18

dengan tujuan untuk mengetahui kondisi keuangan lebih dalam yang sangat

penting dalam proses menghasilkan keputusan yang tepat.” (Harahap 2013:190)

Kegiatan analisis laporan keuangan ini berfungsi untuk memaksimalkan

informasi yang masih relative sedikit menjadi informasi yang lebih luas dan

akurat. Hasil analisis laporan keuangan akan dapat membongkar inkonsistensi dari

suatu laporan.

2. 2.4.2 Tujuan Analisis Laporan Keuangan

Analisis laporan keuangan yang dilakukan dimaksudkan untuk menambah

informasi yang ada dalam suatu laporan keuangan. Menurut Harahap (2013:195)

tujuan dari analisis laporan keuangan adala sebagai berikut:

1) Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam daripada yang

terdapat dari laporan keuangan biasa.

2) Dapat menggali informasi yang tidak tampak secara kasat mata (explicit)

dari suatu laporan keuangan atau yang berada di balik laporan keuangan

(implicit).

3) Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.

4) Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam

hubungannya dengan suatu laporan keuangan baik dikatakan dengan

komponen intern laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasi

yang diperoleh dari luar perusahaan.

5) Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model-

model dan teori-teori yang terdapat di lapangan.


19

6) Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh para pemngambil

keputusan, antara lain:

a) Dapat menilai prestasi perusahaan;

b) Dapat memproyeksikan keuangan perusahaan;

c) Dapat menilai kondisi keuangan masa lalu dan masa sekarang dari

aspek waktu tertentu (posisi keuangan, hasil usaha perusahaan,

likuiditas, solvabilitas, aktivitas, rentabilitas atau profitabilitas, dan

indikator pasar modal);

d) Menilai perkembangan dari waktu ke waktu;

e) Melihat komposisi struktur keuangan, arus dana.

7) Dapat menentukan peringkat perusahaan menurut criteria tertentu yang

sudah dikenal dalam dunia bisnis.

8) Dapat membandingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain dengan

periode sebelumnya atau dengan standaar industry normal atau dengan

standar ideal.

9) Dapat memahami situasi dan kondisi keuanghan yang dialami perusahaan,

baik posisi keuangan, hasil usaha, strukutur keuangan, dan sebagainya.

10) Memprediksi potensi apa yang akan dialami perusahaan di masa yang akan

datang

2. 1.5 Analisis Rasio Keuangan

2. 1.5.1 Pengertian Analisis Rasio Keuangan

Analisis laporan keuangan dapat menjadi salah satu alat untuk

memprediksi kebangkrutan. Laporan keuangan dapat dijadikan dasar untuk


20

mengukur kesehatan suatu perusahaan melalui rasio-rasio keuangan yang ada.

Menurut Munawir (2010:68) rasio keuangan adalah furture ariented atau

berorientasi dengan masa depan, artinya bahwa dengan analisi rasio keuangan

dapat digunakan sebagai alat untuk meramalkan keadaan keuangan serta hasil

usaha dimasa yang akan dating. Dengan angka-angka rasio historis atau kalua

memungkinkan dengan angka rasio industry (yang dilengkapi dengan data

lainnta) yang diproyeksikan yang merupakan salah satu bentuk perencanan

keuangan perusahaan.

2. 1.5.2 Jenis-Jenis Analisis Rasio Keuangan

Beberapa rasio keuangan dapat dikelompokkan menjadi (Machfoedz,1998

dalam Sidik,2003) :

1) Rasio Likuiditas, menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi

kewajiban financial jangka pendek. Rasio ini ditunjukkan pada besar kecilnya

aktiva lancar.

a) Current Ratio, merupakan perbandingan antara aktiva lancer dengan

hutang lancar.

b) Quick Ratio, dihitung dengan mengurangkan persediaan dari aktiva lancar,

kemudian membagi sisanya dengan hutang lancar.

2) Rasio Sensitivitas, menunjukkan proporsi penggunaan hutang guna

membiayai investasi perhitungannya ada dua cara, pertama memperhatikan

data yang ada di neraca guna menilai seberapa besar dana pinjaman digunakan

dalam perusahaan; kedua, mengukur resiko hutang dari laporan laba rugi
21

untuk menilai seberapa besar beban tetap hutang (bunga ditambah pokok

pinjaman) dapat ditutup oleh laba operasi. Rasio sensitivitas ini antara lain :

a) Total debt to total assets, mengukur presentase penggunaan dana dari

kreditur yang dihitung dengan cara membagi total hutang dengan total

aktiva.

b) Debt equity ratio, perbandingan antara total utang dengan modal.

c) Time interest earned, dihitung dengan membagi laba sebelum bunga dan

pajak (EBIT) dengan beban bunga. Rasio ini mengukur seberapa jauh laba

bisa berkurang tanpa menyulitkan perusahaan dalam memenuhi kewajiban

membayar bunga tahunan.

3) Rasio produktivitas, mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan

sumber-sumber daya sebagaimana digariskan oleh kebijaksanaan perusahaan.

Rasio ini menyangkut perbandingan antara penjualan dengan aktiva

pendukung terjadinya penjualan artinya rasio ini menganggap bahwa suatu

perbandingan yang “layak” harus ada antara penjualan dan berbagai aktiva

misalnya : persediaan, piutang, aktiva tetap, dan lain-lain. Rasio produksi

meliputi inventory turnover, fixed assets turnover, account receivable

turnover, total assets turnover.

4) Rasio profitabilitas, digunakan untuk mengukur seberapa efektif pengelolaan

perusahaan sehingga menghasilkan keuntungan,

a) Profit margin on sales, dihitung dengan cara membagi laba setelah pajak

dengan penjualan.
22

b) Return on total assets, perbandingan antara laba setelah pajak dengan total

aktiva guna mengukur tingkat pengembalian investasi total.

c) Return on net worth, perbandingan antara laba setelah pajak dengan modal

sendiri guna mengukur tingkat keuntungan investasi pemilik modal

sendiri.

5) Rasio pasar, diterapkan untuk perusahaan yang telah go public dan mengukur

kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai terutama pada pemegang

saham dan calon investor.

a) Price earning ratio, rasio antara harga pasar saham dengan laba per

lembar saham. Jika rasio ini lebih rendah dari pada rasio industri sejenis,

bisa merupakan indikasi bahwa investasi pada saham perusahaan ini lebih

beresiko dari pada rata-rata industri.

b) Market to book value, perbandingan antara nilai pasar saham dengan nilai

buku saham, juga merupakan indikasi bahwa para investor menghargai

perusahaan.

2. 1.6 Laporan Arus Kas

2. 1.6.1 Pengertian Laporan Arus Kas

Menurut PSAK No.2 (2016), laporan arus kas harus melaporkan arus

kas selama periode tertentu dan diklasifikasikan menjadi 3 aktivitas, yaitu

aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas pendanaan.

2. 1.6.2 Tujuan Laporan Arus Kas

Martani, Dwi, dkk,(2016) tujuan dari laporan arus kas merupakan

penyajian informasi mengenai perubahan arus kas dan setara kas perusahaan
23

selama satu eriode yang digolongkan berdasar dari aktivitas operasi, investasi, dan

pendanaan.

2. 1.6.3 Analisis Rasio Arus Kas

Salah satu analisis kinerja keuangan dengan menggunakan informasi

laporan arus kas adalah analisis rasio laporan arus kas. Analisis laporan arus kas

ini menggunakan komponen dalam laporan arus kas dan komponen neraca dan

laporan laba rugi sebagai informasi dalam analisis rasio.

