Anda di halaman 1dari 39

2

2.1 Kebijakan Nasional

2.1.1 PM 112 Tahun 2017 Tentang Tahapan dan Proses Perencanaan Pembangunan

Didalam KM 31 Tahun 2006 tentang Pedoman dan Proses Perencanaan di Lingkungan


Kementerian Perhubungan dijabarkan ada 2 tahapan perencanaan sebelum
melakukan pembangunan yaitu tahapan pra desain dan tahapan desain. Berikut adalah
rangkuman perencanaan pelabuhan:

Tabel 2.1 Tahap Pra Desain Menurut PM 112 Tahun 2017


Tahap Pra
No Fungsi dan Manfaat Isi Dokumen Perencanaan Jangka Waktu
Desain

Merupakan suatu preliminary Dokumen pra studi Dokumen Pra Studi Kelayakan mempunyai
appraisal/site reconnaissance/survey kelayakan sekurang- jangkauan penggunaan jangka pendek-
studi suatu kawasan (region) kurangnya berisi: menengah (maksimum 5 tahun) dengan
terhadap potensi permintaan ketentuan harus ditinjau ulang kembali
1. Potensi demand;
(demand) guna mengetahui secara untuk validasi. Penyusunan
2. Indikasi kelayakan
indikatif apakah suatu rencana dokumen/tinjau ulang Pra Studi Kelayakan
ekonomi;
Pra Studi kegiatan layak untuk dikaji dengan diselesaikan paling lambat 3 tahun
3. Alternatif solusi;
1 Kelayakan (Pra- studi kelayakan (feasibility Study). sebelum penyusunan rencana dalam
4. Solusi optimal.
FS) Sistem Perencanaan Pembangunan
Pra FS Besifat :
Perhubungan, dengan lama penyusunan
1. Ekonomis;
maksimal 1tahun. Penyusunan dan tinjau
2. Berdimensi spasial menunjuk ulang dokumen Pra Studi Kelayakan
alternatif lokasi dan antara lain harus memperhatikan
berorientasifisik;
dokumen Rencana Umum Pengembangan
3. Berskala (terukur); Perhubungan.
4. Memanfaatkan data sekunder;

HALAMAN II-1
Tahap Pra
No Fungsi dan Manfaat Isi Dokumen Perencanaan Jangka Waktu
Desain

5. Output berupa alternatif solusi.


1. Potensi dem and;
2. Kajian Kelayakan Teknis,
Ekonomi, Finansial dan
Dokumen Studi Kelayakan mempunyai
Merupakan suatu appra isa l guna
Operasional
jangkauan penggunaan jangka pendek-
Studi Kelayakan mengetahui kelayakan suatu
3. Dimensi spasial dengan
2 menengah (maksimum 5 tahun) dengan
Feasibility Study kegiatan untuk dilaksanakan menunjuk lokasi dan
ketentuan harus ditinjau ulang kembali
pembangunan besaran fisik / biaya
untuk validasi.
bersifat indikatif
4. Jadwal dan pola
implementasi.
Merupakan acuan umum bagi arah Dokumen rencana induk Dokumen Rencana Induk (Master Plan)
dan pola pembangunan di lokasi sekurang-kurangnya berisi: mempunyai jangkauan penggunaan
yang sudah ditetapkan. Rencana jangka panjang (10-20 tahun) dengan
1) Pola dan arah
Induk (Master Plan) bersifat: ketentuan harus ditinjau ulang kembali
pembangunan di lokasi
untuk validasi. Penyusunan dan tinjau
1) Teknis; dimaksud;
ulang dokumen Rencana Induk (Master
2) Berdimensi spasial, menunjuk 2) Besaran fisik/zonasi
Plan) diselesaikan paling lambat 1 tahun
Rencana Induk lokasi dan berorientasi fisik; dan kebutuhan ruang;
3 sebelum penyusunan rencana dalam
(Masterplan) 3) Berskala (terukur). 3) Tahapan implementasi;
Sistem Perencanaan Pembangunan
4) Peta master plan.
Perhubungan dengan lama penyusunan
maksimal 1 tahun. Penyusunan dan tinjau
ulang dokumen/tinjau ulang Rencana
Induk (Masterplan) antara lain harus
memperhatikan RTRWN, RTRWP dan hasil
Studi Kelayakan.

Merupakan suatu kajian dampak Dokumen studi amdal Pada dasarnya dokumen AMDAL berlaku
positif dan negatif dari suatu sekurang kurangnya terdiri sepanjang umur Kegiatan, dokumen
rencana kegiatan yang dipakai dari: AMDAL dinyatakan Kadaluarsa apabila
sebagai alat dalam memutuskan kegiatan fisik utama suatu rencana usaha
1) Kelayakan teknis
kelayakan lingkungan suatu atau kegiatan tidak dilaksanakan selama 3
lingkungan, sosial
4 Studi Amdal kegiatan; sedangkan kajian dampak tahun sejak diterbitkaan keputusan
budaya dan ekonomi;
positif dan negatif tersebut disusun kelayakan lingkungannya. Dalam hal
2) Rekomendasi dan
dengan mempertimbangkan antara dokumen AMDAL dinyatakan kadaluarsa,
solusi pemecahan
lain aspek Kimiawi, Biologi, Sosial- maka pemrakarsa dapat mengajukan
masalah lingkungan.
Ekonomi, Sosial Budaya, dan dokumen AMDALnya dikaji kembali
Ketentuan
apakah harus menyusun AMDAL baru atau
selengkapnya tentang

HALAMAN II-2
Tahap Pra
No Fungsi dan Manfaat Isi Dokumen Perencanaan Jangka Waktu
Desain

Kesehatan Masyarakat. Studi Amdal studi AMDAL diatur dipergunakan kembali untuk
bersifat: tersendiri berdasarkan dipergunakan dalam rencana kegiatan.
Keputusan Menteri
1) Teknis;
Negara Lingkungan
2) Berdimensi Spasial, menunjuk
Hidup;
lokasi dan berorientasi fisik;
3) Berskala (terukur).
Sumber: PM 112 Tahun 2017 Tentang Tahapan dan Proses Perencanaan Pembangunan

2.1.2 Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor


5/Kepmen-Kp/2014

Menurut Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor


5/Kepmen-Kp/2014 tentang Kawasan Konservasi Perairan Nasional Laut Sawu Dan
Sekitarnya Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, wilayah perairan pelabuhan katundu
termasuk pada Sub Zona Perikanan Berkelanjutan Tradisional dengan luas ± 581.970,83
Ha.

Kawasan Zonasi Menurut Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 Perikanan di


beedakan menjadi empat zona yaitu:

 Taman Nasional Perairan

 Suaka Alam Perairan

 Taman Wisata Perairan; dan

 Suaka Perikanan

Sistem zonasi khusus pada Kawasan Konservasi Perairan dibedakan menjadi 4 (empat)
zona yang berbeda, ialah:

 Zona inti

 Zona Perikanan berkelanjutan

 Zona Pemanfaatan

 Zona Lainnya

HALAMAN II-3
Zona inti diperuntukkan bagi: (a) perlindungan mutlak habitat dan populasi ikan; (b)
penelitian; dan (c) pendidikan. Zona perikanan berkelanjutan diperuntukkan bagi: (a)
perlindungan habitat dan populasi ikan; (b) penangkapan ikan dengan alat dan cara
yang ramah lingkungan; (c) budi daya ramah lingkungan; (d) pariwisata dan rekreasi;
(e) penelitian dan pengembangan; dan (f) pendidikan. Zona Pemanfaatan
diperuntukkan bagi: (a) perlindungan habitat dan populasi ikan; (b) pariwisata dan
rekreasi; (c) penelitian dan pengembangan; dan (d) pendidikan. Zona lainnya
merupakan zona di luar zona inti, zona perikanan berkelanjutan, dan zona
pemanfaatan yang karena fungsi dan kondisinya ditetapkan sebagai zona tertentu
antara lain: zona perlindungan, zona rehabilitasi dan sebagainya.