Menurut Darsono dan Ashari di dalam bukunya “Pedoman Praktis

Memahami Laporan Keuangan” (2005:91), alat analisis rasio laporan arus kas

yang diperlukan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan antara lain :

1) Rasio Likuiditas Arus Kas

a) Rasio Arus Kas Operasi (AKO)

Rasio Arus Kas Operasi menghitung kemampuan arus kas operasi

dalam membayar kewajiban lancar. Rasio ini diperoleh dengan membagi

arus kas operasi dengan kewajiban lancar. Rasio arus kas operasi yang

berada dibawah 1 berarti terdapat kemungkinan perusahaan tidak mampu

membayar kewajiban lancar, tanpa menggunakan arus kas dan aktivitas

lain.

b) Rasio Cakupan Arus Dana (CAD)

Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan

dalam menghasilkan kas guna membayar komitmen-komitmennya (bunga,

pajak, dan dividen preferen).Rasio yang besar menunjukkan bahwa


24

kemampuan yang lebih baik dari laba sebelum pajak dalam menutup

komitmen-komitmen yang jatuh tempo dalam satu tahun.

c) Rasio Cakupan Kas terhadap Bunga (CKB)

Rasio ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan

dalam membayar bunga atas hutang yang telah ada. Rasio ini diperoleh

dengan arus kas dari operasi tambah pembayaran bunga dan pembayaran

pajak dibagi pembayaran bunga.Dengan rasio yang besar menunjukkan

bahwa arus kas operasi mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam

menutup biaya bunga sehingga kemungkinan perusahaan tidak mampu

membayar bunga sangat kecil.

d) Rasio Cakupan Kas terhadap Hutang Lancar (CKHL)

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar

hutang lancar berdasarkan arus kas operasi bersih. Rasio ini diperoleh

dengan arus kas operasi ditambah dividen kas dibagi dengan hutang

lancar.Rasio yang rendah menunjukkan kemampuan yang rendah dari arus

kas operasi dalam menutup hutang lancar.

e) Rasio Pengeluaran Modal (PM)

Rasio ini digunakan untuk mengukur modal tersedia untuk investasi

dan pembayaran hutang yang ada. Rasio ini diperoleh dengan arus kas

operasi dibagi dengan pengeluaran modal.Rasio yang tinggi menunjukkan

kemampuan yang tinggi dari arus kas dalam membiayai pengeluaran

modal.
25

f) Rasio Total Hutang (TH)

Rasio ini menunjukkan jangka waktu pembayaran hutang oleh

perusahaan dengan asumsi semua arus kas operasi digunakan untuk

membayar hutang. Dengan mengetahui rasio ini, kita bisa menganalisis

dalam jangka waktu berapa lama perusahaan akan mampu membayar

hutang dengan menggunakan arus kas yangdihasilkan dari aktivitas

operasioanal perusahaan.Rasio yang cukup rendah menunjukkan bahwa

perusahaan mempunyai kemampuan yang kurang baik dalam membayar

semua kewajibannya dari arus kas yang berasal dari aktivitas normal

operasi perusahaan.

2) Rasio Fleksibilitas Arus Kas

a) Rasio Arus Kas Bersih Bebas (AKBB)

Rasio ini berguna untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam

memenuhi kewajiban kas dimasa mendatang.

b) Rasio Kecukupan Arus Kas (KAK)

Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menyediakan

kas untuk memenuhi kewajibannya dalam jangka 5 tahun mendatang.Rasio

yang rendah menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan yang rendah

dalam menyediakan kas untuk memenuhi kewajibannya dalam jangka 5

tahun mendatang.

2. 1.7 Financial Distress

2. 1.7.1 Pengertian Financial Distress


26

Financial distress merupakan salah satu kajian menarik yang terus diteliti

baik dilihat dari manajemen keuangan maupun akuntansi. Kondisi financial

distress merupakan kondisi dimana keuangan perusahaan dalam keadaan tidak

sehat atau krisis. Menurut Platt dan Platt (2002) dalam Ida Fitriyah dan Hariyati

(2013) mendefinisikan financial distress sebagai tahap penurunan kondisi

keuangan yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan ataupun likuidasi.

Munawir (2004:22) mendefinisikan financial distress atau bankruptcy

(kebangrutan) sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan dalam

menjalankan operasi perusahaan untuk menghasilkan laba dan juga sebagai

likuidasi perusahaan (penutupan perusahaan insolvabilitas). Maka dapat

disimpulkan financial distress adalah keadaan perusahaan dimana memiliki

potensi untuk mengalami kebangkrutan karena perusahaan tidak mampu

membayar kewajibannya dan menghasilkan laba yang kecil yang memberikan

dampak pada perubahan modal sehingga perlu restrukturisasi pada perusahaan

yang bersangkutan.

2. 1.7.2 Penyebab Financial Distress

Penyebab financial distress menurut Fachruddin (2008) adalah

kelompok penyebab- penyebab kesulitan bisa disebut dengan model dasar

kebrangkutan atau trinitas penyebab kesulitan keuanan, ada tiga alasan yang

munkin mengapa perusahaan menjadi bangkrut, yaitu:

1) Neoclassical Model

Pada kasus ini kebangkrutan terjadi jika alokasi sumber daya idak

tepat. Kasus restrukrurisasi ini terjadi ketika kebangkrutan mempunyai


27

campuran asset yang salah. Mengestimasi kesulitan dilakukan dengan data

neraca dan laporan laba rugi. Misalnya profit/assets (untuk mengukur

profitabilitas) dan liabilities assets.

2) Financial Model

Model ini mengestimasi kesulitan dengan indicator keuangan atau

indicator kinerja seperti turnover/total assets, revenues/turnover, return on

asset, return on equity, profit margin, stock turnover, receivables turnover,

cash flow/total equyti, debt ratio, cash flow/(liebilities-reserves), current

ratio, acid test, current liquidity, short term asset/daily operating expense,

gearing ratio, turnover per employe, coverage of fixed assets, working

capital, total equity per share, earning per share ratio.

3) Coporate Govermance Model

Kebangkrutan mempunyai campuran asset dan truktur keuangan

yang benar tapi dikelola dengan buruk. Ketidakefesienan ini mendorong

perusahaan menjadi out of the market sebagai konsekuensi dari malasah

dalam tata kelola perusahaan yang tak terpecahkan.

2. 2 Penelitian Terdahulu

Srikalimah (2017) meneliti tentang Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas Dan

Leverage Dalam Memprediksi Financial Distress. Penelitian ini bertujuan untuk

menguji adanya pengaruh profitabilitas yang diukur dengan menggunakan return

on asset (ROA), likuiditas yang diukur dengan menggunakan current ratio (CR),

dan leverage yang diukur dengan menggunakan debt to equity ratio (DER) dalam

memprediksi financial distress pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di


28

Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini termasuk penelitian kausatif sedangkan

populasi penelitian diambil dari semua perusahaan manufaktur yang terdaftar di

BEI tahun 2009 sampai 2013. Untuk sampel penelitian ini ditentukan dengan

metode purposive sampling sehingga diperoleh 29 sampel perusahaan. Jenis data

sekunder ini diperoleh dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD). Metode

analisis yang digunakan adalah analisis regresi dengan menggunakan bantuan

SPSS Versi 19 Berdasarkan analisis regresi berganda diperoleh hasil tingkat

signifikansi 5%, maka hasil penelitian ini menyimpulkan: (1) profitabilitas

mempunyai mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap financial

distress. Secara parsial (uji t) t hitung rasio profitabilitas (X1) adalah 3,925 > t

tabel 2,052 dan nilai r = 0,559 dengan signifikasi 0,001 < 0.05; (2) rasio likuiditas

mempunyai pengaruh positif, namun tidak signifikan terhadap financial distress. t

hitung rasio likuiditas (X2) adalah 1,149 < t tabel 2,052 dan nilai r = 0,186 dengan

signifikasi 0,261 > 0,05; (3) leverage mempunyai pengaruh sangat rendah dan

tidak signifikan dalam memprediksi financial distress pada perusahaan

manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. t hitung rasio leverage (X3)

adalah 1,613 < t tabel 2,052 dengan signifikasi 0,119 diartikan bahwa dan nilai r =

0,081. Berdasarkan penelitian diatas, disarankan: (1) Bagi perusahaan, dapat

dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan perbaikan sebelum

financial distress dan menyebabkan kebangkrutan; (2) Bagi akademisi dan peneliti

dapat menambah sebuah bukti empiris dan ilmu pengetahuan mengenai pengaruh

profitabilitas, likuiditas dan leverage dalam memprediksi financial distress,

sehingga dapat dilaksanakan dalam penelitian yang sejalan dengan ini; (3) Bagi
29

investor, dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan

investasi yang tepat.

Hery Wijarnarto dan Anik Nurhidayati (2016), Pengaruh Rasio Keuangan

Dalam Memprediksi Financial Distress Pada Perusahaan Di Sektor Pertanian Dan

Pertambangan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini bertujuan

untuk mengetahui pengaruh current ratio, debt to equity ratio, return on equity

dan net profit margin dalam memprediksi kondisi financial distress pada

perusahaan di sektor pertanian dan pertambangan yang terdaftar di BEI periode

2011-2014. Penelitian ini menggunakan sampel akhir yang diperoleh sebanyak 40

observasi. Pengambilan sampel ditentukan dengan metode purposive sampling

dan analisis data dilakukan dengan menggunakan alat uji regresi linier berganda

yang terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji

multikolinieritas, uji autokorelasi, uji heteroskeditas dan uji normalitas. Hasil

analisis data penelitian menunjukkan bahwa variabel current ratio dan net profit

margin berpengaruh positif signifikan dalam memprediksi financial distress,

variabel return on equity dan debt to equity ratio berpengaruh negatif signifikan

dalam memprediksi financial distress pada perusahaan. Hasil uji determinasi

menunjukkan bahwa variabel current ratio, debt to equity ratio, return on equity

dan net profit margin mampu menjelaskan financial distress sebesar 70,5%,

sedangkan sisanya 29,5% dijelaskan oleh faktor lain yang belum masuk dalam

model penelitian ini.

Luciana Spica Almilia & Kristijadi (2003), Analisis Rasio Keuangan

Untuk Memprediksi Kondisi Financial Distress Perusahaan Manufaktur Yang


30

Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta. Kesulitan finansial mendahului kebangkrutan.

Sebagian besar model distress keuangan benar-benar mengandalkan data

kebangkrutan, yang lebih mudah didapat. Tujuan penelitian ini untuk menguji

rasio keuangan yang mempengaruhi kondisi financial distress suatu perusahaan.

Sampel penelitian ini terdiri dari 24 perusahaan marabahaya dan 37 perusahaan

non-distress, dipilih secara purposive sampling. Metode statistik yang digunakan

untuk menguji hipotesis penelitian adalah regresi logistik. Hasilnya menunjukkan

bahwa rasio marjin laba (net income / net sales), rasio leverage keuangan (current

liabilities / total assets) rasio likuiditas (aktiva lancar / kewajiban lancar) dan

pertumbuhan (laba bersih / total pertumbuhan aset) merupakan variabel yang

signifikan untuk menentukan perusahaan financial distress.

Orina Andre (2013), Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas dan Leverage

dalam Memprediksi Financial Distress pada Perusahaan Aneka Industri di BEI.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh profitabilitas yang diukur dengan

return on asset, likuiditas yang diukur dengan current ratio, dan leverage yang

diukur dengan debt ratio dalam memprediksi financial distress pada perusahaan

aneka industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini tergolong

penelitian kausatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang

aneka industri yang terdaftar di BEI tahun 2006 sampai 2010. Sedangkan sampel

penelitian ini ditentukan dengan metode purposive sampling sehingga diperoleh

46 perusahaan sampel. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang

diperoleh dari Indonesia capital market directory dan www.idx.co.id. Metode

analisis yang digunakan adalah analisis regresi logistik. Berdasarkan hasil analisis
31

regresi logistik dengan tingkat signifikansi 5%, maka hasil penelitian ini

menyimpulkan: (1) profitabilitas mempunyai pengaruh negatif dan signifikan

dalam memprediksi financial distress pada perusahaan aneka industri yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan nilai wald test sebesar 7.167 dan nilai

signifikansi 0.007 < 0.05, (2) likuiditas tidak berpengaruh terhadap dalam

memprediksi financial distress pada perusahaan aneka industri yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia dengan nilai wald test sebesar 2.374 dan nilai signifikansi

0.123 > 0.05, (3) leverage mempunyai pengaruh positif dan signifikan dalam

memprediksi financial distress pada perusahaan aneka industri yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia dengan nilai wald test sebesar 17.995 dan nilai signifikansi

0.000 < 0.05. Berdasarkan hasil penelitian diatas, disarankan: (1) Bagi

perusahaan, dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan

tindakan-tindakan perbaikan sebelum financial distress berkembang menjadi

parah dan menyebabkan kebangkrutan; (2) Bagi akademisi dan peneliti

selanjutnya, dapat menambah sebuah bukti empiris dan ilmu pengetahuan

mengenai pengaruh profitabilitas, likuiditas dan leverage dalam memprediksi

financial distress, sehingga dapat menjadi masukan dalam penelitian yang sejalan

dengan ini; (3) Bagi investor, dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam

pengambilan keputusan investasi yang tepat.

Imam Ma’ud Reva Maymi Srengga (2011), Analisis Rasio Keuangan

Untuk Memprediksi Kondisi financial distress Perusahaan Manufaktur yang

Terdaftar di BEI. Tujuan penelitian ini antara lain (1) untuk menganalisis

pengaruh likuiditas terhadap kondisi financial distress perusahaan manufaktur


32

yang terdaftar di BEI; (2) untuk menganalisis pengaruh profitabilitas terhadap

kondisi financial distress perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI; (3) untuk

menganalisis pengaruh financial leverage terhadap kondisi financial distress

perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI; (4) untuk menganalisis pengaruh

arus kas operasi terhadap kondisi financial distress perusahaan manufaktur yang

terdaftar di BEI. Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2010. Teknik pengambilan

sampel yang digunakan dalam penelitian adalah metode purposive sampling.

Sampel penelitian sebanyak 62 perusahaan dengan jumlah observasi 310. Metode

analisis data yang digunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa likuiditas tidak berpengaruh terhadap kondisi financial distress.

Profitabilitas berpengaruh terhadap kondisi financial distress. Financial leverage

tidak berpengaruh terhadap kondisi financial distress. Arus kas dari aktivitas

operasi berpengaruh terhadap kondisi financial distress perusahaan manufaktur

yang terdaftar di BEI.