Interpretasi terhadap ketentuan atau aturan pada masing-masing zonasi didalam


Kawasan Konservasi Perairan disajikan pada tabel dibawah, Zona inti mempunyai
fungsi yang persis sama dengan aturan pada kawasan konservasi menurut ketentuan
UU No. 5 tahun 1990. Zona perikanan berkelanjutan tampkanya mempunyai fungsi
yang hampir sama dengan wilayah laut lainnya di luar kawasan konservasi. Jika hal ini
benar (kecuali diatur lagi dalam peraturan atau ketentuan pada tingkat Kementerian),
zona perikanan berkelanjutan sebenarnya bisa dianggap sebagai wilayah
nonkonservasi. Pengelola Kawasan Konservasi Perairan, dalam pelaksanaannya, harus
bisa membedakan zona perikanan berkelanjutan dengan sistem perijinan
penangkapan ikan atau ijin budidaya ikan.

2.1.3 Rencana Tol Laut Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikenal sebagai negara maritim. Bagi
negara kepulauan yang luas seperti Indonesia, diperlukan adanya strategi untuk
menurunkan Biaya Logistik Nasional (menurunkan biaya ekonomi / meningkatkan daya
saing produk nasional). Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyeimbangkan jumlah
angkutan kargo/komoditas antara Wilayah Depan dan Wilayah Dalam, melalui
pembangunan Pusat-pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru (industri baru + hilirisasi) di
Wilayah Depan secara progressif. Berikut adalah lampiran Tol Laut yang ada di Provinsi
Nusa Tenggara Timur:

HALAMAN II-4
Tabel 2.2 Rencana Tol Laut Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur
Pelayaran 1
Kode Jumlah Jarak Ukuran dan
No. Pangkalan Jaringan Trayek Round Voyage
Trayek (Nautical Mil) Type Kapal
(Hari)
Tanjung Perak -731- Kalabahi -
2500 DWT /
1 Surabaya T – 13 232- Moa -354- Rote -80- Sabu 2794 22
1800 GT
PP (Kapal Utama)
Tanjung Perak -675- Loweleba -
2500 DWT /
2 Surabaya T – 14 17- Adonara-13- Larantuka 1410 17
1800 GT
PP (Kapal Utama)
Sumber: Lampiran I Kepdirjen Perhubungan Laut Nomor AL.108/5/17/DJPL-17

2.2 Kebijakan Provinsi

2.2.1 Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi

2.2.1.1 Rencana Sturktur Ruang Wilayah

Dalam rencana tata ruang wilayah provinsi (RTRWP) dimana stuktur ruang untuk
Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah sebagai berikut :

 PKN : Kupang, Maumere, Labuhan Bajo, dan Waingapu

 PKW : Kota Soe, Kefamenanu, Baa, Kalabahi, Kota Ende, Larantuka,

Bajawa, Ruteng, Lewoleba, Waikabubak, Waitabula, Reo,


Marapokot, Betun, Aesesa/ Mbay

 PKL : Atambua, Kalabahi, Kefamenanu

2.2.1.2 Sistem Prasarana Transportasi

A. Pengembangan Transportasi Darat


Sistem jaringan jalan regional yang melintas dan menghubungkan Pusat Kegiatan
Nasional (PKN) dengan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL).
Upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, pola pengembangan jaringan
jalan di Wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur antara lain:

 Meningkatkan jalan yang menghubungkan wilayah bagian utara pulau Flores


untuk menghubungkan kota-kota ibukota kecamatan yang berada di jalur

HALAMAN II-5
utara dan selatan untuk mendukung terhadap pembangunan perekonomian
wilayah. Serta meningkatkan kualitas jalan Ruteng – Bajawa – Ende – Maumere
- Larantuka untuk lebih meningkatkan hubungan antara kota tersebut;

Trayek angkutan penyeberangan yang dilayani oleh 9 (sembilan) Kapal Motor


penyeberangan adalah :

 Kupang – Rote PP;

 Kupamg – Ende PP;

 Kupang – Larantuka PP;

 Kupang – Sabu PP;

 Kupang – Kalabahi PP;

 Kupang – Aimere – Waingapu PP;

 Larantuka – waiwerang – Lewoleba – Balauring PP;

 Kalabahi – Baranusa – Balauring PP;

 Kalabahi – Atapupu PP;

 Labuan Bajo – Sape PP;

 Waingapu – Sabu PP;

 Kupang – Aimere PP;

 Waikelo – Sape PP.

B. Pengembangan Transportasi Laut


Jenis pelayaran yang sampai saat ini melayani pergerakan orang dan barang antara lain:

 Pelayanan Nusantara yang dilayani Kapal Laut (KM. Srimau, KM. Awu, KM.
Siguntang dan KM. Dorolonda);

 Pelayaran Kapal Perintis yang melayani pelabuhan lokal dengan rute Waingapu,
Sabu, Kupang, Larantuka, Kalabahi dan Ba’a.;

 Pelayaran Kapal Ferry melayani Rote, Sabu, Larantuka, Kalabahi, Aimere, Ende,
Waingapu, Lewoleba, Atapupu dan Baranuasa;

 Pelayaran Kapal Rakyat dengan rute pelayanan lokal;

HALAMAN II-6
Gambar 2.1 Peta Tol Laut di Provinsi Nusa Tenggara Timur

HALAMAN II-7
Gambar 2.2 Peta Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 5/Kepmen-Kp/2014

HALAMAN II-8
C. Kebijakan Transportasi Udara
Pengembangan sistem transportasi udara banyak persyaratan teknis yang harus
dipenuhi sesuai dengan aturan penerbangan. Pengembangan sistem transportasi
udara di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur, selain meningkatkan sarana dan
prasarana Bandara juga membuka jalur-jalur penerbangan sebagai berikut :

 Penerbangan Kupang – Australia, jalur ini akan mempunyai arti penting bagi
kedua negara khususnya dalam bidang ekonomi;

 Penerbangan Kupang – Timor Leste;

 Penerbangan perintis dengan pesawat kecil yang melayani antar pulau dalam
wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur khususnya untuk mengangkut
penumpang;

 Peningkatan route penerbangan dari Kupang ke Kota-kota di Pulau Jawa, Bali,


Sulawesi, Maluku dan membuka penerbangan ke Papua;

 Peningkatan Pesawat Foker 27, Foker 28 dan menjadi pesawat Boing 737 seri
C, hal ini bisa lebih banyak mengangkut penumpang dan barang

2.2.1.3 Rencana Pola Ruang

Kawasan budidaya pada dasarnya merupakan kawasan diluar lindung yang kondisi fisik
dan potensi sumber daya alamnya dianggap dapat dan perlu dimanfaatkan baik bagi
kepentingan produksi maupun pemenuhan kebutuhan ruang untuk permukiman.
Berikut adalah Rencana Pola Ruang yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur:

1. Kawasan Hutan Produksi :

- Kawasan hutan produksi terbatas

- Kawasan hutan produksi tetap

- Kawasan hutan produksi konversi

2. Kawasan Pertanian :

- Kawasan tanaman pangan lahan basah

- Kawasan tanaman lahan kering

- Kawasan tanaman tahunan/perkebunan

HALAMAN II-9
- Kawasan peternakan

- Kawasan perikanan.