Wahyu Widarjo & Doddy Setiawan (2009), Pengaruh Rasio Keuangan

Terhadap Kondisi financial distress Perusahaan Otomotif. Memberikan hasil

bahwa likuiditas yang dikur dengan current ratio dan profitabilitas yang diukur

dengan return on asset tidak berpengaruh terhadap kondisi financial distress

sedangkan likuiditas yang diukur dengan quick ratio dan leverage yang diukur

dengan debt ratio berpengaruh terhadap kondisi financial distress.

Robert Odero Otom (2014), Predicting Financial Distress Using Financial

Ratios In Companies Listed In Nairobi Stock Exchange (2003-2011). Tujuan dari


33

penelitian ini adalah untuk mengkonfirmasi apakah rasio keuangan dapat

digunakan untuk memprediksi kesulitan keuangan di sektor non-keuangan

perusahaan Kenya yang terdaftar di Nairobi Stock Exchange. Penelitian ini

menjawab pertanyaan penelitian berikut: Apa variabel yang mengungkap kondisi

yang kondusif bagi kesulitan keuangan? Seberapa baik rasio keuangan dalam

memprediksi kesulitan keuangan? Rasio mana yang paling akurat dalam

memprediksi financial distress? Penelitian ini bersifat deskriptif. Data sekunder

digunakan dan ini diperoleh melalui peninjauan literatur termasuk artikel, jurnal

dan laporan keuangan dan laporan yang dipublikasikan. Studi ini meneliti

beberapa rasio keuangan dalam laporan keuangan kelompok perusahaan yang

mengalami tekanan finansial dan perusahaan yang secara aktif menyukai suara di

Kenya untuk periode 2003 hingga 2011 dengan tujuan untuk menentukan rasio

yang paling signifikan dan dapat diandalkan untuk memprediksi tekanan

keuangan. Perusahaan dipilih dari sektor non-keuangan. Seperti dalam beberapa

studi sebelumnya perusahaan-perusahaan dikategorikan ke dalam tertekan secara

finansial dan tidak tertekan. Perusahaan dikategorikan tertekan jika (1) perusahaan

mengalami kerugian selama dua tahun berturut-turut atau (2) laporan yang diaudit

menunjukkan bahwa ekuitas pemegang saham lebih rendah dari pada modal

terdaftar. Penelitian ini menerapkan rasio yang diidentifikasi dalam penelitian

sebelumnya. Rasio yang dipilih dianalisis menggunakan metode backward

stepwise untuk menentukan yang itu secara statistik signifikan. Penelitian ini

kemudian menggunakan metode analisis diskriminan untuk memperkirakan

model yang memprediksi financial distress. Analisis ini membandingkan rasio


34

keuangan yang serupa untuk kedua kelompok perusahaan dengan tujuan untuk

menjelaskan hubungan antara variabel penjelas dan kesulitan keuangan. Model

statistik kemudian digunakan untuk menguji kekuatan prediksi rasio keuangan.

Studi ini menegaskan bahwa ada variabel yang mengungkapkan kondisi yang

kondusif terhadap kesulitan keuangan. Studi ini menemukan bahwa variabel yang

mengungkapkan kesulitan keuangan adalah yang terkait dengan profitabilitas,

leverage dan efisiensi operasional. Penelitian ini juga menegaskan bahwa rasio

keuangan dapat memprediksi kesulitan keuangan untuk sektor non-keuangan

perusahaan Kenya yang terdaftar di Nairobi Stock Exchange. Studi ini juga

menentukan rasio mana yang merupakan prediktor terbaik. Laba Bersih terhadap

Jumlah Aktiva, Kewajiban Total terhadap Jumlah Ekuitas, Total Kewajiban

terhadap Total Aktiva dan Aktiva Lancar terhadap Penjualan, ternyata merupakan

rangkaian terbaik atau kombinasi rasio untuk memprediksi tekanan keuangan.

Studi ini menyimpulkan bahwa profitabilitas, likuiditas, leverage dan efisiensi

operasional sangat penting dalam menentukan kesehatan keuangan suatu

perusahaan. Rasio keuangan adalah prediktor yang baik dari tekanan keuangan

dengan beberapa rasio yang lebih signifikan daripada yang lain. Meskipun rasio

profitabilitas adalah yang paling signifikan, kombinasi rasio tidak lebih baik

daripada rasio tunggal dalam memprediksi tekanan keuangan. Kombinasi rasio

memberikan model yang lebih akurat. Penelitian ini merekomendasikan rasio

terbaik atau kombinasi rasio yang dapat digunakan untuk memprediksi kesulitan

keuangan. Studi ini juga merekomendasikan bahwa lebih banyak rasio, terutama

yang terkait dengan profitabilitas, disediakan dalam laporan keuangan untuk


35

memudahkan pengguna untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi

terutama dalam hal tanda bahaya. Ini akan memungkinkan tindakan korektif tepat

waktu untuk diambil ketika diperlukan dengan demikian membantu mengurangi

insiden kegagalan perusahaan. Investor juga akan dapat menghindari

menempatkan sumber daya mereka di perusahaan yang kesulitan keuangan tanpa

sadar.

Atika, dkk (2012), Pengaruh Beberapa Rasio Keuangan Terhadap Prediksi

Kondisi Financial Distress (Studi Pada Perusahaan Tekstil Dan Garmen Yang

Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2011). Penelitian ini bertujuan

untuk mengetahui pengaruh beberapa rasio keuangan yang terdiri dari lima rasio

yaitu current ratio, profit margin, debt ratio, current liabilities to total asset, sales

growth dan inventory turn over dalam memprediksi kondisi financial distress

pada perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

periode 2008 – 2011. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive

sampling yang kemudian dari kriteria yang ditetapkan terpilih 14 perusahaan

sebagai sampel, dengan kategori 0 untuk perusahaan sehat dan 1 untuk perusahaan

yang mengalami kondisi financial distress menggunakan rugi sebelum pajak

selama dua tahun berturut-turut. Hasil penelitian dengan menggunakan logistic

regression menunjukkan bahwa rasio keuangan yang mempunyai pengaruh untuk

memprediksi kondisi financial distress adalah Current ratio berpengaruh secara

negative terhadap financial distress dengan nilai beta -8.939. Debt ratio

berpengaruh secara positif terhadap financial distress dengan nilai beta 5.305,
36

sedangkan current ratio berpengaruh secara negative terhadap financial distress

dengan nilai beta -8.389.


BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3. 1 Kerangka Berpikir

Perusahaan yang memiliki profit yang tinggi pastinya akan meningkatkan

ketertarikan para pemegang saham, karena para investor tertarik pada perusahaan

yang akan membagikan devidennya stabil dengan tingkat yang tinggi atau dividen

yang memiliki tingkat yang positif. Memiliki profit yang baik adalah salah satu

tujuan yang ingin tercapai, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Menurut

Gitman (2012),“the goal of the firm, should be to maximize the wealth of the

owners for whom it is being operated or equivalenty, to maximize the stock price.

Maximizing a firm’s share price is equivalent to maximizing profit”. Jadi, tujuan

jangka pendek dari sebuah perusahaan adalah memaksimalkan profit dan harga

saham sebuah perusahaan, hal tersebut guna menunjang tercapainya sebuah tujuan

jangka panjang dari suatu perusahaan yaitu meningkatkan nilai perusahaan dan

memaksima lkan kekayaan bagi para pemegang saham.