3. Kawasan Pertambangan

4. Kawasan Perindustrian

5. Kawasan Pariwisata, Pengembangan utama diprioritaskan bagi :

- Taman Nasional Pulau Komodo dan wilayah perairan laut sekitarnya;


- Wisata alam Danau Tiga Warna Kelimutu dan wisata pantai seperti: Taman
Laut 17 Pulau Riung (Ngada), tanam laut Maumere (Sikka), Pantai Lasiana
(Kupang), Pantai Kuta dan Baing (Sumba Timur), Pantai Rua Wanokaka
(Sumba Barat), Pantai Pede (Labuan Bajo);
- Cagar Alam seperti Taman Wisata Camplong, Taman Wisata Danau Kelimutu.
Kawasan pariwisata di NTT secara spesifik belum ditentukan (hanya wisata
alam yang termasuk kawasan hutan lindung) di dalam setiap Wilayah
Pengembangan Pariwisata (WPP). Pengembangannya baru mencapai pada
program peningkatan maupun studi di beberapa lokasi obyek wisata. Untuk
itu sangat diperlukan pengairan (penentuan) dan pemamtapan antara
kawasan wisata di dalam Kawasan Budidaya dan di dalam Kawsan Lindung.

6. Kawasan Permukiman

HALAMAN II-10
Gambar 2.3 Rencana Pola Ruang Provinsi Nusa Tenggara Timur

HALAMAN II-11
Gambar 2.4 Rencana Struktur Ruang Provinsi Nusa Tenggara Timur

HALAMAN II-12
2.2.2 Tataran Transportasi Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur

Pengembangan Sistem Jaringan Transportasi Laut di Nusa Tenggara Timur terdiri dari
jaringan prasarana dan jaringan pelayanan. Pengembangan sistem jaringan
transportasi laut meliputi upaya untuk:

1. Membuka akses terisolir di pulau-pulau kecil dan mengatasi kesenjangan


pembangunan antar wilayah;

2. Mengembangkan transportasi laut sebagai upaya untuk menghubungkan


gugus-gugus pulau sebagai satu kesatuan wilayah;

3. Meningkatkan dukungan untuk pengembangan jalur-jalur perdagangan dari


kawasan-kawasan andalan dan kawasan budidaya lain, tujuan-tujuan
pemasaran, ke kawasan Asia Pasifik dan ke Australia dengan memanfaatkan
jalur ALKI IIIA dan IIIB;

4. Mengembangkan jalur-jalur pelayaran internasional dalam rangka mendukung


kegiatan ekspor-impor melalui pelabuhan-pelabuhan internasional;

5. Mengembangkan keterkaitan yang erat dan saling mendukung antara kegiatan


kepelabuhanan dengan kegiatan industri maritim, pertambangan, dan/atau
industri pengolahan bahan baku.

Pengembangan jaringan prasarana pelabuhan laut sebagai bagian dari sistem jaringan
transportasi laut meliputi:

1. Prioritas Tinggi Untuk Pelabuhan Pengumpan Utama di Kupang

2. Prioritas sedang untuk Pelabuhan Regional

Pengembangan jaringan prasarana berupa alur dan prasarana keselamatan pelayaran,


serta jaringan pelayanan yang terdiri atas jaringan pelayanan tetap dan teratur serta
jaringan pelayanan tidak tetap dan tidak teratur.

Pengembangan sistem jaringan transportasi laut antar negara disesuaikan dengan


kebutuhan perekonomian, pertahanan negara dan kepentingan nasional lainnya.
Sistem jaringan transportasi laut di Nusa Tenggara Timur dikembangkan sebagai satu
kesatuan sistem jaringan transportasi terpadu

HALAMAN II-13
2.3 Kebijakan Kabupaten

2.3.1 Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten

2.3.1.1 Rencana Struktur Ruang Wilayah

A. Rencana Sistem Perkotaan

Jika dilihat dari RTRW Kabupaten Sumba Timur, kecamatan karera termasuk pada
Hirarki IV Perkotaan yang berfungsi sebagai Pusat Kegiatan Lokal atau pusat kegiatan
yang melayani skala kecamatan serta kawasan yang berpotensi menjadi simpul
transportasi yang melayani skala kabupaten dan beberapa kecamatan. Wilayah
pengembangan Karera meliputi Kecamatan Karera, Kecamatan Tabundung,
Kecamatan Pinu Pahar, dan Kecamatan Matawai La Pawu, Kecamatan Paberiwai,
Kecamatan Mahu dan Kecamatan Ngadu Ngala. Pusat pengembangannya di
Kecamatan Karera.

Fungsi dan peranan untuk pusat wilayah Sistem Perwilayahan Karera adalah :

a. Pusat pelayanan pemerintahan dan perkantoran skala lokal;

b. Pusat pendidikan (SLTA/kejuruan);

c. Pusat perdagangan skala lokal; dan

d. Pusat pelayanan kesehatan (puskesmas rawat inap).

Kegiatan utama diarahkan sebagai pengembangan perkebunan, pertanian dan


kehutanan, pariwisata.

B. Rencana Sistem Jaringan Transportasi

Sebagai Pusat Kegiatan Lokal kecamatan kareera harus didukung dengan adanya
infrastruktur yang dapat memobilisasi barang maupun penumpang oleh karena itu
pemerintah daerah melalui RTRW Kabupaten Sumba Timur merencanakan adanya
terminal angkutan tipe C yang diharapkan dapat mendukung kegiatan transportasi dan
integrasi antar moda di Kabupaten Sumba Timur.

Rencana pengembangan pelabuhan laut di kabupaten sumba timur salah satunya


direncanakan di kecamatan kareera yaitu Pembangunana Pelabuhan Lokal di Desa
Katundu sebagai akses menuju pelabuhan Pulau Salura.

HALAMAN II-14
Rencana tatanan kebandarudaraan di Kabupaten Sumba Timur terdapat Bandar Udara
Umbu Mehang Kunda. Berdasarkan klasifikasinya, Bandar Udara Umbu Mehang Kunda
adalah sebagai Pusat Penyebaran Tersier dengan Pengembangan Tahap I dan masuk
pada kelas Pemantapan Bandar Udara Tersier.

1. Rute Denpasar – Waingapu - Kupang dilayani Pesawat Merpati F-100;

2. Rute Kupang–Maumere–Waingapu–Denpasar, dilayani Pesawat Merpati F-100;

3. Rute Kupang – Waingapu - Denpasar dilayani Pesawat Trigana ATR-42;

4. Rute Denpasar–Tambulako–Waingapu–Kupang dilayani pesawat Trigana


ATR42; dan

5. Rute Kupang–Maumere–Waingapu–Denpasar dilayani pesawat Merpati F-100.

Rencana pengembangan Bandar Udara Umbu Mehang Kunda dilakukan sebagai


berikut :

 Rencana peningkatan fasilitas Bandara Umbu Mehang Kunda yaitu fasilitas


pada bangunan terminal dan areal pendaratan pesawat untuk meningkatkan
keamanan dan kenyamanan penumpang dan keselamatan penerbangan; dan

 Pengembangan Bandar Udara Umbu Mehang Kunda dari Bandar udara


pengumpul pelayanan tersier menjadi Bandar Udara pengumpul skala
pelayanan sekunder sejalan dengan peningkatan volume angkutan orang dan
barang.