Para pemegang saham akan memberikan kepercayaannya kepada

perusahan tersebut jika kekayaan yang diberikan terus menunjukan perkembangan

yang positif. Apabila para pemegang saham memberikan hal yang positif pada

perusahaan tersebut pastinya perusahaan tersebut akan meningkatkan kinerja

perusahaannya. Sehingga apabila para pemegang saham tetap percaya pada

perusahaan tersebut dikarenakan kekayaan untuk para pemegang saham terus

meningkat pastinya akan meningkatkan kinerja perusahaan, karena

bertambahanya investor tersebut dalam satu perusahaan akan meningkatkan harga

37
38

saham, dan jika harga saham akan meningkat dapat mencerminkan perkembangan

yang positif terhadap kinerja perusahaan.

Penilaian kinerja perusahaan selain dapat dilihat dari bertambahnya

investor yang berinvestasi atau dari harga saham bisa dilihat dari laporan

keuangan, karena laporan keuangan secara keseluruhan dapat merangkum kinerja

perusahaan secara keseluruhan pula. Penilaian kinerja perusahaan dapat dilihat

dari segi analisis laporan keuangan dan dari segi perubahan harga saham,

sehingga nilai perusahaan akan tercermin dari harga sahamnya. Analisa laporan

keuangandan perubahan harga saham adalah cerminan kinerja dan nilai

perusahaan. Analisa laporan keuangan bisa dianalisis melalui rasio rasio keuangan

yang ada dalam laporan keuangan.

Menurut Harahap (2013) rasio keuangan adalah: “Angka yang diperoleh

dari hasil perbandingan dari suatu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang

mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan. Berdasarkan pengertian

tersebut dapat disimpulkan bahwa rasio keuangan dan analisanya adalah hal yang

penting untuk memberikan informasi bagi perusah aan, pemegang saham, dan

juga kreditur. Laporan keuangan pun dapat memprediksi kan sesuatu yang akan

datang, baik return atau pun resiko yang akan datang sehingga dapat melakukan

langkah yang baik pada permasalahan yang ada dalam perusahaan tersebut.

Dapat diketahui bahwa rasio-rasio keuangan berasal dari laporan keuangan

perusahaan keseluruhan dan rasio-rasio tersebut dapat mengukur variabel

dependen yaitu financial distress. Sebelum mengukur maka dibuatlah hipotesis

yang merupakan jawaban sementara dari rumusan penelitian. Hipotesis tersebut


39

kemudian diuji dengan menggunakan alat bantu statistic dan akan memperoleh

hasil penelitian. Kemudian dari hasil yang sudah diketahui dibuatlah kesimpulan

dan saran. Berdasarkan penjelasan di atas maka kerangka berpikir dapat

dijelaskan pada gambar 3.1.

Kajian Teoritis: Kajian Empiris:


• Laporan Keuangan • Srengga (2013)
• Analisis Rasio Keuangan • RahmaniRahmania, M. F. and
• Financial Distress Hermanto, S. B. (2014)
• Srikalimah (2017)

Rumusan Masalah

Hipotesis

Uji Statistik

Hasil

Kesimpulan dan Saran

Gambar 3.1
Kerangka Berpikir
40

3. 2 Konsep Penelitian

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka dapat disusun Konsep

penelitian yang menjelaskan hubungan antara variable dalam penelitian ini.

Konsep penelitian dapat disajikan pada gambar 3.2.

Rasio Likuiditas

Rasio Profitabilitas

Rasio Laverage Financial


Distress

Rasio Likuiditas Arus Kas

Rasio Fleksibilitas Arus Kas

Gambar 3.2
Kerangka Konsep
3. 3 Hipotesis Penelitian

3. 3.1 Pengaruh likuiditas pada kondisi financial distress

Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban-

kewajibannya yang segera harus di penuhi” (Sutrisno, 2009:14). Jumlah alat-alat

pembayaran (alat likuid) yang dimiliki oleh suatu perusahaan pada suatu saat

merupakan kekuatan membayar dari perusahaan yang bersangkutan. Suatu

perusahaan yang mempunyai kekuatan membayar belum tentu dapat memenuhi

segala kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi atau dengan kata lain

perusahaan tersebut belum tentu memiliki kemampuan membayar. Dengan

demikian maka kemampuan membayar itu dapat diketahui setelah


41

membandingkan kekuatan membayarnya di satu pihak dengan kewajiban-

kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi di lain pihak.

Untuk menilai likuiditas perusahaan terdapat beberapa rasio yang dapat

digunakan sebagai alat untuk menganalisa dan menilai posisi likuiditas

perusahaan, antara lain : Current Ratio (CR), Cash Ratio, Quick Ratio (QR), dan

Working Capital to total Assets (WCTA). Dari rasio-rasio berikut, rasio likuiditas

yang digunakan dalam penelitian ini adalah Current Ratio (CR). Rasio ini

merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan

perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Hal ini dikarenakan

rasio ini menunjukkan seberapa jauh tuntutan dari kreditor jangka pendek

dipenuhi oleh aktiva yang diperkirakan menjadi uang tunai dalam periode yang

sama.

Informasi yang dipublikasikan oleh perusahaan merupakan sebuah

pengumuman yang akan meberikan sinyal bagi para investor dalam pengambilan

keputusan. Informasi yang dipublikasikan akan dianalisis oleh penerima informasi

sebagai sinyal yang baik ataupun sinyal yang buruk. Dimana informasi tersebut

akan memberikan dampak pada nilai perusahaan. Jika informasi yang diterima

oleh pelaku pasar merupakan sinyal baik, maka nilai perusahaan akan meningkat

pula dan sebaliknya jika informasi merupakan sinyal buruk maka nilai perusahaan

tidak akan meningkatan atau nilai perusahaan menurun. Selanjutnya, kontribusi

variabel likuiditas pada aspek current ratio (CR) dalam meningkatkan nilai

perusahaan dapat dikemukakan bahwa, rasio-rasio ini memberikan gambaran

tentang kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka


42

pendeknya, dimana semakin besar prosentase current ratio (CR), maka

perusahaan memiliki tingkat likuidasi yang baik dan akan meningkatkan nilai

perusahaan, dengan demikian perusahaan akan memberikan sinyal yang positif

kepada investor untuk prospek perusahaannya sehingga investor akan tertarik

untuk menanamkan sahamnya dalam perusahaan.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Listyorini Wahyu Widati (2014)

tentang Pengaruh Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Dan Return On Equity,

Untuk Memprediksi Kondisi Financial Distress, dimana hasil penelitiannya

menunjukkan bahwa rasio likuiditas berpengaruh negatif pada kondisi financial

distress.

Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan utang lancar maka

semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya

dan sebaliknya jika perbandingannya semakin rendah maka perusahaan tidak

mampu membayar utang jangka pendeknya.

H1: likuiditas berpengaruh negatif pada kondisi financial distress

3. 3.2 Pengaruh profitabilitas pada kondisi financial distress

Profitabilitas merupakan hasil akhir bersih dari berbagai kebijakan dan

keputusan, dimana rasio ini digunakan sebagai alat pengukur atas kemampuan

perusahaan untuk memperoleh keuntungan dari setiap rupiah penjualan yang

dihasilkan. Menurut Kasmir (2010:196) rasio profitabilitas adalah rasio

profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam

mencari keuntungan. Perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi berarti


43

memiliki laba yang besar. Ini berarti perusahaan tersebut semakin kecil

kemungkinan untuk mengalami financial distress.

Dari rasio-rasio berikut, rasio profitabilitas yang digunakan dalam

penelitian ini adalah Return on Asset (ROA). Rasio ini kemampuan perusahaan

menghasilkan keuntungan pada masa lampau untuk kemudian diproyeksikan

di masa yang akan datang.