2.3.1.2 Sistem Prasarana Transportasi

1) Rencana Sistem Jaringan Transportasi Darat

 Rencana pengembangan jalan

Rencana pengembangan jalan nasional yaitu pada ruas jalan yang menghubungkan:

 Kota Waingapu ke Waibakul (Kabupaten Sumba Tengah) – Waikabubak


(Kabupaten Sumba Barat) – Weetabula (Kabupaten Sumba Barat Daya) dan
ruas jalan Waingapu – Napu – Tanambanas – Mamboro – Tanariwu –
Weetabula;

HALAMAN II-15
Rencana pengembangan jalan Provinsi yaitu pada ruas yang menghubungkan

 Waingapu-Sp.Mahubokul-Lumbang Waingapu – Melolo Melolo – Baing Melolo


– Kananggar Kananggar – Nggongi Baing – Hambautang Hambautang –
Janggamangu Nggongi – Malahar Malahar - Praipaha;

 Waingapu – Mondu - Mondu – Rambangaru - Rambangaru – Napu - Lumbung


– Karita - Ruas Wahang – Mondulambi (Batas Sumba Tengah)

Jaringan jalan propinsi di Kabupaten Sumba Timur dikembangan dengan konsep: (1)
Pembangunan jaringan jalan lingkar mengikuti tepi pantai melalui wilayah-wilayah
potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan prioritas dan kawasan agropolitan,
(2). Pengembangan jalan propinsi lintas tengah yang berfungsi untuk membuka akses
terhadap wilayah potensial di bagian tengah pulau Sumba yang merupakan kawasan
pertanian.

Jalan Provinsi direncanakan mampu dilewati oleh kendaraan-kendaraan berat, dan


kelas jalan direncanakan kelas I dengan muatan sumbu terberat lebih dari 10 ton.;

Rencana jaringan jalan kabupaten adalah sebagai berikut :

a. rencana pengembangan jaringan jalan kabupaten dilakukan dengan


melakukan peningkatan jalan eksisting yaitu melebarkan jalan dan
meningkatkan kualitas perkerasan jalan

b. penentuan prioritas pengembangan jaringan jalan didasarkan kepada


rencana prioritas pengembangan wilayah.

 Rencana pengembangan terminal angkutan di Kabupaten Sumba Timur sebagai


berikut:

a. Rencana pengembangan terminal di Kota Waingapu dengan klasifikasi Tipe B


sebagai terminal antar kota untuk melayani pergerakan antar wilayah
kabupaten dan;

b. Rencana pengembangan terminal Tipe C sebagai terminal antar Kecamatan


terdiri dari :

1. rencana pengembangan terminal dalam Kota Waingapu melayani


angkutan umum perkotaan di Kota Waingapu;

HALAMAN II-16
2. rencana pengembangan terminal angkutan Tipe-C di Lewa (Sistem
Perwilayahan Lewa);

3. rencana pengembangan terminal angkutan Tipe-C di Karera (Sistem


Perwilayahan Karera);

4. rencana pengembangan terminal angkutan Tipe-C di Haharu (Sistem


Perwilayahan Haharu);

5. rencana pengembangan terminal angkutan Tipe-C di Umalulu (system


perwilayahan Umalulu); dan

6. rencana pengembangan terminal Tipe C di Tingkat Kecamatan Kabupaten


Sumba Timur sesuai dengan tingkat kebutuhannya.

2) Rencana Sistem Jaringan Transportasi Laut

Pelabuhan Nasional Waingapu berdasarkan Tatanan Ruang Nasional sesuai dengan PP.
26 Tahun 2008 diklasifikasikan sebagai pelabuhan tahap pengembangan I dan masuk
kategori pemantapan pelabuhan nasional. Pelabuhan Waingapu merupakan pintu
gerbang keluar/masuk pergerakan orang dan barang ke Kabupaten Sumba Timur.
Sebagai pelabuhan nasional, Pelabuhan Waingapu melayani pergerakan dalam skala
regional dan nasional yaitu pergerakan menuju kabupaten lain di wilayah Propinsi Nusa
Tenggara Timur ataupun pergerakan ke propinsi lain di wilayah Indonesia seperti ke
Pulau Bali, Pulau Flores, Alor, Lembata, Sulawesi, Kalimantan dan lain-lain. Rute layanan
eksisting transportasi laut dari dan menuju Waingapu di Kabupaten Sumba Timur
adalah sebagai berikut:

a. Waingapu – Benoa;

b. Waingapu – Kupang;

c. Waingapu – Surabaya;

d. Waingapu – Borong – Ende – Sabu – Kupang; dan

e. Waingapu – Labuan Bajo.

Rencana pengembangan pelabuhan di Pulau Sumba adalah sebagai berikut :

HALAMAN II-17
 Rencana pengembangan pelabuhan (perluasan dan pelebaran Dermaga Laut
Waingapu) untuk meningkatkan kinerja / pelayanan skala prioritas sedang
Pelabuhan Nasional Waingapu.

 Rencana pembangunan pelabuhan lokal di Pulau Salura untuk membuka


keterisolasian wilayah dan memperlancar pergerakan dari Pulau Sumba
(Kabupaten Sumba Timur) ke Pulau Salura;

 Pembangunan pelabuhan lokal di Desa Katundu sebagai akses menuju


pelabuhan di Pulau Salura; dan

 Pembangunan Pelabuhan Khusus di Warajangga Kecamatan Rindi mendukung


pengembangan daerah industri.

3) Rencana sistem jaringan transportasi Udara :

Rencana tatanan kebandarudaraan di Kabupaten Sumba Timur terdapat Bandar Udara


Umbu Mehang Kunda. Berdasarkan klasifikasinya, Bandar Udara Umbu Mehang Kunda
adalah sebagai Pusat Penyebaran Tersier dengan Pengembangan Tahap I dan masuk
pada kelas Pemantapan Bandar Udara Tersier. Bandar Udara Umbu Mehang Kunda
melayani penerbangan dengan rute sebagai berikut :

1. Rute Denpasar – Waingapu - Kupang dilayani Pesawat Merpati F-100;

2. Rute Kupang–Maumere–Waingapu–Denpasar, dilayani Pesawat Merpati F-100;

3. Rute Kupang – Waingapu - Denpasar dilayani Pesawat Trigana ATR-42;

4. Rute Denpasar–Tambulako–Waingapu–Kupang dilayani pesawat Trigana


ATR42; dan

5. Rute Kupang–Maumere–Waingapu–Denpasar dilayani pesawat Merpati F-100.

Rencana pengembangan Bandar Udara Umbu Mehang Kunda dilakukan sebagai


berikut :

 Rencana peningkatan fasilitas Bandara Umbu Mehang Kunda yaitu fasilitas


pada bangunan terminal dan areal pendaratan pesawat untuk meningkatkan
keamanan dan kenyamanan penumpang dan keselamatan penerbangan; dan

 Pengembangan Bandar Udara Umbu Mehang Kunda dari Bandar udara


pengumpul pelayanan tersier menjadi Bandar Udara pengumpul skala

HALAMAN II-18
pelayanan sekunder sejalan dengan peningkatan volume angkutan orang dan
barang

2.3.1.3 Rencana Pola Ruang Wilayah

Kecamatan Karera, desa Permaidita sebagai lokasi pelabuhan katundu/Nggongi berada


pada kawasan budidaya yang diperuntukan bagi kawasan permukiman, Kawasan
permukiman merupakan bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik
berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan
tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung peri
kehidupan dan penghidupan.

2.3.1.4 Rencana Kawasan Strategis

Kecamatan Karera termasuk kedalam kawasan strategis bidang pertahanan dan


keamanan yaitu Pulau – pulau kecil yang sudah mempunyai nama di Kabupaten Sumba
Timur terdiri dari Pulau Kotak, Pulau Salura, Pulau Nusa dan Pulau Manggudu.

2.3.2 Tataran Transportasi Lokal

Berdasarkan hasil identifikasi potensi wilayah Kabuapeten Sumba Timur, ditemukenali


sektor Peternakan, Perkebunan, Pertanian dan Industri. Saat ini memang produksi
tersebut belum mencapai produksi optimal, namun demikian perlu diantisipasi
ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana yang dapat mendukung pola
pendistribusiannya oada masa yang akan datang.

Untuk mendukung pelayanan tersebut diharapkan adanya optimalisasi trayek


angkutan penyebrangan ke Kupang, Flores, Sabu, NTB, Bali dan Pulau Jawa dalam
rangka mendukung mobilitas dan distribusi Nasional dan Regional dalam jalinan poros
nasional jaringan pelayanan penyebrangan khusus Sabuk Selatan Indonesia serta
menghubungkan antar pusat kegiatan nasional dan kawasan pariwisata pada kooridor
Bali – Lombok –Sumbawa – Flores – dan Sumba.

Untuk mendukung jaringan pelayanan sebagaimana dimaksud diharapkan agar


pengoperasian pelabuhan penyebrangan Waingapu dapat lebih optimal dilengkapi
fasilitas pendukung dan penunjang yang memadai serta kedepan diharapkan dapat
dikembangkan simpul penyebrangan di Baing guna menghubungkan Sumba Timur
dengan Sabu yang dipastikan dapat menumbuhkan perekonomian masyarakat.

HALAMAN II-19
Berdasarkan kondisi wilayah yang ada maka pasokan bahan-bahan kebutuhan pokok
baik sandang, pangan maupun papan diharapkan dapat diatur dengan baik agar dapat
memberikan manfaat yang besar. Disamping itu dengan adanya potensi sumber daya
alam dan pariwisata yang besar diharapkan angkutan laut dapat membawa hasil
produksi ke luar Sumba Timur seperti ke Bali, NTB, dan Jawa.

Untuk mendukung pelayanan tersebut diharapkan adanya trayek angkutan laut ke


Kupang, Flores, NTB, Jawa dan Sulawesi.

Guna mendukung jaringan pelayanan sebagaimana dimaksud diharapkan agar


peningkatan pelabuhan laut Waingapu yang dilengkapi dengan fasilitas pendukung
dan penunjang yang memadai.

HALAMAN II-20
Gambar 2.5 Peta Rencana Struktur Ruang Kabupaten Sumba Timur

HALAMAN II-21
Gambar 2.6 Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Sumba Timur

HALAMAN II-22
Gambar 2.7 Peta Kawasan Strategis Kabupaten Sumba Timur

HALAMAN II-23
2.4 Rencana Induk Pelabuhan Nasional

Berikut adalah beberapa lokasi pelabuhan Sub Lampiran A.1 LOKASI PELABUHAN
LAUT YANG DIGUNAKAN UNTUK ANGKUTAN LAUT yang ada di Provinsi Nusa
Tenggara Timur sesuai dengan Rencana Induk Pelabuhan Nasional Keputusan
Pemerintah No 432 Tahun 2017.

Tabel 2.3 Lampiran A.1 Lokasi Pelabuhan Laut Yang digunakan Untuk Angkutan Laut Provinsi
Nusa Tenggara Timur
Hierarki Pelabuhan/Terminal
No RIPN No Kabupaten /Kota Pelabuhan/Terminal Keterangan
2017 2022 2027 2037
Provinsi : Nusa Tengara Timur
214 1 Alor Baranusa PR PR PR PR *
215 2 Alor Kalabahi PR PR PR PR */TL
216 3 Alor Maritaing PL PL PL PL
217 4 Alor Moru PR PR PR PR
218 5 Belu Atapupu PP PP PP PP *
219 6 Ende Ende PP PP PP PP *
220 7 Ende Ippi PP PP PP PP
221 8 Ende Maurole PL PL PL PL
222 9 Ende Pulau Ende PL PL PL PL
223 10 Flores Timur Larantuka PP PP PP PP */TL
224 11 Flores Timur Lamakera PL PL PL PL
225 12 Flores Timur Menanga PL PL PL PL
226 13 Flores Timur Tobilota PL PL PL PL
227 14 Flores Timur Terong/Waiwerang PR PR PP PP
228 15 Flores Timur Waiwadan PL PL PL PL
229 16 Flores Timur Waiwurung PL PL PL PL
230 17 Kupang Oepoli PL PL PR PR
231 18 Kupang Tenau/Kupang PU PU PU PU *
232 19 Kupang Naikliu PL PL PL PL
233 20 Kupang Nunbaun Sabu (Namosain) PL PL PL PL
234 21 Lembata Balauring PL PL PL PL
235 22 Lembata Lewoleba PP PP PP PP TL
236 23 Lembata Wulandoni PL PL PL PL
237 24 Manggarai Reo PR PR PR PR *
238 25 Manggarai Pulau Mules PL PL PL PL

HALAMAN II-24
Hierarki Pelabuhan/Terminal
No RIPN No Kabupaten /Kota Pelabuhan/Terminal Keterangan
2017 2022 2027 2037
239 26 Manggarai Barat Labuan Bajo PP PP PP PP */DW
240 27 Manggarai Barat Komodo PL PL PL PL
241 28 Manggarai Timur Pota PL PL PL PL
242 29 Manggarai Timur Waiwole PL PL PL PL
243 30 Nagekeo Marapokot PR PR PR PR *
244 31 Ngada Maumbawa PL PL PL PL
245 32 Ngada Riung PL PL PL PL
246 33 Rote Ndao Baa PL PL PR PR *
247 34 Rote Ndao Ndao PP PP PP PP TL
248 35 Rote Ndao Batutua PL PL PL PL
249 36 Rote Ndao Papela PL PL PR PR
250 37 Sabu Raijua Seba PP PP PP PP *
251 38 Sabu Raijua Biu PL PL PL PL
252 39 Sabu Raijua Raijua PL PL PR PR
253 40 Sikka Maumere/Laurens say PP PP PP PP *
254 41 Sikka Palue PL PL PL PL
255 42 Sikka Wuring PL PL PR PR
256 43 Sumba Barat Binatu PL PL PL PL
257 44 Sumba Barat Daya Waikelo PR PR PR PR *
258 45 Sumba Tengah Mamboro PL PL PL PL
259 46 Sumba Timur Waingapu PP PP PP PP */TL
260 47 Sumba Timur Baing PL PL PL PL
261 48 Sumba Timur Pulau Salura PL PL PL PL
262 49 Timor Tengah Selatan Kolbano PL PL PL PL
263 50 Timor Tengah Utara Wini PP PP PP PP
Sumber : KP 432 Tahun 2017 RIPN
PU : Pelabuhan Utama
PP : Pelabuhan Pengumpul
PR : Pengumpan Regional
PL : Pengumpan Lokal
*) : Kantor Pelabuhan
**) : Hub Internasional
TL) : Tol Laut
DW) : Destinasi Wisata

HALAMAN II-25
Hierarki Pelabuhan/Terminal
No RIPN No Kabupaten /Kota Pelabuhan/Terminal Keterangan
2017 2022 2027 2037
TK) : Penetapan Hierarki Berdasarkan Terminal Khusus
: Lokasi Studi

Berikut adalah beberapa lokasi pelabuhan Sub Lampiran A.2 Rencana Lokasi
Pelabuhan yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur sesuai dengan Rencana Induk
Pelabuhan Nasional Keputusan Pemerintah No 432 Tahun 2017.