Berdasarkan teori sinyal menurut Brigham dan Houston (2006:40) signal

atau isyarat adalah suatu tindakan yang diambil manajemen perusahaan yang

memberikan petunjuk kepada investor mengenai cara pandang manajemen

terhadap prospek perusahaan, baik saat ini mapun di masa yang akan datang.

Adanya pertumbuhan ROA menunjukkan prospek perusahaan yang semakin baik

karena berarti adanya potensi peningkatan keuntungan yang diperoleh perusahaan.

Hal ini ditangkap oleh investor sebagai sinyal positif dari perusahaan sehingga

akan meningkatkan kepercayaan investor serta akan mempermudah manajemen

perusahaan untuk menarik modal dalam bentuk saham. Apabila terdapat

kenaikkan permintaan saham suatu perusahaan, maka secara tidak langsung akan

menaikkan harga saham tersebut di pasar modal.

Orina Andre (2013), Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas dan Leverage

dalam Memprediksi Financial Distress pada Perusahaan Aneka Industri di BEI.

hasil penelitian ini menyimpulkan: (1) profitabilitas mempunyai pengaruh negatif

dan signifikan dalam memprediksi financial distress pada perusahaan aneka

industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.


44

Semakin besar hasil ROA maka kinerja perusahaan semakin baik. Rasio

yang meningkat menunjukkan bahwa kinerja manajemen meningkat dalam

mengelola sumber dana pembiayaan operasional secara efektif untuk

menghasilkan laba bersih (profitabilitas meningkat). Berdasarkan pendapat

tersebut, maka dapat disajikan hipotesis dalam penelitian ini yaitu:

H2: profitabilitas berpengaruh negatif pada kondisi financial distress

3. 3.4 Pengaruh financial leverage pada kondisi financial distress

Financial leverage menunjukkan kemampuan perusahaan untuk

memenuhi kewajiban baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Analisis

terhadap rasio ini diperlukan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam

membayar hutang (jangka pendek dan jangka panjang) apabila pada suatu saat

perusahaan dilikuidasi atau dibubarkan (Sigit, 2008). Indikator yang digunakan

untuk mengukur tingkat Financial Leverage perusahaan dalam penelitian ini

adalah total hutang dibagi total modal (Debt to Equity Ratio). Suatu perusahaan

yang memiliki leverage keuangan yang tinggi berarti memiliki banyak utang pada

pihak luar. Ini berarti perusahaan tersebut memiliki risiko keuangan yang tinggi

karena mengalami kesulitan keuangan (financial distress). Debt to Equity Ratio

(DER) merupakan perbandingan antara total utang yang dimiliki perusahaan

terhadap modal sendiri. Rasio ini merupakan rasio yang mengukur seberapa besar

kemampuan perusahaan dapat melunasi kewajibannya dari modal yang dimiliki.

Berdasarkan teori sinyal Menurut Jogiyanto (2000) menyatakan bahwa

informasi yang dipublikasikan kepada publik sebagai sebuah pengumuman akan

memberikan signal bagi pengguna informasi keuangan dalam pengambilan


45

keputusan. Jadi semakin rendah Debt to Equity Ratio maka akan meningkatkan

nilai perusahaan, hal ini akan memberikan sinyal yang baik bagi para investor.

Penelitian yang dilakukan oleh Orina Andre (2013), Pengaruh

Profitabilitas, Likuiditas dan Leverage dalam Memprediksi Financial Distress

pada Perusahaan Aneka Industri di BEI. Berdasarkan hasil penelitiannya

menunjukkan bahwa leverage mempunyai pengaruh positif dan signifikan dalam

memprediksi financial distress.

Semakin tinggi Debt to Equity Ratio maka semakin kecil laba yang

dibagikan kepada pemegang saham, sebaliknya semakin rendah Debt to Equity

Ratio maka semakin besar laba yang diterima oleh pemegang saham. Debt to

Equity Ratio yang tinggi dapat menurunkan nilai perusahaan, sedangkan Debt to

Equity Ratio yang rendah dapat menaikkan nilai perusahaan. Berdasarkan

pendapat tersebut, maka dapat disajikan hipotesis dalam penelitian ini yaitu:

H3: financial leverage berpengaruh positif pada kondisi financial distress

3. 3.5 Pengaruh Rasio Likuiditas Arus Kas pada Kondisi financial distress

Laporan arus kas menggambarkan jumlah kas masuk atau penerimaan kas

dan jumlah kas keluar atau pengeluaran kas dalam periode tertentu. Informasi arus

kas berguna bagi pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai

kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan menilai

kebutuhan perusahaan dalam menggunakan arus kas tersebut. Arus kas

memberikan informasi dasar bagi para stakeholder untuk mengamai dan menilai

kemampuan entitas dalam menghasilkan kas. Informasi yang dihasilkan dalam

laporan arus kas sangat dibutuhkan untuk menilai kelayakan suatu entitas agar
46

bisa mendapatkan pembiayaan. Indicator yang digunakan dalam peelitian ini

adalah arus kas operasi.

Menurut Almilia (2006), rasio arus kas bersih meningkat, maka laba

perusahaan akan meningkat dan hal ini akan meningkatkan nilai perusahaan dan

selanjutnya juga akan menaikkan laba perusahaan sehingga perusahaan tidak akan

mengalami financial distress, hal ini akan memberikan sinyal yang baik bagi para

investor. Rasio arus kas bersih dari aktivitas operasi dibagi dengan hutang lancar

dapat digunakan untuk memprediksi kondisi financial distress perusahaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Adinda Tria Ananda (2017) menemukan

bahwa informasi nilai arus kas tidak berpengaruh dalam memprediksi kondisi

financial distress. Hal ini berarti bahwa semakin rendah arus kas yang dimiliki

perusahaan maka semakin besar kemungkinan preusahaan tersebut mengalami

kondisi financial distress. Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat disajikan

hipotesis dalam penelitian ini yaitu:

H4: Rasio Likuiditas Arus kas berpengaruh negatif pada kondisi financial distress

perusahaan.

3. 3.4 Pengaruh Rasio Fleksibilitas Arus Kas pada Kondisi financial distress

Laporan arus kas menggambarkan jumlah kas masuk atau penerimaan kas

dan jumlah kas keluar atau pengeluaran kas dalam periode tertentu. Informasi arus

kas berguna bagi pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai

kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan menilai

kebutuhan perusahaan dalam menggunakan arus kas tersebut. Arus kas

memberikan informasi dasar bagi para stakeholder untuk mengamai dan menilai
47

kemampuan entitas dalam menghasilkan kas. Informasi yang dihasilkan dalam

laporan arus kas sangat dibutuhkan untuk menilai kelayakan suatu entitas agar

bisa mendapatkan pembiayaan. Indicator yang digunakan dalam peelitian ini

adalah kecukupan arus kas.