Tabel 2.4 Sub Lampiran A.2 Rencana Lokasi Pelabuhan di Provinsi Nusa Tenggara Timur
Hierarki Pelabuhan/Terminal
No RIPN No Kabupaten /Kota Pelabuhan/Terminal Keterangan
2017 2022 2027 2037
Provinsi : Nusa Tengara Timur
530 1 Alor Alor Kecil PL PL PL PL
531 2 Alor Bakalang PL PL PL PL
532 3 Alor Beang PL PL PL PL
533 4 Alor Kabir PL PL PL PL
534 5 Alor Kolana PL PL PL PL
535 6 Alor Mainatang PL PL PL PL
536 7 Alor Paitoko PL PL PL PL
537 8 Alor Pulau Merica PL PL PL PL
538 9 Alor Sagu PL PL PL PL
539 10 Alor Wanakaka PL PL PL PL
540 11 Belu Maubesi Hasan PL PL PL PL
541 12 Ende Ropa PL PL PL PL
542 13 Flores Timur Kewapante PL PL PL PL
543 14 Flores Timur Lato PL PL PL PL
544 15 Flores Timur Pamakoyo PL PL PL PL
545 16 Flores Timur Pulau Solor PL PL PL PL
546 17 Flores Timur Waidoko PL PL PL PL
547 18 Flores Timur Waiklibang PL PL PL PL
548 19 Kupang Batubao PL PL PL PL
549 20 Kupang Semao PL PL PL PL
550 21 Kupang Sulamu PL PL PL PL
551 22 Manggarai Nangalili PL PL PL PL
552 23 Manggarai Iteng PL PL PL PL

HALAMAN II-26
Hierarki Pelabuhan/Terminal
No RIPN No Kabupaten /Kota Pelabuhan/Terminal Keterangan
2017 2022 2027 2037
553 24 Manggarai Robek PL PL PL PL
554 25 Manggarai Barat Rinca PL PL PL PL
555 26 Manggarai Timur Mborong PL PL PL PL
556 27 Ngada Aimere PL PL PL PL
557 28 Manggarai Barat Kampung Ujung PL PL PL PL
558 29 Manggarai Barat Kukusan PL PL PL PL
559 30 Manggarai Timur Nanga Baras PL PL PL PL
560 31 Ngada Waebela PL PL PL PL
561 32 Rote Ndao Nuse PL PL PL PL
562 33 Rote Ndao Oelaba PL PL PL PL
563 34 Rote Ndao Pantai Baru PL PL PL PL
564 35 Rote Ndao Pulau Ndana PL PL PL PL
565 36 Sikka Hepang PL PL PL PL
566 37 Sikka Paga PL PL PL PL
567 38 Sikka Pulau Besar PL PL PL PL
568 39 Sikka Pemana PL PL PL PL
569 40 Sikka Sukun PL PL PL PL
570 41 Sumba Barat Rua PL PL PL PL
571 42 Sumba Barat Daya Pero PL PL PL PL
572 43 Sumba Timur Katundu PL PL PL PL
573 44 Sumba Timur Nggongi PL PL PL PL
574 45 Timor Tengah Selatan Boking PL PL PL PL
575 46 Timor Tengah Utara Teluk Gurita PL PL PL PL
Sumber : KP 432 Tahun 2017 RIPN
PU : Pelabuhan Utama
PP : Pelabuhan Pengumpul
PR : Pengumpan Regional
PL : Pengumpan Lokal
*) : Kantor Pelabuhan
**) : Hub Internasional
TL) : Tol Laut
DW) : Destinasi Wisata
TK) : Penetapan Hierarki Berdasarkan Terminal Khusus
: Lokasi Studi

HALAMAN II-27
2.5 Review Studi Terdahulu (Pra Studi Kelayakan)

Berdasarkan hasil studi terdahulu yang ada berupa Pra FS Kabupaten Sumba Timur
dengan mengidentifikasi 5 (lima) pelabuhan yang teridentifikasi dalam dokumen
rencana baik pusat , provinsi, maupun kabupaten/kota. Yang terscreening 4(empat)
dari 5 (lima) pelabuhan tereliminasi dan menyisakan 1 (satu) pelabuhan yaitu
Pelabuhan Katundu (Nggongi). Berikut ini Longlist, shortlist, dan pembobotan
terhadap screening pelabuhan.

Berdasarkan survei Pre – Recon Tahap I di dapatkan pelabuhan eksisting yang terdapat
di Kabupaten Sumba Timur, yaitu :

1. Pelabuhan Pelra Waingapu;


2. Pelabuhan Waingapu;
3. Pelabuhan Baing; dan

4. Pelabuhan Salura.

HALAMAN II-28
Tabel 2.5 Identifikasi Pelabuhan di KabupatenSumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur
KONDISI FASILITAS
REFERENSI SUMBER ACUAN
(CHECKLIST)

NO NAMA PELABUHAN RIPN


USULAN DAERAH EKSISTING
DAN RTRWN RTRW RTRW
TATRAWIL TATRALOK (BUPATI / DISHUB / RENCANA
REVIEW 2013 PROVINSI KABUPATEN
INSTANSI TERKAIT)
RIPN BETON &
BETON KAYU
KAYU

-1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10 -11 -12

1 PELABUHAN WAINGAPU ADA ADA ADA ADA ADA ADA ADA

2 PELRA WAINGAPU ADA ADA

3 BAING ADA ADA ADA ADA

4 PULAU SALURA ADA ADA ADA

5 NGGONGI DUSUN KATUNDU DESA PRAIMADITA ADA ADA ADA ADA

6 Terminal Khusus PT. Mauria Sumba Manis (Waingapu) ADA

7 Pelabuhan Perikanan (KKP) ADA

8 Pelabuhan Penyeberangan Feri (ASDP Ditjen Hubla) ADA ADA ADA ADA ADA ADA

Sumber : Dokumen Pra FS Kabupaten Sumba Timur, Tahun 2016

HALAMAN III-29
Tabel 2.6 Perbandingan Hierarki Pelabuhan di Kabupaten Sumba Timur Berdasarkan
Tatrawil Provinsi Nusa Tenggara Timur
Hierarki Pelabuhan
RTRW
RIPN RTRWN RTRWP Kab.Sumba
Nama Pelabuhan/ Timur
No
Terminal
(KP.725 (Perda NUSA
(PP No.26 (Perda Sumba
Tahun 2016 TENGGARA TIMUR
Tahun Timur No.12
Tentang Nomor 1 Tahun
2008) Tahun 2010)
RIPN) 2011)
1 Baing PL - PL PL
2 Waingapu PP PN PI PN
4 Pelra Waingapu PL - - -
5 Pulau Salura PL - - PL
6 Katundu (Nggongi) PL - PL
Sumber : Dokumen Pra FS Kabupaten Sumba Timur, Tahun 2016

Jika dilakukan penilaian total pada nilai skoring yang dilakukan maka lokasi rencana
Pelabuhan Katundu (Nggongi) memiliki nilai akumulasi yang dapat dilihat pada table dibawah
ini :

Tabel 2.7 Akumulasi Nilai Skor Pada Masing-Masing Lokasi Rencana Pelabuhan
Berdasarkan Aspek Kajian
Aspek Peniliaan
Aspek Tata Ruang dan

Aspek Transportasi

Aspek Lingkungan
Aspek Ekonomi

Kependudukan

Aspek Teknis
Aspek Sosial
Kebijakan

Wilayah

Wilayah

No Pelabuhan Rencana Fungsi

Total

Ekonomi 30.15 13.1 3 14 5 21.5 86.75


1 Katundu (Nggongi)
Sospol 30.15 10.6 12 14 5 21.5 93.25

Sumber : Dokumen Pra FS Kabupaten Sumba Timur, Tahun 2016

Dari table diatas dapat kita ketahui bahwa lokasi rencana Pelabuhan Katundu (Nggongi)
memiliki nilai akumulasi skoring dengan nilai total 93,24 untuk fungsi sospil dan 86,75 untuk
fungsi ekonomi. Untuk lebih jelasnya mengenai akumulasi nilai skoring pada lokasi rencana
Pelabuhan Katundu (Nggongi) dapat dilihat pada rincian pembobotan dibawah ini :

HALAMAN III-30
A. Pembobotan Aspek Tata Ruang dan Kebijakan

Tabel 2.8 Pembobotan Aspek Tata Ruang dan Kebijakan

Struktur Ruang

Nilai Analisis
Nilai Analisis
Nilai Analisa

Total Bobot
Kecamatan

Kebijakan

Bobot (%)

Bobot (%)

Bobot (%)
Strategis
Kawasan
Fungsi
Lokasi

Hasil

Hasil

Hasil
Sospol 6.4 5 3.2 16 5 8 7.75 5 3.87 15.1
Katundu
Karera
(Nggongi)
Ekonomi 6.4 5 3.2 16 5 8 7.75 5 3.87 15.1

Sumber : Dokumen Pra FS Kabupaten Sumba Timur, Tahun 2016

Berdasarkan table diatas dapat kita ketahui bahwa lokasi rencana Pelabuhan Katundu
(Nggongi) memiliki nilai 15,1 dari bobot total Aspek Tata Ruang berdasrkan fungsi sospol dan
fungsi ekonomi.

B. Pembobotan Aspek Transportasi

Tabel 2.9 Pembobotan Aspek Transportasi


Lokasi Nilai Total Pembobotan
Sub-Sub Bobot
No Rencana Sub Aspek
Aspek Ekonomi Sospol (%) Ekonomi Sospol
Pelabuhan
Aksesibilitas
3 0.5 5 1.5 0.25
Aksesibilitas Ekternal
Darat Aksesibilitas
1 1 4 0.4 0.4
Internal
Katundu Aksesibilitas
1 - 2 2 7 1.4 1.4
(Nggongi) Laut
Bangkitan
- 2.1 2.1 7 1.5 1.5
Tarikan
Sebaran
- 5 5 7 2.5 2.5
Pergerakan
Total 7.3 6.1
Sumber : Dokumen Pra FS Kabupaten Sumba Timur, Tahun 2016

Berdasarkan table diatas dapat kita ketahui bahwa lokasi rencana Pelabuhan Katundu
(Nggongi) memiliki nilai 7,3 untuk fungsi ekonomi dan 6,1 untuk fungsi sospol dari bobot total
Aspek Transportasi.

HALAMAN III-31
C. Pembobotan Aspek Ekonomi Wilayah

Tabel 2.10 Pembobotan Aspek Ekonomi Wilayah


Nilai Pembobotan
Bobot
Lokasi Wilayah Sub Aspek Ekonomi Sospol (%) Ekonomi Sospol
Potensi
2 2 7 1.4 1.4
Katundu Kecamatan Hinterland
(Nggongi) Karera Pertumbuhan
3 10 6 1.8 6
Wilayah
Total 3.2 7.4
Sumber : Dokumen Pra FS Kabupaten Sumba Timur, Tahun 2016

Berdasarkan table diatas dapat kita ketahui bahwa lokasi rencana Pelabuhan Katundu
(Nggongi) memiliki nilai 7,4 untuk fungsi sospol dan 3,2 untuk fungsi ekonomi dari bobot total
Aspek Ekonomi Wilayah.

D. Pembobotan Aspek Sosial Kependudukan

Tabel 2.11 Pembobotan Aspek Sosial Kependudukan


Nilai Bobot
Lokasi Wilayah Sub Aspek (%) Pembobotan
Ekonomi Sospol Ekonomi Sospol
Jumlah
4 4 7 2.8 2.8
Penduduk
Katundu Kecamatan
(Nggongi) Karera Analisis IPM
/ Angka 6,6 6,6 5 3.3 3.3
Kemiskinan
Total 6.1 6.1
Sumber : Dokumen Pra FS Kabupaten Sumba Timur, Tahun 2016

Berdasarkan table diatas dapat kita ketahui bahwa lokasi rencana Pelabuhan Katundu
(Nggongi) memiliki nilai 6,1 untuk fungsi ekonomi dan sospol dari bobot total Aspek Sosial
Kependudukan.

HALAMAN III-32
E. Pembobotan Aspek Lingkungan

Tabel 2.12 Pembobotan Aspek Lingkungan


Rencana
Bobot Hasil
No Lokasi Kecamatan Sub Aspek Point
(%) Pembobotan
Pelabuhan

Komponen
5 5 2.5
Katundu Lingkungan Hidup
1 Karera
(Nggongi) Daerah Rawan
5 5 2.5
Bencana

Total Pembobotan 5

Sumber : Dokumen Pra FS Kabupaten Sumba Timur, Tahun 2016

Berdasarkan table diatas dapat kita ketahui bahwa lokasi rencana Pelabuhan Katundu
(Nggongi) memiliki nilai 5 dari bobot total Aspek Lingkungan.

F. Pembobotan Aspek Teknis

Tabel 2.13 Pembobotan Aspek Teknis


Bobot Nilai
No Aspek Sub Aspek Indikator Point
(%) Pembobotan

Hasil Pemodelan kelerengan lahan


Kelerengan
berada pada kategori Landai (Tingkat 2.75 5
lahan
Kelerengan 8-15%) 1.4
Hasil Pemodelan Bathimetri memiliki
Bathimetri 3.8 5
nilai sedang 1.9
1 Teknis
Hidro- Hasil Pemodelan Hidro-oceanografi
5 5
Oceanografi memiliki nilai sedang
2.5
Status
Dominasi lahan milik pemerintah 10 5
Lahan 5
Total Bobot 21.55 20 10.8
Sumber : Dokumen Pra FS Kabupaten Sumba Timur, Tahun 2016

Berdasarkan table diatas dapat kita ketahui bahwa lokasi rencana Pelabuhan Katundu
(Nggongi) memiliki nilai 10,8 dari bobot total Aspek Teknis.