Menurut Almilia (2006), rasio arus kas bersih meningkat, maka laba

perusahaan akan meningkat dan hal ini akan meningkatkan nilai perusahaan dan

selanjutnya juga akan menaikkan laba perusahaan sehingga perusahaan tidak akan

mengalami financial distress, hal ini akan memberikan sinyal yang baik bagi para

investor. Rasio arus kas bersih dari aktivitas operasi dibagi dengan hutang lancar

dapat digunakan untuk memprediksi kondisi financial distress perusahaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Adinda Tria Ananda (2017) menemukan

bahwa informasi nilai arus kas tidak berpengaruh dalam memprediksi kondisi

financial distress. Hal ini berarti bahwa semakin rendah arus kas yang dimiliki

perusahaan maka semakin besar kemungkinan preusahaan tersebut mengalami

kondisi financial distress. Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat disajikan

hipotesis dalam penelitian ini yaitu:

H5: Rasio Fleksibilitas Arus kas berpengaruh negatif pada kondisi financial

distress perusahaan.
BAB IV
METODE PENELITIAN

4. 1 Rancangan Penelitian

Latar
Belakang

Rumusan Tujuan Manfaat


Masalah Penelitian Penelitian

Kajian
Pustaka
Metode
Penelitian
Metode
Hipotesis Penelitian
Variabel
Penelitian

Pengolahan
Data

Hasil dan
Pembahasan

Kesimpulan
dan Saran
Gambar 4.1
Rancangan Penelitian

4. 2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menyedia data laporan keuangan tahunan

dengan mengunduh pada situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui website

47
48

www.idx.co.id. Alasan dilakukannya penelitan pada Bursa Efek Indonesia (BEI)

karena perusahaan yag terdaftar di dan tercatat selalu mengupload data laporan

keuangan dan laporan keuangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

laporan keuangan tahun 2013-2017. Alasan dipilihnya periode laporan keuangan

tersebut adalah laporan keuangan yang sudah terup-date.

4. 3 Penentuan Sumber Data

4. 3.1 Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam peneltian ini adalah data Kuantitatif

adalah data yang berupa angka-angka yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia

seperti laporan keuangan tahun 2013-2017.

4. 3.2 Sumber Data

Penelitian ini menggunakan sumber data skunder eksternal, yaitu data

yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui perantara, seperti orang lain

atau dokumen (Sugiyono, 2014:187). Data yang digunakan dalam penelitian ini

bersumber dari website Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id).

4. 4 Metode Penentuan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2013-2017.

Teknik pengambilan sampel dalam peneltian ini adalah purpose sampling

dengan kriteria sebagai berikut:

1) Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2013-

2017;
49

2) Perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan tahunan (annual report)

berturut-turut dari tahun 2013-2017;

Tabel 4.1
Proses Pemilihan Sampel
No. Kriteria Jumlah
Perusahaan
1. Perusahaan yang terdaftar diBursa Efek Indonesia tahun 565
2017
2. Perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia dari (94)
tahun 2014-2017
Jumlah sampel 471
Tahun pengamanatan 5
Jumlah pengamatan 2.355
Sumber: BEI, Hasil Pengolahan Data

4. 5 Variabel Penelitian

Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

4. 5.1 Variabel Dependen

Variabel dependen atau terikat adalah suatu varibel yang dipengaruhi atau

menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2014:64). Dalam

peneltian ini yang menjadi variabel terikaat adalah Financial Distre (Y).

4. 5.2 Variabel Independen

Variabel independen atau bebas adalah suatu variabel yang mempegaruhi

atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen atau

variabel terikat (Sugiyono, 2014:64). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1) Rasio Likuiditas (X1)

2) Rasio Profitabilitas (X2)


50

3) Rasio Financial Leverage (X3)

4) Rasio Likuidtas Arus Kas (X4)

5) Rasio Fleksibitas Arus Kas (X5)

4. 6 Defenisi Operasional Variabel

4. 6.1 Financial Distress

Financial distress merupakan salah satu kajian menarik yang terus diteliti

baik dilihat dari manajemen keuangan maupun akuntansi. Kondisi financial

distress merupakan kondisi dimana keuangan perusahaan dalam keadaan tidak

sehat atau krisis. Menurut Platt dan Platt (2002) dalam Ida Fitriyah dan Hariyati

(2013) mendefinisikan financial distress sebagai tahap penurunan kondisi

keuangan yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan ataupun likuidasi. Rumus

untuk financial distress adalah sebagai berikut:

Y = βo + X1 Likuiditas + X2 Profitabilitas + X3 Leverage + X4 Arus Kas Operasi

4. 4.3 Rasio Likuiditas

Menurut Fred Weston dalam buku Kasmir (2010:129), mengatakan bahwa

likuiditas (liquidity ratio) merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan

perusahaan dalam memenuhi kewajiban (utang) jangka pendek. Rasio Lancar

(Current Ratio) merupakan rasio yang menunjukan sejauh mana aktiva lancar

menutupi kewajiban-kewajiban lancar. Semakin besar perbandingan aktiva lancar

dengan utang lancar semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban

jangka pendeknya (Sofyan Syafri Harahap, 2013:301). Rumus untuk menghitung

Current Ratio adalah


51

Current Ratio = Aktiva Lancar

Kewajiban Lancar

4. 4.4 Rasio Profitabilitas

Menurut pendapat Kasmir (2010:196), mengatakan bahwa rasio rasio

profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam

mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas

manajemen suatu perusahaan. Return on Assets (ROA) merupakan salah satu

rasio profitabilitas. Dalam analisis laporan keuangan, rasio ini paling sering

disoroti, karena mampu menunjukkan keberhasilan perusahaan menghasilkan

keuntungan. ROA mampu mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan

keuntungan pada masa lampau untuk kemudian diproyeksikan di masa yang

akan datang. Return On Asset (ROA) menurut Susan Irawati (2006:59)

merupakan perbandingan antara laba sebelum bunga dan pajak dengan total asset

dalam suatu periode”. Rumus untuk menghitung ROA adalah sebagai berikut:

ROA = Laba Bersih Sebelum bunga dan pajak

Total Aktiva

4. 4.5 Rasio Financial Leverage

Financial leverage menunjukkan kemampuan perusahaan untuk

memenuhi kewajiban baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Analisis

terhadap rasio ini diperlukan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam

membayar Utang (jangka pendek dan jangka panjang) apabila pada suatu saat

perusahaan dilikuidasi atau dibubarkan (Sigit, 2008). Indikator yang digunakan

untuk mengukur tingkat Financial Leverage perusahaan dalam penelitian ini


52

adalah total Utang dibagi total modal (Debt to Equity Ratio). Rumus untuk

menghitung DER adalah sebagai berikut:

DER = Total Utang

Total Modal

4. 6.5 Rasio Likuiditas Arus Kas

Salah satu analisis kinerja keuangan dengan menggunakan informasi

laporan arus kas adalah analisis rasio laporan arus kas. Analisis laporan arus kas

ini menggunakan komponen dalam laporan arus kas dan komponen neraca dan

laporan laba rugi sebagai informasi dalam analisis rasio. Laporan arus kas

merupakan campuran antara laporan laba-rugi dengan neraca (Subramanyam,

2010). Menurut Almilia (2006), rasio arus kas bersih meningkat, maka laba

perusahaan akan meningkat dan hal ini akan meningkatkan nilai perusahaan dan

selanjutnya juga akan menaikkan laba perusahaan sehingga perusahaan tidak akan

mengalami financial distress.

Rasio Arus Kas Operasi menghitung kemampuan arus kas operasi dalam

membayar kewajiban lancar. Rasio ini diperoleh dengan membagi arus kas

operasi dengan kewajiban lancar. Rumus untuk menghitung rasio asrus kas

operasi adalah sebagai berikut:

AKO = Jumlah Arus Kas Operasi

Kewajiban Lancar

4. 6.6 Rasio Fleksibitas Arus Kas

Salah satu analisis kinerja keuangan dengan menggunakan informasi

laporan arus kas adalah analisis rasio laporan arus kas. Analisis laporan arus kas
53

ini menggunakan komponen dalam laporan arus kas dan komponen neraca dan

laporan laba rugi sebagai informasi dalam analisis rasio. Laporan arus kas

merupakan campuran antara laporan laba-rugi dengan neraca (Subramanyam,

2010). Menurut Almilia (2006), rasio arus kas bersih meningkat, maka laba

perusahaan akan meningkat dan hal ini akan meningkatkan nilai perusahaan dan

selanjutnya juga akan menaikkan laba perusahaan sehingga perusahaan tidak akan

mengalami financial distress.

Rasio Kecukupan Arus Kas (KAK) adalah untuk mengukur kemampuan

perusahaan dalam menyediakan kas untuk memenuhi kewajibannya dalam jangka

5 tahun mendatang.Rasio yang rendah menunjukkan bahwa kemampuan

perusahaan yang rendah dalam menyediakan kas untuk memenuhi kewajibannya

dalam jangka 5 tahun mendatang. Rumus untuk menghitung Rasio Kecukupan

Arus Kas (KAK) adalah sebagai berikut:

KAK = (EBIT - Bunga - Pajak - Peng Modal) / Rata-rata utang Lancar selama 5

tahun

4. 7 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain

dengan melakukan dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan

penulis melalui dokumen-dokumen yang berkaitan dengan masalah yang diteliti

seperti laporan keuangan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

data sekunder yaitu data yang dikumpulkan berupa dokumen-dokumen atau

kepustakaan berupa laporan keuangan tahunan.


54

4. 8 Analisis Data

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji statistik

deskriptif dan uji hipotesis dengan menggunakan regresi logistic untuk

mengetahui kekuatan prediksi rasio keuangan dan rasio-rasio keuangan tersebut,

mana yang paling dominan dalam menentukan apakah suatu perusahaan akan

mengalami financial distress atau tidak. Penggunaan analisis regresi logistik

adalah karena variabel dependen bersifat dikotomi (tepat dan tidak tepat). Teknik

analisis dalam mengolah data ini tidak memerlukan lagi uji normalitas dan uji

asumsi klasik pada variabel bebasnya (Ghozali, 2011:225).

Model persamaan regresi logistic yang digunkan dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut:

Y = βo + X1LK + X2Profit + X3Leverage + X4AKO+ X5KAK

Keteragan:

Y = Probabilitas perusahaan mengalami financial distress

βo = Konstan

LK = Likuiditas

Profit = Profitabilitas

Leverage = Leverage

AKO = Arus Kas Operasi

KAK = Kecukupan Arus Kas Operasi


54

DAFTAR PUSTAKA

Almilia, L. S. (2006) ‘Prediksi Kondisi Financial Distress Perusahaan Go- Public


Dengan Menggunakan Analisis Multinomial’, Jurnal Ekonomi dan Bisnis,
XII(1), pp. 1–26.
Altman, E.I. (1968) ‘Financial Ratio, Discriminant Analysis, and the Prediction of
Corporat Bankruptcy’, The Journal of Finance, September (25).
Arthur J, Keown (2011) ‘Acconting Oversight’, From: htpp://www.sabarnes-
oxley.com/section.php.
Atika and Darminto, dan S. R. H. (2013) ‘Pengaruh Beberapa Rasio Keuangan
Terhadap Prediksi Kondisi Financial Distress (Studi Pada Perusahaan
Tekstil dan Garmen yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2008-
2011)’, Jurnal Administrasi Bisnis, pp. 1–11.
Fachrudin, K. A. 2008. Kesulitan Keuangan Perusahaan dan Personal. USU
Press.
Fahmi, Irham. 2011. Analisis Laporan Keuangan. Cetakan Satu. Bandung:
Alfabeta.
Gitman, Lawrence J. 2012. Principles of Managerial Finance. Boston: Pearson
Addision Weasley.
Hanafi, Mamduh M. 2010. Manajemen Keuangan. Yogyakarta. BPFE.
Harahap, Sofyan. 2013. Analisis Kritis Atas Laporan Keuagan. Yogyakarta: Raja
Grafindo Perada.
Harmono. 2009. Manajemen Keuangan Berbasis Balanced Scorecard
(Pendekatan Teori, Kasus, dan Riset Bisnis). Jakarta: Bumi Aksara.
Wijarnarto, H. and Nurhidayati, A. (2016) ‘Pengaruh Rasio Keuangan Dalam
Memprediksi Financial Distress Pada Perusahaan Di Sektor Pertanian Dan
Pertambangan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (Hery&Anik) 86’,
3(1), pp. 86–105.
Hery, SE., M.Si., CRP., RSA., CFRM. 2017. Teori Akuntansi Pedekatan Konsep
dan Analisis. Jakarta: PT. Grasindo.
55

Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan. Salemba Empat:


Jakarta.
Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI). 2015. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) No 1: Penyajian Laporan Keuangan. Jakarta. IAI.
Imam Ma’ud Reva Maymi Srengga (2011) ‘Analisis Rasio Keuangan Untuk
Memprediksi Kondisi financial distress Perusahaan Manufaktur yang
Terdaftar di BEI’, Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas
Jember.
Jogiyanto, Hartono. 2000. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi Kedua.
Yogyakarta: BPFE UGM.
Jumingan.2008. Analsis Laporan Keuangan. Jakarta: PT.Bumu Aksara.
Kasmir. 2010. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta; PT. Rajawali.
Machfoedz (1994) ‘M,The Usefulness of Financial Ratio in Indonesia’, Jurnal
KELOLA. September. 94 – 110.
Martono dan Agus Harjito.2002. Manajemen Keuangan. Cetakan Keenam.
Yogyakarta: Ekonisia.
Munawir, S. 2004. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.
Prihadi, Toto. 2008. Analisis Rasio Keuangan. Jakarta: Penerbit PPM.
Robert Odero Otom (2014) ‘Predicting Financial Distress Using Financial Ratios
In Companies Listed In Nairobi Stock Exchange (2003-2011)’, United
States International University- Africa.
Sidik, Jamilah (2003) ‘Pengaruh Rasio Keuangan pada Kualitas Laba, Tesis,
Magister Management’, Universitas Gajah Mada, Jogjakarta.
Sigit, R (2008) ‘Pengaruh Rasio Likuiditas, Financial Leverage dan Arus Kas
Untuk Memprediksi Financial Distress Pada Perusahaan Real Estate And
Property yang Terdaftar Di BEJ tahun 2004-2005’, Skripsi Fakultas
Ekonomi UNS.
Srikalimah (2017) ‘Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas Dan Leverage Dalam
Memprediksi Financial Distress’, Jurnal Akuntansi & Ekonomi FE. UN
PGRI Kediri, 2(1), pp. 43–66.
56

Suad Husnan, 2002, Dasar-dasar Manajemen Keuangan, Edisi Ketiga,


Yogyakarta: UUP AMP YKPN

Subramanyam. 2010. Analisis Laporan Keuangan, Edisi 8, Jakarta: Salemba


Empat.
Sugiono. 2009. Statistik Untuk Penelitian. Bandung : CV. ALFABETA.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Method). Bandung:
Alfabeta.
Sutrisno. 2009. Manajemen Keuangan Teori Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta:
Ekonisia.
Widarjo, W. and Setiawan, D. (2009) ‘Pengaruh rasio keuangan terhadap kondisi
financial distress perusahaan otomotif’, Jurnal Bisnis dan Akuntansi,
11(2), pp. 107–119. doi: 10.1016/j.intele.2017.03.006.