HALAMAN III-33
2.5.1 Analisa Penilaian Akhir

Dalam analisis ini ditentukan lokasi pelabuhan yang memiliki proritas untuk dikembangkan
berdasarkan hasil penilaian pembobotan yang telah dilakukan. Dimana untuk mengetahu
hasil pembobotan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.14 Akumulasi Nilai Bobot Pada Masing-Masing Lokasi Rencana Pelabuhan Berdasarkan
Aspek Kajian
Aspek Peniliaan

Aspek Tata Ruang dan

Aspek Transportasi

Aspek Lingkungan
Aspek Ekonomi

Kependudukan

Aspek Teknis
Aspek Sosial

Total Bobot
Kebijakan
No Pelabuhan Rencana Fungsi

Wilayah

Wilayah
Ekonomi 15.1 7.3 3.2 6.1 47.5
1 Katundu (Nggongi) 5 10.8
Sospol 15.1 6.1 7.4 6.1 50.5

Sumber : Dokumen Pra FS Kabupaten Sumba Timur, Tahun 2016

Berdasarkan table diatas dapat kita ketahui bahwa total pembobotan lokasi rencana
Pelabuhan Katundu (Nggongi) yang dilihat berdasarkan Aspek Tata Ruang dan Kebijakan,
Aspek Transportasi Wilayah, Aspek Ekonomi Wilayah, Aspek Sosial Kependudukan, Aspek
Lingkungan serta Aspek Teknis memiliki perolehan bobot sebesar 47,5 untuk fungsi ekonomi
dan 50,5 untuk fungsi sospol. Hal tersebut berarti pembangunan rencana pelabuhan lokasi
Katundu (Nggongi) lebih dilatar belakangi oleh fungsi Sosial-Politik.

2.5.2 Faktor Penghambat dan Faktor Pendukung Pelabuhan

Dalam mendukung nilai pada tabel diatas penjelasan mengenai kelebihan dan kekurangan
calon lokasi pelabuhan Katundu atau Nggongi dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.15 Faktor Penghabambat dan Faktor Pendukung Pelabuhan di Kabupaten Sumba
Timur
No Pelabuhan Kelebihan (+) Kekurangan (-)

1 Katundu Sudah memiliki izin dan dukungan dari Terdapat banyak karang
(Nggongi) pemerintah daerah, raja atau adat dan disekitar kawasan rencana
masyarakat. pelabuhan

Setatus lahan pelabuhan merupakan lahan Konsentrasi pemukiman


adat dan sudah diserahkan pada pemerintah atau penduduk tidak terlalu
untuk pembangunan pelabuhan besar

HALAMAN III-34
No Pelabuhan Kelebihan (+) Kekurangan (-)

Alternatif pembangunan wilayah utara Tidak terlayani oleh alur


sebagai akses menuju pulau salura dan printis
mendukung kegiatan wisata di pulau salura

Berada disekitar terluk sehingga terlindungi Akses darat menuju kota


oleh teluk dan terlindung oleh pulau salura waingapu saat ini dalam
kondisi yang buruk.
Alternatif pembangunan wilayah baru yang
dapat mendukung pemekaran kabupaten
baru di sumba timur.

Dokumen Pra FS Kabupaten Sumba Timur, Tahun 2016

2.5.3 Rekomendasi

Hasil indentifikasi dan analisis yang telah dilakukan dalam kajian pra fs pelabuhan di
Kabupaten Sumba Timur rekomendasi yang dapat diberikan meliputi :

 Perlu adanya penyamaan penyebutan untuk Pelabuhan Katundu atau Nggongi,


hal ini dikarenakan berdasarkan informasi awal dimana terdapat satu lokasi
pelabuhan dengan dua penyebutan nama yang berbeda yakni Katundu dan
Nggongi. Penyebutan Pelabuhan Nggongi termuat dalam dokumen RIPN,
sedangkan Penyebutan Pelabuhan Katundu termuat dalam Dokumen RTRW
Kabupaten Sumba Timur. Hal ini dapat menjadi bahan pertimbangan dan catatan
agar tidak terjadi kekeliruan.
 Perlu adanya kajian lanjutan atau Kajian FS untuk Pelabuhan Katundu.
Dikarenakan pelabuhan ini merupakan satu-satunya calon lokasi pelabuhan yang
dapat dikembangkan berdasarkan hasil analisis Pra FS Kabupaten Sumba Timur
dengan nilai bobot akhir mencapai nilai 98.
 Perlu untuk memperhatikan potensi wisata disekitar Pelabuhan Katundu dalam
melakukan kajian lajutan atau kajian FS, Karena wilayah hinterland Pelabuhan
Katundu memiliki potensi wisata untuk dikembangkan.
 Perlu untuk mempertimbangkan isu pemekaraan wilayah, dalam kajian lanjutan.
Berdasarkan hasil FGD dimana lokasi atau kawasan rencana Pelabuhan Katundu
adalah wilayah yang termasuk dalam isu pemekaran menjadi Kabupaten Sumba
Timur Bagian Selatan.

HALAMAN III-35
Gambar 2.8 Peta Sebaran Longlist Pelabuhan

HALAMAN III-36
Gambar 2.9 Peta Sebaran Shortlist

HALAMAN II-37
2.6 Ringkasan Kebijakan Terkait Pembangunan Pelabuhan Katundu/Nggongi

Tabel 2.16 Matriks Kebijakan Tentang Pelabuhan Katundu/Nggongi


Kebijakan Nasional Kebijakan Provinsi NTT Kebijakan Kabupaten Sumba Timur
No
RIPN 432 Tahun 2017 Kepmen-Kp/2014 RTRW Provinsi Tatrawil RTRW Kabupaten Tatralok
Didalam KP 432Tahun Menurut Keputusan Menteri Dalam Peraturan Daerah Peraturan Didalam Peraturan Daerah Didalam Tataran Transportasi
2017 tentang Rencana Kelautan Dan Perikanan Nomor 1 Tahun Gubernur Nusa No Peraturan Daerah Lokal Kabupaten Sumba
Induk Pelabuhan Republik Indonesia Nomor 2011Tentang Rencana Tenggara Timur. Kabupaten Sumba Timur Timur Tidak Tercantum
Nasional Pelabuhan 5/Kepmen-Kp/2014 tentang Tata Ruang Wilayah Nomor 8 Tahun Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Rencana
Katundu/Nggongi Kawasan Konservasi Perairan Provinsi Nusa Tenggar 2014. Tentang. Tentang Rencana Tata Pembangunan/Pengmbangan
direncanakan sampai Nasional Laut Sawu Dan timur Tidak tercantum Tataran Ruang Wilayah Kabupaten Pelabuhan Katundu/Nggongi.
tahun 2030 Hierarki nya Sekitarnya Di Provinsi Nusa rencana pembangunan / Transportasi Sumba Timur Tahun 2008 –
merupakan Pelabuhan Tenggara Timur, pulau mules pengembangan Wilayah Provinsi 2028 Menyatakan
Pengumpan Lokal termasuk pada Sub Zona Pelabuhan Nusa Tenggara Pembangunan pelabuhan
Konservasi Perikanan Katundu/Nggongi Timur Tidak di lokal di Desa Katundu
Berkelanjutan Tradisional Sebutkan rencana sebagai akses menuju
yang boleh dimanfaatkan pembangunan/ pelabuhan di Pulau Salura;
dengan syarat melakukan Pengembangan
amdal dan menggunakan pelabuhan
teknologi ramah lingkungan Katundu/Nggongi
didalam setiap pengembangan
kegiatannya.
Sumber : Hasil Kompilasi Konsultan 2017

HALAMAN II-38